Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label SERBA-SERBI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SERBA-SERBI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Agustus 2015

Kapal Induk USS Bonhomme Richard (LHD 6) Milik AS Kunjungi Pulau Bali

Kapal Induk USS Bonhomme Richard (LHD 6) milik Amerika Serikat telah berlabuh di Selat Bali, tepatnya di lepas pantai Benoa, sejak Jumat, 31 Juli 2015 lalu. Kapal perang ini dijadwalkan untuk berada di Bali selama 5 hari hingga 4 Agustus 2015. USS Bonhomme Richard (LHD 6) sejatinya adalah kapal serbu amfibi dari kelas Waps. Tapi karena ukurannya yang besar dan dilengkapi dengan landasan pesawat terbang, orang lebih akrab menyebutnya sebagai kapal induk.

USS Bonhomme Richard (LHD 6). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
USS Bonhomme Richard (LHD 6).
Kapal Perang Amerika Serikat Sandar di Benoa, Ini Kecanggihannya.

Kapal Induk USS Bonhomme Richard (LHD 6) berlabuh di perairan selat Bali, tepatnya di lepas Pantai Benoa, Denpasar, Bali, Jumat (31/7/2015) sekitar pukul 09.30 Wita. Kapal perang Amerika Serikat Serikat itu rencananya akan berada di Bali selama lima hari yakni tanggal 31 Juli hingga 4 Agustus 2015. Selama di Bali untuk port visit, kapal induk yang diawaki sekitar 3.000 personil US Navy termasuk di dalamnya 1.800 personil Manirinir dari USMC, akan mengunjungi sejumlah tempat wisata di Pulau Dewata.

Pada hari pertama kunjungannya, mereka sudah mengunjungi pejabat di Bali dimulai dari Gubernur Made Mangku Pastika serta ke Lanal Bali. Saat bertemu Pastika, Komandan Kapal Induk USS Bonhomme Richard (LHD 6) Rear Admiral (Laksmana Muda) Hugh D Wetherald menyampaikan terima kasih pada Pemerintah Provinsi Bali yang telah memberi bantuan penuh sehingga bisa berlabuh di Pelabuhan Benoa.

Ia menambahkan bahwa Bali merupakan destinasi favorit para kru kapal. Ia juga berharap dengan kunjungan mereka ke Bali, hubungan kerjasama khususnya kerjasama dalam bidang kelautan antar-kedua negara yaitu Indonesia dan Amerika Serikat terjalin semakin erat.

Pastika menyambut baik kedatangan para awak kapal perang angkatan laut asal Negeri Paman Sam tersebut. "Saya berharap para awak kapal dapat menikmati kunjungannya selama berada di Bali yang merupakan daerah wisata," ungkapnya.

Selama kunjungannya di Bali, pihak Lanal Bali akan menjaga para awak US Navy. Lanal Bali sudah menyiagakan sekitar 200 personil. Tugas pokok personil adalah melakukan pengawasan terhadap sejumlah prajurit dari US Navy selama berada di Bali. "Tujuan dari pengerahan personil untuk menjaga keamanan selama mereka berkunjung di sini. Itu juga sudah menjadi prosedur bagi kami," terang pihak Lanal Bali.

Selain mengerahkan 200 personil prajurit TNI Angkatan Laut, Lanal Bali juga mendapat bantuan dua KRI dari Komando Armada Wilayah Timur (Kowarmatim) yakni KRI OWA-354 dan KRI Badau-841, satu combat boat catamaran, Kal Tanjung Pandangan dan rubber Boat. Semua alutsista yang dikerahkan itu untuk mengawasi pergerakan Kapal Induk USS Bonhomme Richard (LHD 6) selama berada di perairan Bali.

USS Bonhomme Richard (LHD 6) merupakan kapal Waps class jenis Kapal Serbu Amfibi yang dibangun di galangan kapal Litton Industries, Pascagoula, Mississippi. Diluncurkan pada Maret 1997. Kapal ini mempunyai spesifikasi panjang kapal 257 meter, lebar 32 meter, draf 8,2 meter dengan bobot sekitar 40.500 ton.

Selain itu, USS Bonhomme Richard juga dilengkapi dengan peralatan canggih yakni 2 X Rudal NATO Sea Sparrow Surface Missile System (NSSMS), 2 X Rudal RIM-116 Rolling Airframe Missile (RAM), 2 X Phalanx CIWS, 3 X 25 mm Mk 38 cannons, 4 X senapan mesin call 50 mm. Di samping persenjataan tersebut, USS Bonhomme Richard (LHD 6) juga berfungsi sebagai landasan terbang bagi pesawat tempur jenis AV-8B Harrier sebanyak lima unit, 42 Helikopter jenis MV-22B Osprey, enam unit Helikopter jenis AH-1W Super Cobra, lima Helikopter angkut jenis CH-53E Super Stallion, dan Helikopter untuk search and rescue jenis MH-60S Sea Hawk.

Selain perlengkapan tempur udara, kapal ini juga digunakan untuk mengangkut kendaraan tempur ampibi yakni tank ampibi jenis Amfibious Assault Vehicle (AAV) dan pendarat pasukan Landing Craft Air Cushion (LCACs).

Kapal induk ini juga digunakan untuk operasi kemanusiaan. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan rumah sakit yang dilengkapi obat-obatan dengan menampung 55 tempat tidur untuk merawat inap serta sejumlah poliklinik yang menunjang untuk aktivitas kemanusian.

tribunnews.com

Rabu, 29 Juli 2015

Subterrene, Tank Tempur Bawah Tanah Uni Soviet Yang Gagal Beraksi

Subterrene yang dalam penggunaan pada misi militer disebut juga Battle Moles adalah kendaraan yang berjalan di bawah tanah dengan cara menggali terowongan dan menembus bawah tanah. Sebelum Perang Dunia II, Uni Soviet telah merancang dan mengembangkan kendaraan Subterrene atau Battle Moles ini. Misi utama jika kendaraan tempur bawah tanah ini bisa diwujudkan adalah menyerang AS dan menempatkan bom nuklir di bawah tanah pada wilayah yang penuh dengan fasilitas strategis Amerika. Namun proyek militer yang sangat rahasia ini dibatalkan karena terjadi beberapa kegagalan.

Subterrene (Battle Moles). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Subterrene (Battle Moles).
Tikus Tempur Soviet, Proyek Rahasia Khrushchev untuk Ledakkan Amerika.

Ide untuk menciptakan mesin yang bisa menggali terowongan dan menembus bawah tanah seperti tikus tak hanya muncul di benak para penulis cerita sains-fiksi, tapi juga beberapa ilmuwan dan desainer sungguhan.

Secara rahasia, Uni Soviet mengembangkan 'tikus tempur' yang mampu menghancurkan komunikasi bawah tanah musuh, melacak gudang senjata, dan menembus bebatuan. Senjata ini bisa masuk ke lini pertahanan musuh secara diam-diam dan mendaratkan pasukan secara mendadak. Di awal abad ke-20, 'tank bawah tanah' atau Subterrenes semacam ini dianggap sebagai senjata yang sangat luar biasa.

Robot tempur bawah tanah ini pertama kali dirancang oleh Pyotr Rasskazov pada 1904. Namun sayang, pada awal Perang Dunia I rancangannya hilang di tangan pasukan Jerman. Pada awal 1930-an, Uni Soviet membangkitkan kembali ide tersebut. Gagasan untuk menciptakan 'tikus tempur' diusung oleh seorang insinyur bernama Trebelev. Ia ingin merancang mesin yang terlihat seperti tikus, ia telah membuat prototipe dan melakukan uji coba, namun sayangnya proyeknya terhenti sampai di situ.

Proyek 'tikus tempur' sangat rahasia, bahkan lebih tertutup dari proyek nuklir Soviet. Informasi mengenai senjata ini sangat terbatas, tapi yang jelas proyek ini didukung penuh oleh Khrushchev. Pabrik bawah tanah rahasia kendaraan ini dibangun di Ukraina. Pada 1964, Subterrene reaktor nuklir Soviet pertama 'Battle mole' diluncurkan. Namun, tak banyak diketahui tentang pengembangan ini. Subterrene tersebut memiliki cangkang silinder berujung lancip dari titanium. Berdasarkan info dari berbagai sumber, ukuran Subterrene atom berdiameter tiga hingga hampir empat meter dan panjangnya mencapai 25 – 35 meter. Di bawah tanah, kendaraan ini bisa melaju tujuh hingga 15 kilometer per jam.

Sakharov juga berperan dalam kemunculan mesin ini. Kala itu, teknologi sistem penghancur tanah dan propulsi telah dikembangkan. Arus kavitasi menciptakan friksi di sekeliling tubuh 'tikus' tersebut dan memungkinkannya untuk menembus batu granit dan basal.
Kru 'tikus tempur' terdiri dari lima orang. Kendaraan ini juga dapat mengangkut 15 orang penerjun payung dan sekitar satu ton kargo berupa bahan peledak atau senjata. Kendaraan tempur ini didesain untuk menghancurkan benteng, markas bawah tanah, pos komando, dan peluncur misil yang terletak di ladang ranjau. 'Battle moles' juga dapat digunakan untuk misi khusus.

Unit militer Uni Soviet berencana menggunakan kendaraan ini untuk meluncurkan serangan bawah tanah pada Amerika. Mereka hendak mengangkut 'tikus tempur' menggunakan kapal selam dan mengirimnya ke pesisir seismik California yang tidak stabil untuk menyerang AS dan memasang bom nuklir bawah tanah di wilayah yang penuh dengan fasilitas strategis Amerika. Aktivasi granat nuklir di wilayah ini akan menciptakan gempa bumi dahsyat dan tsunami, yang akan dianggap sebagai bencana alam belaka.

Menurut beberapa laporan, uji coba Subterrene nuklir Soviet dilakukan di berbagai tempat—di pinggiran Moskow, wilayah Rostov, dan Pegunungan Ural. 'Tikus tempur' ini dengan mudah memecah bebatuan dan menghancurkan target bawah tanah di Ural. Namun, saat uji coba dilakukan beberapa kali, mesin meledak dan menewaskan seluruh kru di dalamnya. Tak lama kemudian, proyek ini dihentikan.

www.tribunnews.com

Sabtu, 11 April 2015

Simulator Kendaraan Militer Buatan Indonesia Siap Bersaing Di Pasar Dunia

PT Technologi and Engineering Simulation (TES) adalah perusahaan pembuat simulator kendaraan dan pesawat militer yang berkedudukan di Desa Mekarwangi, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Produk simulator kendaraan militer perusahaan ini telah digunakan oleh beberapa negara asing. Pada Kamis, 9 April 2015 lalu, PT TES menerima kunjungan 25 Atase Pertahanan negara asing dalam rangka promosi dan usaha memasarkan produk simulator kendaraan tempur perusahaan pertahanan tersebut.

Simulator Kendaraan Militer Buatan PT Technologi and Engineering Simulation (TES). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Simulator Kendaraan Militer Buatan PT Technologi and Engineering Simulation (TES).
Atase Pertahanan asing kagumi simulator alutsista Indonesia.

Sebanyak 25 Atase Pertahanan dari luar negeri mengunjungi ke kawasan industri pertahanan, PT Technologi and Engineering Simulation (TES), bahkan mereka pun merasa kagum dengan simulator yang dibuat oleh orang Indonesia itu. Kunjungan Atase Pertahanan dari 25 negara ke PT TES, pembuat simulator pesawat tempur, helikopter dan kendaraan tempur difasilitasi oleh Kementerian Pertahanan yang sedang berusaha membesarkan industri alat pertahanan dalam negeri, salah satunya PT TES yang berlokasi di Desa Mekarwangi, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (9/4/2015). "Kita berpatokan pada aturan pemerintah mengutamakan produksi dalam negeri. Peluang kita lebih bagus lagi. Dari Malaysia sudah beli simulator ini. Keunggulan dari skill perorangan bagus. Kurang promosi dan pemasaran. Makanya step by step buka hubungan kunjungan," Kasubdit Athan Direktorat Kerja Sama Internasional Kemhan, Kolonel (Kav) Iskandar.

Salah satu atase pertahanan yang cukup tertarik dengan simulator TES adalah atase pertahanan Meksiko Brigadir Jenderal Alexandro Iturria. Ia berharap kerja sama antara Indonesia dengan Meksiko bisa terjalin dalam hal simulator ini. "Tentu saja sangat tertarik, terutama flight simulatornya. Saya akan melaporkan ke negara saya, tapi untuk keputusan (membeli) saya tidak tahu. Saya hanya memberikan laporan. Yang jelas kita bisa menjalin kerja sama," tutur Iturria.

Hal senada diungkapkan oleh atase pertahanan Singapura Col Lawrance The Yew Kiat yang optimis bisa bekerja sama dengan PT TES, baik G to G (goverment to goverment), ataupun B to B (business to business). "Respon dari perwakilan-perwakilan atase pertahanan yang hadir, tak hanya negara Asia, tapi perwakilan negara Eropa sangat positif. Kita berharap hubungan antara bisnis ke bisnis antara Indonesia dan negara yang hadir bisa baik. Singapura juga optimis bisa meningkatkan kerja sama yang lebih dalam bidang pertahanan dengan Indonesia," paparnya.

Meski menyambut positif, tidak semua negara bisa dengan mudah melakukan kerja sama dengan Indonesia, seperti negara Jerman yang menurut atasenya tidak dengan mudah bisa saling bekerja sama dalam hal teknologi militer. "Saya tidak bisa ungkapkan, tapi mungkin kita bisa saling sharing. Kami punya expert di negara kami, mungkin bisa sharing pengalaman dengan Indonesia," kata atase pertahanan Jerman Colonel Joachim Sproll.

Sebelum mengunjungi tempat workshop pembuatan simulator, para atase mendapat pemaparan dari Direktur Utama PT TES M. Mulia Tirtusudiro. Saat berkeliling, atase-atase melihat perancangan simulator Fight FMS (Full Mission Simulator), simulator helikopter, dan juga simulator tank. "Perusahaan kami merupakan perusahaan simulator terbesar di Indonesia. Pekerjaan kami based on project. Saya sebelumnya 20 tahun lebih di PT Dirgantara Indonesia (dulu IPTN). Pak Habibie mengajarkan kami mengenai teknologi dan kami berpikir teknologi harus tumbuh di Indonesia," jelas Mulia kepada para atase.

Dari berbagai simulator yang disaksikan perancangannya, atase-atase ini paling tertarik melihat simulator Xtra 330 untuk pesawat aerobatic. Salah satu staf staf TES, Handy, menunjukkan demo simulator dengan visual Bandara Halim Perdanakusuma. "Kemhan sangat dukung kita ambil contoh event ini. Sering bawa kami ke luar negeri untuk buka stand di pameran, terakhir di Brunei."Kita juga sering ikut pameran Indo Defense. Setelah itu ikut rentetan company dengan Perancis, Inggris, Amerika. Business to business. Di mata mereka orang Indonesia sudah bisa," ujar Business Development Manager PT TES, M Iqbal pada kesempatan yang sama.

Tentara Jerman dan Swedia telah mencoba simulator dan menyatakan kekagumannya. "Dari situ kita menjajakan kerja sama. Swedia, Perancis dan Amerika. Kerja sama on project based, kalau ada project kita support. Pertama soal visual data based. Taiwan negosiasi untuk simulator helikopter dan tank multi-ranpur," ucapnya.

www.antaranews.com

Kamis, 19 Maret 2015

PT Pindad Ikut Tender Pengadaan Persenjataan Untuk Kepolisian Filipina

PT Pindad kini tengah mengikuti proses tender pengadaan persenjataan untuk satuan kepolisian Filipina. Keikutan dalam tender tersebut untuk meningkatkan ekspor produk BUMN ini ke mancanegara. Pemenang hasil tender akan diketahui pada pertengahan tahun 2015.

Senjata Produksi PT Pindad. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Senjata Produksi PT Pindad.
Indonesia Bakal Pasok Senjata Polisi Filipina.

Pemerintah Indonesia nampaknya harus mulai bangga dengan adanya beberapa produk industri pertahanan yang banyak diminati oleh negara lain. Tak hanya panser Anoa yang laris manis oleh beberapa negara di Asia, Afrika dan Timur Tengah, kini giliran senjata produksi Indonesia yang menembus pasar internasional. Melalui PT Pindad (Persero), Indonesia saat ini tengah melakukan tender senjata untuk satuan kepolisian di negeri tetangga, yaitu Filipina. "Kami lagi ikut tender senjata untuk kepolisian Filipina, prosesnya panjang, tidak mudah untuk mendapatkan ekspor, tapi kami lakukan," kata Direktur Utama PT Pindad (Persero) Silmy Karim di kantor Pusat PT Pindad di Bandung, Rabu (18/3/2015).

Proses tender ini masih berlangsung dan akan ada hasil pemenang tendernya pada pertengahan tahun ini. Sayangnya dirinya masih enggan mengungkapkan berapa nilai tender yang sedang diperjuangkannya. Dengan lolosnya tender tersebut, maka akan menambah modal perseroan terutama pendapatan dalam bentuk dolar Amerika Serikat (AS).

Silmy menegaskan, konsentrasi perusahaan saat ini adalah mendukung program kemandirian industri pertahanan. Dengan demikian dirinya memastikan bahwa pasar ekspor adalah satu hal lebih yang dapat dilakukan dalam rangka memaksimalkan kapasitas Pindad sebagai perodusen senjata. Tahun sebelumnya, porsi produksi Pindad yang diekspor hanya sekitar 5 persen dari total produksi. Dengan adanya bantuan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 700 miliar untuk meningkatkan kapasitas, dirinya mentargetkan eskpor untuk dapat bertambah minimal 10 persen dari total produksi.

Hanya saja dia menyayangkan masih belum terfasilitasinya distribusi senjata secara maksimal ke beberapa negara. Hal itu lebih disebabkan minimnya jasa pengiriman senjata dari Indonesia. "Itu kami kendala di situ, jasa pengiriman yang ke Indonesia itu hanya satu, karena pengiriman senjata ini tidak mudah, kami perlu dapat persetujuan negara yang dilewati juga," papar Silmy.

bisnis.liputan6.com

Kamis, 12 Maret 2015

Sistem Radar Terbang Erieye Akan Ditawarkan Kepada Indonesia

Erieye AEW&C (Airborne Early Warning and Control System) adalah sistem radar peringatan dini dengan platform pesawat terbang untuk mendukung ketinggian dan memperluas area cakupan pemantauan. Sistem radar Erieye ini dirancang dengan basis teknologi AESA (Active Electronically Sensor Array) dan diproduksi oleh SAAB, perusahaan produk pertahanan yang berbasis di Swedia. Produk teknologi pertahanan ini rencananya akan ditawarkan kepada Indonesia untuk digunakan mengawasi kawasan udara Indonesia dari tindakan penyusupan tanpa izin dari pihak asing.
Radar Erieye adalah yang pertama dari jenisnya untuk menggunakan tanah-melanggar teknologi AESA. Benar-benar multi-peran Erieye radar mendeteksi dan secara otomatis melacak target udara dan permukaan di daerah besar, memperluas lebih dari 900 km. Sistem radar ini dirancang untuk melacak benda terkecil, seperti rudal jelajah dan pesawat jet-ski, bahkan di antara kekacauan berat dan dalam lingkungan kemacetan. Terbang pada ketinggian tinggi, Erieye mencakup wilayah yang lebih luas daripada tanah berbasis sistem sensor dapat konvensional. Wilayah pengawasan yang efektif lebih dari 500.000 km persegi horizontal dan vertikal 20 km. Mendeteksi target udara pada jarak hingga 450 km. The Erieye AEW & C sistem misi radar aktif, sensor bertahap-array, pulsa-doppler yang dapat memberi makan arsitektur Operator onboard atau downlink data (melalui subsistem datalink terkait) ke jaringan pertahanan udara berbasis darat. Sistem ini menggunakan aperture besar, dual-sisi antena array ditempatkan di sebuah punggung 'papan' fairing. Antena tetap, dan balok secara elektronik dipindai, yang menyediakan untuk meningkatkan deteksi dan pelacakan kinerja secara signifikan ditingkatkan dibandingkan dengan sistem antena radar-kubah. Erieye mendeteksi dan melacak target udara dan laut ke cakrawala, dan kadang-kadang di luar ini karena propagasi anomali - diinstrumentasi kisaran telah diukur pada 450 kilometer (280 mil). Khas jangkauan deteksi terhadap target tempur berukuran sekitar 425 kilometer (264 mil), dalam 150 ° sektor selebaran, kedua sisi pesawat. Di luar sektor ini, kinerja berkurang dalam arah maju dan belakang. Fitur sistem lainnya termasuk: generasi bentuk gelombang adaptif (termasuk digital, kompresi pulsa fase-kode); Pemrosesan sinyal dan pelacakan sasaran; track sementara scan (TWS); Nilai side lobe yang rendah (di seluruh cakupan sudut sistem); rendah dan menengah-pulsa mode operasi frekuensi pengulangan; kelincahan frekuensi; Udara-ke-udara dan mode pengawasan laut; dan target radar cross-section display. Radar beroperasi sebagai menengah hingga tinggi-PRF pulsa-Doppler, radar solid-state, di E / F-band (3 GHz), menggabungkan 192 dua arah mengirim / menerima modul yang bergabung untuk menghasilkan sinar pensil, mengarahkan sebagai diperlukan dalam operasi 150 ° sektor masing-masing sisi pesawat (satu sisi pada satu waktu). Hal ini dimengerti bahwa Erieye memiliki beberapa kemampuan untuk mendeteksi pesawat dalam 30 ° sektor depan dan belakang dari pos pesawat, tetapi tidak memiliki kemampuan track di sektor ini.

Erieye AEW&C Dengan Platform Pesawat Turboprop SAAB-2000. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Erieye AEW&C Dengan Platform Pesawat Turboprop SAAB-2000.
SAAB Swedia akan tawarkan Erieye AEW&C kepada Indonesia.

SAAB AB, perusahaan industri sistem pertahanan dan keamanan Swedia, telah memulai serangkaian pembicaraan tentang penawaran sistem pengamatan udara Erieye AEW&C kepada pemerintah Indonesia untuk mengawal wilayah udara, darat, dan maritim Tanah Air. "Kami akan senang jika sistem kami itu bisa diterima Indonesia dan kami telah melakukan pembicaraan soal ini dengan pemerintah Indonesia,” kata Wakil Presiden dan Kepala Sistem Pengamatan Udara dan Bisnis Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB Lars Tossman di Gotheborg, Swedia, Senin (9/3/2015), waktu setempat.

Penawarannya itu, kata Tossman, terkait juga dengan penawaran sistem pesawat tempur JAS-39 Gripen yang turut dalam proyeksi pengganti pesawat tempur F-5E/F Tiger II pada Skuadron Udara 14 TNI AU. Menurut dia, sistem yang dikembangkan SAAB AB pada piranti Erieye AEW&C sangat pas dengan keperluan Indonesia yang memiliki wilayah udara sangat luas. Dari ketinggian operasionalnya, sistem pengamatan dan intelijen Erieye AEW&C ini bisa menjangkau wilayah pada radius lebih dari 900 kilometer yang berarti sudah di balik kelengkungan Bumi, setara dengan "volume" ruang diawasi 500.000 kilometer persegi horisontal dan 20 kilometer vertikal.

Berbasis sistem Active Electronically Sensor Array, sistem ini bekerja pada frekuensi S-band, dengan sensitivitas ultratinggi, dan pencitraan objek diamati secara seketika. Data-link yang diterapkan berbasis NATO data-link L16 dan L11.

Jika ditempatkan di wilayah udara Indonesia, maka cuma diperlukan dua Erieye AEW&C di udara Jakarta dan Makassar agar bisa melingkupi 80 persen wilayah udara Tanah Air.

Secara teknis, jika ada pesawat terbang penyusup berkecepatan suara (sekitar 900 kilometer perjam), sistem ini bisa segera mengetahui kehadirannya sehingga pesawat tempur Indonesia memiliki cukup waktu untuk menangkalnya.

Sejauh ini, TNI AU hanya memiliki satu skuadron udara pengamatan (surveillance) itu, yaitu Skuadron Udara 5 yang terdiri dari tiga pesawat Boeing 737-200 Maritime Patrol. Pesawat ini dilengkapi sensor SLAMMR ( Side Looking Airborne Modular Multimission Radar), peralatan navigasi INS (Inertial Navigational System) dan Omega Navigation System. Semuanya berbasis teknologi dasawarsa 1980-an.

Lossman menyatakan, sistem Erieye AEW&C memiliki beberapa keunggulan, antara lain bisa disesuaikan dengan keperluan domestik pemakainya. "Bahkan, pijakan alias platform pesawat terbang pembawanya bisa disesuaikan. Yang sudah disertifikasi sejauh ini adalah SAAB 2000 dan Embraer 145," kata dia.

Tipe pesawat terbang "penggendong" yang pertama, SAAB 2000 adalah turboprop. "Kami sangat memperhatikan aspek operasionalisasi dan biaya ikutannya. Itu sebabnya, pengoperasian pesawat terbang turboprop bisa menekan biaya operasional tanpa mengenyampingkan fungsi dan efektivitasnya," kata dia.

Direktur Pemasaran Sistem Udara SAAB AB Magnus Hagman menyatakan, dari Asia Tenggara, baru Thailand yang menandatangani pemesanan jadi Erieye AEW&C. Angkatan Udara Kerajaan Thailand juga menjadi operator perdana JAS-39 Gripen di ASEAN. Pensiunan instruktur penerbang tempur pada Angkatan Udara Kerajaan Swedia itu juga berkata, "Salah satu prinsip penting dalam operasi udara militer tempur adalah menempatkan ataus menerbangkan pesawat tempur pada tempat dan waktu yang tepat. Antara sistem Gripen dan Erieye AEW&C saling melengkapi."

www.antaranews.com

Sistem Radar Terbang Erieye Bisa Dipasang di Pesawat Buatan PT DI.

Perusahaan sistem pertahanan Swedia, Saab Group, menjelaskan, secara prinsip sistem peringatan dini dan kendali terbang (airborne early warning and control/AEW&C) Erieye buatannya bisa dipasang di pesawat-pesawat jarak menengah buatan PT Dirgantara Indonesia, seperti CN-235 dan CN-295.

Selama ini, sistem radar canggih AESA (active electronically scanned array) tersebut dipasang di atas platform tiga pesawat sipil, Saab 340 dan Saab 2000 yang bermesin turboprop serta Embraer E145 yang bermesin jet (turbofan). Erieye berbasis Saab 340, misalnya, dipakai Angkatan Udara (AU) Swedia, Thailand, dan Pakistan. Sementara Erieye berbasis Embraer E145 dipakai AU Brasil dan Meksiko.

Lars Ekstrom, mantan perwira AU Swedia yang kini menjadi pejabat di bagian Pengembangan Bisnis Sistem Pengawasan Udara Saab, Senin (9/3), mengatakan, secara prinsip radar Erieye yang berbentuk seperti papan yang dipasang di atas badan pesawat tersebut bisa dipasang di platform CN-235 atau CN-295. "Kami bersedia memasangnya di platform-platform baru, termasuk pesawat CN-235 atau CN-295," ujar Ekstrom di Gothenburg, Swedia.

Akan tetapi, Wakil Presiden dan Kepala Bagian Sistem Pengawasan Udara Saab Lars Tossman mengingatkan, proses pemasangan radar sistem Erieye di platform pesawat baru bukanlah proses yang bisa mudah dan cepat dilakukan. Bentuk radar yang besar dan dipasang di atas badan pesawat akan memengaruhi aerodinamika pesawat dan perlu dilakukan modifikasi desain sayap vertikal pesawat. "Dan, itu membutuhkan tambahan dana hingga ratusan juta dollar AS, belum ditambah proses sertifikasi kelaikan udaranya yang bisa memakan waktu dan biaya lagi," papar Ekstrom.

Sistem AEW&C Erieye saat ini menjadi sistem peringatan dini udara yang paling laris di luar produk buatan AS. Sistem ini serupa dengan sistem AEW&C semacam E-2 Hawkeye yang digunakan, antara lain, oleh AS, Jepang, dan Singapura; atau Boeing E7A Wedgetail yang dipakai Australia.

print.kompas.com

Giraffe AMB, Sistem Radar Pertahanan Multi-Misi Buatan Swedia

Giraffe AMB Multi Mission Surveillance System adalah sistem radar 3 dimensi yang befungsi untuk mengamati keberadaan dan pergerakan obyek yang berada di darat, laut, maupun udara. Piranti radar pertahanan ini diproduksi oleh pabrikan produk pertahanan asal Swedia, SAAB. Salah satu keunggulan yang diandalkan pada sistem radar Giraffe AMB ini adalah kemampuannya dalam menyajikan data berbasis data-link.
Sistem pengawasan radar 3D jarak menengah Giraffe AMB adalah pengisi celah yang ideal yang menyediakan komandan wilayah udara dengan kemampuan yang dibutuhkan untuk menjaga udara kesadaran situasional yang terus-menerus dan akurat. Ini merupakan aset deployable atau? Xed mobile untuk pengawasan udara yang dapat dioperasikan dari jarak jauh atau lokal dengan kemampuan untuk memberikan gambaran jaringan udara. Giraffe AMB memungkinkan untuk integrasi data link standar atau disesuaikan. Dengan menggabungkan sistem radar multi-misi yang benar dan kuat sistem C3 Giraffe AMB memberikan gambaran udara yang akurat dengan tingkat tinggi update dan fungsi sangat otomatis untuk perencanaan, evaluasi ancaman, tugas senjata dan distribusi sasaran. Semuanya komandan yang bertanggung jawab untuk GBAD kebutuhan untuk melindungi orang dan aset. Giraffe AMB dapat mendeteksi rudal cepat dan UAV kecil bahkan dalam lingkungan yang tinggi-kekacauan dan penawaran? Integrasi fleksibel sistem senjata dan link data taktis. Sistem ini sepenuhnya mandiri dengan semua sistem dukungan dan C3, sangat mobile dan menyebarkan dalam waktu kurang dari 10 menit. Menengah terpadu dan jarak pendek sistem GBAD didukung dalam beberapa keterlibatan simultan. Giraffe AMB dapat mengklasifikasikan dan melacak sayap tetap, helikopter, permukaan, jammer dan target balistik.

Giraffe AMB Multi Mission Surveillance System. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Giraffe AMB Multi Mission Surveillance System.
Melihat dari dekat sistem radar pertahanan Giraffe SAAB AB.

Divisi Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB memiliki empat komponen bisnis utama, salah satunya adalah sistem radar permukaan, yang secara produk mereka namakan Giraffe, Sea Giraffe, dan Arthur. Ketiganya, oleh Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB yang bermarkas di Gotheborg, Swedia, didedikasikan untuk mendukung pertahanan darat dan laut melalui sistem pertahanan udara dan pengamatan permukaan serta penentuan secara presisi posisi sistem pertahanan lawan.

Jurnalis antaranews.com bersama lima jurnalis lain Indonesia, mendapat kesempatan hadir di kantor pusat divisi ini di Gotheborg, Swedia, dan melihat langsung proses pembuatan, riset dan pengembangan, pengujian, dan hal lain terkait sistem Giraffe ini.

Selain sistem Giraffe, para petinggi setempat SAAB AB membuka pintu "dapur" mereka kepada jurnalis-jurnalis Indonesia untuk hal yang mendapat prioritas pengembangan sangat tinggi, yaitu sistem Erieye AEW&C, satu sistem komando dan pengamatan udara berbasis pesawat udara yang digadang-gadang lebih maju ketimbang sistem AWACS.

Salah satu kebolehan yang diperagakan adalah kemampuan Erieye AEW&C mengetahui dan mengenali objek tidak bergerak di udara dalam ukuran sangat kecil, sekira jet ski. "Helikopter bisa mengambang di udara dan kami bisa mengidentifikasi hal itu melalui Erieye AEW&C ini," kata Kepala Pengembangan Bisnis Pemasaran SAAB AB, Lars Ekstrom, di Kantor Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB, di Gotheborg, Swedia, Senin (9/3/2015), waktu setempat.

Itu salah satu unggulan sistem yang terus dikembangkan SAAB AB dengan empat pilarnya, yaitu meningkatan kualitas, riset dan pengembangan, efisiensi biaya (operasional), dan kehadiran mitra setempat dalam berbagai skema, di antaranya transfer teknologi.

Perkembangan pertempuran saat ini sudah sangat kompleks, di antaranya adalah kekuatan asimetrik yang sulit untuk dicegah. Bukan jamannya lagi peperangan terbuka antara dua atau lebih negara dikumandangkan secara terbuka. Adagium bersiap untuk perang jika ingin damai bisa dikedepankan jika melihat skala dan densitas pertempuran yang kini terjadi, di antaranya dalam konteks komunitas melawan negara atau penguasa sah. Untuk kepentingan pertahanan titik di darat, SAAB AB memiliki jawaban jitu, yaitu sistem radar Giraffe AMB, yang dikatakan sebagai radar multifungsi.

Dalam keterangannya, Wakil Presiden Kepala Pemasaran Solusi Radar Permukaan dan Bisnis Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB, Mats Palsson, menyatakan, "Giraffe mampu beroperasi penuh dalam segala cuaca dan keadaan. Sejak dia tiba di titik pertahanan yang ditetapkan, dia bisa ditegakkan dan beroperasi secara baik hanya dalam 10 menit saja."

Yang dia katakan bukan isapan jempol atau ucapan seorang pemasar belaka. Dalam peragaan di bengkel pengujian dan perawatan —juga di halaman depan Kantor SAAB AB di Gotheborg itu— truk Volvo FM atau MAN yang "menghela" sistem radar pertahanan titik Giraffe AMB Multi Mission Surveillance System itu bisa memberikan pandangan dan pengamatan serta kalkulasi pertahanan yang diperlukan komandan misi dalam waktu tepat 10 menit saja. "Giraffe AMB ini dirancang untuk bisa digelar dan diangkut dalam ukuran yang sangat kompak. Kompartemen kendali dan operasi serta ukuran tiang dan kubah kotak radarnya telah ditentukan setara persis dengan ukuran kontainer delapan kaki… demikian juga dengan lubang-lubang tautannya di lantai truk penghelanya," kata Palsson.

Saat diperagakan, cuaca di Gotheborg dan sekitarnya cerah, matahari agak hangat terasa di kulit —sesuatu yang cukup mengagetkan untuk orang Swedia pada musim dingin seperti sekarang— sehingga menyempurnakan hasil penginderaan radar Giraffe AMB ini. Bukan cuma obyek pengamatan di darat yang bisa dia amati, melainkan pergerakan kapal kecil di Danau Vanen dan laut sekitarnya.

Juga pesawat terbang militer dan sipil yang lalu-lalang di ruang udara di atas itu. "Kita lihat ini, titik ini adalah titik yang bergerak cukup cepat. Kalau kita klik titik ini, maka akan ketahuan dia siapa, menuju ke mana, pada ketinggian berapa, dan lain sebagainya," kata Erik Paulsson, operator sekaligus penguji Giraffe AMB yang bertugas dalam kabin operator seukuran kurang dari tiga meter persegi itu.

Benar, titik sejarak 60 mil laut itu adalah pesawat terbang milik Scandinavian Air Service yang terbang melintas dari Laut Utara menuju Laut Baltik, lengkap dengan nomor penerbangan dan nomor registrasi pesawat terbangnya. Digadang-gadang, inilah juga satu "kekuatan" Giraffe AMB dalam menyajikan data berbasis data-link. "Data ini juga bisa dibagi secara persis dan tepat waktu dengan sistem pertahanan udara atau darat dan lain-lain. Program aplikasi komputer tentang ini juga telah dibuat dan terus dikembangkan," kata Paulsson. "Operator produk dan sistem ini mengatakan, sangat mudah dan efisien untuk dioperasikan," kata dia lagi.

Dari ketinggian di halaman depan Kantor SAAB AB di Gotheborg itu, dua bendera Merah Putih ukuran resmi kenegaraan dikibarkan, berselang-seling dengan bendera Kerajaan Swedia. Menurut semua petinggi SAAB AB yang mendampingi rombongan jurnalis Indonesia saat itu, itulah bentuk penghormatan mereka kepada delegasi Indonesia itu. "Anda semua adalah tamu resmi SAAB AB dan kami menerapkan standar penerimaan setara dengan rombongan resmi kenegaraan," kata Wakil Presiden dan Kepala Sistem Pengamatan Udara dan Bisnis Sistem Pertahanan Elektronika SAAB AB, Lars Tossman.

Mengalihkan sedikit pandangan ke tempat di mana unit Giraffe AMB itu diperagakan, terdapat unit serupa di sampingnya yang terbalur warna kamuflase gurun. Konon satu negara di Timur Tengah akan menerima unit itu segera, bergabung dengan puluhan lain unit serupa yang telah dikirim ke kawasan hangat itu.

Spesifikasi Giraffe AMB Multi Mission Surveillance System :
  • Tipe Radar : Stacked beam 3D radar
  • Tipe Antena : 3D phased array, digital beam forming
  • Frekuensi : C (G/H)-band
  • Elevasi Cakupan Pengamatan : > 70°
  • Kecepatan Rotasi : 60 RPM
  • Radius Pemantauan : 120 km
www.antaranews.com, www.saabgroup.com

Kamis, 05 Maret 2015

TNI AL Akan Pamerkan Sejumlah Kapal Perang Pada IMDEX Asia 2015 Di Singapura

Sejumlah kapal perang dari berbagai jenis milik TNI AL akan turut dipamerkan pada event IMDEX Asia 2015 yang digelar di Singapura pada 19 Mei 2015 hingga 21 Mei 2015. IMDEX merupakan ajang pameran pertahanan kemaritiman yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1997.

KRI Bung Tomo (357). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Bung Tomo (357).
TNI AL Boyong Kapal Perang dalam Pameran Maritim Internasional.

Pameran pertahanan maritim internasional Asia Pasifik (IMDEX) kembali digelar pada 19-21 Mei 2015. Hajatan skala dunia ini rencananya berlansung di Changi Exhibition Center, Singapura. Menjelang acara tersebut, TNI AL dipastikan ikut serta dalam pameran tersebut. TNI akan memboyong sejumlah kapal perang untuk dipamerkan dalam ajang tersebut. "Sampai saat ini Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia Laksamana TNI Ade Supandi telah memberikan konfirmasi untuk hadir dalam IMDEX Asia 2015. TNI AL Indonesia juga akan mengirimkan kapal perang jenis fregat dan kapal patroli untuk berpartisipasi dalam pameran kapal perang di IMDEX Asia," kata Managing Director Experia Events pihak penyelenggara IMDEX, Leck Chet Lam dalam konfrensi pers di Hotel Le Meredien, Jakarta, Rabu (4/3/2015).

Leck menambakan, keikutsertaan Indonesia di IMDEX patut diapresiasi. Hal ini karena TNI AL terbukti sudah mengambil langkah tepat demi memperkuat kekuatannya. "Dengan pertumbuhan pasar pertahanan maritim yang kokoh di kawasan Asia Pasifik, IMDEX Asia saat ini merupakan ajang prestisius bagi para pengunjung dan delegasi demi mengetahui lebih lanjut mengenai inovasi teknologi terkini, membangun jaringan dan membina kemitraan. Kami senang delegasi mau pun pengunjung Indonesia melihat pentingnya berpartisipasi dalam IMDEX Asia," jelas dia.

Senada dengan Leck, Profesor Emeritus Bidang Studi Maritim King College London, Geoffrey Till menekankan Indonesia sudah sepatutnya turut serta dalam IMDEX. Sebab Indonesia sesuai visi Presiden Joko Widodo disiapkan menjadi poros maritim dunia. "Indonesia dan negara lain telah melakukan jauh lebih banyak upaya di laut baik secara komersil atau militer. Mereka memahami perlunya investiasi untuk fasilitas pelabuhan, kesadaran akan daerah kekuasaan militer, basis industri militer, rekapitalisasi industri pengiriman pedagang ikan dan pembentukan penjaga pantai. Negara yang lebih berinvestasi untuk Angkatan Laut karena mereka merasa perlu untuk mempertahankan otonomi strategis mereka di dunia masa depan yang tidak begitu pasti," sebut Till.

IMDEX pertama kali diselenggarakan pada 1997. Indonesia juga berpartisipasi dalam IMDEX dalam beberapa pegerlaran sebelumnya. Pada acara IMDEX terakhir pada 2013, TNI AL mengirimkan KSAL Laksamana Laut TNI Marsetio serta Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut Laksamana Madya TNI Bambang Suwarto untuk ikut serta dalam acara besar itu.

news.liputan6.com

Selasa, 17 Februari 2015

Bagaimana Latihan Awal Calon Prajurit Kopassus?

Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus) adalah salah satu pasukan elite yang dimiliki TNI. Di mata dunia militer, Kopassus dinobatkan sebagai salah satu pasukan elite terbaik dunia. Karena hal ini maka tak heran bahwa untuk bisa menjadi anggota prajurit Kopassus sangat tidak mudah. Hanya para prajurit pilihan yang bisa menjadi anggota pasukan elite kebanggaan Indonesia ini.

Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus).
Mengintip latihan komando Kopassus & kamp tawanan seperti neraka.

Komando Pasukan Khusus TNI AD atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kopassus telah dianggap sebagai salah satu pasukan khusus terbaik di dunia. Tidak bisa sembarangan untuk mendapatkan baret merah dan brevet komando kebanggaan korps tersebut. Para prajurit harus melewati pelatihan khusus yang nyaris melewati kemampuan batas manusia. Tahapan pertama yang harus dilalui adalah Tahap Basis, yaitu pemusatan pelatihan di Pusat Pendidikan Pelatihan Khusus, Batujajar, Bandung. Di sini para calon prajurit komando dilatih keterampilan dasar seperti menembak, teknik dan taktik tempur, operasi raid, perebutan cepat, serangan unit komando, navigasi darat dan berbagai keterampilan lain.

Selesai latihan basis, dilanjutkan dengan Tahap Hutan Gunung yang diadakan di Citatah, Bandung. Di sini para calon prajurit komando berlatih untuk menjadi pendaki serbu, penjejakan, anti penjejakan, survival di tengah hutan. Dalam Pelatihan Survival para calon Prajurit komando harus bisa hidup di hutan dengan makanan alami yang tersedia di hutan. Dengan latihan ini Para Prajurit Komando harus bisa membedakan tumbuhan yang beracun dan dapat dimakan, dan juga mampu berburu binatang liar untuk mempertahankan hidup. Tahap latihan hutan gunung diakhiri dengan long march dari Situ lembang ke Cilacap dengan membawa amunisi, tambang peluncur, senjata dan perlengkapan perorangan.

Mantan Kepala Staf TNI AD Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo membeberkan pengalamannya saat mengikuti latihan Komando Kopassus. Pramono menuliskannya dalam buku Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan yang diterbitkan QailQita Publishing tahun 2014.

Mengintip Neraka di Cilacap

Latihan terberat sudah menanti saat sampai di Cilacap. ini adalah latihan tahap ketiga yang disebut latihan Tahap Rawa Laut, calon prajurit komando berinfliltrasi melalui rawa laut. Di sini materi Latihan meliputi navigasi Laut, Survival laut, Pelolosan, Renang ponco dan pendaratan menggunakan perahu karet. Para calon prajurit komando harus mampu berenang melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan. "Latihan di Nusakambangan merupakan latihan tahap akhir, oleh karena itu ada yang menyebutnya sebagai hell week atau minggu neraka. Yang paling berat, materi latihan 'pelolosan' dan 'kamp tawanan'," kata Pramono.

Dalam latihan itu para calon prajurit komando dilepas pagi hari tanpa bekal, dan paling lambat pukul 10 malam sudah harus sampai di suatu titik tertentu. selama "pelolosan" si calon harus menghindari segala macam rintangan alam maupun tembakan dari musuh yang mengejar.

Dalam pelolosan itu, kalau siswa sampai tertangkap maka itu berarti neraka baginya karena dia akan diinterogasi layaknya dalam perang. Para pelatih yang berperan sebagai musuh akan menyiksa prajurit malang itu untuk mendapatkan informasi. Dalam kondisi seperti itu, si prajurit harus mampu mengatasi penderitaan, tidak boleh membocorkan informasi yang dimilikinya. Untuk siswa yang tidak tertangkap bukan berarti mereka lolos dari neraka. Pada akhirnya, mereka pun harus kembali ke kamp untuk menjalani siksaan.

Selama tiga hari siswa menjalani latihan di kamp tawanan. dalam kamp tawanan ini semua siswa akan menjalani siksaan fisik yang nyaris mendekati daya tahan manusia. "Dalam Konvensi Jenewa, tawanan perang dilarang disiksa, namun para calon prajurit Komando itu dilatih untuk menghadapi hal terburuk di medan operasi. Sehingga bila suatu saat seorang prajurit komando di perlakukan tidak manusiawi oleh musuh yang melanggar konvensi Jenewa, mereka sudah siap menghadapinya," tulis Pramono Edhie.

Beratnya persyaratan untuk menjadi prajurit kopassus dapat dilihat dari standar calon untuk bisa mengikuti pelatihan. nilai standar fisik untuk prajurit nonkomando adalah 61, namun harus mengikuti tes prajurit komando, nilainya minimal harus 70. Begitu juga kemampuan menembak dan berenang nonstop sejauh 2000 meter. "Hanya mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando. Peserta yang gagal akan dikembalikan ke kesatuan Awal untuk kembali bertugas sebagai Prajurit biasa," tutup mantan Danjen Kopassus ini.

www.merdeka.com

Rabu, 04 Februari 2015

Indonesia Disarankan Gandeng Jepang Untuk Kembangkan Industri Pertahanan

Kerjasama pengembangan industri pertahanan Indonesia kini sudah saat mengikutkan Jepang sebagai mitra penting, terutama untuk alih teknologi alutsista. Hal ini disampaikan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra. Hal ini berkaitan dengan perubahan regulasi tentang ekspor senjata oleh negara Jepang.

Prototipe Jet Tempur Siluman ATD-X Buatan Jepang. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Prototipe Jet Tempur Siluman ATD-X Buatan Jepang.
Indonesia Saatnya Kerjasama Alutsista dengan Jepang.

Pemerintah Jepang dikabarkan tengah melonggarkan aturan terkait bidang militer. Momen ini bisa dimanfaatkan Pemerintah Indonesia untuk melakukan kerjasama dengan negeri sakura tersebut. Hal tersebut disampaikan Duta Besar RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra di kantor Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta, Selasa (3/2/2015). "Jepang di bawah PM Abe berusaha mengubah amandemen pasal 9 UUD mereka untuk membatasi Jepang memiliki kekuatan militer dan segala sesuatu terkait militer," ujar Yusron.

Pada April tahun lalu, Jepang menderegulasi bidang ekspor senjata. Dahulu, konstitusi Jepang melarang Indonesia yang memakai alutsista mereka. Mereka tidak ingin mesin dari perusahaan Jepang digunakan untuk keperluan militer. Kebijakan itu tak berlaku karena adanya perubahan yang dibuat Jepang pada April 2014. Sehingga Indonesia tak hanya bisa mengimpor alutsista Jepang, tapi juga transfer teknologi. "Saya mendorong PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, kalau mau mengganti mesin panser Anoa atau Komodo inilah saatnya," ungkap adik Yusril Ihzan Mahendra tersebut.

Perubahan tersebut, menurutnya karena Amerika yang menjadi sekutu Jepang ingin mengubah halauan. Sebelumnya, negara adidaya tidak menginginkan Jepang untuk turun di bidang militer. Namun berubahnya zaman menuntut Amerika berkata lain. "Sekarang ini Amerika ingin Jepang agar berkontribusi dalam keamanan dunia," kata Yusron.

Tidak hanya untuk kekuatan militer atau perang, dalam hal lain, Jepang pun membuka pintu. Seperti produk-produk teknologi terkait kegiatan Search and Rescue (SAR). Menurutnya ini kesempatan bagus yang sayang jika tidak diseriusi pemerintah Indonesia.

Kolaborasi bidang industri pertahanan sangat memungkinkan adanya join research atau penelitian bersama. Jika Indonesia mau, maka selain pertahanan diplomasi dan posisi Indonesia di dunia akan menguat pula. "Kalau kerjasama industri pertahanan itu buy one get one free. Senjata kita akan kuat, diplomasi kita akan kuat," ujarnya.

Yang jelas, penguatan pertahanan ini bermuara dalam keamanan bersama. Tak ada negara yang ingin berperang. Hanya saja, urusan perdamaian bukan soal bicara baik-baik. Ada kekuatan yang harus ditunjukkan untuk mencegah terjadinya perang. "Saya bicara tentang damai, perdamaian itu suatu yang harus dikawal, dijaga dan diletakkan di ujung bedil. Itu yang dilakukan amerika selama ini. Pertahanan kuat, duitpun kita dapat," imbuhnya.

www.tribunnews.com

TNI Menjadi Juara Umum Kejuaraan Menembak Tingkat Dunia Di Brunei

Kontingen TNI berhasil menjadi juara umum pada kejuaraan menembak Brunei International Skill Arms Meet (BISAM) yang diselenggarakan mulai 15 Januari 2015 hingga 2 Februari 2015. Dalam kejuaraan menembak khusus bagi para anggota pasukan militer ini TNI berhasil meraih 6 emas, 6 perak, dan 4 perunggu untuk kategori individu serta 14 emas, 3 perak dan 1 perunggu untuk kategori tim atau kelompok.

Menembak. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Menembak.
TNI Juara Umum Lomba Tembak BISAM di Brunei Darussalam.

Panglima TNI Jenderal TNI Dr Moeldoko didampingi Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna, Wakasad Letjen TNI Munir, Pangkostrad Letjen TNI Mulyono menerima Kontingen TNI Lomba Tembak BISAM (Brunei International Skill Arms Meet) ke-11 tahun 2015 Brunei Darussalam, di Ruang Hening Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (3/2/2015).

Lomba tembak BISAM ke-11 ini diselenggarakan dari tanggal 15 Januari s.d 2 Februari 2015 di Brunei Darussalam, dan diikuti oleh 16 negara peserta terdiri dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, China, Oman, Singapura, Australia, United Kingdom, Vietnam, New Zaeland, United States Of America, Philipina, Laos, Thailand, Kamboja dan Pakistan.

Kontingen TNI yang dipimpin oleh Komandan Kontingen Kolonel Arm Budi Suwanto, S. Sos berjumlah 35 orang, meliputi 13 official, 10 atlet petembak senapan, 6 atlet petembak SO/GPMG dan 6 atlet petembak pistol. Dalam lomba tembak BISAM ke-11 tahun ini, kontingen TNI menjadi juara umum dengan memperoleh 34 medali, terdiri dari : individu meraih 6 emas, 6 perak, dan 4 perunggu, sedangkan tim/ kelompok meraih 14 emas, 3 perak dan 1 perunggu.

Mewakili seluruh prajurit TNI, Panglima TNI mengucapkan terima kasih dan rasa hormat serta penghargaan atas prestasi sebagai juara umum. "Posisi juara umum ini semakin menambah profil dan performance TNI di kawasan Asia, apa yang telah kalian lakukan memberikan kontribusi yang sangat positif atas eksistensi TNI di dunia Internasional", ujar Jenderal TNI Moeldoko.

Lebih lanjut Panglima TNI menyampaikan bahwa, kecenderungan seseorang setelah mendapatkan sesuatu itu tidak waspada, lengah dan mengangggap orang lain kecil. Sikap-sikap seperti itu supaya ditinggalkan, dan sebagai prajurit kewaspadaan adalah nomor satu. "Kemampuan menembak ini supaya tetap terpelihara dengan baik dan lakukan regenerasi dari waktu ke waktu dengan baik, agar kita tidak kehilangan atlet-atlet yang handal di masa depan," tegas Panglima TNI.

www.tni.mil.id

Rabu, 07 Januari 2015

Hellweek, Neraka Bagi Calon Anggota Kopaska

Hellweek adalah adalah istilah untuk menyebutkan proses awal dari latihan keras yang menguras tenaga dan emosi bagi para calon anggota Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL. Hellweek diakui sebagai proses latihan yang dahsyat. Dalam artikel ini disajikan rangkaian proses latihan tersebut. Seperti namanya, benar-benar seperti dalam neraka.

Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Kopaska (Komando Pasukan Katak) TNI AL.
Mengintip latihan hellweek Kopaska TNI AL yang bikin merinding.

Kopaska merupakan satuan pasukan elite di tubuh Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Laut (TNI AL). Sudah sejak era Trikora tahun 1963 Kopaska kerap diterjunkan dalam misi setengah mustahil. Tapi itulah pasukan khusus. Personelnya dipilih dari orang-orang terbaik. Selain berotot kawat dan bertulang besi, mereka juga wajib datang dari Korps Pelaut. Syarat wajib lain harus sudah pernah bertugas di kapal TNI AL selama dua tahun atau lebih.

Mengapa harus pelaut?

Pertama, anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska) harus mengetahui konsep perang laut secara menyeluruh. Ketika hendak melakukan misi sabotase atau pembebasan sandera, mereka sudah harus tahu bagian-bagian kapal. Bila bukan pelaut, mereka akan kesulitan mengenal bagian-bagian dalam kapal. Kedua, jika sudah berpengalaman dalam KRI, insting mereka akan langsung bermain di mana kamar mesin, ruang amunisi, tanki bahan bakar dan sebagainya. Hal ini jelas akan berpengaruh dalam kesuksesan misi.

Latihan pertama yang harus dijalani oleh calon personel Paska adalah hellweek. Latihan yang benar-benar menguras emosi, tenaga dan keringat sampai ke tetes terakhir. "Sesuai namanya, seperti neraka! Cukup sekali seumur hidup," kata seorang mantan anggota Paska di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Dalam buku Kopaska, Spesialis Pertempuran Laut Khusus yang diterbitkan dalam rangka 50 tahun Kopaska, dikupas soal hellweek ini. Setiap calon Paska tak pernah diberi tahu kapan rangkaian hellweek akan dimulai. Bisa saja tiba-tiba saat mereka belajar di kelas, atau saat tidur terlelap.

Hari pertama minggu neraka ini dibuka dengan ritual melahap nasi komando bersama-sama. Nasi komando adalah hasil blenderan nasi, lauk pauk, telur mentah, minyak ikan dan terasi. Makanan ditaruh dalam satu tempat dan dimakan secara bergiliran. Jika salah satu muntah di tempat itu, maka yang berikutnya tetap harus memakan nasi komando itu sampai tandas. Sebagai pelepas dahaga, minuman yang diberikan adalah jamu brotowali. Jamu ini memang menyehatkan, tapi mungkin merupakan minuman paling pahit di dunia.

Setiap hari porsi tekanan terus ditambah hingga benar-benar memaksa seseorang untuk bertahan di titik maksimal.

Uniknya selama pendidikan, nama mereka diganti dengan nama hewan laut. Maka nama-nama tongkol, udang, paus, kakap wajib digunakan. Nah, kadang hingga pendidikan selesai, nama ini masih melekat di antara sesama mereka.

Jika tak kuat pendidikan, silakan berhenti. Tak ada paksaan sama sekali untuk mengikuti latihan Paska ini. Siswa yang gugur atau mengundurkan diri diminta meletakkan topi bajanya di pinggir lapangan. Dari situ kelihatan berapa orang yang telah mengundurkan diri dalam satu angkatan.

Bagaimana dengan yang lulus hellweek? Apakah sudah berakhir semua deraan dan siksaan?

Belum bro! Masih panjang sekali perjalanan sang calon pasukan katak ini. Begitu lulus mereka wajib mengikuti sekolah penembak. Calon Paska dikenalkan berbagai macam senjata, mulai dari pistol, senapan serbu, hingga senapan sniper. Mereka juga diajari berbagai macam teknik tembak reaksi, antiteror dan akurasi. Selanjutnya siswa menempuh latihan komando gunung hutan dan longmarch di Karang Tekok. Disambung lintas medan ke Ijen, Situbondo, Bromo hingga Surabaya.

Lolos komando, giliran latihan terjun harus dijalani. Mulai terjun statis, HALO, HAHO wajib diikuti para siswa Paska. Setelah itu mereka digembleng aneka praktik demolisi dan pertempuran bawah laut khusus. Latihan dilanjutkan dengan praktik intelijen di Banyuwangi dan Malang.

Total rangkaian seluruh pendidikan ini makan waktu 10 hingga 12 bulan. Setelah lulus barulah mereka berhak mengenakan brevet Pasukan Katak dan baret merah.

Tan Hana Wighna Tan Sirna, tak ada rintangan yang tak bisa diatasi!

www.merdeka.com

Senin, 17 November 2014

Armada Jet Tempur Buru Sergap TNI AU Harus Ditambah Lagi Jumlahnya

Jumlah jet tempur buru sergap yang dimiliki Indonesia masih jauh dari memadai untuk mengawal kedaulatan udara Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kelemahan Indonesia dalam hal pertahanan udara tersebut diakui oleh Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsekal Muda Hadiyan Sumintaatmadja. Meskipun beberapa waktu lalu pesawat-pesawat tempur TNI AU berhasil mencegat dan memaksa mendarat beberapa pesawat terbang asing yang tanpa izin memasuki wilayah udara Indonesia. Semua pesawat asing yang disergap itu adalah pesawat terbang sipil berkecepatan rendah. Apa yang terjadi jika pesawat jet tempur asing berkecepatan supersonik yang menyusup ke wilayah udara Indonesia?

Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Udara Luas, Pesawat Sedikit.

Kalau lebih ditelaah, ada hal menarik dalam insiden pendaratan paksa di Lanud Supadio, Selasa (28/10). Saat itu, pesawat Sukhoi bisa segera dikerahkan karena kebetulan sedang latihan di Batam. Dalam kondisi normal, tidak ada pesawat buru sergap di Batam, baik Sukhoi maupun F-16, sehingga bisa jadi pesawat asing tanpa izin pun bisa berdansa di udara tanpa ada tindakan. "Memang waktu itu kebetulan," kata Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Marsekal Muda Hadiyan Sumintaatmadja, pekan lalu.

Ia mengakui, Kohanudnas yang tugasnya khusus menangani ancaman kedaulatan udara mengalami kendala dalam jumlah pesawat buru sergap yang bisa dipakai untuk mencegat. Hal ini juga bisa dilihat dalam kasus jet Gulfstream IV yang sempat menambah kecepatan menjadi 920 kilometer per jam sehingga Sukhoi dari Makassar harus mengejar dengan kecepatan suara 1.700 km per jam, itu pun baru berhasil mencegatnya nyaris di perbatasan dengan Australia.

Saat ini, pesawat buru sergap yang mumpuni adalah F-16 A/B dan C/D yang berjumlah 15 buah serta 16 Sukhoi Su-27 dan Su-30. Sukhoi bermarkas di Makassar, Sulawesi Selatan, sementara F-16 di Madiun, Jawa Timur. Selain itu juga ada F-5 E/F di Madiun yang beroperasi, jumlahnya kini 9 buah. Pesawat-pesawat tempur milik TNI AU yang lain adalah pesawat tempur taktis yang punya spesifikasi kecepatan terbang di bawah kecepatan suara sehingga tidak bisa untuk mencegat. Ini berarti, kalau ada pesawat asing tanpa izin di Natuna, Sorong, atau di atas Sumatera, bisa dikatakan, hanya bisa menonton lewat layar Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional tanpa bisa berbuat apa-apa. "Ke Sorong itu butuh sekitar 2 jam, ke Medan juga sekitar 2 jam dengan Sukhoi atau F-16. Yang bisa kita lakukan hanyalah sebatas memantau, lalu lapor kepada Panglima TNI, buat nota diplomatik," katanya.

Jakarta telanjang

Salah satu masalah klasik lain adalah tidak adanya markas pesawat tempur buru sergap di Jakarta. Dengan kata lain, kalau ada ancaman pesawat asing yang datang, Jakarta dalam keadaan "telanjang" alias hanya mengandalkan meriam atau rudal yang entah berfungsi atau tidak, atau menunggu F-16 yang butuh puluhan menit untuk tiba di Jakarta. Saat ini, secara bergantian pesawat-pesawat tempur buru sergap itu menginap di Jakarta. Hadiyan juga mengakui, beberapa instalasi vital tidak dilindungi dari serangan udara.

Kepala Staf TNI AU Marsekal IB Putu Dunia mengakui, jumlah pesawat yang bisa mencegat pesawat asing masih jauh dari cukup. Pesawat Hawk 100/200, misalnya, yang bermarkas di Lanud Supadio, Pontianak, penggunaannya bukan untuk pengejaran, apalagi kalau pesawat yang dikejar bermesin jet. Pesawat F-5 juga sudah habis masa pakainya dan sedang dicari penggantinya. "Ya, bagaimana, uangnya tak cukup," katanya di sela-sela Indo Defence, beberapa waktu lalu.

Selain pesawat sedikit, Kohanudnas pada praktiknya juga tidak memiliki pesawat sendiri untuk digerakkan sewaktu-waktu. Pesawat berada di bawah TNI AU, sementara Kohanudnas berada di bawah Mabes TNI. Secara rutin, hanya sepertiga dari jumlah pesawat TNI AU yang bisa dipakai. Sepertiga lainnya dalam pemeliharaan dan sepertiga sisanya dipakai latihan demi kemampuan pilot-pilot.

Hadiyan mengatakan, di negara-negara lain, penggunaan pesawat tempur dibagi dua bagian yang terpisah. Komando Strategis untuk serangan-serangan strategis sehingga yang dilatih adalah sasaran-sasaran strategis di darat, seperti pengeboman. Sementara itu, Komando Pertahanan Udara bertugas siaga 24 jam untuk menangani sasaran-sasaran yang berhubungan dengan wahana udara. "Organisasi ini penting kalau kita mau diakui. Tapi, yang lebih penting lagi jumlah pesawatnya," kata Hadiyan.

Efek gentar

Pengamat intelijen Susaningtyas Kertopati mengatakan, sebaiknya ada pangkalan udara TNI AU yang dilengkapi dengan pesawat tempur sergap, seperti di Lanud Medan, Natuna, Tarakan, Biak, Timika, Kupang, dan Jakarta. Tujuannya agar Indonesia memiliki efek gentar dalam pertahanan udara. Hal senada disampaikan Hadiyan. Ia membeberkan bahwa ada beberapa wilayah penting yang harus dijaga, seperti Selat Malaka, Aceh, dan Batam yang bisa menggunakan pesawat dari Medan. Selain itu juga perlu pesawat di Natuna yang strategis, mengingat kondisi di Laut Tiongkok Selatan, dan pesawat di Tarakan atau Manado yang bisa menangani masalah di Ambalat.

Alternatif lain, minimal, setiap Komando Sektor Hanudnas memiliki tiga pesawat tempur buru sergap. Saat ini ada empat Kosek, yaitu Kosek 1 di Sumatera Selatan, Natuna, Jakarta, Jawa Tengah, dan Kalimantan Tengah. Kosek 2 di Makassar, Kaltim, NTT, NTB, dan Sulawesi; Kosek 3 di Dumai ke arah barat; sedangkan Kosek 4 di Biak. Setiap Panglima Kosek bisa mengeluarkan komando cegat terhadap pesawat tempur kalau ada pesawat asing masuk.

Hadiyan mengatakan, dari segi kualitas, pesawat Sukhoi dan F-16 sudah cukup menggetarkan lawan. Namun, selain pesawat, yang juga penting adalah senjatanya. Dicontohkan, Sukhoi yang mencegat jet Gulfstream awalnya sempat tak dihiraukan sampai akhirnya mengeluarkan R-73 Archer, rudal dari udara ke udara. "Memang prosedurnya force down itu dengan keluarkan senjata," cerita Putu Dunia.

Putu Dunia mengatakan, menembak pesawat asing bukan hal yang sederhana kalau merujuk pada kebijakan politik Indonesia. Apalagi terhadap pesawat sipil dan terutama saat dalam keadaan damai. Ada prosedur panjang, seperti perintah Panglima TNI yang sebelumnya merupakan perintah Presiden RI. Dengan kondisi pesawat tempur seperti ini, realitanya, tidak semua pesawat asing tanpa izin bisa dipaksa mendarat. Kemampuan radar juga jadi catatan. Saat ini kerja sama radar sipil dan militer sudah semakin baik. Sayangnya, hanya pesawat-pesawat yang menghidupkan transpondernya yang bisa dideteksi radar primary. Itu pun sudah menghasilkan 10-15 pesawat asing tanpa izin yang masuk. "Ada yang sempat kita force down dan ada yang tidak," kata Hadiyan.

nasional.kompas.com

Sabtu, 08 November 2014

Bentuk Fisik Jet Tempur KFX/IFX Mirip F-22 Raptor

Bentuk fisik jet tempur KFX/IFX sudah bisa dipastikan dengan dipajangnya sebuah replika pesawat tempur tersebut di stand KAI pada Indo Defence 2014. Jet tempur KFX/IFX adalah program kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan untuk mengembangkan dan memproduksi sebuah pesawat tempur generasi 4,5 yang juga telah mengaplikasikan teknologi stealth (siluman).

Replika Jet Tempur KFX/IFX. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Replika Jet Tempur KFX/IFX.
Spesifikasi pesawat tempur KFX/IFX Indonesia bisa berbeda.

Spesisikasi calon pesawat tempur generasi 4,5 hasil kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan, KFX/IFX, bisa jadi akan berbeda antara yang dimiliki Indonesia dan Korea Selatan, walau rancang bangun fisiknya telah final. "Serangkaian pembicaraan tetap dilakukan walau rancang bangun fisiknya telah ditetapkan. Modelnya bisa dilihat seperti pada Indo Defence 2014 ini," kata Deputi Manajer Program KFX/IFX Korea Aerospace Industry, Hwang Sungho, di sela pameran industri pertahanan Indo Defence 2014, di Jakarta, Rabu (5/11/2014).

Dia juga tidak mengungkap jenis-jenis teknologi yang dikatakan akan menjadi teknologi "masa depan" yang akan dibagi kepada Indonesia. Tentang ini, ahli teknologi penerbangan, Dr Mulyo Widodo, akhir 2013 lalu, menyatakan, "Meski sebagian lagi (teknologi) masih dicari, kami percaya Korea bisa meraihnya. Mereka punya peta jalan yang jelas dalam proyek pengembangan jet tempur. Mereka sudah memulainya dengan KT-1, lalu T-50, TA-50 dan setelah itu: FA-50. Lebih dari itu mereka juga punya belasan veteran NASA dan USAF yang jadi tempat bertanya. Mereka kini dosen di sejumlah perguruan tinggi," katanya.

Program KFX/IFX yang digagas Presiden Korea Selatan (saat itu), Kim Dae-jung, pada 2001, masih dalam tahap pengembangan walau kesepakatan komposisi pembiayaan antara Indonesia dan Korea Selatan sudah ditentukan, yaitu 20 berbanding 80. Secara total, berdasarkan perundingan kedua pemerintahan, akan dibuat 120 unit KFX/IFX ini. Hwang juga tidak bersedia menjawab, apakah komposisi "kontribusi" pembiayaan 20:80 itu akan menentukan spesifikasi teknis KFX/IFX yang akan dimiliki Indonesia dan Korea Selatan.

Sempat berkembang "teka-teki" tentang rupa pasti fisik KFX/IFX ini, namun rancangan pasti fisiknya belakangan sudah dipastikan dan model skalanya dipajang di gerai KAI pada Indo Defence 2014 ini. Secara kasat mata, bentuk fisiknya sangat mirip dengan F-22 Raptor; bermesin dua dengan sayap tegak ganda dan rancangan kokpit serta bagian depan fuselage serupa, pun pada kompartemen bomb bay-nya yang tersembunyi. Dengan begitu, arsenal yang bisa dia bawa disembunyikan sedemikian rupa di dalam ruang bom itu. Ini juga yang menolong tangkap radar cross section-nya menjadi sangat minimal. Teknologi serupa lazim dijumpai pada F-22 Raptor dan F-35 Lighting II.

Perbedaan spesifikasi itu, katanya, bisa pada beberapa hal tergantung pada keperluan masing-masing pemilik unit pesawat tempur generasi tercanggih yang digadang-gadang berteknologi stealth dan melengkapi capaian kemampuan Dassault Rafale (Prancis), Eurofighter Typhoon (konsorsium Eropa Barat), walau masih di bawah Lockheed Martin F-35 Lighting II.

Dia katakan, penentuan macam dan sumber piranti avionika, sebagai misal, masih belum diputuskan. Banyak ambisi yang ingin ditanamkan pada tubuh KFX/IFX ini, di antaranya penguasaan teknologi stealth, yang pada beberapa tipe pesawat tempur secara terbatas bisa dientaskan dengan aplikasi cat tertentu yang bisa menyerap paparan gelombang radar.

Hwang sangat yakin bahwa Indonesia tetap pada pendiriannya yaitu mewujudkan KFX/IFX ini hingga operasional penuh. Saat ditanya mengapa perwujudannya sejak ide digulirkan memakan waktu lama, dia berujar, "Eurofighter Typhoon juga memerlukan waktu cukup lama untuk bisa beroperasi penuh."

www.antaranews.com

Senin, 03 November 2014

Pabrikan Jet Tempur Eurofighter Typhoon Gelar Diskusi Perkembangan Penerbangan Militer Di Jakarta

Pabrikan jet tempur Eurofighter Typhoon menggelar diskusi perkembangan industri kedirgantaraan dan penerbangan militer di area Car Free Day, Jl. M. H. Thamrin, Jakarta Pusat pada hari Minggu, 2 Nopember 2014. Seorang test pilot Eurofighter Typhoon membeberkan keunggulan jet tempur yang diproduksi perusahaannya dalam acara diskusi tersebut. Eurofighter Typhoon termasuk sebagai salah satu kandidat jet tempur yang dipertimbangkan oleh Kementrian Pertahanan dan TNI AU untuk menggantikan armada jet tempur F-5 yang akan dipensiunkan.

Jet Tempur Eurofighter Typhoon. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Jet Tempur Eurofighter Typhoon.
Mengenal Pesawat Tempur Eurofighter yang Dibidik Indonesia.

Pabrikan pesawat tempur Eurofighter menggelar sosialisasi perkembangan industri kedirgantaraan dan penerbangan militer. Acara ini digelar di area Car Free Day, Jl. M. H. Thamrin, Jakarta Pusat pada Minggu (2/11/2014). Hadir dalam acara ini perwakilan dari Eurofighter Direktur Export, Joe Parker dan Capability Development Manager, Paul Smith.

Selain diikuti pengunjung Car Free Day, acara ini juga diikuti komunitas peminat aviasi dan militer Indonesia. Dalam diskusi tersebut, Joe mengatakan, kehadiran Eurofighter dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi Indonesia. Selain itu, pihaknya sudah memiliki kerjasama dengan industri penerbangan Indonesia, PT Dirgantara sejak lama. "Indonesia sudah bekerjasama dengan Airbus Group, tidak hanya sebatas komersial tapi juga militer. Ini juga memberikan potensi lapangan pekerjaan industrial dan teknik yang bernilai tinggi dan berkelanjutan. Saya harap Eurofighter bisa menjaga angkasa Indonesia," tutur Joe.

Sementara itu, Paul yang pernah menjadi test pilot Eurofighter Typhoon menjelaskan, bahwa pesawat swing role ini paling tangguh dan andal dibanding pesawat tempur negara lain. Sejumlah perangkat canggih ditempatkan di pesawat tempur pada 4 negara yakni Inggris, Jerman, Spanyol dan Itali ini. "Eurofighter Typhoon sangat unggul baik dari segi kecepatan, power, lincah dan dia bisa terbang lebih tinggi dari pesawat-pesawat lain. Pilot sendiri bisa fokus di peperangan udara dan darat tanpa memerhatikan sekeliling dia. Ia bisa mengantisipasi ancaman dari arah lain," cakap Joe yang mengenakan seragam pilot ini.

Kementrian Pertahanan dan TNI Angkatan Udara hingga kini masih mengkaji calon pengganti pesawat tempur F-5 yang akan di pensiunkan. Sejumlah pilihan sudah dilirik seperti Sukhoi Su-35 dari Rusia, Dassault Rafale dari Perancis, JAS Grippen dari Swedia serta pesawat tempur asal Amerika. Sementara Eurofighter Typhoon diusulkan PT Dirgantara Indonesia karena pihak produsen sangat mungkin berbagi dalam hal transfer teknologi dan juga lisensi suku cadang. Penggantian pesawat F-5 sendiri sudah disusun pada RPJMN 2015-2019 yang direncanakan sebanyak 12 unit.

Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, pembelian Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) harus berperan meningkatkan peran industri dalam negeri. Pada tahun 2012, pemenuhan alutsista dalam negeri mencapai 15,8%. Ditargetkan pada tahun 2019, Industri Pertahanan dalam negeri mampu memenuhi 50% kebutuhan alutsista TNI.

news.liputan6.com