Berita Hankam, Pertahanan, Alutsista, Persenjataan, Militer, TNI, Pesawat Tempur, Kapal Perang, Kotabumi, Lampung Utara, soldiers, defense, military, weapons, combat, attack, assault, security, forces
Prokimal Kotabumi Lampung Utara




Bagikan :

Selasa, 20 Januari 2015

: Posted on Selasa, 20 Januari 2015 - 08.55 with No comments

Pihak Rusia berharap pengadaan armada jet tempur Sukhoi Su-35 Flanker E untuk kebutuhan TNI AU bisa direalisasikan oleh pemerintah Indonesia. Hal itu disampaikan oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin. Sebelumnya Kementerian Pertahanan Republik Indonesia sudah pernah menyampaikan minatnya untuk membeli jet tempur Sukhoi Su-35 Flanker E buatan Rusia tersebut guna menggantikan armada pesawat F-5E/F Tiger II yang sudah uzur dan akan dipensiunkan.

Sukhoi Su-35 Flanker E. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-35 Flanker E.
Rusia Harap Sukhoi Su-35 Lengkapi Armada Pesawat Tempur Indonesia.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin mengatakan, Rusia berharap Indonesia menyetujui pembelian pesawat tempur jenis Sukhoi Su-35 untuk memperkuat pertahanan udara dalam negeri. "Kami berharap kesepakatan pembelian Su-35 bisa terjadi. Kerja sama militer antara kedua negara sudah berlangsung sejak lama dan kami ingin bisa terus berlanjut," ujar Galuzin di kediaman Duta Besar Rusia, Jakarta, Senin (19/1/2015).

Dia menambahkan, Rusia selalu siap jika memang nantinya Indonesia sepakat untuk membeli Su-35 demi menambah unit pesawat tempurnya. Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko tertarik mendatangkan pesawat tempur Sukhoi Su-35 untuk peremajaan armada tempur. Selain Sukhoi, Moeldoko juga mempertimbangkan JAS-39 Gripen (dari Swedia) dan F-16 Block 52+ Fighting Falcon (dari Amerika Serikat).

Kebutuhan akan pesawat-pesawat ini disebabkan pesawat F-5E/F Tiger II yang sekarang tergabung di Skuadron Udara 14 harus "pensiun" karena usia. Moeldoko sendiri mengatakan bahwa selain faktor teknis, faktor politik juga menentukan dalam memutuskan pembelian pesawat tempur tersebut.

Su-35 sendiri merupakan pesawat tempur generasi 4,5 buatan Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association. Jika pembelian jadi dilakukan, Su-35 akan melengkapi jajaran Sukhoi yang sudah dimiliki TNI sebelumnya. Jenis Sukhoi yang sudah dioperasikan oleh TNI AU adalah Su-27 dan Su-30. Su-27 masuk dalam Skuadron Udara 11 yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama Hasanuddin, Makassar.

Sementara itu, menurut Galuzin, Pemerintah Rusia menganggap Indonesia adalah negara penting untuk kerja sama pengembangan ekonomi dan militer. "Rusia melihat masih banyak bentuk kerja sama yang bisa dilakukan dengan Indonesia, seperti di bidang konstruksi, militer. Bahkan, jika Indonesia berkenan, kami juga siap membantu pengembangan energi nuklir untuk tujuan damai," ujar Galuzin.

Pada 2015, Indonesia dan Rusia akan melanjutkan proses kerja sama beberapa proyek, seperti proyek rel kereta api sepanjang 203 kilometer di Kalimantan Timur dan proyek pembangunan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalimantan Barat.

nasional.kompas.com

Kamis, 15 Januari 2015

: Posted on Kamis, 15 Januari 2015 - 08.04 with No comments

KRI Bung Tomo (357) adalah salah satu kapal perang jenis korvet yang dimiliki dan dioperasikan oleh TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut). KRI Bung Tomo (357) yang dibangun di Inggris ini oleh pabrikannya disebut sebagai kapal perang jenis MRLF (Multi Role Light Fregate). Dengan panjang 95 meter, lebar 12,7 meter, dan berat 2.300 ton, kapal ini mampu melaju hingga kecepatan maksimum 30 knot.

KRI Bung Tomo (357) (Gambar 1). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Bung Tomo (357) (Gambar 1).
Sebelum dibeli oleh Indonesia, KRI Bung Tomo (357) telah terlebih dulu dipesan oleh Angkatan Laut Kesultanan Brunei Darussalam. Brunei memesan 3 unit kapal perang jenis ini dari pabrikannya, BAE Systems di Inggris. Sebelum diberi nama Bung Tomo oleh pemerintah Indonesia, kapal ini bernama KDB Jerambak (30). Negara tetangga ini sudah memesan 3 kapal tersebut sejak tahun 1995 dan pembuatannya diselesaikan pada tahun 2001 dan 2002. Namun dengan alasan kurang personil untuk mengoperasikan kapal-kapal perang ini, pemerintah Brunei membatalkan kontrak pembeliannya.

Pada waktu berikutnya, Kesultanan Brunei Darussalam menghubungi perusahaan German L├╝rssen untuk mendapatkan pembeli baru 3 kapal perang MLRF (Multi Role Light Fregate) yang sudah terlanjur dipesan itu. Setelah lima tahun, akhirnya pemerintah Indonesia tertarik untuk membelinya pada tahun 2013. Oleh TNI AL 3 kapal perang ini diberi nama KRI Bung Tomo (357), KRI John Lie (358) dan KRI Usman-Harun (359). Dalam armada kapal perang TNI AL, 3 kapal ini digolongkan sebagai kapal perang korvet kelas Bung Tomo.

Penamaan Bung Tomo diambil dari nama seorang pahlawan nasional Indonesia, Bung Tomo, yang karena peran dan pidatonya mampu membangkitkan semangat para pejuang Indonesia sehingga berkobarnya pertempuran besar pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya. Pemberian nama tersebut secara resmi dilakukan pada tanggal 4 Desember 2014 bersamaan dengan pemberian nama kepada kapal perang sejenis, KRI Usman-Harun (359).

KRI Bung Tomo (357) (Gambar 2). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Bung Tomo (357) (Gambar 2).
KRI Bung Tomo (357) dirancang sebagai kapal patroli lepas pantai. Kapal ini bermarkas di Pangkalan Armada Timur, Tanjung Perak, Surabaya. Kapal perang ini memiliki dimensi panjang 89 meter, lebar 12,8 meter, dan berat berat 1.941 ton. Dengan didukung 4 unit mesin diesel 4 x MAN B&W / Ruston, kapal ini mampu melaju hingga kecepatan 30 knot (55,56 km/jam) dengan jangkauan pelayaran hingga 9.000 km pada kecepatan jelajah.

Saat tulisan ini diterbitkan, KRI Bung Tomo (357) dikomandani Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan, S.T,. Kapal ini memiliki jumlah ABK 85 prajurit, dengan rincian perwira 17 orang, bintara 40 orang dan tamtama 28 orang.

Setelah bergabung dalam armada kapal perang TNI AL, tugas yang pertama kali dilaksanakan oleh KRI Bung Tomo (357) adalah misi pencarian badan pesawat dan jenazah para penumpang dan awak pesawat maskapai AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 rute Surabaya-Singapura. Pesawat ini dinyatakan hilang pada Minggu, 28 Desember 2014. Selanjutnya tugas KRI Bung Tomo (357) digantikan oleh KRI Usman-Harun (359).

Spesifikasi KRI Bung Tomo (357) :
  • Jenis : F2000 Korvet
  • Displacement : 1.940 ton
  • Panjang : 89,9 m LWL, 95 m LOA
  • Lebar : 12,8 m
  • Daya muat : 3,6 m
  • Pendorong : 4 unit MAN B&W / Ruston diesel engine (total 30.2 MW), 2 unit shafts
  • Kecepatan : 30 knot (56 km/jam)
  • Jangkauan : 5.000 mil laut (9.000 km) pada kecepatan 12 knot (22 km/jam)
Persenjataan KRI Bung Tomo (357) :
  • 1 unit Oto Melara 76mm gun.
  • 2 unit MSI Defence DS 30B REMSIG 30mm guns
  • 16 unit VLS untuk meluncurkan MBDA (BAE Systems) MICA surface-to-air missile.
  • 2 unit 4 Quad untuk meluncurkan 8 misil MBDA (Aerospatiale) Exocet MM40 Block II.
  • 2 unit triple BAE Systems 324mm torpedo tubes untuk menghancurkan sasaran diatas maupun dibawah air.
Sensor dan Elektronis KRI Bung Tomo (357) :
  • Ultra Electronics/Radamec Series 2500 electro-optic weapons director.
  • Thales Underwater Systems TMS 4130C1 hull-mounted sonar.
  • BAE Systems Insyte AWS-9 3D E- and F-band air and surface radar.
  • BAE Insyte 1802SW I/J-band radar trackers.
  • Kelvin Hughes Type 1007 navigation radar.
  • Thales Nederland Scout radar.
  • Thales Sensors Cutlass 242 countermeasures.
wikipedia.org, nasional.kompas.com

Rabu, 07 Januari 2015

: Posted on Rabu, 07 Januari 2015 - 05.49 with No comments

Hellweek adalah adalah istilah untuk menyebutkan proses awal dari latihan keras yang menguras tenaga dan emosi bagi para calon anggota Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL. Hellweek diakui sebagai proses latihan yang dahsyat. Dalam artikel ini disajikan rangkaian proses latihan tersebut. Seperti namanya, benar-benar seperti dalam neraka.

Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL.
Mengintip latihan hellweek Kopaska TNI AL yang bikin merinding.

Kopaska merupakan satuan pasukan elite di tubuh Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Laut (TNI AL). Sudah sejak era Trikora tahun 1963 Kopaska kerap diterjunkan dalam misi setengah mustahil. Tapi itulah pasukan khusus. Personelnya dipilih dari orang-orang terbaik. Selain berotot kawat dan bertulang besi, mereka juga wajib datang dari Korps Pelaut. Syarat wajib lain harus sudah pernah bertugas di kapal TNI AL selama dua tahun atau lebih.

Mengapa harus pelaut?

Pertama, anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska) harus mengetahui konsep perang laut secara menyeluruh. Ketika hendak melakukan misi sabotase atau pembebasan sandera, mereka sudah harus tahu bagian-bagian kapal. Bila bukan pelaut, mereka akan kesulitan mengenal bagian-bagian dalam kapal. Kedua, jika sudah berpengalaman dalam KRI, insting mereka akan langsung bermain di mana kamar mesin, ruang amunisi, tanki bahan bakar dan sebagainya. Hal ini jelas akan berpengaruh dalam kesuksesan misi.

Latihan pertama yang harus dijalani oleh calon personel Paska adalah hellweek. Latihan yang benar-benar menguras emosi, tenaga dan keringat sampai ke tetes terakhir. "Sesuai namanya, seperti neraka! Cukup sekali seumur hidup," kata seorang mantan anggota Paska di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Dalam buku Kopaska, Spesialis Pertempuran Laut Khusus yang diterbitkan dalam rangka 50 tahun Kopaska, dikupas soal hellweek ini. Setiap calon Paska tak pernah diberi tahu kapan rangkaian hellweek akan dimulai. Bisa saja tiba-tiba saat mereka belajar di kelas, atau saat tidur terlelap.

Hari pertama minggu neraka ini dibuka dengan ritual melahap nasi komando bersama-sama. Nasi komando adalah hasil blenderan nasi, lauk pauk, telur mentah, minyak ikan dan terasi. Makanan ditaruh dalam satu tempat dan dimakan secara bergiliran. Jika salah satu muntah di tempat itu, maka yang berikutnya tetap harus memakan nasi komando itu sampai tandas. Sebagai pelepas dahaga, minuman yang diberikan adalah jamu brotowali. Jamu ini memang menyehatkan, tapi mungkin merupakan minuman paling pahit di dunia.

Setiap hari porsi tekanan terus ditambah hingga benar-benar memaksa seseorang untuk bertahan di titik maksimal.

Uniknya selama pendidikan, nama mereka diganti dengan nama hewan laut. Maka nama-nama tongkol, udang, paus, kakap wajib digunakan. Nah, kadang hingga pendidikan selesai, nama ini masih melekat di antara sesama mereka.

Jika tak kuat pendidikan, silakan berhenti. Tak ada paksaan sama sekali untuk mengikuti latihan Paska ini. Siswa yang gugur atau mengundurkan diri diminta meletakkan topi bajanya di pinggir lapangan. Dari situ kelihatan berapa orang yang telah mengundurkan diri dalam satu angkatan.

Bagaimana dengan yang lulus hellweek? Apakah sudah berakhir semua deraan dan siksaan?

Belum bro! Masih panjang sekali perjalanan sang calon pasukan katak ini. Begitu lulus mereka wajib mengikuti sekolah penembak. Calon Paska dikenalkan berbagai macam senjata, mulai dari pistol, senapan serbu, hingga senapan sniper. Mereka juga diajari berbagai macam teknik tembak reaksi, antiteror dan akurasi. Selanjutnya siswa menempuh latihan komando gunung hutan dan longmarch di Karang Tekok. Disambung lintas medan ke Ijen, Situbondo, Bromo hingga Surabaya.

Lolos komando, giliran latihan terjun harus dijalani. Mulai terjun statis, HALO, HAHO wajib diikuti para siswa Paska. Setelah itu mereka digembleng aneka praktik demolisi dan pertempuran bawah laut khusus. Latihan dilanjutkan dengan praktik intelijen di Banyuwangi dan Malang.

Total rangkaian seluruh pendidikan ini makan waktu 10 hingga 12 bulan. Setelah lulus barulah mereka berhak mengenakan brevet Pasukan Katak dan baret merah.

Tan Hana Wighna Tan Sirna, tak ada rintangan yang tak bisa diatasi!

www.merdeka.com

Sabtu, 27 Desember 2014

: Posted on Sabtu, 27 Desember 2014 - 07.56 with No comments

Tuo Chiang adalah kapal perang jenis korvet terbaru buatan negara Taiwan yang telah resmi diluncurkan pada Selasa, 23 Desember 2014 lalu. Kapal perang korvet Tuo Chiang dipersenjatai 16 unit rudal, 8 unit diantaranya adalah jenis rudal supersonik anti-kapal Hsiung-feng III.

Kapal Perang Korvet Tuo Chiang. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Kapal Perang Korvet Tuo Chiang.
Taiwan pada Selasa (23/12/2014) meluncurkan kapal perang jenis korvet bersenjata rudal terbesar yang pernah dibuat negara pulau ini sebagai usaha untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya dalam menanggapi ancaman dari China. Kapal perang berbobot 500 ton itu diberi nama 'Tuo Chiang' adalah prototipe pertama dari jenis kapal ini dan dipuji oleh Menteri Pertahanan Yen Ming sebagai "tercepat dan paling kuat" di Asia.

Berbekal 16 rudal termasuk delapan rudal supersonik anti-kapal Hsiung-feng III, kapal korvet ini akan meningkatkan kemampuan pertahanan Taiwan terhadap China yang hingga saat ini masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah China.

"Mulai sekarang, kemampuan tempur angkatan laut akan mencapai tonggak penting. Penyelesaian generasi baru kapal perang angkatan laut ini diperkirakan akan menjamin keamanan di Selat Taiwan dan melindungi jalur pelayaran," Yen mengatakan pada upacara peluncuran yang diadakan di pelabuhan Suao, di timur laut Yilan.

Laksamana Madya Wen Chen-kuo mengatakan kepada AFP bahwa "rudal supersonik sangat sulit untuk dicegat". Kapal perang dengan desain lunas ganda ini menggunakan teknologi stealth untuk mengurangi pantulan gelombang radar, sehingga sulit untuk dideteksi. Kapal ini memiliki kecepatan maksimum hingga 38 knot dan jangkaian berlayar hingga 2.000 mil laut (3.704 kilometer).

Pada hari Selasa (23/12/2014) lalu, kapal perang korvet Tuo Chiang ini berlayar selama beberapa waktu untuk menunjukkan kemampuannya kepada wartawan sebelum kembali ke pelabuhan lagi. Kapal korvet ini dijadwalkan akan dikerahkan di perairan Taiwan setelah pemeriksaan lebih lanjut dan merupakan prototipe pertama dari 11 unit kapal dari kelas ini yang akan dibangun oleh Taiwan.

Peluncuran kapal perang ini dilaksanakan setelah Kongres AS meloloskan RUU minggu lalu yang memberikan otorisasi Presiden Barack Obama untuk mentransfer teknologi empat kapal frigat berpeluru kendali Perry-class ke Taipei. China mengecam kesepakatan itu dam mengatakan bahwa protes diplomatik telah diajukan kepada Amerika Serikat. "Kami dengan tegas menentang penjualan senjata ke Taiwan oleh AS," kata juru bicara kementerian luar negeri China Qin Gang.

www.defencetalk.com

Jumat, 26 Desember 2014

: Posted on Jumat, 26 Desember 2014 - 07.13 with No comments

Pesawat jet amfibi BE 200 atau yang punya nama lengkap Beriev Be-200 Altair telah diusulkan untuk dibeli guna ditugaskan memberantas praktik illegal fishing di perairan Indonesia. Beriev Be-200 Altair adalah pesawat bermesin jet yang mampu lepas landas dan mendarat di atas permukaan perairan seperti di laut dan danau. Pesawat ini dibuat oleh negara Rusia.

Beriev Be-200 Altair. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Beriev Be-200 Altair.
TNI Akan Beli Pesawat Jet Amfibi untuk Berantas Illegal Fishing.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia mengatakan TNI akan membeli pesawat jet amfibi, dalam rangka memaksimalkan upaya pemberantasan praktik illegal fishing di perairan Indonesia. Jet Amfibi tersebut akan berfungsi dalam aktivitas TNI menjalankan patroli laut maupun patroli udara. "Salah satu jenis pesawat Jet Amfibi tersebut yakni BE 200," ujar Ida Bagus, dalam jumpa pers di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (22/12/2014).

Ida Bagus menuturkan, rencana pembelian jet amfibi tersebut diutarakan pada saat Presiden Joko Widodo melakukan blusukan ke wilayah perbatasan Indonesia, tepatnya di Wilayah Kalimantan Timur. Saat itu Jokowi melihat tentang aktivitas patroli darat maupun patroli laut dari TNI dalam menjaga wilayah perairan Indonesia. Kemudian,kata Ida Bagus, TNI menawarkan solusi kepada Jokowi untuk membeli jet amfibi. "Kami sampaikan solusi dalam hal pelaksanaan penindakan dan pencurian ikan di wilayah laut, berupa pesawat amfibi yang bisa mendarat di laut dengan karakteristik mampu di gelombang yang tinggi," ucap Ida Bagus.

Ida Bagus menerangkan, dengan kemampuannya yang bisa mendarat di permukaan laut, jet amfibi tersebut mampu menahan para pencuri ikan agar tidak melarikan diri. Jet tersebut juga mampu membawa tim untuk melakukan pengamanan laut. Ida mengatakan Jokowi menyetujui usul tersebut. "Dan waktu itu beliau (Jokowi) setuju dengan ide itu," kata Ida Bagus.

Jet Amfibi tersebut merupakan jet asal Rusia. Jet tersebut biasanya digunakan untuk melakukan pemadaman hutan karena mampu mengangkut bom air. Selain itu, jet tersebut juga digunakan oleh tim Sar untuk kegiatan penanganan bencana maupun pencarian orang.

nasional.kompas.com

Kamis, 25 Desember 2014

: Posted on Kamis, 25 Desember 2014 - 06.16 with No comments

Masa garansi perawatan dan perbaikan spare part pada perjanjian kontrak pembelian Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI harus ditinjau ulang lagi. Beberapa alutsista baru yang telah dibeli TNI dari luar negeri memiliki masa garansi dengan rentang waktu yang pendek. Ini beresiko ketika alutsista tersebut mengalami kerusakan atau pergantian spare-part. Masalah ini menjadi salah satu agenda penting dalam rapat pimpinan (Rapim) Perwira Tinggi Rencana Kerja 2015 yang digelar baru-baru ini.

KRI Bung Tomo (357). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Bung Tomo (357).
Alutsista TNI Terancam Dikanibal.

Pembelian alat utama sistem persenjataan (Alutsista) TNI perlu lebih dimatangkan. Pasalnya, TNI kerap kali mendapatkan alusista yang waktu garansi perawatan dan perbaikan spare part-nya sangat pendek. Hal tersebut membuat membuat alutsista TNI rawan untuk dikanibal. Ditemui dalam konpres rapat pimpinan (Rapim) Perwira Tinggi Rencana Kerja 2015, Panglima TNI Jenderal Moeldoko menuturkan, saat ini TNI memang kian banyak membeli alutsista dengan teknologi tinggi. Namun, ada masalah yang cukup mengkhawatirkan sehingga perlu pembahasan dalam rapim. "Masalahnya, soal perjanjian pembelian alutsista," jelasnya.

Dalam berbagai kontrak kerjasama pembelian alutsista, misalnya di TNI Angkatan Udara (AU) membeli pesawat. Pembelian pesawat itu dilengkapi dengan pelatihan pengendalian alutsista atau kelas untuk prajurit, lalu ada juga garansi perawatan dan perbaikan spare part pesawat. "Ternyata, waktu garansinya itu hanya beberapa bulan, kami tentu tidak ingin pesawat yang baru dibeli itu, beberapa bulan kemudian rusak dan mangkrak," tuturnya.

Kalau spare part alutsista rusak saat garansi habis, maka untuk mengakalinya dengan meng-kanibal menggunakan spare part alusista lain yang sejenis. Tentu, sangat tidak baik jika ada alutsista baru, tapi spare part-nya kanibal di sana-sini. "Karena itu dalam rapim ini diperlukan adanya anggaran untuk perbaikan dan perawatan alusista," paparnya.

Sementara Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Marsetio menjelaskan, untuk di TNI AL, misalnya ada pembelian kapal Sigma buatan Belanda beberapa tahun lalu. Dalam pembelian itu waktu garansi kapal dan spare part-nya hanya sepuluh hari hingga tiga bulan. "Ini tentu masalah yang cukup menghambat," ujarnya.

Untuk penyebab waktu garansi kapal dan spare part yang sangat pendek itu dipastikan karena minimnya anggaran. Sehingga, TNI memutuskan untuk membeli kapalnya terlebih dahulu. Untuk anggaran perawatan, serta perbaikan harapannya bisa menyusul. "Awalnya, pertimbangannya biar ada kapal dulu. Tapi, ternyata anggaran untuk perawatan kapal itu tidak ada," jelasnya.

Perlu diketahui, pembelian kapal bisa dengan berbagai fasilitas. Untuk pembelian kapal militer dengan tambahan waktu garansi perawatan dan pergantian spare part yang panjang, tentu harganya akan lebih besar dari pada pembelian kapal dengan waktu garansi yang pendek. "Untuk itu dalam rapim ini, rencana strategis harus ditentukan," paparnya.

Namun, Pengamat Militer Lembaga Studi Pertahanan Indonesia Rizal Darma Putra menjelaskan, seharusnya dalam sebuah perjanjian pembelian alutsista ada transfer teknologi. Masalah garansi untuk spare part ini harusnya bisa diselesaikan dalam transfer teknologi ini. "Kalau ada transfer teknologi, tentunya tinggal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memproduksi spare part untuk alutsista tersebut," ujarnya.

Yang krusial, selama ini dalam pembelian alutsista masih belum ada transparansi soal transfer teknologi tersebut. Karena itu, TNI juga perlu untuk lebih membuka diri untuk berbagai kontrak pembelian tersebut. "Biar semua orang mengetahuinya sebagai bentuk pertanggungjawaban," jelasnya.

www.jpnn.com

Selasa, 23 Desember 2014

: Posted on Selasa, 23 Desember 2014 - 07.32 with 1 comment

Komando Daerah Militer (Kodam) baru di Papua Barat sudah siap segera dibangun TNI mulai tahun 2015. Markas Kodam Papua Barat tersebut berpusat di Kota Manokwari. Tujuan dari pembentukan Kodam baru ini untuk lebih memudahkan pimpinan TNI dalam mengendalikan kesatuan militer di wilayahnya dan agar aspek pertahanan bisa terpenuhi di wilayah itu.

TNI (Tentara Nasional Indonesia). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
TNI (Tentara Nasional Indonesia).
TNI Bangun Kodam di Manokwari.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, Komando Daerah Militer (Kodam) di Papua yang rencananya akan dibangun berlokasi di Kota Manokwari, Papua Barat. Saat ini, pembangunan Kodam tersebut masih dalam tahap proses penyiapan lahan. "Saat ini sudah penyiapan lahan yang akan dilaksanakan di Manokwari," ujar Gatot dalam jumpa pers di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (22/12/2014).

Gatot mengatakan, pembangunan Kodam di Papua Barat sebenarnya direncanakan untuk tahun anggaran 2016. Namun, dengan berbagai pertimbangan, pembangunan tersebut dipercepat menjadi tahun 2015.

Saat ini, kata Gatot, pembangunan Kodam di Papua Barat akan dilakukan bersamaan dengan pembangunan Kodam 13 Merdeka di Sulawesi Utara. Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan, pembangunan Kodam baru di Papua Barat akan berlangsung pada 2015. Pembangunan tersebut akan disesuaikan dengan anggaran yang sudah dipersiapkan oleh TNI. "Tahun 2015 sudah mulai kita lakukan kegiatan fisiknya," kata Moeldoko.

Sebelumnya, Moeldoko mengatakan, untuk memperkuat pertahanan dan mempermudah koordinasi, TNI berencana menambah Kodam di Papua. "Penambahan Kodam di Papua sesuai rencana strategi (renstra) sudah siapkan. Tapi yang pertama di Manado sudah mulai jalankan. Harapan kita untuk Papua tahun depan sudah bisa dijalankan," ujar Moeldoko di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (10/12/2014), seperti dikutip Antara.

Panglima TNI menjelaskan, alasan pembentukan Kodam baru karena luasnya wilayah sehingga menyulitkan rentang kendali bagi seorang pemimpin di mana Pangdam harus mengendalikan semua prajuritnya yang sangat jauh. "Ini menyulitkan. Rentang kendali itu dipenuhi dengan membangun Kodam baru. Ada beberapa pilihan lokasi, di antaranya di Sorong dan masih ada pilihan-pilihan," jelasnya.

Mantan Pangdam Siliwangi ini menegaskan, tidak ada kepentingan politik dan maksud apa pun dalam pembangunan Kodam baru di Papua. "Tidak sama sekali. Ini murni untuk kepentingan pertahanan. Tidak punya maksud apa pun. TNI hanya ingin aspek pertahanan bisa terpenuhi di wilayah itu sehingga apabila terjadi situasi yang tidak kita inginkan, kendali operasi itu betul-betul bisa dijaga dengan baik," tukasnya.

nasional.kompas.com

Rabu, 26 November 2014

: Posted on Rabu, 26 November 2014 - 08.13 with No comments

Dua pesawat jet tempur Sukhoi milik TNI Angkatan Udara masih disiagakan di Bandara Juwata, Tarakan, Kalimantan Utara. Tiga jet tempur Sukhoi tersebut ditugaskan untuk mengawasi kawasan perairan Ambalat yang berbatasan dengan wilayah Malaysia.

Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Tiga Sukhoi TNI AU Dikirim ke Tarakan Jaga Perbatasan RI-Malaysia.

Tiga pesawat Sukhoi milik TNI Angkatan Udara sejak Senin (24/11/2014), disiagakan di Pangkalan Terbang Juwata, Tarakan, Kalimantan Utara. Ketiga pesawat itu disiagakan untuk mengawasi wilayah Laut Ambalat yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsma TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, ketiga pesawat itu diterbangkan dari Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar. "Mereka punya latihan rutin di Tarakan, Makassar, dan sejumlah wilayah lain," kata Hadi, Selasa (25/11/2014).

Hadi membantah jika penempatan itu berkaitan dengan aktivitas kapal dan pesawat milik Malaysia. Menurut dia, penempatan itu hanya merupakan bagian dari operasi rutin yang sering dilaksanakan TNI AU. "Latihan rutin ya, jadi bukan hanya untuk menghalau. Sampai sekarang masih di sana (Tarakan)," katanya.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Fuad Basya mengatakan, sejak dipimpin Jenderal Moeldoko, TNI AL dan TNI AU diperintahkan untuk melaksanakan operasi gabungan. Operasi itu termasuk ke dalam operasi pengamanan wilayah perbatasan dan pulau terluar Indonesia yang rutin digelar setiap tahunnya. "Jadi ada atau tidak ada ancaman, kita tetap standby. Sinergi itu dilakukan agar apabila ada hal-hal yang mengancam wilayah perbatasan dapat langsung kita kejar," ujarnya.

Fuad membenarkan jika pada awal November 2014 lalu, sebuah kapal perang milik Malaysia sempat masuk ke dalam wilayah perbatasan Indonesia. Namun, insiden kapal yang masuk wilayah perbatasan itu, menurut dia, tak hanya dilakukan Malaysia. Kapal Indonesia pun kerap melakukan hal yang sama. "Biasanya kan mereka patroli. Kalau sudah patroli itu terkadang terbawa arus. Nah, masing-masing pihak biasanya akan saling mengingatkan agar tidak masuk lebih ke dalam," ujarnya.

www.tribunnews.com

Sabtu, 22 November 2014

: Posted on Sabtu, 22 November 2014 - 07.19 with No comments

Dua kapal perang TNI AL dikabarkan telah berhasil menggagalkan aksi pembajakan terhadap sebuah kapal kargo berbendera Panama, MV New Emerald. Dua kapal perang Indonesia tersebut adalah KRI Todak (631) dengan Komandan Mayor Laut (P) Sandy Kurniawan dan KRI Sanca (815) dengan Komandan Kapten Laut (P) Eko Yudi. Peristiwa tersebut terjadi di kawasan perairan perbatasan Indonesia dan Singapura, tepatnya di selat Philips.

KRI Todak (631). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Todak (631).
TNI AL Gagalkan Rencana Pembajakan Kapal Kargo di Perbatasan RI-Singapura.

Kapal Perang Indonesia (KRI) di bawah Komando Armada Barat (Koarmabar) menggagalkan pembajakan terhadap kapal kargo berbendera Panama. Rencana pembajakan itu berada di selat Philips, dekat Singapura. Demikian disampaikan, Kepala Dinas Penerangan, Koarmabar, Letkol (L) Ariris Miftachurrahman dalam siaran persnya, Jumat (21/11/2014).

Letkol Ariris menjelaskan, informasi terjadinya pembajakan diterima TNI AL dari liasion officer RI di di IFC (Information Fusion Center) Singapura. Disampaikan bahwa MV New Emerald berbendera Panama akan dibajak di perbatasan Indonesia-Singapura, Jumat (21/11/2014).

KRI Sanca (815) dengan Komandan Kapten Laut (P) Eko Yudi dan KRI Todak (631) dengan Komandan Mayor Laut (P) Sandy Kurniawan yang sedang melaksanakan operasi pengamanan perbatasan Indonesia-Singapura bergeser ke lokasi yang dimaksud. "Tidak membutuhkan waktu lama, kedua kapal perang tersebut berhasil mendeteksi dan menemukan keberadaan kapal MV New Emerald. Selanjutnya mereka mengawal ke perairan Teluk Jodoh, Batam, Kepulauan Riau (Kepri)," kata Letkol Ariris.

Tidak ada kerugian material dalam kejadian tersebut. Para pembajak sudah melarikan diri sebelum kedua KRI sampai di lokasi kejadian. Koarmabar, menurut Letkol Ariris, selalu siaga. Terutama terkait isu pembajakan dan pencurian.

news.detik.com

Senin, 17 November 2014

: Posted on Senin, 17 November 2014 - 07.38 with No comments

Jumlah jet tempur buru sergap yang dimiliki Indonesia masih jauh dari memadai untuk mengawal kedaulatan udara Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kelemahan Indonesia dalam hal pertahanan udara tersebut diakui oleh Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsekal Muda Hadiyan Sumintaatmadja. Meskipun beberapa waktu lalu pesawat-pesawat tempur TNI AU berhasil mencegat dan memaksa mendarat beberapa pesawat terbang asing yang tanpa izin memasuki wilayah udara Indonesia. Semua pesawat asing yang disergap itu adalah pesawat terbang sipil berkecepatan rendah. Apa yang terjadi jika pesawat jet tempur asing berkecepatan supersonik yang menyusup ke wilayah udara Indonesia?

Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Udara Luas, Pesawat Sedikit.

Kalau lebih ditelaah, ada hal menarik dalam insiden pendaratan paksa di Lanud Supadio, Selasa (28/10). Saat itu, pesawat Sukhoi bisa segera dikerahkan karena kebetulan sedang latihan di Batam. Dalam kondisi normal, tidak ada pesawat buru sergap di Batam, baik Sukhoi maupun F-16, sehingga bisa jadi pesawat asing tanpa izin pun bisa berdansa di udara tanpa ada tindakan. "Memang waktu itu kebetulan," kata Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsekal Muda Hadiyan Sumintaatmadja, pekan lalu.

Ia mengakui, Kohanudnas yang tugasnya khusus menangani ancaman kedaulatan udara mengalami kendala dalam jumlah pesawat buru sergap yang bisa dipakai untuk mencegat. Hal ini juga bisa dilihat dalam kasus jet Gulfstream IV yang sempat menambah kecepatan menjadi 920 kilometer per jam sehingga Sukhoi dari Makassar harus mengejar dengan kecepatan suara 1.700 km per jam, itu pun baru berhasil mencegatnya nyaris di perbatasan dengan Australia.

Saat ini, pesawat buru sergap yang mumpuni adalah F-16 A/B dan C/D yang berjumlah 15 buah serta 16 Sukhoi Su-27 dan Su-30. Sukhoi bermarkas di Makassar, Sulawesi Selatan, sementara F-16 di Madiun, Jawa Timur. Selain itu juga ada F-5 E/F di Madiun yang beroperasi, jumlahnya kini 9 buah. Pesawat-pesawat tempur milik TNI AU yang lain adalah pesawat tempur taktis yang punya spesifikasi kecepatan terbang di bawah kecepatan suara sehingga tidak bisa untuk mencegat. Ini berarti, kalau ada pesawat asing tanpa izin di Natuna, Sorong, atau di atas Sumatera, bisa dikatakan, hanya bisa menonton lewat layar Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional tanpa bisa berbuat apa-apa. "Ke Sorong itu butuh sekitar 2 jam, ke Medan juga sekitar 2 jam dengan Sukhoi atau F-16. Yang bisa kita lakukan hanyalah sebatas memantau, lalu lapor kepada Panglima TNI, buat nota diplomatik," katanya.

Jakarta telanjang

Salah satu masalah klasik lain adalah tidak adanya markas pesawat tempur buru sergap di Jakarta. Dengan kata lain, kalau ada ancaman pesawat asing yang datang, Jakarta dalam keadaan "telanjang" alias hanya mengandalkan meriam atau rudal yang entah berfungsi atau tidak, atau menunggu F-16 yang butuh puluhan menit untuk tiba di Jakarta. Saat ini, secara bergantian pesawat-pesawat tempur buru sergap itu menginap di Jakarta. Hadiyan juga mengakui, beberapa instalasi vital tidak dilindungi dari serangan udara.

Kepala Staf TNI AU Marsekal IB Putu Dunia mengakui, jumlah pesawat yang bisa mencegat pesawat asing masih jauh dari cukup. Pesawat Hawk 100/200, misalnya, yang bermarkas di Lanud Supadio, Pontianak, penggunaannya bukan untuk pengejaran, apalagi kalau pesawat yang dikejar bermesin jet. Pesawat F-5 juga sudah habis masa pakainya dan sedang dicari penggantinya. "Ya, bagaimana, uangnya tak cukup," katanya di sela-sela Indo Defence, beberapa waktu lalu.

Selain pesawat sedikit, Kohanudnas pada praktiknya juga tidak memiliki pesawat sendiri untuk digerakkan sewaktu-waktu. Pesawat berada di bawah TNI AU, sementara Kohanudnas berada di bawah Mabes TNI. Secara rutin, hanya sepertiga dari jumlah pesawat TNI AU yang bisa dipakai. Sepertiga lainnya dalam pemeliharaan dan sepertiga sisanya dipakai latihan demi kemampuan pilot-pilot.

Hadiyan mengatakan, di negara-negara lain, penggunaan pesawat tempur dibagi dua bagian yang terpisah. Komando Strategis untuk serangan-serangan strategis sehingga yang dilatih adalah sasaran-sasaran strategis di darat, seperti pengeboman. Sementara itu, Komando Pertahanan Udara bertugas siaga 24 jam untuk menangani sasaran-sasaran yang berhubungan dengan wahana udara. "Organisasi ini penting kalau kita mau diakui. Tapi, yang lebih penting lagi jumlah pesawatnya," kata Hadiyan.

Efek gentar

Pengamat intelijen Susaningtyas Kertopati mengatakan, sebaiknya ada pangkalan udara TNI AU yang dilengkapi dengan pesawat tempur sergap, seperti di Lanud Medan, Natuna, Tarakan, Biak, Timika, Kupang, dan Jakarta. Tujuannya agar Indonesia memiliki efek gentar dalam pertahanan udara. Hal senada disampaikan Hadiyan. Ia membeberkan bahwa ada beberapa wilayah penting yang harus dijaga, seperti Selat Malaka, Aceh, dan Batam yang bisa menggunakan pesawat dari Medan. Selain itu juga perlu pesawat di Natuna yang strategis, mengingat kondisi di Laut Tiongkok Selatan, dan pesawat di Tarakan atau Manado yang bisa menangani masalah di Ambalat.

Alternatif lain, minimal, setiap Komando Sektor Hanudnas memiliki tiga pesawat tempur buru sergap. Saat ini ada empat Kosek, yaitu Kosek 1 di Sumatera Selatan, Natuna, Jakarta, Jawa Tengah, dan Kalimantan Tengah. Kosek 2 di Makassar, Kaltim, NTT, NTB, dan Sulawesi; Kosek 3 di Dumai ke arah barat; sedangkan Kosek 4 di Biak. Setiap Panglima Kosek bisa mengeluarkan komando cegat terhadap pesawat tempur kalau ada pesawat asing masuk.

Hadiyan mengatakan, dari segi kualitas, pesawat Sukhoi dan F-16 sudah cukup menggetarkan lawan. Namun, selain pesawat, yang juga penting adalah senjatanya. Dicontohkan, Sukhoi yang mencegat jet Gulfstream awalnya sempat tak dihiraukan sampai akhirnya mengeluarkan R-73 Archer, rudal dari udara ke udara. "Memang prosedurnya force down itu dengan keluarkan senjata," cerita Putu Dunia.

Putu Dunia mengatakan, menembak pesawat asing bukan hal yang sederhana kalau merujuk pada kebijakan politik Indonesia. Apalagi terhadap pesawat sipil dan terutama saat dalam keadaan damai. Ada prosedur panjang, seperti perintah Panglima TNI yang sebelumnya merupakan perintah Presiden RI. Dengan kondisi pesawat tempur seperti ini, realitanya, tidak semua pesawat asing tanpa izin bisa dipaksa mendarat. Kemampuan radar juga jadi catatan. Saat ini kerja sama radar sipil dan militer sudah semakin baik. Sayangnya, hanya pesawat-pesawat yang menghidupkan transpondernya yang bisa dideteksi radar primary. Itu pun sudah menghasilkan 10-15 pesawat asing tanpa izin yang masuk. "Ada yang sempat kita force down dan ada yang tidak," kata Hadiyan.

nasional.kompas.com

Sabtu, 15 November 2014

: Posted on Sabtu, 15 November 2014 - 08.01 with No comments

5 unit pesawat drone atau pesawat tanpa awak (UAV: Unmanned Aerial Vehicle) buatan luar negeri baru-baru ini telah dibeli Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk memudahkan tugas TNI dalam mengawasi kawasan di perbatasan negara. Untuk selanjutnya, Kementerian Pertahanan akan membeli lagi pesawat-pesawat drone yang lebih canggih untuk mengembangkan dan meningkatkan teknologi pesawat UAV buatan Indonesia.

Wulung, Pesawat UAV Buatan PT Dirgantara Indonesia dan PT LEN. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Wulung, Pesawat UAV Buatan PT Dirgantara Indonesia dan PT LEN.
TNI Datangkan Lima Drone Baru.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengungkapkan, TNI telah mendapatkan lima pesawat tanpa awak (drone). Setidaknya lima buah drone telah didatangkan dari luar negeri dan siap memperkuat kekuatan pertahan TNI.Sayangnya, Moeldoko enggan menyebut negara asal-asal drone tersebut dan spesifikasi pesawat tanpa awak tersebut secara mendetail. Lebih lanjut, Moeldoko menjelaskan, kedatangan drone-drone impor itu akan melengkapi pesawat tanpa awak yang sebelumnya telah dimiliki TNI. "Sudah ada drone baru yang datang ke kami, import dari luar. Ada sekitar lima buat," kata Moeldoko di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (13/11/2014).

Moeldoko mengakui, sebenarnya TNI sudah memiliki drone-drone buatan industri pertahanan dalam negeri. Namun, kedatangan drone-drone itu dapat menjadi bahan untuk pengembangan teknologi drone-drone buatan dalam negeri. Dari industri pertahanan lokal, PT Dirgantara Indonesia, Dislitbang AU, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memang sempat membuat dan mengembangkan pesawat tanpa awak tersebut. "Bisa juga akan menjadi tambahan, meskipun sebetulnya kami sudah punya. Sekarang, kami tengah belajar untuk pengendalian itu," lanjut mantan KSAD tersebut.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, memang sempat mengungkapkan rencana pihaknya untuk mendatangkan drone-drone baru demi memperkuat kekuataan pertahanan TNI. Penggunaan drone itu pun dapat dimaksimalkan untuk menjaga daerah-daerah perbatasan.Ryamizard pun menegaskan, pihaknya akan mencoba membeli drone yang lebih canggih lagi dan nantinya teknologi drone tersebut bisa dikembangkan lebih lanjut oleh industri pertahanan lokal.

Pembelian alutsista canggih itu pun tetap diikuti dengan skema alih teknologi. "Untuk sementara,kami akan coba beli lagi, yang jauh lebih canggih. Nantinya dari pembelian itu akan kami kembangkan lagi," tutur Ryamizard beberapa waktu lalu.

nasional.republika.co.id

Selasa, 11 November 2014

: Posted on Selasa, 11 November 2014 - 06.31 with No comments

Eli Gun adalah jenis senapan mesin yang diproduksi oleh perusahaan pertahanan dari Indonesia, PT Danan Armaments. Senapan mesin Eli Gun mampu menembakkan 30 hingga 50 peluru per detik dan 3.000 peluru per menit. Produk militer PT Danan Armaments ini sudah dipesan sebanyak 200 unit oleh negara-negara di Timur Tengah. Tapi sayangnya TNI belum tertarik dengan produk senapan mesin kelas dunia buatan Indonesia ini.

Eli Gun, Senapan Mesin Produksi PT Danan Armaments. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Eli Gun, Senapan Mesin Produksi PT Danan Armaments.
Senapan Mesin Kelas Dunia dari Indonesia.

Apresiasi patut diberikan kepada perusahaan alat utama sistem senjata nasional. Banyak senjata dan alat tempur produksi dalam negeri yang dinilai telah memenuhi kualitas dunia. Dua produsen senjata yang mampu menarik perhatian internasional dengan produk-produknya di Indo Defence 2014 Expo & Forum adalah PT Pindad dan PT Danan Armaments. "Pindad dengan SPR 2-nya, sementara Danan dengan Eli Gun-nya. Kita akhirnya bisa buat senapan mesin berkelas dunia," kata Direktur Utama PT Danan Armaments, Dananjaya Trihardjo, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (7/11/2014).

Eli Gun merupakan senapan mesin hasil kerjasama perusahaan nasional Danan Armaments dengan perusahaan Italia. Dengan kemampuan melontarkan 3 ribu butir peluru per menit, senapan ini dianggap mumpuni dan dapat disejajarkan dengan senjata kelas dunia. Sejak dirilis beberapa waktu lalu, 200 pucuk Eli Gun sudah dipesan beberapa negara di kawasan Timur Tengah. "Eli Gun juga mampu mengeluarkan peluru 30-50 per detik. Kami membanderol harganya di kisaran US$ 150 ribu hingga US$ 300 ribu," kata Dananjaya.

Kemampuan Eli Gun sudah diuji coba dengan dipasangkan ke helikopter. Setelah berhasil difungsikan pada helikopter, Dananjaya kini menarget penggunaan Eli Gun bisa diintegrasikan ke kapal laut. Meski dinilai mumpuni, Dananjaya mengatakan Eli Gun belum dilirik Tentara Nasional Indonesia. Belum ada obrolan antara Dananjaya dan TNI mengenai jual-beli senjata tersebut. "Padahal senjata ini sudah bisa diintegrasikan ke helicopter Bolco dan rantis (kendaraan taktis). Mudah-mudahan ke depannya bisa diintegrasikan pada kendaraan tempur, termasuk kapal, dan dilirik TNI," kata Dananjaya.

Pujian juga layak diberikan kepada kapal patroli antipeluru produksi PT Bay Industrial Indonesia. Sesuai slogannya, produk Bay Industrial mampu menahan peluru level 3 plus AK 47 dan MSC. Kapal tersebut juga mampu melaju dengan kecepatan hingga 80 knot meski diisi oleh 26 penumpang. "Nigeria kemarin ke sini dan katanya mau impor kapal ini. Presiden Jokowi juga ke sini dan sangat tertarik melihat produk kami," ujar pemilik PT Bay Industrial Indonesia, Lee Ki Hyoeng.

www.cnnindonesia.com

: Posted on - 05.15 with No comments

Unmanned Surface Vessels (USV) Bonefish adalah jenis kapal perang tanpa awak yang saat ini sedang dikembangkan oleh PT Lundin yang bekerjasama dengan perusahaan SAAB dari Swedia. USV Bonefish ini bakal dilengkapi dengan sistem persenjataan antara lain rudal RBS15 Mk3 dan senapan otomatis 40Mk4. Untuk sistem sensornya, kapal perang tanpa awak ini didukung radar Sea Giraffe 1X 3D.

USV Bonefish. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
USV Bonefish.
Kapal Laut Tanpa Awak Ini Curi Perhatian Menhan Ryamizard.

Produsen alat pertahanan nasional, PT Lundin tengah dalam proses pembuatan Kapal laut tanpa awak. Bekerja sama dengan perusahaan asal Swedia, SAAB, PT Lundin masih dalam tahap membangun kapal bernama Unmanned Surface Vessels (USV) Bonefish. "Kita bekerja sama dengan SAAB. Mereka yang kerjakan teknologinya. Kita yang buat platformnya," ujar salah satu staf PT Lundin di Indo Defence 2014 Expo&Forum yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (5/11/2014).

Kapal ini dilengkapi dengan rudal RBS15 Mk3 yang berkecepatan subsonik. Rudal ini memiliki hulu ledak HET seberat 200 kg. Selain itu kapal ini juga dipersenjatai dengan naval gun 40Mk4. Tak hanya itu, radar Sea Giraffe 1X 3D yang memiliki berat 150 kg terpasang USV Bonefish ini. Radar ini disebut mampu mereduksi efek lengkung bumi.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu didampingi KSAL Laksamana Marsetio sempat mengunjungi stan yang menunjukkan prototype kapal tanpa awak ini. Ke depan, PT Lundin berharap agar bisa benar-benar produk unggulan itu secara mandiri. "Kan kita ada transfer teknologi supaya teknisi kita bisa buat sendiri," kata petugas yang sama.

news.detik.com

Senin, 10 November 2014

: Posted on Senin, 10 November 2014 - 06.22 with No comments

Sebuah sistem senjata laser yang dikembangkan oleh China telah berhasil diuji coba. Dalam uji coba tersebut, senjata laser ini berhasil menembak jatuh pesawat drone dari jarak 1,2 mil. Senjata laser ini dikembangkan oleh lembaga China Academy of Engineering Physics (CAEP) dan China Jiuyuan Hi-tech Equipment Corporation.

Dikong Weishi, Senjata Laser Buatan China. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Dikong Weishi, Senjata Laser Buatan China.
Media pemerintah China, Xinhua, melaporkan bahwa negeri tirai bambu itu berhasil mengembangkan sistem senjata laser yang sangat akurat dan berhasil menembak jatuh pesawat drone ringan yang terbang pada ketinggian rendah. Lembaga yang mengembangkan sistem senjata laser tersebut, China Academy of Engineering Physics (CAEP), mengatakan bahwa senjata laser ini memiliki jangkauan tembak hingga 1,2 mil dan mampu menembak jatuh target dalam waktu 5 detik.

Sistem senjata laser yang dikembangkan oleh China Academy of Engineering Physics (CAEP) dan China Jiuyuan Hi-tech Equipment Corporation itu diharapkan bisa berperan efektif dalam mengantisipasi ancaman dari udara pada kegiatan penting yang mengharuskan berkumpulnya banyak orang di suatu tempat dan kegiatan pemetaan udara tanpa izin. Meriam laser ini efektif untuk menembak jatuh pesawat terbang ukuran ringan pada ketinggian maksimum 500 meter yang terbang dengan kecepatan 50 meter/detik.

Seorang pejabat dari China Jiuyuan Hi-Tech Equipment Corp, Yi Jinsong, mengatakan bahwa pesawat tak berawak ukuran kecil dan berbiaya murah cenderung bisa digunakan untuk sebuah serangan teroris dari udara. "Menjatuhkan drone seperti itu biasanya menjadi tugas para penembak jitu dan helikopter. Tapi cara ini seringkali mengakibatkan kerusakan yang tidak diinginkan," kata Yi Jinsong.

Pihak CAEP mengungkapkan bahwa sistem senjata laser ini bisa diinstal pada kendaraan darat. Dalam uji coba yang dilakukan, senjatan laser tersebut telah menembak jatuh 30 drone dengan tingkat keberhasilan 100%. Saat ini CAEP juga sedang mengembangkan sistem senjata laser yang sama, namun dengan kekuatan yang lebih besar dan jangkauan tembak yang lebih jauh.

www.theguardian.com

Sabtu, 08 November 2014

: Posted on Sabtu, 08 November 2014 - 08.13 with No comments

Bentuk fisik jet tempur KFX/IFX sudah bisa dipastikan dengan dipajangnya sebuah replika pesawat tempur tersebut di stand KAI pada Indo Defence 2014. Jet tempur KFX/IFX adalah program kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan untuk mengembangkan dan memproduksi sebuah pesawat tempur generasi 4,5 yang juga telah mengaplikasikan teknologi stealth (siluman).

Replika Jet Tempur KFX/IFX. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Replika Jet Tempur KFX/IFX.
Spesifikasi pesawat tempur KFX/IFX Indonesia bisa berbeda.

Spesisikasi calon pesawat tempur generasi 4,5 hasil kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan, KFX/IFX, bisa jadi akan berbeda antara yang dimiliki Indonesia dan Korea Selatan, walau rancang bangun fisiknya telah final. "Serangkaian pembicaraan tetap dilakukan walau rancang bangun fisiknya telah ditetapkan. Modelnya bisa dilihat seperti pada Indo Defence 2014 ini," kata Deputi Manajer Program KFX/IFX Korea Aerospace Industry, Hwang Sungho, di sela pameran industri pertahanan Indo Defence 2014, di Jakarta, Rabu (5/11/2014).

Dia juga tidak mengungkap jenis-jenis teknologi yang dikatakan akan menjadi teknologi "masa depan" yang akan dibagi kepada Indonesia. Tentang ini, ahli teknologi penerbangan, Dr Mulyo Widodo, akhir 2013 lalu, menyatakan, "Meski sebagian lagi (teknologi) masih dicari, kami percaya Korea bisa meraihnya. Mereka punya peta jalan yang jelas dalam proyek pengembangan jet tempur. Mereka sudah memulainya dengan KT-1, lalu T-50, TA-50 dan setelah itu: FA-50. Lebih dari itu mereka juga punya belasan veteran NASA dan USAF yang jadi tempat bertanya. Mereka kini dosen di sejumlah perguruan tinggi," katanya.

Program KFX/IFX yang digagas Presiden Korea Selatan (saat itu), Kim Dae-jung, pada 2001, masih dalam tahap pengembangan walau kesepakatan komposisi pembiayaan antara Indonesia dan Korea Selatan sudah ditentukan, yaitu 20 berbanding 80. Secara total, berdasarkan perundingan kedua pemerintahan, akan dibuat 120 unit KFX/IFX ini. Hwang juga tidak bersedia menjawab, apakah komposisi "kontribusi" pembiayaan 20:80 itu akan menentukan spesifikasi teknis KFX/IFX yang akan dimiliki Indonesia dan Korea Selatan.

Sempat berkembang "teka-teki" tentang rupa pasti fisik KFX/IFX ini, namun rancangan pasti fisiknya belakangan sudah dipastikan dan model skalanya dipajang di gerai KAI pada Indo Defence 2014 ini. Secara kasat mata, bentuk fisiknya sangat mirip dengan F-22 Raptor; bermesin dua dengan sayap tegak ganda dan rancangan kokpit serta bagian depan fuselage serupa, pun pada kompartemen bomb bay-nya yang tersembunyi. Dengan begitu, arsenal yang bisa dia bawa disembunyikan sedemikian rupa di dalam ruang bom itu. Ini juga yang menolong tangkap radar cross section-nya menjadi sangat minimal. Teknologi serupa lazim dijumpai pada F-22 Raptor dan F-35 Lighting II.

Perbedaan spesifikasi itu, katanya, bisa pada beberapa hal tergantung pada keperluan masing-masing pemilik unit pesawat tempur generasi tercanggih yang digadang-gadang berteknologi stealth dan melengkapi capaian kemampuan Dassault Rafale (Prancis), Eurofighter Typhoon (konsorsium Eropa Barat), walau masih di bawah Lockheed Martin F-35 Lighting II.

Dia katakan, penentuan macam dan sumber piranti avionika, sebagai misal, masih belum diputuskan. Banyak ambisi yang ingin ditanamkan pada tubuh KFX/IFX ini, di antaranya penguasaan teknologi stealth, yang pada beberapa tipe pesawat tempur secara terbatas bisa dientaskan dengan aplikasi cat tertentu yang bisa menyerap paparan gelombang radar.

Hwang sangat yakin bahwa Indonesia tetap pada pendiriannya yaitu mewujudkan KFX/IFX ini hingga operasional penuh. Saat ditanya mengapa perwujudannya sejak ide digulirkan memakan waktu lama, dia berujar, "Eurofighter Typhoon juga memerlukan waktu cukup lama untuk bisa beroperasi penuh."

www.antaranews.com

: Posted on - 05.53 with No comments

12 unit helikopter serang ringan jenis Ecureuil/Fennec dari Airbus Helicopters mulai diterima secara bertahap oleh TNI AD. Pengadaan 12 unit helikopter Ecureuil/Fennec untuk TNI AD tersebut melibatkan PT Dirgantara Indonesia dalam pembuatan dan pemasangan persenjataannya. Dijadwalkan hingga tahun 2016 mendatang, program pengadaan 12 helikopter serang Ecureuil/Fennec ini sudah dapat diselesaikan secara keseluruhan.

Helikopter Serang Ecureuil/Fennec. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Helikopter Serang Ecureuil/Fennec.
TNI AD terima 12 heli serang Ecureuil/Fennec.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) mulai menerima kedatangan 12 helikopter ringan seri Ecureuil/Fennec dari Airbus Helicopters yang akan membekali TNI AD dengan kemampuan canggih dalam misi penyerbuan. Hingga 2016, TNI AD dijadwalkan akan menerima enam heli bermesin tunggal dan enam heli bermesin ganda. "Pengiriman ini sejalan dengan tanggung jawab kami kepada pemerintah Indonesia untuk mengembangkan sistem pertahanan secara lokal guna meningkatkan kemampuan pertahanan negara," kata Presiden PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso, Kamis (6/11/2014).

Sebanyak 12 helikopter rotorcraft dari seri Ecureuil/Fennec tersebut akan membentuk skuadron serang ringan TNI AD. Berdasarkan kesepakatan industri strategis antara Airbus Helicopters dengan PT Dirgantara Indonesia, peralatan misi untuk armada tersebut – termasuk senapan mesin dan peluncur roket – akan dipasang oleh PT Dirgantara Indonesia di pabriknya di Bandung.

Fennec –versi militer dari seri helikopter Airbus Ecureuil yang telah dikenal luas– telah banyak menjalankan misi tempur, dukungan udara, pelacakan, pengawalan dan pelatihan di seluruh dunia, termasuk Asia. Seri yang terdiri atas tipe mesin tunggal dan ganda yang memiliki kemampuan adaptasi ini, menggabungkan kemampuan serang ringan yang dahsyat dengan rangka badan dan solusi sistem misi yang hemat biaya. "Keputusan Indonesia untuk meggunakan Fennec menunjukkan kesesuaian seri ini bagi pengoperasian di berbagai macam kondisi. Fennec memiliki kemampuan manuver yang tinggi dengan platform yang lincah, serta sulit dideteksi," ujar Head of Region Airbus Helicopters untuk Asia Tenggara dan Pasifik Philippe Monteux.

Pembelian Fennec oleh TNI Angkatan Darat ini dilakukan menyusul pembelian enam buah helikopter EC725 oleh Angkatan Udara Indonesia pada 2012. Di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik, Royal Thai Army juga memesan delapan buah Fennec untuk misi pengintaian pada 2011.

PT Dirgantara Indonesia telah menjalin kemitraan dengan Airbus Helicopters selama hampir 40 tahun. Airbus Helicopters adalah kontraktor utama bagi pemerintah Indonesia dalam menyediakan layanan lengkap, mulai dari penjualan, kustomisasi dan penyelesaian, hingga pengiriman dan layanan purna jual untuk semua produk rotorcraft Airbus Helicopters.

PT Dirgantara Indonesia juga merupakan bagian dari rantai pasok Airbus Helicopters, yang memroduksi tail boom dan merakit rangka badan untuk helikopter seri EC225 dan EC725 untuk pasar global.

www.antaranews.com

Jumat, 07 November 2014

: Posted on Jumat, 07 November 2014 - 07.50 with No comments

Senapan sniper SPR-2 adalah salah satu produk militer unggulan PT Pindad. SPR-2 (Senapan Penembak Runduk 2) masuk kategori senapan anti material karena peluru yang ditembakkan mampu menembus plat baja setebal 2 Cm. Menurut Kepala Departemen Komunikasi PT Pindad, pihaknya kini sedang memproduksi 150 pucuk senapan SPR-2 untuk kebutuhan TNI.

SPR-2, Senapan Sniper Anti-Material Produksi PT Pindad. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
SPR-2, Senapan Sniper Anti-Material Produksi PT Pindad.
Pindad produksi 150 senapan SPR-2 buat Kopassus, dunia gempar.

PT Pindad mampu membuat senapan sniper SPR-2 yang membuat dunia militer internasional kaget. Pasalnya, senapan ini mampu menjangkau target dengan jitu dalam jarak lebih dari 2 km. "Kita sedang bikin 150 pucuk (senapan SPR-2) buat Kopassus, dunia sniper internasional sudah gempar. Senapan SPR-2 ini jangkauannya sampai 2 km," kata Kadep komunikasi PT Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11/2014).

Menurutnya jenis peluru senjata sniper SPR-2 ditakuti banyak negara. Peluru ini mampu menembus kendaraan lapis baja sekalipun. "Pelurunya 12,7 mm anti material, jenis pelurunya paling ditakuti karena bisa menembus tank dan kendaraan lapis baja. Peluru ini dapat menembus baja lalu terbakar dan meledak di dalam," terang dia.

Masih menurutnya, senapan sniper SPR-2 ini berawal dari senapan sniper anti material milik TNI yang tak berani diuji coba. Kemudian Pindad berusaha menguji dan akhirnya membuat sendiri. "Tahun 2003, TNI punya 3 pucuk dari negara lain tapi nggak berani uji karena berat dan besar. Akhirnya kita uji bareng-bareng lalu kita buat sendiri tahun 2006, itu awalnya," pungkas dia.

www.merdeka.com

Kamis, 06 November 2014

: Posted on Kamis, 06 November 2014 - 07.55 with No comments

11 unit helikopter anti kapal selam (AKS) tipe AS565 MBe Panther dari Airbus Helicopters telah dipesan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk meningkatkan kemampuan tempur TNI AL. Kontrak pemesanan 11 unit helikopter AS565 MBe Panther ditandatangani oleh Kemenhan dan Airbus pada hari pertama penyelenggaraan Indo Defense 2014. Menurut rencana, pembuatan beberapa komponen dan perakitan helikopter-helikopter AKS tersebut akan dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia dibawah lisensi Airbus Helicopters.

AS565 MBe Panther. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
AS565 MBe Panther.
Indonesia Borong 11 Helikopter Airbus untuk Misi Anti-Kapal Selam.

Indonesia memborong 11 helikopter rotocraft Airbus AS565 MBe Panther pada hari pertama penyelenggaraan Indo Defense 2014, Rabu (5/11/2014). Dengan pembelian ini, Indonesia bermaksud meningkatkan kemampuan misi perang anti-kapal selam. Dalam pengadaan helikopter anti-kapal selam ini, Airbus bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia. Pembuatan beberapa komponen serta perakitan akan dilakukan di dalam negeri dengan lisensi Airbus Helicopters.

Rencananya, kesebelas helikopter itu akan dipasok oleh Airbus dalam jangka waktu tiga tahun. PT Dirgantara Indonesia juga akan melengkapi helikopter dengan peralatan pendukung sebelum diberikan ke Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ada dua peralatan yang akan ditambahkan pada helikopter itu, yaitu dipping sonar Helicopter Long-Range Active Sonar (HELRAS) dan sistem peluncur torpedo. Keduanya bakal membuat helikopter mumpuni untuk operasi darat maupun laut.

Phillipe Monteoux, Direktur Airbus Helicopters Asia Tenggara, menyambut baik pemesanan helikopter ini. Ia mengatakan bahwa AS565 MBe Panther adalah solusi modern dan andal untuk memenuhi kebutuhan Indonesia sebagai negara maritim.

Sementara itu, Presiden PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan, kerja sama ini adalah wujud dari upaya PT DI untuk memasok kebutuhan alutsista yang hemat sekaligus meningkatkan keterlibatan industri dalam negeri.

Pembelian ini menambah koleksi helikopter rotocraft buatan Airbus milik Indonesia. Unit lain ialah Colibri EC120 ringan untuk pelatihan, Fennec dan BO-105 untuk misi serang ringan, serta Puma dan Super Puma yang dioperasikan TNI Angkatan Udara.

Dalam rilis Airbus hari ini, disebutkan bahwa dalam waktu dekat, TNI AU juga akan menerima helikopter EC725 untuk misi pencarian dan penyelamatan.

sains.kompas.com

Copyright © 2013. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara | Template by Full Blog Design | Proudly powered by Blogger
PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara