Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Desember 2015

Perkuat Operasional Tempur, TNI AL Gunakan Sistem Komunikasi Satelit

Kini jajaran TNI AL mulai menggunakan Sistem Komunikasi Satelit (Siskomsat) untuk semakin memperkuat operasionalnya dalam menjaga NKRI. Sistem Komunikasi Satelit (Siskomsat) yang digunakan di lingkungan TNI AL ini berbasis bantuan Satelit Komunikasi BRISAT yang mulai mengorbit pada Oktober 2015

KRI John Lie (358) dan KRI Usman-Harun (359). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI John Lie (358) dan KRI Usman-Harun (359).
TNI AL Mulai Gunakan Sistem Komunikasi Satelit.

Sistem komunikasi di lingkungan TNI AL kini memasuki era baru dengan menerapkan sistem komunikasi canggih bernama sistem komunikasi satelit (Siskomsat). Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, meresmikan penggunaan Siskomsat tersebut di Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya, Senin (7/12).

Siskomsat TNI AL dapat dioperasikan karena berbasis bantuan Satelit Komunikasi BRISAT yang telah mengorbit pada bulan Oktober 2015 lalu. Siskomsat TNI AL direalisasikan dalam dua kegiatan yaitu Pengembangan Siskomsat TNI AL dengan Backbone C Band untuk pendirian darat dan Siskomsat TNI AL dengan Backbone Ku-Band untuk KRI. Pada tahapan pelaksanaannya TNI AL juga menjalin kerja sama dengan PT Telkom dan PT LEN dari tahap perencanaan teknis, tahap pengembangan software hingga pengadaan hardware-nya.

Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, dalam keterangannya, Senin (7/12) menegaskan, dalam perang laut modern, komunikasi sangat menentukan keberhasilan operasi. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menuntut pelaksanaan gelar operasi yang semakin kompleks dimana jaminan terjalinnya komunikasi yang lancar, aman dan dapat dipercaya merupakan suatu keharusan.

Selama ini, dijelaskan, sistem komunikasi di lingkungan TNI, baik di pendirat maupun unsur kapal perang (KRI) yang menggunakan perangkat radio HF, VHF, dan UHF, memiliki keterbatasan dalam pengoperasiannya karena memiliki data rate rendah. "Demikian juga dengan gelar Sistem Komunikasi Satelit (Siskomsat) TNI, yang berada di bawah Komando Pengendalian Panglima TNI, tidak dapat diaplikasikan di sebagian besar KRI karena dimensi Antena C-Band yang relatif cukup besar," kata Kasal.

Karena itu TNI AL mengambil peluang kesempatan dengan adanya alokasi satu transponder Ku-Band untuk TNI AL melalui Satelit Komunikasi BRISAT yang mulai mengorbit pada bulan Oktober 2015 lalu.

Menurutnya,? Siskomsat TNI AL akan diaplikasikan untuk penugasan prajurit yang bertugas di pulau-pulau terluar, survellance, mobile trunking, dan backpack prajurit Korps Marinir. Untuk penggunaan surveillance atau pengamatan, Siskomsat dilengkapi dengan perangkat yang terdiri dari fasilitas radar, kamera, Automatic Identification System (AIS) transponder, PSTN dan E-mail.

Sebagai Siskomsat mobile atau mobile trunking, kendaraan Siskomsat dilengkapi perangkat Very Short Aperture Terminal (VSAT) dan repeater, serta pada aplikasi bacpack untuk pasukan Korps Marinir, Siskomsat dilengkapi fasilitas e-mail, PSTN dan handy talky (HT) berbasis Internet Protocol (IP). Sedangkan Siskomsat TNI AL dengan Backbone KU-Band, kata Kasal, diterapkan pada KRI dari unsur-unsur pemukul sehingga Komando dan Pengendalian Operasi bisa dilaksanakan secara langsung oleh pimpinan kepada unsur-unsur pelaku operasi.

Siskomsat pada aplikasi KRI ini memiliki fasilitas berupa data, PSTN dan Visual Comunication (Vicom) serta dilengkapi dengan kamera, radar dan Automatic Identification System (AIS) Transponder. Tahun ini, Siskomsat dengan Backbone KU-Band dipasang di Multi Role Light Frigate KRI Usman Harun-359 dan korvet KRI Sultan Iskandar Muda-367.

www.beritasatu.com

Rabu, 23 September 2015

TNI AL - Royal Australian Navy Gelar Latma New Horizon Exercise 2015

TNI AL dan Royal Australian Navy (RAN) pada tahun ini kembali melaksanakan Latihan Bersama (Latma). Pada latihan bersama ini, Angkatan Laut dari dua negara bertetangga ini menggelar latihan diberi nama New Horizon Exercise 2015 yang dilaksanakan selama 4 hari dan mengambil lokasi di wilayah perairan Indonesia.

KRI Usman-Harun (359). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Usman-Harun (359).
Setelah Australia, TNI AL Tantang Malaysia.

Angkatan Laut Indonesia dan Australia saat ini sedang melaksanakan Latihan bilateral. TNI AL dan Royal Australian Navy (RAN) terakhir kali melaksanakan latihan bersama tahun 2011 dan kembali dilaksanakan lagi tahun 2015 ini dengan fokus kegiatan dalam bidang Militery Operation Other Than War (MOOTW). Pelaksanaan latihan bersama kali ini diberi nama New Horizon Exercise 2015 yang dilaksanakan selama empat hari di wilayah perairan Indonesia dalam tiga kegiatan yaitu Harbour Phase, Sea Phase dan Post Exercise Phase.

Hal itu mengemuka saat Wakil Asisten Operasi (Waasops) Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Pertama TNI I. G. Putu Wija Mahadi, S.H., menerima laporan persiapan pelaksanaan Latihan Perang Laut bersama dengan Angkatan Laut Australia (Royal Australian Navy), bertempat di ruang rapat Waasops Kasal di Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal), Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (22/9/2015).

Menurut Kolonel Laut (P) Didong Rio Duta selaku Komandan Satgas dan juga Komandan KRI Usman Harun mengatakan, pada latihan ini TNI Angkatan Laut melibatkan 2 KRI, yaitu KRI Usman Harun-359 dan KRI Diponegoro-365, satu Heli BO 105 serta Pesud CN 235 MPA. Sementara dari pihak Royal Australian Navy (RAN) mengerahkan dua Kapal perang HMAS Arunta (FFGHM) dan HMAS Sirius (AOR) serta sati heli RAN Seahawk.

Dalam latihan bersama tersebut, sebanyak 313 prajurit TNI Angkatan Laut dilibatkan guna meningkatkan hubungan dan pemahaman melalui pelatihan di pangkalan (dalam bentuk interaksi sosial), meningkatkan kemampuan tempur, saling pengertian dan kerja sama melalui program latihan terstruktur di pangkalan. Selain itu, meningkatkan kemampuan dalam keterampilan kepelautan, dan keterampilan aksi peperangan serta komunikasi.

Laksma TNI I. G. Putu Wija Mahadi, S.H., menegaskan unsur yang terlibat agar dipersiapkan dengan baik. Seluruh personel yang terlibat dalam latihan ini juga diminta tetap memerhatikan faktor keamanan personel dan material. "KRI dan Pesud yang terlibat dalam latihan dengan kedua negara dipersiapkan dan baik dan faktor keamanan personel dan material diperhatikan," kata Waasops Kasal melalui keterangan pers Kasubdispenum Dispenal, Kolonel Laut (P) Suradi Agung Slamet, S.Sos., S.T.

Selain latihan dengan Angkatan Laut Australia, TNI Angkatan Laut juga akan melaksanakan latihan bersama dengan Tentara Laut Diraja Brunai. Dalam Latihan ini, Letkol Laut (P) Lukman Harish bertindak selaku Komandan Satgas yang saat ini menjabat Komandan KRI Keris-624. Latihan TNI Angkatan Laut dengan Tentara Laut Diraja Brunai ini dilaksanakan di Surabaya selama 6 (enam) hari dengan nama latihan "Helang Laut 16A/15". Dalam latihan ini akan dilaksanakan kegiatan simulasi perang elektronika yang seluruhnya dilaksanakan di darat.

www.jpnn.com

Rabu, 05 Agustus 2015

TNI AL Dan US Navy Gelar Latma CARAT 2015

TNI AL dan US Navy (Angkatan Laut Amerika Serikat) menggelar Latihan Bersama yang bersandi CARAT 2015 (Cooperation Afloat Readiness and Training 2015). Latma CARAT 2015 ini dilaksanakan mulai 27 Juli 2015 hingga 10 Agustus 2015. Latihan ini bertujuan untuk lebih meningkatkan hubungan bilateral dan memelihara stabilitas keamanan di kawasan Asia Tenggara.

Armada Kapal Perang. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Kapal Perang.
Latma CARAT 2015 upaya tingkatkan hubungan Indonesia-AS.

TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) kembali menggelar Latihan Bersama (Latma) bersandi "CARAT" (Cooperation Afloat Readiness and Training) 2015" untuk meningkatkan hubungan bilateral dan memelihara stabilitas keamanan di kawasan Asia Tenggara. "Latma CARAT 2015 itu secara resmi dibuka oleh Asops Kasal Laksamana Muda TNI Arie Henrycus Sembiring yang didampingi oleh Comlog Westpac RDML Charles William di Puslat Kaprang Kolatarmatim, Senin (3/8/2015)," kata Kadispen Koarmatim Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman di Surabaya, Selasa (4/8/2015).

Pembukaan Latma CARAT yang berlangsung selama 14 hari, sejak 27 Juli hingga 10 Agustus 2015 itu, ditandai dengan penyematan tanda peserta latihan oleh Asops Kasal kepada perwakilan US Navy, lalu Commander Logistics Group Western Pacific menyematkan tanda peserta kepada perwakilan TNI AL.

Dalam amanatnya, Asops Kasal menerangkan Latma CARAT 2015 memiliki peran yang penting, tidak hanya untuk meningkatkan profesionalisme tetapi juga untuk mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat. "CARAT 2015 merupakan implementasi dari hubungan bilateral di bidang pertahanan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas, profesionalisme, dan koordinasi di bidang kemaritiman," katanya.

Dalam Latma CARAT 2015 bertajuk "Engineer Enclosure (Encap) itu, TNI Angkatan Laut melibatkan CN-235, NBO-105, BELL-412, NC-212-200, 1 FFG (kelas Van Speijk), MRLF, Corvette (kelas Sigma), LPD, Kapal Selam, dan satu Batalyon Marinir (350 personel). Selain itu, satu Peleton Zeni (60 personel), satu Detasemen Force Protection (35 personel), tiga Tim Kopaska Untuk Serial Latihan Riverine (21 personel), dua Tim Penyelam (delapan personel tiap tim), 16 personel pelatihan Eod (delapan penyelam, delapan Kopaska), dan satu Tim Band Koarmatim,

US Navy melibatkan Task Force-73, USNS Safeguard, DDG (dilengkapi 1 heli MH-60R), LCS (dilengkapi heli MH-60R), SSN, LSD, USMC (300 personel), Pesud P-3/P-8, Survey/Beach Master, Sevent Fleet Band, satu Detasemen Riverine, satu Detasemen Seabee, satu tim VBSS, satu Batalyon MDSU, satu peleton EOD, satu Detasemen Force Protection, dan satu UAV MQ-8 Firescout.

Materi latihan yang akan dikembangkan, adalah kemampuan mengaplikasikan dan mengembangkan doktrin, taktik, dan prosedur operasi di laut sesuai dengan referensi yang telah disepakati dan kemampuan kodal dan komunikasi kerja sama teknis dan taktis antarpersonel TNI AL dan US Navy pada penyelenggaraan pelayanan masyarakat, meliputi bakti sosial dan kunjungan sekolah.

Acara pembukaan tersebut dihadiri Pangarmatim Laksda TNI Darwanto, Dankobangdikal, Kasarmatim, Danlantamal V, Danpuspenerbal, Karumkital Dr. Ramelan, Dan STTAL, US Naval Attache LCDR Jenefer Barnes, perwakilan dari masing-masing "working group", dan 15 perwakilan dari USS Safeguard dan USS Fortworth.

Memasuki hari kedelapan Latma CARAT 2015, pasukan Marinir TNI AL dan United States Navy (US Navy) melaksanakan karya bakti renovasi SDN Tebalo di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (3/8/2015). Tahap renovasi SD untuk saat ini telah mencapai 60 persen. Bangunan yang direnovasi adalah enam ruang kelas, satu ruang guru, serta membuat dua kamar mandi dan WC untuk siswa dan guru.

Para prajurit dari kedua negara tersebut melaksanakan pemasangan instalasi listrik, pengecatan dinding, plester, dan pengacian dinding, pemasangan rangka plafon serta pemasangan kuda-kuda atap. "Saya berharap renovasi ini dapat memberikan manfaat bagi siswa SDN Tebalo," kata Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Carat 2015 Kolonel laut (P) Arsyad Abdullah yang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Satuan Kapal Eskorta (Dansatkor) Koarmatim itu.

www.antaranews.com

Sabtu, 01 Agustus 2015

Korps Marinir TNI AL Masuk Tiga Besar Dunia

Kekuatan Pasukan Marinir TNI AL disebut-sebut sebagai nomor tiga terbesar di dunia. Posisi ini dibawah kekuatan pasukan Marinir negara Amerika Serikat dan Inggris. Pengakuan ini didapat pada pelaksanaan pertemuan tahunan persatuan Marinir tingkat dunia yang digelar di Hawai, Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

Marinir TNI AL. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Marinir TNI AL.
Kekuatan Marinir Indonesia Masuk Tiga Besar di Dunia.

Meski tak dilengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) secanggih milik negara-negara maju, Indonesia patut berbangga hati terhadap Korps Marinir TNI Angkatan Laut (AL). Pasalnya, Indonesia disebut-sebut memiliki kekuatan Korps Marinir terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Inggris. "Kekuatan Marinir Indonesia adalah yang terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Inggris," kata Komandan Korps Marinir Mayjen TNI Buyung Lalana di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis 30 Juli 2015.

Buyung memaparkan, di dalam sebuah pertemuan tahunan persatuan Marinir tingkat dunia yang digelar di Hawai, Amerika Serikat beberapa waktu lalu, korps baret ungu ini mendapatkan sambutan hangat dari sejumlah negara adikuasa. "AS bilang Anda negara kekuatan ketiga terbesar di dunia. Marinir yang berhasil membuat kita gentar. Saya berkunjung ke Indonesia dan Marinir punya yel-yel yang berhasil memprovokasi kami, buat gentar kita," ungkap Buyung menirukan pujian pihak Marinir AS.

Apresiasi dari Marinir AS terhadap Marinir Indoneisa tersebut memang bukan tanpa alasan. Buyung mengatakan, dari sejumlah kegiatan latihan bersama yang diadakan antara prajurit Marinir dari tiga negara (Indonesia-AS-Inggris), kegigihan prajurit Indonesia tak kalah dengan dua negara adikuasa tersebut. "Kita sering berlatih bersama dengan mereka (AS-Inggris). Dengan kemampuan dan besarnya armada kita, mereka memuji kita. Sebagai ilustrasi, dalam kegiatan berenang menyeberangi Selat Sunda tahun lalu, 817 dari 1000 personel Marinir itu berhasil menyeberang," ucap Buyung.

sindonews.com

Selasa, 21 April 2015

4 Unit Pesawat Latih Bonanza G-36 Baru Perkuat Armada Skuadron 200 Wing Udara 1/Pusat Penerbangan TNI AL

4 unit pesawat latih dasar dari jenis Beechcraft Bonanza G-36 kini telah menambah jumlah armada pesawat Skuadron 200 Wing Udara 1/Pusat Penerbangan TNI AL, Surabaya. Pesawat-pesawat terbang tersebut digunakan untuk melatih para penerbang di lingkunan kesatuan TNI AL. Beechcraft Bonanza G-36 adalah pesawat yang diproduksi oleh perusahaan Beechcraft Company yang berbasis di Wichita, Kansas, Amerika Serikat.

Beechcraft Bonanza G-36 TNI-AL. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Beechcraft Bonanza G-36 TNI-AL.
TNI AL tambah empat pesawat latih baru.

TNI AL menambah empat pesawat latih dasar baru jenis Beechcraft Bonanza G-36 yang akan dioperasikan oleh Skuadron 200 Wing Udara 1/Pusat Penerbangan TNI AL, di Surabaya. Keempat pesawat latih dasar yang baru itu diserahterimakan dalam upacara penerimaan yang disaksikan Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Ade Supandi, di Base Ops Pangkalan Udara TNI AL Juanda, Surabaya, Jawa Timur, Senin (20/4/2015).

Dalam upacara serah terima pesawat baru itu, keempat pesawat latih dasar itu diserahkan Asisten Logistik Kepala Staf TNI AL, Laksamana Muda TNI Hari Pratomo, kepada Komandan Pusat Penerbangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI Sigit Setiyanta. "Untuk mencetak penerbang yang profesional dan handal, kami perlu pesawat latih yang spesifik. Sebelumnya, kami sudah punya empat pesawat sejenis, sehingga kami sekarang memiliki delapan pesawat latih Bonanza G-36," kata Supandi.

Untuk pengadaan 2015, TNI AL masih memerlukan pesawat latih lagi sebanyak empat pesawat udara. "Itu pesawat latih mesin tunggal, yaitu Bonanza G-36 , tapi ke depan kami membutuhkan enam jenis mesin ganda," katanya.

Bahkan, untuk calon penerbang yang memasuki pelatihan madya akan bisa berlatih dengan pesawat yang lebih besar, seperti CN-235 dan Cassa N-212. "Pesawat itu merupakan kepanjangan mata dalam deteksi kapal-kapal permukaan," katanya.

Ditanya antisipasi kecelakaan atau insiden dalam latihan dengan pesawat latih, orang nomer satu di TNI AL itu mengatakan pelatihan di lingkungan TNI AL itu dilakukan secara lebih rinci. "Tidak hanya itu, perawatan juga kita lakukan secara rutin dan kalau ada error akan langsung dilakukan perbaikan. Kita juga memiliki Tim Keselamatan Penerbangan yang selalu memantau," katanya.

Dalam upacara serah terima pesawat udara latih dasar itu, Supandi sempat membaptis mereka dengan air dalam kendi serta membuka selubung pesawat yang bertuliskan Skuadron 200.

Terkait pengadaan pesawat latih dengan penyedia PT Krida Setia Abadi itu, Setiyanta menjelaskan nilai keempat pesawat latih buatan Beechcraft Company di Wichita, Kansas, AS itu mencapai Rp59 miliar. "Sertifikasi dan pelatihan untuk pengoperasian pesawat itu sudah dilakukan di AS pada November-Desember 2014, bahkan keempat pesawat latih itu sebenarnya sudah memeriahkan HUT TNI 2014, tapi upacara resmi baru hari ini," katanya.

Spesifikasi pesawat latih Bonanza G-36 adalah mesin tunggal, bertenaga 300 HP, enam silinder, dan bahan bakar avgas. Kapasitas pesawat terbang adalah empat orang dengan kecepatan 326/jam dan daya jelajah 1.713 km di ketinggian maksimal 5.639 m.

Pada periode II (2015-2019), TNI AL berkomitmen untuk membangun kekuatan, khususnya pesawat udara yakni helikopter anti-kapal selam (11 unit), helikopter anti-kapal permukaan air (delapan unit), helikopter angkut taktis (empat unit), CN235-2000 Patmar (tiga unit), dan sejumlah simulator.

Selain alutsista, TNI AL juga berencana mengembangkan pangkalan udara TNI AL kelas A di Tanjung Pinang dan kelas B di Bengkulu, Ambon, dan Tual, serta Wing Udara 3 di Sorong.

www.antaranews.com

Kamis, 09 April 2015

Marinir TNI AL Dan US Marsoc Gelar Latihan Militer Bersama

Pasukan Marinir TNI AL dan US Marsoc (pasukan khusus Marinir Amerika Serikat) menggelar latihan militer bersama yang bersandi Lantern Iron 15-5524. Dalam latihan tempur ini pasukan Intai Amfibi Marinir TNI AL dan US Marsoc mengasah keterampilan beberapa spesifikasi tempur, seperti peperangan kota (Military Operations On Urban Terrain / MOUT), pengintaian pantai, pertempuran jarak dekat, identifikasi dan antisipasi bahan peledak, dan sebagainya.

Latihan Menembus Gelombang. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Latihan Menembus Gelombang.
Marinir Indonesia-AS latihan perang kota di Banyuwangi.

Prajurit Intai Amfibi Marinir TNI AL bersama dengan prajurit khusus Marinir AS, US Marsoc, melakukan latihan perang kota di Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur. Komandan Satgas Latihan Letkol Marinir Freddy Ardianzah dalam keterangan tertulis Dinas Penerangan Korps Marinir di Banyuwangi, Selasa menjelaskan bahwa latihan bersandi "Lantern Iron 15-5524" melibatkan sejumlah pihak, termasuk helikopter TNI AL. "Tujuan latihan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknik dan taktik prajurit Taifib Korps Marinir dalam melaksanakan perang kota," ujarnya.

Letkol Freddy Ardianzah mengatakan selain materi perang kota, Senin (6/4/2015), prajurit Taifib Korps Marinir pada Minggu (5/4/2015) juga melaksanakan latihan melompat ke air dari helikopter dan stabo atau diangkut dengan helikopter menggunakan tali. Satu unit helikopter jenis Bell 412 yang dilibatkan berasal dari Skuadron 400 Wing Udara-1 Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal) yang dipiloti Lettu Laut (P) V. Oktomiawan dan Copilot Lettu Laut (P) Tri Yudha. "Secara umum latihan ini untuk meningkatkan profesionalisme prajurit Taifib Korps Marinir yang memiliki kemampuan bertempur di tiga medan atau tri media, yaitu di darat, laut dan udara," ujarnya.

Pada akhir Maret 2015 lalu, prajurit Taifib Marinir bersama dengan US Marsoc mengadakan latihan pengintaian pantai di daerah Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Lampon, Banyuwangi. Letkol Freddy Ardianzah menjelaskan pada latihan itu marinir kedua negara melaksanakan berbagai materi latihan, di antaranya, renang rintis, pengintaian pantai lanjutan dan raid amfibi. Pada latihan bersama itu kedua marinir merasakan lokasi latihan tempat para calon pasukan Taifib Marinir digembleng.

Freddy Ardianzah menjelaskan bahwa para marinir itu juga berlatih tentang identifikasi serta tindakan terhadap bahan peledak, pertempuran jarak dekat, bertahan hidup dan lainnya.

Menurut dia, latihan bersama ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknik dan taktik prajurit Taifib serta menjalin kerja sama dengan prajurit US Marsoc dalam bidang militer.

www.antaranews.com

Kamis, 05 Maret 2015

TNI AL Akan Pamerkan Sejumlah Kapal Perang Pada IMDEX Asia 2015 Di Singapura

Sejumlah kapal perang dari berbagai jenis milik TNI AL akan turut dipamerkan pada event IMDEX Asia 2015 yang digelar di Singapura pada 19 Mei 2015 hingga 21 Mei 2015. IMDEX merupakan ajang pameran pertahanan kemaritiman yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1997.

KRI Bung Tomo (357). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Bung Tomo (357).
TNI AL Boyong Kapal Perang dalam Pameran Maritim Internasional.

Pameran pertahanan maritim internasional Asia Pasifik (IMDEX) kembali digelar pada 19-21 Mei 2015. Hajatan skala dunia ini rencananya berlansung di Changi Exhibition Center, Singapura. Menjelang acara tersebut, TNI AL dipastikan ikut serta dalam pameran tersebut. TNI akan memboyong sejumlah kapal perang untuk dipamerkan dalam ajang tersebut. "Sampai saat ini Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia Laksamana TNI Ade Supandi telah memberikan konfirmasi untuk hadir dalam IMDEX Asia 2015. TNI AL Indonesia juga akan mengirimkan kapal perang jenis fregat dan kapal patroli untuk berpartisipasi dalam pameran kapal perang di IMDEX Asia," kata Managing Director Experia Events pihak penyelenggara IMDEX, Leck Chet Lam dalam konfrensi pers di Hotel Le Meredien, Jakarta, Rabu (4/3/2015).

Leck menambakan, keikutsertaan Indonesia di IMDEX patut diapresiasi. Hal ini karena TNI AL terbukti sudah mengambil langkah tepat demi memperkuat kekuatannya. "Dengan pertumbuhan pasar pertahanan maritim yang kokoh di kawasan Asia Pasifik, IMDEX Asia saat ini merupakan ajang prestisius bagi para pengunjung dan delegasi demi mengetahui lebih lanjut mengenai inovasi teknologi terkini, membangun jaringan dan membina kemitraan. Kami senang delegasi mau pun pengunjung Indonesia melihat pentingnya berpartisipasi dalam IMDEX Asia," jelas dia.

Senada dengan Leck, Profesor Emeritus Bidang Studi Maritim King College London, Geoffrey Till menekankan Indonesia sudah sepatutnya turut serta dalam IMDEX. Sebab Indonesia sesuai visi Presiden Joko Widodo disiapkan menjadi poros maritim dunia. "Indonesia dan negara lain telah melakukan jauh lebih banyak upaya di laut baik secara komersil atau militer. Mereka memahami perlunya investiasi untuk fasilitas pelabuhan, kesadaran akan daerah kekuasaan militer, basis industri militer, rekapitalisasi industri pengiriman pedagang ikan dan pembentukan penjaga pantai. Negara yang lebih berinvestasi untuk Angkatan Laut karena mereka merasa perlu untuk mempertahankan otonomi strategis mereka di dunia masa depan yang tidak begitu pasti," sebut Till.

IMDEX pertama kali diselenggarakan pada 1997. Indonesia juga berpartisipasi dalam IMDEX dalam beberapa pegerlaran sebelumnya. Pada acara IMDEX terakhir pada 2013, TNI AL mengirimkan KSAL Laksamana Laut TNI Marsetio serta Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut Laksamana Madya TNI Bambang Suwarto untuk ikut serta dalam acara besar itu.

news.liputan6.com

Senin, 16 Februari 2015

TNI AL Rencanakan Beli 2 Unit Kapal Penyapu Ranjau

2 unit kapal perang baru dari jenis Kapal Penyapu Ranjau akan dibeli lagi oleh TNI AL. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KASAL) Laksamana Ade Supandi mengatakan bahwa rencana pembelian 2 unit kapal perang penyapu ranjau tersebut telah dimasukkan dalam anggaran rencana strategis 2015 - 2019.

KRI Pulau Rengat (711). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Pulau Rengat (711).
TNI AL Beli Kapal Penyapu Ranjau, Berapa Harganya?.

Pada sebuah kesempatan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut, Jakarta Selatan, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KASAL) Laksamana Ade Supandi menyampaikan bahwa TNI AL telah merencanakan untuk membeli kapal perang baru khusus penyapu ranjau. Kapal baru tersebut akan menggantikan armada penyapu ranjau yang uzur, yaitu KRI Pulau Rengat (711) dan KRI Pulau Rupat (712) yang sudah dioperasikan TNI AL sejak Maret 1988. Dua kapal tersebut dari generasi Tripartite class yang dibuat oleh galangan GNM (Van der Gessen de Noord Marinebouw BV) di Albasserdam, Belanda. "Rencananya kami akan cari dua unit kapal penyapu ranjau," kata Ade kepada wartawan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut, Jakarta Selatan, Kamis, 5 Februari 2015.

Meski sudah cukup berumur, KRI Pulau Rengat masih aktif dioperasikan Angkatan Laut. Belum lama ini, kapal tersebut dilibatkan dalam pencarian pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang di Selat Karimata pada Desember lalu. Sebab, meski kapal pemburu ranjau, KRI Pulau Rengat bisa digunakan untuk menemukan benda logam di bawah air, termasuk puing pesawat. Laksamana Ade Supandi menilai keberadaan kapal penyapu ranjau sangat berguna bagi misi perang dan nonperang TNI AL.

Sayangnya, Ade Supandi masih merahasiakan besaran anggaran yang dibutuhkan untuk membeli dua kapal baru tersebut. "Yang jelas (anggaran dua kapal penyapu ranjau) sudah kami masukkan dalam rencana strategis 2015-2019," kata Ade.

Angkatan Laut juga belum bisa menentukan pilihan produk kapal penyapu ranjau yang bakal dibeli. Ade sendiri berjanji bakal mengutamakan pembelian kapal penyapu ranjau dari galangan kapal dalam negeri. "Kalau butuh beraneka alat canggih dan dalam negeri belum bisa bikin, kami akan pesan dari produsen luar negeri," kata Ade.

Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie setuju dengan rencana TNI AL. Menurut Connie, kapal perang jenis penyapu ranjau sangat penting dalam sebuah Angkatan Laut. Musababnya, kapal tersebut bisa digunakan untuk misi SAR seperti kecelakaan transportasi laut. "Sudah bukan saatnya retrofit (peremajaan komponen alutsista), terlebih ini berhubungan dengan poros maritim Presiden Joko Widodo," kata Connie.

www.tempo.co

Kamis, 15 Januari 2015

KRI Bung Tomo (357)

KRI Bung Tomo (357) adalah salah satu kapal perang jenis korvet yang dimiliki dan dioperasikan oleh TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut). KRI Bung Tomo (357) yang dibangun di Inggris ini oleh pabrikannya disebut sebagai kapal perang jenis MRLF (Multi Role Light Fregate). Dengan panjang 95 meter, lebar 12,7 meter, dan berat 2.300 ton, kapal ini mampu melaju hingga kecepatan maksimum 30 knot.

KRI Bung Tomo (357) (Gambar 1). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Bung Tomo (357) (Gambar 1).
Sebelum dibeli oleh Indonesia, KRI Bung Tomo (357) telah terlebih dulu dipesan oleh Angkatan Laut Kesultanan Brunei Darussalam. Brunei memesan 3 unit kapal perang jenis ini dari pabrikannya, BAE Systems di Inggris. Sebelum diberi nama Bung Tomo oleh pemerintah Indonesia, kapal ini bernama KDB Jerambak (30). Negara tetangga ini sudah memesan 3 kapal tersebut sejak tahun 1995 dan pembuatannya diselesaikan pada tahun 2001 dan 2002. Namun dengan alasan kurang personil untuk mengoperasikan kapal-kapal perang ini, pemerintah Brunei membatalkan kontrak pembeliannya.

Pada waktu berikutnya, Kesultanan Brunei Darussalam menghubungi perusahaan German Lürssen untuk mendapatkan pembeli baru 3 kapal perang MLRF (Multi Role Light Fregate) yang sudah terlanjur dipesan itu. Setelah lima tahun, akhirnya pemerintah Indonesia tertarik untuk membelinya pada tahun 2013. Oleh TNI AL 3 kapal perang ini diberi nama KRI Bung Tomo (357), KRI John Lie (358) dan KRI Usman-Harun (359). Dalam armada kapal perang TNI AL, 3 kapal ini digolongkan sebagai kapal perang korvet kelas Bung Tomo.

Penamaan Bung Tomo diambil dari nama seorang pahlawan nasional Indonesia, Bung Tomo, yang karena peran dan pidatonya mampu membangkitkan semangat para pejuang Indonesia sehingga berkobarnya pertempuran besar pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya. Pemberian nama tersebut secara resmi dilakukan pada tanggal 4 Desember 2014 bersamaan dengan pemberian nama kepada kapal perang sejenis, KRI Usman-Harun (359).

KRI Bung Tomo (357) (Gambar 2). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Bung Tomo (357) (Gambar 2).
KRI Bung Tomo (357) dirancang sebagai kapal patroli lepas pantai. Kapal ini bermarkas di Pangkalan Armada Timur, Tanjung Perak, Surabaya. Kapal perang ini memiliki dimensi panjang 89 meter, lebar 12,8 meter, dan berat berat 1.941 ton. Dengan didukung 4 unit mesin diesel 4 x MAN B&W / Ruston, kapal ini mampu melaju hingga kecepatan 30 knot (55,56 km/jam) dengan jangkauan pelayaran hingga 9.000 km pada kecepatan jelajah.

Saat tulisan ini diterbitkan, KRI Bung Tomo (357) dikomandani Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan, S.T,. Kapal ini memiliki jumlah ABK 85 prajurit, dengan rincian perwira 17 orang, bintara 40 orang dan tamtama 28 orang.

Setelah bergabung dalam armada kapal perang TNI AL, tugas yang pertama kali dilaksanakan oleh KRI Bung Tomo (357) adalah misi pencarian badan pesawat dan jenazah para penumpang dan awak pesawat maskapai AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 rute Surabaya-Singapura. Pesawat ini dinyatakan hilang pada Minggu, 28 Desember 2014. Selanjutnya tugas KRI Bung Tomo (357) digantikan oleh KRI Usman-Harun (359).

Spesifikasi KRI Bung Tomo (357) :
  • Jenis : F2000 Korvet
  • Displacement : 1.940 ton
  • Panjang : 89,9 m LWL, 95 m LOA
  • Lebar : 12,8 m
  • Daya muat : 3,6 m
  • Pendorong : 4 unit MAN B&W / Ruston diesel engine (total 30.2 MW), 2 unit shafts
  • Kecepatan : 30 knot (56 km/jam)
  • Jangkauan : 5.000 mil laut (9.000 km) pada kecepatan 12 knot (22 km/jam)
Persenjataan KRI Bung Tomo (357) :
  • 1 unit Oto Melara 76mm gun.
  • 2 unit MSI Defence DS 30B REMSIG 30mm guns
  • 16 unit VLS untuk meluncurkan MBDA (BAE Systems) MICA surface-to-air missile.
  • 2 unit 4 Quad untuk meluncurkan 8 misil MBDA (Aerospatiale) Exocet MM40 Block II.
  • 2 unit triple BAE Systems 324mm torpedo tubes untuk menghancurkan sasaran diatas maupun dibawah air.
Sensor dan Elektronis KRI Bung Tomo (357) :
  • Ultra Electronics/Radamec Series 2500 electro-optic weapons director.
  • Thales Underwater Systems TMS 4130C1 hull-mounted sonar.
  • BAE Systems Insyte AWS-9 3D E- and F-band air and surface radar.
  • BAE Insyte 1802SW I/J-band radar trackers.
  • Kelvin Hughes Type 1007 navigation radar.
  • Thales Nederland Scout radar.
  • Thales Sensors Cutlass 242 countermeasures.
wikipedia.org, nasional.kompas.com

Rabu, 07 Januari 2015

Hellweek, Neraka Bagi Calon Anggota Kopaska

Hellweek adalah adalah istilah untuk menyebutkan proses awal dari latihan keras yang menguras tenaga dan emosi bagi para calon anggota Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL. Hellweek diakui sebagai proses latihan yang dahsyat. Dalam artikel ini disajikan rangkaian proses latihan tersebut. Seperti namanya, benar-benar seperti dalam neraka.

Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL.
Mengintip latihan hellweek Kopaska TNI AL yang bikin merinding.

Kopaska merupakan satuan pasukan elite di tubuh Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Laut (TNI AL). Sudah sejak era Trikora tahun 1963 Kopaska kerap diterjunkan dalam misi setengah mustahil. Tapi itulah pasukan khusus. Personelnya dipilih dari orang-orang terbaik. Selain berotot kawat dan bertulang besi, mereka juga wajib datang dari Korps Pelaut. Syarat wajib lain harus sudah pernah bertugas di kapal TNI AL selama dua tahun atau lebih.

Mengapa harus pelaut?

Pertama, anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska) harus mengetahui konsep perang laut secara menyeluruh. Ketika hendak melakukan misi sabotase atau pembebasan sandera, mereka sudah harus tahu bagian-bagian kapal. Bila bukan pelaut, mereka akan kesulitan mengenal bagian-bagian dalam kapal. Kedua, jika sudah berpengalaman dalam KRI, insting mereka akan langsung bermain di mana kamar mesin, ruang amunisi, tanki bahan bakar dan sebagainya. Hal ini jelas akan berpengaruh dalam kesuksesan misi.

Latihan pertama yang harus dijalani oleh calon personel Paska adalah hellweek. Latihan yang benar-benar menguras emosi, tenaga dan keringat sampai ke tetes terakhir. "Sesuai namanya, seperti neraka! Cukup sekali seumur hidup," kata seorang mantan anggota Paska di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Dalam buku Kopaska, Spesialis Pertempuran Laut Khusus yang diterbitkan dalam rangka 50 tahun Kopaska, dikupas soal hellweek ini. Setiap calon Paska tak pernah diberi tahu kapan rangkaian hellweek akan dimulai. Bisa saja tiba-tiba saat mereka belajar di kelas, atau saat tidur terlelap.

Hari pertama minggu neraka ini dibuka dengan ritual melahap nasi komando bersama-sama. Nasi komando adalah hasil blenderan nasi, lauk pauk, telur mentah, minyak ikan dan terasi. Makanan ditaruh dalam satu tempat dan dimakan secara bergiliran. Jika salah satu muntah di tempat itu, maka yang berikutnya tetap harus memakan nasi komando itu sampai tandas. Sebagai pelepas dahaga, minuman yang diberikan adalah jamu brotowali. Jamu ini memang menyehatkan, tapi mungkin merupakan minuman paling pahit di dunia.

Setiap hari porsi tekanan terus ditambah hingga benar-benar memaksa seseorang untuk bertahan di titik maksimal.

Uniknya selama pendidikan, nama mereka diganti dengan nama hewan laut. Maka nama-nama tongkol, udang, paus, kakap wajib digunakan. Nah, kadang hingga pendidikan selesai, nama ini masih melekat di antara sesama mereka.

Jika tak kuat pendidikan, silakan berhenti. Tak ada paksaan sama sekali untuk mengikuti latihan Paska ini. Siswa yang gugur atau mengundurkan diri diminta meletakkan topi bajanya di pinggir lapangan. Dari situ kelihatan berapa orang yang telah mengundurkan diri dalam satu angkatan.

Bagaimana dengan yang lulus hellweek? Apakah sudah berakhir semua deraan dan siksaan?

Belum bro! Masih panjang sekali perjalanan sang calon pasukan katak ini. Begitu lulus mereka wajib mengikuti sekolah penembak. Calon Paska dikenalkan berbagai macam senjata, mulai dari pistol, senapan serbu, hingga senapan sniper. Mereka juga diajari berbagai macam teknik tembak reaksi, antiteror dan akurasi. Selanjutnya siswa menempuh latihan komando gunung hutan dan longmarch di Karang Tekok. Disambung lintas medan ke Ijen, Situbondo, Bromo hingga Surabaya.

Lolos komando, giliran latihan terjun harus dijalani. Mulai terjun statis, HALO, HAHO wajib diikuti para siswa Paska. Setelah itu mereka digembleng aneka praktik demolisi dan pertempuran bawah laut khusus. Latihan dilanjutkan dengan praktik intelijen di Banyuwangi dan Malang.

Total rangkaian seluruh pendidikan ini makan waktu 10 hingga 12 bulan. Setelah lulus barulah mereka berhak mengenakan brevet Pasukan Katak dan baret merah.

Tan Hana Wighna Tan Sirna, tak ada rintangan yang tak bisa diatasi!

www.merdeka.com

Sabtu, 22 November 2014

Kapal Perang TNI AL Gagalkan Aksi Pembajakan Terhadap Kapal Kargo Berbendera Panama

Dua kapal perang TNI AL dikabarkan telah berhasil menggagalkan aksi pembajakan terhadap sebuah kapal kargo berbendera Panama, MV New Emerald. Dua kapal perang Indonesia tersebut adalah KRI Todak (631) dengan Komandan Mayor Laut (P) Sandy Kurniawan dan KRI Sanca (815) dengan Komandan Kapten Laut (P) Eko Yudi. Peristiwa tersebut terjadi di kawasan perairan perbatasan Indonesia dan Singapura, tepatnya di selat Philips.

KRI Todak (631). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Todak (631).
TNI AL Gagalkan Rencana Pembajakan Kapal Kargo di Perbatasan RI-Singapura.

Kapal Perang Indonesia (KRI) di bawah Komando Armada Barat (Koarmabar) menggagalkan pembajakan terhadap kapal kargo berbendera Panama. Rencana pembajakan itu berada di selat Philips, dekat Singapura. Demikian disampaikan, Kepala Dinas Penerangan, Koarmabar, Letkol (L) Ariris Miftachurrahman dalam siaran persnya, Jumat (21/11/2014).

Letkol Ariris menjelaskan, informasi terjadinya pembajakan diterima TNI AL dari liasion officer RI di di IFC (Information Fusion Center) Singapura. Disampaikan bahwa MV New Emerald berbendera Panama akan dibajak di perbatasan Indonesia-Singapura, Jumat (21/11/2014).

KRI Sanca (815) dengan Komandan Kapten Laut (P) Eko Yudi dan KRI Todak (631) dengan Komandan Mayor Laut (P) Sandy Kurniawan yang sedang melaksanakan operasi pengamanan perbatasan Indonesia-Singapura bergeser ke lokasi yang dimaksud. "Tidak membutuhkan waktu lama, kedua kapal perang tersebut berhasil mendeteksi dan menemukan keberadaan kapal MV New Emerald. Selanjutnya mereka mengawal ke perairan Teluk Jodoh, Batam, Kepulauan Riau (Kepri)," kata Letkol Ariris.

Tidak ada kerugian material dalam kejadian tersebut. Para pembajak sudah melarikan diri sebelum kedua KRI sampai di lokasi kejadian. Koarmabar, menurut Letkol Ariris, selalu siaga. Terutama terkait isu pembajakan dan pencurian.

news.detik.com

Kamis, 06 November 2014

11 Helikopter Anti Kapal Selam Bakal Perkuat TNI AL

11 unit helikopter anti kapal selam (AKS) tipe AS565 MBe Panther dari Airbus Helicopters telah dipesan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia untuk meningkatkan kemampuan tempur TNI AL. Kontrak pemesanan 11 unit helikopter AS565 MBe Panther ditandatangani oleh Kemenhan dan Airbus pada hari pertama penyelenggaraan Indo Defense 2014. Menurut rencana, pembuatan beberapa komponen dan perakitan helikopter-helikopter AKS tersebut akan dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia dibawah lisensi Airbus Helicopters.

AS565 MBe Panther. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
AS565 MBe Panther.
Indonesia Borong 11 Helikopter Airbus untuk Misi Anti-Kapal Selam.

Indonesia memborong 11 helikopter rotocraft Airbus AS565 MBe Panther pada hari pertama penyelenggaraan Indo Defense 2014, Rabu (5/11/2014). Dengan pembelian ini, Indonesia bermaksud meningkatkan kemampuan misi perang anti-kapal selam. Dalam pengadaan helikopter anti-kapal selam ini, Airbus bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia. Pembuatan beberapa komponen serta perakitan akan dilakukan di dalam negeri dengan lisensi Airbus Helicopters.

Rencananya, kesebelas helikopter itu akan dipasok oleh Airbus dalam jangka waktu tiga tahun. PT Dirgantara Indonesia juga akan melengkapi helikopter dengan peralatan pendukung sebelum diberikan ke Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ada dua peralatan yang akan ditambahkan pada helikopter itu, yaitu dipping sonar Helicopter Long-Range Active Sonar (HELRAS) dan sistem peluncur torpedo. Keduanya bakal membuat helikopter mumpuni untuk operasi darat maupun laut.

Phillipe Monteoux, Direktur Airbus Helicopters Asia Tenggara, menyambut baik pemesanan helikopter ini. Ia mengatakan bahwa AS565 MBe Panther adalah solusi modern dan andal untuk memenuhi kebutuhan Indonesia sebagai negara maritim.

Sementara itu, Presiden PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan, kerja sama ini adalah wujud dari upaya PT DI untuk memasok kebutuhan alutsista yang hemat sekaligus meningkatkan keterlibatan industri dalam negeri.

Pembelian ini menambah koleksi helikopter rotocraft buatan Airbus milik Indonesia. Unit lain ialah Colibri EC120 ringan untuk pelatihan, Fennec dan BO-105 untuk misi serang ringan, serta Puma dan Super Puma yang dioperasikan TNI Angkatan Udara.

Dalam rilis Airbus hari ini, disebutkan bahwa dalam waktu dekat, TNI AU juga akan menerima helikopter EC725 untuk misi pencarian dan penyelamatan.

sains.kompas.com

Sabtu, 25 Oktober 2014

KASAL Tinjau Proses Pembuatan Kapal Cepat Rudal Trimaran

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) meninjau proses pembuatan kapal cepat rudal (KCR) Trimaran di area produksi PT Lundin Industry Invest yang berlokasi di Banyuwangi, Jawa Timur. TNI AL dikabarkan telah memesan 4 unit kapal cepat rudal trimaran ini kepada PT Lundin Industry Invest untuk memperkuat tugas penjagaan kedaulatan maritim di Indonesia.

Kapal Cepat Rudal (KCR) Trimaran. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Kapal Cepat Rudal (KCR) Trimaran.
Kapal Cepat Rudal TNI AL Diproduksi di Banyuwangi.

Pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut, terus melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Terbaru, penjaga kedaulatan maritim Indonesia ini memesan Kapal Cepat Rudal (KCR) berlambung tiga (Trimaran) 63 meter, yang diproduksi oleh PT Lundin Industry Invest, sebuah perusahaan galangan kapal kebanggaan nasional yang berbasis di Banyuwangi, Jawa Timur.

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr Marsetio berkesempatan meninjau proses pembuatan kapal tersebut di Pantai Cacalan, Banyuwangi, Jumat (24/10/2014). Turut mendampingi Bupati Abdullah Azwar Anas, Komandan Pangkalan TNI AL Banyuwangi Letkol Laut (P) Edi Eka Susanto, Komandan Kodim 0825 Banyuwangi Letkol Inf Mangapul Hutajulu, dan Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi I Made Parma. "Kunjungan hari ini merupakan salah satu kunjungan ke galangan kapal kebanggaan nasional karena di sinilah Kapal Trimaran dibuat. Ini juga menjadi kebanggaan bagi warga Banyuwangi, karena ternyata daerah di ujung timur Pulau Jawa ini menjadi salah satu produsen alat pertahanan negara," kata Marsetio, di Banyuwangi, Jumat (24/10/2014).

Marsetio mengatakan, Kapal Trimaran yang terbaru ini merupakan yang pertama di Asia. Selain bekerja sama dengan Swedia, dalam pembuatan desain Trimaran, TNI Angkatan laut juga melibatkan BUMN yang bergerak di bidang industri pertahanan nasional seperti PT PAL (Persero) dan PT Pindad (Persero). "Untuk tahap pertama TNI AL memesan empat kapal. Sekarang di sini sedang dibuat yang pertama," ujar Marsetio.

Desain Kapal KCR Trimaran yang terbaru ini akan sedikit berbeda dengan Kapal Trimaran yang sebelumnya. Kapal terbaru ini juga akan terbuat dari bahan tahan api dan anti-radar. "Kapal ini tidak hanya akan dipakai di dalam negeri, tapi akan menjadi salah satu produk pertahanan unggulan yang akan dijual ke luar negeri. Seperti kapal LPD yang diproduksi PT. Pindad sudah dipesan oleh Angkatan Laut Filipina. Nanti kapal ini juga akan kita jual ke luar negeri," imbuh Marsetio.

Sebagai informasi, saat ini PT. Lundin tengah membangun Kapal Cepat Rudal (KCR) Trimaran 63 meter untuk TNI AL. Pembangunan kapal ini merupakan pembangunan yang kedua kalinya, yakni sebagai pengganti kapal sebelumnya "KRI Klewang-625" yang terbakar pada September 2012 sebelum diserahkan ke TNI AL. KCR Trimaran ini berdesain unik "wave piercing" yang bisa tetap stabil di tengah kondisi cuaca buruk. Kapal ini juga bisa terhindar dari radar maupun infra merah.

Dalam kesempatan ini, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengaku bangga karena kapal canggih itu diproduksi di Banyuwangi dengan sinergi swasta dan BUMN di bidang industri pertahanan. "Industri pertahanan adalah industri strategis bagi bangsa. Banyuwangi ikut bangga," kata Anas.

Selain industri pertahanan, mobil listrik berukuran mini juga segera diproduksi di Banyuwangi. Produksi ini melibatkan teknologi Swedia di PT Lundin Industry yang berbasis di Banyuwangi. "Dubes Swedia dalam waktu dekat ini akan ke Banyuwangi. Saya berharap ada transformasi teknologi, pengetahuan, budaya inovasi bagi kami yang ada di Banyuwangi," pungkas Anas.

www.beritasatu.com

Rabu, 01 Oktober 2014

TNI AL Lancarkan Operasi Pembebasan Pembajakan Terhadap Kapal Kargo Jepang

Satgas Jala Pari-14 dari Komando Armada Wilayah Barat TNI AL melancarkan operasi pembebasan pembajakan terhadap kapal kargo berbendera Jepang, MV Shimamaru, yang berlokasi diantara perairan Selat Malaka dan Selat Singapura. Dalam operasi pembebasan pembajakan ini, Satgas Jala Pari-14 didukung oleh 3 kapal perang TNI AL, yaitu KRI Sutedi Senaputra 378, KRI Barakuda 633, KRI Beladau 643, dan 2 tim VBSS (Visit Boarding Search and Seizure). Drama operasi pembebasan pembajakan ini merupakan skenario latihan yang digelar TNI AL untuk kesiapan antisipasi terjadinya pembajakan kapal di kawasan perairan Selat Malaka.

Tim VBSS Satkopaska Koarmabar. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Tim VBSS Satkopaska Koarmabar.
Kapal Kargo Berbendera Jepang Dibajak di Selat Singapura.

Kapal kargo berbendera Jepang MV Shimamaru telah dirompak saat berlayar di antara perairan Selat Malaka dan Selat Singapura sekitar pukul 03.00 WIB, Senin (29/9/2014) dini hari. Belum diketahui berapa jumlah perompak yang melakukan penyanderaan terhadap ABK kapal tersebut, namun informasi yang berhasil diperoleh mengungkapkan bahwa sejumlah ABK MV Shimamaru masih dalam sandera.

Tak hanya itu, MV Shimamaru juga sudah diubah nama menjadi MV Shincem Aneline dan akan diarahkan menuju Filipina. Namun demikian hal ini baru duketahui sekitar pukul 10.00 WIB, Senin (29/9/2014) oleh panglima TNI saat menerima kunjungan Duta Besar Jepang yang menginformasikan pemerintah Jepang mengajukan permintaan bantuan TNI untuk membebaskan MV Shimamaru kapal kargo yang mengangkut pembangkit listrik tenaga nuklir.

Dalam pertemuan itu ditegaskan bahwa pemerintah Jepang tidak akan bernegosiasi dengan perompak, bahkan siap membantu TNI dalam hal ini TNI AL dengan mengerahkan pasukan bela diri Jepang.

Panglima TNI menegaskan kepada Duta Besar Jepang bahwa satuan tugas TNI mampu mengatasi perompakan tersebut, karena dalam waktu bersama panglima TNI mendapatkan perintah dari Presiden RI yang telah mendapatkan koordinasi dari PM Jepang Shizo Abe meminta bantuan Indonesia untuk membebaskan MV Shimamaru.

Tak menunggu waktu lama, Panglima TNI kemudian menyampaikan direktif kepada Pangarmabar tentang perkembangan situasi di Selat Malaka dan Selat Singapura khususnya perompakan terhadap MV Shimamaru, sehingga perlu memberikan bantuan tindakan pengamanan TNI kepada pemerintah Jepang dalam mencari, menangkap dan membebaskan MV Shimamaru di Selat Malaka dan Selat Singapura.

Pengarmabar langsung membentuk Satgas Jala Pari-14, dimana satgas ini diperintahkan untuk melaksanakan operasi pembebasan pembajakan MV Shimamaru di Selat Singapura hari itu juga hingga 3 hari kedepannya dengan menggunakan 3 KRI, KRI Sutedi Senaputra 378, KRI Barakuda 633, KRI Beladau 643 dan 1 tim VBSS (Visit Boarding Search and Seizure) Satkopaska Koarmabar sebagai pemukul serta 1 tim VBSS KRI Beladau 643 sebagai kamuflase, yang didahului dengan pengamatan dan pengintaian oleh pesawat udara P-852, evakuasi medis oleh tim keselamatan Lantamal IV serta penanganan hukum oleh Diskum Lantamal IV Tanjung Pinang.

Sampai pukul 07.38 WIB, Selasa (30/9/2014) proses penyelamatan MV Shimamaru belum berhasil dilakukan, namun informasi di lapangan sejumlah ABK yang disandera masih dalam keadaan selamat.

Adegan tersebut merupakan latihan kesiapan Koarmabar 2014, bentuk latihan Operasi Militer selain perang (OMSP) yang pertama kali dilakukan setelah didahului dengan proses geladi di Mako Koarmabar, Jakarta. Sebelumnya Koarmabar juga telah melaksanakan operasi di Selat Malaka dan Selat Singapura, baik operasi secara mandiri maupun operasi secara terkoordinasi.

www.tribunnews.com

Senin, 29 September 2014

Kapal Perang KRI Usman Harun (359) Dan KRI John Lie (358) Tiba Di Tanah Air

Kapal perang jenis korvet, KRI Usman Harun (359) dan KRI John Lie (358) yang dibeli pemerintah Indonesia dari BAE System Maritime Naval Ship Inggris dilaporkan telah tiba di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Kamis 25 September 2014 lalu. Kedatangan dua kapal perang yang menurut produsennya dimasukkan dalam jenis Corvette Offshore Patrol (COP) ini menyusul KRI Bung Tomo (357) yang sudah terlebih dulu tiba di tanah air beberapa waktu lalu. Kapal-kapal perang ini akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersamaan dengan pelaksanaan perayaan HUT TNI di Dermaga Ujung Surabaya pada 7 Oktober 2014.

KRI Usman Harun (359). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Usman Harun (359).
KRI Usman Harun (359) dan KRI John Lie (358) Sudah Tiba, Siap Beraksi Pada HUT TNI.

KRI Usman Harun (359) yang sempat ramai dibicarakan ternyata sudah berada di Indonesia. Kapal yang dibuat di Inggris itu tiba pada 25 September 2014, dan akan mulai aksinya saat perayaan HUT TNI ke-69 di Surabaya. Dikutip dari situs TNI AL, Minggu (28/9/2014), KRI Usman Harun (359) datang bersamaan dengan KRI John Lie (358).

Acara penyambutan digelar di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (25/9/2014) lalu. Para pejabat TNI yang menyambutnya adalah Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Marsetio, Panglima Komando Lintas Laut Militer (Pangkolinlamil) Laksda TNI Arie H. Sembiring, Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Didit Herdiawan, M.P.A., M.B.A. serta pejabat teras Mabesal lainnya.

Kedatangan kedua KRI tersebut, disambut dengan tari Jaipongan dari Jawa Barat dilanjutkan pengalungan bunga oleh Kasal sebagai ucapan selamat datang kepada Komandan KRI John Lie (358) dan KRI Usman Harun (359) yang telah berhasil menyeberangkan kapal perang dari Inggris. Sebelumnya KRI Bung Tomo (357) sudah tiba lebih dulu.

KRI Bung Tomo (357), KRI John Lie (358) dan KRI Usman Harun (359) merupakan Kapal Perang produksi BAE System Maritime Naval Ship Inggris yang dibeli oleh pemerintah Indonesia. KRI Bung Tomo (357), KRI John Lie (358) dan KRI Usman Harun (359) tiba di Indonesia setelah menempuh perjalanan mengarungi samudera sejauh 9740 Nautical Mile dengan masing-masing membawa 87 ABK Perwira, Bintara dan Tamtama serta 5 orang sipil warga negara asing sebagai teknisi kapal.

KRI Bung Tomo (357), KRI John Lie (358) dan KRI Usman Harun (359) mempunyai Spesifikasi berat tonase 1,940 ton dengan panjang keseluruhan 95 meter, lebar 12,8 meter, dengan tenaga penggerak mesin 4 X Man B&W ruston diesel engine yang dapat menyemburkan tenaga hingga berkecepatan mencapai 30 knot dengan daya jelajah 9.000 km

Persenjataan yang dimiliki antara lain: Meriam Oto Melara 76 mm, dua meriam MSI Defence DS 30 B REMSIG 30 mm, Peluncur Triple BAE System kaliber 324 mm untuk perang atas air, enam belas tabung peluncur peluru kendali permukaan ke udara VLS MBDA VLS Mica (BAE System), dua tabung peluru kendali MBDA (Aerospatiale) MM-40 Block II Exoxet. Serta dilengkapi juga dengan Radamec 2500 yang merupakan perangkat sensor elektro optic weapon director, dimana alat ini dapat disetting multi mode auto tracker, yaitu lima sasaran dapat dipantau sekaligus dari jarak 18.000 meter.

Penamaan kapal Usman Harun pernah jadi perhatian pemerintah Singapura. Mereka menyesalkan Indonesia memilih nama tersebut, sebab dua orang itu adalah pelaku pengeboman di gedung MacDonald Singapura. Indonesia tak mengubah keputusan pemberian nama tersebut karena sudah menganggap Usman dan Harun sebagai pahlawan.

Rencananya, kapal itu akan diresmikan oleh Presiden SBY berbarengan dengan perayaan HUT TNI di Dermaga Ujung Surabaya pada 7 Oktober mendatang.

news.detik.com

Minggu, 28 September 2014

5 Kapal Cepat Rudal Buatan Indonesia Diresmikan Menteri Pertahanan

5 unit kapal perang jenis kapal cepat berpeluru kendali 40 meter (KCR-40) diresmikan oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro. kapal cepat berpeluru kendali 40 meter (KCR-40) itu yang dibangun oleh PT Palindo Marine Shipyard dan PT Citra Shipyard di Batam tersebut adalah KRI Surik (645), KRI Siwar (646), KRI Parang (647), KRI Terapang (648), dan KRI Sidat (851).

KRI Terapang (648). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Terapang (648).
Lima kapal perang buatan Indonesia diresmikan.

Galangan kapal swasta nasional juga memberi andil dalam penguatan armada kapal perang TNI AL. Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, Sabtu (27/9/2014), meresmikan empat kapal perang berlabel buatan Indonesia, KRI Sidat (851), KRI Surik (645), KRI Siwar (646), KRI Parang (647) dan KRI Terapang (648) di Dermaga Utara Pelabuhan Batuampar, Batam. "Kapal-kapal itu resmi masuk jajaran armada TNI AL," kata Yusgiantoro dalam upacara peresmian lima kapal perang kelas kapal cepat berpeluru kendali 40 meter (KCR-40) itu. Kapal-kapal perang kelas ini sangat pas untuk operasi patroli laut terbatas dengan peluru kendali sebagai senjata utamanya.

Yusgiantoro tidak sendirian dalam peresmian itu, karena Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Marsetio, juga menyaksikan, bersama sejumlah lain pimpinan di lingkungan Kementerian Pertahanan, Markas Besar TNI, dan Markas Besar TNI AL.

Pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan penandatanganan Protocol of Delivery oleh direktsi PT Palindo Marine dan PT Citra Shipyard Batam kepada TNI AL sebagai satuan pengguna.

Peningkatan jumlah dan kualitas kekuatan militer di laut, baik untuk kapal perang kelas KRI ataupun Kapal TNI AL alias KAL, merupakan jawaban konsekuensi atas kondisi geografis wilayah indonesia yang sebagian besar adalah lautan. "Keberadaan KRI dibangun atas karya anak-anak bangsa Indonesia, yang dijadikan bukti sebagai tanda kebangkitan industri dalam negeri guna kemandirian bangsa," kata Yusgiantoro.

Kelima KRI buatan PT Palindo Marine Shipyard dan PT Citra Shipyard rencananya akan diikutkan dalam pelayaran lintas kehormatan, di Surabaya, pada HUT ke-69 TNI, di Markas Komando Armada Indonesia di Kawasan Timur TNI AL, Ujung, Surabaya. "Ini juga sebagai bukti galangan kapal dalam negeri juga bisa menciptakan kapal berkualitas. Kami berterimakasih pada PT Palindo Marine dan Citra Shipyard yang sudah mewujudkan kapal TNI AL itu," kata Yusgiantoro.

www.antaranews.com

KRI Tarakan (905) Resmi Perkuat Armada Kapal TNI AL

KRI Tarakan (905) yang merupakan kapal logistik perang jenis Bantuan Cair Minyak (BCM) telah diresmikan oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro di Cilincing, Jakarta Utara, pada 26 September 2014. KRI Tarakan (905) diproduksi oleh perusahaan lokal Indonesia, PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero) yang berlokasi di Jakarta Utara.

KRI Tarakan (905). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
KRI Tarakan (905).
TNI AL diperkuat dengan kapal pengangkut logistik.

TNI Angkatan Laut kembali diperkuat dengan kapal perang buatan dalam negeri untuk mengangkut logistik, KRI Tarakan (905) yang merupakan kelas Bantuan Cair Minyak (BCM) produksi PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero), Jakarta Utara. Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro didampingi Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Marsetio meresmikan KRI Tarakan (905), di Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (26/9/2014).

Menhan Purnomo Yusgiantoro saat meresmikan kapal tersebut mengatakan bahwa peresmian KRI Tarakan (905) dilakukan dalam rangka pembangunan TNI Angkatan Laut untuk menuju world class navy, Indonesia patut berbangga kapal ini dikerjakan oleh putra putri Indonesia. "Kapal ini berfungsi dalam pembekalan logistik cair di tengah laut dalam rangka mendukung gelar operasi TNI Angkatan Laut. Saya berharap kapal ini dapat dioperasionalkan secara optimal bagi bangsa dan negara," kata Menhan.

KRI Tarakan (905) merupakan kapal jenis Bantu Cair Minyak (BCM) yang memiliki panjang keseluruhan 122,40 m, panjang garis tegak 113,90 m, lebar 16,50 m, tinggi 9,00 m, kecepatan maksimal 18 knots, jarak jelajah 7.680 nm, kapasitas muatan cair 5.500 matrik, tenaga penggerak utama berjumlah dua buah daya 6.114 PS, berat baja 2.400 ton, dengan sistem propulsi twin screw dan fixed pitch propeller.

KRI Tarakan (905) ini mempunyai fungsi sebagai penyalur bahan bakar minyak di tengah laut atau dukungan logistik cair kepada Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) lainnya. Dengan adanya kapal BCM ini menjadikan unsur kapal perang yang sedang melakukan operasi tidak perlu kembali ke pangkalan untuk pemenuhan logistik dan bahan bakar dalam melanjutkan menjaga kedaulatan NKRI dan menegakkan hukum di laut nusantara.

Selain memesan kapal berjenis BCM, TNI Angkatan Laut melalui Kementerian Pertahanan saat ini juga sedang memesan dua unit Kapal Angkut Tank (AT) dari PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero).

Pembuatan kapal ini sebagai tindak lanjut program Kementerian Pertahanan yang telah tertuang dalam Kesepakatan Bersama antara Menteri Pertahanan dengan Panglima TNI, dan Kepala Kepolisian Negara RI tentang Revitalisasi Industri Pertahanan dalam menerapkan Program MEF (Minimum Essential Force). Penggunaan nama Tarakan sendiri diambil dari nama kota di provinsi Kalimantan Utara. Dahulu kala kota ini dikenal sebagai kota penghasil minyak dan telah menyumbangkan kontribusi yang tidak kecil sebagai penghasil minyak bumi berkualitas tinggi bagi Indonesia sejak tahun 1896.

PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari adalah salah satu industri strategis milik pemerintah yang telah mendapat kepercayaan untuk mengerjakan program pemerintah dimaksud, dan juga sebagai upaya dalam memberdayakan industri perkapalan dalam negeri untuk membangun kekuatan alutsista TNI AL.

www.antaranews.com