Berita Hankam, Pertahanan, Alutsista, Persenjataan, Militer, TNI, Pesawat Tempur, Kapal Perang, Kotabumi, Lampung Utara, soldiers, defense, military, weapons, combat, attack, assault, security, forces
Prokimal Kotabumi Lampung Utara




Bagikan :

Rabu, 23 April 2014

: Posted on Rabu, 23 April 2014 - 03.40

Project Azorian adalah kode nama yang digunakan oleh CIA (Central Intelligence Agency) untuk misi pengambilan sebuah kapal selam milik Angkatan Laut Uni Sovyet yang tenggelam di Samudera Pasifik, 1.900 mil di sebelah barat laut Hawaii. Kapal selam bersenjata peluru kendali berhulu ledak nuklir milik Uni Sovyet tersebut dikenal dengan sebutan K-129 (pihak NATO menyebutnya dengan nama Golf II). Kapal selam K-129 tenggelam akibat ledakan yang terjadi di bagian dalam kapal.

Kapal Selam K-129 (Golf II). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Kapal Selam K-129 (Golf II).
Azorian, Proyek CIA untuk Mencuri Kapal Selam Soviet.

Dokumen yang baru dideklasifikasi (dinyatakan tak lagi bersifat rahasia) mengungkapkan rincian baru tentang Project Azorian, yaitu upaya diam-diam badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA), untuk mengambil sebuah kapal selam diesel milik Angkatan Laut Uni Soviet yang karam di Samudra Pasifik. Mark Strauss menulis cerita mengenai hal ini dalam io9.com 10 April 2014 dan Rhys Blakely menulis dalam The Australian edisi 18 April 2014.

Cerita ini dimulai pada Maret 1968, ketika sebuah kapal selam Soviet, K-129 (Golf II), rusak akibat ledakan di dalam saat misi patroli rutin dan tenggelam di Samudra Pasifik, 1.900 mil sebelah barat laut Hawaii. Kapal itu membawa rudal balistik nuklir, dengan hulu ledak 4 megaton, dan awak tujuh puluh orang. Soviet melakukan upaya pencarian besar-besaran selama dua bulan, tapi tak membuahkan hasil.

Aktivitas tak biasa Angkatan Laut Soviet di daerah itu mendorong AS untuk memulai pencarian kapal selam, yang akhirnya ditemukan pada Agustus 1968. Tapi, puingnya baru bisa diangkat beberapa tahun setelahnya. Kapal selam itu, jika bisa diambil, akan menjadi harta karun bagi komunitas intelijen. Itu tidak hanya membuat pejabat AS bisa melihat desain hulu ledak nuklir Soviet, tapi juga mendapatkan peralatan kriptografi yang memungkinkannya memecahkan kode sandi Angkatan Laut Uni Soviet. Lalu, dimulailah Project Azorian itu.

Komunitas intelijen AS menugaskan Howard Hughes untuk membangun sebuah kapal besar --dijuluki Hughes Glomar Explorer (HGE)--untuk mendapatkan kapal selam itu. Operasi penyelamatan, yang dimulai pada 1974, awalnya hanya sukses secara parsial. AS berencana untuk memulai usaha kedua, pada 1975, namun akhirnya dibatalkan ketika cerita soal ini bocor ke pers.

Dalam tahun-tahun berikutnya, sangat sulit untuk mendapatkan informasi tentang Proyek Azorian di luar yang telah beredar di surat kabar. Menanggapi permintaan melalui Freedom of Information Act (FOA), CIA menolak melepaskan dokumen soal proyek itu dan mengatakan "tidak mengkonfirmasi atau menyangkal" hubungannya dengan Hughes Glomar Explorer. (Akibatnya, kalimat "tidak mengkonfirmasi atau menyangkal" dikenal sebagai "respons glomar" atau "glomarization.")

Pada 2010, CIA diizinkan mempublikasikannya dengan suntingan yang sangat banyak, 50 halaman artikel yang menjelaskan Proyek Azorian dalam edisi musim gugur 1978 di jurnal internal CIA, Studies in Intelligence. Kini, soal proyek itu ini tersedia lebih detail berkat publikasi volume terbaru dari Foreign Relations of the United States (FRUS). Disusun oleh sejarawan Departemen Luar Negeri, seri FRUS adalah sumber tak ternilai, yang berisi dokumen yang dideklasifikasi, yang mencakup kabel diplomatik, memo internal, dan risalah rapat antara presiden dan penasihat terdekatnya. Dalam FRUS terbaru, National Security Policy: 1973-1976, terdapat sekitar 200 halaman soal Project Azorian.

Menurut dokumen itu, pada 1969, CIA mengumpulkan gugus tugas kecil insinyur dan teknisi untuk menyusun konsep bagaimana mendapatkan kapal selam itu. Hambatan teknologi dan logistik menjadi pertimbangan utama. Bagaimana mungkin AS menyelamatkan kapal selam 2.500 ton, yang berbaring di dasar laut pada kedalaman 16.500 kaki? Dan bagaimana AS melakukan operasi besar-besaran tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan atau terdeteksi oleh pengintaian Soviet?

Pada akhirnya, para insinyur memilih rencana yang terdengar seperti plot film James Bond. Rencana ini melibatkan tiga kapal. Kapal pertama adalah untuk pengambilan, dengan ruang di dalamnya dan dilengkapi dengan dasar yang bisa membuka dan menutup. Kapal kedua, untuk penangkap, dilengkapi mekanisme pengambilan yang akan dirancang untuk menyelaraskan dengan lambung kapal selam. Kapal yang berhasil diangkat akan diam-diam dirakit pada kapal tongkang besar dengan atap yang bisa dibuka. Kapal tongkang tersebut akan terendam sehingga bisa menyelinap di bawah laut, di bawah kapal pengambilan, membuka atap dan memberikan kapal yang sudah didapatnya.

CIA mengontrak Summa Corporation untuk pembuatan kapal ini. Summa adalah anak perusahaan Hughes Tool Company yang dimiliki oleh miliarder Howard Hughes. Kapal penemuan itu akan dibuat sepanjang 618 kaki, 36.000 ton, dan dijuluki Hughes Glomar Explorer (HGE). Tentu saja, melihat ada raksasa mengambang berlama-lama di Samudra Pasifik pasti akan memicu kecurigaan. Jadi, Project Azorian mengarang cerita penyamaran bahwa HGE dibangun sebagai usaha komersial swasta Hughes untuk penambangan mangan di dasar laut.

Saat Project Azorian mengalami kemajuan, namun pejabat pemerintah mulai mengungkapkan keraguan apakah biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang didapatkan sebanding. Apakah kapal selam nuklir itu masih bisa disebut aset intelijen atau justru sudah menjadi artefak? Sebuah komite ad hoc sekali lagi diminta untuk mengkaji masalah ini dan akhirnya memutuskan bahwa masih ada banyak yang bisa diperoleh dari operasi ini. Meskipun rentang rudal SS-N-5 yang ada di kapal selam itu pendek dan tidak lagi dianggap sebagai ancaman utama, itu masih bisa "menyediakan teknologi potensial penting", sesuai dengan yang baru-baru ini dikerahkan Uni Soviet, rudal jarak jauh SS-N-8. Dan peralatan kriptografinya di kapal itu "akan bernilai sangat tinggi terhadap upaya intelijen AS melawan pasukan angkatan laut Soviet."

Akhirnya, pada 3 Juni 1974, sebuah memorandum dari Dewan Keamanan Nasional kepada Kissinger mengatakan: "Puncak dari usaha enam tahun, Proyek Azorian, siap untuk mencoba untuk mendapatkan rudal balistik kapal selam Soviet dari kedalaman 16.500 kaki di Samudera Pasifik."

Kapal akan berangkat dari pantai barat 15 Juni dan tiba di situs target pada 29 Juni. Operasi pengambilan akan memakan waktu 21-42 hari (30 Juni-20 Juli-10 Agustus). Manajer proyek memperkirakan peluang keberhasilannya lebih dari 40 persen. Dua hari kemudian, operasi itu disetujui. Misi pengambilan kapal selam, yang berlangsung dari Juni sampai Agustus 1974, hanya berhasil sebagian. Meskipun sebagian dari kapal selam itu diambil, sisa kapal terjatuh dari kapal penangkap lantaran kegagalan fungsi mekanis.

Wakil Menteri Pertahanan memberi penjelasan kepada Kissinger: "Analisis ekstensif dari kegagalan penangkap telah menghasilkan kesimpulan bahwa tangan-tangan baru harus dibuat, yang menggabungkan bahan kurang rapuh dan meningkatkan teknik desain. Semua tindakan yang diperlukan sekarang sedang diambil untuk mengkonfigurasi ulang kendaraan penangkap dan memperbarui kapal penemuan untuk misi kedua selama periode cuaca optimum berikutnya, yaitu Juli dan Agustus 1975."

Haruskah AS mencoba melakukan misi kedua? Saat itu, banyak hal berubah di Washington sejak Hughes Glomar Explorer berangkat ke laut. Presiden Richard Nixon mengundurkan diri pada 9 Agustus. Ada keraguan, mengingat suasana saat ini di Washington, apakah CIA bisa mempertahankan operasi selama satu tahun lagi tanpa cerita itu bocor ke pers.

Namun, konsensusnya cenderung untuk melanjutkan inisiatif tersebut. Namun, bahkan Henry Kissinger, yang berada di antara pendukung terkuat operasi, mulai memiliki keraguan pribadi. Setelah mengadakan satu pertemuan dengan para pejabat intelijen dan pertahanan pada Januari 1975, Kissinger berbicara kepada Presiden Gerald Ford soal kekhawatirannya bahwa operasi rahasia ini bisa bocor. Kissinger punya alasan untuk khawatir. Sejak awal Januari 1974, wartawan New York Times Seymour Hersh telah menyelidiki cerita soal Project Azorian ini. William Colby, Direktur Central Intelligence Agency (CIA), sudah dua kali bertemu dengan Hersh--pada 1 Februari 1974 dan 10 Februari 1975--dan mendesaknya untuk menunda publikasi soal itu. Tapi, berapa lama lagi cerita soal itu tak dibuka media?

Kurang dari seminggu kemudian, berita itu bocor dan bukan oleh Seymour Hersh. Proyek ini menjadi rahasia umum karena perampokan yang terjadi pada 5 Juni 1974. Markas perusahaan Summa Corporation milik Hughes di Los Angeles kecurian. Para pencuri membawa kabur uang tunai dan empat kotak dokumen. Berdasarkan pendataan setelah kasus perampokan, diketahui bahwa dokumen yang hilang termasuk memo yang menjelaskan proyek rahasia CIA itu.

Beberapa bulan kemudian, polisi Los Angeles melaporkan bahwa mereka telah dihubungi oleh seorang perantara yang mengaku memiliki dokumen yang dicuri. Sang perantara tidak secara khusus menyebutkan memo tentang CIA dan Proyek Azorian. Sang perantara meminta tebusan US$ 500.000. Apa yang terjadi selanjutnya dapat digambarkan sebagai komedi kesalahan. Sebab, CIA memberi tahu FBI bahwa dokumen yang ditawarkan sang perantara mungkin termasuk memo sensitif mengenai Project Azorian. FBI kemudian mengatakan kepada polisi Los Angeles tentang adanya memo tersebut, dan polisi Los Angeles memberi tahu sang perantara.

Pada 7 Februari 1975, Los Angeles Times menerbitkan sebuah artikel singkat berjudul "U.S. Reported After Russ Sub" yang mengatakan bahwa menurut "kabar yang beredar di kalangan aparat penegak hukum setempat, Howard Hughes telah dikontrak CIA untuk mengangkat kapal selam nuklir Rusia dari bawah samudra...operasi, menurut teori seorang penyidik, dilakukan oleh awak kapal pertambangan kelautan yang dimiliki oleh Hughes Summa Corp."

Itu adalah artikel dari sumber yang samar, mengandung sejumlah kesalahan, tapi cerita soal Project Azorian itu menyebar. Pada 18 Maret 1975, kolumnis Jack Anderson menyebut soal Hughes Glomar Explorer dalam acara radio nasional dan menyatakan niatnya untuk mengungkapkan rincian lebih lanjut tentang operasi itu. Hasil dari pengumuman itu, wartawan lainnya, termasuk Seymour Hersh, tidak lagi merasa wajib menunda untuk menurunkan beritanya. Keesokan harinya, beberapa surat kabar besar--termasuk Los Angeles Times, Washington Post, dan The New York Times--menerbitkan cerita di halaman depan yang mengungkapkan bahwa Hughes Glomar Explorer, dalam sebuah operasi yang dipimpin oleh CIA, telah mengambil sebagian dari kapal selam Soviet dari Samudra Pasifik selama musim panas 1974.

Yang mengejutkan bagi Gedung Putih, Soviet hanya diam. Ada dugaan bahwa kemarahannya mirip dengan insiden U-2 pada 1960, ketika sebuah pesawat mata-mata Amerika Serikat ditembak jatuh di wilayah udara Uni Soviet.

Sebuah laporan yang dipersiapkan oleh CIA pada April 1975 percaya bahwa keputusan Soviet untuk menahan diri dari respons publik adalah karena beberapa faktor. Hal ini, antara lain, ditujukan untuk menghindari rasa malu di dalam negeri dan di luar negeri karena harus mengakui untuk pertama kalinya soal hilangnya kapal selam pada 1968. Ini juga untuk menghindari adanya pengakuan publik atas ketidakmampuan Soviet untuk menemukan kapal selam yang hilang kalah oleh AS, yang tidak hanya menemukan, tapi juga mengambil kapal selam mereka.

CIA menyimpulkan bahwa Uni Soviet memiliki kepentingan untuk tidak mempublikasikan peristiwa itu lebih jauh. Namun CIA juga memperingatkan, "Tampaknya tak diragukan lagi bahwa Soviet akan berusaha keras untuk menggagalkan atau mengganggu misi kedua." Berarti tinggal satu pertanyaan yang tersisa: bagaimana Uni Soviet akan menanggapi misi pengambilan kedua? Gedung Putih belum mengakui hubungan resminya dengan Hughes Glomar Explorer. Apakah mungkin Angkatan Laut Soviet menembaki kapal sipil AS itu?

Pada 16 Juni 1975, Kissinger mengirim memorandum kepada Presiden Ford. Isinya, Kissinger menjelaskan bahwa Soviet sepertinya tidak akan membiarkan AS melakukan misi kedua. Sebuah kapal Soviet dikabarkan sudah di dekat lokasi itu sejak 28 Maret dan ada indikasi bahwa kapal itu akan tetap di sana. Karena itu, kapal AS itu dalam keadaan rentan. Ancaman dari reaksi yang lebih agresif dan bermusuhan juga bisa terjadi, termasuk konfrontasi langsung dengan kapal angkatan laut Soviet.

Melihat perkembangan itu, Project Azorian dihentikan. Biaya total operasinya sekitar US$ 800 juta, yang kalau dinilai dengan mata uang saat ini lebih dari US$ 3 miliar. Hughes Glomar Explorer akhirnya disesuaikan dengan cerita penyamarannya semula, yaitu untuk pengeboran laut dalam. Kapal itu lantas dijual kepada sebuah perusahaan swasta pada 2010 seharga US$ 15 juta.

www.tempo.co

Minggu, 20 April 2014

: Posted on Minggu, 20 April 2014 - 06.17

R-Han 122 adalah produk roket untuk keperluan pertahanan atau militer yang dikembangkan oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Proyek pengembangan roket pertahanan R-Han 122 ini melibatkan Balitbang Kementerian Pertahanan RI dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenriset), PT Pindad, LAPAN, Perguruan Tinggi dan pihak terkait lainnya.

Desain Roket R-Han 122. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Desain Roket R-Han 122.
Berdasarkan penelusuran di Kementerian Pertahanan, ide produksi roket dalam negeri mulai tercetus tahun 2007. Saat itu Kemenristek membentuk Tim D-230 untuk mengembangkan penelitian roket hulu ledak berdiameter 122 milimeter dengan jarak jangkau 20 kilometer. Prototipe roket D-230 itu dibeli Kementerian Pertahanan yang menggandeng PT Pindad Indonesia, untuk memperkuat program 1.000 roket. Roket R-Han 122 merupakan pengembangan dari roket sebelumnya, yaitu D-230 tipe RX 1210 yang dikembangkan oleh Kemenristek dengan kecepatan maksimum 1,8 mach yang uji coba peluncurannya berlangsung mulus.

Roket R-Han 122 ini merupakan hasil kerjasama yang sinergi antara Balitbang Kementerian Pertahanan RI dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenriset), PT Pindad, LAPAN, Perguruan Tinggi dan pihak terkait lainnya. Selanjutnya melakukan integrasi roket dengan penambahan warhead (hulu ledak) sehingga roket berfungsi sebagai senjata yang memiliki daya ledak yang optimal dengan sasaran darat ke darat dengan jarak tembak antara 11-14 km. Dengan adanya integrasi prototipe roket warhead ini, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai Alutsista TNI yang selama ini masih tergantung dari luar negeri.

Proses Pembuatan Roket R-Han 122

Saat memasuki bisnis massal, pemerintah membentuk Konsorsium Roket Nasional dengan ketuanya adalah Bapak Sonny Ibrahim sebagai Ketua Program Roket Nasional PT DI yang menjelaskan bahwa rencana pembuatan roket secara massal sebenarnya sudah ada sejak 2005. Namun, baru dikembangkan roket D-230 pada 2007 hingga terbentuk konsorsium tersebut. Konsorsium itu beranggotakan sejumlah industri strategis yang mengerjakan bermacam komponen roket. Selain digunakan sebagai sistem pertahanan juga akan digunakan sebagai penelitian satelit.

Dalam konsorsium tersebut terdapat PT Pindad yang mengembangkan launcher dan firing system dengan laras 16/ warhead dan mobil launcher (hulu ledak). Kemudian PT Dahana menyediakan propellant. PT Krakatau Steel untuk mengembangkan material tabung dan struktur roket. PT DI membuat desain dan menguji jarak terbang. Pendukung lainnya seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika turut mendukung dengan menyediakan alat penentu posisi jatuhnya roket. ITB turut menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar saat roket tiba di sasaran. Demikian halnya dengan UGM Yogya, ITS Surabaya, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Suryadharma, Universitas Negeri 11 Maret dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya yang terlibat dalam proses pembuatannya.

Roket R-Han 122, Uji Coba Penembakan. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Roket R-Han 122, Uji Coba Penembakan.
Proses Riset Roket R-Han 122

Pembuatan roket militer ini cukup menarik, karena para periset beberapa kali melakukan uji coba hingga menemukan kesempurnaan pada roket R-Han 122. Pada awalnya, tahun 2003 silam periset menggunakan ketebalan baja 1,2 mm, tetapi kemudian produk tersebut justru cepat jebol. Maka dari itu, mulai diperbaiki sistem isolasi termal. Saat roket meluncur sempurna dibutuhkan suhu 3000 derajat celcius. Pembakaran itu bisa berakibat fatal, apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Oleh karena itu, di ruang isolasi termal diberi karet atau polimer yang bisa menghambat panas. Untuk materialnya, dipilih bahan ringan, yakni aluminium, agar bisa menghambat panas. Sehingga termalnya dapat bekerja dengan cukup baik, dan roket itu pun akhirnya dapat terbang tepat sasaran serta tidak pernah rusak selama uji coba.

Serangkaian uji coba roket itu, untuk melihat kemampuan strategis yang dimiliki oleh industri pertahanan dalam negeri kita dalam menguasai ilmu peroketan. Banyak negara maju yang sudah menguasai ilmu tersebut, namun enggan membagi karena dinilai sangat strategis. Maka dari itu, Pemerintah berusaha mengadakan penelitian dan mengembangkan kemampuan yang ada guna menguasai teknologi tersebut untuk kepentingan nasional kedepannya. Uji coba ini adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan teknologi dibidang roket. Pemerintah bersama dengan industri strategi bersinergi dalam hal ini untuk mengembangkan roket.

Pengembangan Roket R-Han 122

Dalam pengembangannya, Indonesia harus mandiri dalam penelitian dan rekayasa teknologi di bidang pertahanan negara sebagai pemacu para peneliti Indonesia. Oleh karena itu, Roket berkaliber 122 mm ini terwujud yang rencananya akan ditempatkan sebagian besar di KRI (kapal-kapal perang RI). Tak ketinggalan juga, Armed yang menjadi bagian dari institusi TNI Angkatan Darat dilibatkan dalam penggunaan senjata ini karena fokus sasarannya adalah sasaran darat. Roket R-Han 122 ini juga dikembangkan dalam rangka mengurangi ketergantungan pengadaan dari luar negeri dengan memberdayakan potensi dan kemampuan industri pertahanan dalam negeri.

Selama ini menurut Menhan, Indonesia masih membeli roket dari Amerika Serikat. Tapi kemudian, "Dengan harga satu roket R-Han 122 membutuhkan dana Rp 75 juta yang artinya untuk 500 roket dibutuhkan Rp 37,5 miliar akan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli dari luar negeri yang harganya mencapai 110 juta rupiah per roket," jelas Menhan seraya menambahkan bahwa 500 roket tahap awal ini merupakan bagian dari 1.000 roket yang ditargetkan. Idealnya kebutuhan roket untuk peralatan pertahanan RI lebih dari 500 unit.

Sebanyak 750 roket diselesaikan pembuatannya pada tahun 2013 dan jika tidak ada halangan program ini akan selesai pada 2014 mendatang dalam program produksi 1000 roket pertahanan untuk TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut.

Menyinggung apakah roket R-Han 122 hasil karya anak bangsa ini akan dijual ke luar negeri, Menhan mengatakan, suatu produk bila sudah teruji baru dipasarkan. "Untuk saat ini R-Han 122 dipakai sendiri," katanya seraya menggarisbawahi, Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas membutuhkan sistem pertahanan yang lebih baik untuk mempertahankan wilayahnya terutama wilayah perbatasan.

Dengan produksi mandiri ini, maka negara-negara lain tidak akan mudah meremehkan produksi hasil karya putera bangsa Indonesia sehingga meningkatkan detterence / efek gentar yang dimiliki oleh TNI. Pada akhirnya kerjasama ini diharapkan mampu memperkuat kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Spesifikasi Prototipe R-Han-122 :
  • Diameter : 122 mm (R-Han-122)
  • Speed : 1.8 mach
  • Range : 14 km (R-Han-122 Single-Stage), 19 km (R-Han-122 Double-Stage)
Majalah Palagan

Sabtu, 19 April 2014

: Posted on Sabtu, 19 April 2014 - 07.48

Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) dikabarkan tengah memilih 5 produk jet tempur multi-peran dari 5 pabrikan berbeda untuk menggantikan 18 unit pesawat jet tempur MiG-29N Fulcrum yang selama ini menjadi tulang punggung kekuatan tempur TUDM. Untuk keperluan tersebut, pemerintah Malaysia diperkirakan harus menyediakan dana sebesar US.$ 1,8 miliar yang setara dengan RM 6 miliar.

MiG-29N Fulcrum Tentera Udara Diraja Malaysia. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
MiG-29N Fulcrum Tentera Udara Diraja Malaysia.
Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) saat ini sedang memilih kandidat jet tempur baru sebagai pengganti armada 18 jet tempur Mikoyan MiG-29N Fulcrum buatan Rusia. Berkaitan dengan hal ini, negeri jiran tersebut dikabarkan segera membuka tender untuk pengadaan pesawat tempur multi-peran bagi beberapa perusahaan dirgantara pertahanan.

Sumber dari sebuah perusahaan pertahanan mengatakan bahwa Malaysia akan segera menerima proposal dari mereka meskipun Menteri Pertahanan Hishammuddin Hussein telah menyatakan bahwa Malaysia belum membuat keputusan tentang apakah akan melakukan penggantian pada armada jet tempur MiG-29N yang kini menjadi tumpuan kekuatan tempur TUDM itu

Dengan biaya rata-rata sekitar US.$ 100 juta (RM 322 juta) per pesawat lengkap dengan peralatan pendukung, pemeliharaan, dan pelatihan, maka biaya untuk 18 unit jet tempur baru kemungkinan akan mencapai sekitar RM 6 miliar, kata sumber tersebut.

Pada Maret tahun lalu, Malaysia telah mempertimbangkan lima produk jet tempur sebagai pengganti potensial untuk armada MiG-29N, yaitu Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, Boeing F/A-18E/F Super Hornet, Sukhoi Su-30 Flanker C, dan Saab JAS-39 Gripen.

www.malaysiakini.com

: Posted on - 02.46

Kapal Perusak Kawal Rudal 105 (PKR-105)/Frigate adalah produk dari program nasional yang diprakarsai Kementerian Pertahanan untuk menghasilkan kapal perang produksi Indonesia. Awalnya program ini bertujuan untuk mendapatkan model dasar untuk pengembangan kapal perang jenis korvet. Namun setelah melalui proses yang berliku dan berkepanjangan, arah program ini justru melompat untuk menghasilkan kapal perang jenis Frigate yang dikenal dengan sebutan PKR-105 atau sebutan lainnya adalah Perusak Kawal Rudal 105 (PKR-105)/Frigate. Kapal ini mengambil desain dasar dari kapal perang korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach).

PKR SIGMA 10514. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
PKR SIGMA 10514.
PT PAL Garap 3 Kapal Perusak Rudal Pesanan TNI AL.

Proses pembangunan kapal Perusak Kawal Rudal 105 (PKR-105)/Frigate nomor 1 di PT PAL dimulai, Rabu (16/4/2014). Kapal PKR-105 ini merupakan kapal pertama dari 3 unit yang dipesan Kementerian Pertahanan untuk melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL. Pembangunan PKR-105 ini ditandai dengan peletakan lunas (keel laying) sebagai dasar kapal di divisi kapal perang PT PAL.

Peletakan lunas dilakukan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Marsetio, Direktur Utama PT PAL, Firmansyah Arifin, Kepala Badan Sarana Pertahanan (Baharahan) Kementerian Pertahanan Laksamana Muda TNI Rachmad Lubis, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd F de Zwaan, dan Managing Director Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Hein Van Ameijden.

Kehadiran pihak Belanda ini karena proyek pembuatan kapal yang per unitnya ditaksir 220 juta dolar AS tersebut, karena Kementerian Pertahanan memesannya ke perusahaan DSNS. Tapi oleh perusahaan galangan kapal Belanda itu, pihaknya menggandeng PT PAL untuk mendukung pembangunan kapal-kapal ini. Dengan sistem Transfer of Technologi. "Pembangunan kapal ini dibagi menjadi enam modul atau bagian. Dikerjakan bersama DSNS dengan rincian, empat modul dikerjakan di Surabaya dan dua modul dikerjakan di Vlisingen, Belanda," jelas Marsetio.

Ditargetkan dua modul yang dirakit di Belanda, pada Maret 2015 sudah datang ke PT PAL untuk dirakit menjadi satu dengan empat modul yang lain, dan selesai dibangun. Dirut PT PAL Firmansyah Arifin menambahkan dengan kegiatan Transfer of Technologi ini, pihaknya sudah mengirim 75 teknisi ke Belanda. "Dengan langkah ini memperkuat kami sebagai lead integrator matra laut. Dan kami siap menyelesaikannya secara tuntas sebagai kapal buatan Indonesia," ungkap Firmansyah.

Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd F de Zwaan, mengatakan pihaknya mendukung enuh kerjasama alih teknologi dengan PT PAL ini. Menurutnya Indonesia perlu melakukan revitalisasi industri strategis, salah satunya kapal perang ini.

Kapal PKR-105 ini memiliki panjang 105 meter dengan dilengkapi peluncur rudal antikapal permukaan, antiserangan udara, torpedo, dan perangkat perang elektronik. Kapal ini akan dilengkapi helikopter yang membawa torpedo.

www.tribunnews.com

Selasa, 15 April 2014

: Posted on Selasa, 15 April 2014 - 07.50

4 unit helikopter tempur AH-64 Apache buatan Boeing Integrated Defense Systems dikabarkan siap untuk ditampilkan pada HUT TNI tanggal 5 Oktober 2014 mendatang. 4 helikopter tempur AH-64 Apache tersebut merupakan sebagian dari total 8 unit helikopter sejenis yang sudah dipesan pemerintah Indonesia sejak tahun 2013 lalu.

Helikopter Tempur AH-64 Apache. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Helikopter Tempur AH-64 Apache.
4 AH-64 Apache Pesanan dari AS Siap Beraksi di HUT TNI 5 Oktober Mendatang.

Indonesia sudah memesan 8 helikopter tempur AH-64 Apache dari perusahaan AS, Boeing. Rencananya, HUT TNI 5 Oktober 2014 mendatang 4 AH-64 Apache di antaranya sudah bisa beraksi. "Mereka akan mempersiapkan 4 Apache untuk dihadirkan pada HUT TNI," jelas Wamenhan Sjafrie Sjamsuddin di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (14/4/2014).

Menurut Sjafrie, nantinya heli AH-64 Apache itu juga sudah bisa digunakan untuk latihan perang operasi Garuda TNI AD. "2 Heli utama dan 2 heli pendukung," tambahnya.

Kepastian soal kedatangan heli ini didapatkan saat Sjafrie bertemu pihak Boeing di Defence Services Asia 2014 yang digelar 14-17 April di Malaysia.

AH-64 Apache ini dipesan pada 2013 lalu. Dan akan diserahkan secara bertahap ke Indonesia. Tahap awal 4 AH-64 Apache lebih dahulu.

news.detik.com

: Posted on - 04.35

Untuk menghindari kemungkinan baku tembak dengan kelompok sipil bersenjata di Papua, Kodam XVII/Cenderawasih meminta disediakan beberapa peralatan pengintai kepada Mabes TNI AD di Jakarta. Beberapa peralatan pengintai yang diminta oleh pihak TNI AD Kodam XVII/Cenderawasih di Papua diantaranya adalah Flapping Bird dan Unmanned Aerial Vehicles Autopilot, Selain itu mereka juga minta dikirimkan perangkat VHF dan Open Base Transceiver Station (BTS).

Pesawat UAV Rancangan Universitas Surya. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Pesawat UAV Rancangan Universitas Surya.
Hindari Baku Tembak, TNI AD Gunakan Alutsista Pengintai.

Kepala Staf TNI AD Jenderal Budiman mengatakan, sudah ada permintaan alutsista hasil pengembangan bersama Universitas Surya itu, dari Panglima Kodam XVII/Cenderawasih (Pangdam) Mayjen TNI Christian Zebua. "Kodam XVII sudah meminta alat-alat baru ini beberapa buah, Kodam perbatasan minta VHF dan Open Base Transceiver Station (BTS)," terang Budiman, di Mabes AD, Jakarta, Senin (7/4/2014).

Tak hanya 2 alat itu, Budiman juga mengatakan ada permintaan alat lain seperti flapping bird (alat berbentuk burung yang berfungsi mengintai dan memantau situasi daerah) dan Unmanned Aerial Vehicles Autopilot atau pesawat tanpa awak. "Alat yang digunakan topografi itu untuk survailance (pengawasan) di daerah tertentu dengan teknologi, maka akan lebih tahu pergerakan musuh," jelas Budiman.

Rektor Universitas Surya Profesor Yohanes Surya juga menjamin kualitas alutsista yang dikembangkannya bersama TNI AD. Menurutnya, alat ini tak kalah dengan kualitas alutsista militer asing. "Ambil contoh pembuatan nano satelit. Hanya ada beberapa negara yang mampu membuat. (Alutsista kita) pasti bisa bersaing," ujar Yohanes.

Sempat terjadi baku tembak antara aparat keamanan dengan sekitar 40 anggota kelompok sipil bersenjata di Papua. Korban dilaporkan berjumlah 3 orang yang diduga sebagai anggota kelompok sipil bersenjata. Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua mengatakan, 1 korban di antaranya tewas dan 2 lainnya belum diketahui kondisinya.

Anggota Intelijen Kodim 1701/Jayapura Serma Tugino menjadi korban baku tembak ini. Kini ia masih dirawat di Rumah Sakit TNI Marthen Indey, Aryoko, Kota Jayapura, Papua. Kapolresta Jayapura AKBP Alfred Papare juga menjadi korban, namun tidak mengalami luka serius.

news.liputan6.com

Senin, 14 April 2014

: Posted on Senin, 14 April 2014 - 06.04

TNI sebaiknya terlebih dulu melengkapi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sesuai kekuatan pokok minimal (minimum essential forces/MEF) sebelum membentuk Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan). Hal tersebut menjadi himbauan Anggota Komisi I DPR Susaningtyas Kertopati dan analis militer dari Universitas Indonesia Andi Widjajanto kepada pihak Markas Besar Tentara Nasional Indonesia.

Helikopter Tempur AH-64 Apache. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Helikopter Tempur AH-64 Apache.
Persiapkan Alutsista Sebelum Bentuk Kogabwilhan.

Markas Besar Tentara Nasional Indonesia diminta mempersiapkan alat utama sistem persenjataan dan prajurit yang handal, sebelum membentuk Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan). Menurut Anggota Komisi I DPR Susaningtyas Kertopati, TNI harus terlebih dulu mempersiapkan alutsista sesuai dengan kekuatan pokok minimal (minimum essential forces/MEF). "Selain itu, sumber daya manusianya serta pola kerja dalam sistem pertahanan harus benar-benar siap," kata Susaningtya, Selasa (8/4/2014).

Ia mengingatkan, TNI juga harus secara integral menyiapkan teknis pembentukan Kogabwilhan. Baik dalam konteks kewilayahan maupun politik anggarannya. "Jangan sampai anggarannya tak cukup," kata politisi Partai Hanura ini.

Susaningtyas berharap pembentukan Kogabwilhan akan meningkatkan soliditas tiga matra TNI. "Karena jujur saja selama ini, hasil latihan gabungan yang sering dilakukan TNI, tak memperlihatkan adanya koordinasi yang baik di tataran implementasi," ujarnya.

Pemerhati pertahanan dari Universitas Indonesia Andi Widjajanto menilai butuh suatu penyiapan organisasi, personel, maupun alutsista yang memadai. "Organisasi yang harus disiapkan semestinya bersifat gabungan dan senantiasa memperhatikan kondisi geografis," katanya.

Dia berharap persoalan alutsista harus segera diselesaikan dulu sebelum Kogabwilhan dibentuk. "Jangan sampai organisasi baru itu dibentuk hanya demi merespon masalah banyaknya perwira tanpa jabatan yang dewasa ini melanda organisasi militer Indonesia," bebernya.

Menurutnya, kalau pembentukan Kogabwilhan hanya mengandalkan pada kuantitas dan kualitas alutsista yang tersedia saat ini, diprediksi tidak akan banyak menambah dampak penangkalan sebagaimana yang diharapkan. Namun terlepas dari itu, Andi berharap pembentukan Kogabwilhan penting untuk menjamin adanya integrasi operasional antara tiga angkatan. Intergasi itu diukur dari kemampuan integratif sistem pertahanan, satuan-satuan tempur, fungsi dukungan tempur, dan intelijen tiga angkatan untuk menggelar operasi militer bersama secara efektif. "Integrasi operasional ini akan sangat ditentukan oleh suatu komando tugas gabungan yang akan mengembangkan kemampuan taktikal gabungan yang akan digelar dalam suatu kampanye militer," jelasnya.

www.jpnn.com

Jumat, 11 April 2014

: Posted on Jumat, 11 April 2014 - 08.58

Pesawat jet tempur F-16 Fighting Falcon TNI AU berhasil memaksa mendarat pesawat terbang asing. (Force Down) jenis SE30 di Pangkalan Udara (Lanud) Soewondo, Medan. Aksi paksa mendarat pesawat asing oleh jet tempur F-16 TNI AU tersebut terjadi pada Kamis 10 April 2014. Pesawat asing itu diterbangkan oleh seorang pilot bernama Hainz Pieter.

Pendaratan paksa pesawat asing. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Pendaratan paksa pesawat asing.
Pesawat Warga Asing Dipaksa Turun di Medan.

Sebuah pesawat jenis SE30 nomor N54JX berwarna merah dipaksa turun di Pangkalan Udara (Lanud) Soewondo, Medan, Kamis (10/4/2014). Pesawat yang diduga milik warga negara Swiss itu dipaksa turun karena dinilai tidak mengantongi izin terbang melintasi wilayah udara Indonesia. "Dia masuk wilayah kita tanpa izin, makanya disuruh turun," ujar Pangkosek Hanudnas III Medan Marsekal Pertama TNI Sungkono di Lanud Soewondo, Medan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, pilot yang bernama Hainz Pieter ini terbang dari Kolombo menuju Singapura. Namun sampai di wilayah Meulaboh, Aceh, pesawat itu dipaksa turun oleh F16 milik TNI karena tidak mengantongi izin terbang atau flight clearance.

Pesawat SE30 yang memiliki baling-baling di bagian moncong itu dikawal oleh pesawat F16 milik TNI, hingga akhirnya mendarat di Lanud Soewondo.

Saat berada di eks Bandara Polonia tersebut, sang pilot dipaksa untuk memperlihatkan barang bawaannya. Hingga kini, pilot masih dimintai keterangan di ruangan kantor Lanud Soewondo.

regional.kompas.com

: Posted on - 06.42

Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia telah tiba di tanah air pada Kamis 10 April 2014 pagi. Pesawat Kepresidenan yang baru pertama kali dimiliki oleh Indonesia ini mendarat di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma dan disambut oleh beberapa pejabat negara, para petinggi TNI AU, dan Presiden Boeing Asia-Pasifik, Ralph Boyce. Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia ini merupakan jenis pesawat Boeing Business Jet II (BBJ II) berbasis Boeing B-737-800.

Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia.
TNI AD Kembangkan Drone dan Satelit Buatan Sendiri.

Setelah 69 tahun merdeka, akhirnya Indonesia memiliki pesawat resmi kepresidenan. Selama ini pemerintah Indonesia biasanya menyewa pesawat dari PT Garuda Indonesia atau menugaskan Skuadron Udara 17 VIP atau Skuadron Udara 45 TNI AU untuk menerbangkan presiden, wakil presiden, dan rombongan ke manapun tujuan. Pesawat terbang kepresidenan baru Indonesia itu telah mendarat mulus di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (10/4/2014) pagi. Pesawat ini terbang dari pabriknya, di Everett, Georgia, Amerika Serikat, dan sempat singgah di Honolulu, Hawaii. Merupakan seri Boeing Business Jet 2, pesawat terbang kepresidenan Indonesia ini memakai Boeing B-737-800 sebagai basis dasar dengan perubahan mendasar di sana-sini, sesuai pesanan; di antaranya ruang rapat, ruang istirahat, kamar mandi (jika diperlukan), fasilitas komunikasi dienkripsi, dan lain sebagainya.

Penyambutan khusus pesawat kepresidenan berkelir dominan biru muda-putih bergelombang itu sangat meriah. Hampir semua pejabat penting nasional datang, termasuk Presiden Boeing Asia-Pasifik, Ralph Boyce, yang khusus datang ke Jakarta untuk itu. Seorang penerbang senior TNI AU yang pernah berdinas sebagai penerbang VIP pada masa pemerintahan KH Abdurahman Wahid, berujar, "Pesawat terbang kepresidenan baru itu memang khusus dan menerbangkan dia juga menempuh prosedur dan penanganan khusus."

Boeing B-737-800 Boeing Business Jet 2 sebagai pesawat terbang kepresidenan itu sebetulnya telah dipesan sejak empat tahun lalu. Beberapa kali perundingan dengan Boeing dilakukan, termasuk soal interior, kelengkapan-kelengkapan khusus super VIP, dan terutama aspek keamanan komunikasi dan "pertahanan udara" mengingat yang dibawa adalah kepala negara/kepala pemerintahan yang juga lambang negara.

Saat mendarat, yang mendapat kehormatan menerbangkan dia secara ferry dari Amerika Serikat ke Jakarta adalah Komandan Skuadron Udara VIP 17, Letnan Kolonel Penerbang Aligusman, dan Letnan Kolonel Penerbang Firman Wira Yudha. Keluar dari kokpit dan menuruni tangga utama, mereka tampil dalam cover all penerbang hijau dengan badge khusus Indonesian Air Force di bahu kiri. "Menerbangkan BBJ 2 ini sebetulnya sama saja dengan Boeing B-737-800 lain. Cuma ada perbedaan pada beberapa perangkat khususnya," kata Aligusman.

Menyimak bentuk fisiknya, sepintas tidak ada yang istimewa dalam tampakan mata. Kalaupun mata jeli melihat, itu adalah lingkar engine cowling depan yang dilapis krom, demikian juga leading edge sayap utamanya. Jika terkena sinar matahari, akan berkilauan… indah juga. Pada ujung nose fuselage di bawah kokpit, warna biru tua semburat menjadi titik perhatian, karena bagian di bawah cungkup itu terletak radar utama pesawat terbang. Biasanya, bagian itu dicat khusus berwarna hitam atau kelabu; cat ini harus khusus karena bertugas meneruskan pancaran gelombang elektromagnetik radar.

Di bagian fuselage Boeing B-737-800 itu, ada beberapa piranti yang tidak akan dijumpai pada pesawat serupa yang lain. Ada "tonjolan-tonjolan" instrumen khusus yang mirip penampakan kamera sirkuit tertutup. Menurut beberapa laman penerbangan, itulah di antara sekian banyak piranti pertahanan diri, dinamakan Missile Antiapproach System. Mekanisme kerjanya mirip dengan lontaran chaff pada pesawat tempur. Ada lima titik lokasi sistem pertahanan ini pada fuselage BBJ 2 for Governmental VIP Flight (ini nama resmi yang diberi Boeing untuk pesanan Indonesia). Beberapa sumber menyatakan, operasionalisasi piranti ini akan sangat rahasia dan diperlukan otorisasi tersendiri.

Sesuai dengan namanya, pesawat terbang ini memiliki kekhususan dalam sistem kendali dan avionika. Salah satu pilot dari Skuadron Udara 17 VIP yang ditugaskan belajar menerbangan BBJ 2 itu di Pusat Pendidikan Boeing, di Miami, selama beberapa bulan, menyatakan, pesawat terbang kepresidenan ini bisa diterbangkan dalam keadaan totally blind. Artinya, dia bisa mendarat dan lepas landas semata-mata dikendalikan intsrumen penerbangan secara otomatis. "Sejak pesawat itu touch down hingga berhenti di tempat yang telah ditentukan, pilot bisa menyerahkan pada sistem kendali itu. Namun tetap, peran pilot sangat menentukan dan kami tetap dilatih serius tentang itu," kata penerbang itu.

Dikarenakan BBJ 2 yang masih memakai nomor registrasi penerbangan N454BJ (registrasi Amerika Serikat) dan akan diserahkan kepada TNI AU pada pertengahan April ini untuk tugas kepresidenan, maka sistem komunikasi dan keamanan komunikasi menjadi aspek pokok. "Dari awal penerbangan ke Jakarta dari Amerika Serikat kami bisa memakai internet, telefon seluler, jejaring sosial, hingga WiFi. Sangat mudah mengoperasikannya. Ini kelengkapan penting," kata Yudha.

Tentang BBJ 2 yang dipesan dengan harga total sekitar Rp820 miliar itu, Boyce menyatakan, "Kami berterima kasih atas kepercayaan Indonesia pada produk Boeing yang telah teruji ini. Kami harap kepercayaan ini bisa semakin meningkat dan membawa kebaikan." Dia menyatakan, banyak kekhususan fasilitas yang diimbuhkan pada pesawat terbang dengan dua mesin jet CFM International CFM56-7 yang irit bahan bakar minyak itu.

Terdapat dua ruang berstandar kelas VVIP Class (State Room), empat ruang pertemuan kelas VVIP, 12 area eksekutif, serta 44 area staf, yang bisa diterbangkan hingga ketinggian maksimum sekitar 41.000 kaki dari permukaan laut pada kecepatan maksimum sekitar 0,85 Mach (548 mph alias 876 km/jam). Namun kecepatan optimal ekonomisnya ada pada kisaran 0,785 Mach agar bisa terbang sejauh 4.620 mil laut alias 8.556 kilometer dari bandar udara keberangkatan dengan 61 kursi ditambah dua kursi pilot-in-command dan kopilot. Kemampuan terbang secara ekonomis ini dipandang Boeing sebagai salah satu kunci penting sehingga rancangan bentuk dan material winglet berukuran di kedua ujung sayap utamanya dilakukan secara khusus.

Jika terbang keluar negeri --terutama-- selama ini menyewa pesawat terbang badan lebar PT Garuda Indonesia, yang harus diubah interiornya untuk sementara waktu. Paling tidak memerlukan waktu sepekan di Garuda Maintenance Facility, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, untuk mengubah interior dan sistem-sistem lain dari konfigurasi standar ke konfigurasi khusus kepresidenan. Untuk mengembalikan lagi ke konfigurasi standar --misalnya Airbus A-300 series-- memerlukan waktu sekitar itu juga plus hari kunjungan keluar negeri itu sendiri. Lama dan mahal.

Dalam penerbangan ferry Amerika Serikat-Jakarta sejak 6 April lalu itu, BBJ 2 kepresidenan Indonesia ini singgah di beberapa tempat, di antaranya Sacramento, Honolulu, dan Guam. Dari Guam inilah dia langsung terbang ke hanggar tetapnya di Skuadron Udara 17 VIP TNI AU, di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Alasan pemilihan warna biru pesawat kepresidenan.

Pemilihan warna biru pada pesawat kepresidenan antara lain dilakukan karena alasan keamanan, kata Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi. "Biru berarti warna kamuflase karena sama dengan langit," katanya tentang pesawat kepresidenan yang baru tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Warna biru pesawat kepresidenan, menurut dia, juga mirip dengan warna kebanggaan TNI Angkatan Udara, yang selanjutnya akan mengoperasikan pesawat tersebut. Menurut dia, selama proses pembuatan Sekretariat Negara selaku pemesan pesawat diberi 14 alternatif pilihan warna. Ia mengatakan Sekretariat Negara melibatkan sejumlah pakar termasuk, desainer dari TNI Angkatan Udara, untuk memilih warna pesawat. Sudi juga mengatakan bahwa pesawat baru kepresidenan itu akan segera disertifikasi oleh Kementerian Perhubungan. "Minggu depan akan mulai diujicobakan," ujarnya.

Ia menjelaskan pula bahwa proses pembelian pesawat kepresidenan itu transparan dan akuntabel serta melibatkan banyak pihak termasuk Badan Pemeriksa Keuangan dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan.

www.antaranews.com

Selasa, 08 April 2014

: Posted on Selasa, 08 April 2014 - 07.59

15 riset alat utama sistem persenjataan (alutsista) tengah dikerjakan oleh TNI AD bekerjasama dengan Surya University. Kerjasama pengembangan teknologi pertahanan antara Universitas Surya dan TNI AD ini merupakan usaha untuk pemenuhan secara mandiri akan kebutuhan alutsista untuk TNI dan mengurangi ketergantungan pembelian persenjataan dari luar negeri.

Gyrocopter Surya University. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Gyrocopter Surya University.
TNI AD Kembangkan Drone dan Satelit Buatan Sendiri.

TNI Angkatan Darat dan Surya University telah melakukan kerjasama untuk mengembangkan 15 teknologi alat utama sistem senjata (alutsista). Kerjasama pengembangan teknologi itu diharapkan mampu mengurangi ketergantungan negara dalam pengadaan alutsista dari negara lain. Kepala Staf TNI AD Jenderal Budiman mengatakan, proses pengembangan teknologi ini sudah berjalan sejak enam bulan terakhir. Riset yang dilakukan TNI AD dan Universitas Surya itu meliputi nano satellite, gyrocopter, UAV (Unmananned Aerial Vehicles) autopilot atau pesawat tanpa awak (drone), simulasi tembak laser, dan GPS Tracking System APRS (Automatic Package Reporting System). "Dengan memproduksi sendiri, banyak keuangan negara yang kita hemat. Ini perkembangan Litbang TNI dengan Universitas Surya untuk mendorong para prajurit mengembangkan dan untuk memperbesar hasil," kata Budiman saat peluncuran hasil riset alutsista di Mabes TNI AD, Senin (7/4/2014).

Budiman menjelaskan, salah satu kelebihan pengembangan teknologi alutsista adalah Indonesia dapat memproduksi alat dengan harga relatif jauh lebih murah. Ia mencontohkan, teknologi GPS Tracking System APRS hanya menghabiskan anggaran sekitar Rp 5 juta. Adapun harga peralatan impor mencapai Rp 500 juta. "Kalau produksi sendiri kita bisa menghemat hingga seperseratus dari harga beli dari luar," ujarnya.

Selain dari sisi harga, keuntungan lainnya adalah meminimalkan kemungkinan penyadapan terhadap alutsista tersebut. Pengembangan teknologi Indonesia ini juga dapat menghindari pembelian peralatan yang mungkin berkualitas lebih rendah dari harga sebenarnya. "Risiko kalau kita beli di luar, pasti alat terhebatnya dipakai sendiri. Layer kedua dia berikan kepada sekutunya dan layer ketiga baru diberikan kepada kita," katanya.

Sementara itu, Rektor Surya University Prof Yohanes Surya mengatakan, sejak awal pihaknya menyambut baik niat TNI AD yang ingin melakukan pengembangan terhadap alutsista miliknya. Ia menuturkan, pada tahun 2010, hanya ada sekitar 13 teknologi asal Indonesia yang dipatenkan secara internasional. Hal itu sangat jauh jika dibandingkan dengan produk Korea Selatan (10.446), China (16.403), dan Amerika Serikat (48.896).

Ia mengatakan, sebetulnya Indonesia memilih banyak ahli atau pakar teknologi. Namun, karena kurangnya perhatian dari pemerintah, maka tidak sedikit dari mereka yang akhirnya justru memilih untuk tinggal di luar negeri. "Ambil contoh pada riset pembuatan nano satellite. Kita punya ahli yang hebat dan bahkan kita sudah sejajar dengan negara-negara tertentu," katanya.

Ia berharap, melalui kerja sama ini maka terjadi proses transfer teknologi dari universitas ke TNI AD. Menurutnya, tentara dapat dilatih untuk belajar membuat satelit kecil tersebut dari nol. Prajurit bahkan bisa merakit, menyolder, membuat program elektronika, membuat program komputer sampai membuat wadah nano satellite sendiri.

nasional.kompas.com

: Posted on - 03.39

Sejumlah radar udara militer baru saat ini sedang direncanakan pengadaannya oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Rencana pengadaan atau pembelian 4 hingga 6 unit sistem radar udara militer baru ini adalah untuk makin meningkatkan kemampuan TNI AU dalam pemantauan wilayah udara nasional.

Radar TNI AU. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Radar TNI AU.
TNI Akan Beli Radar Udara Baru.

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia terngah merencanakan membeli sejumlah radar udara militer baru untuk menambah alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang sudah dimiliki Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara saat ini. "Iya kami berencana beli 'Ground Control Interceptor Radar'," kata Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda Rachmad Lubis, kepada wartawan di kantor Kementerian Pertahanan, jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (2/4/2014).

Rachmad bersama beberapa pejabat yaitu Asisten Perencanaan Panglima TNI, Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Darat, Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Laut, Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Udara, dan Asisten Perencanaan Kapolri membahas penyusunan rencana induk pembelian alat utama sistem persenjataan TNI dan Polri untuk tahun 2015-2029. Turut hadir, pada direktur utama perusahaan alat utama sisten persenjataan (alutsista) dalam negeri seperti PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, PT LEN, dan lainnya.

Sesuai permintaan Angkatan Udara, Kementerian Pertahanan akan membeli empat sampai enam buah radar udara. Namun, Rachmad masih merahasiakan betul detail radar tersebut seperti harga dan spesifikasi kemampuan. "Kapan belinya pun juga masih dalam proses panjang," kata Rachmad.

Rachmad berharap kehadiran radar-radar baru tersebut bisa meningkatkan pemantauan wilayah udara nasional. Menurut dia, saat ini kemampuan pemantauan radar udara sudah cukup baik. Sebab, TNI Angkatan Udara telah berkoordinasi dengan radar udara sipil dari beberapa bandar udara. "Tetapi akan lebih baik kalau radarnya ditambah," kata dia.

Saat disinggung soal produsen radar tersebut, Rachmad belum mau menjawab. Menurut dia, TNI AU sebagai pihak pemohon penambahan radar tak menunjuk produsen tertentu. "Yang penting, mereka sudah sampaikan kemampuan jangkauan radarnya," kata dia.

Namun, berdasar Undang-Undang nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Strategis, harus ada perusahaan dalam negeri yang dilibatkan dalam pembuatan alutsista yang hendak dibeli. Tapi, untuk radar berkualitas tinggi, produsen industri pertahanan lokal belum bisa berbuat banyak. Walhasil. hampir bisa dipastikan radar baru untuk TNI AU bakal dipesan dari produsen luar negeri. "Tapi, kami minta PT LEN (sebagai perwakilan BUMN) dan PT CMI (sebagai perwakilan swasta) harus berkoordinasi untuk proses belajar dan alih teknologi," kata Rachmad.

www.tempo.co

Minggu, 06 April 2014

: Posted on Minggu, 06 April 2014 - 07.06

Pesawat Boeing P-8 Poseidon (Awalnya memiliki sebutan Multimission Maritime Aircraft atau MMA) adalah pesawat militer yang dikembangkan dan diproduksi oleh Boeing Defense, Space & Security untuk Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy). Pesawat ini dimodifikasi dari pesawat 737-800. P-8 didesain untuk melakukan operasi anti-kapal selam (ASW), anti penyusupan dan untuk terlibat dalam peran intelijen elektronik (ELINT).

P-8 Poseidon. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
P-8 Poseidon.
P-8 Poseidon, Pesawat Pemburu Kapal Selam Buatan Boeing.

Boeing P-8 Poseidon adalah pesawat yang digunakan untuk misi atau operasi anti-kapal selam paling baru dan canggih saat ini. Dalam kesatuan US Navy, pesawat ini menggantikan peran pesawat P-3 Orion yang sudah digunakan sejak 1950-an. Seperti apa profil dan kecanggihan pesawat ini?

Dikutip dari situs Boeing dan Flightglobal, P-8 Poseidon adalah pesawat yang awalnya diproduksi khusus untuk US Navy oleh Boeing Defense, Space, and Security. Pesawat ini merupakan modifikasi dari pesawat untuk penerbangan sipil, Boeing 737-800ER. Pesawat militer itu dikembangkan untuk beberapa tujuan utama, melakukan pemantauan dan penyerangan kapal selam maupun armada laut asing di permukaan, serta melakukan pemantauan, pengawasan, dan pengintaian untuk beragam tujuan.

Salah satu tujuan penggantian P-3 Orion dengan Boeing P-8 Poseidon sendiri adalah untuk mengurangi biaya misi serta perawatan. P-8 Poseidon dikatakan mampu membawa muatan lebih banyak, terbang di ketinggian lebih tinggi, serta menjangkau area lebih luas.
Beberapa perangkat canggih yang dimiliki pesawat sepanjang 39,47 meter ini adalah High Altitude Anti-Submarine Warfare Weapon Capability (HAAWC) serta AGM-88 Harpoon Anti-Ship Missile. P-8 Poseidon juga memiliki sensor hidrokarbon yang digunakan untuk mendeteksi uap bahan bakar kapal selam. Bisa membawa 9 awak di kabinnya, P-8 Poseidon mampu menjalankan misi selama 6 jam untuk rentang wilayah 1.100 km dan 4 jam untuk rentang wilayah 2.000 km.

P-8 Poseidon (Denah Perangkat). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
P-8 Poseidon (Denah Perangkat).
Meski lebih maju, P-8 Poseidon tetap membawa perangkat mumpuni yang sudah dimiliki P-3 Orion yang diproduksi Lockheed Martin, yaitu Magnetic Anomali Radar (MAD), perangkat yang berfungsi mendeteksi benda logam besar di kedalaman lautan, misalnya kapal selam.

P-3 Poseidon terbang perdana dalam sebuah tes pada 25 April 2009. Penerbangan untuk tujuan tes kemampuan selanjutnya dilakukan pada Agustus 2010. Produksi massal dalam jumlah terbatas sendiri dimulai sejak 4 Maret 2012. Hingga Juli 2013, sudah ada 15 unit pesawat yang dibuat. Sampai saat ini, sudah ada beberapa tipe pesawat. P-8 Poseidon yang dikembangkan untuk US Navy dinamai P-8A. Militer India memesan pesawat P-8I Neptune. RAAF juga memesan 8 pesawat tipe P-8A. Sementara Angkatan Udara AS memesan P-8 AGS untuk melakukan pemantauan daratan.

Untuk mendeteksi keberadaan benda ukuran besar berbahan logam yang tenggelam di lautan, seperti dalam usaha pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370 di kawasan Samudra Hindia beberapa waktu lalu, perangkat yang sangat berguna adalah AN/APY-10 Radar yang dibuat Raytheon Co. Radar yang ada di hidung pesawat ini mampu mendeteksi debris logam bahkan di tengah gelombang tinggi.

Pada Januari 2014, laporan Bloomberg yang mengutip sumber di Pentagon, Michael Gilmore, menyatakan bahwa pesawat dengan harga per unit sekitar 201,4 juta dollar AS (menurut laporan US Government Accountability Office pada Maret 2013) ini kurang efektif dalam pengawasan dan pengintaian kapal selam dalam area yang luas. Boeing menanggapi laporan itu dengan menyatakan bahwa pihaknya akan bekerja keras memenuhi permintaan militer. Namun, Boeing menyatakan bahwa pada dasarnya radar dan perangkat lain P-8 Poseidon sudah mumpuni, mengalahkan P-3 Orion.

Terkait laporan tersebut, US Navy sendiri belum mengubah rencananya untuk mengaplikasikan 117 P-8 Poseidon pada tahun 2019. Program mengganti P-3 Orion dengan P-8 Poseidon sendiri telah menelan dana lebih dari 30 miliar dollar AS.

Spesifikasi Pesawat P-8 Poseidon :

Karakteristik Umum :
  • Kru : Penerbangan : 2; Mission : 7
  • Panjang : 39,47 meter
  • Lebar Sayap : 37,64 meter
  • Tinggi : 12,83 meter
  • Berat Kosong : 62.730 kg
  • Max. Berat Lepas Landas : 85.820 kg
  • Powerplant : 2 unit mesin CFM56-7B turbofan, masing-masing berdaya dorong 120 kN
Kinerja :
  • Kecepatan Maksimum : 490 knot (907 km/jam)
  • Kecepatan Jelajah : 440 kn (815 km/jam)
  • Jangkauan Terbang : 1.200 nm (2.222 km) 4 jam di stasiun (Anti-kapal selam misi perang)
  • Layanan Langit-langit : 12.496 m
Persenjataan :
  • Rudal SLAM-ER, Rudal Harpoon, Torpedo Mark 54 MAKO, dan beberapa jenis bom
sains.kompas.com, wikipedia.org

Sabtu, 05 April 2014

: Posted on Sabtu, 05 April 2014 - 07.44

Sebanyak 18 unit atau 1 batalyon meriam kaliber 155 mm KH-179 buatan WIA Corporation (Korea Selatan) telah tiba di Indonesia. Meriam KH-179 ini selanjutnya akan memperkuat arsenal perang TNI AD. Informasi ini diungkap oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Budiman.

KH-179 155 mm. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
KH-179 155 mm.
TNI AD Terima 1 Batalyon Meriam KH-179 Kaliber 155 mm Buatan Korea Selatan.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Budiman menyatakan 18 unit atau satu batalyon meriam kaliber 155 mm asal Korea Selatan sudah tiba di Indonesia. "Ke-18 unit atau satu batalyon meriam 155 mm asal Korea Selatan itu sudah datang. Rencananya, alutsista akan datang secara berangsur-angsur hingga September 2014," katanya setelah membuka Kejurnas Karate Piala Kasad di Gedung Celebes Convention Centre (CCC) Makassar, Jumat (4/4/2014).
(Sumber: ANTARA, Jumat, 4 April 2014 14:08 WIB)

Dengan akuisisi 18 unit meriam KH-179 produksi perusahaan WIA Corporation (eks KIA Machine Tool Company) asal Korea Selatan ini tentu saja makin memperkuat kemampuan tempur TNI AD. Meriam KH-179 dikembangkan sejak tahun 1979 hingga 1982 dan merupakan pengembangan dari meriam howitzer M114A1 yang juga berkaliber 155 mm buatan perusahaan Rock Island Arsenal (Amerika Serikat).

Pada umumnya kalangan militer memobilisasi meriam KH-179 dengan mengangkutnya menggunakan helikopter CH47C Chinook atau pesawat C-130 Hercules. Melihat jenis kendaraan angkutnya, kemungkinan pembelian 1 batalyon meriam KH-179 kaliber 155 mm buatan Korea Selatan ini berkaitan dengan keinginan TNI untuk membeli helikopter CH47 Chinook yang pernah dikatakan oleh Panglima TNI Jenderal Moeldoko pada November 2013 lalu.

Material utama pada meriam KH-179 adalah baja monoblok yang memiliki daya tahan yang baik terhadap peningkatan suhu panas akibat proses penembakan sehingga laras meriam bisa memiliki usia pakai maksimal. Setidaknya dibutuhkan 5 orang personil untuk mengoperasikan meriam ini.

Meriam KH-179 bisa menggunakan 2 jenis amunisi. Sebagai meriam berkaliber 155 mm, meriam ini bisa menggunakan hampir semua jenis peluru meriam kaliber 155 mm standar NATO dan militer AS dengan jangkauan tembak hingga 22 km. Sedangkan jika menggunakan amunisi berpendorong roket, jangkauan tembak mencapai jarak 30 km.

www.antaranews.com, www.army-guide.com

Jumat, 04 April 2014

: Posted on Jumat, 04 April 2014 - 07.46

UMS Kyansitthar (F12) dan UMS Sin Phyu Shin (F14) adalah kapal perang jenis frigate dengan teknologi stealth (siluman) yang dirancang dan diproduksi oleh negara Myanmar. Sejak tahun 2010, Angkatan Laut Myanmar telah merencanakan untuk mengoperasikan kapal perang frigate yang masuk dalam jajaran Aung Zeya-Class.

UMS Sin Phyu Shin (F14). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
UMS Sin Phyu Shin (F14).
Angkatan Laut Myanmar secara resmi telah mengoperasikan kapal frigate bersenjata rudal UMS (Union of Myanmar Ship) Kyansitthar (F12) pada 31 Maret 2014. Kapal ini merupakan kapal frigate dengan karakteristik stealth (siluman) pertama angkatan laut negara ini karena kemampuannya untuk meminimalisir deteksi radar. Dua hari sebelumnya yaitu pada tanggal 29 Maret 2013, Angkatan Laut Myanmar juga telah meluncurkan kapal perang sejenis yang diberi nama UMS Sin Phyu Shin (F14).

Pengoperasian kapal perang berteknologi siluman ini menjadi langkah yang penting bagi Angkatan Laut Myanmar dimana negara ini tengah berusaha mengembangkan kemampuannya secara mandiri untuk melindungi kawasan lautnya.

Kemampuan untuk membuat kapal jenis ini menjadi perkembangan yang sangat mengesankan dari Angkatan Laut Myanmar. UMS Kyansitthar (F12) dan UMS Sin Phyu Shin (F14) dibangun di Galangan Kapal Angkatan Laut Thilawa yang berlokasi di sebelah selatan ibu kota Myanmar, Yangon. Meskipun masih dalam kelas yang sama (Aung Zeya-Class) tapi dua kapal figate siluman tersebut mengusung teknologi yang agak berbeda. UMS Kyansitthar (F12) memadukan teknologi Rusia dan China, sedangkan UMS Sin Phyu Shin (F14) lebih mengutamakan teknologi dari China.

Secara keseluruhan, Angkatan Laut Myanmar merencakan untuk membangun 6 kapal frigate kelas Aung Zeya. Hingga kini telah selesai diproduksi 3 unit kapal dan baru 2 kapal yang resmi dioperasikan yaitu UMS Aung Zeya (F11) dan UMS Kyansitthar (F12). UMS Sin Phyu Shin (F14) yang baru saja diluncurkan sedang menjalani uji laut.

Spesifikasi Kapal Perang Frigate Kelas Aung Zeya :
  • Displacement : 2.500 ton
  • Panjang : 108 meter
  • Propulsi : 4 unit mesin diesel SEMT Pielstick 16 PA6 STC 5700 kW
  • Kecepatan Maksimum : 30 knot (56 km/jam)
  • Jarak Jelajah : 3.800 mil (6.100 km)
  • Sensor dan Sistem Proses : Radar RAWL-02 Mk III L-band 2D, radar kontrol senjata Type 347G 76 mm, 2 unit Radar Navigasi Racal RM-1290, I-band SNTI-240 SATCOM
  • Perangkat Perang Elektronik dan Decoy : Radar Peringatan Dini Type 922-1 dan Sistem HZ-100 ECM & ELINT
  • Persenjataan : 8 unit Rudal Anti Kapal Kh-35, 6 unit Rudal Anti Pesawat SA-N-5, 1 unit Meriam Reaksi Cepat Oto Melara 76 mm, 4 unit CIWS AK-630 6-barrel 30 mm, Triple torpedo 324 mm YU-7 ASW, dan Peluncur Roket
  • Hangar : 1 unit Helikopter
www.janes.com, en.wikipedia.org

Kamis, 03 April 2014

: Posted on Kamis, 03 April 2014 - 04.02

MBT Leopard Revolution adalah salah satu dari varian tank tempur utama Leopard buatan Jerman yang terkenal itu. Leopard Revolution termasuk varian terbaru dan merupakan pengembangan dari varian 2A4. Dan tank tempur ini siap untuk memperkuat kesatuan TNI AD. Dengan mengakuisisi tank ini maka Indonesia menjadi negara kedua di Asia yang mengoperasikan tank Leopard yang konon menjadi MBT terbaik di dunia dan kemampuannya melebihi tank M1A1 Abrams buatan AS dan Challenger buatan Inggris.

MBT Leopard Revolution. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
MBT Leopard Revolution.
Tank Leopard Revolution, Tank Kebanggaan Bangsa Indonesia.

Tank tempur utama (MBT: Main Battle Tank) Leopard Revolution adalah salah satu varian terbaru yang merupakan pengembangan dari Leopard 2A4. Tank tempur ini diproduksi oleh pabrik persenjataan berat Jerman, Rheinmetall. MBT Leopard Revolution pertama kali diperkenalkan pada tahun 2010, dan menurut analis militer tank ini juga sering disebut sebagai Leopard 2A4 Evolution. Leopard 2A4 sendiri adalah salah satu varian Leopard 2 yang paling banyak diproduksi dan dipakai di banyak negara dalam jumlah besar.

Kemampuan.

Dari segi tampilan, memang ada perbedaan di antara kedua tank yang memang "bersaudara" ini. Yang paling jelas terlihat perbedaannya adalah pada turret (kubah) meriamnya. Leopard Revolution memiliki turret meriam yang sisinya bersudut miring dan tajam, sementara 2A4 turretnya berbentuk kotak. "Visi dan misi" kedua varian ini pun berbeda. Sang pendahulu yaitu Leopard 2A4 yang dikembangkan di era 1980-an mengangkat konsep peperangan kala itu yaitu perang terbuka melawan Blok Timur Uni Soviet di medan terbuka.

Sementara Leopard Revolution sebagai generasi tahun 2000 dirancang untuk diterjunkan pada peperangan yang pada praktiknya justru paling banyak dijalani negara-negara Barat saat ini yaitu perang gerilya dan perang kota, seperti yang dihadapi pasukan NATO di Afghanistan dan belajar dari apa yang dialami pasukan AS dan Inggris di Irak. Pada perang Teluk I, Irak memenangi perang kota walaupun harus menghadapi musuh yang besar yaitu AS dan Inggris berikut koalisinya.

Pengembangan paling nyata dari Revolution adalah pada perangkat proteksinya, yang menggunakan lapisan komposit Advanced Modular Armor Protection (AMAP). Lapisan pelindung ini terdiri
atas materi nanokeramik serta titanium dan baja alloy, yang diklaim memberikan kemampuan perlindungan yang jauh lebih baik. Karena sifatnya yang modular atau bisa dibongkar pasang, pengguna bisa memilih variasi kemampuan proteksi sesuai kebutuhan, seperti untuk menangkal granat berpeluncur roket (RPG) atau untuk peledak improvisasi (IED).

Dengan sifat modularnya itu pula, seandainya lapisan proteksi itu rusak dihajar serangan musuh, perangkat itu bisa dibongkar untuk diganti baru. Dengan tambahan lapisan proteksi itu, ada
konsekuensinya yaitu bobot tank yang bertambah hingga menjadi lebih kurang 60 ton, dibandingkan varian 2A4 yang sekitar 57 ton.

Persenjataan.

Sebagai senjata utama, Revolution menggunakan meriam yang sama dengan 2A4 yaitu meriam L44 smoothbore kaliber 120 mm. Meriam ini bisa menggunakan semua varian peluru standar NATO, dan tank ini mampu membawa amunisi sebanyak 42 butir. 15 peluru sudah dalam kondisi siap tembak tersimpan di kubah meriam (otomatis reload), sementara sisanya tersimpan di
bagian dalam bodi.

Untuk tambahan daya gempur dan pertahanan diri ringan, tank yang diawaki 4 orang ini juga dilengkapi senapan mesin berat kaliber 12,7 mm yang dioperasikan dengan remot kontrol sehingga
awak tank tak perlu muncul keluar untuk mengoperasikannya. Sepucuk senapan mesin kaliber 7,62 juga terpasang sejajar dengan meriam.

Untuk menjawab keraguan bahwa meriam bermodel smoothbore alias bagian dalam larasnya licin itu akurasinya di bawah meriam rifled bore atau laras berulir, Rheinmetall memasang sistem kendali penembakan yang lebih modern, yang mampu menjamin ketepatan menembak pada kesempatan pertama.

Mesin.

Dari segi mesin, Revolution tetap menggunakan tipe mesin yang sama dengan 2A4 yaitu mesin diesel turbocharge MTU MB837 Ka501 yang berkekuatan 1.500 hp (tenaga kuda), yang membuatnya bisa mencapai kecepatan hingga 72 km per jam di medan yang rata.

Tank Leopard-2 buatan Jerman merupakan MBT yang paling banyak digunakan oleh negara-negara di dunia (18 negara). Hal lain yang menjadi dasar perhitungan disamping harganya
murah adalah adanya jaminan dan kemudahan-kemudahan yang tidak mengikat. Dengan demikian penggunaan untuk jangka panjang tidak menjadi hambatan seperti suku cadang, proses ToT (Transfer of Technology) dalam rangka membantu BUMNIP maupun BUMNIS serta pelatihan-pelatihan.

Dengan hadirnya tank Leopard dari Jerman dalam tubuh TNI AD, otomatis kekuatan tempur TNI AD makin berotot. Dengan pembelian ini, maka Indonesia menjadi negara Asia kedua yang mengoperasikan tank yang sekelas dengan M1A1 Abrams buatan AS dan Challenger dari Inggris ini. Negara Asia lain yang mengoperasikannya adalah Singapura.

Spesifikasi MBT Leopard Revolution :
  • Panjang + Kanon : 9,67 meter
  • Lebar : 3,7 meter
  • Tinggi : 3 meter
  • Berat Tempur : 62 ton
  • Tekanan Jejak : 0,98 Kg/Cm
  • Bebas Dasar : 540 mm
  • Meriam Utama : Rheinmetall 120 mm SBG L44
  • Jarak Tembak : 3.000 meter - 4.000 meter
  • Jarak Tembak : 3.000 meter - 4.000 meter
  • Senjata Tambahan : Senapan Mesin kaliber 12,7 mm MG dan Senapan Mesin kaliber 7,62 mm MG
  • Mesin : MTU MB837 Ka501 12 Diesel Turbo Intercooler
  • Tenaga : 1.500 hp
  • PWR : 24,2 hp/ton
  • Kapasitas BBM : 1.160 Liter
  • Kecepatan Maksimum : 70 Km/Jam
  • Rintangan Tegak : 1,1 meter
  • Rintangan Miring : 30%
  • Tanjakan : 60%
  • Lintas Parit : 3 meter
  • Mengarung : 0,8 meter
  • Daya Jelajah : 450 Km
Majalah Palagan

Copyright © 2013. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara | Template by Full Blog Design | Proudly powered by Blogger
PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara