Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label PT PAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT PAL. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juli 2015

Indonesia Ekspor Kapal Perang SSV Ke Filipina

Kapal perang jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) yang dibuat oleh PT PAL untuk Angkatan Laut Filipina kini sedang dikebut proses produksinya karena sudah bersiap masuk jadwal launching pada November 2015 dan selanjutnya akan segera diserahkan kepada negara pembeli. 2 kapal perang jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) ini sudah dipesan oleh pemerintah Filipina.
Setelah melaksanakan First Steel Cutting pada Januari lalu, saat ini Strategic Sealift Vessel (SSV) kapal ke-1 memasuki tahap prosesi Peletakan Lunas (Keel Laying) bertempat di Bengkel Assembly, Divisi Kapal Niaga, PT PAL INDONESIA (Persero), yang ditandai dengan prosesi peletakan koin pada block bagian ADB 3 PS milik kapal SSV ke-1, serta prosesi Pemotongan Plat Pertama (First Steel Cuttting) SSV kapal ke-2. Ini merupakan momentum penting bagi PT PAL INDONESIA (Persero) dalam mengemban tugas dan amanah sebagai Lead Integrator Matra Laut. Nantinya kapal SSV akan menjadi Alutsista pertama yang diekspor oleh Indonesia, khususnya PT PAL INDONESIA (Persero) dan sebagai pembuktian terhadap positioning PT PAL INDONESIA (Persero) di mata dunia international untuk produk Alutsista. Acara diawali dengan penekanan tombol sebagai penanda dilakukan peletakan lunas SSV-2 serta pemotongan plat pertama (First Steel Cutting) untuk SSV-1 oleh Wakil Kepala Staff Angkatan Laut Filipina (Vice Commander Philippine Navy) RADM CAESAR C TACCAD yang didampingi oleh Irjen Kementerian Pertahanan, Deputy Bid. Usaha Agro & Industri Setrategis Kemeterian BUMN, Wakil Ketua Komisi VI DPR-RI, Aslog KASAL, Wakil Komisaris, dan Direktur Utama PT PAL INDONESIA (Persero). Kapal pesanan Filipina ini merupakan peningkatan dan pengembangan dari kapal jenis pengangkut yang pernah diproduksi oleh PT PAL INDONESIA (Persero) yakni Landing Platform Dock 125 Meter (KRI Banda Aceh 593 & KRI Banjarmasin 592). SSV didesain dengan panjang kapal 123 meter, lebar 21,8 meter, diawaki oleh 121 crew dengan mengangkut 500 pasukan, mampu mengangkut bobot hingga 10.300 Ton dengan draft 6 meter yang dapat melaju selama 30 hari dengan jarak 9.360 mile laut dengan kecepatan maksimal 16 knot dengan mesin berkapasitas 2 x 2.920 kw. SSV juga dapat membawa dua helikopter, kapal Landing Craft Utility (LCU), Landing Craft Vehicle Personnel (LCVP), tank, hingga truk militer. Dengan jenis kapal ini, mampu mencapai hingga ke perairan dangkal. Selain itu SSV memiliki keunggulan khusus untuk negara kepulauan, dapat digunakan untuk keperluan perang dan non-perang. Seperti ketika terjadi bencana, kapal ini dapat dijadikan sebagai rumah sakit apung & SAR. Secara teknis untuk persyaratan tahapan Keel Laying kapal SSV ke-1 ini adalah cukup dengan meletakkan 1 buah blok konstruksi kapal di dalam Graving Dock 50.000 DWT, namun secara realisasi pembangunannya, mampu membangun 9 buah blok konstruksi kapal yang digabung. Progress pembangunan ini adalah sebagai konsekuensi yang diterapkan dalam rangka menjaga komitmen delivery kapal. Berbagai pengalaman yang dimiliki dalam membangun berbagai jenis dan ukuran kapal perang yang telah beroperasi baik yang digunakan oleh TNI Angkatan Laut, Bea & Cukai maupun Kepolisian, maka kapal pesanan Kementerian Pertahanan Filipina ini (SSV) akan dilengkapi teknologi yang canggih dan komplek. Sehingga mengakomodasi kepentingan pemesan untuk mengarungi samudra lepas maupun perairan internasional serta berkoordinasi baik dalam operasi militer maupun non militer menuju peradaban dunia yang lebih baik. Dengan prestasi yang ditorehkan diharapkan Indonesia dapat menjadi bangsa Bahari yang mandiri, besar serta menjadi negara yang disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan. Selain itu PT PAL INDONESIA (Persero) dapat mengambil peran dalam memposisikan diri di pasar industri Internasional, serta dapat berperan dalam mewujudkan poros maritim dunia.

Strategic Sealift Vessel (SSV). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Strategic Sealift Vessel (SSV).
Tangan-tangan Terampil Anak Bangsa Dalam Membuat Kapal Perang Filipina.

Medium Mei 2016, nama besar bangsa ini akan ditentukan di dunia internasional. Tangan-tangan terampil dan otak-otak cemerlang anak bangsa akan menjawab tantangan terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Dari Surabaya, Indonesia dipercaya Filipina membuat kapal perang canggih.

Kapal dengan nama Strategic Sealift Vessel (SSV) tersebut saat ini telah dipesan dan ditunggu negara tetangga. Saat ini, pengerjaan kapal perang ini terus dikebut dengan standar dan kualitas kontrol internasional. "Alhamdulillah, pengerjaan kapal perang SSV pertama untuk Filipina sudah 80 persen. Tantangan terberat kami sebebenarnya pada ketepatan waktu kirim ke Filipina. Terus terang kami betul-betul perhatikan khusus mengenai delivery time ini," kata Project Manager SSV Philippine, Turitan Indaryo, kepada SURYA (TRIBUNnews.com Network), Minggu (26/7/2015).

Namun, doktor kapal lulusan Jepang ini bersyukur karena timnya memiliki semangat yang sama. Membuktikan martabat bangsa di mata internasional. Semuanya bekerja keras tak kenal lelah demi nama bangsa. Untuk kali pertama, Indonesia membuat kapal perang dan dieskpor.

Saat ini, tim yang beranggotakan sekitar 400 orang dikerahkan khusus. Mereka bekerja siang malam, lembur, dan bekerja simultan. Turita yang alumnus ITS masih ingat bagaimana dirinya dan sejumlah anggotanya tak mudik demi mewujudkan impian membuat kapal perang yang diakui internasional. "Kapal perang itu bukan kapal barang atau niaga yang dimuati senjata dan pesawat. Tapi ada sistem navigasi dan sistem persenjataan yang dikendalikan dengan komputer. Inilah tantangan yang sesungguhya. Memadukan sistem berjalan baik," tambah Turitan yang asli Babat, Lamongan.

Ada setidaknya 40 blok yang harus dikerjakan dalam setiap tim. Sementara kapal dibagi sampai 111 blok. Mulai pengerjaan landing pesawat, cargo, engine room, ruang kemudi, hanggar, dan zona lainnya. Semua dikerjakan paralel. "Saat ini sudah sampai pada pemasangan equipment pada badan kapal. Peralatan dan mesin-mesin canggih itu didatangkan dari Jerman dan Korea. Saat inila dibutuhkan konsentrasi ekstra untuk memastikan sistem pertahana, pesenjataan, navigasi, semua berkalan sesuai sistem," kata Turitan.

Sekarang lah sebenarnya sudah sampai pada persiapan launching. Sebab, saat ini nyaris konstruksi sudah selesai. Tinggal peralatan di dalam kapa yang akan menjadi tantanhan pokok. "Kami terus mendorang semangat tim. Sekecil apa pun tahapan dilalui, tumpengan kecil-kecilan," kata Turitan.

Saat ini, semua tim tengah sungguh-sungguh bekerja dengan seluruh kemampuan terbaiknya. Fase curam di depan mata. Bagaimana sistem akan berjalan sesuai fungsinya aka ditentukan dalam hari-hari ini. Memasang seluruj equipment. Bagaimana semua peralatan bisa terintegrasi dengan sistem. Mesin jangkar, mesin kemuidi, elektronika, control, navigasi komunikasi, termasuk bila saat berlayar ada objek sasaran bisa terdeteksi. "Tapi kami yakin, dengan bekerja sungguh-sungguh, kita memiliki keunggulan di dunia internasional," kata Turitan yang sebelumnya sukses membuat kapal rudal.

Sebenarnya, Kapal perang yang dibuat khusus untuk Filipina itu merupakan pengembangan dari kepal sejenis yang pernah diproduksi PT PAL. Yakni kapal Landing Platform Dock 125 meter. (KRI Banda Aceh 593 dan KRI Banjarmasin 592).

Kapal canggih sepanjang 123 meter tersebut memiliki spesifikasi khusus yang mampu membawa dua helikopter dengan diawaki 121 crew. Kapal perang ini mampu mengangkut 500 pasukan. Kapal perang pesanan Filipina itu sudah harus di launching pada November 2015. Namun saat ini sudah 80 persen diselesaikan. Sampa-sampai demi hasil ini, para tim rela bergantian makan sahur dan takjil di lokasi pengerjaan kapal, di PT PAL Perak Surabaya.

Sementara kapasitas angkut bisa membawa bobot hingga 10.300 ton. Kapal ini memiliki draft 6 meter yang dapat melaju delama 30 hari denga jarak 9.360 mile laut. Kecepatan maksimal 16 knot. Mesin kapal perang ini berkapasitas 2 x 2.920 kw. Kapal perang SSV mampu mengangkut dua helikopter, kemudian kapal landing craft utility (LCU), landing craft vehicle personnel (LCVP). Kapal itu juga mampu mengangkut tank, hingga truk militer. Kapal canggih tersebut mampu mencapai hingga perairan dangkal. Kepala SSV itu memiliki keunggulan khusus di negara kepulauan. Kapal ini bisa untuk perang maupun nonperang. Seperti ketika terjadi bencana. Kapal SSV juga bisa dijadikan sebagai rumah sakit apung dan SAR.

Untuk kali pertama, PT PAL Indonesia (Persero) mampu mengekspor kapal perang ke Filipina. Namun, kapal perang SSV1 dan SSV2 yang saat ini dipesan Filipina hampir semua equipment (peralatan termasuk mesin) didatangkan dari Korea dan Jerman. Meski demikian, seluruh tenaga ahli ditangani PT PAL sendiri. Para ahli yang berpengalamanan di bidang pembuatan kapal perang dikerahkan PT PAL. "Sebanyak mungkin bahan baku kami dari lokal. Terutama plat baja," kata General Manager PT PAL Muhammad Firmansyah Arifin.

Firmansyah mengakui bahwa untuk alat tertentu, pihaknya masih perlu mendatangkan dari luar negeri. Saat ini, pengerjaan kapal perang SSV pesanan Filipina itu dikerjakan di enam titik di bengkel assembly PT PAL Surabaya.

Project Manager SSV Philippine, Turitan Indaryo, juga mengakui bahwa sebagian besar bahan kapal perang itu masih impor. Hanya plat baja yang dipasok lokal. Selebihnya, equipment sebagian besar didtangkan dari Korea dan Jerman. Turitan menuturkan bahwa komposisi berkisar Labor 10%, metal baja 20%, Equipment 60%, Lain2 10%. "Sebagian besar, terutama eguipment kami datangkan dari Jerman dan Korea," kata Turitan.

Saat ini, dua kapal perang itu tengah dijerjakan. Standar keamanan, kualitas kontrol produk, hingga ketepan waktu kirim. GM PT PAL Firmasyah meminta dua pimpinan proyek kapal perang berkompetisi. Pimpro kedua SSV harus berlomba. "Kapal SSV ini bukan yang pertama kami buat. Kapal SSV sekelas sudah berhasil kami buat. Termasuk kapal Banda Aceh. Jadi kami yakin akan sesuai jadwal," tandas Firmansyah.

www.tribunnews.com

Kamis, 18 September 2014

TNI AL Terima Kapal Perang KRI Halasan (630) Buatan PT PAL

Kapal Perang KRI Halasan (630) buatan PT PAL telah diserahkan kepada TNI AL pada Rabu 17 September 2014. KRI Halasan (630) adalah kapal perang jenis kapal cepat rudal dengan panjang 60 meter (KCR 60). Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah memesan 3 unit KCR 60 untuk batch pertama dari rencana strategi (renstra) pertahanan 2010 - 2014.

KRI Halasan (630). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
KRI Halasan (630).
PT PAL serahkan kapal W000275 ke TNI AL.

Produsen kapal nasional, PT PAL Indonesia, menyerahkan kapal cepat rudal 60 meter (KCR 60) W000275 kepada TNI AL guna mendukung kecukupan arsenal militer pada masa mendatang. Kapal perang yang akan dibaptis dengan nama KRI Halasan (630) ini adalah kapal ketiga batch pertama di kelas kapal cepat berpeluru kendali 60 meter.

Penyerahan kapal perang buatan Indonesia di Surabaya, Rabu (17/9/2014), itu dihadiri Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko, Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan, dan Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Marsetio. "Upaya itu menyusul predikat kami sebagai lead integrator. Sesuai amanah UU 16/2012 yang menugaskan kami sebagai BUMN yang mampu memproduksi keperluan sistem kesenjataan TNI," kata Direktur Utama PT PAL Indonesia, M Firmansyah Arifin, di Surabaya, Rabu (17/9/2014).

"KCR 60 meter ini pengembangan dari kapal patroli cepat (FPB-57) yang telah kami bangun sebelumnya," ujarnya.

Sebelumnya, jelas dia, pihaknya telah menyerahkan KCR-60 meter pertama, yang dibaptis dengan nama KRI Sampari (628) pada 28 Mei lalu, diikuti KRI Tombak (629) pada 27 Agustus 2014. Selanjutnya KCR 60/KRI Halasan (630) itu dibaptis dan diresmikan Menteri Pertahanan Indonesia, Purnomo Yusgiantoro. "Penyelesaian proyek KCR 60 bacth pertama sekaligus bersamaan pemotongan pertama pelat baja Proyek Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR 10514) Kedua," katanya.

Ia menyebutkan, proyek kerja sama dengan galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda, ini juga untuk memenuhi keperluan TNI AL sebagai pengguna. "Apalagi, kini perkembangan keperluan kapal dan teknologinya selalu meningkat setiap tahun," katanya.

Seusai penyerahan KRI Halasan (630) itu, Yusgiantoro juga memberikan arahan terhadap 250 insan PT PAL INDONESIA dalam transfer teknologi Proyek Kapal Selam.

www.antaranews.com

Rabu, 17 September 2014

Bangun Kapal Selam, PT PAL Dapat PMN Sebesar Rp 1,5 Triliun

Rencana PT PAL untuk membangun kapal selam mendapat dukungan finansial berupa penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 1,5 triliun. Dana ini disetujui oleh Komisi VI DPR setelah mengadakan rapat kerja dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Kapal Selam KRI Nanggala (402). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Kapal Selam KRI Nanggala (402).
Dahlan-DPR Rapat 20 Menit, BUMN Ini Dapat Rp 1,5 T Untuk Bikin Kapal Selam.

Rapat kerja Menteri BUMN Dahlan Iskan dengan Komisi VI DPR hari ini menyetujui pemberian dana segar, berupa penyertaan modal negara (PMN) Rp 1,5 triliun kepada PT PAL Indonesia (Persero).

Berlangsung singkat 20 menit, rapat dimulai pukul 20.00 WIB. Dana Rp 1,5 triliun ini diberikan dalam bentuk tunai, untuk proyek pembuatan kapal selam pertama.

Adapun suntikan modal untuk PAL, akan masuk dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2015. Kapal selam akan dibuat PAL di fasilitas miliknya yang berlokasi di Surabaya. "Komisi VI dapat menyetujui usulan PMN dalam RAPBN 2015 sesuai surat Menteri BUMN kepada PAL senilai Rp 1,5 triliun dalam bentuk tunai, untuk pembangunan fasilitas kapal selam, dan penyediaan sumber daya manusia untuk bangun kapal selam," kata Ketua Komisi VI DPR, Airlangga Hertarto dalam rapat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (16/9/2014).

PAL membutuhkan total dana Rp 2,5 triliun untuk pengembangan kapal selam ini. Namun untuk tahun depan, dana yang disetujui baru mencapai Rp 1,5 triliun.

Uang ini, rencananya digunakan untuk membangun fasilitas pengambungan kapal selam, pembelian peralatan produksi, dan lain-lain yang menunjang pembangunan kapal selam tersebut.

finance.detik.com

Kamis, 28 Agustus 2014

Kapal Perang KRI Tombak (629) Diresmikan Menteri Pertahanan

KRI Tombak (629) yang merupakan kapal perang jenis Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter telah diresmikan oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Purnomo Yusgiantoro, pada Rabu 27 Agustus 2014. KRI Tombak (629) adalah salah satu dari 16 unit Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter yang telah dipesan pemerintah Indonesia dan pembuatannya dikerjakan oleh PT PAL Indonesia (Persero).

Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 Meter. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 Meter.
Menhan resmikan KRI Tombak (629) sebagai kapal Indonesia.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan kapal cepat rudal (KCR) 60 meter, KRI Tombak (629), yang diproduksi PT PAL Indonesia (Persero) sebagai kapal Indonesia guna mendukung upaya pengamanan wilayah NKRI. "Kapal tersebut penting bagi negara ini mengingat perairan Indonesia sangat luas. Kami yakin keberadaan armada itu sekaligus mampu meningkatkan rasa bangga dan kemandirian bangsa," kata Purnomo, ditemui pada penyerahan kapal cepat rudal (KCR) 60 Meter kedua, di Surabaya, Rabu (27/8/2014).

Menurut dia, pembangunan KRI Tombak (629) tersebut juga diharapkan mampu menjadikan TNI AL sebagai World Class Navy. Kapal buatan BUMN galangan kapal itu juga diyakini bisa meningkatkan. "Sementara, pemilihan tombak sebagai nama kapal dikarenakan senjata tradisional Indonesia. Selain itu juga banyak ditemukan di seluruh peradaban dunia dan dipakai untuk berburu dan berperang," katanya.

Mengenai dana pembangunan kapal, jelas dia, didukung oleh anggaran masyarakat. Pada masa mendatang, pihaknya menargetkan pembangunan 16 unit KCR 60 meter, 16 unit KCR 40 meter, dan 16 unit kapal patroli cepat. "Kami optimistis pembangunan seluruh armada ini akan memenuhi kekuatan TNI untuk melindungi dan menjalankan tugas pertahanan di Indonesia," katanya.

Pada kesempatan sama, Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero), M Firmansyah, mengemukakan, proses pembangunan KCR 60 meter tersebut berawal dari pengembangan produk PAL Indonesia sebelumnya yakni Fast Patrol Boat (FPB) 57 meter. "Bahkan, hingga kini armada tersebut masih digunakan oleh TNI AL," katanya,

Kapal kedua yang dibangun, tambah dia, direncanakan dan didesain sesuai dengan kebutuhan masa depan armada perang. Selain itu, kapal yang diproduksi BUMN galangan kapal itu sekaligus merupakan karya yang ditunjang teknologi canggih. "Sebelumnya kami juga telah merampungkan proyek KCR-60 M yang pertama dan resmi menyerahkannya pada 28 Mei 2014," katanya.

Sementara, lanjut dia, penyerahan KCR 60 M ketiga direncanakan terealisasi pada September mendatang. Secara keseluruhan, tiga KCR 60 M senilai Rp375 miliar tersebut merupakan kapal perang pesanan TNI AL yang digarap sejak 2012 dan ditargetkan selesai pada semester II/2014. "Kapal itu dibuat untuk memenuhi Minimum Esensitial Force (MEF) yang ada sesuai amanah Undang-Undang No.16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan," katanya.

www.antaranews.com

Sabtu, 31 Mei 2014

KRI Sampari (628), Kapal Cepat Rudal Pertama Buatan PT PAL Diterima TNI AL

KRI Sampari (628) yang merupakan kapal perang dari jenis Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR 60) buatan PT PAL telah diserahkan kepada pihak TNI AL. KRI Sampari (628) adalah Kapal Cepat Rudal 60 Meter pertama yang telah berhasil diselesaikan pembuatannya oleh PT PAL. Secara keseluruhan, TNI AL memesan 16 KCR 60 meter dan 16 KCR 40 meter kepada PT PAL.

KRI Sampari (628). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
KRI Sampari (628).
KRI Sampari (628) Diserahterimakan ke TNI AL.

Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter ke-1 diserah terimakan dari PT PAL kepada TNI AL. Kapal pertama itu merupakan satu dari tiga kapal KCR 60 meter yang dipesan TNI AL kepada PT PAL.

Serah terima KCR ke-1 yang diberi nama KRI Sampari (628) itu dilakukan bersamaan dengan peluncuran KCR ke-2. KCR ke-2 yang rencananya akan diserah terimakan pada Juni nanti akan diberi nama KRI Tombak. Sementara KCR ke-3 masih dalam tahap produksi akhir dan direncanakan diberi nama KRI Hayat. "Kapal yang diserahterimakan hari ini merupakan bagian dari upaya mengamankan wilayah laut kita," kata Purnomo Yusgiantoro dalam sambutannya, Rabu (28/5/2014).

Menteri Pertahanan itu mengatakan, Selain tiga KCR yang sudah diserahterimakan dan sedang digarap, Kementerian Pertahanan juga telah memesan 16 KCR 60 meter dan 16 KCR 40 meter. Seluruh pesanan KCR ini dijanjikan akan rampung pada 2024 mendatang. "Kalau pesanan semua KCR sudah jadi, maka keamanan laut kita bisa diandalkan," lanjut Purnomo.

Purnomo yakin dengan hal itu karena masing-masing KCR dilengkapi dengan peluncur rudal yang bisa membawa empat rudal seri C 705 dan 802 dengan daya jelajah hingga 140 km.

Spesifikasi KRI Sampari (628) / KCR 60 Meter :
  • Panjang 60 meter
  • panjang garis air 54,82 meter
  • lebar 8,10 meter
  • Tinggi pada tengah kapal 4,85 meter
  • Berat muatan penuh 460 ton
  • Kecepatan 15 knot, jelajah 20 knot dan max 28 knot
  • Didukung persenjataan canggih berupa meriam dan rudal
  • Jumlah penumpang 55 orang
  • Ketahanan berlayar 9 hari
  • Mesin pendorong 2 x 2.880 KW
news.detik.com

Sabtu, 19 April 2014

Kapal Perang PKR-105 Mulai Dibangun PT PAL Untuk TNI AL

Kapal Perusak Kawal Rudal 105 (PKR-105)/Frigate adalah produk dari program nasional yang diprakarsai Kementerian Pertahanan untuk menghasilkan kapal perang produksi Indonesia. Awalnya program ini bertujuan untuk mendapatkan model dasar untuk pengembangan kapal perang jenis korvet. Namun setelah melalui proses yang berliku dan berkepanjangan, arah program ini justru melompat untuk menghasilkan kapal perang jenis Frigate yang dikenal dengan sebutan PKR-105 atau sebutan lainnya adalah Perusak Kawal Rudal 105 (PKR-105)/Frigate. Kapal ini mengambil desain dasar dari kapal perang korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach).

PKR SIGMA 10514. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
PKR SIGMA 10514.
PT PAL Garap 3 Kapal Perusak Rudal Pesanan TNI AL.

Proses pembangunan kapal Perusak Kawal Rudal 105 (PKR-105)/Frigate nomor 1 di PT PAL dimulai, Rabu (16/4/2014). Kapal PKR-105 ini merupakan kapal pertama dari 3 unit yang dipesan Kementerian Pertahanan untuk melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL. Pembangunan PKR-105 ini ditandai dengan peletakan lunas (keel laying) sebagai dasar kapal di divisi kapal perang PT PAL.

Peletakan lunas dilakukan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Marsetio, Direktur Utama PT PAL, Firmansyah Arifin, Kepala Badan Sarana Pertahanan (Baharahan) Kementerian Pertahanan Laksamana Muda TNI Rachmad Lubis, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd F de Zwaan, dan Managing Director Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Hein Van Ameijden.

Kehadiran pihak Belanda ini karena proyek pembuatan kapal yang per unitnya ditaksir 220 juta dolar AS tersebut, karena Kementerian Pertahanan memesannya ke perusahaan DSNS. Tapi oleh perusahaan galangan kapal Belanda itu, pihaknya menggandeng PT PAL untuk mendukung pembangunan kapal-kapal ini. Dengan sistem Transfer of Technologi. "Pembangunan kapal ini dibagi menjadi enam modul atau bagian. Dikerjakan bersama DSNS dengan rincian, empat modul dikerjakan di Surabaya dan dua modul dikerjakan di Vlisingen, Belanda," jelas Marsetio.

Ditargetkan dua modul yang dirakit di Belanda, pada Maret 2015 sudah datang ke PT PAL untuk dirakit menjadi satu dengan empat modul yang lain, dan selesai dibangun. Dirut PT PAL Firmansyah Arifin menambahkan dengan kegiatan Transfer of Technologi ini, pihaknya sudah mengirim 75 teknisi ke Belanda. "Dengan langkah ini memperkuat kami sebagai lead integrator matra laut. Dan kami siap menyelesaikannya secara tuntas sebagai kapal buatan Indonesia," ungkap Firmansyah.

Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd F de Zwaan, mengatakan pihaknya mendukung enuh kerjasama alih teknologi dengan PT PAL ini. Menurutnya Indonesia perlu melakukan revitalisasi industri strategis, salah satunya kapal perang ini.

Kapal PKR-105 ini memiliki panjang 105 meter dengan dilengkapi peluncur rudal antikapal permukaan, antiserangan udara, torpedo, dan perangkat perang elektronik. Kapal ini akan dilengkapi helikopter yang membawa torpedo.

www.tribunnews.com