Berita Hankam, Pertahanan, Alutsista, Persenjataan, Militer, TNI, Pesawat Tempur, Kapal Perang, Kotabumi, Lampung Utara, soldiers, defense, military, weapons, combat, attack, assault, security, forces
Prokimal Kotabumi Lampung Utara




Bagikan :

Kamis, 05 Maret 2015

: Posted on Kamis, 05 Maret 2015 - 08.31 with No comments

Sejumlah kapal perang dari berbagai jenis milik TNI AL akan turut dipamerkan pada event IMDEX Asia 2015 yang digelar di Singapura pada 19 Mei 2015 hingga 21 Mei 2015. IMDEX merupakan ajang pameran pertahanan kemaritiman yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1997.

KRI Bung Tomo (357). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Bung Tomo (357).
TNI AL Boyong Kapal Perang dalam Pameran Maritim Internasional.

Pameran pertahanan maritim internasional Asia Pasifik (IMDEX) kembali digelar pada 19-21 Mei 2015. Hajatan skala dunia ini rencananya berlansung di Changi Exhibition Center, Singapura. Menjelang acara tersebut, TNI AL dipastikan ikut serta dalam pameran tersebut. TNI akan memboyong sejumlah kapal perang untuk dipamerkan dalam ajang tersebut. "Sampai saat ini Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia Laksamana TNI Ade Supandi telah memberikan konfirmasi untuk hadir dalam IMDEX Asia 2015. TNI AL Indonesia juga akan mengirimkan kapal perang jenis fregat dan kapal patroli untuk berpartisipasi dalam pameran kapal perang di IMDEX Asia," kata Managing Director Experia Events pihak penyelenggara IMDEX, Leck Chet Lam dalam konfrensi pers di Hotel Le Meredien, Jakarta, Rabu (4/3/2015).

Leck menambakan, keikutsertaan Indonesia di IMDEX patut diapresiasi. Hal ini karena TNI AL terbukti sudah mengambil langkah tepat demi memperkuat kekuatannya. "Dengan pertumbuhan pasar pertahanan maritim yang kokoh di kawasan Asia Pasifik, IMDEX Asia saat ini merupakan ajang prestisius bagi para pengunjung dan delegasi demi mengetahui lebih lanjut mengenai inovasi teknologi terkini, membangun jaringan dan membina kemitraan. Kami senang delegasi mau pun pengunjung Indonesia melihat pentingnya berpartisipasi dalam IMDEX Asia," jelas dia.

Senada dengan Leck, Profesor Emeritus Bidang Studi Maritim King College London, Geoffrey Till menekankan Indonesia sudah sepatutnya turut serta dalam IMDEX. Sebab Indonesia sesuai visi Presiden Joko Widodo disiapkan menjadi poros maritim dunia. "Indonesia dan negara lain telah melakukan jauh lebih banyak upaya di laut baik secara komersil atau militer. Mereka memahami perlunya investiasi untuk fasilitas pelabuhan, kesadaran akan daerah kekuasaan militer, basis industri militer, rekapitalisasi industri pengiriman pedagang ikan dan pembentukan penjaga pantai. Negara yang lebih berinvestasi untuk Angkatan Laut karena mereka merasa perlu untuk mempertahankan otonomi strategis mereka di dunia masa depan yang tidak begitu pasti," sebut Till.

IMDEX pertama kali diselenggarakan pada 1997. Indonesia juga berpartisipasi dalam IMDEX dalam beberapa pegerlaran sebelumnya. Pada acara IMDEX terakhir pada 2013, TNI AL mengirimkan KSAL Laksamana Laut TNI Marsetio serta Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut Laksamana Madya TNI Bambang Suwarto untuk ikut serta dalam acara besar itu.

news.liputan6.com

Rabu, 18 Februari 2015

: Posted on Rabu, 18 Februari 2015 - 07.49 with No comments

Pesawat tanpa awak (UAV) yang diduga berasal dari negara tetangga tertangkap radar ketika mencoba memasuki wilayah udara Indonesia di kawasan Ambalat. Untuk melakukan pemeriksaan secara visual, 2 jet tempur Sukhoi milik TNI AU diperintahkan memburu pesawat UAV tersebut. Namun ketika telah mencapai lokasi, pilot jet tempur tidak menemukan keberadaan pesawat UAV asing tersebut.

Sukhoi Su-30 MK2 Flanker C TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-30 MK2 Flanker C TNI AU.
Pesawat tanpa Awak dari Negara Tetangga Terdeteksi di Perbatasan Ambalat.

Setelah sembilan hari melakukan operasi patroli udara di wilayah Provinsi Kalimantan Utara, pilot Sukhoi 27 dan 30 dari Skudron 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, Selasa (9/2/2015) pukul 10.00 Wita menangkap adanya sinyal wahana asing seperti UV atau pesawat tanpa awak akan masuk wilayah Indonesia, tepatnya di wilayah perbatasan Ambalat.

Siang itu, dua pesawat buatan Rusia yang diawaki pilot Komandan Skuadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, Letkol Penerbang David Tamboto dan dua pilot Sukhoi take off dari Bandara Juwata Tarakan melakukan operasi patroli udara "Sandi Perisai Sakti 2015". Beberapa menit berpatroli di udara dengan melakukan beberapa maneuver, pilot David mendapatkan informasi dari Satuan Radar (Satrada) Tarakan, bahwa dari layar Satradar tertangkap adanya sinyal wahana asing yang masuk di perbatasan Ambalat.

Mendapatkan informasi, dua pesawat Sukhoi langsung meluncur selama 5 menit ke wilayah perbatasan Ambalat. Sampai di lokasi yang dituju, pilot Sukhoi tidak menemukan wahana asing yang berasal dari negara tetangga sekitar. "Sampai di sana, kami tidak menemukan wahana asing tersebut. Ternyata wahana asing seperti UV atau pesawat tanpa awak ini langsung menghilang," ucap David ketika tiba di Bandara Juwata Tarakan usai melakukan patroli di udara Kaltara.

David mengaku, sejak (9/2/2015) kemarin mendapatkan tugas melakukan patroli di wilayah Kaltara, pihaknya beberapa kali mendapatkan sinyal ada wahana asing yang berasal dari negara tetangga sekitar yang ingin mendekati atau memasuki wilayah perbatasan Ambalat.

kaltim.tribunnews.com

Selasa, 17 Februari 2015

: Posted on Selasa, 17 Februari 2015 - 04.02 with No comments

Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus) adalah salah satu pasukan elite yang dimiliki TNI. Di mata dunia militer, Kopassus dinobatkan sebagai salah satu pasukan elite terbaik dunia. Karena hal ini maka tak heran bahwa untuk bisa menjadi anggota prajurit Kopassus sangat tidak mudah. Hanya para prajurit pilihan yang bisa menjadi anggota pasukan elite kebanggaan Indonesia ini.

Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus).
Mengintip latihan komando Kopassus & kamp tawanan seperti neraka.

Komando Pasukan Khusus TNI AD atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kopassus telah dianggap sebagai salah satu pasukan khusus terbaik di dunia. Tidak bisa sembarangan untuk mendapatkan baret merah dan brevet komando kebanggaan korps tersebut. Para prajurit harus melewati pelatihan khusus yang nyaris melewati kemampuan batas manusia. Tahapan pertama yang harus dilalui adalah Tahap Basis, yaitu pemusatan pelatihan di Pusat Pendidikan Pelatihan Khusus, Batujajar, Bandung. Di sini para calon prajurit komando dilatih keterampilan dasar seperti menembak, teknik dan taktik tempur, operasi raid, perebutan cepat, serangan unit komando, navigasi darat dan berbagai keterampilan lain.

Selesai latihan basis, dilanjutkan dengan Tahap Hutan Gunung yang diadakan di Citatah, Bandung. Di sini para calon prajurit komando berlatih untuk menjadi pendaki serbu, penjejakan, anti penjejakan, survival di tengah hutan. Dalam Pelatihan Survival para calon Prajurit komando harus bisa hidup di hutan dengan makanan alami yang tersedia di hutan. Dengan latihan ini Para Prajurit Komando harus bisa membedakan tumbuhan yang beracun dan dapat dimakan, dan juga mampu berburu binatang liar untuk mempertahankan hidup. Tahap latihan hutan gunung diakhiri dengan long march dari Situ lembang ke Cilacap dengan membawa amunisi, tambang peluncur, senjata dan perlengkapan perorangan.

Mantan Kepala Staf TNI AD Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo membeberkan pengalamannya saat mengikuti latihan Komando Kopassus. Pramono menuliskannya dalam buku Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan yang diterbitkan QailQita Publishing tahun 2014.

Mengintip Neraka di Cilacap

Latihan terberat sudah menanti saat sampai di Cilacap. ini adalah latihan tahap ketiga yang disebut latihan Tahap Rawa Laut, calon prajurit komando berinfliltrasi melalui rawa laut. Di sini materi Latihan meliputi navigasi Laut, Survival laut, Pelolosan, Renang ponco dan pendaratan menggunakan perahu karet. Para calon prajurit komando harus mampu berenang melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan. "Latihan di Nusakambangan merupakan latihan tahap akhir, oleh karena itu ada yang menyebutnya sebagai hell week atau minggu neraka. Yang paling berat, materi latihan 'pelolosan' dan 'kamp tawanan'," kata Pramono.

Dalam latihan itu para calon prajurit komando dilepas pagi hari tanpa bekal, dan paling lambat pukul 10 malam sudah harus sampai di suatu titik tertentu. selama "pelolosan" si calon harus menghindari segala macam rintangan alam maupun tembakan dari musuh yang mengejar.

Dalam pelolosan itu, kalau siswa sampai tertangkap maka itu berarti neraka baginya karena dia akan diinterogasi layaknya dalam perang. Para pelatih yang berperan sebagai musuh akan menyiksa prajurit malang itu untuk mendapatkan informasi. Dalam kondisi seperti itu, si prajurit harus mampu mengatasi penderitaan, tidak boleh membocorkan informasi yang dimilikinya. Untuk siswa yang tidak tertangkap bukan berarti mereka lolos dari neraka. Pada akhirnya, mereka pun harus kembali ke kamp untuk menjalani siksaan.

Selama tiga hari siswa menjalani latihan di kamp tawanan. dalam kamp tawanan ini semua siswa akan menjalani siksaan fisik yang nyaris mendekati daya tahan manusia. "Dalam Konvensi Jenewa, tawanan perang dilarang disiksa, namun para calon prajurit Komando itu dilatih untuk menghadapi hal terburuk di medan operasi. Sehingga bila suatu saat seorang prajurit komando di perlakukan tidak manusiawi oleh musuh yang melanggar konvensi Jenewa, mereka sudah siap menghadapinya," tulis Pramono Edhie.

Beratnya persyaratan untuk menjadi prajurit kopassus dapat dilihat dari standar calon untuk bisa mengikuti pelatihan. nilai standar fisik untuk prajurit nonkomando adalah 61, namun harus mengikuti tes prajurit komando, nilainya minimal harus 70. Begitu juga kemampuan menembak dan berenang nonstop sejauh 2000 meter. "Hanya mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando. Peserta yang gagal akan dikembalikan ke kesatuan Awal untuk kembali bertugas sebagai Prajurit biasa," tutup mantan Danjen Kopassus ini.

www.merdeka.com

Senin, 16 Februari 2015

: Posted on Senin, 16 Februari 2015 - 04.51 with No comments

Beberapa skuadron pesawat tempur dan pesawat penerbangan VIP baru akan ditambahkan lagi pada armada pesawat TNI AU. Penambahan jumlah skuadron itu untuk jenis pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter, pesawat pengintai, dan pesawat untuk penerbangan VIP.

Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
TNI AU: Skuadron Tempur dan VIP akan Bertambah.

TNI AU ingin menambah sejumlah skuadron tempurnya untuk memperkuat keamanan Republik Indonesia. Tak hanya skuadron tempur, beberapa skuadron lain seperti skuadron angkut dan helikopter juga akan diperkuat. "Nanti kuartal ketiga sampai tahun 2024, TNI AU akan menambahkan skuadron tempur bertambah menjadi 11 skuadron. Skuadron angkut berat dan angkut ringan bertambah menjadi 6 skuadron. Skuadron heli akan bertambah menjadi 4 skuadron, skuadron intai di mana sebelumnya hanya 1 skuadron bertambah menjadi 2 skuadron," ucap Kadispen TNI AU Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto saat peluncuran buku kumpulan foto skuadron TNI AU di FX Sudirman, Jakarta Selatan, Sabtu (14/2/2015).

Selain itu, Hadi juga menyebutkan Skuadron VIP akan ditambah juga. Nantinya skuadron itu akan menjadi 2 skuadron. "Kemudian VIP akan bertambah menjadi 2 skuadron," ucapnya.

Kemudian Hadi juga mengatakan TNI AU akan mengadakan pembaharuan beberapa unit pesawat. Hadi ingin pesawat tempur TNI AU mengikuti perkembangan zaman yaitu generasi 4,5. "Belum tahu jenis apa (pembaharuannya). Cuma kita berharap pesawat generasi 4,5 yang saat ini," ucap Hadi.

news.detik.com

: Posted on - 03.42 with No comments

2 unit kapal perang baru dari jenis Kapal Penyapu Ranjau akan dibeli lagi oleh TNI AL. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KASAL) Laksamana Ade Supandi mengatakan bahwa rencana pembelian 2 unit kapal perang penyapu ranjau tersebut telah dimasukkan dalam anggaran rencana strategis 2015 - 2019.

KRI Pulau Rengat (711). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Pulau Rengat (711).
TNI AL Beli Kapal Penyapu Ranjau, Berapa Harganya?.

Pada sebuah kesempatan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut, Jakarta Selatan, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KASAL) Laksamana Ade Supandi menyampaikan bahwa TNI AL telah merencanakan untuk membeli kapal perang baru khusus penyapu ranjau. Kapal baru tersebut akan menggantikan armada penyapu ranjau yang uzur, yaitu KRI Pulau Rengat (711) dan KRI Pulau Rupat (712) yang sudah dioperasikan TNI AL sejak Maret 1988. Dua kapal tersebut dari generasi Tripartite class yang dibuat oleh galangan GNM (Van der Gessen de Noord Marinebouw BV) di Albasserdam, Belanda. "Rencananya kami akan cari dua unit kapal penyapu ranjau," kata Ade kepada wartawan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut, Jakarta Selatan, Kamis, 5 Februari 2015.

Meski sudah cukup berumur, KRI Pulau Rengat masih aktif dioperasikan Angkatan Laut. Belum lama ini, kapal tersebut dilibatkan dalam pencarian pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang di Selat Karimata pada Desember lalu. Sebab, meski kapal pemburu ranjau, KRI Pulau Rengat bisa digunakan untuk menemukan benda logam di bawah air, termasuk puing pesawat. Laksamana Ade Supandi menilai keberadaan kapal penyapu ranjau sangat berguna bagi misi perang dan nonperang TNI AL.

Sayangnya, Ade Supandi masih merahasiakan besaran anggaran yang dibutuhkan untuk membeli dua kapal baru tersebut. "Yang jelas (anggaran dua kapal penyapu ranjau) sudah kami masukkan dalam rencana strategis 2015-2019," kata Ade.

Angkatan Laut juga belum bisa menentukan pilihan produk kapal penyapu ranjau yang bakal dibeli. Ade sendiri berjanji bakal mengutamakan pembelian kapal penyapu ranjau dari galangan kapal dalam negeri. "Kalau butuh beraneka alat canggih dan dalam negeri belum bisa bikin, kami akan pesan dari produsen luar negeri," kata Ade.

Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie setuju dengan rencana TNI AL. Menurut Connie, kapal perang jenis penyapu ranjau sangat penting dalam sebuah Angkatan Laut. Musababnya, kapal tersebut bisa digunakan untuk misi SAR seperti kecelakaan transportasi laut. "Sudah bukan saatnya retrofit (peremajaan komponen alutsista), terlebih ini berhubungan dengan poros maritim Presiden Joko Widodo," kata Connie.

www.tempo.co

Rabu, 04 Februari 2015

: Posted on Rabu, 04 Februari 2015 - 08.25 with No comments

Kerjasama pengembangan industri pertahanan Indonesia kini sudah saat mengikutkan Jepang sebagai mitra penting, terutama untuk alih teknologi alutsista. Hal ini disampaikan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra. Hal ini berkaitan dengan perubahan regulasi tentang ekspor senjata oleh negara Jepang.

Prototipe Jet Tempur Siluman ATD-X Buatan Jepang. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Prototipe Jet Tempur Siluman ATD-X Buatan Jepang.
Indonesia Saatnya Kerjasama Alutsista dengan Jepang.

Pemerintah Jepang dikabarkan tengah melonggarkan aturan terkait bidang militer. Momen ini bisa dimanfaatkan Pemerintah Indonesia untuk melakukan kerjasama dengan negeri sakura tersebut. Hal tersebut disampaikan Duta Besar RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra di kantor Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta, Selasa (3/2/2015). "Jepang di bawah PM Abe berusaha mengubah amandemen pasal 9 UUD mereka untuk membatasi Jepang memiliki kekuatan militer dan segala sesuatu terkait militer," ujar Yusron.

Pada April tahun lalu, Jepang menderegulasi bidang ekspor senjata. Dahulu, konstitusi Jepang melarang Indonesia yang memakai alutsista mereka. Mereka tidak ingin mesin dari perusahaan Jepang digunakan untuk keperluan militer. Kebijakan itu tak berlaku karena adanya perubahan yang dibuat Jepang pada April 2014. Sehingga Indonesia tak hanya bisa mengimpor alutsista Jepang, tapi juga transfer teknologi. "Saya mendorong PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, kalau mau mengganti mesin panser Anoa atau Komodo inilah saatnya," ungkap adik Yusril Ihzan Mahendra tersebut.

Perubahan tersebut, menurutnya karena Amerika yang menjadi sekutu Jepang ingin mengubah halauan. Sebelumnya, negara adidaya tidak menginginkan Jepang untuk turun di bidang militer. Namun berubahnya zaman menuntut Amerika berkata lain. "Sekarang ini Amerika ingin Jepang agar berkontribusi dalam keamanan dunia," kata Yusron.

Tidak hanya untuk kekuatan militer atau perang, dalam hal lain, Jepang pun membuka pintu. Seperti produk-produk teknologi terkait kegiatan Search and Rescue (SAR). Menurutnya ini kesempatan bagus yang sayang jika tidak diseriusi pemerintah Indonesia.

Kolaborasi bidang industri pertahanan sangat memungkinkan adanya join research atau penelitian bersama. Jika Indonesia mau, maka selain pertahanan diplomasi dan posisi Indonesia di dunia akan menguat pula. "Kalau kerjasama industri pertahanan itu buy one get one free. Senjata kita akan kuat, diplomasi kita akan kuat," ujarnya.

Yang jelas, penguatan pertahanan ini bermuara dalam keamanan bersama. Tak ada negara yang ingin berperang. Hanya saja, urusan perdamaian bukan soal bicara baik-baik. Ada kekuatan yang harus ditunjukkan untuk mencegah terjadinya perang. "Saya bicara tentang damai, perdamaian itu suatu yang harus dikawal, dijaga dan diletakkan di ujung bedil. Itu yang dilakukan amerika selama ini. Pertahanan kuat, duitpun kita dapat," imbuhnya.

www.tribunnews.com

: Posted on - 03.36 with No comments

Kontingen TNI berhasil menjadi juara umum pada kejuaraan menembak Brunei International Skill Arms Meet (BISAM) yang diselenggarakan mulai 15 Januari 2015 hingga 2 Februari 2015. Dalam kejuaraan menembak khusus bagi para anggota pasukan militer ini TNI berhasil meraih 6 emas, 6 perak, dan 4 perunggu untuk kategori individu serta 14 emas, 3 perak dan 1 perunggu untuk kategori tim atau kelompok.

Menembak. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Menembak.
TNI Juara Umum Lomba Tembak BISAM di Brunei Darussalam.

Panglima TNI Jenderal TNI Dr Moeldoko didampingi Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna, Wakasad Letjen TNI Munir, Pangkostrad Letjen TNI Mulyono menerima Kontingen TNI Lomba Tembak BISAM (Brunei International Skill Arms Meet) ke-11 tahun 2015 Brunei Darussalam, di Ruang Hening Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (3/2/2015).

Lomba tembak BISAM ke-11 ini diselenggarakan dari tanggal 15 Januari s.d 2 Februari 2015 di Brunei Darussalam, dan diikuti oleh 16 negara peserta terdiri dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, China, Oman, Singapura, Australia, United Kingdom, Vietnam, New Zaeland, United States Of America, Philipina, Laos, Thailand, Kamboja dan Pakistan.

Kontingen TNI yang dipimpin oleh Komandan Kontingen Kolonel Arm Budi Suwanto, S. Sos berjumlah 35 orang, meliputi 13 official, 10 atlet petembak senapan, 6 atlet petembak SO/GPMG dan 6 atlet petembak pistol. Dalam lomba tembak BISAM ke-11 tahun ini, kontingen TNI menjadi juara umum dengan memperoleh 34 medali, terdiri dari : individu meraih 6 emas, 6 perak, dan 4 perunggu, sedangkan tim/ kelompok meraih 14 emas, 3 perak dan 1 perunggu.

Mewakili seluruh prajurit TNI, Panglima TNI mengucapkan terima kasih dan rasa hormat serta penghargaan atas prestasi sebagai juara umum. "Posisi juara umum ini semakin menambah profil dan performance TNI di kawasan Asia, apa yang telah kalian lakukan memberikan kontribusi yang sangat positif atas eksistensi TNI di dunia Internasional", ujar Jenderal TNI Moeldoko.

Lebih lanjut Panglima TNI menyampaikan bahwa, kecenderungan seseorang setelah mendapatkan sesuatu itu tidak waspada, lengah dan mengangggap orang lain kecil. Sikap-sikap seperti itu supaya ditinggalkan, dan sebagai prajurit kewaspadaan adalah nomor satu. "Kemampuan menembak ini supaya tetap terpelihara dengan baik dan lakukan regenerasi dari waktu ke waktu dengan baik, agar kita tidak kehilangan atlet-atlet yang handal di masa depan," tegas Panglima TNI.

www.tni.mil.id

Selasa, 03 Februari 2015

: Posted on Selasa, 03 Februari 2015 - 06.32 with No comments

Drone atau pesawat tanpa awak (UAV) bakal menjadi salah satu andalan pihak Badan Keamanan Laut (Bakamla) untuk memantau keamanan wilayah laut Indonesia. Menurut Deputi Operasi dan Latihan Badan Bakamla Laksamana Pertama Wuspo Lukito, kemungkinan rencana tersebut paling cepat baru bisa dilaksanakan pada tahun depan. Pihak Bakamla mensyaratkan bahwa drone-drone yang akan dibeli itu harus bisa lepas landas dan mendarat di kapal-kapal Bakamla.

Drone Helikopter. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Drone Helikopter.
Pantau Laut, Bakamla Berencana Beli Drone.

Deputi Operasi dan Latihan Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksamana Pertama Wuspo Lukito mengatakan lembaganya berencana membeli wahana udara tanpa awak atau sering disebut drone. Sayangnya rencana tersebut baru bisa terlaksana paling cepat tahun depan. "Anggarannya belum ada, bahkan saat ini kami pakai anggaran Bakorkamla (sebelum berubah menjadi Bakamla)," kata Lukito kepada wartawan di kantornya, Jakarta, 2 Februari 2015.

Meski belum ada dana, Lukito mengaku sudah banyak produsen dan agen drone menyambangi Bakamla. Mereka berlomba menyuguhkan produk andalan mereka untuk menjadi senjata baru Bakamla memantau keamanan laut Indonesia. Salah satu yang menarik, kata Lukito, adalah drone berbentuk helikopter. Menurut dia, keuntungan dari drone tersebut mampu terbang melayang layaknya helikopter biasa. Drone itu memakai mesin berbahan bakar listrik sehingga tak mengeluarkan suara bising. "Berbekal kamera, drone itu bisa memantau kegiatan ilegal kapal-kapal dari atas," kata Lukito.

Bakamla juga tertarik membeli drone berbentuk pesawat. Menurut Lukito, drone pesawat punya daya jangkau yang lebih luas. "Tapi kami ingin drone-drone itu bisa terbang dan mendarat dari atas kapal Bakamla," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana Harian Badan Keamanan Laut Laksamana Madya Desy Albert Mamahit mengatakan sampai saat ini pihaknya hanya punya tiga unit kapal patroli. Namun Mamahit mengklaim sebentar lagi bakal mendapat kekuatan baru berupa 30 unit kapal baru.

Kapal-kapal tersebut bakal memiliki ukuran yang berbeda-beda, yakni dengan panjang 46 meter, 80 meter, hingga 110 meter. Walhasil ukuran kapal patroli Bakorkamla hampir sama dengan kapal perang kelas Fregat milik TNI AL. "Anggarannya pun sudah oke, ya kami senang," kata dia. "Seluruh kapal kami beli dari dalam negeri, produknya tak kalah dengan impor."

www.tempo.co

Senin, 02 Februari 2015

: Posted on Senin, 02 Februari 2015 - 06.42 with No comments

Kerjasama di bidang industri pertahanan antara Indonesia dan Turki kini semakin ditingkatkan. Pihak negara Turki pun semakin antusias bahwa kerjasama militer ini akan berhasil dengan baik dan menguntungkan dua negara tersebut. Beberapa kerjasama di bidang industri pertahanan antara Indonesia dan Turki adalah pengembangan produk medium tank dan pengadaan peralatan komunikasi.

Medium Tank. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Medium Tank.
Turki Antusias Lakukan Kerjasama Industri Pertahanan Dengan Indonesia.

Pemerintah Turki merasa sangat antusias lakukan kerjasama di bidang industri pertahanan khususnya pengembangan dan produksi bersama Medium Tank dengan Pemerintah Indonesia. Kerjasama pembuatan Medium Tank tersebut sebagai tindak lanjut dari bentuk komitmen pimpinan negara untuk meningkatkan hubungan kedua negara yang dinyatakan dalam Deklarasi Strategic Partnership oleh Presiden kedua negara pada tahun 2010 yang lalu.

Apresiasi antusiasme Pemerintah Turki tersebut disampaikan Bapak Wardana selaku Duta Besar RI di Ankara, Turki, kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan RI, Letjen TNI Ediwan Prabowo, Rabu (28/01) saat berkunjung ke Kantor Kemhan, Jakarta. Bapak Wardana mengatakan dirinya juga telah bertemu dengan Pejabat Undersecretary For Defence Industry of SSM Turki dan pimpinan perusahaan dari Industri pertahanan FNSS Turki. Menurut Bapak Wardana pihak Turki menyatakan semangatnya untuk bisa bekerjasama yang dilandasi dengan ikatan emosional dengan Pemerintah Indonesia.

Bapak Wardana mengatakan industri pertahanan Turki memiliki teknologi cukup maju sesuai dengan standar NATO. Disamping itu pihak Turki juga lebih terbuka dan menerima dalam konteks kerjasama pemindahan teknologi (Transfer Of Technology) dengan Indonesia. hal tersebut merupakan suatu potensi dan peluang untuk Indonesia. Disampaikan juga oleh Bapak Wardana, untuk merealisasikan kerjasama industri pertahanan, Delegasi Turki yang terdiri dari pemerintah dan CEO industri Pertahanan FNSS direncanakan datang ke Indonesia pada tanggal 3 Februari 2015. Maksud kedatangan Delegasi Turki ini selain membicarakan kelanjutan dari proyek pembangunan Medium Tank dan juga membahas potensi-potensi kerjasama industri pertahanan lainnya.

Sementara itu Sekjen Kemhan dalam pertemuan tersebut mengatakan, dari perspektif pertahanan, Turki juga merupakan mitra yang sangat strategis yang mana sejauh ini sudah semakin terpupuk hubungan batin. Jadi memang ada harapan kerjasama ini bisa saling menguntungkan kedua belah pihak. Sekjen mengakui Indonesia belajar banyak dengan Turki tentang kemajuan teknologi dan penyiapan sektor SDM yang mendukung.

Sekjen juga mengatakan bahwa saat ini kerjasama industri pertahanan yang telah dilaksanakan dengan pihak Turki adalah pengadaan alat komunikasi yang diproduksi bersama PT LEN dengan industri Aselsan Turki. `

Mengenai kerjasama yang lain adalah pengembangan dan produksi bersama Tank jenis Medium antara Indonesia dengan Turki yang melibatkan Industri FNSS Turki dan PT Pindad. Kerjasama ini telah dimulai pada 29 Juni 2010 setelah Kementerian Pertahanan kedua negara menandatangani persetujuan kerjasama industri pertahanan (Defence Industry Cooperation) di Ankara Turki.

Sementara itu Sekjen juga menuturkan, sesuai dengan arahan dari Menteri Pertahanan bahwa kerjasama ataupun pengadaan dibidang pertahanan saat ini harus realistis, terutama yang bisa mengatasi ancaman yang ada. Untuk itu Kemhan sedang mengembangkan suatu kerjasama pertahanan dengan negara lain yang bersifat multi purpose.

Artinya kerjasama yang dilakukan bukan hanya untuk kepentingan militer melainkan dapat juga digunakan untuk kepentingan bantuan kemanusiaan, seperti penanganan bencana dan operasi kemanusiaan lainnya. Disebutkan Sekjen salah satu contoh adanya pengadaan Tank yang bisa digunakan sebagai jembatan untuk keperluan militer ataupun bantuan kemanusiaan. Jenis Tank ini sudah diproduksi Turki dengan bekerjasama dengan pihak Korea Selatan.

www.kemhan.go.id

Minggu, 01 Februari 2015

: Posted on Minggu, 01 Februari 2015 - 08.43 with No comments

Amunisi bekas (selongsong peluru) bisa dirakit ulang dan dijadikan amunisi baru. Ini menjadi usulan dari Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Mayjen TNI Doni Monardo ketika mengunjungi kantor pusat PT Pindad. Biasanya, amunisi bekas latihan dikumpulkan kembali dan dilebur, bukan dirakit ulang. Menurut Mayjen TNI Doni Monardo, cara perakitan ulang bisa menekan biaya produksi amunisi.

Selongsong Peluru. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Selongsong Peluru.
Danjen Kopassus Usulkan Pindad Daur Ulang Amunisi Bekas Latihan.

Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Mayjen TNI Doni Monardo beserta jajarannya mengunjungi kantor pusat industri pertahanan negara, PT Pindad (Persero) di Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/1/2015). Dalam kunjungan tersebut, Direktur PT Pindad Silmy Karim meminta usulan dan pendapat kepada Kopassus terkait suplai senjata dan amunisi yang selama ini telah dipasok oleh PT Pindad. "PT Pindad selaku produsen berharap mendapatkan masukan dan saran atas produk yang telah diproduksi oleh PT Pindad. Ini sekaligus menindaklanjuti kunjungan Presiden Jokowi yang meminta bahwa pindad harus terus meningkatkan kualitas dan kapasitas," kata Silmy saat konferensi pers seusai kunjungan, Kamis siang.

Salah satu masukan dan usulan yang diberikan oleh Danjen Kopassus adalah terkait dengan efisiensi produksi amunisi, yakni dengan mengumpulkan kembali selongsong peluru sisa-sisa latihan tempur, dan mengembalikannya ke PT Pindad untuk dirakit ulang, bukan dilebur seperti proses yang biasa dilakukan. "Bagaimana PT Pindad ke depan bisa melakukan penghematan dalam memproduksi amunisi. Agar PT Pindad bisa mempertimbangkan agar amunisi kita bisa mudah dipakai kembali digunakan dengan sistem reload," ujar Doni.

Meski demikian, Doni sadar betul hal tersebut berada di luar prosedur produksi amunisi PT Pindad dan sama sekali belum pernah dilakukan. "Beberapa amunisi dari luar (negeri) itu bisa dirakit kembali dengan mudah. Memang konsekuensinya agak rumit," akunya.

Pertimbangan lainnya dalam usulan tersebut adalah mencegah adanya kelompok-kelompok radikal yang justru memanfaatkan selongsong peluru untuk diproduksi kembali. "Bahaya mungkin seandainya amunisi ini digunakan kelompok tertentu karena mereka dengan mudah menggunakan selongsong menjadi amunisi, tapi ini bisa jauh lebih efisien daripada diproduksi ulang dengan peleburan," tandasnya.

regional.kompas.com

Selasa, 20 Januari 2015

: Posted on Selasa, 20 Januari 2015 - 08.55 with No comments

Pihak Rusia berharap pengadaan armada jet tempur Sukhoi Su-35 Flanker E untuk kebutuhan TNI AU bisa direalisasikan oleh pemerintah Indonesia. Hal itu disampaikan oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin. Sebelumnya Kementerian Pertahanan Republik Indonesia sudah pernah menyampaikan minatnya untuk membeli jet tempur Sukhoi Su-35 Flanker E buatan Rusia tersebut guna menggantikan armada pesawat F-5E/F Tiger II yang sudah uzur dan akan dipensiunkan.

Sukhoi Su-35 Flanker E. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-35 Flanker E.
Rusia Harap Sukhoi Su-35 Lengkapi Armada Pesawat Tempur Indonesia.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin mengatakan, Rusia berharap Indonesia menyetujui pembelian pesawat tempur jenis Sukhoi Su-35 untuk memperkuat pertahanan udara dalam negeri. "Kami berharap kesepakatan pembelian Su-35 bisa terjadi. Kerja sama militer antara kedua negara sudah berlangsung sejak lama dan kami ingin bisa terus berlanjut," ujar Galuzin di kediaman Duta Besar Rusia, Jakarta, Senin (19/1/2015).

Dia menambahkan, Rusia selalu siap jika memang nantinya Indonesia sepakat untuk membeli Su-35 demi menambah unit pesawat tempurnya. Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko tertarik mendatangkan pesawat tempur Sukhoi Su-35 untuk peremajaan armada tempur. Selain Sukhoi, Moeldoko juga mempertimbangkan JAS-39 Gripen (dari Swedia) dan F-16 Block 52+ Fighting Falcon (dari Amerika Serikat).

Kebutuhan akan pesawat-pesawat ini disebabkan pesawat F-5E/F Tiger II yang sekarang tergabung di Skuadron Udara 14 harus "pensiun" karena usia. Moeldoko sendiri mengatakan bahwa selain faktor teknis, faktor politik juga menentukan dalam memutuskan pembelian pesawat tempur tersebut.

Su-35 sendiri merupakan pesawat tempur generasi 4,5 buatan Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association. Jika pembelian jadi dilakukan, Su-35 akan melengkapi jajaran Sukhoi yang sudah dimiliki TNI sebelumnya. Jenis Sukhoi yang sudah dioperasikan oleh TNI AU adalah Su-27 dan Su-30. Su-27 masuk dalam Skuadron Udara 11 yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama Hasanuddin, Makassar.

Sementara itu, menurut Galuzin, Pemerintah Rusia menganggap Indonesia adalah negara penting untuk kerja sama pengembangan ekonomi dan militer. "Rusia melihat masih banyak bentuk kerja sama yang bisa dilakukan dengan Indonesia, seperti di bidang konstruksi, militer. Bahkan, jika Indonesia berkenan, kami juga siap membantu pengembangan energi nuklir untuk tujuan damai," ujar Galuzin.

Pada 2015, Indonesia dan Rusia akan melanjutkan proses kerja sama beberapa proyek, seperti proyek rel kereta api sepanjang 203 kilometer di Kalimantan Timur dan proyek pembangunan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalimantan Barat.

nasional.kompas.com

Kamis, 15 Januari 2015

: Posted on Kamis, 15 Januari 2015 - 08.04 with No comments

KRI Bung Tomo (357) adalah salah satu kapal perang jenis korvet yang dimiliki dan dioperasikan oleh TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut). KRI Bung Tomo (357) yang dibangun di Inggris ini oleh pabrikannya disebut sebagai kapal perang jenis MRLF (Multi Role Light Fregate). Dengan panjang 95 meter, lebar 12,7 meter, dan berat 2.300 ton, kapal ini mampu melaju hingga kecepatan maksimum 30 knot.

KRI Bung Tomo (357) (Gambar 1). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Bung Tomo (357) (Gambar 1).
Sebelum dibeli oleh Indonesia, KRI Bung Tomo (357) telah terlebih dulu dipesan oleh Angkatan Laut Kesultanan Brunei Darussalam. Brunei memesan 3 unit kapal perang jenis ini dari pabrikannya, BAE Systems di Inggris. Sebelum diberi nama Bung Tomo oleh pemerintah Indonesia, kapal ini bernama KDB Jerambak (30). Negara tetangga ini sudah memesan 3 kapal tersebut sejak tahun 1995 dan pembuatannya diselesaikan pada tahun 2001 dan 2002. Namun dengan alasan kurang personil untuk mengoperasikan kapal-kapal perang ini, pemerintah Brunei membatalkan kontrak pembeliannya.

Pada waktu berikutnya, Kesultanan Brunei Darussalam menghubungi perusahaan German L├╝rssen untuk mendapatkan pembeli baru 3 kapal perang MLRF (Multi Role Light Fregate) yang sudah terlanjur dipesan itu. Setelah lima tahun, akhirnya pemerintah Indonesia tertarik untuk membelinya pada tahun 2013. Oleh TNI AL 3 kapal perang ini diberi nama KRI Bung Tomo (357), KRI John Lie (358) dan KRI Usman-Harun (359). Dalam armada kapal perang TNI AL, 3 kapal ini digolongkan sebagai kapal perang korvet kelas Bung Tomo.

Penamaan Bung Tomo diambil dari nama seorang pahlawan nasional Indonesia, Bung Tomo, yang karena peran dan pidatonya mampu membangkitkan semangat para pejuang Indonesia sehingga berkobarnya pertempuran besar pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya. Pemberian nama tersebut secara resmi dilakukan pada tanggal 4 Desember 2014 bersamaan dengan pemberian nama kepada kapal perang sejenis, KRI Usman-Harun (359).

KRI Bung Tomo (357) (Gambar 2). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Bung Tomo (357) (Gambar 2).
KRI Bung Tomo (357) dirancang sebagai kapal patroli lepas pantai. Kapal ini bermarkas di Pangkalan Armada Timur, Tanjung Perak, Surabaya. Kapal perang ini memiliki dimensi panjang 89 meter, lebar 12,8 meter, dan berat berat 1.941 ton. Dengan didukung 4 unit mesin diesel 4 x MAN B&W / Ruston, kapal ini mampu melaju hingga kecepatan 30 knot (55,56 km/jam) dengan jangkauan pelayaran hingga 9.000 km pada kecepatan jelajah.

Saat tulisan ini diterbitkan, KRI Bung Tomo (357) dikomandani Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan, S.T,. Kapal ini memiliki jumlah ABK 85 prajurit, dengan rincian perwira 17 orang, bintara 40 orang dan tamtama 28 orang.

Setelah bergabung dalam armada kapal perang TNI AL, tugas yang pertama kali dilaksanakan oleh KRI Bung Tomo (357) adalah misi pencarian badan pesawat dan jenazah para penumpang dan awak pesawat maskapai AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 rute Surabaya-Singapura. Pesawat ini dinyatakan hilang pada Minggu, 28 Desember 2014. Selanjutnya tugas KRI Bung Tomo (357) digantikan oleh KRI Usman-Harun (359).

Spesifikasi KRI Bung Tomo (357) :
  • Jenis : F2000 Korvet
  • Displacement : 1.940 ton
  • Panjang : 89,9 m LWL, 95 m LOA
  • Lebar : 12,8 m
  • Daya muat : 3,6 m
  • Pendorong : 4 unit MAN B&W / Ruston diesel engine (total 30.2 MW), 2 unit shafts
  • Kecepatan : 30 knot (56 km/jam)
  • Jangkauan : 5.000 mil laut (9.000 km) pada kecepatan 12 knot (22 km/jam)
Persenjataan KRI Bung Tomo (357) :
  • 1 unit Oto Melara 76mm gun.
  • 2 unit MSI Defence DS 30B REMSIG 30mm guns
  • 16 unit VLS untuk meluncurkan MBDA (BAE Systems) MICA surface-to-air missile.
  • 2 unit 4 Quad untuk meluncurkan 8 misil MBDA (Aerospatiale) Exocet MM40 Block II.
  • 2 unit triple BAE Systems 324mm torpedo tubes untuk menghancurkan sasaran diatas maupun dibawah air.
Sensor dan Elektronis KRI Bung Tomo (357) :
  • Ultra Electronics/Radamec Series 2500 electro-optic weapons director.
  • Thales Underwater Systems TMS 4130C1 hull-mounted sonar.
  • BAE Systems Insyte AWS-9 3D E- and F-band air and surface radar.
  • BAE Insyte 1802SW I/J-band radar trackers.
  • Kelvin Hughes Type 1007 navigation radar.
  • Thales Nederland Scout radar.
  • Thales Sensors Cutlass 242 countermeasures.
wikipedia.org, nasional.kompas.com

Rabu, 07 Januari 2015

: Posted on Rabu, 07 Januari 2015 - 05.49 with No comments

Hellweek adalah adalah istilah untuk menyebutkan proses awal dari latihan keras yang menguras tenaga dan emosi bagi para calon anggota Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL. Hellweek diakui sebagai proses latihan yang dahsyat. Dalam artikel ini disajikan rangkaian proses latihan tersebut. Seperti namanya, benar-benar seperti dalam neraka.

Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL.
Mengintip latihan hellweek Kopaska TNI AL yang bikin merinding.

Kopaska merupakan satuan pasukan elite di tubuh Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Laut (TNI AL). Sudah sejak era Trikora tahun 1963 Kopaska kerap diterjunkan dalam misi setengah mustahil. Tapi itulah pasukan khusus. Personelnya dipilih dari orang-orang terbaik. Selain berotot kawat dan bertulang besi, mereka juga wajib datang dari Korps Pelaut. Syarat wajib lain harus sudah pernah bertugas di kapal TNI AL selama dua tahun atau lebih.

Mengapa harus pelaut?

Pertama, anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska) harus mengetahui konsep perang laut secara menyeluruh. Ketika hendak melakukan misi sabotase atau pembebasan sandera, mereka sudah harus tahu bagian-bagian kapal. Bila bukan pelaut, mereka akan kesulitan mengenal bagian-bagian dalam kapal. Kedua, jika sudah berpengalaman dalam KRI, insting mereka akan langsung bermain di mana kamar mesin, ruang amunisi, tanki bahan bakar dan sebagainya. Hal ini jelas akan berpengaruh dalam kesuksesan misi.

Latihan pertama yang harus dijalani oleh calon personel Paska adalah hellweek. Latihan yang benar-benar menguras emosi, tenaga dan keringat sampai ke tetes terakhir. "Sesuai namanya, seperti neraka! Cukup sekali seumur hidup," kata seorang mantan anggota Paska di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Dalam buku Kopaska, Spesialis Pertempuran Laut Khusus yang diterbitkan dalam rangka 50 tahun Kopaska, dikupas soal hellweek ini. Setiap calon Paska tak pernah diberi tahu kapan rangkaian hellweek akan dimulai. Bisa saja tiba-tiba saat mereka belajar di kelas, atau saat tidur terlelap.

Hari pertama minggu neraka ini dibuka dengan ritual melahap nasi komando bersama-sama. Nasi komando adalah hasil blenderan nasi, lauk pauk, telur mentah, minyak ikan dan terasi. Makanan ditaruh dalam satu tempat dan dimakan secara bergiliran. Jika salah satu muntah di tempat itu, maka yang berikutnya tetap harus memakan nasi komando itu sampai tandas. Sebagai pelepas dahaga, minuman yang diberikan adalah jamu brotowali. Jamu ini memang menyehatkan, tapi mungkin merupakan minuman paling pahit di dunia.

Setiap hari porsi tekanan terus ditambah hingga benar-benar memaksa seseorang untuk bertahan di titik maksimal.

Uniknya selama pendidikan, nama mereka diganti dengan nama hewan laut. Maka nama-nama tongkol, udang, paus, kakap wajib digunakan. Nah, kadang hingga pendidikan selesai, nama ini masih melekat di antara sesama mereka.

Jika tak kuat pendidikan, silakan berhenti. Tak ada paksaan sama sekali untuk mengikuti latihan Paska ini. Siswa yang gugur atau mengundurkan diri diminta meletakkan topi bajanya di pinggir lapangan. Dari situ kelihatan berapa orang yang telah mengundurkan diri dalam satu angkatan.

Bagaimana dengan yang lulus hellweek? Apakah sudah berakhir semua deraan dan siksaan?

Belum bro! Masih panjang sekali perjalanan sang calon pasukan katak ini. Begitu lulus mereka wajib mengikuti sekolah penembak. Calon Paska dikenalkan berbagai macam senjata, mulai dari pistol, senapan serbu, hingga senapan sniper. Mereka juga diajari berbagai macam teknik tembak reaksi, antiteror dan akurasi. Selanjutnya siswa menempuh latihan komando gunung hutan dan longmarch di Karang Tekok. Disambung lintas medan ke Ijen, Situbondo, Bromo hingga Surabaya.

Lolos komando, giliran latihan terjun harus dijalani. Mulai terjun statis, HALO, HAHO wajib diikuti para siswa Paska. Setelah itu mereka digembleng aneka praktik demolisi dan pertempuran bawah laut khusus. Latihan dilanjutkan dengan praktik intelijen di Banyuwangi dan Malang.

Total rangkaian seluruh pendidikan ini makan waktu 10 hingga 12 bulan. Setelah lulus barulah mereka berhak mengenakan brevet Pasukan Katak dan baret merah.

Tan Hana Wighna Tan Sirna, tak ada rintangan yang tak bisa diatasi!

www.merdeka.com

Sabtu, 27 Desember 2014

: Posted on Sabtu, 27 Desember 2014 - 07.56 with No comments

Tuo Chiang adalah kapal perang jenis korvet terbaru buatan negara Taiwan yang telah resmi diluncurkan pada Selasa, 23 Desember 2014 lalu. Kapal perang korvet Tuo Chiang dipersenjatai 16 unit rudal, 8 unit diantaranya adalah jenis rudal supersonik anti-kapal Hsiung-feng III.

Kapal Perang Korvet Tuo Chiang. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Kapal Perang Korvet Tuo Chiang.
Taiwan pada Selasa (23/12/2014) meluncurkan kapal perang jenis korvet bersenjata rudal terbesar yang pernah dibuat negara pulau ini sebagai usaha untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya dalam menanggapi ancaman dari China. Kapal perang berbobot 500 ton itu diberi nama 'Tuo Chiang' adalah prototipe pertama dari jenis kapal ini dan dipuji oleh Menteri Pertahanan Yen Ming sebagai "tercepat dan paling kuat" di Asia.

Berbekal 16 rudal termasuk delapan rudal supersonik anti-kapal Hsiung-feng III, kapal korvet ini akan meningkatkan kemampuan pertahanan Taiwan terhadap China yang hingga saat ini masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah China.

"Mulai sekarang, kemampuan tempur angkatan laut akan mencapai tonggak penting. Penyelesaian generasi baru kapal perang angkatan laut ini diperkirakan akan menjamin keamanan di Selat Taiwan dan melindungi jalur pelayaran," Yen mengatakan pada upacara peluncuran yang diadakan di pelabuhan Suao, di timur laut Yilan.

Laksamana Madya Wen Chen-kuo mengatakan kepada AFP bahwa "rudal supersonik sangat sulit untuk dicegat". Kapal perang dengan desain lunas ganda ini menggunakan teknologi stealth untuk mengurangi pantulan gelombang radar, sehingga sulit untuk dideteksi. Kapal ini memiliki kecepatan maksimum hingga 38 knot dan jangkaian berlayar hingga 2.000 mil laut (3.704 kilometer).

Pada hari Selasa (23/12/2014) lalu, kapal perang korvet Tuo Chiang ini berlayar selama beberapa waktu untuk menunjukkan kemampuannya kepada wartawan sebelum kembali ke pelabuhan lagi. Kapal korvet ini dijadwalkan akan dikerahkan di perairan Taiwan setelah pemeriksaan lebih lanjut dan merupakan prototipe pertama dari 11 unit kapal dari kelas ini yang akan dibangun oleh Taiwan.

Peluncuran kapal perang ini dilaksanakan setelah Kongres AS meloloskan RUU minggu lalu yang memberikan otorisasi Presiden Barack Obama untuk mentransfer teknologi empat kapal frigat berpeluru kendali Perry-class ke Taipei. China mengecam kesepakatan itu dam mengatakan bahwa protes diplomatik telah diajukan kepada Amerika Serikat. "Kami dengan tegas menentang penjualan senjata ke Taiwan oleh AS," kata juru bicara kementerian luar negeri China Qin Gang.

www.defencetalk.com

Jumat, 26 Desember 2014

: Posted on Jumat, 26 Desember 2014 - 07.13 with No comments

Pesawat jet amfibi BE 200 atau yang punya nama lengkap Beriev Be-200 Altair telah diusulkan untuk dibeli guna ditugaskan memberantas praktik illegal fishing di perairan Indonesia. Beriev Be-200 Altair adalah pesawat bermesin jet yang mampu lepas landas dan mendarat di atas permukaan perairan seperti di laut dan danau. Pesawat ini dibuat oleh negara Rusia.

Beriev Be-200 Altair. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Beriev Be-200 Altair.
TNI Akan Beli Pesawat Jet Amfibi untuk Berantas Illegal Fishing.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia mengatakan TNI akan membeli pesawat jet amfibi, dalam rangka memaksimalkan upaya pemberantasan praktik illegal fishing di perairan Indonesia. Jet Amfibi tersebut akan berfungsi dalam aktivitas TNI menjalankan patroli laut maupun patroli udara. "Salah satu jenis pesawat Jet Amfibi tersebut yakni BE 200," ujar Ida Bagus, dalam jumpa pers di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (22/12/2014).

Ida Bagus menuturkan, rencana pembelian jet amfibi tersebut diutarakan pada saat Presiden Joko Widodo melakukan blusukan ke wilayah perbatasan Indonesia, tepatnya di Wilayah Kalimantan Timur. Saat itu Jokowi melihat tentang aktivitas patroli darat maupun patroli laut dari TNI dalam menjaga wilayah perairan Indonesia. Kemudian,kata Ida Bagus, TNI menawarkan solusi kepada Jokowi untuk membeli jet amfibi. "Kami sampaikan solusi dalam hal pelaksanaan penindakan dan pencurian ikan di wilayah laut, berupa pesawat amfibi yang bisa mendarat di laut dengan karakteristik mampu di gelombang yang tinggi," ucap Ida Bagus.

Ida Bagus menerangkan, dengan kemampuannya yang bisa mendarat di permukaan laut, jet amfibi tersebut mampu menahan para pencuri ikan agar tidak melarikan diri. Jet tersebut juga mampu membawa tim untuk melakukan pengamanan laut. Ida mengatakan Jokowi menyetujui usul tersebut. "Dan waktu itu beliau (Jokowi) setuju dengan ide itu," kata Ida Bagus.

Jet Amfibi tersebut merupakan jet asal Rusia. Jet tersebut biasanya digunakan untuk melakukan pemadaman hutan karena mampu mengangkut bom air. Selain itu, jet tersebut juga digunakan oleh tim Sar untuk kegiatan penanganan bencana maupun pencarian orang.

nasional.kompas.com

Kamis, 25 Desember 2014

: Posted on Kamis, 25 Desember 2014 - 06.16 with No comments

Masa garansi perawatan dan perbaikan spare part pada perjanjian kontrak pembelian Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI harus ditinjau ulang lagi. Beberapa alutsista baru yang telah dibeli TNI dari luar negeri memiliki masa garansi dengan rentang waktu yang pendek. Ini beresiko ketika alutsista tersebut mengalami kerusakan atau pergantian spare-part. Masalah ini menjadi salah satu agenda penting dalam rapat pimpinan (Rapim) Perwira Tinggi Rencana Kerja 2015 yang digelar baru-baru ini.

KRI Bung Tomo (357). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Bung Tomo (357).
Alutsista TNI Terancam Dikanibal.

Pembelian alat utama sistem persenjataan (Alutsista) TNI perlu lebih dimatangkan. Pasalnya, TNI kerap kali mendapatkan alusista yang waktu garansi perawatan dan perbaikan spare part-nya sangat pendek. Hal tersebut membuat membuat alutsista TNI rawan untuk dikanibal. Ditemui dalam konpres rapat pimpinan (Rapim) Perwira Tinggi Rencana Kerja 2015, Panglima TNI Jenderal Moeldoko menuturkan, saat ini TNI memang kian banyak membeli alutsista dengan teknologi tinggi. Namun, ada masalah yang cukup mengkhawatirkan sehingga perlu pembahasan dalam rapim. "Masalahnya, soal perjanjian pembelian alutsista," jelasnya.

Dalam berbagai kontrak kerjasama pembelian alutsista, misalnya di TNI Angkatan Udara (AU) membeli pesawat. Pembelian pesawat itu dilengkapi dengan pelatihan pengendalian alutsista atau kelas untuk prajurit, lalu ada juga garansi perawatan dan perbaikan spare part pesawat. "Ternyata, waktu garansinya itu hanya beberapa bulan, kami tentu tidak ingin pesawat yang baru dibeli itu, beberapa bulan kemudian rusak dan mangkrak," tuturnya.

Kalau spare part alutsista rusak saat garansi habis, maka untuk mengakalinya dengan meng-kanibal menggunakan spare part alusista lain yang sejenis. Tentu, sangat tidak baik jika ada alutsista baru, tapi spare part-nya kanibal di sana-sini. "Karena itu dalam rapim ini diperlukan adanya anggaran untuk perbaikan dan perawatan alusista," paparnya.

Sementara Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Marsetio menjelaskan, untuk di TNI AL, misalnya ada pembelian kapal Sigma buatan Belanda beberapa tahun lalu. Dalam pembelian itu waktu garansi kapal dan spare part-nya hanya sepuluh hari hingga tiga bulan. "Ini tentu masalah yang cukup menghambat," ujarnya.

Untuk penyebab waktu garansi kapal dan spare part yang sangat pendek itu dipastikan karena minimnya anggaran. Sehingga, TNI memutuskan untuk membeli kapalnya terlebih dahulu. Untuk anggaran perawatan, serta perbaikan harapannya bisa menyusul. "Awalnya, pertimbangannya biar ada kapal dulu. Tapi, ternyata anggaran untuk perawatan kapal itu tidak ada," jelasnya.

Perlu diketahui, pembelian kapal bisa dengan berbagai fasilitas. Untuk pembelian kapal militer dengan tambahan waktu garansi perawatan dan pergantian spare part yang panjang, tentu harganya akan lebih besar dari pada pembelian kapal dengan waktu garansi yang pendek. "Untuk itu dalam rapim ini, rencana strategis harus ditentukan," paparnya.

Namun, Pengamat Militer Lembaga Studi Pertahanan Indonesia Rizal Darma Putra menjelaskan, seharusnya dalam sebuah perjanjian pembelian alutsista ada transfer teknologi. Masalah garansi untuk spare part ini harusnya bisa diselesaikan dalam transfer teknologi ini. "Kalau ada transfer teknologi, tentunya tinggal Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memproduksi spare part untuk alutsista tersebut," ujarnya.

Yang krusial, selama ini dalam pembelian alutsista masih belum ada transparansi soal transfer teknologi tersebut. Karena itu, TNI juga perlu untuk lebih membuka diri untuk berbagai kontrak pembelian tersebut. "Biar semua orang mengetahuinya sebagai bentuk pertanggungjawaban," jelasnya.

www.jpnn.com

Selasa, 23 Desember 2014

: Posted on Selasa, 23 Desember 2014 - 07.32 with 1 comment

Komando Daerah Militer (Kodam) baru di Papua Barat sudah siap segera dibangun TNI mulai tahun 2015. Markas Kodam Papua Barat tersebut berpusat di Kota Manokwari. Tujuan dari pembentukan Kodam baru ini untuk lebih memudahkan pimpinan TNI dalam mengendalikan kesatuan militer di wilayahnya dan agar aspek pertahanan bisa terpenuhi di wilayah itu.

TNI (Tentara Nasional Indonesia). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
TNI (Tentara Nasional Indonesia).
TNI Bangun Kodam di Manokwari.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, Komando Daerah Militer (Kodam) di Papua yang rencananya akan dibangun berlokasi di Kota Manokwari, Papua Barat. Saat ini, pembangunan Kodam tersebut masih dalam tahap proses penyiapan lahan. "Saat ini sudah penyiapan lahan yang akan dilaksanakan di Manokwari," ujar Gatot dalam jumpa pers di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (22/12/2014).

Gatot mengatakan, pembangunan Kodam di Papua Barat sebenarnya direncanakan untuk tahun anggaran 2016. Namun, dengan berbagai pertimbangan, pembangunan tersebut dipercepat menjadi tahun 2015.

Saat ini, kata Gatot, pembangunan Kodam di Papua Barat akan dilakukan bersamaan dengan pembangunan Kodam 13 Merdeka di Sulawesi Utara. Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan, pembangunan Kodam baru di Papua Barat akan berlangsung pada 2015. Pembangunan tersebut akan disesuaikan dengan anggaran yang sudah dipersiapkan oleh TNI. "Tahun 2015 sudah mulai kita lakukan kegiatan fisiknya," kata Moeldoko.

Sebelumnya, Moeldoko mengatakan, untuk memperkuat pertahanan dan mempermudah koordinasi, TNI berencana menambah Kodam di Papua. "Penambahan Kodam di Papua sesuai rencana strategi (renstra) sudah siapkan. Tapi yang pertama di Manado sudah mulai jalankan. Harapan kita untuk Papua tahun depan sudah bisa dijalankan," ujar Moeldoko di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (10/12/2014), seperti dikutip Antara.

Panglima TNI menjelaskan, alasan pembentukan Kodam baru karena luasnya wilayah sehingga menyulitkan rentang kendali bagi seorang pemimpin di mana Pangdam harus mengendalikan semua prajuritnya yang sangat jauh. "Ini menyulitkan. Rentang kendali itu dipenuhi dengan membangun Kodam baru. Ada beberapa pilihan lokasi, di antaranya di Sorong dan masih ada pilihan-pilihan," jelasnya.

Mantan Pangdam Siliwangi ini menegaskan, tidak ada kepentingan politik dan maksud apa pun dalam pembangunan Kodam baru di Papua. "Tidak sama sekali. Ini murni untuk kepentingan pertahanan. Tidak punya maksud apa pun. TNI hanya ingin aspek pertahanan bisa terpenuhi di wilayah itu sehingga apabila terjadi situasi yang tidak kita inginkan, kendali operasi itu betul-betul bisa dijaga dengan baik," tukasnya.

nasional.kompas.com

Rabu, 26 November 2014

: Posted on Rabu, 26 November 2014 - 08.13 with No comments

Dua pesawat jet tempur Sukhoi milik TNI Angkatan Udara masih disiagakan di Bandara Juwata, Tarakan, Kalimantan Utara. Tiga jet tempur Sukhoi tersebut ditugaskan untuk mengawasi kawasan perairan Ambalat yang berbatasan dengan wilayah Malaysia.

Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Tiga Sukhoi TNI AU Dikirim ke Tarakan Jaga Perbatasan RI-Malaysia.

Tiga pesawat Sukhoi milik TNI Angkatan Udara sejak Senin (24/11/2014), disiagakan di Pangkalan Terbang Juwata, Tarakan, Kalimantan Utara. Ketiga pesawat itu disiagakan untuk mengawasi wilayah Laut Ambalat yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsma TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, ketiga pesawat itu diterbangkan dari Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar. "Mereka punya latihan rutin di Tarakan, Makassar, dan sejumlah wilayah lain," kata Hadi, Selasa (25/11/2014).

Hadi membantah jika penempatan itu berkaitan dengan aktivitas kapal dan pesawat milik Malaysia. Menurut dia, penempatan itu hanya merupakan bagian dari operasi rutin yang sering dilaksanakan TNI AU. "Latihan rutin ya, jadi bukan hanya untuk menghalau. Sampai sekarang masih di sana (Tarakan)," katanya.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Fuad Basya mengatakan, sejak dipimpin Jenderal Moeldoko, TNI AL dan TNI AU diperintahkan untuk melaksanakan operasi gabungan. Operasi itu termasuk ke dalam operasi pengamanan wilayah perbatasan dan pulau terluar Indonesia yang rutin digelar setiap tahunnya. "Jadi ada atau tidak ada ancaman, kita tetap standby. Sinergi itu dilakukan agar apabila ada hal-hal yang mengancam wilayah perbatasan dapat langsung kita kejar," ujarnya.

Fuad membenarkan jika pada awal November 2014 lalu, sebuah kapal perang milik Malaysia sempat masuk ke dalam wilayah perbatasan Indonesia. Namun, insiden kapal yang masuk wilayah perbatasan itu, menurut dia, tak hanya dilakukan Malaysia. Kapal Indonesia pun kerap melakukan hal yang sama. "Biasanya kan mereka patroli. Kalau sudah patroli itu terkadang terbawa arus. Nah, masing-masing pihak biasanya akan saling mengingatkan agar tidak masuk lebih ke dalam," ujarnya.

www.tribunnews.com

Sabtu, 22 November 2014

: Posted on Sabtu, 22 November 2014 - 07.19 with No comments

Dua kapal perang TNI AL dikabarkan telah berhasil menggagalkan aksi pembajakan terhadap sebuah kapal kargo berbendera Panama, MV New Emerald. Dua kapal perang Indonesia tersebut adalah KRI Todak (631) dengan Komandan Mayor Laut (P) Sandy Kurniawan dan KRI Sanca (815) dengan Komandan Kapten Laut (P) Eko Yudi. Peristiwa tersebut terjadi di kawasan perairan perbatasan Indonesia dan Singapura, tepatnya di selat Philips.

KRI Todak (631). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Todak (631).
TNI AL Gagalkan Rencana Pembajakan Kapal Kargo di Perbatasan RI-Singapura.

Kapal Perang Indonesia (KRI) di bawah Komando Armada Barat (Koarmabar) menggagalkan pembajakan terhadap kapal kargo berbendera Panama. Rencana pembajakan itu berada di selat Philips, dekat Singapura. Demikian disampaikan, Kepala Dinas Penerangan, Koarmabar, Letkol (L) Ariris Miftachurrahman dalam siaran persnya, Jumat (21/11/2014).

Letkol Ariris menjelaskan, informasi terjadinya pembajakan diterima TNI AL dari liasion officer RI di di IFC (Information Fusion Center) Singapura. Disampaikan bahwa MV New Emerald berbendera Panama akan dibajak di perbatasan Indonesia-Singapura, Jumat (21/11/2014).

KRI Sanca (815) dengan Komandan Kapten Laut (P) Eko Yudi dan KRI Todak (631) dengan Komandan Mayor Laut (P) Sandy Kurniawan yang sedang melaksanakan operasi pengamanan perbatasan Indonesia-Singapura bergeser ke lokasi yang dimaksud. "Tidak membutuhkan waktu lama, kedua kapal perang tersebut berhasil mendeteksi dan menemukan keberadaan kapal MV New Emerald. Selanjutnya mereka mengawal ke perairan Teluk Jodoh, Batam, Kepulauan Riau (Kepri)," kata Letkol Ariris.

Tidak ada kerugian material dalam kejadian tersebut. Para pembajak sudah melarikan diri sebelum kedua KRI sampai di lokasi kejadian. Koarmabar, menurut Letkol Ariris, selalu siaga. Terutama terkait isu pembajakan dan pencurian.

news.detik.com

Copyright © 2013. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara | Template by Full Blog Design | Proudly powered by Blogger
PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara