Untuk pengadaan kapal perang dan kapal selam baru, pemerintah Australia bersiap menganggarkan dana sebesar Rp. 886 triliun lebih. Anggaran sebesar itu ditujukan terutama untuk pengadaan kapal fregat masa depan SEA5000, Kapal Patroli Lepas Pantai SEA1180, dan kapal selam mata-mata.
Armada Kapal Selam Collins-Class, Angkatan Laut Australia. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara | Rp 886 Triliun Untuk Pengadaan Kapal Perang Baru AL Australia.
Australia akan menganggarkan A$89 miliar atau lebih dari Rp886 triliun untuk pembelian kapal perang dan kapal selam sebagai bagian dari program modernisasi angkatan laut dalam 20 tahun ke depan. Diberitakan Reuters, Selasa (4/8/2015), untuk kapal perang Australia menganggarkan A$20 miliar dalam proyek Fregat Masa Depan SEA5000 dan Kapal Patroli Lepas Pantai SEA1180. Pembuatan kapal ini akan dilakukan di dalam negeri. Sementara untuk kapal selam, ada tarik ulur antara perusahaan asing dan dalam negeri untuk pembuatannya. Anggaran yang digelontorkan Australia untuk kapal selam mata-mata sekitar A$50 miliar.
Beberapa perusahaan asing telah ikut serta dalam tender tersebut, di antaranya adalah ThyssenKrupp (TKMS) dari Jerman, DCNS dari Perancis, Mitsubishi Heavy Industries dan Kawasaki Heavy Industries dari Jepang. TKMS menawarkan keuntungan politik dan ekonomi untuk pembelian kapal selam yang mereka kembangkan. Sementara pemerintah Jepang tengah berunding dengan Babcock International Group dan BAE Systems di Inggris untuk memenuhi keinginan Australia agar produksi juga melibatkan perusahaan dalam negeri.
Sementara itu kritikan datang dari negara bagian di selatan Australia dan serikat dagang yang khawatir mereka tidak dapat jatah produksi senjata karena diborong perusahaan asing. Australia Selatan, pusat produksi sektor kelautan dan otomotif, merupakan daerah dengan tingkat pengangguran terbesar di negara itu. Serikat Pekerja Manufaktur Australia, AMWU, akan menagih janji Perdana Menteri Tony Abbott sebelum pemilu pada September 2013 yang mengatakan kapal selam akan diproduksi di dalam negeri. "Janji adalah janji, kami akan menagih janji kapal selam sampai pemilu berikutnya," kata asisten sekretaris nasional AMWU, Glenn Thompson.
Abbott dalam pengumumannya di Adelaide juga mengatakan akan meningkatkan hubungan keamanan dengan Jepang. Pernyataan ini, mencerminkan keinginan Amerika Serikat agar dua sekutu besar mereka--Jepang dan Australia--mengambil porsi keamanan lebih besar di Asia untuk menandingi militer China yang terus berkembang.
18 unit kapal patroli cepat tipe X12 High Speed Patrol Boat monohold buatan PT Lundin Industry Invest telah dipesan oleh Angkatan Laut negara Bangladesh. Berkaitan dengan pemesanan 18 unit kapal patroli cepat tersebut, Commodore Yahya Syed yang menjabat sebagai Deputy Director General Bangladeshh Coast Guard mengadakan kunjungan ke pabrik pembuatan kapal PT Lundin Industry Invest yang berlokasi di Banyuwangi, Jawa Timur.
Kapal Patroli Cepat. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara | AL Bangladesh Beli 18 Kapal Patroli Cepat Buatan Indonesia.
Setelah TNI AL memesan kapal perang canggih berupa kapal cepat rudal Trimaran, kali ini giliran Angkatan Laut Bangladesh memesan 18 coast guard sebagai pelengkap alat keamanan negara tersebut kepada salah satu industri kapal di Banyuwangi, yaitu PT Lundin Industry Invest. Hal tersebut diungkapkan Commodore Yahya Syed, Deputy Director General Bangladeshh Coast Guard, saat berkunjung di Banyuwangi, Selasa (28/10/2014). Ia menjelaskan, industri kapal di Banyuwangi dipilih karena dianggap memiliki teknologi canggih yang tidak banyak dimiliki oleh industri serupa di negara lain. "Di sini, kapal diproduksi menggunakan fiber yang kuat dan tahan korosi. Yang memproduksi kapal menggunakan fiber selama ini hanya di Eropa," ujar Syed.
Ia menjelaskan, kerja sama tersebut juga dijadikan transfer teknologi antara Bangladesh dan Indonesia di bidang perkapalan, yaitu dengan melibatkan enam staf perusahaan kapal Bangladesh pada proses pembuatan kapal tersebut. "Kami juga telah melihat profil perusahaan, dan yakin kalau perusahaan ini akan menjadi yang terbaik di dunia," imbuh Syed.
Sementara itu, Lizza Lundin, Direktur PT Lundin Industry Invest, mengatakan, pemesanan 18 kapal patroli dari Bangladesh tersebut bernilai Rp 75 miliar. Proses pengerjaan kapal dilakukan dengan sistem paralel hingga semua pesanan akan rampung dalam kurun satu tahun, sesuai yang ditargetkan. "Ini merupakan produk baru kami yang awalnya kami ikutkan dalam pameran maritim di Jakarta. Ternyata, sambutannya sangat baik, dan Bangladesh menjadi negara asing pertama yang memesan kapal jenis ini," ujar Lizza.
Sementara itu, 18 kapal yang dipesan oleh Angkatan Laut Bangladesh merupakan tipe X12 High Speed Patrol Boat monohold (lambung tunggal), dengan spesifikasi panjang keseluruhan 11,70 meter, panjang haluan 9,60 meter, panjang balok 3,54 meter, lambung yang terendam dalam air 0,84 meter, kecepatan maksimum 35 knot, kapasitas bahan bakar 2 x 675 liter, dan memiliki dua mesin utama. "Sebelum dikirim ke Bangladesh, nantinya kapal-kapal ini akan melalui test tank di Indonesia, Australia, dan Selandia Baru," kata Lizza.
Ia menjelaskan, pihaknya selama ini telah banyak memenuhi pesanan kapal dari berbagai negara, seperti Amerika, Rusia, Australia, Malaysia, Brunei, Thailand, Swedia, Hongkong, dan kawasan Timur Tengah.
HMAS Canberra (LHD 02) adalah kapal pertama dari 2 unit kapal perang jenis LHD (Landing Helicopter Docks) Kelas Canberra yang dipesan pemerintah Australia. Kapal ini dibangun di galangan kapal Williamstown yang berlokasi di Melbourne. Sedangkan kapal LHD lainnya, HMAS Adelaide (LHD 01), dibangun di galangan kapal Ferrol yang berlokasi di Spanyol.
HMAS Canberra (LHD 02). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara | Australia Terima Kapal LHD Canberra-Class Pertama.
Pemerintah Australia telah menerima kapal pertama dari total pesanan sebanyak dua unit kapal jenis LHD (Landing Helicopter Docks) Kelas Canberra. Pernyataan ini disampaikan oleh perusahaan pertahanan BAE Systems pada tanggal 8 Oktober 2014 lalu. BAE Systems adalah kontraktor utama dalam proyek pengadaan 2 unit kapal LHD Kelas Canberra yang dipesan Australia.
Untuk saat ini kapal yang diberi nama HMAS Canberra (LHD 02) tersebut tetap berada di galangan kapal Williamstown yang dikelola BAE Systems di Melbourne sebelum secara resmi dioperasikan Angkatan Laut Australia di Sydney. Menurut jadwal, Angkatan Laut Australia akan resmi menerima kapal ini pada 28 November 2014.
Rancangan kapal LHD Canberra-Class mengambil desain dari kapal induk Juan Carlos I milik Angkatan Laut Spanyol. HMAS Canberra (LHD 02) telah menyelesaikan uji laut pada akhir Agustus 2014.
Sementara kapal berikutnya, HMAS Adelaide (LHD 01), telah dikirim dari galangan kapal Ferrol milik perusahaan Navantia di Spanyol pada Februari 2014 lalu. HMAS Adelaide (LHD 01) dijadwalkan melaksanakan uji laut pada kuartal kedua 2015 dan diharapkan sudah bisa diserahkan kepada Angkatan Laut Australia pada tahun 2016.
Kapal LHD Canberra-Class memiliki bobot 27.500 ton dengan dimensi panjang 230,82 meter, lebar 32 meter, dan draft 7,08 meter. Kecepatan maksimumnya mencapai 20 knot dengan jangkauan operasional hingga 17.000 km. Memiliki kapasitas angkut 18 unit helikopter, 4 unit kapal pendarat, dan 1.046 pasukan bersenjata lengkap.
Liana adalah sistem pengintai buatan Rusia yang terdiri dari 4 satelit pada ketinggian 1.000 km di atas permukaan bumi. Sistem satelit pengintai ini dioperasikan Angkatan Laut Rusia untuk memantau adanya pergerakan obyek musuh baik yang berada di darat, laut, maupun udara. Selain melengkapi sistem deteksi pada kapal-kapal perang, sistem Liana juga akan digunakan pada sistem pertahanan pinggir pantai yang menggunakan persenjataan rudal.
Armada Kapal Perang Rusia. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara | Liana, Teknologi Satelit Pengintai Terbaru Angkatan Laut Rusia.
Kapal-kapal Angkatan Laut Rusia tak lama lagi akan diperkuat oleh sebuah kompleks pengintai modern yang terintegrasi dalam mendapatkan informasi intelijen, yakni sistem penyiaran luar angkasa multifungsi Liana. Hal tersebut disampaikan oleh seorang narasumber dari dunia industri militer pada RIA Novosti. Selain memperkuat kapal perang Angkatan Laut, Liana rencananya juga dirancang untuk melayani sistem pertahanan pinggir pantai yang memiliki persenjataan roket.
Berdasarkan informasi dari narasumber, Liana adalah sistem yang terdiri dari empat satelit radar pengintai dan berada di ketinggian sekitar seribu kilometer di atas permukaan bumi. Keempat satelit ini akan terus memantau kehadiran dan pergerakan obyek musuh di darat, udara, dan laut.
Sang narasumber menjelaskan pada RIA Novosti bahwa belum lama ini di Armada Utara Rusia telah berhasil melakukan uji coba penggunaan kompleks pengintai untuk obyek perairan yang pertama pada salah satu kapal perang milik armada tersebut. Informasi pergerakan dan lokasi obyek perairan tersebut didapat dari sistem penyiar Liana. Menurut sang narasumber, dalam waktu dekat kompleks pengintai ini akan digunakan dalam kekuatan Angkatan Laut Rusia.
Ia pun menerangkan, selain dikembangkan khusus untuk kapal-kapal perang milik Angkatan Laut Rusia yang memiliki persenjataan rudal jarak jauh, kompleks ini juga akan digunakan untuk memperkuat sistem pertahanan pinggir pantai yang menggunakan persenjataan rudal.
Sistem penyiar luar angkasa multifungsi Liana yang dirancang untuk menemukan obyek bergerak di perairan secara real-time telah digunakan oleh Angkatan Laut Rusia sejak 2009 lalu. "Kompleks kapal penerima informasi dari sistem penyiar Liana yang diciptakan sebelumnya membutuhkan modernisasi untuk menjamin keberhasilan proses integrasi, dan itu telah dilakukan," kata sang narasumber.
Adapun dukungan teknis aktif pada uji coba kompleks pengintai di perairan yang pertama telah diberikan oleh para tenaga ahli dari biro konstruksi Rubin dan pusat penelitian Zavod Leninets, bagian dari perusahaan pemerintah Rostech. Narasumber tersebut menyebutkan bahwa kompleks pengintai tersebut akan menggantikan sistem lama buatan Uni Soviet, Legenda, yakni sistem satelit pengintai dan pelacak di luar angkasa dan perairan.
INS Vishal adalah kapal induk bertenaga nuklir yang direncanakan pemerintah India akan dibangun di dalam negeri. INS Vishal merupakan kapal induk kedua dalam program pembangunan kapal induk India. Sementara saat ini Angkatan Laut India sudah mengoperasikan 2 unit kapal induk, yaitu INS Vikramaditya dan INS Viraat.
INS Vishal (Gambar reka komputer). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara | India Rencanakan Bangun Kapal Induk Bertenaga Nuklir.
Pada Selasa 23 September 2014 lalu, berita Press Trust of India melaporkan bahwa India sedang mempertimbangkan akan menggunakan sistem penggerak propulsi bertenaga nuklir untuk kapal induk kedua yang dibangun di dalam negeri tersebut. Desain dari kapal induk ini sedang dikerjakan dan tenaga nuklir masih menjadi pilihan pertama, kata Direktur Jenderal Naval Design Bureau, Laksamana Atul Saxena.
Kapal induk pertama buatan India adalah INS Vikrant dengan bobot 40.000 ton dan saat ini sedang dibangun di galangan kapal Cochin Shipyard di India Selatan. INS Vikrant akan menggunakan tenaga penggerak dari 4 unit turbin gas General Electric LM-2500. Sedangkan kapal induk kedua yang direncanakan dibangun sendiri oleh India adalah INS Vishal punya ukuran yang jauh lebih besar, yaitu 65.000 ton. INS Vishal baru dalam proses konsep desain.
Meskipun menjadi lebih rumit secara teknis dalam desain dan tahap konstruksi, tapi kapal induk bertenaga nuklir memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam operasional. Kapal seperti ini memberikan lebih banyak ruang karena meniadakan ruangan penyimpanan bahan bakar sehingga daya angkutnya menjadi lebih besar.
Beberapa pengamat militer asing meragukan kemampuan India untuk mewujudkan rencana membangun sendiri kapal induk bertenaga nuklir ini. Seperti yang diutarakan oleh Eric Wertheim, penulis Naval Institute’s Combat Fleets of the World, "Saya skeptis seberapa cepat India akan mampu menguasai kemampuan itu."
Pemerintahan baru di India memang punya ambisi besar pada program pembuatan kapal induk di dalam negeri. Pada bulan Juli 2014 lalu, Perdana Menteri baru India Narendra Modi telah menggelontorkan dana sebesar $ 3,18 miliar untuk menyelesaikan pembangunan kapal induk INS Vikrant Kapal induk ini seharusnya sudah selesai dibangun pada tahun 2013. Tapi keterlambatan pada tahap konstruksi mengakibatkan INS Vikrant paling cepat baru bisa dioperasikan pada tahun 2018.
Ambisi India untuk mengoperasikan armada kapal induk adalah reaksi untuk menghadapi ekspansi Cina dan peningkatan pesat kekuatan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China. Seperti diketahui, China juga memiliki program pembuatan 4 unit kapal induk
Saat ini Angkatan Laut India mengoperasikan 2 unit kapal induk dan keduanya merupakan kapal bekas dari negara lain, INS Vikramaditya yang merupakan eks kapal Admiral Gorshkov dan pernah dioperasikan Uni Soviet, dan INS Viraat, eks kapal induk HMS Hermes dari Inggris.
Torpedo VA-111 Shkval merupakan jenis torpedo superkavitasi yang dikembangkan pada era Uni Soviet. VA-111 Shkval mampu melesat dibawah laut dengan kecepatan lebih dari 200 knot (370 km/jam). Desain torpedo ini mulai dibuat pada tahun 1960 ketika lembaga riset NII-24 diperintahkan untuk menghasilkan sistem senjata baru yang mampu memerangi kapal selam nuklir.
Pada tahun 1969, GSKB-47 yang bergabung dengan NII-24 untuk menciptakan Research Institute of Applied Hydromechanics di Kiev, Ukraina (konstruktor Merkulov); yang VA-111 Shkval menjadi produk dari merger ini. Diumumkan sebagai yang digunakan di awal 1990-an, meskipun sebelumnya operasional tahun 1977, VA-111 Shkval dirancang sebagai balasan terhadap torpedo yang diluncurkan oleh kapal selam musuh terdeteksi. Hal ini juga dapat digunakan sebagai counter untuk torpedo masuk dimana diluncurkan pada kapal selam musuh, memaksanya untuk menghindari, dan mudah-mudahan memotong kawat bimbingan ke torpedo musuh dalam proses. Shkval kerucut hidung. Belakang shkval, menunjukkan sirip bimbingan dan konektor elektronik. Kecepatan VA-111 jauh melebihi yang dari torpedo standar saat ini menerjunkan oleh NATO. Kecepatan ini adalah hasil dari superkavitasi: torpedo adalah, pada dasarnya, terbang dalam gelembung gas yang dibuat oleh defleksi luar dari air oleh perusahaan khusus berbentuk kerucut hidung dan ekspansi gas dari mesin. Dengan menjaga air dari datang ke dalam kontak dengan permukaan tubuh torpedo, tarik berkurang secara signifikan, yang memungkinkan kecepatan yang sangat tinggi. Diluncurkan dari 533 tabung mm torpedo, VA-111 keluar tabung di 50 knot (93 km / jam). Tak lama setelah itu, yang roket bahan bakar cair dan menyatu mendorong ke kecepatan hingga 200 knot (370 km / h). Beberapa laporan menunjukkan bahwa kecepatan 250 knot + dapat dicapai, dan bekerja pada 300-simpul (560 km / h) versi sedang berlangsung. Mesin roket menggunakan kombinasi peroksida tes tinggi dan minyak tanah; tangki propelan mengandung sekitar 1500 kg hidrogen peroksida dan 500 kg minyak tanah. Desain awal mungkin hanya mengandalkan sistem bimbingan inersia. Desain awal dimaksudkan untuk pengiriman hulu ledak nuklir. Kemudian desain dilaporkan meliputi bimbingan terminal dan hulu ledak konvensional 210 kg (460 lb). Torpedo mengontrol arah dengan menggunakan empat sirip yang skim permukaan dalam amplop superkavitasi. Untuk mengubah arah, sirip atau sirip di bagian dalam pergantian yang diinginkan diperpanjang, dan sirip lawan yang ditarik. Untuk membuat tikungan lebih cepat, pelat push pada hidung dapat digunakan untuk mengontrol bentuk gelembung rudal bepergian masuk
VA-111 Shkval. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara | VA-111 Shkval, Torpedo Super Cepat Buatan Era Uni Soviet.
Pada tahun 1977, Angkatan Laut Uni Soviet memiliki torpedo yang mampu meluncur di bawah air pada kecepatan 200 knot atau 370 km/jam. Meski masih dirahasiakan, VA-111 Shkval atau Squall menarik perhatian masyarakat luas dalam skandal mata-mata pada tahun 2000.
Meski telah ada terobosan teknologi dalam persenjataan konvensional, serangan torpedo oleh kapal selam masih menjadi ancaman nyata bagi kapal dan awak kapal, bahkan di paruh kedua abad ke-20. Kapal selam yang dipersenjatai torpedo harus mendekat hingga jangkauan serang yang tak terdeteksi. Namun fitur anti-kapal selam dan antitorpoedo memungkinkan kapal permukaan dan kapal selam musuh dapat mengatasi ancaman dari bawah secara lebih efektif.
Kapal selam Soviet periode 1960-an dan 1970-an lebih inferior dibanding model AS dalam hal level deraunya, sehingga para ahli mesin Moskow berupaya untuk membuat desain senjata baru yang revolulsioner. VA-111 Shkval akhirnya mulai digunakan pada 1977 setelah dikembangkan selama sepuluh tahun. Dengan kecepatan 200 knot yang belum tertandingi, VA-111 Shkval dua kali lebih cepat daripada torpedo screw-driven tradisional, yang masih menjadi senjata kapal selam utama di armada-armada dunia.
Keunggulan kecepatan ini dicapai dengan mesin roket dan menggunakan superkavitasi, moncong depan torpedo menciptakan gelembung gas di sekeliling seluruh permukaannya pada kecepatan tinggi untuk mengurangi gesekan di dalam air.
Setelah torpedo diluncurkan dari tabung, autopilot yang telah diprogram sebelumnya akan meluncurkan roket berbahan bakar padat sesuai jalur dan kedalaman yang diperlukan ketika berakselerasi untuk membentuk gelembung gas. Ketika bahan bakar motor awal habis, bagian belakang torpedo dibuang dan mesin utama yang didorong dengan bahan bakar berbasis lithium hidroreaktif akan melaju ke depan. Air laut kemudian masuk melalui lubang di moncong kapal selam, sehingga memungkinkan torpedo ini melaju pada kecepatan penuh sampai 15 kilometer dan hanya ujungnya yang bersentungan dengan air.
Meski superkavitasi menghalangi efektivitas penggunaan sistem homing pada senjata ini, kekuatan eksplosifnya yang besar sungguh luar biasa, yakni setara dengan sebuah ledakan nuklir 150 kiloton TNT, sehingga kapal selam musuh atau kapal permukaan yang berada di radius satu kilometer jelas akan hancur.
VA-111 Shkval 533 mm dimiliki oleh sebagian kapal selam nuklir Soviet dan dianggap sama efektifnya baik sebagai senjata penyerang maupun pertahanan ketika kapal selam musuh menyerang.
VA-111 Shkval mampu menjangkau enam kilometer dalam satu menit dan dapat melakukan serangan balik dengan cepat. Kapal selam AS memiliki keunggulan dalam kemampuan siluman ketika mendekati dan melancarkan serangan pertama, sementara torpedo berkecepatan tinggi ini dapat ditembakkan sebelum melakukan tindakan mengelak. Jadi meski kapal selam yang mengelak itu mungkin tidak dapat memperbaiki data kendali torpedo yang sudah di dalam air, daya ledak VA-111 Shkval dijamin memberi serangan balik yang dahsyat.
Senjata unik ini memungkinkan Angkatan Laut Soviet untuk menambal kelemahan kemampuan siluman kapal selamnya, sebelum hal itu berhasil diatasi pada awal 1980-an. VA-111 Shkval populer karena sebuah kasus spionase pada tahun 2000, ketika mantan perwira angkatan laut AS Edmond Pope diadili dan dihukum di Rusia karena mengambil informasi rahasia tentang senjata tersebut.
Saat ini VA-111 Shkval masih merupakan senjata Rusia yang bersifat rahasia dan belum ada desain yang lebih unggul torpedo ini.
UMS Kyansitthar (F12) dan UMS Sin Phyu Shin (F14) adalah kapal perang jenis frigate dengan teknologi stealth (siluman) yang dirancang dan diproduksi oleh negara Myanmar. Sejak tahun 2010, Angkatan Laut Myanmar telah merencanakan untuk mengoperasikan kapal perang frigate yang masuk dalam jajaran Aung Zeya-Class.
UMS Sin Phyu Shin (F14). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara | Myanmar Luncurkan Kapal Frigate Siluman Produksi Lokal.
Angkatan Laut Myanmar secara resmi telah mengoperasikan kapal frigate bersenjata rudal UMS (Union of Myanmar Ship) Kyansitthar (F12) pada 31 Maret 2014. Kapal ini merupakan kapal frigate dengan karakteristik stealth (siluman) pertama angkatan laut negara ini karena kemampuannya untuk meminimalisir deteksi radar. Dua hari sebelumnya yaitu pada tanggal 29 Maret 2013, Angkatan Laut Myanmar juga telah meluncurkan kapal perang sejenis yang diberi nama UMS Sin Phyu Shin (F14).
Pengoperasian kapal perang berteknologi siluman ini menjadi langkah yang penting bagi Angkatan Laut Myanmar dimana negara ini tengah berusaha mengembangkan kemampuannya secara mandiri untuk melindungi kawasan lautnya.
Kemampuan untuk membuat kapal jenis ini menjadi perkembangan yang sangat mengesankan dari Angkatan Laut Myanmar. UMS Kyansitthar (F12) dan UMS Sin Phyu Shin (F14) dibangun di Galangan Kapal Angkatan Laut Thilawa yang berlokasi di sebelah selatan ibu kota Myanmar, Yangon. Meskipun masih dalam kelas yang sama (Aung Zeya-Class) tapi dua kapal figate siluman tersebut mengusung teknologi yang agak berbeda. UMS Kyansitthar (F12) memadukan teknologi Rusia dan China, sedangkan UMS Sin Phyu Shin (F14) lebih mengutamakan teknologi dari China.
Secara keseluruhan, Angkatan Laut Myanmar merencakan untuk membangun 6 kapal frigate kelas Aung Zeya. Hingga kini telah selesai diproduksi 3 unit kapal dan baru 2 kapal yang resmi dioperasikan yaitu UMS Aung Zeya (F11) dan UMS Kyansitthar (F12). UMS Sin Phyu Shin (F14) yang baru saja diluncurkan sedang menjalani uji laut.
Propulsi : 4 unit mesin diesel SEMT Pielstick 16 PA6 STC 5700 kW
Kecepatan Maksimum : 30 knot (56 km/jam)
Jarak Jelajah : 3.800 mil (6.100 km)
Sensor dan Sistem Proses : Radar RAWL-02 Mk III L-band 2D, radar kontrol senjata Type 347G 76 mm, 2 unit Radar Navigasi Racal RM-1290, I-band SNTI-240 SATCOM
Perangkat Perang Elektronik dan Decoy : Radar Peringatan Dini Type 922-1 dan Sistem HZ-100 ECM & ELINT
Persenjataan : 8 unit Rudal Anti Kapal Kh-35, 6 unit Rudal Anti Pesawat SA-N-5, 1 unit Meriam Reaksi Cepat Oto Melara 76 mm, 4 unit CIWS AK-630 6-barrel 30 mm, Triple torpedo 324 mm YU-7 ASW, dan Peluncur Roket
Hobart Class, Kapal Destroyer Generasi Baru Angkatan Laut Australia. Kapal perusak kelas Hobart (Hobart Class Destroyer) atau disebut juga sebagai kapal Air Warfare Destroyer adalah kapal destroyer generasi baru yang akan digunakan oleh Angkatan Laut Australia.
Hobart Class Destroyer. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara | Hobart Class, Kapal Destroyer Generasi Baru Angkatan Laut Australia.
HMAS Hobart adalah kapal perang jenis destroyer (perusak) generasi baru milik Angkatan Laut Australia yang sedang dalam proses pembuatan. Kapal ini bersama dua kapal sejenis yang akan menyusul dibangun, dikategorikan sebagai kapal AWD atau Air Warfare Destroyer. Selanjutnya generasi kapal perang baru ini masuk dalam kelas Hobart (Hobart Class Destroyer).
Hobart Class Destroyer dipersiapkan untuk menggantikan armada kapal perang fregat dari kelas Adelaide dan Perth. Meskipun sebutan AWD (Air Warfare Destroyer) menggambarkan misi utamanya sebagai kapal perang untuk mengantisipasi serangan pesawat tempur dan rudal, kapal destroyer baru ini juga memiliki kemampuan operasi anti kapal permukaan dan kapal selam serta memberikan bantuan tembakan untuk pasukan yang sedang beroperasi di kawasan pesisir.
Proyek AWD dimulai pada akhir tahun 2005 saat dibentuk AWD Alliance yang beranggotakan Defence Material Organisation, ASC (Australian Submarine Corporation), dan Raytheon. Sebagian besar proyek pembuatan kapal AWD ini dikerjakan oleh ASC yang bermarkas di Osborne, Adelaide, Australia Selatan. Namun desain kapal perang ini dikerjakan oleh Navantia dari Spanyol yang menggunakan kapal fregat kelas Álvaro de Bazan sebagai desain dasarnya. Rencana semula akan dibuat empat unit kapal AWD, namun akhirnya hanya tiga kapal yang akan dibuat.
Upacara peletakkan lunas pertama sebagai tanda diawalinya proyek pembuatan 3 kapal AWD ini telah dilakukan pada 6 September 2012 (baca: Australia Memulai Proyek Pembuatan Kapal Destroyer Senilai US$ 8 Miliar). HMAS Hobart (AWD 01) adalah kapal AWD yang pertama dibuat dan diestimasikan rampung pada Maret 2016. Kemudian menyusul HMAS Brisbane (AWD 02) yang direncanakan selesai pembuatannya pada September 2017, lalu HMAS Sydney (AWD 03) diharapkan selesai dibangun pada Maret 2019.
Kapal induk kelas Admiral Kuznetsov (juga dikenal sebagai Proyek 1143.5, kelas Brezhnev, atau kelas Kremlin hanya memiliki satu unit yang fungsional, yaitu Laksamana Armada Uni Soviet Kuznetsov. Satu-satunya kapal di kelasnya, Varyag, tidak pernah dibaktikan oleh Uni Soviet, Rusia atau Ukraina. Kapal ini dijual ke Republik Rakyat China, dan nantinya diperbaiki untuk berbakti kembali bersama Angkatan Laut RRC.
Kapal Induk Admiral Kuznetsov. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara.
Kapal induk merupakan kapal perang dengan ukuran besar dibanding jenis kapal perang lainnya karena memiliki peranan memuat pesawat tempur, pesawat peringatan dini, pesawat pengintai, dan berbagai peralatan tempur pendukung lainnya. Selain itu juga memiliki peranan sebagai pusat komando operasi dan armada pendukung operasi angkatan laut suatu negara. Kapal induk memimpin suatu gugus tugas yang biasa disebut Carrier Battle Group (CBG). Gugus tugas itu dipimpin satu kapal induk dan diiringi beberapa kapal pendamping, seperti kapal perusak, kapal logistik, fregat, dan kapal selam.
Kapal induk memiliki kemampuan beroperasi di laut luas yang jauh dari daratan utama suatu negara sehingga kepemilikan atas kapal raksasa ini mampu memberikan kemampuan efek penangkal tersendiri bagi angkatan laut suatu negara. Maka tak salah jika banyak negara jadi kepincut untuk memilikinya. Ambil contoh China, negara di Asia Timur ini sudah sejak lama mendambakan kapal induk untuk melengkapi armada kapal perangnya. Keinginan besar itu akhirnya terpenuhi pada tahun ini. Kapal induk Shi Lang (kapal induk bekas Uni Soviet yang dulu bernama Varyag) telah menjalani uji pelayaran kedua akhir November lalu.
Saat ini sudah ada sepuluh negara yang memiliki kapal induk, yakni Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, Prancis, Brasil, Spanyol, Italia, Thailand, dan India. Dari sepuluh negara tersebut, baru Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, Spanyol, dan Italia yang mampu memproduksi kapal induk sendiri. Di antara negara-negara tersebut, Rusia merupakan salah satu negara yang sudah mampu membuat dan mengoperasikan kapal induknya sendiri meski dari segi kuantitas jumlahnya hanya satu.
Rusia berusaha melengkapi angkatan lautnya dengan berbagai macam kapal perang dan kapal selam. Mulai dari kapal selam bertenaga nuklir Borey-class (dikenal dengan nama Proyek 955), kapal selam diesel-electric Lada-class (Proyek 677), kemudian masih ada kapal selam bermesin diesel Kilo-class (Proyek 636). Kiat ini sekaligus untuk mendongkrak kemampuan tempur angkatan lautnya yang mengalami penurunan. Kekuatan militer Rusia yang dulu masih bernama Uni Soviet pernah tercatat sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Namun pascabubarnya Uni Soviet pada tahun 1990-an, semua itu langsung berubah 180 derajat. Kedigdayaan yang pernah dirasakan itu pun akhirnya memudar.
Rusia selaku pewaris Uni Soviet mengalami keterpurukan di bidang ekonomi dan politik. Tak perlu menunggu lama hingga akhirnya semua itu berimbas pada merosotnya kekuatan militer negeri Beruang Merah. Kemerosotan itu makin kentara saat berlangsungnya perang empat hari antara Rusia dengan Georgia pada 8-12 Agustus 2008 lalu. Meski dalam perang itu mencatat kemenangan telak, tetapi empat pesawatnya (satu pesawat pembom Tu-22 Backfire dan tiga pesawat tempur Su-25 Frogfoot) berhasil ditembak jatuh (Angkasa, 10/2008).
Andalan Rusia
Meskipun sudah tak sekuat dulu, tetapi Angkatan Laut Rusia tetap memiliki keberanian untuk beraksi jauh di luar wilayah negaranya. Hal ini bisa disimak dari pengiriman kapal induk Admiral Kuznetsov beserta beberapa kapal perang milik Rusia ke sebuah pangkalan militer di kota Tartus, Suriah. Aksi teranyar kapal induk Rusia itu terjadi pada 6 Desember lalu, di mana banyak media asing santer memberitakan tentang pengiriman rombongan kapal perang tersebut.
Di tengah situasi Suriah yang sedang memanas akibat gerakan demonstrasi rakyat untuk menggulingkan Rezim Presiden Bashar Al-Assad, tentunya pengiriman mesin perang itu membuktikan bahwa Rusia juga merasa waswas terhadap kondisi yang terjadi di Suriah. Suriah selama ini merupakan salah satu sekutu utama dan pembeli persenjataan Rusia. Apalagi pascatumbangnya Muammar Gaddafi di Libya rasa waswas Negeri Beruang Merah ini makin lama makin menjadi.
Situasi juga makin terasa panas karena pengiriman kapal induk Admiral Kuznetsov dan beberapa kapal perang milik Rusia terjadi setelah kapal perang negara-negara yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terlebih dulu siaga di Laut Tengah. Setelah melakukan operasi militer di Libya, kapal perang milik NATO ini memang tak ingin buru-buru pulang kandang, tetapi memilih untuk berjaga-jaga di Laut Tengah.
Meski berdalih bahwa pengiriman rombongan kapal perangnya hanya merupakan bagian dari latihan rutin tahunan angkatan lautnya, tetapi banyak pihak yang menduga bahwa apa yang dilakukan oleh Rusia itu berkaitan dengan situasi yang terjadi di Suriah. Terlepas dari benar tidaknya kabar tersebut, kita mungkin dibuat penasaran seperti apa sebenarnya sosok kapal induk Admiral Kuznetsov itu?
Kapal induk satu-satunya yang dimiliki oleh Angkatan Laut Rusia itu memiliki nama resmi Admiral Flota Sovetskogo Soyuza Kuznetsov. Kapal induk yang dikenal sebagai Project 1143.5 ini didesain oleh Nevskoye Planning and Design Bureau, sedangkan basis pembangunannya dipercayakan kepada galangan kapal Nikolayev South Shipyard yang terletak di Ukraina. Kapal induk ini diluncurkan pada tahun 1985 dan mulai beroperasi secara penuh tahun 1995. Admiral Kuznetsov termasuk salah satu kapal induk yang rajin ganti nama. Awalnya kapal induk ini bernama Riga kemudian menjadi Leonid Brezhnev, lalu berubah menjadi Tbilisi dan terakhir menjadi Admiral Kuznetsov.
Di era Uni Soviet, ada satu kapal induk lagi yang sekelas dengan Admiral Kuznetsov yang diproduksi, yaitu kapal induk Varyag. Tatkala Uni Soviet bubar, kapal induk ini kemudian diserahkan kepada Ukraina. Tetapi beberapa tahun kemudian, Ukraina --sebagai pemilik baru kapal induk Varyag-- menjualnya ke China dengan alasan kesulitan dana.
Menurut situs globalsecurity.org, kapal induk Admiral Kuznetsov yang memiliki bobot 67.500 ton mampu melaju hingga kecepatan 32 knots dan mampu membawa pesawat tempur seperti Sukhoi Su-33, Yak-141 serta 24 helikopter Kamov. Bicara soal persenjataan, kapal induk ini dilengkapi dengan rudal antikapal permukaan Granit (SS-N-19), rudal permukaan ke udara Klinok, dan rudal permukaan ke udara Kashtan. Selain itu juga dilengkapi dengan roket antikapal selam UDAV-1.
Jika dibandingkan dengan AS, jumlah kapal induk yang dimiliki Rusia memang jauh ketinggalan. AS sendiri mengoperasikan tiga belas kapal induk, mulai dari USS Nimitz, USS Theodore Roosevelt, USS George Washington, USS John C Stennis, USS Harry S Truman, USS Ronald Reagan, USS Abraham Lincoln, USS George H W Bush, USS Enterprise, USS Kitty Hawk, USS John F Kennedy, USS Dwight D Eisenhower, dan USS Carl Vinson.
Dalam hal teknologi kapal induk, lagi-lagi Rusia harus mengakui keunggulan AS. Simak saja bagaimana kapal induk Admiral Kuznetsov masih menggunakan tenaga mesin diesel. Padahal kapal induk modern sudah menggunakan tenaga nuklir (termasuk sebelas dari ketiga belas kapal induk milik AS).
Terlepas dari itu semua, tahun 2008 lalu, Panglima Angkatan Laut Rusia pernah mengumumkan rencana untuk memodernisasi armada angkatan lautnya melalui pembangunan lima sampai enam kapal induk. Namun sayangnya hingga saat ini rencana tersebut belum terealisasi karena masalah anggaran.