Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Leopard. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leopard. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juni 2014

PT Pindad Akan Produksi Amunisi Meriam MBT Leopard

Amunisi untuk meriam kaliber 120 mm yang menjadi senjata utama MBT Leopard 2A4 akan diproduksi oleh PT Pindad. Rencana produksi amunisi meriam MBT Leopard 2A4 oleh PT Pindad merupakan langkah penting bagi Indonesia untuk kemandirian memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) di dalam negeri.

MBT Leopard 2A4 TNI-AD. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
MBT Leopard 2A4 TNI-AD.
PT Pindad Siap Produksi Amunisi Tank 2A4 Leopard.

Satu lompatan dilakukan PT Pindad, setelah Direktur Utama PT Pindad, Sudirman Said, menyatakan kesanggupan perusahaan itu membuat dan membangun amunisi tank utama Leopard 2A4. "Dari hasil Latihan Gabungan TNI 2014, banyak yang harus kami jawab, salah satunya melengkapi amunisi bagi beberapa perenjataan terkini TNI, termasuk peluru meriam 120mm smoothbore untuk tank Leopard," kata Said, di Bandung, Jumat.

Menurut dia, untuk peluru meriam 120mm smoothbore Leopard, ditargetkan pengembanganya sudah bisa dilakukan mulai akhir 2015. "Sehingga kita bisa memenuhi kebutuhan kesenjataan tank itu," katanya.

Leopard memakai dua varian meriam utama, yaitu Rheinmetall 120 mm L44 atau L55 smoothbore alias tanpa ulir sepanjang 5,28 meter dan berbobot 3,37 ton. Laras meriam tanpa ulir merupakan "jawaban" pada dasawarsa '70-an atas kejayaan seri tank T-72/80 dari Uni Soviet yang bisa membantai secara mudah tank-tank Barat. Laras meriam tanpa ulir juga memiliki energi kinetik lebih besar ketimbang yang berulir sehingga meninggikan efek mematikan amunisi yang dilontarkan.

Selain amunisi konvensional, meriam ini bisa menerima berbagai tipe amunisi, sebutlah Armour Piercing Discarding Sabot DM23, ataupun Armour Piercing Fin Stabilized Discarding Sabot M829 dengan kepala ledak berisikan uranium. Masih ada amunisi Multi Purpose Anti Tank Projectile yang berbasis teknologi High Explosive Anti Tank, buatan Jerman, berdesignasi NATO sebagai DM12.

analisadaily.com

26 MBT Leopard Dan 26 IFV Marder Pesanan TNI AD Segera Tiba Di Indonesia

26 unit MBT Leopard dan 26 unit tank IFV Marder buatan Rheinmettal AG, Jerman pesanan TNI AD dijadwalkan akan segera tiba di Indonesia. Berkaitan dengan kedatangan MBT Leopard dan IFV Marder ini, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah memberangkatkan tim High Level Committee (HLC) yang dipimpin Wakil Menteri Pertahanan, Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin. Ikut serta dalam rombongan tersebut adalah mantan Kasad Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo.

MBT Leopard TNI-AD. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
MBT Leopard TNI-AD.
52 Tank Leopard dan IFV Marder pesanan TNI AD segera dikirim ke RI.

Alutsista TNI Angkatan Darat (AD) akan segera bertambah. Sebab, 52 Tank Leopard dari 164 yang telah dipesan TNI AD melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) 2013 lalu akan segera tiba di Tanah Air.

Upacara pengiriman pertama 52 Tank Leopard itu akan diselenggarakan di Unterluss, Jerman. Acara itu akan dihadiri Rombongan High Level Committee (HLC) dipimpin oleh Wamenhan, Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin. Selain itu, mantan Kasad Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo juga akan hadir dalam upacara itu. Ipar SBY itu sudah terbang menuju Hamburg, Jerman, pada Minggu (22/6/2014) pagi.

Pramono mengatakan pembelian tank tersebut diinisiasi saat dirinya menjabat sebagai Kasad. Pembelian tank tersebut adalah bagian dari modernisasi alutsista TNI AD. "Alutsista Indonesia termasuk yang paling terbelakang bahkan di antara beberapa tetangga negara ASEAN. Selama ini Indonesia hanya mengandalkan pada tank tempur ringan seperti Scorpion, dan AMX-13. Ketiga jenis tank ringan ini terbilang sudah uzur," kata Edhie dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, Minggu (22/6/2014).

Menurutnya, pembelian 164 unit tank Leopard itu merupakan bagian penting dari penyegaran alutsista yang terahir dilakukan 30 tahun lalu. Penyegaran ini diperlukan Indonesia dalam menjamin kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sesuai dengan perjanjian jual beli yang dilakukan pada tahun 2013 lalu, Kemenhan telah memesan 164 tank Leopard jenis main battle tank dan medium tank IFV Marder. Tank Leopard ini dibeli lengkap beserta amunisi, peluru latihan dan suku cadang oleh Kemhan dari perusahaan Jerman, Rheinmettal AG, atas persetujuan Pemerintah Jerman. "Rencananya 26 MBT dan 26 marder ini bisa tiba di Indonesia dalam waktu dekat dan bisa diperagakan pada upacara perayaan HUT TNI 5 Oktober mendatang," ujar Komandan Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri (Danpusenkav) Brigjen TNI Mulyanto.

www.merdeka.com

Selasa, 01 April 2014

TNI AD Siapkan 5 Lokasi Untuk Kandang 103 MBT Leopard

103 unit MBT Leopard buatan Jerman yang merupakan pesanan pemerintah Indonesia telah disediakan beberapa lokasi untuk penempatannya oleh pihak TNI AD. 5 lokasi yang akan menjadi kandang bagi tank-tank kelas berat Leopard tersebut adalah Batalyon Kavaleri 1 Kostrad (Cijantung), Batalyon Kavaleri 8 Kostrad (Pasuruan), Pusat Pendidikan Kavaleri (Padalarang), Kompi Kavaleri CAMB (Sentul) dan Kompi Kavaleri Pusat Latihan Pertempuran (Baturaja).

MBT Leopard TNI AD. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
MBT Leopard TNI AD.
TNI AD Klaim MBT Aman.

Mabes TNI AD berupaya meyakinkan publik jika rencana mengimpor Main Battle Tank (MBT) Leopard sudah tepat dan sesuai dengan kebutuhan militer. Hal itu disampaikan pihak TNI AD menyusul kritikan dari mantan Presiden BJ Habibie atas rencana memasukkan puluhan MBT ke Indonesia.

Kadispenad Brigjen Andika Perkasa menjelaskan, pihaknya telah merencanakan penempatan 103 MBT Leopard di lima lokasi. Yakni:

1. Batalyon Kavaleri 1 Kostrad, Cijantung (total 41 unit)
  • 13 unit Leopard 2A4.
  • 28 unit Leopard 2 RI.
2. Batalyon Kavaleri 8 Kostrad, Pasuruan (total 41 unit)
  • 28 unit Leopard 2A4.
  • 13 unit Leopard 2 RI.
3. Pusat Pendidikan Kavaleri, Padalarang (total 4 unit)
  • 3 unit Leopard 2 RI.
  • 1 unit Leopard 2A4.
4. Kompi Kavaleri CAMB, Sentul (total 13 unit)
  • 13 unit Leopard 2 RI.
5. Kompi Kavaleri Pusat Latihan Pertempuran, Baturaja (total 4 unit)
  • 4 unit Leopard 2 RI.
Menurut Andika, kebijakan mendatangkan tank leopard sudah diperhitungkan betul dengan kondisi di Indonesia, termasuk jalannya. Meskipun berat tank Leopard mencapai 62 ton, namun tekanan pada tanah hanya berkisar 0,8 kg/cm2 atau 8,9 ton permeter persegi. Tekanannya relatif sama dengan tank AMX-13 (bobot 14,5 ton) dan Scorpion (bobot 8 ton). "Artinya, tank tersebut sangat memenuhi syarat untuk menggunakan jalan kelas 1 dan 2," ujarnya kemarin.

Sebab, jalan kelas 2 saja masih boleh dilewati kendaraan dengan tekanan maksimal 10 ton. Tekanan yang ditimbulkan tank leopard diperkirakan sama seperti truk kontainer pada umumnya. Untuk jembatan, Andika meyakinkan jika tank tersebut tidak akan membuat jembatan runtuh. Perhitungan TNI AD, beban tank leopard di jembatan mencapai 2,38 kN (kilonewton) permeter persegi atau 238 kilogram permeter persegi. Lebih kecil dari beban maksimal yang mampu ditahan jembatan kelas A, yakni 4,46 kN/m2.

Andika mengatakan, tank leopard tidak hanya digunakan oleh negara gurun. Dari 20 negara pengguna leopard di dunia, hanya tiga negara yang memiliki gurun. Yakni, Australia, Cile, dan Lebanon. "Tank leopard mampu bermanuver off road di permukaan berlumpur maupun sungai dengan kedalaman di bawah empat meter," tambahnya.

Sebelumnya, mantan Presiden BJ Habibie mengkritik rencana Menhan mengimpor leopard dalam jumlah besar. Habibie menilai Indonesia adalah negara maritime sehingga tidak memerlukan leopard. Habibie juga khawatir dengan dampak yang ditimbulkan jika tank tersebut melewati jalan dan jembatan.

www.jpnn.com, nasional.kompas.com