Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Uni Soviet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uni Soviet. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juli 2015

Subterrene, Tank Tempur Bawah Tanah Uni Soviet Yang Gagal Beraksi

Subterrene yang dalam penggunaan pada misi militer disebut juga Battle Moles adalah kendaraan yang berjalan di bawah tanah dengan cara menggali terowongan dan menembus bawah tanah. Sebelum Perang Dunia II, Uni Soviet telah merancang dan mengembangkan kendaraan Subterrene atau Battle Moles ini. Misi utama jika kendaraan tempur bawah tanah ini bisa diwujudkan adalah menyerang AS dan menempatkan bom nuklir di bawah tanah pada wilayah yang penuh dengan fasilitas strategis Amerika. Namun proyek militer yang sangat rahasia ini dibatalkan karena terjadi beberapa kegagalan.

Subterrene (Battle Moles). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Subterrene (Battle Moles).
Tikus Tempur Soviet, Proyek Rahasia Khrushchev untuk Ledakkan Amerika.

Ide untuk menciptakan mesin yang bisa menggali terowongan dan menembus bawah tanah seperti tikus tak hanya muncul di benak para penulis cerita sains-fiksi, tapi juga beberapa ilmuwan dan desainer sungguhan.

Secara rahasia, Uni Soviet mengembangkan 'tikus tempur' yang mampu menghancurkan komunikasi bawah tanah musuh, melacak gudang senjata, dan menembus bebatuan. Senjata ini bisa masuk ke lini pertahanan musuh secara diam-diam dan mendaratkan pasukan secara mendadak. Di awal abad ke-20, 'tank bawah tanah' atau Subterrenes semacam ini dianggap sebagai senjata yang sangat luar biasa.

Robot tempur bawah tanah ini pertama kali dirancang oleh Pyotr Rasskazov pada 1904. Namun sayang, pada awal Perang Dunia I rancangannya hilang di tangan pasukan Jerman. Pada awal 1930-an, Uni Soviet membangkitkan kembali ide tersebut. Gagasan untuk menciptakan 'tikus tempur' diusung oleh seorang insinyur bernama Trebelev. Ia ingin merancang mesin yang terlihat seperti tikus, ia telah membuat prototipe dan melakukan uji coba, namun sayangnya proyeknya terhenti sampai di situ.

Proyek 'tikus tempur' sangat rahasia, bahkan lebih tertutup dari proyek nuklir Soviet. Informasi mengenai senjata ini sangat terbatas, tapi yang jelas proyek ini didukung penuh oleh Khrushchev. Pabrik bawah tanah rahasia kendaraan ini dibangun di Ukraina. Pada 1964, Subterrene reaktor nuklir Soviet pertama 'Battle mole' diluncurkan. Namun, tak banyak diketahui tentang pengembangan ini. Subterrene tersebut memiliki cangkang silinder berujung lancip dari titanium. Berdasarkan info dari berbagai sumber, ukuran Subterrene atom berdiameter tiga hingga hampir empat meter dan panjangnya mencapai 25 – 35 meter. Di bawah tanah, kendaraan ini bisa melaju tujuh hingga 15 kilometer per jam.

Sakharov juga berperan dalam kemunculan mesin ini. Kala itu, teknologi sistem penghancur tanah dan propulsi telah dikembangkan. Arus kavitasi menciptakan friksi di sekeliling tubuh 'tikus' tersebut dan memungkinkannya untuk menembus batu granit dan basal.
Kru 'tikus tempur' terdiri dari lima orang. Kendaraan ini juga dapat mengangkut 15 orang penerjun payung dan sekitar satu ton kargo berupa bahan peledak atau senjata. Kendaraan tempur ini didesain untuk menghancurkan benteng, markas bawah tanah, pos komando, dan peluncur misil yang terletak di ladang ranjau. 'Battle moles' juga dapat digunakan untuk misi khusus.

Unit militer Uni Soviet berencana menggunakan kendaraan ini untuk meluncurkan serangan bawah tanah pada Amerika. Mereka hendak mengangkut 'tikus tempur' menggunakan kapal selam dan mengirimnya ke pesisir seismik California yang tidak stabil untuk menyerang AS dan memasang bom nuklir bawah tanah di wilayah yang penuh dengan fasilitas strategis Amerika. Aktivasi granat nuklir di wilayah ini akan menciptakan gempa bumi dahsyat dan tsunami, yang akan dianggap sebagai bencana alam belaka.

Menurut beberapa laporan, uji coba Subterrene nuklir Soviet dilakukan di berbagai tempat—di pinggiran Moskow, wilayah Rostov, dan Pegunungan Ural. 'Tikus tempur' ini dengan mudah memecah bebatuan dan menghancurkan target bawah tanah di Ural. Namun, saat uji coba dilakukan beberapa kali, mesin meledak dan menewaskan seluruh kru di dalamnya. Tak lama kemudian, proyek ini dihentikan.

www.tribunnews.com

Selasa, 01 Juli 2014

VA-111 Shkval, Torpedo Super Cepat Buatan Era Uni Soviet

Torpedo VA-111 Shkval merupakan jenis torpedo superkavitasi yang dikembangkan pada era Uni Soviet. VA-111 Shkval mampu melesat dibawah laut dengan kecepatan lebih dari 200 knot (370 km/jam). Desain torpedo ini mulai dibuat pada tahun 1960 ketika lembaga riset NII-24 diperintahkan untuk menghasilkan sistem senjata baru yang mampu memerangi kapal selam nuklir.
Pada tahun 1969, GSKB-47 yang bergabung dengan NII-24 untuk menciptakan Research Institute of Applied Hydromechanics di Kiev, Ukraina (konstruktor Merkulov); yang VA-111 Shkval menjadi produk dari merger ini. Diumumkan sebagai yang digunakan di awal 1990-an, meskipun sebelumnya operasional tahun 1977, VA-111 Shkval dirancang sebagai balasan terhadap torpedo yang diluncurkan oleh kapal selam musuh terdeteksi. Hal ini juga dapat digunakan sebagai counter untuk torpedo masuk dimana diluncurkan pada kapal selam musuh, memaksanya untuk menghindari, dan mudah-mudahan memotong kawat bimbingan ke torpedo musuh dalam proses. Shkval kerucut hidung. Belakang shkval, menunjukkan sirip bimbingan dan konektor elektronik. Kecepatan VA-111 jauh melebihi yang dari torpedo standar saat ini menerjunkan oleh NATO. Kecepatan ini adalah hasil dari superkavitasi: torpedo adalah, pada dasarnya, terbang dalam gelembung gas yang dibuat oleh defleksi luar dari air oleh perusahaan khusus berbentuk kerucut hidung dan ekspansi gas dari mesin. Dengan menjaga air dari datang ke dalam kontak dengan permukaan tubuh torpedo, tarik berkurang secara signifikan, yang memungkinkan kecepatan yang sangat tinggi. Diluncurkan dari 533 tabung mm torpedo, VA-111 keluar tabung di 50 knot (93 km / jam). Tak lama setelah itu, yang roket bahan bakar cair dan menyatu mendorong ke kecepatan hingga 200 knot (370 km / h). Beberapa laporan menunjukkan bahwa kecepatan 250 knot + dapat dicapai, dan bekerja pada 300-simpul (560 km / h) versi sedang berlangsung. Mesin roket menggunakan kombinasi peroksida tes tinggi dan minyak tanah; tangki propelan mengandung sekitar 1500 kg hidrogen peroksida dan 500 kg minyak tanah. Desain awal mungkin hanya mengandalkan sistem bimbingan inersia. Desain awal dimaksudkan untuk pengiriman hulu ledak nuklir. Kemudian desain dilaporkan meliputi bimbingan terminal dan hulu ledak konvensional 210 kg (460 lb). Torpedo mengontrol arah dengan menggunakan empat sirip yang skim permukaan dalam amplop superkavitasi. Untuk mengubah arah, sirip atau sirip di bagian dalam pergantian yang diinginkan diperpanjang, dan sirip lawan yang ditarik. Untuk membuat tikungan lebih cepat, pelat push pada hidung dapat digunakan untuk mengontrol bentuk gelembung rudal bepergian masuk

VA-111 Shkval. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
VA-111 Shkval.
VA-111 Shkval, Rudal Bawah Air yang Tak Terkalahkan.

Pada tahun 1977, Angkatan Laut Uni Soviet memiliki torpedo yang mampu meluncur di bawah air pada kecepatan 200 knot atau 370 km/jam. Meski masih dirahasiakan, VA-111 Shkval atau Squall menarik perhatian masyarakat luas dalam skandal mata-mata pada tahun 2000.

Meski telah ada terobosan teknologi dalam persenjataan konvensional, serangan torpedo oleh kapal selam masih menjadi ancaman nyata bagi kapal dan awak kapal, bahkan di paruh kedua abad ke-20. Kapal selam yang dipersenjatai torpedo harus mendekat hingga jangkauan serang yang tak terdeteksi. Namun fitur anti-kapal selam dan antitorpoedo memungkinkan kapal permukaan dan kapal selam musuh dapat mengatasi ancaman dari bawah secara lebih efektif.

Kapal selam Soviet periode 1960-an dan 1970-an lebih inferior dibanding model AS dalam hal level deraunya, sehingga para ahli mesin Moskow berupaya untuk membuat desain senjata baru yang revolulsioner. VA-111 Shkval akhirnya mulai digunakan pada 1977 setelah dikembangkan selama sepuluh tahun. Dengan kecepatan 200 knot yang belum tertandingi, VA-111 Shkval dua kali lebih cepat daripada torpedo screw-driven tradisional, yang masih menjadi senjata kapal selam utama di armada-armada dunia.

Keunggulan kecepatan ini dicapai dengan mesin roket dan menggunakan superkavitasi, moncong depan torpedo menciptakan gelembung gas di sekeliling seluruh permukaannya pada kecepatan tinggi untuk mengurangi gesekan di dalam air.

Setelah torpedo diluncurkan dari tabung, autopilot yang telah diprogram sebelumnya akan meluncurkan roket berbahan bakar padat sesuai jalur dan kedalaman yang diperlukan ketika berakselerasi untuk membentuk gelembung gas. Ketika bahan bakar motor awal habis, bagian belakang torpedo dibuang dan mesin utama yang didorong dengan bahan bakar berbasis lithium hidroreaktif akan melaju ke depan. Air laut kemudian masuk melalui lubang di moncong kapal selam, sehingga memungkinkan torpedo ini melaju pada kecepatan penuh sampai 15 kilometer dan hanya ujungnya yang bersentungan dengan air.

Meski superkavitasi menghalangi efektivitas penggunaan sistem homing pada senjata ini, kekuatan eksplosifnya yang besar sungguh luar biasa, yakni setara dengan sebuah ledakan nuklir 150 kiloton TNT, sehingga kapal selam musuh atau kapal permukaan yang berada di radius satu kilometer jelas akan hancur.

VA-111 Shkval 533 mm dimiliki oleh sebagian kapal selam nuklir Soviet dan dianggap sama efektifnya baik sebagai senjata penyerang maupun pertahanan ketika kapal selam musuh menyerang.

VA-111 Shkval mampu menjangkau enam kilometer dalam satu menit dan dapat melakukan serangan balik dengan cepat. Kapal selam AS memiliki keunggulan dalam kemampuan siluman ketika mendekati dan melancarkan serangan pertama, sementara torpedo berkecepatan tinggi ini dapat ditembakkan sebelum melakukan tindakan mengelak. Jadi meski kapal selam yang mengelak itu mungkin tidak dapat memperbaiki data kendali torpedo yang sudah di dalam air, daya ledak VA-111 Shkval dijamin memberi serangan balik yang dahsyat.

Senjata unik ini memungkinkan Angkatan Laut Soviet untuk menambal kelemahan kemampuan siluman kapal selamnya, sebelum hal itu berhasil diatasi pada awal 1980-an. VA-111 Shkval populer karena sebuah kasus spionase pada tahun 2000, ketika mantan perwira angkatan laut AS Edmond Pope diadili dan dihukum di Rusia karena mengambil informasi rahasia tentang senjata tersebut.

Saat ini VA-111 Shkval masih merupakan senjata Rusia yang bersifat rahasia dan belum ada desain yang lebih unggul torpedo ini.

rbth.com

Minggu, 29 Juni 2014

K-329 Severodvinsk, Kapal Selam Nuklir Rusia Yang Baru Bisa Dioperasikan Setelah 20 Tahun Dibangun

K-329 Severodvinsk adalah kapal selam nuklir Yasen milik Angkatan Laut Rusia. Pembangunan kapal selam dimulai pada tahun 1993 dan pertama kali direncanakan akan diluncurkan pada tahun 1998. Namun keruntuhan Uni Soviet dan masalah anggaran telah menyebabkan pembangunan kapal selam K-329 Severodvinsk ini menjadi tertunda selama bertahun-tahun, sehingga kapal selam ini baru bisa diluncurkan pada tanggal 15 Juni 2010.
K-329 Severodvinsk melaksanakan uji coba laut pada tanggal 12 September 2011 dan kembali dari pelayaran pertama pada tanggal 6 Oktober 2011. Kapal selam ini mulai dioperasikan Angkatan Laut Rusia pada akhir Desember 2013. AL Rusia berencana untuk memiliki dua kapal selam kelas Yasen pada tahun 2015. torpedo-meluncurkan sistem Severodvinsk ini telah dipilih dipasang di belakang kompartemen dari stasiun sentral. Pada 7 November 2012, perahu (sementara terendam) berhasil meluncurkan rudal jelajah Kaliber (versi anti-kapal) pada target laut di Laut Putih. Kemudian pada bulan yang sama kapal selam berhasil menguji menembakkan dua tambahan (serangan darat) rudal jelajah. Pertama serangan darat SLCM diluncurkan pada 26 November 2012 dari posisi muncul dan dua hari kemudian kedua dari posisi terendam. Severodvinsk diserahkan kepada Angkatan Laut pada akhir Desember 2013. Upacara pengibaran bendera diadakan pada 17 Juni 2014 menandai diperkenalkan ke Angkatan Laut Rusia. Angkatan Laut Rusia beroperasi beberapa yang terbaik kapal selam bertenaga nuklir di dunia. Alhtough mereka teknologi agak di belakang kapal selam nuklir Amerika dalam hal sensor dan dalam hal ketenangan (meskipun mereka sangat tenang diri), langkah-langkah kasar konstruksi dan keselamatan mereka di banyak adalah melebihi dari kapal selam AS, dan senjata mereka cocok hanya sebagai kuat , dan dalam beberapa kasus bettrer. Namun, setelah jatuhnya Uni Soviet, karena pertimbangan keuangan yang parah, kekuatan kapal selam jatuh ke dalam keadaan rusak kecuali untuk beberapa unit. Kekuatan Soviet skor serangan nuklir, peluru kendali, dan kapal selam rudal balistik jatuh ke titik di mana Angkatan Laut Rusia melakukan semua itu bisa untuk mempertahankan mungkin 8-10 dari masing-masing jenis (dan kadang-kadang kurang) dalam keadaan seaworth. Untuk serangan kapal selam, dari akhir 1980-an melalui dekade pertama tahun 2000-an, (lebih dari dua puluh tahun) ini terdiri dari beberapa kapal Victor III, dua atau tiga kapal Seirra, dan kapal selam Akula beberapa. The Akula Akula II dan kapal selam yang mendekati penerbangan selanjutnya dari serangan kapal selam Los Angeles bahwa Angkatan Laut AS yang dikerahkan di tahun 1990-an. Tapi Angkatan Laut AS juga telah pindah ke tiga kapal selam kelas Sea Wolf dan serangan kapal selam Virginia kelas baru (yang sepuluh sudah pernah membangun dan dimasukkan ke dalam layanan) yang tangan bawah serangan kapal selam paling tenang dan paling mematikan yang ada di setiap nomor di bumi. Rusia diinginkan untuk membangun, kelas modern yang baru serangan kapal selam yang akan mampu bersaing dengan kapal Amerika. Hasil keinginan yang menjadi Project 885 Yasen / Graney kelas kapal selam. Rencana desain inital untuk perahu berkecambah tidak lama setelah jatuhnya Uni Soviet pada akhir 1980-an, namun rencana itu harus ditunda karena pertimbangan keuangan. Rusia melakukan upaya untuk memulai membangun perahu 1 pada tahun 1993, tetapi tidak dapat melanjutkan sehingga projject tetap ditahan. Akhirnya dalam jangka waktu tahun 2004, Rusia memiliki cukup uang untuk melanjutkan. Namun, karena emphgasis nasional pada kelas baru dari Rudal Balistik Submarines (SSBN), kelas Borei, kemajuan lambat. Tapi, pada akhirnya, pada bulan Juni 2010, kapal pertama, Severodvinsk, K-329, diluncurkan. ia mulai uji coba laut-nya di September 2011, dan ditugaskan ke armada Rusia pada bulan Desember 2013. Sebuah perahu kedua, Kazan dibaringkan pada bulan Juli 2009. Sebuah perahu thrid, Novosibirsk, dibaringkan. The 2nd boat diharapkan akan diluncurkan pada tahun 2014. The 3rd perahu diharapkan akan diluncurkan pada 2017. Rusia bermaksud untuk membangun sepuluh kapal tersebut. Rusia merancang kapal ini benar-benar menjadi kapal hybrid yang akan menggantikan kedua serangan kapal selam kelas SSN (seperti Victor IIIs, yang Akulas dan Sierra) dan untuk menggantikan Oscar dan Oscar II Kelas SSGN, kapal selam rudal juga. Meskipun mereka akan secara resmi digolongkan dengan sebutan SSN, mereka akan sangat capanble dalam kedua peran. (Catatan:. Angkatan Laut AS bermaksud untuk memasukkan ekstensi hull baru ke Virginia Kelas SSN dimulai pada tahun 2018 ini "Payload Module" akan menambah 28 tabung peluncuran vertikal ke Virginia masa depan Kelas SSN, sehingga total VLS tube mereka menghitung sampai 40, dan memungkinkan mereka untuk menjadi hybrid SSN / perahu SSGN seperti Yasen). Karena tambahan vertikal tabung rudal peluncuran mereka dan karena pressure hull ganda dan ballast tambahan Rusia membangun ke kapal selam mereka, pembuluh Yasen Kelas memiliki perpindahan besar.

K-329 Severodvinsk. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
K-329 Severodvinsk.
Rusia habiskan 20 tahun untuk buat satu kapal selam nuklir.

Setelah menunggu dua dekade lebih, warga Rusia akhirnya bisa menyaksikan kapal selam nuklir mereka mengamankan perairan Negeri Beruang Merah. Apa saja kelebihan kapal selam nuklir tersebut?

Kapal selam K-329 Severodvinsk menjadi kapal selam nuklir pertama milik Rusia yang seutuhnya didesain untuk melancarkan serangan ke kapal selam lain. Oleh karena itu Severodvinsk dibekali dengan banyak persenjataan, termasuk beberapa misil dengan hulu ledak nuklir. Jangkauan dari misil nuklir tersebut juga cukup mengkhawatirkan, hampir separuh dari jangkauan rudal antar benua, yakni 5000 kilometer.

Selain misil dengan hulu ledak nuklir, Severodvinsk juga memiliki misil khusus untuk serangan udara, serta torpedo 533 mm untuk melakukan serangan dari jarak dekat dengan kapal destroyer atau kapal selam lain. Rusia pun menanamkan sebuah sistem sonar raksasa yang bisa memberikan tampilan radar yang lebih luas dan detail.

Dengan bobot mencapai 13.800 ton dan panjang 122 meter, kapal selam bertenaga reaktor nuklir generasi terbaru tersebut mampu melaju hingga kecepatan 35 knot di kedalaman maksimal 600 meter, Gizmodo (19/6).

Fakta menarik lainnya, kapal selam nuklir kelas Yasen ini mulai dirakit sejak tahun 1993 dan baru benar-benar selesai tahun ini. Mengapa bisa begitu lama?

Penundaan pembangunan akibat kejatuhan Uni Soviet lah yang dijadikan kambing hitam. Belum lagi akibat ekonomi Rusia yang belum stabil, pembangunan Severodvinsk harus berhenti beberapa kali. Berarti butuh sekitar 20 tahun untuk membuat satu kapal yang bisa meningkatkan daya saing Rusia jika suatu saat 'harus' berhadapan dengan Amerika Serikat.

Kabar buruknya, Amerika Serikat mempunyai 'stok' kapal selam kelas Victoria hingga 21 unit. Kapal selam kelas Victoria memang diperkirakan mempunyai kemampuan yang sama kapal selam kelas Yasen, termasuk Severodvinsk, milik Rusia. Amerika kabarnya masih memiliki 7 kapal selam lain yang masih dalam tahap pembangunan.

Menengok fakta di atas, nampaknya Rusia harus berpikir ulang jika ingin mengajak Amerika berperang.

www.merdeka.com

Selasa, 17 Juni 2014

Rudal SS-18 Satan, Senjata Nuklir Pamungkas Rusia

SS-18 Satan adalah jenis peluru kendali berhulu ledak nuklir dan masuk kategori peluru kendali balistik antarbenua (ICBM: Intercontinental Ballistic Missiles). Oleh pihak Uni Soviet (kini Rusia), rudal ini diberi nama R-36M, sedangkan pihak NATO menyebutnya dengan nama SS-18 Satan. Rudal ini dikembangkan hingga memiliki 6 varian. Beberapa varian dari rudal ini memiliki hingga 10 hulu ledak nuklir dengan bobot masing-masing antara 8,3 ton hingga 20 ton.
R-36 (Rusia: P-36) adalah keluarga dari rudal balistik antarbenua (ICBM) dan kendaraan peluncur ruang yang dirancang oleh Uni Soviet selama Perang Dingin. The original R-36 diproduksi di bawah industri penunjukan Soviet 8K67 dan diberi NATO melaporkan nama SS-9 Scrap. Itu mampu membawa hulu ledak tiga dan adalah yang pertama Soviet MIRV (multiple kendaraan masuk kembali secara independen ditargetkan) rudal. Versi kemudian, R-36M diproduksi di bawah Grau indeks sebutan 15A14 dan 15A18 dan diberi NATO melaporkan nama SS-18 Satan. Rudal ini telah dilihat oleh para analis AS tertentu memberikan Uni Soviet keuntungan serangan pertama atas AS, terutama karena lempar beban sangat berat dan jumlah yang sangat besar kendaraan re-entry. Beberapa versi dari R-36M dikerahkan dengan 10 hulu ledak dan sampai 40 bantu penetrasi dan tinggi membuang-berat rudal membuatnya secara teoritis mampu membawa hulu ledak lebih atau alat bantu penetrasi. Kontemporer rudal AS, seperti Minuteman III, dilakukan hingga tiga hulu ledak paling banyak. SS-18 Mod 1 membawa kendaraan masuk kembali tunggal yang besar, dengan hasil hulu ledak dari 18-25 Mt, jarak sekitar 6.000 nm. Pada bulan Januari 1971, tes dingin peluncuran dimulai selama peluncuran mortir disempurnakan. Tes penerbangan yang sebenarnya untuk single-RV Mod 1 dimulai pada tanggal 21 Februari 1973, meskipun beberapa sumber menyatakan bahwa pengujian dimulai pada bulan Oktober 1972. Tahap pengujian R-36M dengan berbagai jenis hulu ledak selesai pada bulan Oktober 1975 dan pada tanggal 30 Desember 1975 mulai penyebaran (meskipun beberapa sumber-sumber Barat menunjukkan bahwa kemampuan operasional awal telah dicapai pada awal 1975). Sebanyak 56 dikerahkan pada tahun 1977, meskipun semua digantikan oleh Mod 3 atau 4 Mod rudal pada tahun 1984. Senjata-senjata high-yield dinilai di Barat sebagai mungkin dikembangkan untuk menyerang Amerika Minuteman ICBM pusat kontrol peluncuran. Rudal dari keluarga R-36M/SS-18 tidak pernah disebarkan dengan lebih dari sepuluh hulu ledak, tetapi mengingat besar membuang-berat badan mereka (8,8 ton sebagaimana ditentukan dalam START), mereka memiliki kapasitas untuk membawa kekuatan ledakan jauh lebih. Di antara proyek-proyek bahwa Uni Soviet dipertimbangkan dalam pertengahan 1970-an adalah bahwa dari 15A17 rudal-tindak-on untuk R-36MUTTH (15A18). Rudal itu akan memiliki lebih besar membuang-berat 9,5 ton dan akan mampu membawa jumlah yang sangat besar hulu ledak. Lima versi yang berbeda dari rudal dianggap. Tiga versi ini akan membawa hulu ledak biasa-38 × 250 yield kt, 24 × 500 kt yield, atau 15-17 × 1 Mt yield. Dua modifikasi seharusnya membawa hulu ledak dipandu ("upravlyaemaya golovnaya chast") -28 × 250 kt atau 19 × 500 kt. Namun, tidak satupun dari model upgrade yang pernah dikembangkan. Perjanjian SALT II, ??yang ditandatangani pada tahun 1979, dilarang menambah jumlah hulu ledak ICBM bisa membawa. Sama, dari sudut pandang strategis, berkonsentrasi begitu banyak hulu ledak pada rudal berbasis silo tidak dipandang sebagai diinginkan, karena itu akan membuat sebagian besar hulu ledak Uni Soviet rentan terhadap serangan kekuatan melawan. Penyebaran operasional R36M/SS-18 terdiri dari R-36MUTTH, yang membawa sepuluh 500 hulu ledak kt, dan tindak-on, R-36m2 (15A18M), yang dilakukan sepuluh 800 hulu ledak kt (versi single-hulu ledak dengan baik 8,3 atau 20 Mt Mt hulu ledak juga ada di beberapa titik). Untuk menghindari sebagian perjanjian, rudal itu dilengkapi dengan 40 umpan berat untuk memanfaatkan kapasitas tidak digunakan karena keterbatasan 10-hulu ledak. Umpan ini akan muncul sebagai hulu ledak untuk setiap sistem pertahanan, membuat setiap rudal keras untuk mencegat 50 hulu ledak tunggal, rendering potensi pertahanan anti-balistik efektif.

SS-18 Satan (Gambar 1). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
SS-18 Satan (Gambar 1).
Rudal Rusia SS-18, Ancaman Terbesar bagi AS.

Sepanjang sejarah, belum ada senjata yang lebih merusak dibanding rudal balistik antarbenua SS-18 milik Rusia. Untuk memahami kekuatan sesungguhnya dari senjata maut ini, bandingkan dengan hulu ledak nuklir yang digunakan Amerika Serikat untuk meluluhlantakkan Hiroshima. Bom Hiroshima memiliki daya ledak ‘hanya’ 15 kilo ton (KT) atau setara 15.000 ton TNT. Bom tersebut mampu menghilangkan 70.000 nyawa. Sementara, sebuah SS-18 dapat membawa hingga sepuluh buah hulu ledak nuklir terpisah yang masing-masing berdaya ledak sekitar 750 KT. Beberapa rudal juga dilengkapi senjata hulu ledak raksasa 20.000 KT.

Dulu, Amerika Serikat lebih unggul dari Rusia dalam hal teknologi dan jumlah rudal. Namun, pada awal 1970-an ketika SS-18 mulai siap digunakan dalam jumlah besar, Moskow mengejar ketertinggalan itu dan langkah Moskow mulai tak terbendung. Pada 1990, Moskow memiliki sekitar 40.000 stok hulu ledak nuklir, dan AS hanya memiliki 28.000 buah. Hanya dengan menggunakan 3.000 hulu ledak SS-18, Rusia dapat memusnahkan semua manusia di daratan Amerika Serikat hanya dalam waktu 30 menit.

SS-18 yang diberi nama kode Satan oleh NATO ini memiliki berat 209.000 kilogram dan panjang 31 meter. Rudal Rusia yang sangat akurat tersebut tidak hanya dapat menembus dan menghancurkan silo-silo rudal AS, yang diperkuat hingga 300 psi, tetapi silo-silonya sendiri diperkuat secara luar biasa hingga 6.000 psi. Hal itu membuat rudal-rudal tersebut tidak terkalahkan. Hebatnya, dengan ukuran seberat dan sepanjang itu, rudal ini dapat melakukan gerakan sidewinding, yakni serangkaian gerakan melengkung berbentuk S untuk menghindari pertahanan antirudal. Selain itu, peralatan elektronik mikronya bisa diperkuat sehingga dapat berfungsi bahkan ketika terkena serangan nuklir.

Menyasar Setan

SS-18 memberi ancaman eksistensial bagi Amerika Serikat, sehingga rudal ini menjadi isu fokus dalam pembicaraan tentang persenjataan di antara dua negara adidaya. AS bersedia menyingkirkan rudal strategis mereka yang ditempatkan di Eropa jika Rusia setuju mengurangi kekuatan roketnya secara signifikan. Dari peluncuran SS-18 sebanyak 308 silo pada 1991, Moskow telah mengurangi jumlahnya hingga 154 buah untuk mematuhi perjanjian START I.

SS-18 Satan (Gambar 2). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
SS-18 Satan (Gambar 2).
START II bertujuan mengeliminasi semua rudal SS-18, namun perjanjian itu tidak diberlakukan sehingga rudal-rudal itu tetap aktif. Dari sudut pandang Rusia, penundaan tersebut jelas menguntungkan. Seiring terus memburuknya hubungan Rusia dengan AS setelah NATO berekspansi hingga mendekati perbatasan Rusia, Moskow memutuskan untuk menyiapkan senjata supernya. Sekarang, setelah romansa palsu Rusia-AS tahun 1991 lama berlalu, jelas Kremlin merasa rudal balistik antarbenua yang ditempatkan di silo yang berlapisan keras wajib dimiliki untuk menjaga wibawa negara tersebut.

Kini mendadak SS-18 kembali ramai dibicarakan karena terjebak dalam perang sanksi. Terkait sanksi Barat yang diberlakukan untuk Rusia, Moskow hendak menghentikan penjualan mesin roket pada Amerika Serikat jika mesin itu digunakan untuk tujuan militer. Beberapa anggota Kongres AS pun mengusulkan langkah yang berbahaya. Para anggota legislatif AS menghendaki pemerintahan mereka memulai pembicaraan dengan pemerintah Ukraina untuk mengakhiri kerja sama antara Kiev dan Moskow yang telah lama terjalin terkait perawatan SS-18.

AS tampaknya harus menelan pil pahit. Rudal ini memang merupakan produk kompleks industrial militer yang berbasis di Biro Desain Yuzhnoye milik Ukraina, tetapi Federasi Ilmuwan AS menyatakan perusahaan-perusahaan Rusia memberi layanan perawatan untuk SS-18 yang saat ini berada di dalam inventaris mereka.

AS Tak Perlu Khawatir

Kampanye yang nyaring untuk menentang SS-18 di Washington disebabkan oleh ketakutan masa lalu AS terhadap senjata maut pamungkas yang berada dalam kendali lawan. Namun, pada abad ke-21 ketika Rusia tidak lagi menjadi musuh bebuyutan AS, ketakutan itu tidak berdasar. Sebuah laporan Departemen Pertahanan AS tentang Persenjataan nuklir Rusia, yang disusun melalui kerja sama dengan Direktur Intelejen Nasional, menyatakan bahwa bahkan skenario terburuk dari serangan pertama Rusia hanya akan memberi "dampak kecil" bagi AS.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa Rusia tidak dapat memperoleh keuntungan militer yang signifikan melalui segala ekspansi yang dilakukan terhadap persenjataan rudal strategisnya, bahkan dengan skenario curang atau menyimpang menurut perjanjian START yang baru. Anggota Kongres AS sepertinya menyebarkan retorika tersebut karena mendapat informasi yang keliru, kurang jelas, dan mudah naik darah.

Setan Tak Pernah Mati

Sementara itu, 50 tahun setelah pertama kali dikerahkan, SS-18 tetap siap untuk digunakan. Persenjataan rudal strategis Rusia akan bertambah sebanyak 400 rudal baru dalam sepuluh tahun mendatang, tapi sang Setan tampaknya akan terus bertahan hingga periode 2040-an setelah di-upgrade.

Strategy Page melaporkan, sebagian besar penembakan uji coba selama dekade sukses, dan tes kendali mutu lain juga menunjukkan hasil positif. Meski militer Rusia telah runtuh pasca-Perang Dingin, anggaran dan personel berkualitas tetap dikerahkan untuk pengembangan persenjataan rudal, yang merupakan pertahanan terakhir dari sang negeri Beruang Merah.

rbth.com

Rabu, 23 April 2014

Project Azorian, Aksi CIA Curi Kapal Selam Uni Soviet

Project Azorian adalah kode nama yang digunakan oleh CIA (Central Intelligence Agency) untuk misi pengambilan sebuah kapal selam milik Angkatan Laut Uni Sovyet yang tenggelam di Samudera Pasifik, 1.900 mil di sebelah barat laut Hawaii. Kapal selam bersenjata peluru kendali berhulu ledak nuklir milik Uni Sovyet tersebut dikenal dengan sebutan K-129 (pihak NATO menyebutnya dengan nama Golf II). Kapal selam K-129 tenggelam akibat ledakan yang terjadi di bagian dalam kapal.

Kapal Selam K-129 (Golf II). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Kapal Selam K-129 (Golf II).
Azorian, Proyek CIA untuk Mencuri Kapal Selam Soviet.

Dokumen yang baru dideklasifikasi (dinyatakan tak lagi bersifat rahasia) mengungkapkan rincian baru tentang Project Azorian, yaitu upaya diam-diam badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA), untuk mengambil sebuah kapal selam diesel milik Angkatan Laut Uni Soviet yang karam di Samudra Pasifik. Mark Strauss menulis cerita mengenai hal ini dalam io9.com 10 April 2014 dan Rhys Blakely menulis dalam The Australian edisi 18 April 2014.

Cerita ini dimulai pada Maret 1968, ketika sebuah kapal selam Soviet, K-129 (Golf II), rusak akibat ledakan di dalam saat misi patroli rutin dan tenggelam di Samudra Pasifik, 1.900 mil sebelah barat laut Hawaii. Kapal itu membawa rudal balistik nuklir, dengan hulu ledak 4 megaton, dan awak tujuh puluh orang. Soviet melakukan upaya pencarian besar-besaran selama dua bulan, tapi tak membuahkan hasil.

Aktivitas tak biasa Angkatan Laut Soviet di daerah itu mendorong AS untuk memulai pencarian kapal selam, yang akhirnya ditemukan pada Agustus 1968. Tapi, puingnya baru bisa diangkat beberapa tahun setelahnya. Kapal selam itu, jika bisa diambil, akan menjadi harta karun bagi komunitas intelijen. Itu tidak hanya membuat pejabat AS bisa melihat desain hulu ledak nuklir Soviet, tapi juga mendapatkan peralatan kriptografi yang memungkinkannya memecahkan kode sandi Angkatan Laut Uni Soviet. Lalu, dimulailah Project Azorian itu.

Komunitas intelijen AS menugaskan Howard Hughes untuk membangun sebuah kapal besar --dijuluki Hughes Glomar Explorer (HGE)--untuk mendapatkan kapal selam itu. Operasi penyelamatan, yang dimulai pada 1974, awalnya hanya sukses secara parsial. AS berencana untuk memulai usaha kedua, pada 1975, namun akhirnya dibatalkan ketika cerita soal ini bocor ke pers.

Dalam tahun-tahun berikutnya, sangat sulit untuk mendapatkan informasi tentang Proyek Azorian di luar yang telah beredar di surat kabar. Menanggapi permintaan melalui Freedom of Information Act (FOA), CIA menolak melepaskan dokumen soal proyek itu dan mengatakan "tidak mengkonfirmasi atau menyangkal" hubungannya dengan Hughes Glomar Explorer. (Akibatnya, kalimat "tidak mengkonfirmasi atau menyangkal" dikenal sebagai "respons glomar" atau "glomarization.")

Pada 2010, CIA diizinkan mempublikasikannya dengan suntingan yang sangat banyak, 50 halaman artikel yang menjelaskan Proyek Azorian dalam edisi musim gugur 1978 di jurnal internal CIA, Studies in Intelligence. Kini, soal proyek itu ini tersedia lebih detail berkat publikasi volume terbaru dari Foreign Relations of the United States (FRUS). Disusun oleh sejarawan Departemen Luar Negeri, seri FRUS adalah sumber tak ternilai, yang berisi dokumen yang dideklasifikasi, yang mencakup kabel diplomatik, memo internal, dan risalah rapat antara presiden dan penasihat terdekatnya. Dalam FRUS terbaru, National Security Policy: 1973-1976, terdapat sekitar 200 halaman soal Project Azorian.

Menurut dokumen itu, pada 1969, CIA mengumpulkan gugus tugas kecil insinyur dan teknisi untuk menyusun konsep bagaimana mendapatkan kapal selam itu. Hambatan teknologi dan logistik menjadi pertimbangan utama. Bagaimana mungkin AS menyelamatkan kapal selam 2.500 ton, yang berbaring di dasar laut pada kedalaman 16.500 kaki? Dan bagaimana AS melakukan operasi besar-besaran tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan atau terdeteksi oleh pengintaian Soviet?

Pada akhirnya, para insinyur memilih rencana yang terdengar seperti plot film James Bond. Rencana ini melibatkan tiga kapal. Kapal pertama adalah untuk pengambilan, dengan ruang di dalamnya dan dilengkapi dengan dasar yang bisa membuka dan menutup. Kapal kedua, untuk penangkap, dilengkapi mekanisme pengambilan yang akan dirancang untuk menyelaraskan dengan lambung kapal selam. Kapal yang berhasil diangkat akan diam-diam dirakit pada kapal tongkang besar dengan atap yang bisa dibuka. Kapal tongkang tersebut akan terendam sehingga bisa menyelinap di bawah laut, di bawah kapal pengambilan, membuka atap dan memberikan kapal yang sudah didapatnya.

CIA mengontrak Summa Corporation untuk pembuatan kapal ini. Summa adalah anak perusahaan Hughes Tool Company yang dimiliki oleh miliarder Howard Hughes. Kapal penemuan itu akan dibuat sepanjang 618 kaki, 36.000 ton, dan dijuluki Hughes Glomar Explorer (HGE). Tentu saja, melihat ada raksasa mengambang berlama-lama di Samudra Pasifik pasti akan memicu kecurigaan. Jadi, Project Azorian mengarang cerita penyamaran bahwa HGE dibangun sebagai usaha komersial swasta Hughes untuk penambangan mangan di dasar laut.

Saat Project Azorian mengalami kemajuan, namun pejabat pemerintah mulai mengungkapkan keraguan apakah biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang didapatkan sebanding. Apakah kapal selam nuklir itu masih bisa disebut aset intelijen atau justru sudah menjadi artefak? Sebuah komite ad hoc sekali lagi diminta untuk mengkaji masalah ini dan akhirnya memutuskan bahwa masih ada banyak yang bisa diperoleh dari operasi ini. Meskipun rentang rudal SS-N-5 yang ada di kapal selam itu pendek dan tidak lagi dianggap sebagai ancaman utama, itu masih bisa "menyediakan teknologi potensial penting", sesuai dengan yang baru-baru ini dikerahkan Uni Soviet, rudal jarak jauh SS-N-8. Dan peralatan kriptografinya di kapal itu "akan bernilai sangat tinggi terhadap upaya intelijen AS melawan pasukan angkatan laut Soviet."

Akhirnya, pada 3 Juni 1974, sebuah memorandum dari Dewan Keamanan Nasional kepada Kissinger mengatakan: "Puncak dari usaha enam tahun, Proyek Azorian, siap untuk mencoba untuk mendapatkan rudal balistik kapal selam Soviet dari kedalaman 16.500 kaki di Samudera Pasifik."

Kapal akan berangkat dari pantai barat 15 Juni dan tiba di situs target pada 29 Juni. Operasi pengambilan akan memakan waktu 21-42 hari (30 Juni-20 Juli-10 Agustus). Manajer proyek memperkirakan peluang keberhasilannya lebih dari 40 persen. Dua hari kemudian, operasi itu disetujui. Misi pengambilan kapal selam, yang berlangsung dari Juni sampai Agustus 1974, hanya berhasil sebagian. Meskipun sebagian dari kapal selam itu diambil, sisa kapal terjatuh dari kapal penangkap lantaran kegagalan fungsi mekanis.

Wakil Menteri Pertahanan memberi penjelasan kepada Kissinger: "Analisis ekstensif dari kegagalan penangkap telah menghasilkan kesimpulan bahwa tangan-tangan baru harus dibuat, yang menggabungkan bahan kurang rapuh dan meningkatkan teknik desain. Semua tindakan yang diperlukan sekarang sedang diambil untuk mengkonfigurasi ulang kendaraan penangkap dan memperbarui kapal penemuan untuk misi kedua selama periode cuaca optimum berikutnya, yaitu Juli dan Agustus 1975."

Haruskah AS mencoba melakukan misi kedua? Saat itu, banyak hal berubah di Washington sejak Hughes Glomar Explorer berangkat ke laut. Presiden Richard Nixon mengundurkan diri pada 9 Agustus. Ada keraguan, mengingat suasana saat ini di Washington, apakah CIA bisa mempertahankan operasi selama satu tahun lagi tanpa cerita itu bocor ke pers.

Namun, konsensusnya cenderung untuk melanjutkan inisiatif tersebut. Namun, bahkan Henry Kissinger, yang berada di antara pendukung terkuat operasi, mulai memiliki keraguan pribadi. Setelah mengadakan satu pertemuan dengan para pejabat intelijen dan pertahanan pada Januari 1975, Kissinger berbicara kepada Presiden Gerald Ford soal kekhawatirannya bahwa operasi rahasia ini bisa bocor. Kissinger punya alasan untuk khawatir. Sejak awal Januari 1974, wartawan New York Times Seymour Hersh telah menyelidiki cerita soal Project Azorian ini. William Colby, Direktur Central Intelligence Agency (CIA), sudah dua kali bertemu dengan Hersh--pada 1 Februari 1974 dan 10 Februari 1975--dan mendesaknya untuk menunda publikasi soal itu. Tapi, berapa lama lagi cerita soal itu tak dibuka media?

Kurang dari seminggu kemudian, berita itu bocor dan bukan oleh Seymour Hersh. Proyek ini menjadi rahasia umum karena perampokan yang terjadi pada 5 Juni 1974. Markas perusahaan Summa Corporation milik Hughes di Los Angeles kecurian. Para pencuri membawa kabur uang tunai dan empat kotak dokumen. Berdasarkan pendataan setelah kasus perampokan, diketahui bahwa dokumen yang hilang termasuk memo yang menjelaskan proyek rahasia CIA itu.

Beberapa bulan kemudian, polisi Los Angeles melaporkan bahwa mereka telah dihubungi oleh seorang perantara yang mengaku memiliki dokumen yang dicuri. Sang perantara tidak secara khusus menyebutkan memo tentang CIA dan Proyek Azorian. Sang perantara meminta tebusan US$ 500.000. Apa yang terjadi selanjutnya dapat digambarkan sebagai komedi kesalahan. Sebab, CIA memberi tahu FBI bahwa dokumen yang ditawarkan sang perantara mungkin termasuk memo sensitif mengenai Project Azorian. FBI kemudian mengatakan kepada polisi Los Angeles tentang adanya memo tersebut, dan polisi Los Angeles memberi tahu sang perantara.

Pada 7 Februari 1975, Los Angeles Times menerbitkan sebuah artikel singkat berjudul "U.S. Reported After Russ Sub" yang mengatakan bahwa menurut "kabar yang beredar di kalangan aparat penegak hukum setempat, Howard Hughes telah dikontrak CIA untuk mengangkat kapal selam nuklir Rusia dari bawah samudra...operasi, menurut teori seorang penyidik, dilakukan oleh awak kapal pertambangan kelautan yang dimiliki oleh Hughes Summa Corp."

Itu adalah artikel dari sumber yang samar, mengandung sejumlah kesalahan, tapi cerita soal Project Azorian itu menyebar. Pada 18 Maret 1975, kolumnis Jack Anderson menyebut soal Hughes Glomar Explorer dalam acara radio nasional dan menyatakan niatnya untuk mengungkapkan rincian lebih lanjut tentang operasi itu. Hasil dari pengumuman itu, wartawan lainnya, termasuk Seymour Hersh, tidak lagi merasa wajib menunda untuk menurunkan beritanya. Keesokan harinya, beberapa surat kabar besar--termasuk Los Angeles Times, Washington Post, dan The New York Times--menerbitkan cerita di halaman depan yang mengungkapkan bahwa Hughes Glomar Explorer, dalam sebuah operasi yang dipimpin oleh CIA, telah mengambil sebagian dari kapal selam Soviet dari Samudra Pasifik selama musim panas 1974.

Yang mengejutkan bagi Gedung Putih, Soviet hanya diam. Ada dugaan bahwa kemarahannya mirip dengan insiden U-2 pada 1960, ketika sebuah pesawat mata-mata Amerika Serikat ditembak jatuh di wilayah udara Uni Soviet.

Sebuah laporan yang dipersiapkan oleh CIA pada April 1975 percaya bahwa keputusan Soviet untuk menahan diri dari respons publik adalah karena beberapa faktor. Hal ini, antara lain, ditujukan untuk menghindari rasa malu di dalam negeri dan di luar negeri karena harus mengakui untuk pertama kalinya soal hilangnya kapal selam pada 1968. Ini juga untuk menghindari adanya pengakuan publik atas ketidakmampuan Soviet untuk menemukan kapal selam yang hilang kalah oleh AS, yang tidak hanya menemukan, tapi juga mengambil kapal selam mereka.

CIA menyimpulkan bahwa Uni Soviet memiliki kepentingan untuk tidak mempublikasikan peristiwa itu lebih jauh. Namun CIA juga memperingatkan, "Tampaknya tak diragukan lagi bahwa Soviet akan berusaha keras untuk menggagalkan atau mengganggu misi kedua." Berarti tinggal satu pertanyaan yang tersisa: bagaimana Uni Soviet akan menanggapi misi pengambilan kedua? Gedung Putih belum mengakui hubungan resminya dengan Hughes Glomar Explorer. Apakah mungkin Angkatan Laut Soviet menembaki kapal sipil AS itu?

Pada 16 Juni 1975, Kissinger mengirim memorandum kepada Presiden Ford. Isinya, Kissinger menjelaskan bahwa Soviet sepertinya tidak akan membiarkan AS melakukan misi kedua. Sebuah kapal Soviet dikabarkan sudah di dekat lokasi itu sejak 28 Maret dan ada indikasi bahwa kapal itu akan tetap di sana. Karena itu, kapal AS itu dalam keadaan rentan. Ancaman dari reaksi yang lebih agresif dan bermusuhan juga bisa terjadi, termasuk konfrontasi langsung dengan kapal angkatan laut Soviet.

Melihat perkembangan itu, Project Azorian dihentikan. Biaya total operasinya sekitar US$ 800 juta, yang kalau dinilai dengan mata uang saat ini lebih dari US$ 3 miliar. Hughes Glomar Explorer akhirnya disesuaikan dengan cerita penyamarannya semula, yaitu untuk pengeboran laut dalam. Kapal itu lantas dijual kepada sebuah perusahaan swasta pada 2010 seharga US$ 15 juta.

www.tempo.co

Jumat, 14 Maret 2014

KRI Sutanto (377), Kapal Perang Korvet Kelas Parchim Milik TNI AL

Korvet KRI Sutanto (377) milik TNI AL adalah kapal perang jenis korvet yang juga merupakan kapal perang korvet kelas Parchim. Korvet KRI Sutanto (377) kini berpangkalan di Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Barat. Tugas utama kapal ini adalah sebagai kapal patroli di kawasan perairan Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Barat.

KRI Sutanto (377). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Sutanto (377).
KRI Sutanto (377) adalah salah satu dari beberapa kapal perang jenis korvet yang dimiliki dan masih dioperasikan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Kapal perang ini termasuk kapal korvet kelas Parchim dengan kode Pakta warsawa Type 133.1. Kapal korvet kelas Parchim didesain untuk melakukan perang anti kapal selam diperairan dangkal atau pantai (littoral). Terhitung ada 16 kapal dibuat untuk Volksmarine (1997-1981) dan 12 kapal yang dimodifikasi dibuat untuk AL Soviet pada periode 1985-1990 oleh Peenewerft, Wolgast. Setelah Penyatuan kembali Jerman, bekas negara Jerman timur menjual kapal-kapal ini kepada TNI AL Indonesia pada tahun 1993.

Kapal korvet kelas Parchim ini pernah digunakan sebelumnya oleh tentara Angkatan Laut Jerman Barat. Kapasitas kapal ini bisa menampung sebesar 20 hingga 59 orang anak buah kapal. Dimensi kapal perang KRI Sutanto (377) berukuran 75.2meter x 9.78meter x 2.65 meter/ (246.7 x 32.1 x 8.7 kaki). Berat muatan penuh sekitar 900 ton.

Indonesia masih di bawah pemerintahan Soeharto dengan BJ Habibis sebagai "orang kuat" di bidang teknologi dan sains ketika mengakuisisi seluruh korvet kelas Parchim ini. Dikarenakan ukurannya tidak besar maka korvet ini cuma mampu membawa perbekalan untuk operasi tidak terlalu lama dan jauh, hanya di kisaran 2.100 mil laut dengan kecepatan ekonomis 14 knot perjam. Pada Tanggal 14 September 2011, kapal KRI Sutanto dialihkan pembinaannya di bawah Komando Armada RI Kawasan Barat setelah sebelumnya mengabdi di Komando Armada RI Kawasan Timur.

Peluru kendali
Sistem pertahanan udaranya adalah dua peluncur (rudal) SA-N-5, rudal darat ke udara untuk pertahanan udara jarak-dekat terhadap pesawat sayap tetap , pesawat sayap putar dan terhadap rudal anti-kapal yang datang.

Anti kapal selam
Selain itu ia juga dilengkapi dengan 2 RBU-6000 untuk peranan anti-kapal selam (ASW RL) dan juga mempunyai 2 para (Deep Charge).

Meriam
Meriam utama kapal perang KRI Sutanto (377) yang dipasang pada dek depan, adalah meriam kembar 57mm/70 caliber DP. Kapal ini juga dilengkapi dengan satu senapan 30 mm kembar serbaguna.

Decoy
PK-16 decol RL yang bisa diluncurkan dalam mode ganggu (distraction) atau menarik (seduction) untuk mengelabui rudal musuh. Selain itu ia juga mempunyai sistem pemantau Watch Dog intercept.

Radar dan Sonar
Radar kapal ini adalah MR-302/Strut Curve bisa digunakan untuk pencarian sasaran di permukaan dan di udara yang dipadukan dengan sistem kontrol tembakan MR-123 Vympel/Muff Cob. Kedua alat itu bekerja secara bersamaan dalam men-scan area diudara maupun dipermukaan. Kapal anti-kapal selam (ASW) ini juga dilengkapi dengan sonar aktif berfrekuensi sederhana di badan kapal dari jenis MG-322T.

Tenaga penggerak
Kapal ini mempunyai tiga mesin disel yang dihubungkan dengan tiga gandar bagi menghasilkan tenaga sebesar 14,250 bhp, dengan kecepatan beroperasi 24 nm.

Kapal-kapal korvet kelas Parchim lain yang kini tergabung dalam TNI AL adalah:
- KRI Patimura (371)
- KRI Untung Suropati (372)
- KRI Nuku (373)
- KRI Lambung Mangkurat (374)
- KRI Cut Nyak Dien (375)
- KRI Sultan Thaha Syaifuddin (376)
- KRI Sutanto (377)
- KRI Sutedi Senoputra (378)
- KRI Wiratno (379)
- KRI Tjiptadi (381)
- KRI Hasan Basri (382)
- KRI Imam Bonjol (383)
- KRI Pati Unus (384)
- KRI Teuku Umar (385)
- KRI Silas Papare (386)

wikipedia.org, www.antaranews.com

Jumat, 11 Mei 2012

Profil BMP-3F, Tank Amfibi Andalan Korps Marinir TNI-AL

BMP-3F adalah kendaraan tempur infanteri yang sudah dikembangkan pada masa Uni Soviet. Kalangan awam menyebut BMP-3F sebagai jenis tank amfibi. Kendaraan tempur ini merupakan penerus BMP-1 dan BMP-2. BMP merupakan singkatan dari Boevaya Mashina Pehoty (Kendaraan Tempur Infanteri). BMP-3F diirancang khusus untuk operasi di laut, dengan meningkatkan kelayakan dan daya apung, dan akurasi tembakan yang tinggi di laut. Versi ini dapat bertahan operasi amfibi terus menerus selama tujuh jam.

BMP-3F (Gambar 1). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
BMP-3F (Gambar 1).
Sekilas Tentang Tank BMP-3F.

Dari segi teknologi, kendaraan tempur lapis baja ini bisa dikatakan sempurna karena sesuai dengan kebutuhan pertempuran masa kini (Pertempuran Asimetris). Keunggulan-keunggulan lainnya yang dimiliki dari Tank BMP-3F ini antara lain, komputer balistik telah di-upgrade dengan sistem digital yang lebih akurat, lubang penembakkan untuk pasukan yang semula diperuntukkan senapan serbu tipe AK-47 telah disesuaikan dengan senapan serbu tipe SS-1 Pindad, kemudian dilengkapi pula dengan rantai (track) yang dapat digunakan di aspal sehingga tidak merusak aspal, adanya penyempurnaan pada perlindungan terhadap peperangan nuklir biologi kimia (Nubika) serta perbedaan lainnya yang bersifat minor change pada tameng tombak (anti surge vane) yang semula tebal 5 mm menjadi 10 mm dan system pemanas ruangan yang disesuaikan dengan iklim di Indonesia.

BMP-3F (Gambar 2). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
BMP-3F (Gambar 2).
Selain itu, keunggulan-keunggulan lainnya yang dimiliki Tank BMP-3F diantaranya, mampu beroperasi di laut selama 7 jam dan untuk menunjang kemampuan amfibinya, tank ini dapat dilengkapi snorkel. Dalam hal meriam, Tank BMP 3F dilengkapi kanon kaliber 100 mm, dimana kanon ini dirancang untuk menembakkan peluru/ roket non-kendali (shell). Kanon jenis ini masuk dalam kategori balistik sedang, dengan kecepatan tembak berkisar 250m/detik.

Konstruksi persenjataan Tank BMP-3F merupakan penggabungan dalam satu komponen antara meriam, peluncur roket berkaliber 100 mm, kanon otomatis berkaliber 30 mm dan mitraliur berkaliber 7,62 mm. Dengan penggabungan ini, memungkinkan awak tank dapat memilih model keperluan penggunaan senjata yang tersedia dikaitkan dengan situasi, kondisi serta medan tempur, tergantung sasaran yang dipilih untuk dihancurkan baik sasaran di darat, laut maupun udara. Tank BMP 3F memiliki berbobot kurang lebih 18,7 ton, panjang 8 meter, lebar 3,5 meter dan tinggi 2,5 meter, kapasitas awak 3 orang serta 7 personel pasukan bersenjata lengkap.

www.antaranews.com

Video BMP-3F :

Video manuver tempur tank amfibi BMP-3F.

Rabu, 01 Februari 2012

Sukhoi Su-27 Flanker, Jet Tempur Superioritas Udara Jarak Jauh Buatan Rusia

Sukhoi Su-27 Flanker adalah jenis pesawat jet tempur superioritas udara yang dirancang oleh Biro Desain Sukhoi, Rusia. Jet tempur Sukhoi Su-27 Flanker dibuat oleh Uni Soviet (kini Rusia) untuk menandingi pesawat tempur buatan Amerika Serikat seperti F-16 Fighting Falcon, F-15 Eagle, F-14 Tomcat, dan F-18 Hornet yang banyak digunakan oleh negara-negara NATO.

Sukhoi Su-27 Flanker (Gambar 1). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-27 Flanker (Gambar 1).
Pesawat jet tempur Sukhoi Su-27 Flanker (Pihak NATO menjulukinya sebagai 'Flanker') mulai memasuki layanan VVS operasional sekitar tahun 1984, meskipun kesulitan manufaktur menyimpannya muncul dalam kekuatan sampai tahun 1986. Su-27 disajikan dengan baik V-PVO dan Penerbangan Frontal. Dalam pelayanan V-PVO itu terutama pesawat pencegat, menggantikan pesawat tua seperti Sukhoi Su-15. Meskipun Su-27 memiliki beberapa kapasitas untuk membawa senjata udara-ke-darat, di Frontal Penerbangan itu terutama bertugas dengan berjuang jalan garis musuh masa lalu untuk menghancurkan kapal dan pesawat AWACS. Su-27 mempertahankan bahwa peran dalam pelayanan CIS, dengan tanda kemudian mampu membawa jangka panjang "AWACS pembunuh" seperti rudal Vympel R-37 dan, berpotensi, K Novator-100 ketika memasuki produksi. Dari tahun 1986 sebuah Su-27 khusus ditunjuk P-42, dibangun kembali dari pesawat T-10S-3 prototipe dan dilucuti dengan berat minimum, mulai mengatur pertama dalam serangkaian catatan kinerja untuk tingkat memanjat dan ketinggian, pesawat pengaturan 27 baru kelas catatan antara 1986 dan 1988. desain dasar Sukhoi Su-27 Flanker adalah aerodinamis mirip dengan MiG-29, tetapi secara substansial lebih besar. Ini adalah pesawat yang sangat besar, dan untuk meminimalkan berat strukturnya memiliki persentase yang tinggi dari titanium (sekitar 30%, lebih daripada yang sezaman). Tidak ada material komposit yang digunakan. Campuran sayap menyapu ke dalam pesawat di tepi ekstensi terkemuka dan pada dasarnya adalah sebuah delta dipotong (sayap delta dengan tips dipotong untuk rel rudal atau pod ECM). Su-27 juga merupakan contoh dari konfigurasi sayap delta ekor, mempertahankan tailplanes horisontal konvensional, meskipun bukan delta benar. Ini memiliki dua tempel vertikal tailfins dari mesin, dilengkapi dengan dua sirip ventral lipat-down untuk stabilitas lateral tambahan. Su-27's Lyulka mesin turbofan AL-31F secara luas spasi, baik untuk alasan keamanan dan untuk menjamin aliran udara tidak terganggu melalui asupan tersebut. Ruang antara mesin juga menyediakan angkat tambahan, mengurangi beban sayap. Guide vanes Movable di intake memungkinkan Mach 2 + kecepatan, dan membantu menjaga aliran udara mesin pada alpha tinggi. Layar mesh lebih dari asupan setiap mencegah puing-puing dari yang ditarik ke dalam mesin waktu take-off. Su-27 memiliki Uni Soviet pertama operasional fly-by sistem kontrol-wire, dikembangkan berdasarkan pengalaman Sukhoi OKB dalam proyek T-4 bomber Sukhoi. Dikombinasikan dengan beban sayap yang relatif rendah dan kontrol penerbangan dasar yang kuat, itu membuat untuk pesawat sangat gesit, terkontrol bahkan pada kecepatan yang sangat rendah dan sudut serangan tinggi. Dalam airshows pesawat telah menunjukkan manuver dengan sebuah Cobra (Pugachev's Cobra) atau perlambatan dinamis - penerbangan singkat tingkat berkelanjutan pada sudut 120 ° dari serangan. Thrust vectoring juga telah diuji (dan didirikan pada nanti Su-30MK dan Su-37 model), yang memungkinkan tempur untuk melakukan bergantian keras dengan hampir tidak ada jari-jari, menggabungkan jungkir balik gerak vertikal ke tingkat dan terbatas hidung-up melayang. Versi laut dari 'Flanker,' menggabungkan Su-27K (atau Su-33), canards untuk angkat tambahan, mengurangi jarak lepas landas (penting karena kapal induk Laksamana Kuznetsov tidak memiliki ketapel). Canards ini juga telah dimasukkan dalam beberapa-, Su 30s Su-35, dan Su-37. Su-27 dipersenjatai dengan meriam tunggal 30 mm GSH Gryazev-Shipunov-30-1 di wingroot kanan, dan telah sampai 10 cantelan untuk peluru kendali dan senjata lainnya. Its persenjataan rudal standar untuk pertempuran udara ke udara adalah campuran Vympel R-73 (AA-11 Archer), Vympel R-27 ('Alamo' AA-10) senjata, yang terakhir termasuk rentang diperpanjang dan model dipandu IR. Lebih lanjut Flanker varian (seperti Su,-30 -35, -37) juga dapat membawa Vympel R-77 (AA-12 Adder) rudal. Su-27 memiliki kontras tinggi HUD tuneable dan Helmet mount kemampuan layar. Su-27 dilengkapi dengan radar N001 Phazotron Zhuk koheren pulsa-Doppler dengan lagu-sementara-scan dan melihat-down / shoot-down kemampuan. Pesawat tempur ini juga memiliki OLS-27 pencarian inframerah dan track (IRST) sistem di hidung hanya maju dari kokpit dengan kisaran, Km 80-100 yang juga menggabungkan pengintai laser. Sistem ini dapat bekerja keras untuk radar, atau digunakan secara independen untuk "sembunyi" serangan dengan rudal infra merah (seperti R-73 dan R-27T/ET). Hal ini juga mengendalikan meriam, memberikan akurasi yang lebih besar daripada penampakan mode radar. Radar terbukti menjadi masalah besar bagi perkembangan Su-27. Persyaratan Soviet asli sangat ambisius, menuntut kemampuan multi-target keterlibatan dan jangkauan 200 km melawan "pembom" (16 m² RCS untuk pertandingan Tu-16). Ini akan luas sebanding dengan Zaslon 1-ton bertahap radar array digunakan pada MiG-31. Su-27 telah melihat tindakan terbatas sejak pertama kali masuk layanan. Pesawat ini digunakan oleh Angkatan Udara Rusia selama perang 1992-1993 di Abkhazia melawan pasukan Georgia. Salah satu pejuang ditembak jatuh oleh S-75 Dvina pada tanggal 19 Maret 1993. Dalam Perang Ossetia Selatan 2008, Rusia digunakan Su-27s untuk mendapatkan kontrol wilayah udara atas Tskhinvali, ibukota Ossetia Selatan.
Sukhoi Su-27 (kode NATO: Flanker) adalah pesawat tempur yang awalnya diproduksi oleh Uni Soviet, dan dirancang oleh Biro Desain Sukhoi. Pesawat ini direncanakan untuk menjadi saingan utama generasi baru pesawat tempur Amerika Serikat (yaitu F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18 Hornet). Su-27 memiliki jarak jangkau yang jauh, persenjataan yang berat, dan kelincahan yang tinggi. Pesawat ini sering disebut sebagai hasil persaingan antara Sukhoi dengan Mikoyan-Gurevich, karena Sukhoi Su-27 dan MiG-29 berbentuk mirip. Ini adalah keliru, karena Su-27 dirancang sebagai pesawat interseptor dan pesawat tempur superioritas udara jarak jauh, sedangkan MiG-29 dirancang untuk mengisi peran pesawat tempur pendukung jarak dekat.

Sejarah Jet Tempur Sukhoi Su-27

Pada tahun 1969, Uni Soviet mendapatkan informasi bahwa Angkatan Udara Amerika Serikat telah memilih McDonnell Douglas untuk memproduksi rancangan pesawat tempur eksperimental (yang akan berevolusi menjadi F-15). Untuk menghadapi ancaman masa depan ini, Uni Soviet memulai program PFI (Perspektivnyi Frontovoy Istrebitel, "pesawat tempur taktis mutakhir") yang direncanakan menghasilkan pesawat yang bisa menyaingi hasil rancangan Amerika Serikat.

Sukhoi Su-27 Flanker (Gambar 2). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-27 Flanker (Gambar 2).
Namun, spesifikasi yang dibutuhkan untuk memenuhi syarat-syarat program ini pada satu pesawat saja ternyata terlalu rumit dan mahal. Maka program ini dibagi menjadi dua, yaitu TPFI (Tyazholyi Perspektivnyi Frontovoi Istrebitel, "pesawat tempur taktis mutakhir berat") and the LPFI (Legkiy Perspektivnyi Frontovoi Istrebitel, "pesawat tempur taktis mutakhir ringan"). Langkah ini juga mirip apa yang dilakukan Amerika Serikat, dimana Amerika Serikat memulai program "Lightweight Fighter" yang nantinya akan menghasilkan F-16. Sukhoi OKB diberikan program TPFI.

Rancangan Sukhoi pertama kali muncul sebagai pesawat sayap delta T-10, yang pertama terbang pada tanggal 20 Mei 1977. T-10 terlihat oleh pengamat Barat, dan diberikan kode NATO Flanker-A. Perkembangan T-10 menemui banyak masalah, yang berakibat pada kehancuran ketika salah satu pesawat ini jatuh pada tanggal 7 Mei 1978. Kejadian ini kemudian ditindaklanjuti dengan banyak modifikasi perancangan, yang menghasilkan T-10S, yang terbang pertama kali pada 20 April 1981. Pesawat ini juga menemui kesulitan, dan jatuh pada tanggal 23 Desember 1981.

Sukhoi Su-27 Flanker (Gambar 3). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-27 Flanker (Gambar 3).
Versi produksi pesawat ini (Su-27 atau Su-27S, dengan kode NATO Flanker-B) mulai dipakai Angkatan Udara Soviet pada tahun 1984, tetapi baru dipakai menyeluruh tahun 1986, karena sempat terhambat oleh masalah produksi. Pesawat ini dipakai oleh Pertahanan Anti Udara Soviet (Voyska PVO) dan Angkatan Udara Soviet (VVS). Pemakaiannya di V-PVO adalah sebagai interseptor, menggantikan Sukhoi Su-15 and Tupolev Tu-28. Dan pemakaiannya di VVS lebih difokuskan kepada interdiksi udara, dengan tugas menyerang pesawat bahan bakar dan AWACS, yang dianggap sebagai aset penting angkatan udara NATO.

Desain Jet Tempur Sukhoi Su-27

Desain aerodinamisasi dasar dari Sukhoi Su-27 mirip dengan MiG-29 hanya lebih besar. Pesawat ini sangat besar sehingga untuk meringankan beratnya material titanium banyak digunakan (sekitar 30%). tidak ada material komposit yang digunakan. Sayap yang sayung kebelakang menyatu dengan badan pesawat pada perpanjangan leading edge dan pada dasarnya sayap berbentuk delta, hanya bagian ujung luar saja yang dipotong untuk tempat rel rudal diujung sayap. Su-27 bukanlah sebuah pesawat delta murni karena masih mempertahankan bentuk ekor konvensional, dengan menggunakan 2 sirip ekor vertikal di sisi luar kedua mesinnya, dan dibantu dengan 2 ekor tengah melipat kebawah untuk membantu stabilitas lateral.

Mesin turbofan Lyulka AL-31F disediakan tempat yang sangat lebar, tempat yang lebar ini disediakan untuk alasan keamanan dan untuk menjamin aliran udara yang tidak terputus pada bukaan udara masuk. Ruangan yang tercipta di antara dua buah mesin juga menyediakan daya angkat tambahan sehingga mengurangi beban sayap. Saluran penuntun yang bisa digerakan pada bukaan udara masuk memungkinkan pesawat mencapai kecepatan Mach 2+ , dan membantu menjaga aliran udara mesin pada saat sudut alpha tinggi.Sebuah layar penyaring ditempatkan pada bukaan udara masuk untuk melindungi mesin dari kotoran saat lepas landas.

Sukhoi Su-27 Flanker (Gambar 4). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-27 Flanker (Gambar 4).
Jet tempur Sukhoi Su-27 adalah pesawat operasional pertama Uni Soviet yang menggunakan sistem kontrol penerbangan fly by wire, dikembangkan berdasarkan pengalaman Sukhoi OKB pada proyek Pengebom Sukhoi T-4. Sistem ini dikombinasi dengan beban sayap yang relatif rendah dan kontrol penerbangan dasar yang kuat , maka menghasilkan pesawat yang luar biasa lincah, tetapi mudah dikontrol walaupun pada kecepatan sangat rendah dan susut serang tinggi. Pada pameran dirgantara , pesawat ini mampu mendemonstrasikan kemampuan manuvernya dengan aksi "patukan kobra" (kobra Pugachev) atau pengereman dinamis - mempertahankan level penerbangan pada sudut serang 120°. Pengarah semburan jet juga sudah di uji coba dan sudah diterapkan pada model-model akhir yaitu Su-30MKI dan Su-37, memungkinkan pesawat untuk berbalik tajam dengan radius putar hampir nol, menggunakan teknik somersault vertikal ke gerakan pelurusan kembali dan mengambang terbatas dengan hidung pesawat menghadap keatas.

Versi laut dari Flanker (lebih dikenal dengan nama Su-33), menggunakan kanard untuk daya angkat tambahan, mengurangi jarak lepas landas (sangat penting untuk pesawat yang beroperasi dari kapal induk tanpa sistem ketapel , Admiral Kuznetsov ). Kanard ini juga digunakan pada beberapa Su-30, Su-35, dan Su-37.

Sukhoi Su-27 Flanker (Gambar 5). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-27 Flanker (Gambar 5).
Sebagai tambahan pada kelincahannya , Sukhoi Su-27 menggunakan volume internalnya yang besar untuk menyimpan bahan bakar dalam jumlah besar pula. Pada konfigurasi berlebih untuk jarak tempuh maksimum, pesawat ini mampu membawa 9.400 kg bahan bakar internal, bagaimanapun juga dengan beban seperti itu kemampuan manuvernya menjadi terbatas, dan beban normal adalah 5.270 kg.

Pesawat tempur Sukhoi Su-27 dipersenjatai dengan sebuah kanon Gryazev-Shipunov GSh-30-1 kaliber 30 mm di pangkal sayapnya, dan mempunyai 10 cantelan senjata untuk tempat rudal dan senjata lainya. Standar persenjataan rudal untuk pertempuran udara ke udara adalah campuran dari rudal Vympel R-73 (AA-11 Archer) dan rudal Vympel R-27 (AA-10 'Alamo') , Senjata terakhir mempunyai versi jarak tempuh yang diperjauh dan model kendali infra merah. Varian Flanker yang lebih canggih seperti Su-30, Su-35, dan Su-37 juga bisa membawa rudal Vympel R-77 (AA-12 Adder).

Sukhoi Su-27 mempunyai sebuah display kepala tegak berkontras tinggi yang bisa disetel dan incaran yang dipasang di helm, dimana, bila dipasangkan dengan rudal R-73 dan kelincahan pesawat yang sangat tinggi membuat pesawat ini menjadi salah satu pesawat terbaik untuk pertempuran udara jarak dekat.

Radar Sukhoi Su-27 terbukti menjadi masalah besar dalam pengembangan Su-27. Permintaan awal dari Uni soviet adalah sangat ambisius , mengharapkan kemapuan untuk menyergap multi target dan jarak pantau 200km terhadap pesawat seukuran pengebom (RCS 16 meter persegi untuk sebuah Tu-16). Hal ini akan melampaui kemampuan deteksi radar APG-63 dari F-15 (sekitar 180km untuk target ber-RCS 100 meter persegi) dan kemampuan radar Su-27 ini kira-kira setara dengan Zaslon phased array radar seberat 1 ton yang digunakan di pesawat MiG-31.

Sejarah tempur Sukhoi Su-27

Walaupun Sukhoi Su-27 dianggap memiliki kelincahan yang mengagumkan, pesawat ini belum banyak dipakai pada petempuran yang sebenarnya. Pemakaian pesawat ini yang patut disebut adalah pada Perang Ethiopia-Eritrea, dimana pesawat-pesawat Sukhoi Su-27A Ethiopia dipakai untuk melindungi pesawat pengebom MiG-21 dan MiG-23. Pada perang itu, pesawat-pesawat Su-27 tersebut berhasil menghancurkan empat MiG-29 Eritrea. Salah satu pilot yang berhasil menembak jatuh lawan adalah Aster Tolossa, yang menjadi wanita Afrika pertama yang memenangi sebuah pertempuran udara.

Pengguna Jet Tempur Sukhoi Su-27

Sekitar 680 unit Sukhoi Su-27 diproduksi oleh Uni Soviet, dan 400 dipakai oleh Rusia. Negara mantan Soviet yang memiliki pesawat ini adalah Ukraina dengan 60 pesawat, Belarusia dengan sekitar 25 pesawat, Kazakstan dengan sekitar 30 dan sudah memesan 12 pesawat lagi, dan Uzbekistan dengan 25 buah.

Tiongkok menerima 26 pesawat pada tahun 1991, dan 22 lagi pada 1995. Kemudian pada tahun 1998 mereka menandatangani kontrak untuk lisensi produksi 200 pesawat ini dengan nama Shenyang J-11. Vietnam memiliki 12 Su-27SK dan telah memesan 24 lagi. Ethiopia memiliki 8 Su-27A dan 2 Su-27U. Indonesia mempunyai 2 Su-27SK and 2 Su-30MK serta telah memesan 3 SU-27SKM dan 3 SU-30MK2. Dan Angola telah menerima sekitar 8 Su-27/27UB. Meksiko berencana untuk membeli 8 Su-27s dan 2 pesawat latih Su-27UB.

Amerika Serikat juga disinyalir memiliki satu Su-27 Flanker B dan satu Su-27 UB. Tiga pesawat ini masuk sebagai registrasi sipil, dan salah satunya tiba di Amerika Serikat menggunakan pesawat Antonov-62.

Indonesia (TNI-AU) mulai menggunakan keluarga Sukhoi Su-27 pada tahun 2003 setelah batalnya kontrak pembelian 12 unit Su-30KI pada 1996. Kontrak tahun 2003 mencakup pembelian 2 unit Sukhoi-27SK dan 2 unit Sukhoi-30MK senilai 192 juta dolar AS tanpa paket senjata. Empat tahun kemudian pada acara MAKS 2007 di Moskow Departemen Pertahanan mengumumkan kontrak untuk pembelian 3 unit Sukhoi-27SKM dan 3 unit Sukhoi-30MK2 senilai 350 juta dolar AS.

Spesifikasi Jet Tempur Sukhoi Su-27

Karakteristik umum :
  • Kru: Satu
  • Panjang: 21,9 m
  • Lebar sayap: 14,7 m
  • Tinggi: 5,93 m
  • Luas sayap: 62 m²
  • Bobot kosong: 16.380 kg
  • Bobot terisi: 23.000 kg
  • Bobot maksimum lepas landas: 33.000 kg
  • Mesin: 2 unit Lyulka AL-31F turbofan, masing-masing berdaya dorong 122,8 kN
Kinerja :
  • Laju maksimum: 2.500 km/jam (1.550 mph Mach 2.35)
  • Jarak jangkau: 1.340 km pada ketinggian air laut, 3.530 km pada ketinggian maksimum
  • Batas tertinggi servis: 18.500 m
  • Laju panjat: 325 m/s
  • Beban sayap: 371 kg/m²
  • Dorongan/berat: 1,085
Persenjataan :
  • 1 unit meriam GSh-30-1 kaliber 30 mm, 150 butir peluru
  • 8.000 kg (17.600 lb) pada 10 titik eksternal
  • 6 R-27, 4 R-73
  • Su-27SM dapat menggunakan R-77 menggantikan R-27
  • Su-27IB dapat menggunakan peluru kendali anti-radiasi X-31, peluru kendali udara ke darat X-29L/T, serta bom KAB-150 dan UAB-500
  • AA-11 Archer / R-73
  • AA-10A/B/C/D/E Alamo-A/B/C/D/E / R-27R/T/RE/TE/AE
  • AS-16 Kickback SRAM/ Kh-15/C
  • KAB-500Kr
  • KAB-1500Kr
  • KAB-1500L / 1500F / 1500L-PR
  • KAB-500R
  • KAB-500KRU
  • ODAB-500
  • OEPS-27 Optronic sighting system for SU-27SK
  • AS-11 Kilter / Kh-58E
  • ZHUK FAMILY AIRBORNE RADARS
wikipedia.org

Video Jet Tempur Sukhoi Su-27 Flanker :
Video manuver terbang pesawat jet tempur Sukhoi Su-27 Flanker.