Berita Hankam, Pertahanan, Alutsista, Persenjataan, Militer, TNI, Pesawat Tempur, Kapal Perang, Kotabumi, Lampung Utara, soldiers, defense, military, weapons, combat, attack, assault, security, forces
Prokimal Kotabumi Lampung Utara




Bagikan :

Rabu, 26 November 2014

: Posted on Rabu, 26 November 2014 - 08.13 with No comments

Dua pesawat jet tempur Sukhoi milik TNI Angkatan Udara masih disiagakan di Bandara Juwata, Tarakan, Kalimantan Utara. Tiga jet tempur Sukhoi tersebut ditugaskan untuk mengawasi kawasan perairan Ambalat yang berbatasan dengan wilayah Malaysia.

Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Tiga Sukhoi TNI AU Dikirim ke Tarakan Jaga Perbatasan RI-Malaysia.

Tiga pesawat Sukhoi milik TNI Angkatan Udara sejak Senin (24/11/2014), disiagakan di Pangkalan Terbang Juwata, Tarakan, Kalimantan Utara. Ketiga pesawat itu disiagakan untuk mengawasi wilayah Laut Ambalat yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsma TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, ketiga pesawat itu diterbangkan dari Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar. "Mereka punya latihan rutin di Tarakan, Makassar, dan sejumlah wilayah lain," kata Hadi, Selasa (25/11/2014).

Hadi membantah jika penempatan itu berkaitan dengan aktivitas kapal dan pesawat milik Malaysia. Menurut dia, penempatan itu hanya merupakan bagian dari operasi rutin yang sering dilaksanakan TNI AU. "Latihan rutin ya, jadi bukan hanya untuk menghalau. Sampai sekarang masih di sana (Tarakan)," katanya.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Fuad Basya mengatakan, sejak dipimpin Jenderal Moeldoko, TNI AL dan TNI AU diperintahkan untuk melaksanakan operasi gabungan. Operasi itu termasuk ke dalam operasi pengamanan wilayah perbatasan dan pulau terluar Indonesia yang rutin digelar setiap tahunnya. "Jadi ada atau tidak ada ancaman, kita tetap standby. Sinergi itu dilakukan agar apabila ada hal-hal yang mengancam wilayah perbatasan dapat langsung kita kejar," ujarnya.

Fuad membenarkan jika pada awal November 2014 lalu, sebuah kapal perang milik Malaysia sempat masuk ke dalam wilayah perbatasan Indonesia. Namun, insiden kapal yang masuk wilayah perbatasan itu, menurut dia, tak hanya dilakukan Malaysia. Kapal Indonesia pun kerap melakukan hal yang sama. "Biasanya kan mereka patroli. Kalau sudah patroli itu terkadang terbawa arus. Nah, masing-masing pihak biasanya akan saling mengingatkan agar tidak masuk lebih ke dalam," ujarnya.

www.tribunnews.com

Sabtu, 22 November 2014

: Posted on Sabtu, 22 November 2014 - 07.19 with No comments

Dua kapal perang TNI AL dikabarkan telah berhasil menggagalkan aksi pembajakan terhadap sebuah kapal kargo berbendera Panama, MV New Emerald. Dua kapal perang Indonesia tersebut adalah KRI Todak (631) dengan Komandan Mayor Laut (P) Sandy Kurniawan dan KRI Sanca (815) dengan Komandan Kapten Laut (P) Eko Yudi. Peristiwa tersebut terjadi di kawasan perairan perbatasan Indonesia dan Singapura, tepatnya di selat Philips.

KRI Todak (631). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Todak (631).
TNI AL Gagalkan Rencana Pembajakan Kapal Kargo di Perbatasan RI-Singapura.

Kapal Perang Indonesia (KRI) di bawah Komando Armada Barat (Koarmabar) menggagalkan pembajakan terhadap kapal kargo berbendera Panama. Rencana pembajakan itu berada di selat Philips, dekat Singapura. Demikian disampaikan, Kepala Dinas Penerangan, Koarmabar, Letkol (L) Ariris Miftachurrahman dalam siaran persnya, Jumat (21/11/2014).

Letkol Ariris menjelaskan, informasi terjadinya pembajakan diterima TNI AL dari liasion officer RI di di IFC (Information Fusion Center) Singapura. Disampaikan bahwa MV New Emerald berbendera Panama akan dibajak di perbatasan Indonesia-Singapura, Jumat (21/11/2014).

KRI Sanca (815) dengan Komandan Kapten Laut (P) Eko Yudi dan KRI Todak (631) dengan Komandan Mayor Laut (P) Sandy Kurniawan yang sedang melaksanakan operasi pengamanan perbatasan Indonesia-Singapura bergeser ke lokasi yang dimaksud. "Tidak membutuhkan waktu lama, kedua kapal perang tersebut berhasil mendeteksi dan menemukan keberadaan kapal MV New Emerald. Selanjutnya mereka mengawal ke perairan Teluk Jodoh, Batam, Kepulauan Riau (Kepri)," kata Letkol Ariris.

Tidak ada kerugian material dalam kejadian tersebut. Para pembajak sudah melarikan diri sebelum kedua KRI sampai di lokasi kejadian. Koarmabar, menurut Letkol Ariris, selalu siaga. Terutama terkait isu pembajakan dan pencurian.

news.detik.com

Senin, 17 November 2014

: Posted on Senin, 17 November 2014 - 07.38 with No comments

Jumlah jet tempur buru sergap yang dimiliki Indonesia masih jauh dari memadai untuk mengawal kedaulatan udara Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kelemahan Indonesia dalam hal pertahanan udara tersebut diakui oleh Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsekal Muda Hadiyan Sumintaatmadja. Meskipun beberapa waktu lalu pesawat-pesawat tempur TNI AU berhasil mencegat dan memaksa mendarat beberapa pesawat terbang asing yang tanpa izin memasuki wilayah udara Indonesia. Semua pesawat asing yang disergap itu adalah pesawat terbang sipil berkecepatan rendah. Apa yang terjadi jika pesawat jet tempur asing berkecepatan supersonik yang menyusup ke wilayah udara Indonesia?

Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Udara Luas, Pesawat Sedikit.

Kalau lebih ditelaah, ada hal menarik dalam insiden pendaratan paksa di Lanud Supadio, Selasa (28/10). Saat itu, pesawat Sukhoi bisa segera dikerahkan karena kebetulan sedang latihan di Batam. Dalam kondisi normal, tidak ada pesawat buru sergap di Batam, baik Sukhoi maupun F-16, sehingga bisa jadi pesawat asing tanpa izin pun bisa berdansa di udara tanpa ada tindakan. "Memang waktu itu kebetulan," kata Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsekal Muda Hadiyan Sumintaatmadja, pekan lalu.

Ia mengakui, Kohanudnas yang tugasnya khusus menangani ancaman kedaulatan udara mengalami kendala dalam jumlah pesawat buru sergap yang bisa dipakai untuk mencegat. Hal ini juga bisa dilihat dalam kasus jet Gulfstream IV yang sempat menambah kecepatan menjadi 920 kilometer per jam sehingga Sukhoi dari Makassar harus mengejar dengan kecepatan suara 1.700 km per jam, itu pun baru berhasil mencegatnya nyaris di perbatasan dengan Australia.

Saat ini, pesawat buru sergap yang mumpuni adalah F-16 A/B dan C/D yang berjumlah 15 buah serta 16 Sukhoi Su-27 dan Su-30. Sukhoi bermarkas di Makassar, Sulawesi Selatan, sementara F-16 di Madiun, Jawa Timur. Selain itu juga ada F-5 E/F di Madiun yang beroperasi, jumlahnya kini 9 buah. Pesawat-pesawat tempur milik TNI AU yang lain adalah pesawat tempur taktis yang punya spesifikasi kecepatan terbang di bawah kecepatan suara sehingga tidak bisa untuk mencegat. Ini berarti, kalau ada pesawat asing tanpa izin di Natuna, Sorong, atau di atas Sumatera, bisa dikatakan, hanya bisa menonton lewat layar Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional tanpa bisa berbuat apa-apa. "Ke Sorong itu butuh sekitar 2 jam, ke Medan juga sekitar 2 jam dengan Sukhoi atau F-16. Yang bisa kita lakukan hanyalah sebatas memantau, lalu lapor kepada Panglima TNI, buat nota diplomatik," katanya.

Jakarta telanjang

Salah satu masalah klasik lain adalah tidak adanya markas pesawat tempur buru sergap di Jakarta. Dengan kata lain, kalau ada ancaman pesawat asing yang datang, Jakarta dalam keadaan "telanjang" alias hanya mengandalkan meriam atau rudal yang entah berfungsi atau tidak, atau menunggu F-16 yang butuh puluhan menit untuk tiba di Jakarta. Saat ini, secara bergantian pesawat-pesawat tempur buru sergap itu menginap di Jakarta. Hadiyan juga mengakui, beberapa instalasi vital tidak dilindungi dari serangan udara.

Kepala Staf TNI AU Marsekal IB Putu Dunia mengakui, jumlah pesawat yang bisa mencegat pesawat asing masih jauh dari cukup. Pesawat Hawk 100/200, misalnya, yang bermarkas di Lanud Supadio, Pontianak, penggunaannya bukan untuk pengejaran, apalagi kalau pesawat yang dikejar bermesin jet. Pesawat F-5 juga sudah habis masa pakainya dan sedang dicari penggantinya. "Ya, bagaimana, uangnya tak cukup," katanya di sela-sela Indo Defence, beberapa waktu lalu.

Selain pesawat sedikit, Kohanudnas pada praktiknya juga tidak memiliki pesawat sendiri untuk digerakkan sewaktu-waktu. Pesawat berada di bawah TNI AU, sementara Kohanudnas berada di bawah Mabes TNI. Secara rutin, hanya sepertiga dari jumlah pesawat TNI AU yang bisa dipakai. Sepertiga lainnya dalam pemeliharaan dan sepertiga sisanya dipakai latihan demi kemampuan pilot-pilot.

Hadiyan mengatakan, di negara-negara lain, penggunaan pesawat tempur dibagi dua bagian yang terpisah. Komando Strategis untuk serangan-serangan strategis sehingga yang dilatih adalah sasaran-sasaran strategis di darat, seperti pengeboman. Sementara itu, Komando Pertahanan Udara bertugas siaga 24 jam untuk menangani sasaran-sasaran yang berhubungan dengan wahana udara. "Organisasi ini penting kalau kita mau diakui. Tapi, yang lebih penting lagi jumlah pesawatnya," kata Hadiyan.

Efek gentar

Pengamat intelijen Susaningtyas Kertopati mengatakan, sebaiknya ada pangkalan udara TNI AU yang dilengkapi dengan pesawat tempur sergap, seperti di Lanud Medan, Natuna, Tarakan, Biak, Timika, Kupang, dan Jakarta. Tujuannya agar Indonesia memiliki efek gentar dalam pertahanan udara. Hal senada disampaikan Hadiyan. Ia membeberkan bahwa ada beberapa wilayah penting yang harus dijaga, seperti Selat Malaka, Aceh, dan Batam yang bisa menggunakan pesawat dari Medan. Selain itu juga perlu pesawat di Natuna yang strategis, mengingat kondisi di Laut Tiongkok Selatan, dan pesawat di Tarakan atau Manado yang bisa menangani masalah di Ambalat.

Alternatif lain, minimal, setiap Komando Sektor Hanudnas memiliki tiga pesawat tempur buru sergap. Saat ini ada empat Kosek, yaitu Kosek 1 di Sumatera Selatan, Natuna, Jakarta, Jawa Tengah, dan Kalimantan Tengah. Kosek 2 di Makassar, Kaltim, NTT, NTB, dan Sulawesi; Kosek 3 di Dumai ke arah barat; sedangkan Kosek 4 di Biak. Setiap Panglima Kosek bisa mengeluarkan komando cegat terhadap pesawat tempur kalau ada pesawat asing masuk.

Hadiyan mengatakan, dari segi kualitas, pesawat Sukhoi dan F-16 sudah cukup menggetarkan lawan. Namun, selain pesawat, yang juga penting adalah senjatanya. Dicontohkan, Sukhoi yang mencegat jet Gulfstream awalnya sempat tak dihiraukan sampai akhirnya mengeluarkan R-73 Archer, rudal dari udara ke udara. "Memang prosedurnya force down itu dengan keluarkan senjata," cerita Putu Dunia.

Putu Dunia mengatakan, menembak pesawat asing bukan hal yang sederhana kalau merujuk pada kebijakan politik Indonesia. Apalagi terhadap pesawat sipil dan terutama saat dalam keadaan damai. Ada prosedur panjang, seperti perintah Panglima TNI yang sebelumnya merupakan perintah Presiden RI. Dengan kondisi pesawat tempur seperti ini, realitanya, tidak semua pesawat asing tanpa izin bisa dipaksa mendarat. Kemampuan radar juga jadi catatan. Saat ini kerja sama radar sipil dan militer sudah semakin baik. Sayangnya, hanya pesawat-pesawat yang menghidupkan transpondernya yang bisa dideteksi radar primary. Itu pun sudah menghasilkan 10-15 pesawat asing tanpa izin yang masuk. "Ada yang sempat kita force down dan ada yang tidak," kata Hadiyan.

nasional.kompas.com

Sabtu, 15 November 2014

: Posted on Sabtu, 15 November 2014 - 08.01 with No comments

5 unit pesawat drone atau pesawat tanpa awak (UAV: Unmanned Aerial Vehicle) buatan luar negeri baru-baru ini telah dibeli Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk memudahkan tugas TNI dalam mengawasi kawasan di perbatasan negara. Untuk selanjutnya, Kementerian Pertahanan akan membeli lagi pesawat-pesawat drone yang lebih canggih untuk mengembangkan dan meningkatkan teknologi pesawat UAV buatan Indonesia.

Wulung, Pesawat UAV Buatan PT Dirgantara Indonesia dan PT LEN. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Wulung, Pesawat UAV Buatan PT Dirgantara Indonesia dan PT LEN.
TNI Datangkan Lima Drone Baru.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengungkapkan, TNI telah mendapatkan lima pesawat tanpa awak (drone). Setidaknya lima buah drone telah didatangkan dari luar negeri dan siap memperkuat kekuatan pertahan TNI.Sayangnya, Moeldoko enggan menyebut negara asal-asal drone tersebut dan spesifikasi pesawat tanpa awak tersebut secara mendetail. Lebih lanjut, Moeldoko menjelaskan, kedatangan drone-drone impor itu akan melengkapi pesawat tanpa awak yang sebelumnya telah dimiliki TNI. "Sudah ada drone baru yang datang ke kami, import dari luar. Ada sekitar lima buat," kata Moeldoko di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (13/11/2014).

Moeldoko mengakui, sebenarnya TNI sudah memiliki drone-drone buatan industri pertahanan dalam negeri. Namun, kedatangan drone-drone itu dapat menjadi bahan untuk pengembangan teknologi drone-drone buatan dalam negeri. Dari industri pertahanan lokal, PT Dirgantara Indonesia, Dislitbang AU, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memang sempat membuat dan mengembangkan pesawat tanpa awak tersebut. "Bisa juga akan menjadi tambahan, meskipun sebetulnya kami sudah punya. Sekarang, kami tengah belajar untuk pengendalian itu," lanjut mantan KSAD tersebut.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, memang sempat mengungkapkan rencana pihaknya untuk mendatangkan drone-drone baru demi memperkuat kekuataan pertahanan TNI. Penggunaan drone itu pun dapat dimaksimalkan untuk menjaga daerah-daerah perbatasan.Ryamizard pun menegaskan, pihaknya akan mencoba membeli drone yang lebih canggih lagi dan nantinya teknologi drone tersebut bisa dikembangkan lebih lanjut oleh industri pertahanan lokal.

Pembelian alutsista canggih itu pun tetap diikuti dengan skema alih teknologi. "Untuk sementara,kami akan coba beli lagi, yang jauh lebih canggih. Nantinya dari pembelian itu akan kami kembangkan lagi," tutur Ryamizard beberapa waktu lalu.

nasional.republika.co.id

Selasa, 11 November 2014

: Posted on Selasa, 11 November 2014 - 06.31 with No comments

Eli Gun adalah jenis senapan mesin yang diproduksi oleh perusahaan pertahanan dari Indonesia, PT Danan Armaments. Senapan mesin Eli Gun mampu menembakkan 30 hingga 50 peluru per detik dan 3.000 peluru per menit. Produk militer PT Danan Armaments ini sudah dipesan sebanyak 200 unit oleh negara-negara di Timur Tengah. Tapi sayangnya TNI belum tertarik dengan produk senapan mesin kelas dunia buatan Indonesia ini.

Eli Gun, Senapan Mesin Produksi PT Danan Armaments. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Eli Gun, Senapan Mesin Produksi PT Danan Armaments.
Senapan Mesin Kelas Dunia dari Indonesia.

Apresiasi patut diberikan kepada perusahaan alat utama sistem senjata nasional. Banyak senjata dan alat tempur produksi dalam negeri yang dinilai telah memenuhi kualitas dunia. Dua produsen senjata yang mampu menarik perhatian internasional dengan produk-produknya di Indo Defence 2014 Expo & Forum adalah PT Pindad dan PT Danan Armaments. "Pindad dengan SPR 2-nya, sementara Danan dengan Eli Gun-nya. Kita akhirnya bisa buat senapan mesin berkelas dunia," kata Direktur Utama PT Danan Armaments, Dananjaya Trihardjo, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (7/11/2014).

Eli Gun merupakan senapan mesin hasil kerjasama perusahaan nasional Danan Armaments dengan perusahaan Italia. Dengan kemampuan melontarkan 3 ribu butir peluru per menit, senapan ini dianggap mumpuni dan dapat disejajarkan dengan senjata kelas dunia. Sejak dirilis beberapa waktu lalu, 200 pucuk Eli Gun sudah dipesan beberapa negara di kawasan Timur Tengah. "Eli Gun juga mampu mengeluarkan peluru 30-50 per detik. Kami membanderol harganya di kisaran US$ 150 ribu hingga US$ 300 ribu," kata Dananjaya.

Kemampuan Eli Gun sudah diuji coba dengan dipasangkan ke helikopter. Setelah berhasil difungsikan pada helikopter, Dananjaya kini menarget penggunaan Eli Gun bisa diintegrasikan ke kapal laut. Meski dinilai mumpuni, Dananjaya mengatakan Eli Gun belum dilirik Tentara Nasional Indonesia. Belum ada obrolan antara Dananjaya dan TNI mengenai jual-beli senjata tersebut. "Padahal senjata ini sudah bisa diintegrasikan ke helicopter Bolco dan rantis (kendaraan taktis). Mudah-mudahan ke depannya bisa diintegrasikan pada kendaraan tempur, termasuk kapal, dan dilirik TNI," kata Dananjaya.

Pujian juga layak diberikan kepada kapal patroli antipeluru produksi PT Bay Industrial Indonesia. Sesuai slogannya, produk Bay Industrial mampu menahan peluru level 3 plus AK 47 dan MSC. Kapal tersebut juga mampu melaju dengan kecepatan hingga 80 knot meski diisi oleh 26 penumpang. "Nigeria kemarin ke sini dan katanya mau impor kapal ini. Presiden Jokowi juga ke sini dan sangat tertarik melihat produk kami," ujar pemilik PT Bay Industrial Indonesia, Lee Ki Hyoeng.

www.cnnindonesia.com

: Posted on - 05.15 with No comments

Unmanned Surface Vessels (USV) Bonefish adalah jenis kapal perang tanpa awak yang saat ini sedang dikembangkan oleh PT Lundin yang bekerjasama dengan perusahaan SAAB dari Swedia. USV Bonefish ini bakal dilengkapi dengan sistem persenjataan antara lain rudal RBS15 Mk3 dan senapan otomatis 40Mk4. Untuk sistem sensornya, kapal perang tanpa awak ini didukung radar Sea Giraffe 1X 3D.

USV Bonefish. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
USV Bonefish.
Kapal Laut Tanpa Awak Ini Curi Perhatian Menhan Ryamizard.

Produsen alat pertahanan nasional, PT Lundin tengah dalam proses pembuatan Kapal laut tanpa awak. Bekerja sama dengan perusahaan asal Swedia, SAAB, PT Lundin masih dalam tahap membangun kapal bernama Unmanned Surface Vessels (USV) Bonefish. "Kita bekerja sama dengan SAAB. Mereka yang kerjakan teknologinya. Kita yang buat platformnya," ujar salah satu staf PT Lundin di Indo Defence 2014 Expo&Forum yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (5/11/2014).

Kapal ini dilengkapi dengan rudal RBS15 Mk3 yang berkecepatan subsonik. Rudal ini memiliki hulu ledak HET seberat 200 kg. Selain itu kapal ini juga dipersenjatai dengan naval gun 40Mk4. Tak hanya itu, radar Sea Giraffe 1X 3D yang memiliki berat 150 kg terpasang USV Bonefish ini. Radar ini disebut mampu mereduksi efek lengkung bumi.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu didampingi KSAL Laksamana Marsetio sempat mengunjungi stan yang menunjukkan prototype kapal tanpa awak ini. Ke depan, PT Lundin berharap agar bisa benar-benar produk unggulan itu secara mandiri. "Kan kita ada transfer teknologi supaya teknisi kita bisa buat sendiri," kata petugas yang sama.

news.detik.com

Senin, 10 November 2014

: Posted on Senin, 10 November 2014 - 06.22 with No comments

Sebuah sistem senjata laser yang dikembangkan oleh China telah berhasil diuji coba. Dalam uji coba tersebut, senjata laser ini berhasil menembak jatuh pesawat drone dari jarak 1,2 mil. Senjata laser ini dikembangkan oleh lembaga China Academy of Engineering Physics (CAEP) dan China Jiuyuan Hi-tech Equipment Corporation.

Dikong Weishi, Senjata Laser Buatan China. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Dikong Weishi, Senjata Laser Buatan China.
Media pemerintah China, Xinhua, melaporkan bahwa negeri tirai bambu itu berhasil mengembangkan sistem senjata laser yang sangat akurat dan berhasil menembak jatuh pesawat drone ringan yang terbang pada ketinggian rendah. Lembaga yang mengembangkan sistem senjata laser tersebut, China Academy of Engineering Physics (CAEP), mengatakan bahwa senjata laser ini memiliki jangkauan tembak hingga 1,2 mil dan mampu menembak jatuh target dalam waktu 5 detik.

Sistem senjata laser yang dikembangkan oleh China Academy of Engineering Physics (CAEP) dan China Jiuyuan Hi-tech Equipment Corporation itu diharapkan bisa berperan efektif dalam mengantisipasi ancaman dari udara pada kegiatan penting yang mengharuskan berkumpulnya banyak orang di suatu tempat dan kegiatan pemetaan udara tanpa izin. Meriam laser ini efektif untuk menembak jatuh pesawat terbang ukuran ringan pada ketinggian maksimum 500 meter yang terbang dengan kecepatan 50 meter/detik.

Seorang pejabat dari China Jiuyuan Hi-Tech Equipment Corp, Yi Jinsong, mengatakan bahwa pesawat tak berawak ukuran kecil dan berbiaya murah cenderung bisa digunakan untuk sebuah serangan teroris dari udara. "Menjatuhkan drone seperti itu biasanya menjadi tugas para penembak jitu dan helikopter. Tapi cara ini seringkali mengakibatkan kerusakan yang tidak diinginkan," kata Yi Jinsong.

Pihak CAEP mengungkapkan bahwa sistem senjata laser ini bisa diinstal pada kendaraan darat. Dalam uji coba yang dilakukan, senjatan laser tersebut telah menembak jatuh 30 drone dengan tingkat keberhasilan 100%. Saat ini CAEP juga sedang mengembangkan sistem senjata laser yang sama, namun dengan kekuatan yang lebih besar dan jangkauan tembak yang lebih jauh.

www.theguardian.com

Sabtu, 08 November 2014

: Posted on Sabtu, 08 November 2014 - 08.13 with No comments

Bentuk fisik jet tempur KFX/IFX sudah bisa dipastikan dengan dipajangnya sebuah replika pesawat tempur tersebut di stand KAI pada Indo Defence 2014. Jet tempur KFX/IFX adalah program kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan untuk mengembangkan dan memproduksi sebuah pesawat tempur generasi 4,5 yang juga telah mengaplikasikan teknologi stealth (siluman).

Replika Jet Tempur KFX/IFX. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Replika Jet Tempur KFX/IFX.
Spesifikasi pesawat tempur KFX/IFX Indonesia bisa berbeda.

Spesisikasi calon pesawat tempur generasi 4,5 hasil kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan, KFX/IFX, bisa jadi akan berbeda antara yang dimiliki Indonesia dan Korea Selatan, walau rancang bangun fisiknya telah final. "Serangkaian pembicaraan tetap dilakukan walau rancang bangun fisiknya telah ditetapkan. Modelnya bisa dilihat seperti pada Indo Defence 2014 ini," kata Deputi Manajer Program KFX/IFX Korea Aerospace Industry, Hwang Sungho, di sela pameran industri pertahanan Indo Defence 2014, di Jakarta, Rabu (5/11/2014).

Dia juga tidak mengungkap jenis-jenis teknologi yang dikatakan akan menjadi teknologi "masa depan" yang akan dibagi kepada Indonesia. Tentang ini, ahli teknologi penerbangan, Dr Mulyo Widodo, akhir 2013 lalu, menyatakan, "Meski sebagian lagi (teknologi) masih dicari, kami percaya Korea bisa meraihnya. Mereka punya peta jalan yang jelas dalam proyek pengembangan jet tempur. Mereka sudah memulainya dengan KT-1, lalu T-50, TA-50 dan setelah itu: FA-50. Lebih dari itu mereka juga punya belasan veteran NASA dan USAF yang jadi tempat bertanya. Mereka kini dosen di sejumlah perguruan tinggi," katanya.

Program KFX/IFX yang digagas Presiden Korea Selatan (saat itu), Kim Dae-jung, pada 2001, masih dalam tahap pengembangan walau kesepakatan komposisi pembiayaan antara Indonesia dan Korea Selatan sudah ditentukan, yaitu 20 berbanding 80. Secara total, berdasarkan perundingan kedua pemerintahan, akan dibuat 120 unit KFX/IFX ini. Hwang juga tidak bersedia menjawab, apakah komposisi "kontribusi" pembiayaan 20:80 itu akan menentukan spesifikasi teknis KFX/IFX yang akan dimiliki Indonesia dan Korea Selatan.

Sempat berkembang "teka-teki" tentang rupa pasti fisik KFX/IFX ini, namun rancangan pasti fisiknya belakangan sudah dipastikan dan model skalanya dipajang di gerai KAI pada Indo Defence 2014 ini. Secara kasat mata, bentuk fisiknya sangat mirip dengan F-22 Raptor; bermesin dua dengan sayap tegak ganda dan rancangan kokpit serta bagian depan fuselage serupa, pun pada kompartemen bomb bay-nya yang tersembunyi. Dengan begitu, arsenal yang bisa dia bawa disembunyikan sedemikian rupa di dalam ruang bom itu. Ini juga yang menolong tangkap radar cross section-nya menjadi sangat minimal. Teknologi serupa lazim dijumpai pada F-22 Raptor dan F-35 Lighting II.

Perbedaan spesifikasi itu, katanya, bisa pada beberapa hal tergantung pada keperluan masing-masing pemilik unit pesawat tempur generasi tercanggih yang digadang-gadang berteknologi stealth dan melengkapi capaian kemampuan Dassault Rafale (Prancis), Eurofighter Typhoon (konsorsium Eropa Barat), walau masih di bawah Lockheed Martin F-35 Lighting II.

Dia katakan, penentuan macam dan sumber piranti avionika, sebagai misal, masih belum diputuskan. Banyak ambisi yang ingin ditanamkan pada tubuh KFX/IFX ini, di antaranya penguasaan teknologi stealth, yang pada beberapa tipe pesawat tempur secara terbatas bisa dientaskan dengan aplikasi cat tertentu yang bisa menyerap paparan gelombang radar.

Hwang sangat yakin bahwa Indonesia tetap pada pendiriannya yaitu mewujudkan KFX/IFX ini hingga operasional penuh. Saat ditanya mengapa perwujudannya sejak ide digulirkan memakan waktu lama, dia berujar, "Eurofighter Typhoon juga memerlukan waktu cukup lama untuk bisa beroperasi penuh."

www.antaranews.com

: Posted on - 05.53 with No comments

12 unit helikopter serang ringan jenis Ecureuil/Fennec dari Airbus Helicopters mulai diterima secara bertahap oleh TNI AD. Pengadaan 12 unit helikopter Ecureuil/Fennec untuk TNI AD tersebut melibatkan PT Dirgantara Indonesia dalam pembuatan dan pemasangan persenjataannya. Dijadwalkan hingga tahun 2016 mendatang, program pengadaan 12 helikopter serang Ecureuil/Fennec ini sudah dapat diselesaikan secara keseluruhan.

Helikopter Serang Ecureuil/Fennec. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Helikopter Serang Ecureuil/Fennec.
TNI AD terima 12 heli serang Ecureuil/Fennec.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) mulai menerima kedatangan 12 helikopter ringan seri Ecureuil/Fennec dari Airbus Helicopters yang akan membekali TNI AD dengan kemampuan canggih dalam misi penyerbuan. Hingga 2016, TNI AD dijadwalkan akan menerima enam heli bermesin tunggal dan enam heli bermesin ganda. "Pengiriman ini sejalan dengan tanggung jawab kami kepada pemerintah Indonesia untuk mengembangkan sistem pertahanan secara lokal guna meningkatkan kemampuan pertahanan negara," kata Presiden PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso, Kamis (6/11/2014).

Sebanyak 12 helikopter rotorcraft dari seri Ecureuil/Fennec tersebut akan membentuk skuadron serang ringan TNI AD. Berdasarkan kesepakatan industri strategis antara Airbus Helicopters dengan PT Dirgantara Indonesia, peralatan misi untuk armada tersebut – termasuk senapan mesin dan peluncur roket – akan dipasang oleh PT Dirgantara Indonesia di pabriknya di Bandung.

Fennec –versi militer dari seri helikopter Airbus Ecureuil yang telah dikenal luas– telah banyak menjalankan misi tempur, dukungan udara, pelacakan, pengawalan dan pelatihan di seluruh dunia, termasuk Asia. Seri yang terdiri atas tipe mesin tunggal dan ganda yang memiliki kemampuan adaptasi ini, menggabungkan kemampuan serang ringan yang dahsyat dengan rangka badan dan solusi sistem misi yang hemat biaya. "Keputusan Indonesia untuk meggunakan Fennec menunjukkan kesesuaian seri ini bagi pengoperasian di berbagai macam kondisi. Fennec memiliki kemampuan manuver yang tinggi dengan platform yang lincah, serta sulit dideteksi," ujar Head of Region Airbus Helicopters untuk Asia Tenggara dan Pasifik Philippe Monteux.

Pembelian Fennec oleh TNI Angkatan Darat ini dilakukan menyusul pembelian enam buah helikopter EC725 oleh Angkatan Udara Indonesia pada 2012. Di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik, Royal Thai Army juga memesan delapan buah Fennec untuk misi pengintaian pada 2011.

PT Dirgantara Indonesia telah menjalin kemitraan dengan Airbus Helicopters selama hampir 40 tahun. Airbus Helicopters adalah kontraktor utama bagi pemerintah Indonesia dalam menyediakan layanan lengkap, mulai dari penjualan, kustomisasi dan penyelesaian, hingga pengiriman dan layanan purna jual untuk semua produk rotorcraft Airbus Helicopters.

PT Dirgantara Indonesia juga merupakan bagian dari rantai pasok Airbus Helicopters, yang memroduksi tail boom dan merakit rangka badan untuk helikopter seri EC225 dan EC725 untuk pasar global.

www.antaranews.com

Jumat, 07 November 2014

: Posted on Jumat, 07 November 2014 - 07.50 with No comments

Senapan sniper SPR-2 adalah salah satu produk militer unggulan PT Pindad. SPR-2 (Senapan Penembak Runduk 2) masuk kategori senapan anti material karena peluru yang ditembakkan mampu menembus plat baja setebal 2 Cm. Menurut Kepala Departemen Komunikasi PT Pindad, pihaknya kini sedang memproduksi 150 pucuk senapan SPR-2 untuk kebutuhan TNI.

SPR-2, Senapan Sniper Anti-Material Produksi PT Pindad. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
SPR-2, Senapan Sniper Anti-Material Produksi PT Pindad.
Pindad produksi 150 senapan SPR-2 buat Kopassus, dunia gempar.

PT Pindad mampu membuat senapan sniper SPR-2 yang membuat dunia militer internasional kaget. Pasalnya, senapan ini mampu menjangkau target dengan jitu dalam jarak lebih dari 2 km. "Kita sedang bikin 150 pucuk (senapan SPR-2) buat Kopassus, dunia sniper internasional sudah gempar. Senapan SPR-2 ini jangkauannya sampai 2 km," kata Kadep komunikasi PT Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11/2014).

Menurutnya jenis peluru senjata sniper SPR-2 ditakuti banyak negara. Peluru ini mampu menembus kendaraan lapis baja sekalipun. "Pelurunya 12,7 mm anti material, jenis pelurunya paling ditakuti karena bisa menembus tank dan kendaraan lapis baja. Peluru ini dapat menembus baja lalu terbakar dan meledak di dalam," terang dia.

Masih menurutnya, senapan sniper SPR-2 ini berawal dari senapan sniper anti material milik TNI yang tak berani diuji coba. Kemudian Pindad berusaha menguji dan akhirnya membuat sendiri. "Tahun 2003, TNI punya 3 pucuk dari negara lain tapi nggak berani uji karena berat dan besar. Akhirnya kita uji bareng-bareng lalu kita buat sendiri tahun 2006, itu awalnya," pungkas dia.

www.merdeka.com

Kamis, 06 November 2014

: Posted on Kamis, 06 November 2014 - 07.55 with No comments

11 unit helikopter anti kapal selam (AKS) tipe AS565 MBe Panther dari Airbus Helicopters telah dipesan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk meningkatkan kemampuan tempur TNI AL. Kontrak pemesanan 11 unit helikopter AS565 MBe Panther ditandatangani oleh Kemenhan dan Airbus pada hari pertama penyelenggaraan Indo Defense 2014. Menurut rencana, pembuatan beberapa komponen dan perakitan helikopter-helikopter AKS tersebut akan dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia dibawah lisensi Airbus Helicopters.

AS565 MBe Panther. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
AS565 MBe Panther.
Indonesia Borong 11 Helikopter Airbus untuk Misi Anti-Kapal Selam.

Indonesia memborong 11 helikopter rotocraft Airbus AS565 MBe Panther pada hari pertama penyelenggaraan Indo Defense 2014, Rabu (5/11/2014). Dengan pembelian ini, Indonesia bermaksud meningkatkan kemampuan misi perang anti-kapal selam. Dalam pengadaan helikopter anti-kapal selam ini, Airbus bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia. Pembuatan beberapa komponen serta perakitan akan dilakukan di dalam negeri dengan lisensi Airbus Helicopters.

Rencananya, kesebelas helikopter itu akan dipasok oleh Airbus dalam jangka waktu tiga tahun. PT Dirgantara Indonesia juga akan melengkapi helikopter dengan peralatan pendukung sebelum diberikan ke Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ada dua peralatan yang akan ditambahkan pada helikopter itu, yaitu dipping sonar Helicopter Long-Range Active Sonar (HELRAS) dan sistem peluncur torpedo. Keduanya bakal membuat helikopter mumpuni untuk operasi darat maupun laut.

Phillipe Monteoux, Direktur Airbus Helicopters Asia Tenggara, menyambut baik pemesanan helikopter ini. Ia mengatakan bahwa AS565 MBe Panther adalah solusi modern dan andal untuk memenuhi kebutuhan Indonesia sebagai negara maritim.

Sementara itu, Presiden PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan, kerja sama ini adalah wujud dari upaya PT DI untuk memasok kebutuhan alutsista yang hemat sekaligus meningkatkan keterlibatan industri dalam negeri.

Pembelian ini menambah koleksi helikopter rotocraft buatan Airbus milik Indonesia. Unit lain ialah Colibri EC120 ringan untuk pelatihan, Fennec dan BO-105 untuk misi serang ringan, serta Puma dan Super Puma yang dioperasikan TNI Angkatan Udara.

Dalam rilis Airbus hari ini, disebutkan bahwa dalam waktu dekat, TNI AU juga akan menerima helikopter EC725 untuk misi pencarian dan penyelamatan.

sains.kompas.com

Selasa, 04 November 2014

: Posted on Selasa, 04 November 2014 - 04.21 with No comments

Dua jet tempur Sukhoi TNI AU berhasil menyergap dan memaksa mendarat (Force Down) sebuah pesawat jet jenis Gulfstream IV dengan no HZ-103 di Pangkalan Udara TNI AU El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pesawat jet yang dioperasikan oleh Saudi Arabian Airlines tersebut diduga memasuki kawasan udara Indonesia tanpa izin. Saat berita ini diturunkan, pilot dan 6 orang crew pesawat sedang menjalani pemeriksaan terkait flight clearance untuk melintasi ruang udara Indonesia.

Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Pesawat Sukhoi TNI AU Paksa Jet Arab Saudi Mendarat Darurat.

Pesawat tempur Sukhoi 27/30 TNI AU memaksa pesawat jet pribadi jenis Gulfstream yang dioperatori Saudi Arabian Airlines mendarat di lapangan udara El Tari, Kupang, karena diduga menyalahi perizinan. Penyergapan dan pemaksaan pesawat mendarat sempat menimbulkan aksi kejar-kejaran dengan kecepatan suara. Pesawat Sukhoi TNI AU tercatat sempat menyentuh kecepatan 1.700 kilometer per jam.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara, Mersekal Pertama TNI, Hadi Tjahjanto, menceritakan pesawat jet pribadi jenis Gulfstream IV dengan no HZ-103 berangkat dari Singapura menuju Darwin Australia sebelum menuju tujuan akhir Brisbane, Senin (3/11/2014). "Pesawat dari Singapura dicurigai tidak memiliki surat perizinan memasuki wilayah Indonesia oleh Kosek Hanudnas I Halim Perdanakusuma sejak melintasi wilayah udara kepulauan Riau dan memasuki Kalimantan dengan rute penerbangan M-774 menuju Australia," jelasnya dalam rilis, Senin (3/11/2014).

Saat terbang di atas Kota Palangkaraya tanggung jawab pengawasan diserahkan pada Kosek Hanudnas II di Makasar. Sebelum disergap, ATC Ujung Pandang menanyai clearance dan dijawab dengan menyebutkan izin penerbangan No. 5042+AUNBLN+DAU3010+2014. "Setelah di periksa ulang ternyata nomor tersebut adalah perijinan melintas bagi pesawat haji jenis Boeing 747-400," tambahnya.

Saat ditanya berulang, pesawat malah menambah kecepatan dari 0.75 Mach menjadi 0.85 Mach. Pengendali operasi pertahanan udara di Popunas Jakarta dan Posek II Makasar menilai pesawat tersebut berniat kabur secepatnya keluar dari wilayah NKRI menuju Australia. Aksi pengejaran lantas dimulai. Sebanyak dua pesawat Sukhoi Su-30 MK2 TNI dengan call sign ‘Thunder Flight’ disiapkan dengan bahan bakar penuh dan amunisi lengkap, termasuk rudal udara ke udara canggih R-73 Archer untuk menyergap. Pada pukul 12.12 WIB kedua pesawat tinggal landas mengejar pesawat target. Saat itu posisi pesawat target 200 km di selatan Makassar dengan kecepatan 0.80 M (864 kmpj) dengan ketinggian 41 ribu kaki.

Tahu bila dikejar, pesawat Gulfstream meningkatkan kecepatan dari 0.74 Mach (700 kmpj) menjadi 0.85 Mach (920 kmpj). Namun, Sukhoi mengejar dengan kecepatan suara yaitu antara 1.3 – 1.55 Mach (1400- 1700 kmpj). Pengejaran dilakukan sampai melewati El Tari, Kupang dan berhasil mendekati pesawat tersebut di sekitar 85 Nm atau 150 km dari Kupang, mendekati perbatasan wilayah udara Timor Leste. Crew pesawat Gulfstream IV lantas diperintahkan berbelok ke kanan menuju Lanud El Tari Kupang. Akhirnya pukul 13.25 WIB pesawat dari Saudi Arabia tersebut mendarat dan tujuh menit kemudian disusul Sukhoi. "Pesawat dipaksa mendarat karena awaknya harus diperiksa oleh personel TNI AU sebab tertangkap basah masuk wilayah udara Indonesia tanpa izin dokumen flight clearance," jelas Hadi.

Pesawat Gulfstream IV lantas diparkir di Apron Lanud El Tari. Identifikasi mendapati penerbang adalah Capt. Pilot Waleed Abdulaziz M dengan total kru sebanyak 6 orang dan penumpang 7 orang. Selanjutnya pukul 13.30 WIB captain beserta 6 orang crew pesawat dibawa ke ruang VIP Room Lanud El Tari dan diinterogasi tentang tidak adanya dokumen. Saat bersamaan tujuh orang tetap di dalam pesawat. "Pesawat Gulfsteram dilepas otoritas penerbangan Singapura tanpa diberi informasi tentang persyaratan flight clearance untuk melintasi ruang udara Indonesia bagi pesawat tak terjadwal," katanya soal hasil penyelidikan.

www.solopos.com

Senin, 03 November 2014

: Posted on Senin, 03 November 2014 - 06.00 with No comments

Pabrikan jet tempur Eurofighter Typhoon menggelar diskusi perkembangan industri kedirgantaraan dan penerbangan militer di area Car Free Day, Jl. M. H. Thamrin, Jakarta Pusat pada hari Minggu, 2 Nopember 2014. Seorang test pilot Eurofighter Typhoon membeberkan keunggulan jet tempur yang diproduksi perusahaannya dalam acara diskusi tersebut. Eurofighter Typhoon termasuk sebagai salah satu kandidat jet tempur yang dipertimbangkan oleh Kementrian Pertahanan dan TNI AU untuk menggantikan armada jet tempur F-5 yang akan dipensiunkan.

Jet Tempur Eurofighter Typhoon. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Jet Tempur Eurofighter Typhoon.
Mengenal Pesawat Tempur Eurofighter yang Dibidik Indonesia.

Pabrikan pesawat tempur Eurofighter menggelar sosialisasi perkembangan industri kedirgantaraan dan penerbangan militer. Acara ini digelar di area Car Free Day, Jl. M. H. Thamrin, Jakarta Pusat pada Minggu (2/11/2014). Hadir dalam acara ini perwakilan dari Eurofighter Direktur Export, Joe Parker dan Capability Development Manager, Paul Smith.

Selain diikuti pengunjung Car Free Day, acara ini juga diikuti komunitas peminat aviasi dan militer Indonesia. Dalam diskusi tersebut, Joe mengatakan, kehadiran Eurofighter dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi Indonesia. Selain itu, pihaknya sudah memiliki kerjasama dengan industri penerbangan Indonesia, PT Dirgantara sejak lama. "Indonesia sudah bekerjasama dengan Airbus Group, tidak hanya sebatas komersial tapi juga militer. Ini juga memberikan potensi lapangan pekerjaan industrial dan teknik yang bernilai tinggi dan berkelanjutan. Saya harap Eurofighter bisa menjaga angkasa Indonesia," tutur Joe.

Sementara itu, Paul yang pernah menjadi test pilot Eurofighter Typhoon menjelaskan, bahwa pesawat swing role ini paling tangguh dan andal dibanding pesawat tempur negara lain. Sejumlah perangkat canggih ditempatkan di pesawat tempur pada 4 negara yakni Inggris, Jerman, Spanyol dan Itali ini. "Eurofighter Typhoon sangat unggul baik dari segi kecepatan, power, lincah dan dia bisa terbang lebih tinggi dari pesawat-pesawat lain. Pilot sendiri bisa fokus di peperangan udara dan darat tanpa memerhatikan sekeliling dia. Ia bisa mengantisipasi ancaman dari arah lain," cakap Joe yang mengenakan seragam pilot ini.

Kementrian Pertahanan dan TNI Angkatan Udara hingga kini masih mengkaji calon pengganti pesawat tempur F-5 yang akan di pensiunkan. Sejumlah pilihan sudah dilirik seperti Sukhoi Su-35 dari Rusia, Dassault Rafale dari Perancis, JAS Grippen dari Swedia serta pesawat tempur asal Amerika. Sementara Eurofighter Typhoon diusulkan PT Dirgantara Indonesia karena pihak produsen sangat mungkin berbagi dalam hal transfer teknologi dan juga lisensi suku cadang. Penggantian pesawat F-5 sendiri sudah disusun pada RPJMN 2015-2019 yang direncanakan sebanyak 12 unit.

Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, pembelian Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) harus berperan meningkatkan peran industri dalam negeri. Pada tahun 2012, pemenuhan alutsista dalam negeri mencapai 15,8%. Ditargetkan pada tahun 2019, Industri Pertahanan dalam negeri mampu memenuhi 50% kebutuhan alutsista TNI.

news.liputan6.com

Minggu, 02 November 2014

: Posted on Minggu, 02 November 2014 - 04.56 with No comments

Persiapan pembangunan pangkalan militer TNI di Tanjung Datu yang berada di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat semakin dimatangkan. Untuk merealisasikan pangkalan militer TNI di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan telah mengalokasikan dana sebesar Rp 850 miliar.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko.
Tempatkan Pasukan di Tanjung Datu, TNI Siapkan Rp 850 Miliar.

Rencana TNI untuk pembangunan pangkalan dan pembangunan pasukan di perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Tanjung Datu, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat telah mendapatkan persetujuan dari pemerintah. Dana yang dikucurkan untuk membangun kekuatan militer darat, laut dan Udara diperkirakan mencapai 850 miliar rupiah. Kepastian ini disampaikan Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko usai membuka dan mengikuti ceramah umum pakar ekonomi, Prof Gustav Papanek, di Markas Besar TNI. "'Ini (pembangunan dan deploy pasukan) sudah disetujui. Nanti anggarannya yang akan keluar kurang lebih 850 miliar untuk membangun kekuatan laut, darat, dan udara,"' kata Moeldoko kepada wartawan, Kamis (30/10/2014).

Moeldoko menambahkan, telah bekoordinasi dengan Kementerian Pertahanan terkait penggunaan anggaran tersebut. Sebelumnya, permasalahan perbatasan di tanjung datu sempat menjadi sorotan lantaran upaya Malaysia untuk membangung mercusuar di kawasan perairan tanjung datu, yang sebenarnya masih masuk ke dalam wilayah Indonesia.

Terkait koordinasi kerja dengan Menhan yang baru, Moeldoko optimis tidak akan menemui banyak kendala dengan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. Terlebih, Ryamizard merupakan purnawirawan TNI dan mantan KSAD. "Saya kira, Menhan sebagai mantan KSAD akan lebih bisa dan cepat memahami bagaimana kebutuhan TNI ke depan," kata Moeldoko.

Moeldoko menambahkan, tidak ada perbedaan dan perubahan yang signifikan terkait rencana pembanguan kekuatan TNI, yang dibahas bersama dengan Kemenhan. Namun, untuk saat ini, lanjut Moeldoko, pihaknya tengah menyiapkan dan menyusun Rencana Strategis peningkatan kesejahteraan prajurit. "Saya harap ini bisa segera terealisasi," tutur Moeldoko.

nasional.republika.co.id

Sabtu, 01 November 2014

: Posted on Sabtu, 01 November 2014 - 06.52 with No comments

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menggelar event Indo Defence 2014 Expo mulai 5 November 2014 sampai 8 November 2014 di Jakarta International Expo. Indo Defence adalah ajang dua tahunan dan penyelenggaraan pada tahun 2014 ini merupakan untuk yang ke enam kalinya. Tidak kurang dari 700 perusahaan pertahanan yang berasal dari 56 negara akan berpartisipasi pada pelaksanaan Indo Defence 2014 Expo.

Pesawat Patroli Maritim Produksi PT Dirgantara Indonesia. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Pesawat Patroli Maritim Produksi PT Dirgantara Indonesia.
Kemhan Siap Gelar Indo Defence 2014.

Kementerian Pertahanan akan menggelar pameran industri pertahanan 'Indo Defence 2014 Expo' pada 5-8 November 2014 di Jakarta International Expo. Gelaran ini memamerkan produk persenjataan 700 perusahaan peralatan pertahanan dari 56 negara. "Melalui event 'Indo Defence 2014 Expo' ini diharapkan mampu mendorong kerjasama dengan negara lain untuk pemenuhan kebutuhan alutsista TNI," ujar Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Timbul Siahaan, Jumat, 31 Oktober 2014.

Acara ini rencananya akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Indo Defence merupakan event dua tahunan yang digelar Kementerian Pertahanan. Perhelatan tahun ini merupakan penyelenggaraan yang keenam.

Beberapa perusahaan asing terkemuka pembuat persenjataan yang akan memamerkan produknya antara lain General Dynamics, Sukhoi Aviation, dan Beretta Defence Technologies. Sedangkan, perusahaan dalam negeri --baik milik pemerintah maupun swasta-- yang akan mengikuti pameran ini antara lain PT Pindad, PT LEN, PT Industri Kapal Indonesia, dan sebagainya. "Berdasar data yang kami terima, semua produk yang dipamerkan produsen dalam negeri maupun luar negeri merupakan produk unggulan," kata Timbul.

Dalam pameran ini, Kementerian Pertahanan juga dijadwalkan meneken perjanjian kerja sama industri pertahanan dengan pemerintah Turki. Kerja sama ini diwujudkan melalui skema antarbisnis (business to business) antara PT Pindad (Persero) dan FNSS Turki. "Kami menyerahkan project agreement (perjanjian proyek) untuk pembuatan tank kelas medium," kata Timbul, Jumat, 31 Oktober 2014.

Area pameran terbagi menjadi dua untuk bisa menampung jumlah pengunjung yang diperkirakan membeludak. Area Hall A-D Jakarta International Expo merupakan tempat untuk memamerkan berbagai senjata. Sedangkan area luar akan dipenuhi berbagai koleksi alat utama sistem pertahanan, seperti Panser Anoa Pindad, helikopter Bell-412 Penerbad, dan tank Amphibi BMP-3F.

www.tempo.co

Kamis, 30 Oktober 2014

: Posted on Kamis, 30 Oktober 2014 - 02.05 with No comments

18 unit kapal patroli cepat tipe X12 High Speed Patrol Boat monohold buatan PT Lundin Industry Invest telah dipesan oleh Angkatan Laut negara Bangladesh. Berkaitan dengan pemesanan 18 unit kapal patroli cepat tersebut, Commodore Yahya Syed yang menjabat sebagai Deputy Director General Bangladeshh Coast Guard mengadakan kunjungan ke pabrik pembuatan kapal PT Lundin Industry Invest yang berlokasi di Banyuwangi, Jawa Timur.

Kapal Patroli Cepat. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Kapal Patroli Cepat.
Bangladesh Pesan 18 Kapal Buatan Banyuwangi.

Setelah TNI AL memesan kapal perang canggih berupa kapal cepat rudal Trimaran, kali ini giliran Angkatan Laut Bangladesh memesan 18 coast guard sebagai pelengkap alat keamanan negara tersebut kepada salah satu industri kapal di Banyuwangi, yaitu PT Lundin Industry Invest. Hal tersebut diungkapkan Commodore Yahya Syed, Deputy Director General Bangladeshh Coast Guard, saat berkunjung di Banyuwangi, Selasa (28/10/2014). Ia menjelaskan, industri kapal di Banyuwangi dipilih karena dianggap memiliki teknologi canggih yang tidak banyak dimiliki oleh industri serupa di negara lain. "Di sini, kapal diproduksi menggunakan fiber yang kuat dan tahan korosi. Yang memproduksi kapal menggunakan fiber selama ini hanya di Eropa," ujar Syed.

Ia menjelaskan, kerja sama tersebut juga dijadikan transfer teknologi antara Bangladesh dan Indonesia di bidang perkapalan, yaitu dengan melibatkan enam staf perusahaan kapal Bangladesh pada proses pembuatan kapal tersebut. "Kami juga telah melihat profil perusahaan, dan yakin kalau perusahaan ini akan menjadi yang terbaik di dunia," imbuh Syed.

Sementara itu, Lizza Lundin, Direktur PT Lundin Industry Invest, mengatakan, pemesanan 18 kapal patroli dari Bangladesh tersebut bernilai Rp 75 miliar. Proses pengerjaan kapal dilakukan dengan sistem paralel hingga semua pesanan akan rampung dalam kurun satu tahun, sesuai yang ditargetkan. "Ini merupakan produk baru kami yang awalnya kami ikutkan dalam pameran maritim di Jakarta. Ternyata, sambutannya sangat baik, dan Bangladesh menjadi negara asing pertama yang memesan kapal jenis ini," ujar Lizza.

Sementara itu, 18 kapal yang dipesan oleh Angkatan Laut Bangladesh merupakan tipe X12 High Speed Patrol Boat monohold (lambung tunggal), dengan spesifikasi panjang keseluruhan 11,70 meter, panjang haluan 9,60 meter, panjang balok 3,54 meter, lambung yang terendam dalam air 0,84 meter, kecepatan maksimum 35 knot, kapasitas bahan bakar 2 x 675 liter, dan memiliki dua mesin utama. "Sebelum dikirim ke Bangladesh, nantinya kapal-kapal ini akan melalui test tank di Indonesia, Australia, dan Selandia Baru," kata Lizza.

Ia menjelaskan, pihaknya selama ini telah banyak memenuhi pesanan kapal dari berbagai negara, seperti Amerika, Rusia, Australia, Malaysia, Brunei, Thailand, Swedia, Hongkong, dan kawasan Timur Tengah.

regional.kompas.com

Rabu, 29 Oktober 2014

: Posted on Rabu, 29 Oktober 2014 - 05.30 with No comments

Aksi force down (pemaksaan untuk mendarat) kembali dilakukan jet tempur Sukhoi TNI AU terhadap pesawat asing yang tanpa izin memasuki wilayah udara Indonesia. Kali ini sebuah pesawat dari Singapura yang dipaksa untuk mendarat di Pangkalan Udara TNI AU Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Aksi force down tersebut dilakukan 2 unit jet tempur Sukhoi TNI AU di wilayah udara Kepulauan Natuna.

Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Lagi, Sukhoi Su-27/30MKI paksa mendarat pesawat terbang asing.

Dalam sepekan terakhir ini, Sukhoi Su-27/30MKI Flankers dari Skuadron Udara 11, telah dua kali diterbangkan untuk mencegat dan berhasil memaksa mendarat pesawat terbang asing yang melanggar kedaulatan udara nasional. Kali ini, pesawat terbang asing itu adalah pesawat terbang sipil Beechcraft 9L bernomor registrasi Singapura, VH-PKF, dalam rute penerbangannya dari Cebu (Filipina) ke Seletar (Singapura). VH-PKF diketahui dikendalikan otoritas penerbangan Singapura. Dia dicegat alias diintersepsi dua Sukhoi Su-27/30MKI Flankers di atas perairan Laut China Selatan, yaitu di Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau. "Pesawat yang dicurigai terbang di atas wilayah Indonesia tanpa ijin pemerintah Indonesia ini terbang pada ketinggian sekitar 20.000 kaki dari permukaan laut dengan kecepatan 250-350 knot perjam," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto, di Jakarta, Selasa (28/10/2014).

Menurut dia, satuan Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I berkedudukan di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, di bawah pimpinan panglimanya, Marsekal Pertama TNI Fahru Zaini, saat itu tengah melaksanakan latihan Pertahanan Udara Nasional Tutuka. Karena itulah, kedua Flankers itu segera dapat menangkap sasaran dan pesawat terbang tak dikenal itu disergap dan dipaksa mendarat.

Kata Tjahjanto, penyergapan dimulai pada pukul 07.56 WIB, Selasa ini, setelah komando satuan itu menerima informasi ada pesawat terbang tanpa flight clearance melintas dari Pos Sektor Pertahanan Udara I/Halim Perdanakusuma, yang dideteksi radar militer Indonesia. Rute yang ditempuh --berdasarkan tangkapan radar itu-- adalah Seletar-Cebu pada ketinggian 25.000 kaki dari permukaan laut, dengan kecepatan 214 knot yang dikendalikan ATC Singapura. "Segera dua Flankers, call sign Klewang Flight, terdiri TS 3008, dengan pilot Letnan Kolonel Penerbang Tamboto dan tandemnya, Kapten Penerbang Fauzi, dan TS 2704 dengan penerbang Kapten Penerbang Gusti lepas landas dari Batam menuju sasaran," katanya.

Namun pesawat terbang tak dikenal itu tidak terkejar karena jarak sudah jauh. Pukul 11.36 WIB, pesawat terbang yang sama ditangkap kembali radar Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I pada posisi di utara Pontianak. "Kembali Klewang Flight terbang dari Batam menuju sasaran," kata Tjahjanto.

Pesawat terbang sasaran itu ditemukan di tengah laut, di selatan Kepulauan Natuna, yang lalu diidentifikasi secara visual dan secara radio selama 15 menit sebelum digiring mendarat secara paksa di Pangkalan Udara TNI AU Supadio. Pesawat terbang pelanggar wilayah udara nasional itu mendarat pada pukul 13.23 WIB di Pangkalan Udara TNI AU Supadio. "Awaknya langsung diinterogasi personel Pangkalan Udara TNI AU Supadio, Pontianak, yang merupakan satuan di bawah Komando Operasi Udara I TNI AU, yang meliputi Indonesia bagian barat," katanya.

"Yang pokok, meskipun pesawat terbang itu di bawah kendali otoritas penerbangan Singapura, namun karena ruang udara itu wilayah kedaulatan Indonesia, maka semua penerbangan harus memiliki ijin penerbangan lengkap dari pemerintah Indonesia. Ini bukti kesiapsiagaan kami, 24 jam sehari tanpa henti sepanjang tahun, untuk menegakkan kedaulatan dan hukum di udara demi kepentingan dan keamanan nasional Indonesia," kata Tjahjanto.

www.antaranews.com

Minggu, 26 Oktober 2014

: Posted on Minggu, 26 Oktober 2014 - 04.08 with No comments

Sudah lebih dari 30 negara yang para prajuritnya mengenakan seragam militer hasil produksi PT Sri Rejeki Isman Tbk atau yang lebih populer disebut Sritex. Salah satu pengguna seragam militer produksi Sritex adalah para prajurit Angkatan Darat Tentara Diraja Malaysia. Pada Sabtu 25 Oktober 2014 lalu, rombongan dari Angkatan Darat Malaysia yang dipimpin oleh Wakil Staf Angkatan Darat Malaysia Letjen Datuk Seri Panglima Ahmad Hasbullah bin Muhamad Nawawi melakukan kunjungan untuk melihat secara langsung proses pembuatan seragam militer Sritex di lokasi pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk.

Seragam Militer Produksi PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Seragam Militer Produksi PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex).
Tentara Diraja Malaysia Blusukan ke Pabrik Sritex.

Rombongan tentara Diraja Malaysia melakukan kunjungan ke PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) yang lebih dikenal dengan nama Sritex di Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (25/10/2014). Kunjungan itu dilakukan untuk melihat proses produksi seragam yang selama ini dipesan oleh pasukan Angkatan Darat Malaysia. Sri Saptono Basuki, Manager General Affairs Sritex, mengatakan selama ini tentara dari Malaysia baru mendengar produk seragam dari Sritex, tetapi belum mengetahui secara langsung proses produksi di pabrik tersebut. "Mereka blusukan ke sini untuk melihat langsung bagaimana proses produksi seragam yang selama ini dipesan dari Sritex," papar Basuki.

Dia mengatakan hasil produksi tekstil atau seragam tentara buatan Sritex secara kontinyu telah dikirim ke 30-an negara di dunia, salah satunya Malaysia. Oleh sebab itu, kunjungan kali ini merupakan penjajakan untuk keberlangsungan kerja sama bisnis yang sudah terjalin.

Dari hasil paparan kunjungan tersebut, kata Basuki, perwakilan tentara Malaysia kagum dengan proses produksi dari Sritex yang menjadi salah satu negara kawasan Asean yang memproduksi seragam militer untuk NATO. "Mereka puas dan antusias melihat ke pabriknya. Mungkin ke depan, ada repeat order seragam tentara dengan jumlah yang lebih banyak. Namun kami belum bisa sebut berapa jumlahnya," katanya.

Basuki menambahkan ada 20-an orang dari Malaysia dengan rangkaian kunjungan dipimpin langsung oleh Wakil Staf Angkatan Darat (Wakasad) Malaysia Letjen Datuk Seri Panglima Ahmad Hasbullah bin Muhamad Nawawi didampingi oleh Kedutaan Besar (Dubes) Malaysia yang berada di Indonesia. "Ini adalah kewajiban kami memberikan yang terbaik bagi konsumen dari Malaysia. Apalagi yang kami tahu, jumlah pasukan dari Malaysia juga banyak," paparnya.

industri.bisnis.com

Sabtu, 25 Oktober 2014

: Posted on Sabtu, 25 Oktober 2014 - 06.56 with No comments

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) meninjau proses pembuatan kapal cepat rudal (KCR) Trimaran di area produksi PT Lundin Industry Invest yang berlokasi di Banyuwangi, Jawa Timur. TNI AL dikabarkan telah memesan 4 unit kapal cepat rudal trimaran ini kepada PT Lundin Industry Invest untuk memperkuat tugas penjagaan kedaulatan maritim di Indonesia.

Kapal Cepat Rudal (KCR) Trimaran. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Kapal Cepat Rudal (KCR) Trimaran.
Kapal Cepat Rudal TNI AL Diproduksi di Banyuwangi.

Pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut, terus melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Terbaru, penjaga kedaulatan maritim Indonesia ini memesan Kapal Cepat Rudal (KCR) berlambung tiga (Trimaran) 63 meter, yang diproduksi oleh PT Lundin Industry Invest, sebuah perusahaan galangan kapal kebanggaan nasional yang berbasis di Banyuwangi, Jawa Timur.

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr Marsetio berkesempatan meninjau proses pembuatan kapal tersebut di Pantai Cacalan, Banyuwangi, Jumat (24/10/2014). Turut mendampingi Bupati Abdullah Azwar Anas, Komandan Pangkalan TNI AL Banyuwangi Letkol Laut (P) Edi Eka Susanto, Komandan Kodim 0825 Banyuwangi Letkol Inf Mangapul Hutajulu, dan Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi I Made Parma. "Kunjungan hari ini merupakan salah satu kunjungan ke galangan kapal kebanggaan nasional karena di sinilah Kapal Trimaran dibuat. Ini juga menjadi kebanggaan bagi warga Banyuwangi, karena ternyata daerah di ujung timur Pulau Jawa ini menjadi salah satu produsen alat pertahanan negara," kata Marsetio, di Banyuwangi, Jumat (24/10/2014).

Marsetio mengatakan, Kapal Trimaran yang terbaru ini merupakan yang pertama di Asia. Selain bekerja sama dengan Swedia, dalam pembuatan desain Trimaran, TNI Angkatan laut juga melibatkan BUMN yang bergerak di bidang industri pertahanan nasional seperti PT PAL (Persero) dan PT Pindad (Persero). "Untuk tahap pertama TNI AL memesan empat kapal. Sekarang di sini sedang dibuat yang pertama," ujar Marsetio.

Desain Kapal KCR Trimaran yang terbaru ini akan sedikit berbeda dengan Kapal Trimaran yang sebelumnya. Kapal terbaru ini juga akan terbuat dari bahan tahan api dan anti-radar. "Kapal ini tidak hanya akan dipakai di dalam negeri, tapi akan menjadi salah satu produk pertahanan unggulan yang akan dijual ke luar negeri. Seperti kapal LPD yang diproduksi PT. Pindad sudah dipesan oleh Angkatan Laut Filipina. Nanti kapal ini juga akan kita jual ke luar negeri," imbuh Marsetio.

Sebagai informasi, saat ini PT. Lundin tengah membangun Kapal Cepat Rudal (KCR) Trimaran 63 meter untuk TNI AL. Pembangunan kapal ini merupakan pembangunan yang kedua kalinya, yakni sebagai pengganti kapal sebelumnya "KRI Klewang-625" yang terbakar pada September 2012 sebelum diserahkan ke TNI AL. KCR Trimaran ini berdesain unik "wave piercing" yang bisa tetap stabil di tengah kondisi cuaca buruk. Kapal ini juga bisa terhindar dari radar maupun infra merah.

Dalam kesempatan ini, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengaku bangga karena kapal canggih itu diproduksi di Banyuwangi dengan sinergi swasta dan BUMN di bidang industri pertahanan. "Industri pertahanan adalah industri strategis bagi bangsa. Banyuwangi ikut bangga," kata Anas.

Selain industri pertahanan, mobil listrik berukuran mini juga segera diproduksi di Banyuwangi. Produksi ini melibatkan teknologi Swedia di PT Lundin Industry yang berbasis di Banyuwangi. "Dubes Swedia dalam waktu dekat ini akan ke Banyuwangi. Saya berharap ada transformasi teknologi, pengetahuan, budaya inovasi bagi kami yang ada di Banyuwangi," pungkas Anas.

www.beritasatu.com

Copyright © 2013. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara | Template by Full Blog Design | Proudly powered by Blogger
PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara