Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label SAAB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAAB. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2015

Sistem Radar Terbang Erieye Akan Ditawarkan Kepada Indonesia

Erieye AEW&C (Airborne Early Warning and Control System) adalah sistem radar peringatan dini dengan platform pesawat terbang untuk mendukung ketinggian dan memperluas area cakupan pemantauan. Sistem radar Erieye ini dirancang dengan basis teknologi AESA (Active Electronically Sensor Array) dan diproduksi oleh SAAB, perusahaan produk pertahanan yang berbasis di Swedia. Produk teknologi pertahanan ini rencananya akan ditawarkan kepada Indonesia untuk digunakan mengawasi kawasan udara Indonesia dari tindakan penyusupan tanpa izin dari pihak asing.
Radar Erieye adalah yang pertama dari jenisnya untuk menggunakan tanah-melanggar teknologi AESA. Benar-benar multi-peran Erieye radar mendeteksi dan secara otomatis melacak target udara dan permukaan di daerah besar, memperluas lebih dari 900 km. Sistem radar ini dirancang untuk melacak benda terkecil, seperti rudal jelajah dan pesawat jet-ski, bahkan di antara kekacauan berat dan dalam lingkungan kemacetan. Terbang pada ketinggian tinggi, Erieye mencakup wilayah yang lebih luas daripada tanah berbasis sistem sensor dapat konvensional. Wilayah pengawasan yang efektif lebih dari 500.000 km persegi horizontal dan vertikal 20 km. Mendeteksi target udara pada jarak hingga 450 km. The Erieye AEW & C sistem misi radar aktif, sensor bertahap-array, pulsa-doppler yang dapat memberi makan arsitektur Operator onboard atau downlink data (melalui subsistem datalink terkait) ke jaringan pertahanan udara berbasis darat. Sistem ini menggunakan aperture besar, dual-sisi antena array ditempatkan di sebuah punggung 'papan' fairing. Antena tetap, dan balok secara elektronik dipindai, yang menyediakan untuk meningkatkan deteksi dan pelacakan kinerja secara signifikan ditingkatkan dibandingkan dengan sistem antena radar-kubah. Erieye mendeteksi dan melacak target udara dan laut ke cakrawala, dan kadang-kadang di luar ini karena propagasi anomali - diinstrumentasi kisaran telah diukur pada 450 kilometer (280 mil). Khas jangkauan deteksi terhadap target tempur berukuran sekitar 425 kilometer (264 mil), dalam 150 ° sektor selebaran, kedua sisi pesawat. Di luar sektor ini, kinerja berkurang dalam arah maju dan belakang. Fitur sistem lainnya termasuk: generasi bentuk gelombang adaptif (termasuk digital, kompresi pulsa fase-kode); Pemrosesan sinyal dan pelacakan sasaran; track sementara scan (TWS); Nilai side lobe yang rendah (di seluruh cakupan sudut sistem); rendah dan menengah-pulsa mode operasi frekuensi pengulangan; kelincahan frekuensi; Udara-ke-udara dan mode pengawasan laut; dan target radar cross-section display. Radar beroperasi sebagai menengah hingga tinggi-PRF pulsa-Doppler, radar solid-state, di E / F-band (3 GHz), menggabungkan 192 dua arah mengirim / menerima modul yang bergabung untuk menghasilkan sinar pensil, mengarahkan sebagai diperlukan dalam operasi 150 ° sektor masing-masing sisi pesawat (satu sisi pada satu waktu). Hal ini dimengerti bahwa Erieye memiliki beberapa kemampuan untuk mendeteksi pesawat dalam 30 ° sektor depan dan belakang dari pos pesawat, tetapi tidak memiliki kemampuan track di sektor ini.

Erieye AEW&C Dengan Platform Pesawat Turboprop SAAB-2000. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Erieye AEW&C Dengan Platform Pesawat Turboprop SAAB-2000.
SAAB Swedia akan tawarkan Erieye AEW&C kepada Indonesia.

SAAB AB, perusahaan industri sistem pertahanan dan keamanan Swedia, telah memulai serangkaian pembicaraan tentang penawaran sistem pengamatan udara Erieye AEW&C kepada pemerintah Indonesia untuk mengawal wilayah udara, darat, dan maritim Tanah Air. "Kami akan senang jika sistem kami itu bisa diterima Indonesia dan kami telah melakukan pembicaraan soal ini dengan pemerintah Indonesia,” kata Wakil Presiden dan Kepala Sistem Pengamatan Udara dan Bisnis Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB Lars Tossman di Gotheborg, Swedia, Senin (9/3/2015), waktu setempat.

Penawarannya itu, kata Tossman, terkait juga dengan penawaran sistem pesawat tempur JAS-39 Gripen yang turut dalam proyeksi pengganti pesawat tempur F-5E/F Tiger II pada Skuadron Udara 14 TNI AU. Menurut dia, sistem yang dikembangkan SAAB AB pada piranti Erieye AEW&C sangat pas dengan keperluan Indonesia yang memiliki wilayah udara sangat luas. Dari ketinggian operasionalnya, sistem pengamatan dan intelijen Erieye AEW&C ini bisa menjangkau wilayah pada radius lebih dari 900 kilometer yang berarti sudah di balik kelengkungan Bumi, setara dengan "volume" ruang diawasi 500.000 kilometer persegi horisontal dan 20 kilometer vertikal.

Berbasis sistem Active Electronically Sensor Array, sistem ini bekerja pada frekuensi S-band, dengan sensitivitas ultratinggi, dan pencitraan objek diamati secara seketika. Data-link yang diterapkan berbasis NATO data-link L16 dan L11.

Jika ditempatkan di wilayah udara Indonesia, maka cuma diperlukan dua Erieye AEW&C di udara Jakarta dan Makassar agar bisa melingkupi 80 persen wilayah udara Tanah Air.

Secara teknis, jika ada pesawat terbang penyusup berkecepatan suara (sekitar 900 kilometer perjam), sistem ini bisa segera mengetahui kehadirannya sehingga pesawat tempur Indonesia memiliki cukup waktu untuk menangkalnya.

Sejauh ini, TNI AU hanya memiliki satu skuadron udara pengamatan (surveillance) itu, yaitu Skuadron Udara 5 yang terdiri dari tiga pesawat Boeing 737-200 Maritime Patrol. Pesawat ini dilengkapi sensor SLAMMR ( Side Looking Airborne Modular Multimission Radar), peralatan navigasi INS (Inertial Navigational System) dan Omega Navigation System. Semuanya berbasis teknologi dasawarsa 1980-an.

Lossman menyatakan, sistem Erieye AEW&C memiliki beberapa keunggulan, antara lain bisa disesuaikan dengan keperluan domestik pemakainya. "Bahkan, pijakan alias platform pesawat terbang pembawanya bisa disesuaikan. Yang sudah disertifikasi sejauh ini adalah SAAB 2000 dan Embraer 145," kata dia.

Tipe pesawat terbang "penggendong" yang pertama, SAAB 2000 adalah turboprop. "Kami sangat memperhatikan aspek operasionalisasi dan biaya ikutannya. Itu sebabnya, pengoperasian pesawat terbang turboprop bisa menekan biaya operasional tanpa mengenyampingkan fungsi dan efektivitasnya," kata dia.

Direktur Pemasaran Sistem Udara SAAB AB Magnus Hagman menyatakan, dari Asia Tenggara, baru Thailand yang menandatangani pemesanan jadi Erieye AEW&C. Angkatan Udara Kerajaan Thailand juga menjadi operator perdana JAS-39 Gripen di ASEAN. Pensiunan instruktur penerbang tempur pada Angkatan Udara Kerajaan Swedia itu juga berkata, "Salah satu prinsip penting dalam operasi udara militer tempur adalah menempatkan ataus menerbangkan pesawat tempur pada tempat dan waktu yang tepat. Antara sistem Gripen dan Erieye AEW&C saling melengkapi."

www.antaranews.com

Sistem Radar Terbang Erieye Bisa Dipasang di Pesawat Buatan PT DI.

Perusahaan sistem pertahanan Swedia, Saab Group, menjelaskan, secara prinsip sistem peringatan dini dan kendali terbang (airborne early warning and control/AEW&C) Erieye buatannya bisa dipasang di pesawat-pesawat jarak menengah buatan PT Dirgantara Indonesia, seperti CN-235 dan CN-295.

Selama ini, sistem radar canggih AESA (active electronically scanned array) tersebut dipasang di atas platform tiga pesawat sipil, Saab 340 dan Saab 2000 yang bermesin turboprop serta Embraer E145 yang bermesin jet (turbofan). Erieye berbasis Saab 340, misalnya, dipakai Angkatan Udara (AU) Swedia, Thailand, dan Pakistan. Sementara Erieye berbasis Embraer E145 dipakai AU Brasil dan Meksiko.

Lars Ekstrom, mantan perwira AU Swedia yang kini menjadi pejabat di bagian Pengembangan Bisnis Sistem Pengawasan Udara Saab, Senin (9/3), mengatakan, secara prinsip radar Erieye yang berbentuk seperti papan yang dipasang di atas badan pesawat tersebut bisa dipasang di platform CN-235 atau CN-295. "Kami bersedia memasangnya di platform-platform baru, termasuk pesawat CN-235 atau CN-295," ujar Ekstrom di Gothenburg, Swedia.

Akan tetapi, Wakil Presiden dan Kepala Bagian Sistem Pengawasan Udara Saab Lars Tossman mengingatkan, proses pemasangan radar sistem Erieye di platform pesawat baru bukanlah proses yang bisa mudah dan cepat dilakukan. Bentuk radar yang besar dan dipasang di atas badan pesawat akan memengaruhi aerodinamika pesawat dan perlu dilakukan modifikasi desain sayap vertikal pesawat. "Dan, itu membutuhkan tambahan dana hingga ratusan juta dollar AS, belum ditambah proses sertifikasi kelaikan udaranya yang bisa memakan waktu dan biaya lagi," papar Ekstrom.

Sistem AEW&C Erieye saat ini menjadi sistem peringatan dini udara yang paling laris di luar produk buatan AS. Sistem ini serupa dengan sistem AEW&C semacam E-2 Hawkeye yang digunakan, antara lain, oleh AS, Jepang, dan Singapura; atau Boeing E7A Wedgetail yang dipakai Australia.

print.kompas.com

Giraffe AMB, Sistem Radar Pertahanan Multi-Misi Buatan Swedia

Giraffe AMB Multi Mission Surveillance System adalah sistem radar 3 dimensi yang befungsi untuk mengamati keberadaan dan pergerakan obyek yang berada di darat, laut, maupun udara. Piranti radar pertahanan ini diproduksi oleh pabrikan produk pertahanan asal Swedia, SAAB. Salah satu keunggulan yang diandalkan pada sistem radar Giraffe AMB ini adalah kemampuannya dalam menyajikan data berbasis data-link.
Sistem pengawasan radar 3D jarak menengah Giraffe AMB adalah pengisi celah yang ideal yang menyediakan komandan wilayah udara dengan kemampuan yang dibutuhkan untuk menjaga udara kesadaran situasional yang terus-menerus dan akurat. Ini merupakan aset deployable atau? Xed mobile untuk pengawasan udara yang dapat dioperasikan dari jarak jauh atau lokal dengan kemampuan untuk memberikan gambaran jaringan udara. Giraffe AMB memungkinkan untuk integrasi data link standar atau disesuaikan. Dengan menggabungkan sistem radar multi-misi yang benar dan kuat sistem C3 Giraffe AMB memberikan gambaran udara yang akurat dengan tingkat tinggi update dan fungsi sangat otomatis untuk perencanaan, evaluasi ancaman, tugas senjata dan distribusi sasaran. Semuanya komandan yang bertanggung jawab untuk GBAD kebutuhan untuk melindungi orang dan aset. Giraffe AMB dapat mendeteksi rudal cepat dan UAV kecil bahkan dalam lingkungan yang tinggi-kekacauan dan penawaran? Integrasi fleksibel sistem senjata dan link data taktis. Sistem ini sepenuhnya mandiri dengan semua sistem dukungan dan C3, sangat mobile dan menyebarkan dalam waktu kurang dari 10 menit. Menengah terpadu dan jarak pendek sistem GBAD didukung dalam beberapa keterlibatan simultan. Giraffe AMB dapat mengklasifikasikan dan melacak sayap tetap, helikopter, permukaan, jammer dan target balistik.

Giraffe AMB Multi Mission Surveillance System. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Giraffe AMB Multi Mission Surveillance System.
Melihat dari dekat sistem radar pertahanan Giraffe SAAB AB.

Divisi Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB memiliki empat komponen bisnis utama, salah satunya adalah sistem radar permukaan, yang secara produk mereka namakan Giraffe, Sea Giraffe, dan Arthur. Ketiganya, oleh Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB yang bermarkas di Gotheborg, Swedia, didedikasikan untuk mendukung pertahanan darat dan laut melalui sistem pertahanan udara dan pengamatan permukaan serta penentuan secara presisi posisi sistem pertahanan lawan.

Jurnalis antaranews.com bersama lima jurnalis lain Indonesia, mendapat kesempatan hadir di kantor pusat divisi ini di Gotheborg, Swedia, dan melihat langsung proses pembuatan, riset dan pengembangan, pengujian, dan hal lain terkait sistem Giraffe ini.

Selain sistem Giraffe, para petinggi setempat SAAB AB membuka pintu "dapur" mereka kepada jurnalis-jurnalis Indonesia untuk hal yang mendapat prioritas pengembangan sangat tinggi, yaitu sistem Erieye AEW&C, satu sistem komando dan pengamatan udara berbasis pesawat udara yang digadang-gadang lebih maju ketimbang sistem AWACS.

Salah satu kebolehan yang diperagakan adalah kemampuan Erieye AEW&C mengetahui dan mengenali objek tidak bergerak di udara dalam ukuran sangat kecil, sekira jet ski. "Helikopter bisa mengambang di udara dan kami bisa mengidentifikasi hal itu melalui Erieye AEW&C ini," kata Kepala Pengembangan Bisnis Pemasaran SAAB AB, Lars Ekstrom, di Kantor Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB, di Gotheborg, Swedia, Senin (9/3/2015), waktu setempat.

Itu salah satu unggulan sistem yang terus dikembangkan SAAB AB dengan empat pilarnya, yaitu meningkatan kualitas, riset dan pengembangan, efisiensi biaya (operasional), dan kehadiran mitra setempat dalam berbagai skema, di antaranya transfer teknologi.

Perkembangan pertempuran saat ini sudah sangat kompleks, di antaranya adalah kekuatan asimetrik yang sulit untuk dicegah. Bukan jamannya lagi peperangan terbuka antara dua atau lebih negara dikumandangkan secara terbuka. Adagium bersiap untuk perang jika ingin damai bisa dikedepankan jika melihat skala dan densitas pertempuran yang kini terjadi, di antaranya dalam konteks komunitas melawan negara atau penguasa sah. Untuk kepentingan pertahanan titik di darat, SAAB AB memiliki jawaban jitu, yaitu sistem radar Giraffe AMB, yang dikatakan sebagai radar multifungsi.

Dalam keterangannya, Wakil Presiden Kepala Pemasaran Solusi Radar Permukaan dan Bisnis Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB, Mats Palsson, menyatakan, "Giraffe mampu beroperasi penuh dalam segala cuaca dan keadaan. Sejak dia tiba di titik pertahanan yang ditetapkan, dia bisa ditegakkan dan beroperasi secara baik hanya dalam 10 menit saja."

Yang dia katakan bukan isapan jempol atau ucapan seorang pemasar belaka. Dalam peragaan di bengkel pengujian dan perawatan —juga di halaman depan Kantor SAAB AB di Gotheborg itu— truk Volvo FM atau MAN yang "menghela" sistem radar pertahanan titik Giraffe AMB Multi Mission Surveillance System itu bisa memberikan pandangan dan pengamatan serta kalkulasi pertahanan yang diperlukan komandan misi dalam waktu tepat 10 menit saja. "Giraffe AMB ini dirancang untuk bisa digelar dan diangkut dalam ukuran yang sangat kompak. Kompartemen kendali dan operasi serta ukuran tiang dan kubah kotak radarnya telah ditentukan setara persis dengan ukuran kontainer delapan kaki… demikian juga dengan lubang-lubang tautannya di lantai truk penghelanya," kata Palsson.

Saat diperagakan, cuaca di Gotheborg dan sekitarnya cerah, matahari agak hangat terasa di kulit —sesuatu yang cukup mengagetkan untuk orang Swedia pada musim dingin seperti sekarang— sehingga menyempurnakan hasil penginderaan radar Giraffe AMB ini. Bukan cuma obyek pengamatan di darat yang bisa dia amati, melainkan pergerakan kapal kecil di Danau Vanen dan laut sekitarnya.

Juga pesawat terbang militer dan sipil yang lalu-lalang di ruang udara di atas itu. "Kita lihat ini, titik ini adalah titik yang bergerak cukup cepat. Kalau kita klik titik ini, maka akan ketahuan dia siapa, menuju ke mana, pada ketinggian berapa, dan lain sebagainya," kata Erik Paulsson, operator sekaligus penguji Giraffe AMB yang bertugas dalam kabin operator seukuran kurang dari tiga meter persegi itu.

Benar, titik sejarak 60 mil laut itu adalah pesawat terbang milik Scandinavian Air Service yang terbang melintas dari Laut Utara menuju Laut Baltik, lengkap dengan nomor penerbangan dan nomor registrasi pesawat terbangnya. Digadang-gadang, inilah juga satu "kekuatan" Giraffe AMB dalam menyajikan data berbasis data-link. "Data ini juga bisa dibagi secara persis dan tepat waktu dengan sistem pertahanan udara atau darat dan lain-lain. Program aplikasi komputer tentang ini juga telah dibuat dan terus dikembangkan," kata Paulsson. "Operator produk dan sistem ini mengatakan, sangat mudah dan efisien untuk dioperasikan," kata dia lagi.

Dari ketinggian di halaman depan Kantor SAAB AB di Gotheborg itu, dua bendera Merah Putih ukuran resmi kenegaraan dikibarkan, berselang-seling dengan bendera Kerajaan Swedia. Menurut semua petinggi SAAB AB yang mendampingi rombongan jurnalis Indonesia saat itu, itulah bentuk penghormatan mereka kepada delegasi Indonesia itu. "Anda semua adalah tamu resmi SAAB AB dan kami menerapkan standar penerimaan setara dengan rombongan resmi kenegaraan," kata Wakil Presiden dan Kepala Sistem Pengamatan Udara dan Bisnis Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB, Lars Tossman.

Mengalihkan sedikit pandangan ke tempat di mana unit Giraffe AMB itu diperagakan, terdapat unit serupa di sampingnya yang terbalur warna kamuflase gurun. Konon satu negara di Timur Tengah akan menerima unit itu segera, bergabung dengan puluhan lain unit serupa yang telah dikirim ke kawasan hangat itu.

Spesifikasi Giraffe AMB Multi Mission Surveillance System :
  • Tipe Radar : Stacked beam 3D radar
  • Tipe Antena : 3D phased array, digital beam forming
  • Frekuensi : C (G/H)-band
  • Elevasi Cakupan Pengamatan : > 70°
  • Kecepatan Rotasi : 60 RPM
  • Radius Pemantauan : 120 km
www.antaranews.com, www.saabgroup.com

Selasa, 11 November 2014

USV Bonefish, Kapal Perang Tanpa Awak Yang Dikembangkan PT Lundin dan SAAB

Unmanned Surface Vessels (USV) Bonefish adalah jenis kapal perang tanpa awak yang saat ini sedang dikembangkan oleh PT Lundin yang bekerjasama dengan perusahaan SAAB dari Swedia. USV Bonefish ini bakal dilengkapi dengan sistem persenjataan antara lain rudal RBS15 Mk3 dan senapan otomatis 40Mk4. Untuk sistem sensornya, kapal perang tanpa awak ini didukung radar Sea Giraffe 1X 3D.

USV Bonefish. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
USV Bonefish.
Kapal Laut Tanpa Awak Ini Curi Perhatian Menhan Ryamizard.

Produsen alat pertahanan nasional, PT Lundin tengah dalam proses pembuatan Kapal laut tanpa awak. Bekerja sama dengan perusahaan asal Swedia, SAAB, PT Lundin masih dalam tahap membangun kapal bernama Unmanned Surface Vessels (USV) Bonefish. "Kita bekerja sama dengan SAAB. Mereka yang kerjakan teknologinya. Kita yang buat platformnya," ujar salah satu staf PT Lundin di Indo Defence 2014 Expo&Forum yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (5/11/2014).

Kapal ini dilengkapi dengan rudal RBS15 Mk3 yang berkecepatan subsonik. Rudal ini memiliki hulu ledak HET seberat 200 kg. Selain itu kapal ini juga dipersenjatai dengan naval gun 40Mk4. Tak hanya itu, radar Sea Giraffe 1X 3D yang memiliki berat 150 kg terpasang USV Bonefish ini. Radar ini disebut mampu mereduksi efek lengkung bumi.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu didampingi KSAL Laksamana Marsetio sempat mengunjungi stan yang menunjukkan prototype kapal tanpa awak ini. Ke depan, PT Lundin berharap agar bisa benar-benar produk unggulan itu secara mandiri. "Kan kita ada transfer teknologi supaya teknisi kita bisa buat sendiri," kata petugas yang sama.

news.detik.com

Senin, 18 Agustus 2014

4 Unit Kapal Perang Siluman Klewang-Class Akan Dipesan TNI AL

Kepala Staf TNI-AL Laksamana Marsetio menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia telah memulai lagi program pengadaan kapal patroli berteknologi siluman (stealth) Kelas Klewang. Setidaknya akan diproduksi 4 unit kapal jenis ini untuk kebutuhan TNI-AL. Hal ini disampaikan oleh Laksamana Marsetio di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, (14/8/2014).

Klewang Class. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Klewang Class.
Program kapal trimaran siluman ini sempat ditunda ketika kapal produksi pertama (KRI Klewang) telah terbakar di pelabuhan Banyuwangi pada tanggal 31 Agustus 2012 sebelum kapal perang tersebut sempat diserahkan kepada pihak TNI AL oleh pembuatnya, PT Lundin.

Selain PT Lundin, situs militer IHS Jane mengungkapkan bahwa pembuatan kapal patroli trimaran ini melibatkan juga perusahaan pertahanan asal Swedia SAAB yang dikenal sebagai produsen jet tempur JAS-39 Gripen. Dari pihak SAAB didapatkan informasi bahwa lambung kapal perang Kelas Klewang ini akan menggunakan senyawa nanokomposit yang diklaim lebih kuat dibanding bahan lambung yang digunakan sebelumnya. Bahan ini diharapkan bisa meminimalisir kemungkinan musibah seperti yang dialami KRI Klewang. Material ini juga diklaim memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengurangi deteksi radar.

Masih dalam kesempatan yang sama, Laksamana Marsetio juga mengatakan bahwa kemungkinan Indonesia akan mempertimbangkan untuk memesan lagi beberapa kapal lainnya dari produsen yang sama. Dengan catatan jika produsen menawarkan pilihan yang cukup menari. Diperkirakan hingga tahun 2024, TNI AL akan mengoperasikan 6 unit hingga 20 unit kapal perang berteknologi siluman dari jenis ini. Tapi ini masih tergantung pada biaya akuisisi dan kemampuan tempur yang ditawarkan.

Kepala SAAB Indonesia, Peter Carlqvist, pada tanggal 15 Agustus 2014 lalu mengkonfirmasikan bahwa kontrak yang diklarifikasi adalah untuk pengadaan 1 unit kapal Klewang Class. Pihaknya berharap kontrak pemesanan 3 kapal berikutnya bisa segera direalisasikan. Hal ini dikarenakan juga bahwa pemerintah Swedia telah menyediakan pendanaan penuh untuk produksi 4 unit kapal Klewang Class. Proses pembuatan kapal-kapal ini bekerjasama dengan PT Lundin dengan menggunakan fasilitas produksi perusahaan lokal tersebut di Banyuwangi, Jawa Timur.

Kapal patroli Klewang Class memiliki panjang 63 meter dengan desain trimaran yang mampu menembus gelombang. Kapal ini didukung teknologi stealth yang meminimalisir deteksi akustik, inframerah, dan magnetik. Kapal perang jenis patroli ini digerakkan 4 unit mesin water jet MJP 550 dengan kecepatan jelajah 16 knot dan kecepatan maksimal 35 knot.

Pada desain sebelumnya, Klewang Class dirancang untuk dipersenjentai rudal buatan China dengan pilihan jenis rudal C-705 atau C-802. Namun pada desain baru yang pernah ditampilkan pada pameran Defence Services Asia (DSA) 2014 di Malaysia, SAAB akan memasang persenjataan berupa 4 unit rudal Permukaan-ke-Permukaan RBS15 Mk3 dengan radar homing aktif hingga 200 km dan radar baru buatan SAAB, Sea Giraffe 1X 3D yang akan dipasang lebih tinggi pada tiang kapal untuk meningkatkan bidang cakupan pantauan. Sistem radar dan persenjataan pada kapal Klewang Class akan dikelola sistem manajemen tempur (CMS: Combat Management System) 9LV Mk4 yang digabungkan dengan sistem kontrol penembakan pertahanan udara CEROS 200.

Peter Carlqvist mengatakan bahwa untuk desain Klewang Class yang baru, SAAB juga menawarkan perangkat yang mengintegrasikan Bofors 40 Mk4 dan sistem ESM (electronic support measure) yang mampu melakukan intersepsi dan identifikasi lokasi sinyal ponsel dan panggilan radio. Sistem ini akan sangat berguna pada operasi penanganan pembajakan kapal dan ilegal fishing karena sinyal ponsel dan radio dari pelaku dapat ditentukan posisinya.

Ketika ditanya tentang kemungkinan Indonesia akan menambah pesanan hingga 20 unit kapal Klewang Class, Carlqvist menjawab bahwa hal itu sangat mungkin terjadi mengingat TNI AL berencana untuk menambah 200 unit kapal perang baru hingga tahun 2024. Klewang Class termasuk dalam daftar pengadaan kapal perang TNI AL dengan desain yang disesuikan dengan kondisi perairan Indonesia yang terdiri dari banyak pulau. Kapal perang trimaran Klewang Class diharapkan sudah bisa dioperasikan pada tahun 2016.

www.janes.com