Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Boeing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Boeing. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 September 2014

QF-16, Versi Drone Jet Tempur F-16 Fighting Falcon

QF-16 adalah drone atau pesawat UAV yang dipersenjatai untuk melakukan misi penyerangan udara. QF-16 merupakan salah satu varian dari jet tempur legendaris F-16 Fighting Falcon. US Air Force dan Boeing telah menyepakati kontrak untuk mengkonversi sejumlah pesawat tempur F-16 menjadi drone QF-16.

Boeing QF-16. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Boeing QF-16.
Perusahaan dirgantara dan pertahanan Boeing telah melakukan konversi pada pesawat tempur legendaris F-16 Fighting Falcon menjadi sebuah drone (UAV yang dipersenjatai) untuk digunakan oleh militer Amerika Serikat. Menurut informasi yang didapat situs pertahanan IHS Jane's, Boeing telah mengubah 6 pesawat F-16 dari 126 pesawat sejenis yang diproduksi oleh Lockheed Martin menjadi versi QF-16. Pesawat-pesawat tersebut akan mendapatkan peningkatan pada sistem datalink agar bisa terbang lebih tinggi dan lebih jauh seperti kemampuan yang dimiliki oleh pesawat UAV konvensional.

Boeing berpotensi mengkonversi ratusan F-16 yang sudah digrounded untuk dijadikan drone dengan menggunakan pesawat-pesawat F-16 yang disimpan di Tucson, Arizona, di mana ribuan airframe bekas F-16 telah terbengkalai selama bertahun-tahun.

AS Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) sebelumnya telah menyoroti potensi pesawat seperti QF-16 untuk memberikan dukungan udara bagi pasukan dalam pertempuran masa depan - peran yang selama ini dilakukan pesawat tempur dan helikopter tempur berawak, dan UAV seperti MQ-1 Predator dan MQ-9 Reaper.

Paul Cejas, chief engineer pada proyek Boeing QF-16, mengatakan bahwa QF-16 versi UAV akan ideal untuk serangan ke wilayah musuh dan misi yang berbahaya "di mana Anda tidak ingin menempatkan pilot dalam bahaya". "Kami pikir ada banyak potensi dalam hal ini sebagai memiliki kemampuan lebih," kata Cejas. "Boeing memiliki investasi untuk meningkatkan beberapa kemampuan tersebut. Sebagai UAV, QF-16 bisa lebih cepat menyerang target dibanding drone atau UAV yang selama ini sudah dibuat."

QF-16 dibatasi hanya untuk dioperasikan di dua pangkalan militer Amerika Serikat, yaitu Pangkalan Udara Tyndall di Florida dan White Sands Missile Range (WSMR) di Meksiko. Saat ini, stasiun kontrol di darat akan kehilangan kontak dengan pesawat QF-16 jika pesawat tersebut sudah terbang di atas cakrawala. Tapi Boeing akan meningkatkan sistem kontrol untuk memberikan QF-16 jangkauan seperti dengan UAV lain.

QF-16 memiliki kemampuan yang sama dengan jet tempur F-16 berawak, kecuali untuk persenjataan internal yang dihilangkan untuk membantu menyesuaikan diri lebih pada lebih 3.000 kabel pada versi konversi.

Boeing telah mendapatkan kontrak dari USAF senilai US$ 70 juta pada 8 Maret 2010 untuk mengkonversi 126 unit F-16 menjadi versi QF-16. Cejas juga mengatakan, untuk program jangka panjang pemerintah ingin mengoperasikan hingga 210 unit QF-16, tergantung pada anggaran pemerintah AS di masa depan.

Analisa

Lebih dari 4.500 unit jet tempur F-16 yang telah diproduksi sejak tahun 1970-an dan lebih dari 20 negara mengoperasikan pesawat tempur ini, tapi QF-16 kemungkinan besar hanya digunakan oleh militer AS. Tetapi pemerintah AS mungkin akan menyetujui penjualan teknologi konversi kepada sekutu-sekutunya karena konversi dari F-16 menjadi QF-16 diprediksi bakal menarik minat bagi negara-negara sekutu AS tersebut.

Dari segi biaya operasional, pengoperasian drone QF-16 dinilai tidak akan menjadi lebih hemat dibandingkan mengoperasikan F-16 berawak. Pada QF-16, unsur yang dihilangkan hanyalah keberadaan seorang pilot, sementara awak darat pendukung dan perlengkapan lainnya tetap sama seperti yang dibutuhkan oleh sebuah F-16 berawak.

Selain soal biaya operasional, kendala lainnya adalah terbatasnya jangkauan operasional QF-16. Sebagai perbandingan, untuk UAV seperti Predator dan Reaper, F-16 adalah pesawat jarak pendek yang membutuhkan pengisian bahan bakar tambahan di udara untuk melakukan misi penyerangan pada jarak menengah atau jarak jauh dengan muatan persenjataan yang optimal. Kinerja tempur F-16, mungkin benar-benar menjadi penghalang untuk perannya sebagai pesawat tempur tak berawak.

Salah satu aspek yang dimiliki pesawat UAV jenis Predator dan Reaper adalah bahwa pesawat-pesawat ini terbang dengan kecepatan yang relatif lambat dan memiliki kemampuan terbang dalam waktu lama yang diperlukan operator untuk mendapatkan sebuah gambaran rinci tentang area target. Sebuah pesawat F-16 berawak biasanya akan beroperasi pada ketinggian penerbangan yang relatif rendah dan pada kecepatan tinggi. Ini akan menjadi kendala, meskipun bersifat sementara, untuk mendapatkan pengamatan area target yang lebih berkualitas dalam mendapatkan keberhasilan misi penyerangan.

Salah satu alasan klise yang selalu diandalkan oleh para penggagas drone adalah menghapus resiko adanya korban jiwa pilot. Namun kenyataannya, banyak pilot tempur yang lebih suka untuk mengambil resiko tersebut.

www.janes.com

Jumat, 11 April 2014

Pesawat Kepresidenan RI Dilengkapi Missile Antiapproach System

Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia telah tiba di tanah air pada Kamis 10 April 2014 pagi. Pesawat Kepresidenan yang baru pertama kali dimiliki oleh Indonesia ini mendarat di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma dan disambut oleh beberapa pejabat negara, para petinggi TNI AU, dan Presiden Boeing Asia-Pasifik, Ralph Boyce. Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia ini merupakan jenis pesawat Boeing Business Jet II (BBJ II) berbasis Boeing B-737-800.

Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia.
TNI AD Kembangkan Drone dan Satelit Buatan Sendiri.

Setelah 69 tahun merdeka, akhirnya Indonesia memiliki pesawat resmi kepresidenan. Selama ini pemerintah Indonesia biasanya menyewa pesawat dari PT Garuda Indonesia atau menugaskan Skuadron Udara 17 VIP atau Skuadron Udara 45 TNI AU untuk menerbangkan presiden, wakil presiden, dan rombongan ke manapun tujuan. Pesawat terbang kepresidenan baru Indonesia itu telah mendarat mulus di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (10/4/2014) pagi. Pesawat ini terbang dari pabriknya, di Everett, Georgia, Amerika Serikat, dan sempat singgah di Honolulu, Hawaii. Merupakan seri Boeing Business Jet 2, pesawat terbang kepresidenan Indonesia ini memakai Boeing B-737-800 sebagai basis dasar dengan perubahan mendasar di sana-sini, sesuai pesanan; di antaranya ruang rapat, ruang istirahat, kamar mandi (jika diperlukan), fasilitas komunikasi dienkripsi, dan lain sebagainya.

Penyambutan khusus pesawat kepresidenan berkelir dominan biru muda-putih bergelombang itu sangat meriah. Hampir semua pejabat penting nasional datang, termasuk Presiden Boeing Asia-Pasifik, Ralph Boyce, yang khusus datang ke Jakarta untuk itu. Seorang penerbang senior TNI AU yang pernah berdinas sebagai penerbang VIP pada masa pemerintahan KH Abdurahman Wahid, berujar, "Pesawat terbang kepresidenan baru itu memang khusus dan menerbangkan dia juga menempuh prosedur dan penanganan khusus."

Boeing B-737-800 Boeing Business Jet 2 sebagai pesawat terbang kepresidenan itu sebetulnya telah dipesan sejak empat tahun lalu. Beberapa kali perundingan dengan Boeing dilakukan, termasuk soal interior, kelengkapan-kelengkapan khusus super VIP, dan terutama aspek keamanan komunikasi dan "pertahanan udara" mengingat yang dibawa adalah kepala negara/kepala pemerintahan yang juga lambang negara.

Saat mendarat, yang mendapat kehormatan menerbangkan dia secara ferry dari Amerika Serikat ke Jakarta adalah Komandan Skuadron Udara VIP 17, Letnan Kolonel Penerbang Aligusman, dan Letnan Kolonel Penerbang Firman Wira Yudha. Keluar dari kokpit dan menuruni tangga utama, mereka tampil dalam cover all penerbang hijau dengan badge khusus Indonesian Air Force di bahu kiri. "Menerbangkan BBJ 2 ini sebetulnya sama saja dengan Boeing B-737-800 lain. Cuma ada perbedaan pada beberapa perangkat khususnya," kata Aligusman.

Menyimak bentuk fisiknya, sepintas tidak ada yang istimewa dalam tampakan mata. Kalaupun mata jeli melihat, itu adalah lingkar engine cowling depan yang dilapis krom, demikian juga leading edge sayap utamanya. Jika terkena sinar matahari, akan berkilauan… indah juga. Pada ujung nose fuselage di bawah kokpit, warna biru tua semburat menjadi titik perhatian, karena bagian di bawah cungkup itu terletak radar utama pesawat terbang. Biasanya, bagian itu dicat khusus berwarna hitam atau kelabu; cat ini harus khusus karena bertugas meneruskan pancaran gelombang elektromagnetik radar.

Di bagian fuselage Boeing B-737-800 itu, ada beberapa piranti yang tidak akan dijumpai pada pesawat serupa yang lain. Ada "tonjolan-tonjolan" instrumen khusus yang mirip penampakan kamera sirkuit tertutup. Menurut beberapa laman penerbangan, itulah di antara sekian banyak piranti pertahanan diri, dinamakan Missile Antiapproach System. Mekanisme kerjanya mirip dengan lontaran chaff pada pesawat tempur. Ada lima titik lokasi sistem pertahanan ini pada fuselage BBJ 2 for Governmental VIP Flight (ini nama resmi yang diberi Boeing untuk pesanan Indonesia). Beberapa sumber menyatakan, operasionalisasi piranti ini akan sangat rahasia dan diperlukan otorisasi tersendiri.

Sesuai dengan namanya, pesawat terbang ini memiliki kekhususan dalam sistem kendali dan avionika. Salah satu pilot dari Skuadron Udara 17 VIP yang ditugaskan belajar menerbangan BBJ 2 itu di Pusat Pendidikan Boeing, di Miami, selama beberapa bulan, menyatakan, pesawat terbang kepresidenan ini bisa diterbangkan dalam keadaan totally blind. Artinya, dia bisa mendarat dan lepas landas semata-mata dikendalikan intsrumen penerbangan secara otomatis. "Sejak pesawat itu touch down hingga berhenti di tempat yang telah ditentukan, pilot bisa menyerahkan pada sistem kendali itu. Namun tetap, peran pilot sangat menentukan dan kami tetap dilatih serius tentang itu," kata penerbang itu.

Dikarenakan BBJ 2 yang masih memakai nomor registrasi penerbangan N454BJ (registrasi Amerika Serikat) dan akan diserahkan kepada TNI AU pada pertengahan April ini untuk tugas kepresidenan, maka sistem komunikasi dan keamanan komunikasi menjadi aspek pokok. "Dari awal penerbangan ke Jakarta dari Amerika Serikat kami bisa memakai internet, telefon seluler, jejaring sosial, hingga WiFi. Sangat mudah mengoperasikannya. Ini kelengkapan penting," kata Yudha.

Tentang BBJ 2 yang dipesan dengan harga total sekitar Rp820 miliar itu, Boyce menyatakan, "Kami berterima kasih atas kepercayaan Indonesia pada produk Boeing yang telah teruji ini. Kami harap kepercayaan ini bisa semakin meningkat dan membawa kebaikan." Dia menyatakan, banyak kekhususan fasilitas yang diimbuhkan pada pesawat terbang dengan dua mesin jet CFM International CFM56-7 yang irit bahan bakar minyak itu.

Terdapat dua ruang berstandar kelas VVIP Class (State Room), empat ruang pertemuan kelas VVIP, 12 area eksekutif, serta 44 area staf, yang bisa diterbangkan hingga ketinggian maksimum sekitar 41.000 kaki dari permukaan laut pada kecepatan maksimum sekitar 0,85 Mach (548 mph alias 876 km/jam). Namun kecepatan optimal ekonomisnya ada pada kisaran 0,785 Mach agar bisa terbang sejauh 4.620 mil laut alias 8.556 kilometer dari bandar udara keberangkatan dengan 61 kursi ditambah dua kursi pilot-in-command dan kopilot. Kemampuan terbang secara ekonomis ini dipandang Boeing sebagai salah satu kunci penting sehingga rancangan bentuk dan material winglet berukuran di kedua ujung sayap utamanya dilakukan secara khusus.

Jika terbang keluar negeri --terutama-- selama ini menyewa pesawat terbang badan lebar PT Garuda Indonesia, yang harus diubah interiornya untuk sementara waktu. Paling tidak memerlukan waktu sepekan di Garuda Maintenance Facility, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, untuk mengubah interior dan sistem-sistem lain dari konfigurasi standar ke konfigurasi khusus kepresidenan. Untuk mengembalikan lagi ke konfigurasi standar --misalnya Airbus A-300 series-- memerlukan waktu sekitar itu juga plus hari kunjungan keluar negeri itu sendiri. Lama dan mahal.

Dalam penerbangan ferry Amerika Serikat-Jakarta sejak 6 April lalu itu, BBJ 2 kepresidenan Indonesia ini singgah di beberapa tempat, di antaranya Sacramento, Honolulu, dan Guam. Dari Guam inilah dia langsung terbang ke hanggar tetapnya di Skuadron Udara 17 VIP TNI AU, di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Alasan pemilihan warna biru pesawat kepresidenan.

Pemilihan warna biru pada pesawat kepresidenan antara lain dilakukan karena alasan keamanan, kata Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi. "Biru berarti warna kamuflase karena sama dengan langit," katanya tentang pesawat kepresidenan yang baru tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Warna biru pesawat kepresidenan, menurut dia, juga mirip dengan warna kebanggaan TNI Angkatan Udara, yang selanjutnya akan mengoperasikan pesawat tersebut. Menurut dia, selama proses pembuatan Sekretariat Negara selaku pemesan pesawat diberi 14 alternatif pilihan warna. Ia mengatakan Sekretariat Negara melibatkan sejumlah pakar termasuk, desainer dari TNI Angkatan Udara, untuk memilih warna pesawat. Sudi juga mengatakan bahwa pesawat baru kepresidenan itu akan segera disertifikasi oleh Kementerian Perhubungan. "Minggu depan akan mulai diujicobakan," ujarnya.

Ia menjelaskan pula bahwa proses pembelian pesawat kepresidenan itu transparan dan akuntabel serta melibatkan banyak pihak termasuk Badan Pemeriksa Keuangan dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan.

www.antaranews.com

Minggu, 06 April 2014

P-8 Poseidon, Pesawat Pemburu Kapal Selam Buatan Boeing

Pesawat Boeing P-8 Poseidon (Awalnya memiliki sebutan Multimission Maritime Aircraft atau MMA) adalah pesawat militer yang dikembangkan dan diproduksi oleh Boeing Defense, Space & Security untuk Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy). Pesawat ini dimodifikasi dari pesawat 737-800. P-8 didesain untuk melakukan operasi anti-kapal selam (ASW), anti penyusupan dan untuk terlibat dalam peran intelijen elektronik (ELINT).

P-8 Poseidon. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
P-8 Poseidon.
P-8 Poseidon, Pesawat Pemburu Kapal Selam Buatan Boeing.

Boeing P-8 Poseidon adalah pesawat yang digunakan untuk misi atau operasi anti-kapal selam paling baru dan canggih saat ini. Dalam kesatuan US Navy, pesawat ini menggantikan peran pesawat P-3 Orion yang sudah digunakan sejak 1950-an. Seperti apa profil dan kecanggihan pesawat ini?

Dikutip dari situs Boeing dan Flightglobal, P-8 Poseidon adalah pesawat yang awalnya diproduksi khusus untuk US Navy oleh Boeing Defense, Space, and Security. Pesawat ini merupakan modifikasi dari pesawat untuk penerbangan sipil, Boeing 737-800ER. Pesawat militer itu dikembangkan untuk beberapa tujuan utama, melakukan pemantauan dan penyerangan kapal selam maupun armada laut asing di permukaan, serta melakukan pemantauan, pengawasan, dan pengintaian untuk beragam tujuan.

Salah satu tujuan penggantian P-3 Orion dengan Boeing P-8 Poseidon sendiri adalah untuk mengurangi biaya misi serta perawatan. P-8 Poseidon dikatakan mampu membawa muatan lebih banyak, terbang di ketinggian lebih tinggi, serta menjangkau area lebih luas.
Beberapa perangkat canggih yang dimiliki pesawat sepanjang 39,47 meter ini adalah High Altitude Anti-Submarine Warfare Weapon Capability (HAAWC) serta AGM-88 Harpoon Anti-Ship Missile. P-8 Poseidon juga memiliki sensor hidrokarbon yang digunakan untuk mendeteksi uap bahan bakar kapal selam. Bisa membawa 9 awak di kabinnya, P-8 Poseidon mampu menjalankan misi selama 6 jam untuk rentang wilayah 1.100 km dan 4 jam untuk rentang wilayah 2.000 km.

P-8 Poseidon (Denah Perangkat). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
P-8 Poseidon (Denah Perangkat).
Meski lebih maju, P-8 Poseidon tetap membawa perangkat mumpuni yang sudah dimiliki P-3 Orion yang diproduksi Lockheed Martin, yaitu Magnetic Anomali Radar (MAD), perangkat yang berfungsi mendeteksi benda logam besar di kedalaman lautan, misalnya kapal selam.

P-3 Poseidon terbang perdana dalam sebuah tes pada 25 April 2009. Penerbangan untuk tujuan tes kemampuan selanjutnya dilakukan pada Agustus 2010. Produksi massal dalam jumlah terbatas sendiri dimulai sejak 4 Maret 2012. Hingga Juli 2013, sudah ada 15 unit pesawat yang dibuat. Sampai saat ini, sudah ada beberapa tipe pesawat. P-8 Poseidon yang dikembangkan untuk US Navy dinamai P-8A. Militer India memesan pesawat P-8I Neptune. RAAF juga memesan 8 pesawat tipe P-8A. Sementara Angkatan Udara AS memesan P-8 AGS untuk melakukan pemantauan daratan.

Untuk mendeteksi keberadaan benda ukuran besar berbahan logam yang tenggelam di lautan, seperti dalam usaha pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370 di kawasan Samudra Hindia beberapa waktu lalu, perangkat yang sangat berguna adalah AN/APY-10 Radar yang dibuat Raytheon Co. Radar yang ada di hidung pesawat ini mampu mendeteksi debris logam bahkan di tengah gelombang tinggi.

Pada Januari 2014, laporan Bloomberg yang mengutip sumber di Pentagon, Michael Gilmore, menyatakan bahwa pesawat dengan harga per unit sekitar 201,4 juta dollar AS (menurut laporan US Government Accountability Office pada Maret 2013) ini kurang efektif dalam pengawasan dan pengintaian kapal selam dalam area yang luas. Boeing menanggapi laporan itu dengan menyatakan bahwa pihaknya akan bekerja keras memenuhi permintaan militer. Namun, Boeing menyatakan bahwa pada dasarnya radar dan perangkat lain P-8 Poseidon sudah mumpuni, mengalahkan P-3 Orion.

Terkait laporan tersebut, US Navy sendiri belum mengubah rencananya untuk mengaplikasikan 117 P-8 Poseidon pada tahun 2019. Program mengganti P-3 Orion dengan P-8 Poseidon sendiri telah menelan dana lebih dari 30 miliar dollar AS.

Spesifikasi Pesawat P-8 Poseidon :

Karakteristik Umum :
  • Kru : Penerbangan : 2; Mission : 7
  • Panjang : 39,47 meter
  • Lebar Sayap : 37,64 meter
  • Tinggi : 12,83 meter
  • Berat Kosong : 62.730 kg
  • Max. Berat Lepas Landas : 85.820 kg
  • Powerplant : 2 unit mesin CFM56-7B turbofan, masing-masing berdaya dorong 120 kN
Kinerja :
  • Kecepatan Maksimum : 490 knot (907 km/jam)
  • Kecepatan Jelajah : 440 kn (815 km/jam)
  • Jangkauan Terbang : 1.200 nm (2.222 km) 4 jam di stasiun (Anti-kapal selam misi perang)
  • Layanan Langit-langit : 12.496 m
Persenjataan :
  • Rudal SLAM-ER, Rudal Harpoon, Torpedo Mark 54 MAKO, dan beberapa jenis bom
sains.kompas.com, wikipedia.org

Selasa, 19 Maret 2013

AH-64 Apache, Helikopter Tempur Buatan AS





AH-64 Apache adalah type helikopter militer dari jenis penyerbu / penempur yang bisa diterbangkan dalam berbagai keadaan cuaca. Helikopter serbu ini dikendalikan oleh dua orang crew dan persenjataan utamanya terdiri dari sebuah senapan mesin M230 kaliber 30 mm yang terletak di bawah hidung AH-64 Apache. Helikopter ini juga bisa membawa gabungan persenjataan lain seperti AGM-114 Hellfire dan pod roket Hydra 70 di empat hard point pada pangkal sayap. AH-64 Apache merupakan helikopter penyerang utama bagi Angkatan Darat Amerika Serikat dan merupakan pengganti helikopter serbu AH-1 Cobra.

AH-64 Apache telah dirancang oleh perusahaan Hughes Helicopters untuk memenuhi kebutuhan program Helikopter Serbu Angkatan Darat AS. Perusahaan McDonnell Douglas kemudian membeli Hughes Helicopters dan meneruskan pengembangan helikopter ini. Pengembangan selanjutnya helikopter ini kemudian telah menghasilkan helikopter AH-64D Apache Longbow yang kini diproduksi oleh Boeing Integrated Defense Systems. Helikopter-helikopter AH-64 milik Angkatan Darat A.S ini pernah beraksi dalam operasi-operasi di Panama, Perang Teluk, Afghanistan, dan Iraq.

AH-64 Apache digerakkan oleh dua unit mesin turbin aci General Electric T700 dengan knalpot yang terletak dibawah rotor. Apache AH-64 memiliki empat bilah rotor utama dan empat bilah rotor ekor. Posisi duduk crew dalam susunan depan dan belakang, pilot duduk di belakang atas, sementara petuga pengendali senjata duduk ruang kokpit berperisai yang berada di depan. Ruang crew dan tangki bahan bakar dilindungi sedemikian rupa sehingga helikopter ini dapat tetap diterbangkan meskipun menerima tembakan daripada senjata berkaliber 23 mm.

Helikopter ini dipersenjatai dengan meriam rantai M230 berkaliber 30 mm yang dikendalikan menggunakan sistem pengendali pada helm yang digunakan oleh penembak, yang ditetapkan pada kedudukan terkunci menembak di depan, atau dikendalikan melalui Sistem Penandaan dan Perolehan Sasaran (TADS). AH-64 Apache membawa beberapa gabungan persenjataan pada gantungan senjata di pangkal sayapnya. Biasaannya terdiri dari rudal anti tank AGM-114 Hellfire, roket tak berpandu kaliber 70 mm (2.75 in) Hydra 70 dan rudal udara ke udara AIM-92 Stinger untuk mempertahankan diri. Jika terjadi situasi darurat, titik beban pada gantungan senjata bisa digunakan untuk dudukan personil saat evakuasi.

Helikopter tempur AH-64 Apache dirancang untuk bertahan pada garis depan dan bisa dioperasikan pada siang atau malam hari dalam berbagai macam jenis cuaca dengan menggunakan avionik dan elektronik seperti Sistem Penandaan dan Perolehan Sasaran, Sistem Penglihatan Malam Juruterbang (TADS/PNVS), pertahanan diri pasif inframerah, GPS, dan sistem pengendali persenjataan pada helm penembak (IHADSS).

Spesifikasi AH-64 Apache

Karakteristik Umum :
  • Jumlah Crew: 2 orang; pilot dan petugas persenjataan
  • Panjang: 17,73 m (dengan kedua-dua rotor dihidupkan)
  • Diameter rotor: 14,63 m
  • Tinggi: 3,87 m
  • Berat kosong: 5.165 kg
  • Berat berisi: 8.000 kg
  • Berat Maksimum Lepas-Landas: 9.500 kg
  • Mesin penggerak: 2× General Electric T700-GE-701 atau T700-GE-701C & T700-GE-701D (1990-hari ini) turboshaft, -701: 1,690 shp, -701C: 1,890 shp -701D 2,000 shp (-701: 1,260 kW, -701C: 1,490 kW)
  • Sistem rotor: 4 bilah rotor utama, 4 bilah rotor ekor
Kinerja :
  • Kecepatan Maksimum: 158 knot (293 km/jam)
  • Kecepatan jelajah: 143 knot (265 km/jam)
  • Radius Tempur: 480 km
  • Jarak Jangkau: 1.900 km
  • Ketinggian Maksimum: 6.400 m
  • Kecepatan Panjat: 12,7 m/detik
Persenjataan :
  • Meriam: 1× 30 x 113 mm meriam mesin M230 dengan putaran 1.200 butir peluru
  • Roket: Hydra 70 FFAR
  • Peluru Kendali: AGM-114 Hellfire, AIM-92 Stinger, dan AIM-9 Sidewinder