Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2016

Penandatanganan Kontrak Pembelian Jet Tempur Su-35 Akan Dilakukan Di Rusia

Kontrak pembelian jet tempur Sukhoi Su-35 Flanker-E buatan Rusia oleh Indonesia rencanannya akan ditandatangani Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu di Rusia. Jika tidak ada perubahan, rencana tersebut akan terlaksana bulan depan.

Sukhoi Su-35 Flanker-E. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-35 Flanker-E.
Menhan Akan ke Rusia, Teken Pembelian Jet Tempur Sukhoi Su-35.

Ada isyarat dari Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu bahwa Indonesia memastikan akan membeli jet tempur Su-35 buatan Rusia untuk menggantikan skuadron F-5 Tiger TNI Angkatan Udara yang uzur. Ryamizard mengatakan penandatanganan kontrak pembelian Su-35 akan dilakukan di Rusia, negara asal jet tempur itu, dalam waktu dekat. "Nanti (teken kontrak) di Rusia. Saya kan mau ke Rusia. Ada undangan untuk seminar sekalian di sana," kata Ryamizard. Ia menyatakan proses pengadaan Su-35 terus berjalan.

Jika tak ada perubahan, Ryamizard terbang ke Rusia bulan depan, Maret. Ada delapan Sukhoi Su-35 yang akan dibeli pemerintah Indonesia. Harga satu unit diperkirakan US$65 juta atau sekitar Rp951 miliar. Soal pembiayaan pesawat supermahal itu, beberapa waktu lalu Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Dwi Badarmanto berujar, "Pembayaran dilakukan oleh pemerintah, tepatnya Kementerian Pertahanan. Mau dibayar tunai atau dicicil, terserah. Pokoknya dibayar sampai satu skuadron terpenuhi."

Soal kenapa pemerintah Indonesia memilih Sukhoi sedangkan ada pula tawaran dari Lockheed Martin Amerika Serikat yang menyodorkan F-16 Viper dan Saab Swedia yang menyodorkan paket hemat jet tempur Gripen, Ryamizard berkata, "F-16 sudah banyak, ada 30-an."

Sukhoi Su-35 diincar TNI AU sejak lama. "Mimpi semua prajurit AU ialah punya pesawat tempur tercanggih saat ini," kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, akhir 2015.

Sukhoi mengklasifikasikan jet baru mereka itu sebagai pesawat generasi keempat++ dengan kecanggihan teknologi nyaris setara dengan pesawat siluman generasi kelima buatan AS, F-22 Raptor.

"Kami (TNI AU) beli pesawat tergantung uang pemerintah, tapi kami punya pilihan. Kalau boleh, ya beli Su-35. Kami punya Su-27, Su-30. Konsep beli pesawat itu harus baru, lengkap, dan satu tingkat di atas yang sudah ada, sehingga peralatannya lebih modern," kata Dwi kepada CNNIndonesia.com.

Pembelian dengan teknologi lebih mutakhir diklaim Dwi juga untuk meningkatkan profesionalisme para penerbang. "Kalau beli yang sama, tidak ada peningkatan," kata mantan Asisten Deputi Koordinator Strategi Politik Luar Negeri Kementerian Politik Hukum dan Keamanan itu.

Jika anggaran negara cukup, ujar Dwi, beli sekalian enam sampai delapan Sukhoi. "Kalau bisa satu skuadron Su-35. Kalau punya itu, kami tenang jaga kedaulatan udara RI." Delapan unit itulah yang direncanakan dibeli oleh Menhan.

Pemilihan Su-35, imbuh Dwi, bukan tanpa alasan. "Kami diuntungkan pernah melaksanakan pemeliharaan pesawat sejenis, dari Su-27, Su-30. Ini kan satu rumpun."

TNI AU sesungguhnya juga mempertimbangkan F-16 Viper. "(Bisa) F-16 tapi yang sudah Blok 70 sehingga peralatannya lebih modern. Jadi kalau F-16 yang Blok 70, kalau Sukhoi yang Su-35," ujar Dwi.

Dwi berharap pesawat baru tersebut bisa secepatnya datang karena F-5 TNI AU sudah waktunya pensiun. Armada F-5 Tiger itu sudah beroperasi sejak tahun 1980-an. "Harus ada penggantinya. Kami tunggu pemerintah, tapi kami harapkan di program rencana strategi 2015-2019 ini, pesawat-pesawat baru sudah berdatangan," kata Dwi.

Pekan lalu, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolai Patrushev dalam pertemuannya dengan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjdaitan di Kantor Kemenkopohukam, Jakarta, menawarkan sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) produksi negaranya kepada Indonesia. Selain Su-35, kapal selam dan helikopter Mil Mi-17 juga disodorkan Negeri Beruang Merah.

Luhut berkata pada delegasi Rusia bahwa jual beli alutsista antardua negara harus disertai transfer teknologi. Ia menyerahkan soal pembelian alutsista tersebut kepada Ryamizard selaku Menteri Pertahanan RI.

www.cnnindonesia.com

Kamis, 03 September 2015

Kontrak Pembelian Su-35 Diteken Bulan September 2015

Kontrak pengadaan jet tempur Sukhoi Su-35 Flanker-E dijadwalkan ditanda-tangani pada September 2015. Indonesia akan membeli pesawat tempur buatan Rusia ini sebanyak sekitar 1 skuadron atau 16 unit jet tempur Sukhoi Su-35 Flanker-E. Armada baru penempur udara ini dipersiapkan untuk menggantikan pesawat F-5 Tiger milik TNI AU yang akan segera dipensiunkan.

Sukhoi Su-35 Flanker-E. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-35 Flanker-E.
Kemhan Akan Ganti F-5 dengan Sukhoi Su-35.

Kementerian Pertahanan telah memutuskan akan mengganti satu skuadron atau 16 unit pesawat F-5 Tiger milik TNI Angkatan Udara yang akan memasuki masa pensiunnya dengan pesawat tempur Sukhoi Su-35 Flanker-E dari Rusia. "Kita sepakat (Panglima TNI dan KSAU) akan membeli satu skuadron Sukhoi Su-35 dari Rusia untuk menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger," kata Menhan Ryamizard Ryacudu usai sidak persenjataan milik TNI Angkatan Darat di tiga kesatuan, yakni Kopassus, Yonkav 1/1 Kostrad, dan Yonif Mekanis 201 Jaya Yudha, di Jakarta, Rabu (2/9/2015).

Pertimbangannya Kementerian Pertahanan memilih Sukhoi Su-35 sebagai pengganti F-5 Tiger, kata dia, karena penerbang TNI Angkatan Udara sudah terbiasa menggunakan Sukhoi. "Sekarang kita memiliki pesawat tempur dari Amerika (F-16), Tiongkok, dan Rusia. Kita bukan negara yang blok-blokan," katanya.

Pembelian pesawat Sukhoi Su-35 itu akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan keuangan negara. "Kita ingin membeli satu skuadron, tetapi disesuaikan kemampuan pemerintah," kata Ryamizard.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini mengatakan bahwa pada bulan September 2015 akan ada penandatanganan pembelian Sukhoi Su-35 dengan pihak Rusia.

Di tempat yang sama, Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan Marsekal Muda TNI M. Syaugi mengatakan bahwa pembelian pesawat Sukhoi Su-35 yang baru melalui alih teknologi atau transfer of technology (ToT) dengan pihak Rusia. "Ini sesuai dengan aturan yang ada bahwa kalau kita ingin membeli alutsista harus ada ToT. Semua itu disesuaikan dengan kemampuan. Jadi, berapa kemampuan anggaran kan tidak mungkin kita minta satu unit terus minta TOT bikinnya gimana, jadi disesuaikan dengan uang yang ada," kata Syaugi.

Ia mengatakan, "Pembelian pesawat tempur canggih itu akan lengkap dengan senjatanya. Lebih baik sedikit ketimbang banyak, tetapi kosongan." Kemhan menginginkan agar pembelian pesawat itu sebanyak 16 unit. Akan tetapi, disesuaikan dengan keputusan pemerintah. "Kita ini kan belum diputuskan uangnya berapa. Kita sudah pingin beli itu cepat-cepat. Penetapan dari Bappenas itu belum keluar. Mungkin dihitung-hitung dahulu dolarnya berapa. Berapa ini mampunya negara, ini kan dari pinjaman luar negeri," kata Syaugi.

www.beritasatu.com

Sabtu, 14 Maret 2015

Akhirnya Indonesia Pilih Sukhoi Su-35 Untuk Gantikan F-5 Tiger

Akhirnya jet tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia dipilih untuk menggantikan armada pesawat tempur F-5 Tiger yang sudah uzur yang selama ini dioperasikan Skuadron Udara 14 yang bermarkas di Pangkalan Udara Utama TNI AU Iswahjudi. Pesawat tempur bermesin jet Su-35 kerap disebut sebagai Super Flanker karena merupakan varian jet tempur terkuat dari seri Flanker yang diproduksi oleh negara Rusia. Berdasarkan teknologi yang diusungnya, jet tempur ini masuk dalam jenis pesawat tempur generasi 4,5 atau 4++.

Sukhoi Su-35 Flanker E. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-35 Flanker E.
Kemhan-DPR Sepakat Beli Sukhoi Su-35.

Keinginan Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki pesawat tempur generasi terbaru mulai terwujud. Setelah melewati pembahasan panjang, Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan TNI akhirnya sepakat memilih pesawat tempur generasi 4,5 Sukhoi Su-35. Pesawat buatan Rusia itu akan menggantikan pesawat F-5 Tiger yang sudah tidak laik terbang. Rencana pengadaan ini sudah mendapat lampu hijau DPR. Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengungkapkan, rencana pembelian Su-35 sudah dibahas lama. Kesepakatan tercapai melalui proses yang cukup memakan waktu. Diawali dengan pembicaraan antara pemerintah Indonesia dengan Rusia, kemudian antara kementerian pertahanan kedua negara. "Setelah itu pelakunya apakah G to G dan seterusnya (dibahas) cukup panjang," kata Panglima seusai mengikuti kegiatan TNI Mendengar di Aula Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, Kamis (12/3/2015).

Kapuspen TNI Mayjen TNI Fuad Basya memaparkan, pesawat tempur Su-35 menjadi pilihan untuk melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AU. "Di TNI itu ada proses namanya Dewan Penentu dan Pengadaan (Wantuada) yang berada di angkatan, kemudian ada Dewan Kebijakan Penentuan Alut dan Alutsista (Wanjaktu) di Mabes TNI. Hasil Wantuada itu dikombinasikan ke Mabes TNI menjadi Wanjaktu agar menjadi interoperabilitas," ujarnya.

Hasil Wanjaktu, sambung Fuad, sama seperti yang disampaikan Panglima TNI bahwa TNI sepakat memilih pesawat Su-35. Selanjutnya, Kemhan yang akan menjalankan proses administrasinya. "Proses itu (pengadaan) tinggal Menhan. Cepat lambatnya tergantung Menhan, sebab proses administrasinya di mereka. Kita inginnya secepat mungkin karena F- 5 sudah harus diganti," kata dia.

Saat disinggung berapa jumlah pesawat tempur Su-35 yang akan diadakan pada tahap pertama, Fuad mengaku belum bisa menyebutkan secara detail. "Yang jelas kita akan ganti secara bertahap dan itu sampai 2024 berakhirnya minimum essential force (MEF) semua itu sudah hadir," tegasnya.

Su-35 merupakan pesawat tempur terkuat buatan Negeri Beruang Merah. Pesawat bermesin ganda ini dianggap sebagai pesawat generasi kelima karena kelebihan yang dimilikinya. Bagaimana tidak, pesawat turunan dari Su-27 ini mampu melakukan manuver yang tidak bisa dilakukan pesawat tempur lainnya, yakni berhenti seketika diudara, mampu terbang cepat di ketinggian, dan bisa membawa banyak rudal ke udara.

Su-35 juga bisa melesat hingga 2.390 km/jam dan mampu menempuh jarak hingga 4.500 km. Pengamat militer Mufti Makarim menilai, sebagai negara kepulauan, Indonesia butuh fondasi yang kuat utamanya di udara dan laut. Sebab serangan datang melalui kedua jalur tersebut. Karena itu, rancang bangun pertahanan harus terpadu. "Saya setuju dengan adanya peningkatan kekuatan untuk operasi udara dan laut karena itu adalah kebutuhan riil," ujarnya.

Namun hal yang perlu dipertanyakan adalah ketepatan alat itu. Apakah penggunaannya bisa terintegrasi dengan sistem yang ada sehingga menjadi operasi pertahanan yang terpadu. Kemudian dari segi anggaran. Apakah pembelian itu sudah diperhitungkan dengan matang. "Lalu bagaimana sistem pembayaran utangnya, jangan sampai membebani negara. Sebab pengadaan pesawat itu tidak murah," ucapnya.

Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya membenarkan bahwa pesawat tempur Su-35 sudah masuk dalam rencana pembelian. Politikus Partai Golkar ini menyebutkan, jumlah pesawat yang dibeli sebanyak 16 unit atau satu skuadron berikut dengan persenjataannya. Saat disinggung soal anggaran yang dihabiskan untuk membeli pesawat tersebut, Tantowi mengaku tidak hafal. Namun pesawat tersebut akan tiba ke Indonesia secara bertahap. "Anggarannya beda dengan pembelian sebelumnya, tapi saya lupa berapa, tapi apa yang disampaikan Panglima TNI dan Menhan itu benar," tegasnya.

www.koran-sindo.com

Jumat, 13 Maret 2015

Armada Jet Tempur Hawk MK-53 TNI AU Masuki Masa Purna Tugas

Armada jet tempur Hawk MK-53 yang sudah dioperasikan TNI AU selama 35 tahun akhirnya resmi memasuki masa purna tugas. Pesawat tempur buatan British Aerospace ini sebelumnya dioperasikan Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur. Untuk selanjutnya, armada jet tempur Hawk MK-53 digantikan pesawat tempur T-50i Golden Eagle yang dibeli dari Korea Selatan.

Jet Tempur Hawk MK-53 TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Jet Tempur Hawk MK-53 TNI AU.
TNI-AU Museumkan Pesawat Hawk MK-53.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) berencana memuseumkan Pesawat Hawk MK-53 yang selama ini dioperasikan di Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur, karena telah memasuki purnatugas. Berakhirnya pengabdian Hawk MK-53 ditandai dengan acara "Farewell" Hawk MK-53 di "Shelter" Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi yang dihadiri Komandan Wing 3 Lanud Iswahjudi Kolonel Pnb Widyargo Iko Putro beserta para pejabat Lanud Iswahjudi, Kamis (12/3/2915).

Komandan Wing 3 Lanud Iswahjudi Kolonel Pnb Widyargo Iko Putro, mengatakan, "Farewell Flight" merupakan simbolisme pergantian pesawat yang akan dioperasikan di Skuadron Udara 15 dari Hawk MK-53 ke pesawat T-50i Golden Eagle. "Di mana Hawk MK-53 tersebut sudah berakhir jam terbangnya dalam mengemban tugas di TNI Angkatan Udara," ujar Komandan Wing 3 Lanud Iswahjudi Kolonel Pnb Widyargo Iko Putro, kepada wartawan.

Menurut dia, selanjutnya pesawat Hawk MK-53 yang banyak membantu tugas TNI AU itu akan ditempatkan di Museum Pusat Dirgantara Mandala, Yogyakarta.

Pesawat Hawk MK-53 merupakan pesawat buatan "British Aerospace". Pesawat tersebut digunakan oleh TNI AU di Indonesia sejak tanggal 1 September 1980. "Pesawat tersebut telah banyak memberikan kontribusi kepada TNI Angkatan Udara dalam melaksanakan operasi-operasi penugasan. Sebagai pesawat latih, Hawk MK-53 juga telah berhasil mencetak penerbang-penerbang tempur yang berkualitas," tuturnya.

Dalam "Farewell Flight" tersebut, pesawat Hawk MK-53 TT 5309 diterbangkan oleh Komandan Skuadron Udara 15 Letkol Pnb Marda Sarjono bersama Lettu Pnb Kurniadi Sukmo Djatmiko. Mereka melaksanakan "ferry flight" dari Lanud Iswahjudi Magetan ke Lanud Adi Sutjipto Yogyakarta yang "di-escort" oleh lima pesawat T-50i Golden Eagle untuk melaksanakan terbang formasi.

Pesawat-pesawat tersebut juga melaksanakan dua kali "flypass" di atas "Main Apron" Lanud Iswahjudi dan selanjutnya melakukan pendaratan di Lanud Adi Sutjipto untuk dilaksanakan penyerahan Hawk MK-53 ke Museum Pusat Dirgantara Mandala Yogyakarta.

Sebelum diterbangkan ke Yogyakarta, Komandan Wing 3 Lanud Iswahjudi Kolonel Pnb Widyargo Iko Putro, menyempatkan diri untuk membubuhkan tanda tangan di badan pesawat Hawk MK-53 yang memasuki purnatugas tersebut.

nasional.republika.co.id

Rabu, 18 Februari 2015

Jet Tempur Sukhoi TNI AU Buru Pesawat UAV Asing Yang Masuki Perbatasan Indonesia Di Ambalat

Pesawat tanpa awak (UAV) yang diduga berasal dari negara tetangga tertangkap radar ketika mencoba memasuki wilayah udara Indonesia di kawasan Ambalat. Untuk melakukan pemeriksaan secara visual, 2 jet tempur Sukhoi milik TNI AU diperintahkan memburu pesawat UAV tersebut. Namun ketika telah mencapai lokasi, pilot jet tempur tidak menemukan keberadaan pesawat UAV asing tersebut.

Sukhoi Su-30 MK2 Flanker C TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-30 MK2 Flanker C TNI AU.
Pesawat tanpa Awak dari Negara Tetangga Terdeteksi di Perbatasan Ambalat.

Setelah sembilan hari melakukan operasi patroli udara di wilayah Provinsi Kalimantan Utara, pilot Sukhoi 27 dan 30 dari Skudron 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, Selasa (9/2/2015) pukul 10.00 Wita menangkap adanya sinyal wahana asing seperti UV atau pesawat tanpa awak akan masuk wilayah Indonesia, tepatnya di wilayah perbatasan Ambalat.

Siang itu, dua pesawat buatan Rusia yang diawaki pilot Komandan Skuadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, Letkol Penerbang David Tamboto dan dua pilot Sukhoi take off dari Bandara Juwata Tarakan melakukan operasi patroli udara "Sandi Perisai Sakti 2015". Beberapa menit berpatroli di udara dengan melakukan beberapa maneuver, pilot David mendapatkan informasi dari Satuan Radar (Satrada) Tarakan, bahwa dari layar Satradar tertangkap adanya sinyal wahana asing yang masuk di perbatasan Ambalat.

Mendapatkan informasi, dua pesawat Sukhoi langsung meluncur selama 5 menit ke wilayah perbatasan Ambalat. Sampai di lokasi yang dituju, pilot Sukhoi tidak menemukan wahana asing yang berasal dari negara tetangga sekitar. "Sampai di sana, kami tidak menemukan wahana asing tersebut. Ternyata wahana asing seperti UV atau pesawat tanpa awak ini langsung menghilang," ucap David ketika tiba di Bandara Juwata Tarakan usai melakukan patroli di udara Kaltara.

David mengaku, sejak (9/2/2015) kemarin mendapatkan tugas melakukan patroli di wilayah Kaltara, pihaknya beberapa kali mendapatkan sinyal ada wahana asing yang berasal dari negara tetangga sekitar yang ingin mendekati atau memasuki wilayah perbatasan Ambalat.

kaltim.tribunnews.com

Senin, 16 Februari 2015

TNI AU Akan Tambah Skuadron Pesawat Tempur Dan Pesawat VIP

Beberapa skuadron pesawat tempur dan pesawat penerbangan VIP baru akan ditambahkan lagi pada armada pesawat TNI AU. Penambahan jumlah skuadron itu untuk jenis pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter, pesawat pengintai, dan pesawat untuk penerbangan VIP.

Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
TNI AU: Skuadron Tempur dan VIP akan Bertambah.

TNI AU ingin menambah sejumlah skuadron tempurnya untuk memperkuat keamanan Republik Indonesia. Tak hanya skuadron tempur, beberapa skuadron lain seperti skuadron angkut dan helikopter juga akan diperkuat. "Nanti kuartal ketiga sampai tahun 2024, TNI AU akan menambahkan skuadron tempur bertambah menjadi 11 skuadron. Skuadron angkut berat dan angkut ringan bertambah menjadi 6 skuadron. Skuadron heli akan bertambah menjadi 4 skuadron, skuadron intai di mana sebelumnya hanya 1 skuadron bertambah menjadi 2 skuadron," ucap Kadispen TNI AU Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto saat peluncuran buku kumpulan foto skuadron TNI AU di FX Sudirman, Jakarta Selatan, Sabtu (14/2/2015).

Selain itu, Hadi juga menyebutkan Skuadron VIP akan ditambah juga. Nantinya skuadron itu akan menjadi 2 skuadron. "Kemudian VIP akan bertambah menjadi 2 skuadron," ucapnya.

Kemudian Hadi juga mengatakan TNI AU akan mengadakan pembaharuan beberapa unit pesawat. Hadi ingin pesawat tempur TNI AU mengikuti perkembangan zaman yaitu generasi 4,5. "Belum tahu jenis apa (pembaharuannya). Cuma kita berharap pesawat generasi 4,5 yang saat ini," ucap Hadi.

news.detik.com

Selasa, 20 Januari 2015

Rusia Ingin Indonesia Jadi Beli Jet Tempur Sukhoi Su-35

Pihak Rusia berharap pengadaan armada jet tempur Sukhoi Su-35 Flanker E untuk kebutuhan TNI AU bisa direalisasikan oleh pemerintah Indonesia. Hal itu disampaikan oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin. Sebelumnya Kementerian Pertahanan Republik Indonesia sudah pernah menyampaikan minatnya untuk membeli jet tempur Sukhoi Su-35 Flanker E buatan Rusia tersebut guna menggantikan armada pesawat F-5E/F Tiger II yang sudah uzur dan akan dipensiunkan.

Sukhoi Su-35 Flanker E. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-35 Flanker E.
Rusia Harap Sukhoi Su-35 Lengkapi Armada Pesawat Tempur Indonesia.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin mengatakan, Rusia berharap Indonesia menyetujui pembelian pesawat tempur jenis Sukhoi Su-35 untuk memperkuat pertahanan udara dalam negeri. "Kami berharap kesepakatan pembelian Su-35 bisa terjadi. Kerja sama militer antara kedua negara sudah berlangsung sejak lama dan kami ingin bisa terus berlanjut," ujar Galuzin di kediaman Duta Besar Rusia, Jakarta, Senin (19/1/2015).

Dia menambahkan, Rusia selalu siap jika memang nantinya Indonesia sepakat untuk membeli Su-35 demi menambah unit pesawat tempurnya. Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko tertarik mendatangkan pesawat tempur Sukhoi Su-35 untuk peremajaan armada tempur. Selain Sukhoi, Moeldoko juga mempertimbangkan JAS-39 Gripen (dari Swedia) dan F-16 Block 52+ Fighting Falcon (dari Amerika Serikat).

Kebutuhan akan pesawat-pesawat ini disebabkan pesawat F-5E/F Tiger II yang sekarang tergabung di Skuadron Udara 14 harus "pensiun" karena usia. Moeldoko sendiri mengatakan bahwa selain faktor teknis, faktor politik juga menentukan dalam memutuskan pembelian pesawat tempur tersebut.

Su-35 sendiri merupakan pesawat tempur generasi 4,5 buatan Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association. Jika pembelian jadi dilakukan, Su-35 akan melengkapi jajaran Sukhoi yang sudah dimiliki TNI sebelumnya. Jenis Sukhoi yang sudah dioperasikan oleh TNI AU adalah Su-27 dan Su-30. Su-27 masuk dalam Skuadron Udara 11 yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama Hasanuddin, Makassar.

Sementara itu, menurut Galuzin, Pemerintah Rusia menganggap Indonesia adalah negara penting untuk kerja sama pengembangan ekonomi dan militer. "Rusia melihat masih banyak bentuk kerja sama yang bisa dilakukan dengan Indonesia, seperti di bidang konstruksi, militer. Bahkan, jika Indonesia berkenan, kami juga siap membantu pengembangan energi nuklir untuk tujuan damai," ujar Galuzin.

Pada 2015, Indonesia dan Rusia akan melanjutkan proses kerja sama beberapa proyek, seperti proyek rel kereta api sepanjang 203 kilometer di Kalimantan Timur dan proyek pembangunan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalimantan Barat.

nasional.kompas.com

Rabu, 26 November 2014

3 Jet Tempur Sukhoi TNI AU Ditugaskan Awasi Laut Ambalat

Dua pesawat jet tempur Sukhoi milik TNI Angkatan Udara masih disiagakan di Bandara Juwata, Tarakan, Kalimantan Utara. Tiga jet tempur Sukhoi tersebut ditugaskan untuk mengawasi kawasan perairan Ambalat yang berbatasan dengan wilayah Malaysia.

Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Tiga Sukhoi TNI AU Dikirim ke Tarakan Jaga Perbatasan RI-Malaysia.

Tiga pesawat Sukhoi milik TNI Angkatan Udara sejak Senin (24/11/2014), disiagakan di Pangkalan Terbang Juwata, Tarakan, Kalimantan Utara. Ketiga pesawat itu disiagakan untuk mengawasi wilayah Laut Ambalat yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsma TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, ketiga pesawat itu diterbangkan dari Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar. "Mereka punya latihan rutin di Tarakan, Makassar, dan sejumlah wilayah lain," kata Hadi, Selasa (25/11/2014).

Hadi membantah jika penempatan itu berkaitan dengan aktivitas kapal dan pesawat milik Malaysia. Menurut dia, penempatan itu hanya merupakan bagian dari operasi rutin yang sering dilaksanakan TNI AU. "Latihan rutin ya, jadi bukan hanya untuk menghalau. Sampai sekarang masih di sana (Tarakan)," katanya.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Fuad Basya mengatakan, sejak dipimpin Jenderal Moeldoko, TNI AL dan TNI AU diperintahkan untuk melaksanakan operasi gabungan. Operasi itu termasuk ke dalam operasi pengamanan wilayah perbatasan dan pulau terluar Indonesia yang rutin digelar setiap tahunnya. "Jadi ada atau tidak ada ancaman, kita tetap standby. Sinergi itu dilakukan agar apabila ada hal-hal yang mengancam wilayah perbatasan dapat langsung kita kejar," ujarnya.

Fuad membenarkan jika pada awal November 2014 lalu, sebuah kapal perang milik Malaysia sempat masuk ke dalam wilayah perbatasan Indonesia. Namun, insiden kapal yang masuk wilayah perbatasan itu, menurut dia, tak hanya dilakukan Malaysia. Kapal Indonesia pun kerap melakukan hal yang sama. "Biasanya kan mereka patroli. Kalau sudah patroli itu terkadang terbawa arus. Nah, masing-masing pihak biasanya akan saling mengingatkan agar tidak masuk lebih ke dalam," ujarnya.

www.tribunnews.com

Selasa, 04 November 2014

Jet Tempur TNI AU Paksa Mendarat Pesawat Jet Asing Di Lanud El Tari Kupang

Dua jet tempur Sukhoi TNI AU berhasil menyergap dan memaksa mendarat (Force Down) sebuah pesawat jet jenis Gulfstream IV dengan no HZ-103 di Pangkalan Udara TNI AU El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pesawat jet yang dioperasikan oleh Saudi Arabian Airlines tersebut diduga memasuki kawasan udara Indonesia tanpa izin. Saat berita ini diturunkan, pilot dan 6 orang crew pesawat sedang menjalani pemeriksaan terkait flight clearance untuk melintasi ruang udara Indonesia.

Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Pesawat Sukhoi TNI AU Paksa Jet Arab Saudi Mendarat Darurat.

Pesawat tempur Sukhoi 27/30 TNI AU memaksa pesawat jet pribadi jenis Gulfstream yang dioperatori Saudi Arabian Airlines mendarat di lapangan udara El Tari, Kupang, karena diduga menyalahi perizinan. Penyergapan dan pemaksaan pesawat mendarat sempat menimbulkan aksi kejar-kejaran dengan kecepatan suara. Pesawat Sukhoi TNI AU tercatat sempat menyentuh kecepatan 1.700 kilometer per jam.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara, Mersekal Pertama TNI, Hadi Tjahjanto, menceritakan pesawat jet pribadi jenis Gulfstream IV dengan no HZ-103 berangkat dari Singapura menuju Darwin Australia sebelum menuju tujuan akhir Brisbane, Senin (3/11/2014). "Pesawat dari Singapura dicurigai tidak memiliki surat perizinan memasuki wilayah Indonesia oleh Kosek Hanudnas I Halim Perdanakusuma sejak melintasi wilayah udara kepulauan Riau dan memasuki Kalimantan dengan rute penerbangan M-774 menuju Australia," jelasnya dalam rilis, Senin (3/11/2014).

Saat terbang di atas Kota Palangkaraya tanggung jawab pengawasan diserahkan pada Kosek Hanudnas II di Makasar. Sebelum disergap, ATC Ujung Pandang menanyai clearance dan dijawab dengan menyebutkan izin penerbangan No. 5042+AUNBLN+DAU3010+2014. "Setelah di periksa ulang ternyata nomor tersebut adalah perijinan melintas bagi pesawat haji jenis Boeing 747-400," tambahnya.

Saat ditanya berulang, pesawat malah menambah kecepatan dari 0.75 Mach menjadi 0.85 Mach. Pengendali operasi pertahanan udara di Popunas Jakarta dan Posek II Makasar menilai pesawat tersebut berniat kabur secepatnya keluar dari wilayah NKRI menuju Australia. Aksi pengejaran lantas dimulai. Sebanyak dua pesawat Sukhoi Su-30 MK2 TNI dengan call sign ‘Thunder Flight’ disiapkan dengan bahan bakar penuh dan amunisi lengkap, termasuk rudal udara ke udara canggih R-73 Archer untuk menyergap. Pada pukul 12.12 WIB kedua pesawat tinggal landas mengejar pesawat target. Saat itu posisi pesawat target 200 km di selatan Makassar dengan kecepatan 0.80 M (864 kmpj) dengan ketinggian 41 ribu kaki.

Tahu bila dikejar, pesawat Gulfstream meningkatkan kecepatan dari 0.74 Mach (700 kmpj) menjadi 0.85 Mach (920 kmpj). Namun, Sukhoi mengejar dengan kecepatan suara yaitu antara 1.3 – 1.55 Mach (1400- 1700 kmpj). Pengejaran dilakukan sampai melewati El Tari, Kupang dan berhasil mendekati pesawat tersebut di sekitar 85 Nm atau 150 km dari Kupang, mendekati perbatasan wilayah udara Timor Leste. Crew pesawat Gulfstream IV lantas diperintahkan berbelok ke kanan menuju Lanud El Tari Kupang. Akhirnya pukul 13.25 WIB pesawat dari Saudi Arabia tersebut mendarat dan tujuh menit kemudian disusul Sukhoi. "Pesawat dipaksa mendarat karena awaknya harus diperiksa oleh personel TNI AU sebab tertangkap basah masuk wilayah udara Indonesia tanpa izin dokumen flight clearance," jelas Hadi.

Pesawat Gulfstream IV lantas diparkir di Apron Lanud El Tari. Identifikasi mendapati penerbang adalah Capt. Pilot Waleed Abdulaziz M dengan total kru sebanyak 6 orang dan penumpang 7 orang. Selanjutnya pukul 13.30 WIB captain beserta 6 orang crew pesawat dibawa ke ruang VIP Room Lanud El Tari dan diinterogasi tentang tidak adanya dokumen. Saat bersamaan tujuh orang tetap di dalam pesawat. "Pesawat Gulfsteram dilepas otoritas penerbangan Singapura tanpa diberi informasi tentang persyaratan flight clearance untuk melintasi ruang udara Indonesia bagi pesawat tak terjadwal," katanya soal hasil penyelidikan.

www.solopos.com

Senin, 03 November 2014

Pabrikan Jet Tempur Eurofighter Typhoon Gelar Diskusi Perkembangan Penerbangan Militer Di Jakarta

Pabrikan jet tempur Eurofighter Typhoon menggelar diskusi perkembangan industri kedirgantaraan dan penerbangan militer di area Car Free Day, Jl. M. H. Thamrin, Jakarta Pusat pada hari Minggu, 2 Nopember 2014. Seorang test pilot Eurofighter Typhoon membeberkan keunggulan jet tempur yang diproduksi perusahaannya dalam acara diskusi tersebut. Eurofighter Typhoon termasuk sebagai salah satu kandidat jet tempur yang dipertimbangkan oleh Kementrian Pertahanan dan TNI AU untuk menggantikan armada jet tempur F-5 yang akan dipensiunkan.

Jet Tempur Eurofighter Typhoon. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Jet Tempur Eurofighter Typhoon.
Mengenal Pesawat Tempur Eurofighter yang Dibidik Indonesia.

Pabrikan pesawat tempur Eurofighter menggelar sosialisasi perkembangan industri kedirgantaraan dan penerbangan militer. Acara ini digelar di area Car Free Day, Jl. M. H. Thamrin, Jakarta Pusat pada Minggu (2/11/2014). Hadir dalam acara ini perwakilan dari Eurofighter Direktur Export, Joe Parker dan Capability Development Manager, Paul Smith.

Selain diikuti pengunjung Car Free Day, acara ini juga diikuti komunitas peminat aviasi dan militer Indonesia. Dalam diskusi tersebut, Joe mengatakan, kehadiran Eurofighter dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi Indonesia. Selain itu, pihaknya sudah memiliki kerjasama dengan industri penerbangan Indonesia, PT Dirgantara sejak lama. "Indonesia sudah bekerjasama dengan Airbus Group, tidak hanya sebatas komersial tapi juga militer. Ini juga memberikan potensi lapangan pekerjaan industrial dan teknik yang bernilai tinggi dan berkelanjutan. Saya harap Eurofighter bisa menjaga angkasa Indonesia," tutur Joe.

Sementara itu, Paul yang pernah menjadi test pilot Eurofighter Typhoon menjelaskan, bahwa pesawat swing role ini paling tangguh dan andal dibanding pesawat tempur negara lain. Sejumlah perangkat canggih ditempatkan di pesawat tempur pada 4 negara yakni Inggris, Jerman, Spanyol dan Itali ini. "Eurofighter Typhoon sangat unggul baik dari segi kecepatan, power, lincah dan dia bisa terbang lebih tinggi dari pesawat-pesawat lain. Pilot sendiri bisa fokus di peperangan udara dan darat tanpa memerhatikan sekeliling dia. Ia bisa mengantisipasi ancaman dari arah lain," cakap Joe yang mengenakan seragam pilot ini.

Kementrian Pertahanan dan TNI Angkatan Udara hingga kini masih mengkaji calon pengganti pesawat tempur F-5 yang akan di pensiunkan. Sejumlah pilihan sudah dilirik seperti Sukhoi Su-35 dari Rusia, Dassault Rafale dari Perancis, JAS Grippen dari Swedia serta pesawat tempur asal Amerika. Sementara Eurofighter Typhoon diusulkan PT Dirgantara Indonesia karena pihak produsen sangat mungkin berbagi dalam hal transfer teknologi dan juga lisensi suku cadang. Penggantian pesawat F-5 sendiri sudah disusun pada RPJMN 2015-2019 yang direncanakan sebanyak 12 unit.

Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, pembelian Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) harus berperan meningkatkan peran industri dalam negeri. Pada tahun 2012, pemenuhan alutsista dalam negeri mencapai 15,8%. Ditargetkan pada tahun 2019, Industri Pertahanan dalam negeri mampu memenuhi 50% kebutuhan alutsista TNI.

news.liputan6.com

Rabu, 29 Oktober 2014

Jet Tempur TNI AU Kembali Lakukan Force Down Terhadap Pesawat Asing

Aksi force down (pemaksaan untuk mendarat) kembali dilakukan jet tempur Sukhoi TNI AU terhadap pesawat asing yang tanpa izin memasuki wilayah udara Indonesia. Kali ini sebuah pesawat dari Singapura yang dipaksa untuk mendarat di Pangkalan Udara TNI AU Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Aksi force down tersebut dilakukan 2 unit jet tempur Sukhoi TNI AU di wilayah udara Kepulauan Natuna.

Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Lagi, Sukhoi Su-27/30MKI paksa mendarat pesawat terbang asing.

Dalam sepekan terakhir ini, Sukhoi Su-27/30MKI Flankers dari Skuadron Udara 11, telah dua kali diterbangkan untuk mencegat dan berhasil memaksa mendarat pesawat terbang asing yang melanggar kedaulatan udara nasional. Kali ini, pesawat terbang asing itu adalah pesawat terbang sipil Beechcraft 9L bernomor registrasi Singapura, VH-PKF, dalam rute penerbangannya dari Cebu (Filipina) ke Seletar (Singapura). VH-PKF diketahui dikendalikan otoritas penerbangan Singapura. Dia dicegat alias diintersepsi dua Sukhoi Su-27/30MKI Flankers di atas perairan Laut China Selatan, yaitu di Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau. "Pesawat yang dicurigai terbang di atas wilayah Indonesia tanpa ijin pemerintah Indonesia ini terbang pada ketinggian sekitar 20.000 kaki dari permukaan laut dengan kecepatan 250-350 knot perjam," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto, di Jakarta, Selasa (28/10/2014).

Menurut dia, satuan Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I berkedudukan di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, di bawah pimpinan panglimanya, Marsekal Pertama TNI Fahru Zaini, saat itu tengah melaksanakan latihan Pertahanan Udara Nasional Tutuka. Karena itulah, kedua Flankers itu segera dapat menangkap sasaran dan pesawat terbang tak dikenal itu disergap dan dipaksa mendarat.

Kata Tjahjanto, penyergapan dimulai pada pukul 07.56 WIB, Selasa ini, setelah komando satuan itu menerima informasi ada pesawat terbang tanpa flight clearance melintas dari Pos Sektor Pertahanan Udara I/Halim Perdanakusuma, yang dideteksi radar militer Indonesia. Rute yang ditempuh --berdasarkan tangkapan radar itu-- adalah Seletar-Cebu pada ketinggian 25.000 kaki dari permukaan laut, dengan kecepatan 214 knot yang dikendalikan ATC Singapura. "Segera dua Flankers, call sign Klewang Flight, terdiri TS 3008, dengan pilot Letnan Kolonel Penerbang Tamboto dan tandemnya, Kapten Penerbang Fauzi, dan TS 2704 dengan penerbang Kapten Penerbang Gusti lepas landas dari Batam menuju sasaran," katanya.

Namun pesawat terbang tak dikenal itu tidak terkejar karena jarak sudah jauh. Pukul 11.36 WIB, pesawat terbang yang sama ditangkap kembali radar Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I pada posisi di utara Pontianak. "Kembali Klewang Flight terbang dari Batam menuju sasaran," kata Tjahjanto.

Pesawat terbang sasaran itu ditemukan di tengah laut, di selatan Kepulauan Natuna, yang lalu diidentifikasi secara visual dan secara radio selama 15 menit sebelum digiring mendarat secara paksa di Pangkalan Udara TNI AU Supadio. Pesawat terbang pelanggar wilayah udara nasional itu mendarat pada pukul 13.23 WIB di Pangkalan Udara TNI AU Supadio. "Awaknya langsung diinterogasi personel Pangkalan Udara TNI AU Supadio, Pontianak, yang merupakan satuan di bawah Komando Operasi Udara I TNI AU, yang meliputi Indonesia bagian barat," katanya.

"Yang pokok, meskipun pesawat terbang itu di bawah kendali otoritas penerbangan Singapura, namun karena ruang udara itu wilayah kedaulatan Indonesia, maka semua penerbangan harus memiliki ijin penerbangan lengkap dari pemerintah Indonesia. Ini bukti kesiapsiagaan kami, 24 jam sehari tanpa henti sepanjang tahun, untuk menegakkan kedaulatan dan hukum di udara demi kepentingan dan keamanan nasional Indonesia," kata Tjahjanto.

www.antaranews.com

Kamis, 23 Oktober 2014

Jet Tempur Sukhoi TNI AU Paksa Mendarat Pesawat Australia

2 unit jet tempur Sukhoi milik TNI AU telah memaksa mendarat sebuah pesawat yang terbang dari Australia tujuan Filipina. Pesawat kecil bermesin turboprop jenis Beech Craft BE55 tersebut dipaksa mendarat di Pangkalan Udara TNI AU Sam Ratulangi, Manado pada Rabu, 22 Oktober 2014.

Jet Tempur Sukhoi TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Alasan TNI AU Kerahkan Sukhoi untuk Paksa Turun Pesawat Australia.

Dua jet tempur TNI Angkatan Udara jenis Sukhoi dari Squadron 11 Makassar mencegat sebuah pesawat jenis Beech Craft BE55 ketika berada di atas wilayah Kupang, Rabu (22/10/2014). "Pesawat itu tidak memiliki izin melintas terbang di wilayah RI, jadi terpaksa dicegat," ujar Komandan Pangkalan Udara Sam Ratulangi (Lanudsri), Manado, Kolonel Penerbang Hesly Paat.

Berdasarkan informasi awal, diketahui bahwa pesawat yang dipiloti Jaclin Grame dan kopilot Maclen Richard Wayne terbang dari Australia dan hendak menuju ke Filipina. "Jadi radar kami mendeteksi adanya pesawat yang memasuki wilayah RI. Karena tidak memiliki izin melintas, maka radar memberi peringatan," kata Paat.

Akibat perintah untuk kembali tidak diindahkan oleh pilot, terpaksa dua jet tempur dikirim untuk memaksa pesawat tersebut mendarat. Bandara Sam Ratulangi dipilih sebagai lokasi pendaratan karena tujuan mereka ke Filipina. Sejauh ini tidak ditemukan barang-barang yang mencurigakan di dalam pesawat tersebut. "Untuk sementara, kami mengamankan barang-barang pribadi mereka berupa laptop dan barang lainnya," tambah Paat.

Pesawat berbadan kecil tersebut kini terparkir di Lanud Sam Ratulangi di samping dua pesawat Sukhoi yang memaksanya turun. Sementara kedua penumpangnya sedang diperiksa secara intensif.

regional.kompas.com

Senin, 20 Oktober 2014

Gerombolan Bersenjata Penerobos Lanud Husein Sastranegara Berhasil Dilumpuhkan

Sekelompok orang bersenjata dilaporkan berusaha menerobos dan memasuki kawasan TNI AU Husein Sastranegara dan berusaha menguasai landasan pacu (runway). Berkat kesigapan dan kesiapan pasukan Pertahanan Pangkalan, gerombolan bersenjata tersebut berhasil dilumpuhkan dan dilucuti senjatanya.

Pangkalan TNI AU Husein Sastranegara. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Pangkalan TNI AU Husein Sastranegara.
Gerombolan Bersenjata Mencoba Terobos Landasan Pacu Lanud Husein Sastranegara.

Berdasarkan Informasi Intelijen Sejumlah Gerombolan Bersenjata berusaha masuk Pangkalan TNI AU Husein Sastranegara, tepatnya di landasan Run Way. Setelah menerima Laporan dari Perwira Jaga Lanud Husein Sastranegara, Komandan Lanud Husein Sastranegara Kolonel Pnb I Nyoman Trisantosa. S.IP, M.Tr (Han), segera memerintahkan jajarannya bersiaga penuh untuk mengantisipasi hal terburuk.

Perundingan yang dilakukan oleh Kepala Dinas Operasi Lanud Husein Sastranegara Letkol Nav MD. Irman F kepada Gerombolan Bersenjata juga berlangsung alot, dan mereka pun tetap berusaha merangsek masuk dengan alasan menyampaikan aspirasinya kepada Pejabat Negara yang akan Landing di Lanud Husein Sastranegara. Situasipun makin mengeruh hingga menyebabkan terganggunya arus penerbangan yang ada.

Melihat kejadian tersebut segera, Danlanud Husein Sastranegara memerintahkan personilnya untuk menertibkan hingga tidak terjadi anarkisme. Bersama 1 Regu tim Hanlan yang diterjunkan untuk mengatasi gerombolan tersebut maka dengan cepat Gerombolan tersebut dapat dilumpuhkan dan senjata mereka pun berhasil dilucuti.

Skenario diatas adalah merupakan potongan kejadian yang dilatihkan dalam rangka Latihan Hanlan (Pertahanan Pangkalan) 2014 yang di gelar di Lanud Husein Sastranegara.

Menurut Danlanud Husien Sastranegara saat membuka Latihan tersebut mengatakan bahwa Skenario ini sengaja diciptakan seperti aslinya agar para pelaku benar-benar menjiwai dan memahami tahapan dan penanggulangan jika hal tersebut benar terjadi di Pangkalan kita. Danlanud menambahkan bahwa Latihan ini selain memang menjadi program kerja Staf Operasi Lanud Husein Sastranegara juga untuk mengingat kembali akan prosedur Pertahanan Pangkalan.

www.tni.mil.id

Senin, 29 September 2014

TNI AU Tampilkan Sistem Rudal Pertahanan Udara Terbaru Pada HUT TNI

Skyshield Gun Missile 35mm MK-2 adalah sistem rudal pertahanan udara terbaru yang dimiliki kesatuan Korpaskhas TNI AU. Sistem rudal yang mengkombinasikan auto twin canon 35 mm dengan rudal anti seragan udara jarak pendek ini dipesan pemerintah Indonesia dari perusahaan Rheinmetall Air Defence Swiss pada tahun 2019. Menurut rencana, sistem persenjataan anti serangan udara tersebut bakal ditampilkan juga pada HUT ke-69 TNI di Surabaya.

Armada Skyshield Gun Missile 35mm MK-2 TNI AU. PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Armada Skyshield Gun Missile 35mm MK-2 TNI AU.
Ini Misil Canggih Terbaru TNI AU.

Puncak peringatan HUT ke-69 TNI di Surabaya, Jatim, akan menjadi ajang memamerkan alutsista terbaru milik TNI. Misal, TNI Angkatan Udara akan memamerkan misil terbaru.

Menurut Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto, misil terbaru yang bakal diperlihatkan ke publik di Surabaya adalah senjata pertahanan udara yang dimiliki Korpaskhasau, yakni Skyshield Gun Missile 35mm MK-2. Ini merupakan sistem pertahanan udara titik (Short Range Air Defence/SHORAD) yang dikembangkan oleh perusahaan Swiss Oerlikon Contraves, salah satu perusahaan persenjataan Rheinmetall Jerman.

Sistem senjata Skyshield Gun Misille terdiri dari dua unit meriam revolver kaliber 35mm (1,38 inchi), satu sistem sensor pengendali/radar, dan pos komando secara terpisah. "Juga dilengkapi dengan dua rudal darat ke udara jenis Chiron buatan Korea Selatan yang sudah terintegrasi dengan Skyshield Gun Sistem, sehingga membuat jangkauan radar lebih luas dan efektif, sekaligus mengembangkan pertahanan titik menjadi pertahanan wilayah/area," paparnya, Minggu (28/9/2014).

Skyshield Gun Misille memiliki amunisi AHEAD (Advanced Hit Efficiency and Destruction) kaliber 35 mm yang dapat menyembur menjadi 202 pecahan dan membentuk semacam perisai (Metal Spin-stabilised Projectiles) saat mendekat target. "Sehingga kemungkinan target lolos dari sasaran peluru hanya 10 persen," tandas Hadi.

nasional.sindonews.com

Rabu, 24 September 2014

Radar Militer TNI AU Akan Dioperasikan Di Nunukan, Kalimantan Utara

TNI AU akan segera mengoperasikan radar militer yang difungsikan untuk mengawasi ruang udara di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan. Instalasi radar ini di tempatkan di Pulau Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, dan segera dioperasikan pada bulan November 2014.

Radar TNI AU. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Radar TNI AU.
TNI AU bangun radar pemantau perbatasan di Nunukan.

Sebentar lagi "mata dan telinga" militer Indonesia akan bertambah tajam sejalan pembangunan instalasi radar bergerak di Pulau Nunukan, Kalimantan Utara. Arah hadap instalasi radar itu sengaja ditujukan ke perbatasan Indonesia dengan negara bagian Sabah, Malaysia Timur itu, untuk mencegah pelanggaran kedaulatan ruang udara nasional.

Asisten Operasi Kepala Staf TNI AU, Marsekal Madya TNI Sudipo Handoyo, kepada wartawan, setiba di Bandara Nunukan, Senin (15/9/2014), menyatakan, "Radar itu diupayakan beroperasi pada November 2014."

Untuk menempatkan instalasi strategis itu, diperlukan lahan 10 Hektare walau radarnya adalah radar bergerak (mobile radar), yang juga berarti dia bisa bersifat mobil yang dapat dipasang dimana saja.

Selain instalasi radar --umumnya setingkat detasemen (Satuan Radar TNI AU) yang dipimpin seorang mayor senior atau letnan kolonel-- instalasi itu juga dilengkapi dua satuan setingkat kompi Korps Pasukan Khas TNI AU dan Artileri Pertahanan Udara.

Selama ini TNI memiliki Komando Pertahanan Udara Nasional yang dipimpin seorang marsekal muda TNI dan penggunanya adalah presiden Indonesia melalui panglima TNI. Dalam organisasinya, komando yang berkewajiban dan berkewenangan mengintersepsi dan memaksa plus melumpuhkan pelanggar kedaulatan wilayah udara nasional itu dibagi ke dalam empat Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional yang dipimpin seorang marsekal pertama TNI.

www.antaranews.com

Minggu, 27 Juli 2014

Simulator Pesawat Grob G120 TP-A Lengkapi Sarana Latih Lanud Adisutjipto

Simulator pesawat latih Grob G120 TP-A kini sudah dimiliki oleh Pangkalan Udara Adisutjipto Yogyakarta. Simulator pesawat ini berguna untuk mengasah kemampuan dan keterampilan para siswa penerbang sebelum para siswa tersebut terbang dengan pesawat terbang yang sesungguhnya. Pesawat Grob G120 TP-A adalah pesawat latih buatan Jerman.

Armada Pesawat Grob G120 TP-A TNI AU. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Armada Pesawat Grob G120 TP-A TNI AU.
Lanud Adisutjipto miliki simulator pesawat Grob.

Pangkalan Udara Adisutjipto Yogyakarta memiliki simulator pesawat latih Grob G120 TP-A untuk membina kemampuan dan keterampilan para siswa penerbang. "Keberadaan simulator pesawat latih Grob G120 TP-A itu bertujuan menyiapkan siswa agar lebih siap dalam memasuki tahapan pendidikan terbang yang sesungguhnya," kata Komandan Lanud Adisutjipto Marsekal Pertama TNI Agus Munandar di Yogyakarta, Kamis (24/7/2014).

Pada peresmian gedung dan simulator pesawat latih Grob G120 TP-A di Skadik 104, ia mengatakan hal itu dimaksudkan untuk membentuk kebiasaan dan keselamatan sebelum memasuki tahap bina terbang. Menurut dia, kehadiran pesawat latih Grob G120 TP-A merupakan jawaban atas tantangan dari proses modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) di TNI AU yang sedang dan akan terus berjalan.

Tantangan yang semakin berat tersebut menjadikan Lanud Adisutjipto khususnya Wingdik Terbang sebagai pelaksana pendidikan Sekolah Penerbang juga harus mempersiapkan diri sedini mungkin. "Tahapan pendidikan yang sekarang berjalan merupakan upaya untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang diharapkan," katanya.

Ia mengatakan pesawat latih Grob adalah pesawat buatan Jerman yang digunakan untuk latih dasar. Pesawat itu merupakan pesawat latih terbaru TNI AU yang tiba di Lanud Adisutjipto setahun lalu. Keberadaannya menggantikan pesawat latih Bravo. "TNI AU memilih pesawat Grob untuk pesawat latihnya karena pesawat tersebut dinilai yang terbaik untuk sekolah penerbang. Pesawat Grob mampu melakukan manuver yang cukup ekstrem," katanya.

Komandan Skadik 104 Letkol Pnb Rizaldy Efransa mengatakan gedung simulator pesawat latih Grob G120 TP-A itu memiliki enam unit simulator. Keberadaan simulator itu akan bermanfaat untuk membina kemampuan dan keterampilan para siswa penerbang khususnya sebelum mereka terbang dengan pesawat terbang yang sesungguhnya. Menurut dia, keberadaan simulator itu dapat mempermudah dan menjadikan proses pembelajaran dapat lebih efektif dan efisien termasuk mengantisipasi situasi "emergency". "Dengan adanya simulator tersebut keahlian dan kemampuan para pilot pesawat jet tempur TNI AU dapat terus diasah dan ditingkatkan dengan efektif dan efisien," katanya.

www.antaranews.com

Jumat, 13 Juni 2014

TNI AU Siapkan Landasan Pesawat Tempur Di Perbatasan Malaysia Di Kalimantan Barat

Lapangan pesawat terbang yang berlokasi di Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, akan difungsikan kembali sebagai lokasi pendaratan dan tinggal landas pesawat tempur milik TNI-AU. Lapangan terbang peninggalan Belanda yang berada dekat dengan perbatasan Malaysia tersebut akan memiliki landasan pacu dengan panjang 2.500 meter yang bisa melayani berbagai jenis pesawat tempur milik TNI hingga jenis pesawat berbadan lebar.

Jet Tempur Sukhoi TNI-AU. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Jet Tempur Sukhoi TNI-AU.
TNI AU Bangun Landasan Pacu Pesawat Tempur di Perbatasan Malaysia.

Pasca pembangunan tiang pancang dan manuver helikopter Malaysia di perairan Tanjung Datok, Kalimantan Barat, TNI AU berencana memperkuat pertahanan udara. Landasan pacu eks peninggalan Belanda bakal difungsikan kembali untuk pendaratan pesawat tempur. "Ini instruksi Panglima TNI untuk memfungsikan kembali landasan pacu di Paloh, di perbatasan Malaysia menjadi landasan pangkalan AU," kata Asisten Operasi KASAU, Marsekal Muda Sudipo Handoyo, kepada wartawan saat berada di Lanud Supadio Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (9/6/2014).

Di Paloh, memang memiliki landasan pacu sepanjang 750 m dan telah dibersihkan dalam 5 hari terakhir ini. Landasan pacu itu sendiri dibangun sekitar 1978 silam dan berada dalam posisi strategis di perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia. Sudipo menerangkan, di Temajuk, Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, TNI AU juga akan menempatkan 500 personelnya sebagai penambahan kekuatan di pangkalan TNI AU. "Akan ada 500 personel di Temajuk setingkat batalion. Penguatan ini sebagai bentuk antisipasi provokasi dari Malaysia. Kita lakukan survei untuk analisis sejauh mana kekuatan yang dibutuhkan," ujar Sudipo.

Tidak hanya untuk TNI AU, lahan seluas 100 hektar juga tengah dipersiapkan untuk lahan markas TNI AL dan TNI AD. Dengan begitu, seluruh satuan akan ditempatkan di perbatasan utara Kalimantan Barat dengan Malaysia. "Landasan pacu Pangkalan AU yang kita benahi nanti akan memiliki panjang hingga 2.500 meter dan bisa didarati Boeing," tegasnya.

Pemerintah RI sempat memprotes pembangunan 3 tiang pancang suar oleh Malaysia di perairan Tanjung Datok, Sambas, Kalimantan Barat. Nelayan pun takut untuk melaut pasca pembangunan itu. Akhirnya melalui pertemuan dan pembicaraan kedua negara baru-baru ini, Malaysia menyepakati untuk menghentikan pembangunannya. Kedatangan Sudipo di Lanud Supadio, turut didampingi oleh Pangkoops AU 1 dan Dankorpaskhas serta Pangdam XII Tanjungpura Mayjend TNI Ibrahim Saleh. Selanjutnya dia bersama rombongan menuju ke Temajuk, Kabupaten Sambas, untuk mengecek lahan pembangunan pangkalan AU di wilayah itu

news.detik.com

Rabu, 11 Juni 2014

16 Jet Tempur F-16 Didatangkan Bertahap Ke Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru

16 unit pesawat jet tempur F-16 Fighting Falcon akan berpangkalan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Provinsi Riau. Skuadron jet tempur F-16 Fighting Falcon tersebut dijadwalkan akan didatangkan secara bertahap dari Pangkalan Udara TNI-AU Iswahyudi di Madiun, Jawa Timur.

F-16 Fighting Falcon - TNI-AU. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
F-16 Fighting Falcon - TNI-AU.
Danlanud: Skuadron F-16 datang bertahap ke Pekanbaru.

Komandan Lapangan Udara (Danlanud) Angkatan Udara Republik Indonesia Roesmin Nurjadin menyatakan, pesawat tempur Skuadron F-16 Fighting Falcon sebanyak 16 unit akan datang bertahap ke daerah tersebut. Hal itu karena Lanud di Madiun sedang dibangun beberapa fasilitas tambahan seperti hangar pesawat. "Juni atau Juli empat unit F-16 akan tiba di Madiun, setelah itu pada Oktober datang lagi empat unit dan diperkirakan November atau Desember, empat unit pertama akan berpangkalan di Pekanbaru," kata Danlanud Roesmin Nurjadin Kol Pnb Kahiril Lubis di Pekanbaru, seperti dilansir Antara, Selasa (10/6/2014).

Selanjutnya, kata Kahiril, empat unit kedua akan datang juga pada awal tahun depan yang kemudian sepanjang tahun 2015 diperkirakan sudah ada 16 unit akan berpangkalan di "Kota Bertuah", julukan Kota Pekanbaru. Kahiril mengatakan, pesawat yang didatangkan dari Amerika Serikat tersebut mangkalnya ke Kota Madiun, Jawa Timur karena di tempat tersebut ada Skuadron 3 F-16 Fighting Falcon yang memiliki tipe serupa dengan yang akan berpangkalan di Kota pekanbaru. "Karena di sana perlu standarisasi pesawat sesuai dengan fasilitasnya yang tipe A," kata Kahiril.

Saat ini, tambahnya, Roesmin Nurjadin sedang proses untuk menjadikan landasan dari tipe B ke tipe A dan perkembangannya saat ini tengah dibangun hanggar dan "shelter" pesawat. Lalu ketika empat pesawat pertama datang ke Pekanbaru tiba, akan ada proses penyambutan sekaligus peresmian pesawat. "Biasanya proses peresmian dilakukan dengan penyambutan," ungkap Kahiril.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI IB Putu Dunia pada saat peninjauannya ke Pekanbaru pada Februari lalu mengatakan, F-16 bertujuan untuk mengawasi ruang udara kawasan di Selat Malaka secara lebih efektif. "Kita memantau langsung pembangunan skuadron 16 dan sejauh ini sangat memuaskan. Semua peralatan lengkap dan ke depan kita berharap, Skuadron F-16 ini sebagai pilar terdepan kita untuk mengamankan kawasan kedaulatan NKRI," ujar Marsekal TNI IB Putu.

TNI AU mendatangkan F-16 Fighting Falcon blok 25 bekas Perang Irak, yang direncanakan akan ditingkatkan kapasitasnya (upgrade) ke blok 52+. Meskipun hibah dari Amerika Serikat, pemerintah tetap mengeluarkan biaya untuk "upgrade" dengan total sekitar 400 juta dolar AS memakai skema pembayaran "foreign military sales".

www.merdeka.com