Cari di Blog Ini

Selasa, 10 Januari 2012

Gubernur Sulawesi Utara pimpin Gelar Pasukan pengamanan Asean Tourism Forum (ATF)

Gelar Pasukan Asean Tourism Forum Manado
Gelar Pasukan Asean Tourism Forum Manado
| PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. Gubernur Sulawesi Utara pimpin Gelar Pasukan pengamanan Asean Tourism Forum (ATF)
Gelar Pasukan Asean Tourism Forum Manado. Gubernur Sulawesi Utara pimpin Gelar Pasukan pengamanan Asean Tourism Forum (ATF).
TNI gelar pasukan pengamanan ATF

TNI melakukan upacara gelar pasukan untuk pengamanan "Asean Tourism Forum" (ATF) di Manado, Sulawesi Utara, 8-16 Januari 2012. Gelar pasukan yang juga untuk pengamanan wilayah Sulut tersebut dipusatkan di apron Bandara Sam Ramtulangi Manado, Sabtu, dipimpin Gubernur Sinyo Sarundajang dan dihadiri pejabat TNI dan Polri.

Para pejabat itu antara lain Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut VIII Manado Laksamana Pertama TNI Sugianto, Kapolda Sulut Brigjen Pol Carlo Tewu, Komandan Korem 131 Santiago Kolonel Inf Ad Almost Berd Maliogha dan Komandan Pangakalan TNI AU Sam Ratulangi Letkol Pnb Jorry Koloay.

Gubernur Sulut Sinyo Sarundajang mengatakan bangga melihat kesiapan jajaran TNI beserta seluruh pihak terkait dalam mendukung kegiatan ATF tersebut. "Saya mengapresiasi kesiapan ini dan hendaknya dapat diimplementasikan dengan baik," katanya.

Dia mengatakan, sejauh ini Sulut telah membuktikan diri sebagai salah satu daerah yang berhasil menjaga stabilitas keamanan.

Berbagai kegiatan regional, nasional maupun skala internasional sering dipercayakan untuk dilaksanakan di daerah ini seperti ATF. Kepercayaan ini merupakan bentuk penghargaan sekaligus pengakuan terhadap eksistensi Sulut terhadap mantapnya stabilitas daerah. "Keberhasilan ini tidak serta merta diperoleh dengan mudah, karena harus ada sinergi antarkomponen daerah, terutama peran aktif seluruh aparat keamanan, baik TNI maupun kepolisian," katanya.

Selain itu, kata dia, daerah ini bebas dari gangguan dan ancaman yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan yang telah terjalin baik selama ini. "Kondisi ini tentunya harus tetap terjaga dan terlembaga, serta menjadi bagian proses hidup masyarakat Sulut agar citra dan nama baik bangsa Indonesia di mata internasional tetap berkibar," kata Sarundajang.

Gubernur Sarundajang mengajak semua pihak terus bersinergi, memantapkan langkah kerja dan pengabdian untuk bangsa sehingga dapat mendukung kesuksesan ATF. "Karena Sulut mampu melaksanakannya, maka daerah ini siap menjadi bagian komunitas internasional menuju pintu gerbang Indonesia di kawasan Asia Pasifik," katanya.

www.antaranews.com

KRI Diponegoro (365)

KRI Diponegoro (365) adalah kapal perang jenis korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) yang dimiliki dan dioperasikan oleh TNI AL. Kapal perang KRI Diponegoro (365) dibangun di galangan kapal Schelde Naval Shipbuilding Belanda pada tahun 2004.
KRI Diponegoro (365). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Diponegoro (365)
KRI Diponegoro (365) bernomor lambung 365 yang tergabung dalam Satuan Tugas Maritim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Lebanon (Maritime Task Force/MTF UNIFIL), merupakan kapal perang tercanggih yang dimiliki TNI Angkatan Laut (AL). Komandan KRI Diponegoro-365, Letkol Laut Arsyad Abdullah di Beirut, Lebanon, Kamis, mengatakan, sangat bangga memiliki kapal tercanggih dan dipercaya sebagai bagian dari misi perdamaian PBB di Lebanon. KRI Diponegoro merupakan salah satu dari empat kapal perang kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) yang dibeli pemerintah Indonesia dari perusahaan galangan kapal Schelde Naval Shipbuilding Belanda pada 2004. Kapal perang KRI Diponegoro (365) memiliki panjang geladak utama 90 meter dan lebar 12,2 meter serta tinggi 8,2 meter, tiba di Indonesia pada 31 Agustus 2007 dan langsung bergabung di jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) TNI AL. Kapal yang memiliki kecepatan jelajah 25,2 knot atau setara dengan 40 kilometer per jam itu, dilengkapi senjata anti serangan udara, anti kapal atas air, anti kapal selam dan perang elektronika. "Tidak itu saja, kapal juga telah dilengkapi peralatan tempur standar seperti radar, antilacak sinyal dan cek otomatis kerusakan,? tutur Arsyad. KRI Diponegoro-365 secara rinci dilengkapi pemasangan lunas kapal (Kiel) 24 Maret 2005, selesai pembuatan/diluncurkan 16 September 2006, mulai bertugas 2 Juli 2007, kemampuan teknis bentuknya dirancang secara flexibility dan affordability sebagai Naval Patrol Vessel, mampu menembus segala cuaca. Kapal ini memiliki daya dorong 2 X 7.400 hp, kemampuan tempur atau persenjataan terdiri dari AAW/Anti Air Warfare (Anti Serangan udara), ASuW/Anti Surface Warfare (Anti kapal atas air), ASW/Anti Submarine Warfare (Anti Kapal Selam, W/Electronic Warfare (Perang Electronika), jumlah personel 80 orang. Untuk mengemban misi perdamaian PBB di Lebanon, KRI Diponegoro juga membawa satu ambulans dan satu helikopter Bell.
KRI Diponegoro (365) merupakan kapal pertama dari korvet kelas SIGMA milik TNI Angkatan Laut. KRI Diponegoro merupakan sebuah kapal korvet yang dibuat oleh galangan kapal Schelde, Belanda dimulai pada tahun 2005 khusus untuk TNI-AL. Bertugas sebagai kapal patroli dengan kemampuan anti-kapal permukaan, anti-kapal selam dan anti-pesawat udara.

Kontrak pembelian dan pembuatan KRI Diponegoro (365) dan KRI Hasanuddin (366) dilakukan pada bulan Januari 2004 dan efektif berlaku sejak 12 Juli 2004. Keduanya dibuat di galangan kapal Schelde Naval Shipbuilding (SNS), Vlissingen, Belanda. Peletakan lunas KRI Diponegoro dilakukan bersamaan dengan KRI Hasanuddin (366) pada tanggal 24 Maret 2005. KRI Diponegoro diletakkan lunasnya oleh Laksamana Muda Daradjatun Sutisna dan KRI Hasanuddin oleh Komodor Djoko Soerjanto. Upacara dimulainya perakitan kapal dilakukan Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Slamet Soebijanto pada 25 Agustus 2005.

Menggunakan nama Pangeran Diponegoro, salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang berjasa melawan Belanda dalam Perang Jawa 1825-1830. Begitu pula kapal-kapal dari kelas ini, dinamai menurut nama-nama pahlawan nasional, seperti Sultan Hasanuddin, Sultan Iskandar Muda, dan Frans Kaisiepo. Upacara penahbisan nama terhadap KRI Diponegoro dan KRI Hasanuddin dilakukan oleh KSAL Laksamana TNI Slamet Soebijanto pada tanggal 16 September 2006. Penamaan ini, menurut beberapa orang Indonesia yang hadir pada upacara tersebut merupakan lambang yang mewakili Presiden dan Wakil Presiden. Pangeran Diponegoro adalah pahlawan dari Jawa seperti tempat asal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Sultan Hasanuddin mewakili Wakil Presiden Jusuf Kalla yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Persenjataan

Torpedo
KRI Diponegoro (365) dilengkapi dengan torpedo 3A 244S Mode II/MU 90 yang dilengkapi dengan 2 peluncur torpedo tipe B515.

Peluru kendali
Dipasang dua tipe rudal di atas kapal ini, yaitu:
  • Peluru kendali anti kapal: MBDA Exocet varian terbaru MM40 block 2 yang mampu menjangkau target berjarak 180 km.
  • Peluru kendali darat ke udara: MBDA Mistral versi terbaru TETRAL. Mistral adalah sistem rudal pertahanan udara jarak pendek, yang dapat digunakan dari berbagai platform, bisa dari kendaraan di darat, kapal, helikopter, bahkan dengan konfigurasi jinjing ala Stinger.
Meriam
Meriam utama di posisi A dipasang Oto-Melara 76 mm buatan Italia. Sedangkan kanon ringan tambahan pada posisi B dipasang Auxiliary Gun 2 x 20 mm Vector G12.

Persenjataan elektronik
  • Sistem manajemen tempur Thales TACTICOS buatan Thales, sebuah perusahan hi-tech Belanda, spesialis dalam bidang disain dan produksi sistem integral untuk komando dan kontrol, sensor dan komunikasi. Sistem ini dikenal dengan nama Combat Management System (CMS). Keunggulan teknologi yang dikembangkan Thales kini menjadi standar pertahanan NATO.
  • Data Link: LINK Y Mk2 datalink system
  • Komunikasi elektronik: Thales/Signaal FOCON
  • Sistem Pengumpan: TERMA SKWS
  • Platform integrasi utama: Imtech UniMACs 3000 Integrated Bridge System
Sensor dan elektronis

Radar
Radar utama MW08 3D multibeam surveillance buatan Thales, sebuah radar dengan G-band, yang merupakan famili 3D multibeam jarak menengah (105 km) untuk survei, menentukan sasaran, dan penjejakan. MW08 ini dilengkapi dengan teknologi radar termutakhir yang pendeteksiannya serba otomatis. Radar ini juga dilengkapi dengan kontrol tembak untuk mengendalikan senjata terhadap sasaran permukaan. Ini juga diperkuat dengan radar kontrol tembak LIROD Mk2.

Sonar
Thales Kingklip frekuensi menengah aktif/pasif ASW hull mounted sonar.

Tenaga penggerak
KRI Diponegoro (365) dilengkapi dua buah mesin diesel V28-33D STC (sequintial turbo charging) diproduksi oleh MAN Diesel (Jerman) berkonfigurasi V 20 silinder. Mesin berkekuatan 8900 kW ini masing-masing menggerakan sebuah baling-baling yang bisa diatur kemiringan bilahnya melalui sebuah gir pengurang putaran satu tingkat. Mesin berbobot 46 ton ini berukuran panjang x lebar x tinggi = 7330 x 2100 x 3180 mm.

Penugasan

2007
  • 2 Juli, Bertempat di galangan kapal Royal Schelde, Belanda, KRI Diponegoro (365) secara resmi diserahkan oleh pemerintah Belanda kepada Departemen Pertahanan untuk selanjutnya diserahkan kepada TNI Angkatan Laut. KSAL sekaligus melantik pula komandan pertama kapal tersebut yang dijabat oleh Letkol (Laut) Arsyad Abdullah.
  • 8-11 Agustus, KRI Diponegoro (365) tiba di Riyadh, Arab Saudi dimana awak kapal melakukan bekal ulang logistik serta melakukan ibadah umrah ke Mekkah. Selanjut tanggal 11 Agustus, kapal melanjutkan pelayarannya ke Djibouti.
  • 30 Agustus, KRI Diponegoro tiba di perairan nusantara dan disambut oleh KSAL Laksamana TNI Slamet Soebijanto di atas kapal KRI Abdul Halim Perdanakusuma (355) yang berlayar di Selat Sunda. Selain itu didampingi oleh KRI Patimura (371), KRI Teuku Umar (385) dan KRI Lemadang.
  • 31 Agustus, KRI Diponegoro (365) tiba di Dermaga 115, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kedatangan kapal perang jenis korvet kelas Sigma disambut langsung oleh Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Agus Suhartono, SE bersama Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Moechlas Sidik, Kepala Staf Koarmabar Laksma TNI Budhi Suyitno, Komandan Lantamal III Laksma TNI Moch. Jurianto serta sejumlah pejabat teras Koarmabar lainnya.
  • 17 September, diadakan peresmian KRI Diponegoro (365) dan KRI DR Soeharso (990) di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang dengan mengundang ahli waris dari kedua pahlawan nasional tersebut.
  • 13 Desember, KRI Diponegoro (365) melakukan latihan perang di Laut Balikpapan dan pertama kalinya menembakkan meriam Oto-Melara 76 mm. Latihan ini melibatkan pula 15 KRI lainnya.
2009
April - 20 Oktober, KRI Diponegoro (365) menjadi bagian dari Garuda XXVIII-A tergabung dalam Satuan Tugas Maritim (Maritime Task Force/MTF) UNIFIL, di bawah komando Comander Task Force (CTF 448) yang bertugas di Lebanon.

wikipedia.org

Sabtu, 07 Januari 2012

Pengadaan Alutsista optimal libatkan industri persenjataan dalam negeri

Kapal Perang TNI
Kapal Perang TNI
| PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. Pengadaan Alutsista optimal libatkan industri persenjataan dalam negeri
Kapal Perang TNI PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. Pengadaan Alutsista optimal libatkan industri persenjataan dalam negeri.
Pengadaan Alutsista Terapkan Defense Support Economy

Kementerian Pertahanan menerapkan prinsip "defense support economy" dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan. Untuk itu Kemhan mengundang industri persenjataan nasional untuk turut serta dalam memenuhi kebutuhan persenjataan Tentara Nasional Indonesia.

Wakil Menteri Pertahanan Letjen Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan hal itu dalam kunjungan kerja ke Batam, Rabu (4/1), untuk melihat industri galangan kapal yang ada. Dalam kunjungan sehari itu, Wamenhan juga melihat fasilitas pemeliharaan dan perbaikan yang dimiliki TNI-AL di Mentingi, Tanjung Uban. "Sebagai bagian pembangunan "minimum essential force", pemerintah memutuskan untuk memperbaiki alutsista yang dimiliki TNI. Hanya saja penguatan pertahanan akan dilakukan sejalan dengan upaya penguatan ekonomi nasional," ujar Sjafrie.

Menurut Wamenhan, harapan bagi turut terdorongnya kegiatan ekonomi dalam pengadaan alutsista bukanlah sesuatu yang mengada-ada, karena industri pertahanan membutuhkan banyak tenaga kerja. Industri-industri galangan kapal yang ada di Batam misalnya, mempekerjakan banyak sarjana perkapalan dan juga lulusan sekolah menengah kejuruan bidang perkapalan.

Sjafrie melihat ada beberapa industri galangan kapal nasional yang mampu memenuhi kebutuhan kapal bagi TNI-AL. Salah satunya PT Palindo Jaya yang sudah menghasilkan dua kapal rudal yakni KRI Clurit dan KRI Kujang. "Kita melihat bagaimana sarjana-sarjana kita mendapat kesempatan untuk mempraktikkan ilmu mereka. Kita juga bisa mendapatkan kapal yang lebih murah yakni Rp73 miliar untuk satu kapal," kata Sjafrie.

Mengenai penunjukkan industri persenjataan nasional yang akan mendapat kesempatan untuk berperan serta, Kemhan menunjuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan untuk melakukan audit. Mantan Sekretaris Menteri BUMN Muhammad Said Didu ditunjuk sebagai Ketua KKIP.

Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muda Sumartono menambahkan, TNI-AL membutuhkan sekitar 24 kapal rudal untuk menjaga kawasan Barat Indonesia. Mengenai jadwal pengadaannya, TNI-AL menyesuaikan dengan anggaran yang dimiliki negara. Dengan kapal yang dilengkapi peluru kendali, Sumartono menilai TNI-AL akan memiliki deteren lebih untuk menjaga wilayah Indonesia. Apalagi peluru kendali yang akan dipasangkan mempunyai jarak tembak hingga 120 km.

Menurut Wamenhan, penguatan TNI-AL menjadi perhatian karena dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan. Selain kapal-kapal permukaan, TNI-AL akan mendapatkan tiga kapal selam. Tiga kapal selam yang akan diadakan, dibeli dari Korea Selatan. Pilihan Korea Selatan didasarkan atas alih teknologi yang diberikan oleh pihak Korsel. Sekitar 130 ahli perkapalan dari PT PAL dan perguruan tinggi akan ikut terlibat mulai dari desain pembuatan. Kapal selam ketiga bahkan sudah disepakati akan dibuat sepenuhnya di PT PAL Surabaya.

www.metrotvnews.com

3 kapal cepat rudal buatan dalam negeri perkuat armada TNI AL

Kapal Cepat Rudal
Kapal Cepat Rudal
| PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. 3 kapal cepat rudal buatan dalam negeri perkuat armada TNI AL
Kapal Cepat Rudal PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. 3 kapal cepat rudal buatan dalam negeri perkuat armada TNI AL. Kementerian pertahanan, dalam hal ini TNI AL, telah memesan 3 unit Kapal Cepat Rudal (KRC-40) untuk memperkuat daya tempur armada TNI AL.
TNI Beli Kapal Rudal Cepat Buatan Indonesia

TNI Angkatan Laut segera mendapat tambahan satu kapal cepat Rudal-40. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoedin menyebutkan kapal buatan PT Palindo Marine sudah rampung dan tinggal menunggu penyerahan. "Dalam waktu dekat akan diserahkan," ujar Sjafrie saat mengunjungi PT Palindo di Batam, Rabu, 4 Januari 2012.

Menurut Sjafrie, pemesanan kapal cepat dari Palindo merupakan upaya pemerintah mendorong tumbuhnya industri kapal dalam negeri. Pemerintah akan memprioritaskan membeli kapal produksi dalam negeri. "Mana yang mampu di dalam negeri, akan kami beli di sini, sisanya baru di luar," ujarnya. Dia mencontohkan, saat ini, untuk industri dalam negeri, belum bisa diproduksi kapal perang sehingga masih didatangkan dari luar.

Saat ini PT Palindo telah menyelesaikan dua KRC-40. Kapal pertama bernama KRI Clurit-641 sudah diserahkan pada April 2011 lalu. Sedangkan kapal kedua, yang baru rampung, bernama KRI Kujang-642. Rencananya KRI Kujang ini akan diserahkan paling lambat April mendatang. Untuk kapal ketiga, saat ini sudah mulai proses pengerjaannya.

KRI Kujang 642 merupakan kapal pemukul reaksi cepat yang berfungsi menghancurkan target sekali pukul dan menghindar dari serangan lawan dalam waktu cepat pula. Kapal ini berukuran panjang 44 meter, lebar 7,4 meter, dengan kecepatan maksimal 30 knot. Kapal ini memiliki daya tembak dan daya hancur karena dilengkapi Rudal C-705.

Kapal KCR-40 ini mampu menampung bahan bakar 50 ton dan air tawar 15 ton. Kapal cepat ini terbuat dari baja khusus High Tensile Steel pada bagian hulu dan lambung kapal, yang merupakan produk PT Krakatau Steel, Cilegon. Sedangkan untuk bangunan atas menggunakan Aluminium Marine Grade, yang menggunakan tiga mesin penggerak.

Direktur Utama PT Palindo Hermanto menyebutkan saat ini KRI Kujang-642 sudah seratus persen jadi. Bahkan, menurut dia, saat ini perusahaan sudah mulai menyiapkan kapal ketiga untuk memenuhi kebutuhan TNI AL. "Kami siap mengoptimalkan produksi untuk memenuhi kebutuhan," ujar Hermanto kepada Tempo.

Asisten Perencanaan Kepala Satuan Angkatan Laut, Sumartono, mengatakan saat ini TNI AL membutuhkan 24 kapal cepat. Kapal ini nantinya akan dioperasikan di wilayah armada barat dan Sulawesi Utara. "Kami butuh kapal yang bisa beroperasi di daerah laut dengan ombak besar," ujarnya.

Menurut Sumartono, untuk satu kapal KCR-40 ini pemerintah seharusnya membayar Rp 75 miliar. Namun setelah dinegosiasi harganya menjadi Rp 73 miliar.

www.tempo.co

TNI AL bangun pangkalan kapal selam di Teluk Palu

Kapal Selam TNI
Kapal Selam TNI
| PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. TNI AL bangun pangkalan kapal selam di Teluk Palu
Kapal Selam TNI PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. TNI AL bangun pangkalan kapal selam di Teluk Palu. Beberapa kapal selam dan kapal perang dari armada Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL) akan memiliki pangkalan laut militer baru di Teluk Palu, Sulawesi Tengah. Pangkalan kapal selam dan kapal perang armada TNI AL tersebut kini sudah dalam tahap pembangunan di Teluk Palu, Sulawesi Tengah.
Pangkalan kapal selam dibangun di Teluk Palu

TNI Angkatan Laut sedang membangun sebuah pangkalan khusus untuk kapal selam dan kapal-kapal perang di Teluk Palu. "Pembangunannya sudah dimulai tahun 2011 di dermaga Pangkalan TNI AL (Lanal) Kelurahan Loli, Kota Palu," kata Dan Lanal Palu Kolonel Laut (P) Budi Utomo kepada ANTARA di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala, sekitar 35 km utara Kota Palu, Kamis.

Menurut dia, pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemkot Palu telah membantu TNI AL berupa lahan seluas tiga hektare untuk mengembangkan Dermaga Lanal di Loli tersebut menjadi pangkalan kapal-kapal selam dan KRI. Di atas lahan tersebut, TNI AL akan membangun berbagai sarana dan fasilitas untuk kepentingan pelayanan terhadap alutsista TNI AL itu agar bisa berfungsi maksimal sebagai tempat istirahat, perbaikan dan pengisian logistik kapal-kapal selam dan kapal perang.

Fasilitas yang sedang dan akan dibangun adalah asrama untuk awak kapal dan juga sarana dan fasilitas untuk perbaikan kapal. "Pangkalan itu sekarang sudah bisa digunakan hanya belum maksimal. Sudah pernah diuji coba dengan kapal selam dan sudah rutin digunakan oleh KRI-KRI yang beroperasi di alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) III Laut Banda," ujar Budi.

Menurut Budi, Dermaga Lanal Palu di Loli ini merupakan pangkalan kapal selam satu-satunya di luar Jawa. Teluk Palu ini dipilih karena lokasinya yang sangat strategis dan konfigurasi alur lautnya yang istimewa dan tidak terdapat di teluk lain di Indonesia bahkan mungkin di dunia. "Alur laut teluk Palu mulai dari Laut Banda sampai Loli mencapai panjang 30 kilometer dengan lebar 10 km dan kedalaman 400 meter. Ini sangat istimewa, sehingga raksasa sekelas kapal induk Amerika Serikat pun bisa masuk di sini," ujarnya.

Lokasinya juga strategis karena jarak ke Malaysia 300 kilometer dan ke Makassar juga 300 kilometer, jadi berada di tengah-tengah dua titik penting dalam strategi pertahanan nasional. "Kondisi perairan Teluk Palu ini pun tidak akan terpengaruh oleh kondisi cuaca dan iklim bagaimanapun yang terjadi di ALKI III. Jadi teluk ini sangat cocok untuk dijadikan tempat parade kapal perang seperti yang pernah dilaksanakan di Manado," ujarnya.

Ketika ditanya berapa dana yang dikucurkan dan kapan pembangunan pangkalan kapal selam ini selesai dan beroperasi penuh, Budi Utomo mengaku tidak tahu karena hal itu tergantung pada pendanaan dari Mabes TNI AL. "Dana pembangunannya dikucurkan bertahap dari Mabes. Proyeknya ada di Mabes, kami hanya menerima saja," ujar Budi disela-sela acara penyerahan kapal bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan kepada para nelayan dari lima kabupaten di Sulteng.

Ia juga tidak menyebutkan berapa kapal selam yang akan berpangkalan di Dermaga Loli ini, namun menyebut bahwa dalam waktu dekat ini, TNI AL akan membeli tiga kapal selam baru dan tidak tertutup kemungkinan kapal-kapal itu akan ditempatkan di pangkalan Loli ini.

www.antaranews.com

Rabu, 04 Januari 2012

Anggaran pertahanan Rp35,973 triliun berhasil terserap

Panser TNI
Panser TNI
| PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. Anggaran pertahanan Rp35,973 triliun berhasil terserap
Panser TNI Anggaran pertahanan Rp35,973 triliun berhasil terserap
Anggaran Alutsista 2011 Terserap 94,73%

Anggaran untuk belanja barang dan modal (pengadaan dan pemeliharaan alutsista) Kementerian Pertahanan (Kemhan) pada APBN 2011 berhasil terserap sekitar 94,73% dari pagu setelah revisi sebesar Rp35,973 triliun. Total anggaran yang dialokasikan ke Kementerian Pertahanan 2011 sebesar Rp58,192 triliun. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan, apabila penyerapan anggaran menyertakan pagu untuk belanja pegawai,pada 2011 ini total penyerapan mencapai 96,7%. "Sisa anggaran belanja barang dan modal yang tidak terserap sebesar Rp1,897 triliun (5,27%) merupakan alokasi pinjaman dalam APBN 2011 yang belum dipakai atau multiyears," ujarnya di Jakarta kemarin.

Anggaran pinjaman, baik dari dalam maupun luar negeri, tersebut belum terserap karena kontrak yang ada sejauh ini belum efektif. "Mungkin belum siap atau karena apa, sehingga belum ada realisasi pembayaran dari sumber dana pinjaman dalam/luar negeri," kata dia. Adapun untuk capaian dari rencana kerja 2011 yang dititikberatkan pada lima aspek sejauh ini telah menunjukkan hasil nyata.

Lima poin tersebut diarahkan pada terselenggaranya sistem pertahanan negara yang terintegrasi,andal,dan prokesejahteraan. Poin pertama,menyangkut kesejahteraan bagi TNI dan PNS Kemhan/TNI, Kemhan telah memberikan tunjangan khusus perbatasan, remunerasi kinerja sekitar 40% dari gaji, kenaikan berkala, dan gaji ke- 13.

Aspek kedua menyangkut penataan organisasi internal. Ini di antaranya ditandai dengan pengembangan Universitas Pertahanan dan penyelesaian Kompleks Pusat Keamanan dan Perdamaian Indonesia di Sentul. Pada aspek industri pertahanan telah dibentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan guna mendukung revitalisasi industri dalam negeri dan penyehatan BUMNIP.

Adapun untuk aspek legislasi, Kemhan telah menghasilkan sejumlah UU dan Rancangan UU. "Ada 23 RUU dan akan kita upayakan optimalisasinya pada 2012," ujarnya. Sekretaris Jenderal Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto menambahkan, pada 2011 ada dua RUU yang dibahas dengan DPR, yakni RUU Keamanan Nasional dan Revitalisasi Industri Pertahanan. Sedangkan beberapa RUU lain sekarang berada di Setneg seperti RUU Rahasia Negara dan Komponen Cadangan.

www.seputar-indonesia.com

KRI Karel Satsuit Tubun (356)

KRI Karel Satsuit Tubun (356) adalah kapal perang jenis Perusak Kawal Rudal yang saat ini telah memperkuat armada kapal perang TNI-AL. Sebelum dimiliki dan dioperasikan oleh Indonesia (TNI-AL), kapal perang KRI Karel Satsuit Tubun (356) ini dioperasikan oleh Angkatan Laut Belanda sebagai kapal fregat dengan nama HNLMS Isaac Sweers (F814). Setelah mendapatkan perbaikan dan peningkatan kemampuan tempur, kapal perang ini diambil alih oleh Indonesia (TNI-AL) dan namanya pun diubah menjadi KRI Karel Satsuit Tubun (356).
KRI Karel Satsuit Tubun (356). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Karel Satsuit Tubun (356)
KRI Karel Satsuit Tubun (356). Dua kapal perang Republik Indonesia (KRI) kelas Van Speijk buatan Belanda, yakni KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 dan KRI Ahmad Yani-351, kembali memperkuat TNI AL, khususnya untuk jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) setelah selesai dilakukan pergantian mesin ("repowering"). "Proses pergantian mesin untuk kedua KRI itu memakan waktu sekitar dua tahun di Jakarta. Sebelumnya TNI AL juga sudah merepowering dua kapal bekas Angkatan Laut Belanda, yakni KRI Karel Satsuit Tubun-356 dan KRI Oswaald Siahaan-354," kata Kadispen Koarmatim, Letkol laut (KH) Drs Toni Syaiful di Surabaya, Senin. Ia mengemukakan dengan kembalinya kapal-kapal itu, Koarmatim mendapat kekuatan baru untuk lebih intensif melaksanakan tugas-tugas operasi militer untuk perang maupun nonperang, seperti pelayaran muhibah ke luar negeri serta memberikan bantuan kepada korban bencana alam. "Kini KRI Ahmad Yani-351 dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 akan menunjukkan kehandalannya dengan dilibatkan dalam latihan perang puncak TNI AL bersandi, `Armada Jaya XXVII/2007". Setelah Armada Jaya yang akan berakhir awal Desember mendatang, kedua kapal itu harus menjalani pelayaran muhibah ke Australia dengan misi untuk meningkatkan hubungan kedua negara dan angkatan lautnya," katanya. KRI Karel Satsuit Tubun (356). Latihan Armada Jaya menjadi ajang pembuktian kapal perang yang memiliki panjang 113,42 meter yang dikenal tahan lama dalam berlayar. Dalam ujian selama satu bulan penuh itu, kedua KRI itu akan melakukan berbagai manuver di laut, baik untuk melakukan serangan ke armada musuh maupun untuk bertahan dari serangan musuh. "Selain permesinannya, sistem komunikasi, sistem radar serta sistem kesenjataan kapal itu juga sudah dimodernkan," katanya. Sementara untuk KRI Karel Satsuit Tubun-356 kehandalannya sudah terbukti di lapangan dalam menegakkan kedaulatan dan hukum di wilayah perairan yurisdiksi nasional. Prestasi yang ditunjukkan, antara lain melumpuhkan pembajakan terhadap kapal tanker milik PT Pertamina MT Pematang tahun 2004 lalu di perairan Pulau Berhala, sekitar 40 mil laut dari Belawan. "Prestasi lainnya yang kedua adalah saat krisis Ambalat menghangat, KRI Karel Satsuit Tubun-356 ikut mengambil peran penting dalam menegakkan kedaulatan NKRI di sekitar perairan Laut Sulawesi itu," kata Kadispen.
KRI Karel Satsuit Tubun (356) adalah Fregat kelas Ahmad Yani milik TNI Angkatan Laut. Dinamai menurut Karel Satsuit Tubun, salah seorang pahlawan nasional. KRI Karel Satsuit Tubun merupakan kapal fregat eks-Angkatan Laut Belanda bernama HNLMS Isaac Sweers (F814) yang kemudian dibeli oleh Indonesia. Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat Inggris Kelas HMS Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli.

Kapal perang KRI Karel Satsuit Tubun (356) dibangun tahun 1967 oleh Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk di antaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Sea to Air Missile) Mistral menggantikan Sea Cat.

Spesifikasi Kapal Perang KRI Karel Satsuit Tubun (356)

Karakteristik Umum :
  • Berat benaman : 2.200 ton standar, 2.850 ton beban penuh
  • Panjang : 1.134 m (3,720.47 kaki)
  • Lebar : 125 m (410.10 kaki)
  • Draught : 58 m (190.29 kaki)
  • Tenaga penggerak : s shaft, geared steam turbines 2 boilers, 30.000 hp
  • Kecepatan : 28,5 knot
  • Jarak tempuh : 4.500 nm pada 18 knot
  • Awak kapal : 251 orang
Persenjataan Kapal Perang KRI Karel Satsuit Tubun (356) :
  • 2x2 - Rudal Darat ke Udara -Sea Cat
  • 1 Pucuk Meriam - OTO-Melara Compact Kaliber 76 mm ; kecepatan tembakan 85 peluru per menit
  • 2x4 - Rudal anti Kapal perang RGM-84 Harpoon - berpemandu Active radar homming
  • 4x - Torpedo Honeywell Mk 46 Kaliber 533 mm berkemampuan SUT (Surface & Underwater Target)
  • 2x - Senapan Mesin Berat browning kaliber 12,7 mm
Perangkat elektronik :
  • Radar
  • Radar kontrol tembakan
  • Sonar
  • Decoy
wikipedia.org

Selasa, 03 Januari 2012

KRI Oswald Siahaan (354)

KRI Oswald Siahaan (354) adalah kapal perang jenis kelas Perusak Kawal Berpeluru Kendali Kelas Ahmad Yani yang dimiliki dan dioperasikan oleh TNI-AL. Nama kapal perang KRI Oswald Siahaan (354) diambil dari nama Oswald Siahaan, salah seorang anggota TNI AL yang gugur pada saat pertempuran Teluk Sibolga. Sebelum dioperasikan oleh Indonesia (TNI-AL) KRI Oswald Siahaan merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (HMNLS Isaac Sweers F805) yang kemudian dibeli oleh Indonesia.
KRI Oswald Siahaan (354). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Oswald Siahaan (354)
Kapal perang kelas Perusak Kawal Berpeluru Kendali TNI AL KRI Oswald Siahaan (354) Palaksa Lanal Denpasar Mayor Laut (P) Daymond Iwan dan Perwira staf serta anggota Lanal Denpasar sekitar pukul 09.00 Wita melaksanakan merplugh KRI Oswald Siahaan - 354 di Dermaga Pelabuhan Benoa Bali, Kamis (8/9). KRI Oswald Siahaan - 354 yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Irvansyah sedang melaksanakan tugas Operasi Arung Hiu – 11 di wilayah Perairan Indonesia Bagian Timur. Adapun KRI Oswald Siahaan (354) dibawah kendali Guspurlatim merapat di Pelabuhan Benoa Bali dalam rangka pembekalan ulang air tawar serta logistik lainnya. Hal ini merupakan tugas pokok Lanal Denpasar dalam memberikan pelayanan logistik terhadap unsur – unsur KRI yang melaksanakan tugas operasi di sekitar perairan Indonesia bagian Timur sesuai sektor patroli . Selain memberikan dukungan logistik untuk unsur – unsur KRI yang sedang melaksanakan operasi di sekitar wilayah Perairan Indonesia Bagian Timur juga memberikan pelayanan lainnya yang dibutuhkan oleh unsur – unsur tersebut. Dalam pelayaran kali ini On Board di KRI Oswald Siahaan-354 Aslog Guspurlatim Kolonel Laut (T) Budi Raharjo dan Pabankom Guspurlatim Letkol Laut (P) Effendi Bongkang. Selasa 26 September 2011, Komandan Pangkalan TNI AL Denpasar Kolonel Laut (P) I Wayan Suarjaya, S.Sos selesai mengikuti acara Karya Bhakti di Pantai Matahari terbit Sanur, langsung berkunjung ke KRI Oswald Siahaan-354 yang merapat di Pelabuhan Benoa, kunjungan diakhiri dengan melaksanakan merplug keberangkatan KRI Oswald Siahaan-354 yang telah selesai melaksanakan bekal ulang air tawar dan melanjutkan pelayaran menuju daerah operasi.
KRI Oswald Siahaan (354) merupakan kapal keempat dari kapal perang kelas Perusak Kawal Berpeluru Kendali Kelas Ahmad Yani milik TNI AL. Dinamai menurut Oswald Siahaan, salah seorang anggota TNI AL yang gugur pada saat pertempuran Teluk Sibolga. KRI Oswald Siahaan merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (HMNLS Isaac Sweers F805) yang kemudian dibeli oleh Indonesia.

Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat Inggris Kelas HMS Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1967 oleh Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk diantaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Sea to Air Missile) ) Mistral menggantikan Sea Cat.

KRI Oswald Siahaan bertugas sebagai armada patroli dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara. Termasuk dalam kelas Ahmad Yani bersama KRI Oswald Siahaan (354) antara lain KRI Ahmad Yani (351), KRI Slamet Riyadi (352), KRI Yos Sudarso (353), KRI Abdul Halim Perdana Kusuma (355) dan KRI Karel Satsuit Tubun (356).

KRI Oswald Siahaan (354) memiliki berat 2,940 ton. Dengan dimensi 113,42 meter x 12,51 meter x 4,57 meter. Ditenagai oleh turbin uap dengan 2 boiler, 2 shaft yang menghasilkan 30,000 shp sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 28,5 knot. Diawaki oleh maksimal 180 pelaut.

KRI Oswald Siahaan (354) dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :
  1. 8 Peluru Kendali Permukaan-ke-permukaan McDonnel Douglas RGM-84 Harpoon dengan jangkauan maksimum 130 Km (70 mil laut), berkecepatan 0,9 mach, berpemandu active radar homing dengan hulu ledak seberat 227 Kg.
  2. 4 Peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral dalam peluncur Simbad laras ganda sebagai pertahanan anti serangan udara. Jangkauan efektif 4 Km (2,2 mil laut), berpemandu infra merah dengan hulu ledak 3 Kg. Berkemampuan anti pesawat udara, helikopter dan rudal.
  3. 1 Meriam OTO-Melara 76/62 compact berkaliber 76mm (3 inchi) dengan kecepatan tembakan 85 rpm, jangkauan 16 Km untuk target permukaan dan 12 Km untuk target udara.
  4. 2 Senapan mesin 12.7mm
  5. 12 Torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.
KRI Oswald Siahaan (354) diperlengkapi radar LW-03 2-D air search, sonar PHS-32. Juga diperlengkapi dengan kontrol penembakan (fire control) M-44 SAM control serta perangkat perang elektronik UA-8/9 intercept. Sebagai pertahanan diri mempunyai 2 peluncur decoy RL.

KRI Oswald Siahaan (354) memiliki dek untuk 1 helikopter yang sebelumnya adalah Westland Wasp HAS 1 (kini pensiun) dengan fungsi sebagai heli anti kapal selam. Mungkin kini diganti dengan NBO-105 atau NAS 332L Super Puma.

KRI Oswald Siahaan (354) turut berperan dalam mengamankan perairan Republik Indonesia dalam konflik Ambalat dengan Malaysia.

wikipedia.org

Jumat, 30 Desember 2011

Anggaran pertahanan jangan untuk membeli Alutsista bekas negara lain

Tank Leopard 2A6 M
Tank Leopard 2A6 M
| PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. Anggaran pertahanan jangan untuk membeli Alutsista bekas negara lain
Tank Leopard 2A6 M PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. Anggaran pertahanan jangan untuk membeli Alutsista bekas negara lain
Anggaran Alutsista Jangan Dibelikan Pesawat Bekas

Anggaran pertahanan yang mencapai Rp 9 triliun lebih diminta digunakan seefisien mungkin untuk membeli peralatan alat utama sistem senjata (Autsista). Misalnya, jangan terlalu banyak membeli pesawat tempur bekas negara lain.

Dalam acara Refleksi Catatan Akhir Tahun 2011 yang diselenggarakan ormas NasDem, Ketua Dewan Pertimbangan ormas NasDem Tedjo Edhy Purduatno, mengatakan walaupun anggaran alutsista besar namun pembelian peralatan alutsista belum sesuai untuk menangkal Indonesia dari serangan. Tedjo mencontohkan peralatan alutsista yang dibeli acapkali tak sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. "Misalnya membeli tank. Tank itu bagusnya di padang pasir. Bila dipakai disini tidak cocok. Kemudian untuk pesawat tempur, jangan terlalu banyak membeli bekas pesawat negara lain," ujar Tedjo, Kamis (29/11/2011) di kantor pusat NasDem.

Dikatakannya, meskipun pesawat bekas tersebut bisa di-upgrade, namun namanya pesawat bekas tentu sudah berkurang masa pemakaiannya atau life timenya. Tedjo pun meminta pemerintah bila membeli peralatan alutsista paling tidak sebanding dengan negara tetangga, bahkan kalau bisa melebihi. "Kita mau beli kapal selam. Beli kapal selamnya di negara yang kompeten dalam pembuatan kapal selam. Bila kapal selam yang dibeli kemampuannya dibawah negara tetangga, sama saja tidak ada artinya," ucapnya. Tedjo menambahkan, masalah perbatasan antara Indonesia dengan negara tetangga juga perlu ditegaskan kembali. Saat ini, batas negara sering digeser-geser dan kerap merugikan Indonesia.

www.tribunnews.com

KRI Yos Sudarso (353)

KRI Yos Sudarso (353) adalah kapal perang kelas Perusak Kawal Berpeluru Kendali yang dimiliki dan dioperasikan TNI-AL. Kapal perang KRI Yos Sudarso (353) termasuk dalam jajaran kapal perang kelas Ahmad Yani. Nama kapal diambil dari nama Pahlawan Nasional Yos Sudarso yang gugur dan tenggelam bersama KRI Macan Tutul pada masa konfrontasi Trikora melawan Belanda di Papua Barat.
KRI Yos Sudarso (353). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Yos Sudarso (353)
KRI Yos Sudarso (353) merupakan kapal ketiga dari kapal perang kelas Perusak Kawal Berpeluru Kendali Kelas Ahmad Yani milik TNI AL. Dinamai menurut Yos Sudarso, salah seorang pahlawan nasional yang gugur di atas KRI Macan Tutul dalam pertempuran laut Aru pada masa kampanye Trikora.

KRI Yos Sudarso (353) merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (F803) yang kemudian dibeli oleh Indonesia. Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat Inggris Kelas HMS Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1967 oleh Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk diantaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Sea to Air Missile) ) Mistral menggantikan Sea Cat.

Bertugas sebagai armada patroli dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara. Termasuk dalam kelas Ahmad Yani bersama KRI Yos Sudarso (353) antara lain KRI Ahmad Yani (351), KRI Slamet Riyadi (352), KRI Oswald Siahaan (354), KRI Abdul Halim Perdana Kusuma (355) dan KRI Karel Satsuit Tubun (356).

KRI Yos Sudarso (353) memiliki berat 2,940 ton. Dengan dimensi 113,42 meter x 12,51 meter x 4,57 meter. Ditenagai oleh turbin uap dengan 2 boiler, 2 shaft yang menghasilkan 30,000 shp sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 28,5 knot. Diawaki oleh maksimal 180 pelaut.

KRI Yos Sudarso (353) dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :
  1. 4 Peluru Kendali Permukaan-ke-permukaan China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC) C-802 dengan jangkauan maksimum 120 Km , berkecepatan jelajah 0,8-0,9 mach, berpemandu inertial/GPS dan terminal active radar dengan hulu ledak seberat 150 Kg.
  2. 4 Peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral dalam peluncur Simbad laras ganda sebagai pertahanan anti serangan udara. Jangkauan efektif 4 Km (2,2 mil laut), berpemandu infra merah dengan hulu ledak 3 Kg. Berkemampuan anti pesawat udara, helikopter dan rudal.
  3. 1 Meriam OTO-Melara 76/62 compact berkaliber 76mm (3 inchi) dengan kecepatan tembakan 85 rpm, jangkauan 16 Km untuk target permukaan dan 12 Km untuk target udara.
  4. 2 Senapan mesin 12.7mm
  5. 12 Torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.
KRI Yos Sudarso (353) diperlengkapi radar LW-03 2-D air search, sonar PHS-32. Juga diperlengkapi dengan kontrol penembakan (fire control) M-44 SAM control serta perangkat perang elektronik UA-8/9 intercept. Sebagai pertahanan diri mempunyai 2 peluncur decoy RL.

KRI Yos Sudarso (353) memiliki dek untuk 1 helikopter yang sebelumnya adalah Westland Wasp HAS 1 (kini pensiun) dengan fungsi sebagai heli anti kapal selam. Mungkin kini diganti dengan NBO-105 atau NAS 332L Super Puma.

wikipedia.org

Kamis, 29 Desember 2011

Pelabuhan Bakauheni-Merak akan dibangun satu dermaga lagi

Bakauheni Lampung
Bakauheni Lampung PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. Pelabuhan Bakauheni-Merak akan dibangun satu dermaga lagi, pelabuhan penyeberangan antara Pulau Sumatera (Bakauheni) dan Jawa (Merak).
Satu Dermaga Lagi di Bakauheni-Merak

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan membangun satu dermaga lagi di Pelabuhan Bakauheni dan Merak, Banten, pada 2012. Ini dilakukan untuk meningkatkan pelayanan penyeberangan di jalur itu. Hal itu diungkapkan Kepala Cabang PT ASDP Indonesia Ferry Bakauheni Yanus Lentanga kemarin. Menurut dia, penambahan dermaga di dua sisi Selat Sunda itu merupakan tuntutan perkembangan meningkatnya volume kendaraan dan penumpang setiap tahun. "Kini jumlah kapal feri yang ada sudah mencukupi untuk melayani penumpang dari Pulau Sumatera ke Jawa. Hanya, kapal-kapal yang ada juga harus dirawat agar tidak menghambat pelayanan," kata Yanus seraya mengatakan, jumlah kapal yang banyak harus diimbangi dengan jumlah dermaga.

Dilanjutkan, pembangunan Dermaga VI di Pelabuhan Bakauheni akan dilakukan triwulan pertama 2012. Pembangunan dermaga harus dilengkapi fasilitas jembatan penumpang (gang way) dan jembatan kendaraan untuk memberikan kenyamanan pengguna jasa penyeberangan. "Dari Kemenhub sudah melakukan survei lokasi rencana pembangunan Dermaga VI. Alternatifnya, di Dermaga Plensengan, antara Dermaga III dan IV, atau bersebelahan Dermaga V yang baru diresmikan awal tahun lalu," papar Yanus.

Di bagian lain, arus penumpang dan kendaraan yang menyeberang dari Bakauheni menuju Merak tetap lancar pada liburan Natal dan sekolah.

Berdasarkan data di posko PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni kemarin, jumlah penumpang mencapai 32.395 orang, sepeda motor 1.003 unit, mobil pribadi 2.634 unit, bus 372 unit, dan truk 2.054 unit. Jumlah trip yang dicapai selama 24 jam kemarin sebanyak 77 trip dengan kapal yang dioperasikan sebanyak 24 armada. "Peningkatan volume kendaraan dan penumpang cenderung terjadi pada malam hari. Penumpang dan kendaraan yang tiba di pelabuhan langsung diarahkan masuk ke kapal tanpa menunggu lebih lama untuk menghindari penumpukan," ungkapnya.

www.radarlampung.co.id

Selasa, 27 Desember 2011

Mengakhiri tahun 2011, TNI makin melaju dengan modernisasi Alutsista

Alutsista TNI
Alutsista TNI
| PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. Mengakhiri tahun 2011, TNI makin melaju dengan modernisasi Alutsista
Alutsista TNI PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. Mengakhiri tahun 2011, TNI makin melaju dengan modernisasi Alutsista. TNI telah menganggarkan biaya sebesar Rp 150 triliun untuk memperkuat dan modernisasi Alutsista guna mengoptimalkan kemampuan mempertahankan NKRI.
Akhiri 2011, TNI Semakin Perkuat Alutsistanya

Pantaslah apabila pada akhir tahun 2011 ini menjadi momentum bagi Kementerian Pertahanan guna menunjukkan komitmen awalnya untuk segera memodernisasi dan menambah setiap alutsista TNI. Modernisasi dan juga penambahan alutsista TNI sangatlah penting guna menjaga wilayah kesatuan Republik Indonesia yang sangat luas, baik lautan maupun daratan. Lihat saja, banyak kita saksikan dan dengarkan, serta kita lihat begitu maraknya kasus-kasus penyeludupan narkoba, kasus illegal fishing, illegal logging yang masih saja lolos baik melalui lintas darat maupun lintas laut.

Pada pertengahan Desember 2011, Pemerintah Indonesia-Korea Selatan menandatangani MoU soal pengadaan tiga kapal selam senilai 1,1 miliar dollar AS. Dengan adanya tiga kapal selam itu, nantinya akan menambah kekuatan armada TNI Angkatan Laut guna mendukung pengamanan dan juga menjaga wilayah kelautan Indonesia yang sangat luas tersebut. Ditargetkan enam bulan ke depan kapal laut tersebut dapat digunakan di perairan Indonesia.

Meskipun kita mengetahui, bahwasanya dengan adanya tambahan tiga kapal laut ini belumlah mencukupi guna menjaga wilayah laut Indonesia. Namun, yang pasti dengan penambahan kapal laut itu nantinya akan memperkuat wilayah laut Indonesia. Untuk memperkuat armada TNI Angkatan Darat, melalui Wakil KSAD, Letjen TNI Budiman telah melakukan kerjasama untuk mendatangkan Main Tank Battle Leopard, yang memiliki kemampuan laju tank sangat cepat. Tank Leopard ini akan mampu menjaga wilayah darat NKRI dan juga sangat cocok untuk menjaga wilayah perbatasan RI.

Selain itu Indonesia juga akan mendapatkan hibah sebanyak 24 pesawat F-16 yang memiliki kemampuan tempur yang teruji. Nantinya F-16 ini akan ditargetkan didatangkan pada tahun 2014, sebagaimana dikutip dari pernyataan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Jum’at (16/12). Seperti dikutip dari vivanews.com.

Dengan adanya kepastian penambahan alutsista TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara ini tentunya akan menambah fostur alutsista kita. Apalagi pemerintah telah menyediakan anggaran dana untuk alutsista hingga 2014 mencapai Rp 150 triliun.

Siapapun pasti sepakat. Dengan majunya alutsista kita, tentunya akan menambah kekuatan dan kemajuan teknologi bangsa kita. Semoga dengan peningkatan dan penambahan alutsista ini, akan benar-benar menjadikan posisi Indonesia di negara-negara di dunia lebih diperhitungkan dalam segi teknologi alutsistanya.

Alutsista maju, negara Indonesia pasti maju. Anda setuju?

hankam.kompasiana.com

Kamis, 22 Desember 2011

Mesuji, tragedi tentang exploitasi manusia

Mesuji, tragedi tentang exploitasi manusia
Tragedi Mesuji dan "Blood Diamond"

Anda pernah nonton film Blood Diamond? Mesuji ini kisah serupa: blood palm oil, blood tire. Kisah kerakusan korporasi, ketundukan pemerintah dan ignorance manusia modern. Sebab dari darah yang tumpah dan mengalir di kebun sawit, singkong dan karet, korporasi jadi kaya, kas pemerintah menggembung dan orang-orang Jakarta dan dunia selebihnya bisa menikmati minyak goreng yang jernih, bisa bermobil mewah dengan ban handal, bisa menikmati gemerlap kasino dan hingar bingar dunia gelap di tengah-tengah sejarah manusia modern abad ini.

Dan apa yang kita saksikan di Mesuji, merupakan miniatur rangkaian cuplikan dan adegan kepedihan, ketidakberdayaan dan cucuran air mata orang-orang tertindas dan tak berdaya di Republik ini. Mesuji adalah cerita keburukan, seburuk apapun yang kita vulgarkan. Mesuji adalah cermin budaya kekerasan, barbarisme dan kemiskinan yang kemudian menyoal keberadaan kita mengenai hidup, manusia dan kemanusiaan.

Apakah hidup ini masih begitu layak dipertahankan jika nyawa manusia hanya bagian sebuah game yang diciptakan mereka yang berkuasa? Di Mesuji adalah cerita tentang exploatasi manusia oleh manusia di negeri retak, di Republik ini.

Bagi petani Mesuji dan warga tertindas lainnya, tentu berharap kelak pemerintah lebih fokus soal sengketa tanah, soal penyembelihan dan soal pengusiran “centeng-centeng” atas warga daripada sekedar meributkan video yang katanya di dramatisir (katanya ada unsur oplosan). Sebab, ditolak atau tidak, pembantaian itu memang ada dan terjadi. Kalaupun kemudian dalam video itu terbukti “oplosan”, tentu itu ada cara khusus penanganannya. Jangan sampai lantaran sibuk mengurus ‘video oplosan’ kemudian ramai-ramai melupakan kasus yang sebenarnya, yang lebih penting dan urgen. Apalagi, masalah Mesuji kini semakin melebar, tidak lagi menyoal sengketa tanah perkebunan, tapi menyoal pertambangan.

Dan sudah lazim, dalam setiap kasus sengketa apapun, selalu saja masyarakat yang menjadi tumbal dan batu bata kedigdayaan segelintir investor yang didukung oknum penegak hukum, diperkeruh permainan kadal-kadal, pun tak jarang partai politik melacurkan diri. Aparat hukum “jadi centeng” perusahaan yang tak segan-segan menindas rakyat dengan moncong senjata dan golok.

Sejak awal pemerintah sudah tahu, elit-elit di negeri ini semua sudah mengerti, kalau persoalan kekerasan terkait tanah yang terjadi selama puluhan tahun yang terjadi hampir di seluruh Tanah Air yang melibatkan aparat TNI, polisi, lembaga tertentu, ormas, swasta dan pihak asing dengan masyarakat kecil selalu berimbas pada tewasnya beberapa warga kecil; minimalnya selalu mengalirkan darah dan air mata.

Mengapa pemerintah selalu menutup mata, bukankah konflik yang melatarbelakangi biasanya perebutan tanah sekian hektar yang tidak terlepas dari sejarah penguasaan lahan yang diklaim sebagai tanah milik pihak tertentu?

Dan, kalau mau dirunut secara urut, hampir wujud persengketaan tanah merupakan konflik horisontal warisan kolonial Belanda yang sampai saat ini belum menjadi fokus utama negara untuk menyelesaikannya, bahkan terkesan dibiarkan liar dan dikembangbiakan.

Dalam kurun waktu 50 tahun sejak UU Pokok Agraria (UUPA) lahir, banyak penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah dan jauh dari harapan rakyat banyak. UUPA malah menjadi semacam alat eksploitasi sumber-sumber agraria demi kepentingan-kepentingan dan modal asing dalam mengeruk kekayaan alam negeri ini.

Penetapan TAP MPR Nomor IX Tahun 2001 tentang Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam misalnya, hanya lipstik dan gincu pemerintah dan tetap memelihara konflik berkepanjangan. TAP MPR Nomor IX Tahun 2001 yang sudah ditetapkan, namun, dukungan dan komitmen pemerintah untuk menjalankan Reforma Agraria masih sangat lemah dan mandeg. Kepentingan-kepentingan pihak tertentu justru yang menguasai.

Ada beberapa catatan penting yang menjadi rumusan RUU PA yang telah digodok oleh DPD sepanjang kurun waktu 2005- 2009.

Pertama, terbentuknya suatu pengaturan agraria yang mampu menjadi instrumen hukum nasional dengan status Undang-Undang Induk.

Kedua, menciptakan kebijakan politik dan hukum pengaturan tanah unifikatif namun tetap mengakui keanekaragaman hak-hak masyarakat adat (local wisdom) dan nilai-nilai yang tumbuh dan berlaku dimasyarakat semata-mata untuk kepentingan sebesar-besarnya warga negara dalam kerangka NKRI.

Tragedi Mesuji adalah pengingat. Lain kali saat kita makan gorengan, teteskan lah air mata duka. Kita mestinya malu. Malu sebagai manusia!

hankam.kompasiana.com

Anoa APS-3, Panser Buatan PT Pindad

Anoa APS-3 adalah jenis kendaraan tempur lapis baja yang digunakan untuk mengangkut personil atau prajurit. Anoa APS-3 yang menggunakan roda 6x6 sehingga sering disebut juga sebagai panser ini diproduksi oleh PT Pindad. Dalam perkembangan selanjutnya, PT Pindad merancang lagi beberapa kendaraan panser yang menjadi varian dari Anoa APS-3.

Anoa APS-3 PT Pindad (Gambar 1). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Anoa APS-3 PT Pindad (Gambar 1).
APS-3 "Anoa" (kependekan dari Angkut Personel Ringan-3; bahasa Inggris :Medium Personnel Carrier) adalah sebuah kendaraan militer lapis baja buatan PT Pindad (persero), Indonesia. Kendaraan ini dipergunakan untuk mengangkut personel atau dikenal dengan nama APC (Armoured personnel carrier), (bahasa Indonesia : Pengangkut personel lapis baja). Nama ANOA sendiri diambil dari nama hewan Anoa yang hidup di pulau sulawesi. APS 3 ini dinamai anoa, yang merupakan salah satu jenis kerbau asli Indonesia. Purwarupa pertama kali di perlihatkan ke publik pada ulang tahun ke 61 TNI pada 5 Oktober 2006 di markas besar TNI, Cilangkap.

Pindad APS-3 diperlihatkan secara resmi kepada publik pada Indo Defence & Aerosace 2008 pada tanggal 19 November 2008 hingga 22 November 2008 setelah diperlihatkan pada parade militer TNI pada 5 Oktober 2008. Pada 30 Agustus 2008, 10 APS-3 telah diproduksi dan rencananya akan diproduksi sebanyak 150 buah untuk TNI Angkatan Darat untuk penugasan ANOA pada tahun 2009. 20 Panser ini diserahterimakan ke Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pertahanan, bagian dari kesepakatan dari 150 ke 40 unit saja karena krisis ekonomi. 40 Panser tersebut akhirnya dikirim sebagai komitmen PT Pindad untuk memenuhi pesanan total sebanyak 154 Panser. 33 diserahkan kepada Kementrian Pertahanan pada 13 Januari 2010. Pindad telah menerima suntikan dana pinjaman dari Bank Mandiri, Bank BNI 46 dan Bank BRI sebagai bagian dari pembayaran untuk manufaktur Panser-Panser tersebut.

Semenjak 9 April 2010, 13 unit ANOA telah digunakan untuk mengawal misi perdamaian PBB di Lebanon bersama Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-D/UNIFIL. ANOA 6x6 maupun 4x4 biasa digunakan untuk pengawalan kegiatan-kegiatan penting negara. Pada 15 November 2011 ANOA varian 6x6 yang menggunakan persenjataan Senapan Mesin Berat 7.62 mm digunakan sebagai kendaraan tempur untuk patroli dan penjagaan ring pada acara KTT ASEAN di Nusa Dua, Bali. ANOA juga dipakai oleh Paspampres untuk pengawalan kunjungan-kunjungan presiden. Selain kegiatan resmi, ANOA juga dipakai untuk pengamanan car-free day di Bundaran HI.

Anoa APS-3 PT Pindad (Gambar 2). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Anoa APS-3 PT Pindad (Gambar 2).
Sejarah pengembangan Panser Pindad ini dimulai pada tahun 2003 sebagai hasil dari meningkatnya intervensi militer di provinsi Aceh. Selama Operasi Militer di Aceh, TNI Angkatan Darat meminta kendaraan angkut personel yang amatlah mendesak untuk transportasi pasukan. Pindad merespon permintaan ini tahun 2004, dengan APR-1V (Angkut Personel Ringan) sebuah kendaraan lapis baja yang berbasis sasis truk Isuzu. Tetapi, order selanjutnya untuk 26 kendaraan dibatalkan karena Tsunami 2004.

Pindad meneruskan pengembangan APS dengan bantuan dari BPPT. Purwarupa berikutnya adalah Pindad APS-1, sebuah rancangan 6x6 yang didasarkan dari sasis truk Perkasa buatan PT Texmaco. Meskipun tidak dipilih untuk diproduksi, pengalaman yang didapat dari pengembangan APS-1 meyakinkan Tentara Nasional Indonesia untuk memberi lampu hijau kepada Pindad untuk membuat generasi selanjutnya dari ranpur Panser, Pindad APS-2 dengan ongkos produksi sebesar 600 juta rupiah per unit.

Tahun 2006 Pindad dan BPPT memulai pengembangan APS-3 yang tidak hanya bisa bermanuver di darat tetapi juga di perairan dangkal dan danau. Pengembangan ini menghasilkan varian 4x4, dan selanjutnya disempurnakan untuk diaplikasikan kemampuan amfibinya untuk varian 6x6. Ujicoba purwarupa pertama dilakukan awal tahun 2007, dan pada 10 Agustus 2008, 10 panser pertama APS-3 ANOA diproduksi. Tahun 2009, panser pertama diserahterimahkan kepada kementerian pertahanan.

Karena performa ANOA yang bagus dan program kemandirian alutsista yang sedang digalakkan oleh Departemen Pertahanan, Pindad melanjutkan pengembangan kendaraan-kendaraan tempur yang berbasis dari template ANOA seperti varian logistik, recovery, ambulans maupun varian kombatan yang bukan lagi dikategorikan sebagai kendaraan angkut personel seperti ANOA IFV dan ANOA Kanon.

APS-3 ANOA berbeda dengan pendahulunya (APS-1 dan APS-2) yang dikembangkan dari truk komersial. "Anoa" menggunakan badan berdesain monocoque berlapis baja. Sistem suspensi batang torsi baru dikembangkan untuk panser ini. Mesin dan transmisi menggunakan produk Renault dari Perancis. Sopir duduk disebelah kanan dan komandan duduk disebelah kiri dari kendaraan. Bentuk dan persenjataan ANOA amatlah mirip dengan kendaraan angkut personil buatan Prancis, VAB. Perlindungan yang diberikan oleh lapisan baja dan rangka ANOA memiliki tingkat STANAG 3, yang berarti bisa menahan peluru kinetis hingga 7.62x51 mm Armor Piercing standar NATO dari jarak 30 meter dengan kecepatan 930 m/s serta bisa menahan ledakan ranjau hingga massa 8 kg di bagian roda gardan dan ditengah-tengah badan.

Persenjataan APS-3 ANOA hingga saat ini ialah senapan mesin berat kaliber 12,7 mm dan 7,62 mm, senapan Remote Weapon System berkaliber 7,62mm dan pelontar granat berkaliber 40 mm. Untuk pertahanan diri ANOA dilengkapi dengan pelontar tabir asap 2x3 66 mm. Di masa datang, varian-varian lain ANOA akan menggunakan meriam 20 mm dengan tambahan senapan mesin 7,62 mm diatasnya untuk ANOA IFV dan meriam 90 mm CSE Cockerill MKII buatan Belgia untuk ANOA Kanon. Sumber penggerak dari ANOA ialah Mesin dan Transmisi Renault, tetapi opsi lokal sedang dikembangkan lebih lanjut. Mesin Renault yang dimaksud ialah mesin diesel turbocharged MIDR 062045 yang berkekuatan 320 tenaga kuda. ANOA juga memiliki sistem peniupan ban yang disentralisasi.

wikipedia.org

Video Kendaraan Militer APS-3 Anoa :
Video manuver kendaraan lapis baja APS-3 Anoa buatan PT Pindad.

Rabu, 21 Desember 2011

X3K Trimaran, kapal perang canggih yang akan perkuat TNI AL

X3K Trimaran
X3K Trimaran
| PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. X3K Trimaran, kapal perang canggih yang akan perkuat TNI AL
Indonesia segera miliki kapal perang canggih Trimaran

Indonesia segera memiliki satu kapal perang canggih berpeluru kendali "Trimaran" yang merupakan produk dalam negeri. "Kapal ini terbuat dari serat karbon, dengan kecepatan 35 knot dan dipersenjatai peluru kendali yang memiliki jarak tembak 120 kilometer," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin usai meninjau industri kapal dalam negeri PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa.

Ia mengatakan, dalam lima bulan mendatang kapal perang canggih yang merupakan prototipe itu langsung bisa dioperasionalkan memperkuat jajaran armada tempur TNI Angkatan Laut. "TNI Angkatan Laut memesan empat unit kapal, dan dalam lima bulan mendatang sudah jadi satu kapal perang `Trimaran`, sedangkan tiga unit lainnya akan segera dibangun secara bertahap hingga 2014," kata Sjafrie menambahkan.

Satu unit kapal "Trimaran" dihargai sekitar Rp114 miliar yang diambil dari APBN 2011. "Jika proyek pengadaan ini berhasil maka ini merupakan sejarah bagi Indonesia karena telah berhasil membuat kapal perang dengan komposit serat karbon, dan ini akan dipatenkan dan diekspor ke luar negeri," kata Sjafrie.

Direktur PT Lundin Industry Invest, John Lundin, mengatakan pihaknya telah melakukan ujicoba terhadap kapal dengan panjang sekitar 62,52meter tersebut. "Ini merupakan kapal `Trimaran` pertama yang dibuat dari serat karbon. Amerika pernah membuat kapal sejenis dengan panjang 120 meter namun dari bahan alumunium atau baja.

Komposit serat karbon juga telah digunakan untuk pembuatan pesawat airbus Boeing-777 dan mobil formula 1. Ketahanannya 20 kali lebih kuat dibandingkan baja.

Kapal cepat berpeluru kendali itu memiliki panjang keseluruhan 62,53 meter, panjang "water line", 50,77 meter panjang "water draft" 1,17 meter, bobot mati 53,1 GT, kecepatan maksimum 30 knot, kecepatan jelajah 16 knot, dengan mesin utama 4X marine engines MAN nominal 1.800 PK.

www.antaranews.com

Senin, 19 Desember 2011

Rencana pembelian 100 unit Tank Leopard 2A6 dipertanyakan Komisi I DPR

Rencana pembelian 100 unit Tank Leopard 2A6 dipertanyakan Komisi I DPR
Rencana TNI Beli Tank Bekas Patut Dicurigai

Rencana TNI AD membeli 100 unit Tank Leopard 2A6 buatan Jerman ternyata mengundang kecurigaan. Anggota Komisi I DPR yang membidangi pertahanan, Tjahjo Kumolo, menilai tank jenis Leopard secara geografis hanya tepat ditempatkan di Jawa. Padahal, ancaman sesunggunya terhadap kedaulatan NKRI justru di wilayah perbatasan.

Menurutnya, Komisi I DPR sudah mempertanyakan rencana pembelian Leopard bekas itu terlebih lagi jika nantinya hanya ditempatkan di Jawa. Tahjo mengatakan, untuk kondisi medan di Indonesia seharusnya dicari jenis tank yang lebih dinamis untuk ditempatkan di perbatasan.

Politisi senior di DPR yang juga Sekjen PDI Perjuangan itu menegaskan, semestinya tank yang akan dibeli juga lebih canggih dan sesuai medan geografis di wilayah perbatasan guna mempertahankan NKRI. "Kok malah direncanakan tank ukuran besar yang akan ditempatkan di sekitar Jakarta. Apa ada musuh negara lain yang mengancam di Jawa dan sekitar Jakarta? Apa tidak hanya untuk mempertahankan Jakarta saja dari demonstran rakyat Indonesia yang diantisipasi semakin bertambah ngamuk di th 2012? Ini yang harus diperhatikan agar jangan terkesan main beli barang bekas lagi," kata Tjahjo saat dihubungi JPNN, Minggu (18/12) sore.

Ditambahkannya, jika hanya untuk antisipasi demonstrans maka aparat keamanan cukup meningkatkan kemampuan riot control (kendali kerusuhan). Pengunjuk rasa yang rusuh, sebut Tjahjo, juga cukup dihadapi dengan tameng, pentungan, gas air, atau maksimal peluru karet yang penggunannya tergantung situasi dan kondisi di lapangan.

Karenanya Tjahjo justru curiga dengan rencana pembelian 100 unit tank Leopard bekas itu. "Tank berat seharusnya untuk medan tempur di perbatasan, bukan untuk riot control menghadapi sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah seperti Syria, Mesir, dan Yaman. Penguasa otoriter yang gelap mata membantai rakyat sendiri. Mereka satu per satu tumbang berjamaah. "Apa ini akan ditiru Indonesia?" ucap Sekjen PDI Perjuangan itu.

Tjahjo pun mengingatkan soal rencana Amerika Serikat menempatkan kekuatan tempurnya di negara-negara tetangga Indonesia. Antara lain penempatan 2500 marinir AS di di Darwin, Australia, disusul rencana penempatan kapal-kapal tempur pantai (littoral combat ships/LCS ) dan pesawat patroli P-8A di Singapura dan Philipina. Menurutnya, gelar kekuatan tempur AS di wilayah Asea Tenggara dan Australia itu hanya akan menimbulkan ketegangan-ketegangan baru di wilayah Asean dan sangat berpengaruh terhadap kedaulatan NKRI. "Harusnya ini yang diantisipasi oleh pemeirntah Indonesia dalam pengadaan alutsista. Arahnya untuk memperkuat pertahanan di perbatasan yang sudah terkepung oleh pangkalan-pangkalan militer kekuatan besar," pungkasnya.

www.jpnn.com

Rabu, 07 Desember 2011

TNI siapkan langkah atasi Gerakan Pengacau Keamanan di Aceh

TNI SIAPKAN LANGKAH ATASI GERAK PENGACAU KEAMANAN

Banda Aceh, 6/12 (ANTARA) - Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen TNI Adi Mulyono menyatakan pihaknya menyiapkan langkah untuk mengatasi gerak pengacau keamanan yang telah membuat masyarakat Aceh resah.

"TNI sedang menyiapkan langkah guna mengatasi gerak pengacau keamanan. Tindakan mereka tidak bisa dibiarkan karena sudah menelan korban jiwa di masyarakat," katanya di Banda Aceh, Selasa.

Pangdam usai memimpin upacara penyambutan prajurit Kodam Iskandar Muda yang tergabung dalam satgas batalion mekanik Kontingen Garuda XXIII-E/Unifil dari tugas operasi di Lebanon, mengimbau masyarakat memberikan informasi jika ada pihak atau orang yang mencurigakan.

"Kami juga membutuhkan informasi dari masyarakat jika di daerahnya ada orang yang mencurigakan dan menyaru sebagai petugas instansi lain, padahal ingin membuat kekacauan," kata Mayjen TNI Adi Mulyono.

Ia menjelaskan, kekuatan TNI dibandingkan dengan luas daerah di Aceh terbatas, karenanya untuk kelancaran tugas dalam menghadapi pengacau keamanan bersenjata diperlukan bantuan informasi dari masyarakat.

Pangdam juga menjelaskan, kasus penembakan dan penggranatan yang terjadi beberapa pekan terakhir di sejumlah daerah di Aceh itu mengindikasikan bahwa senjata api masih banyak di wilayah ini.

Sepanjang satu tahun terakhir (2011), Pangdam menyebutkan sebanyak 218 pucuk senjata api telah ditemukan TNI di sejumlah daerah di Aceh.

Seperti diberitakan sebelumnya tiga warga tewas dan lima lainnya luka serius setelah ditembak sekelompok orang bersenjata api tak dikenal di kawasan Geuredong Pasee, Kabupaten Aceh Utara pada Minggu (4/12) malam.

Pangdam juga mengindikasikan ada kelompok lama yang sedang bermain dengan tujuan mengacaukan keamanan yang sedang kondusif pascaperdamaian di Aceh.

"Tidak perlu menyakiti rakyat. Rakyat Aceh sedang menikmati suasana perdamaian. Untuk apa lagi kita ribut-ribut. Kalau pun Pilkada, yang terpilih nanti pasti yang terbaik dan itu juga putra Aceh," kata Mayjen TNI Adi Mulyono.

Sumber : www.antaranews.com

Selasa, 29 November 2011

Kontingen Garuda XXIII-EUNIFIL akhiri tugas di Lebanon

Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Satgas Yonmek Kontingen Garuda (Konga) XXIII-E/UNIFIL atau Indonesia Battalion (INDOBATT) mengakhiri tugas sebagai pasukan perdamaian (peacekeepers) selama setahun di Lebanon Selatan. Perwira Penerangan (Papen) INDOBATT Mayor Pasukan Banu Kusworo kepada ANTARA News melalui surat elektronik dari Lebanon, Selasa, mengatakan akhir misi di Lebanon itu ditandai dengan upacara serah terima jabatan (sertijab) atau "transfer of authority" (TOA) di lapangan Soekarno Markas Indobatt UN POSN 7-1, Adshit Al Qusayr, Lebanon Selatan..

Dalam upacara militer itu, Komandan Satgas Yonmek Konga XXIII-E/UNIFIL, Letkol Inf Hendy Antariksa, menyerahkan tugas, wewenang, dan tanggung jawab jabatan kepada Komandan Satgas Yonmek Konga XXIII-F/UNIFIL, Letkol Inf Suharto Sudarsono. Upacara militer itu diawali dengan penyerahan Bendera PBB dari Komandan Satgas Yonmek Konga XXIII-E/UNIFIL, Letkol Inf Hendy Antariksa, kepada Komandan Sektor Timur UNIFIL, Brigjen Guitierrez Diaz De Otazu, selaku inspektur upacara (irup). Setelah itu, Komandan Sektor Timur UNIFIL, Brigjen Guitierrez Diaz De Otazu, menyerahkan Bendera PBB itu kepada Komandan Satgas Yonmek Konga XXIII-F/UNIFIL, Letkol Inf Suharto Sudarsono, selaku pimpinan yang baru.

Dalam amanatnya, Brigjen Guitierrez Diaz De Otazu mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kinerja Letkol Inf Hendy Antariksa yang ditunjukkan selama satu tahun memimpin satuannya dengan baik dan penuh dedikasi tinggi dalam mengemban misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan.

Selain itu, jenderal bintang satu asal Spanyol itu juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada prajurit Indobatt yang telah mampu melaksanakan tugas dengan baik dan kehadirannya bisa diterima oleh masyarakat Lebanon. Hal itu terbukti dengan berbagai macam kegiatan CIMIC yang selalu mendapat sambutan positif dari masyarakat Lebanon.

Ucapan selamat datang juga disampaikan oleh Komandan Sektor Timur UNIFIL kepada Komandan Satgas Yonmek Konga XXIII-F, Letkol Inf Suharto Sudarsono, dengan harapan semoga bisa meneruskan tugas dengan baik pula.

Upacara itu dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Lebanon, HE Imas Samudra Rum, Atase Pertahanan RI untuk Mesir dan Lebanon, Kolonel Laut (P) Teguh Isgunarto, dan Komandan Force Headquarters Support Unit (FHQSU), Kolonel Adm Darmawan Bakti. Selain itu tampak hadir pula, Wadan Sektor Timur UNIFIL, Kolonel Inf Marzuki, para Komandan Batalyon di jajaran Sektor Timur UNIFIL, perwakilan pejabat Tentara Lebanon (Lebanese Armed Forces) serta pejabat sipil setempat.

Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Yonmek Kontingen Garuda XXIII-E/Unifil itu kembali ke Tanah Air dalam enam gelombang pemulangan yakni 21, 23, 25, 27, 28, dan 30 November.

www.antaranews.com

PBB Inspeksi Peralatan TNI di Kongo

Menjelang akhir penugasannya, pasukan Satgas Kizi TNI Kontingen Garuda XX-H/Monusco menerima inspeksi peralatan dan perlengkapan dari Tim COE (Contingent Owned Equipment) PBB, di Bumi Nusantara Camp Dungu.

Tidak seperti biasanya, inspeksi kali ini dilaksanakan pada hari Minggu (27/11). Perwira Seksi Logistik Satgas, Kapten Czi Eko Pur Indriyanto dalam paparannya menjelaskan bahwa alat peralatan satgas baik alat berat, maupun kelengkapan pendukung lainnya tersebar di tiga lokasi pekerjaan yakni rehabilitasi jalan Dungu-Duru, Dungu internal road serta pemeliharaan bandara dan Log Base.

Adapun Tim yang melakukan pemeriksaan terdiri dari enam orang yaitu Mr. James Boima (Siera Leone) sebagai Ketua Tim, Miss Kristina Zovanovic (Serbia), Mr. Solomon Shok (Nigeria), Mr. Yossey (Honduras), Mayor Naseer (Pakistan) dan dr. Serger Eric Honore Yobo (Pantai Gading).

Selesai mendengarkan paparan, Tim COE terbagi menjadi dua kelompok. Untuk pengecekan alat berat di lokasi pekerjaan dilaksanakan oleh Mr. James Boima dan Miss Kristina Zovanovic.

Sedangkan di Camp Bumi Nusantara dan Dungu internal road oleh Mr. Solomon Shok, Mr.Yossey dan Mayor Naseer. Dalam Inspeksi kali ini, Tim COE langsung melihat alat berat yang sedang operasional di lokasi pekerjaan.

Dari keenam Tim COE tersebut mengakui bahwa Satgas Kizi TNI Konga XX-H/Monusco yang sudah 13 bulan bertugas di wilayah Dungu-Kongo, banyak mengalami kemajuan dalam perawatan maupun perbaikan alat dibanding hasil pemeriksaan sebelumnya, namun masih ada beberapa kendaraan yang tidak siap operasional karena belum tersedianya spare part yang diperlukan.

Pada Inspeksi yang hanya dilakukan satu hari itu, Konga XX-H/Monusco pimpinan Letkol Czi Widiyanto (Dansatgas) tersebut dapat memberikan gambaran nyata bagi Tim COE dari PBB bahwa dengan tingkat kesiapan peralatan yang ada Satgas Indonesia akan mampu melaksanakan tugas sebagai sebuah Satuan Zeni untuk mendukung misi pemeliharaan perdamaian di Kongo.

www.poskota.co.id

TNI/Polri Tak Punya Hak Pilih pada 2014

TNI/POLRI TAK PUNYA HAK PILIH PADA 2014

Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu DPR tidak akan melanjutkan pembahasan mengenai dikembalikannya hak pilih bagi TNI/Polri pada Pemilu 2014. Anggota Pansus RUU Pemilu DPR dari Partai Golkar Nurul Arifin mengatakan, sikap ini diambil sebagai tindak lanjut dari pernyataan TNI dan Polri yang mengaku belum siap mempergunakan hak tersebut dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) beberapa waktu lalu. "Pansus telah mengundang TNI/Pori untuk mendengarkan pandangan mereka. Namun, dengan iklim demokrasi sekarang, mereka menolak mempergunakan hak pilih itu," ungkap Nurul.

Menurutnya,alasan ketidaksiapan TNI/Polri menggunakan hak pilihnya karena mereka khawatir akan terjadi perpecahan internal dan muncul kubu-kubuan. TNI/Polri juga khawatirmasyarakatbelumbisa menerima keterlibatan mereka secara aktif dalam pemilu. Golkar, lanjut Nurul, berpandangan bahwa diskursus ini sudah perlu dikemukakan. Jika TNI/Polri belum siap pada Pemilu 2014, penggunaan hak pilih ini masih perlu diwacanakan pada Pemilu 2019. "Kalau demokrasi kita sudah matang dan TNI Polri juga sudah ada jaminan profesionalitas, tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan keterlibatan anggota mereka dalam memberikan hak politiknya," jelas Nurul.

Dengan demikian, kata dia, keterlibatan TNI/Polri dalam ajang demokrasi lima tahunan ini hanya sebatas pengamanan dan diperbantukan dalam operasional. Dia mencontohkan, untuk Polri peranannya jelas sebagai keamanan. Sementara untuk TNI,mereka bisa diperbantukan untuk pengiriman logistikdanoperasionalpemilu. Sementara itu,Ketua Pansus RUU Pemilu Arif Wibowo mengatakan, dari hasil RDPU dengan TNI/Polri, pihaknya mendapatkan gambaran bagaimana alokasi anggaran untuk dua lembaga tersebut dalam fungsi diperbantukan pada penyelenggaraan pemilu.

Kemungkinan, alokasi anggaran yang untuk TNI Polri tidak disatukan dengan anggaran penyelenggaraan pemilu. Untuk TNI masuk anggaran Kementerian Pertahanan, sedangkan untuk Polri,ada penambahan anggaran demi pembiayaan keamanan pemilu. "Keterlibatan mereka sebatas untuk menyukseskan pesta demokrasi agar berjalan aman dan lancar," katanya. The Indonesian Human Rights Monitor (Imparsial) menilai pemulihan hak pilih bagi TNI baru dapat dilakukan setelah merevisi UU No 31/1997 tentang Peradilan Militer.

Hal ini untuk memberikan jaminan peradilan yang independen bila terjadi penyimpangan oleh anggota TNI.Karenanya, Imparsial mendukung TNI/Polri tidak memiliki hak pilih pada Pemilu 2014. Direktur Program Imparsial Al Araf mengatakan, pemberian hak pilih bagi TNI dan Polri tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Perlu kajian mendalam dengan mempertimbangkan berbagai faktor. "Hal yang paling penting adalah kerangka reformasi TNI di mana penempatan anggota TNI sebagai warga negara yang sama dengan warga negara lainnya di hadapan politik dan hukum merupakan suatu keharusan," ujar dia.

Sistem Pemilu

Sementara itu,Wakil Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa memandang, pembahasan sistem pemilu yang akan dipakai jauh lebih penting daripada parpol-parpol meributkan angka parliamentary threshold. Dia mengatakan, pihaknya lebih mementingkan bagaimana sistem pemilu yang lebih sederhana akan bisa mengurangi peluang terjadinya kecurangan. "Unsur keterwakilan itu harus dipertahankan. Jangan sampai kemudian pemilu ini tidak melahirkan tingkat keterwakilan yang tinggi. Saya tidak bicara PT harus berapa. PPP akan melihat sistem mana yang menjamin keterwakilannya itu lebih tinggi. Itu yang penting," tegasnya.

www.seputar-indonesia.com