Cari di Blog Ini

Minggu, 04 Maret 2012

KRI Silas Papare (386)

KRI Silas Papare (386) adalah kapal perang jenis korvet kelas Parchim yang dimiliki dan dioperasikan oleh TNI Angkatan Laut. Kapal perang KRI Silas Papare (386) ini sebelumnya adalah milik Jerman Timur yang awalnya dibuat untuk dioperasikan oleh Angkatan Laut Uni Soviet. Namun setelah terbentuknya negara Jerman Bersatu, pada tahun 1993 belasan unit kapal korvet kelas Parchim ini dibeli oleh Indonesia, termasuk yang kemudian menjadi KRI Silas Papare (386) dan kemudian memperkuat armada kapal perang TNI-AL.
KRI Silas Papare (386). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Silas Papare (386)
KRI Silas Papare (386) yang merupakan salah satu unsur KRI (Kapal Perang Republik Indonesia) di jajaran Koarmabar berhasil menangkap kapal ikan asing berbendera Malaysia di Perairan Gosong Berhala, Selat Malaka. Dalam kegiatan pengamanan perairan Selat Malaka, TNI Angkatan Laut melibatkan unsur Kapal Republik Indonesia (KRI) Silas Papare-386 dan Pesawat udara Patroli Maritim P-850. KRI Silas Papare - 386 yang dinakhodai Letkol Dovian Syafril, sambung Darmawangsa, mendeteksi KM Demonah yang berada sekitar dua mil dari Pelabuhan Balohan. Karena gerak-gerik kapal itu mencurigakan, apalagi saat didekati, kapal tersebut berusaha menjauh, anggota TNI AL yang sedang patroli makin curiga KM Demnah itu mengangkut sesuatu yang dilarang. Aparat KRI Silas Papare (386) menangkap dua kapal penyelundup kayu olahan, MV Mitra Karya bertonase 415 ton yang akan menyelundupkan ribuan meter kubik kayu olahan dan kapal tongkang tak bernama yang membawa alat-alat berat tanpa dokumen sah.
KRI Silas Papare (386) adalah sebuah Korvet kelas Parchim yang dibuat untuk Volksmarine / AL Jerman Timur pada akhir 70-an. Penamaan menurut Pakta Warsawa adalah Project 133. Kapal ini didesain untuk perang anti kapal selam diperairan dangkal / pantai. Enam belas kapal dibuat untuk Volksmarine (1997-1981) dan 12 kapal (versi modifikasi) dibuat untuk AL Soviet pada 1985-1990 oleh Peenewerft, Wolgast.

Soviet memesan kapal ini dengan tujuan untuk menolong industri kapal Jerman Timur, karena saat itu sebenarnya Soviet sudah mempunyai Korvet kelas Grisha yang lebih baik dibanding Parchim dalam semua aspek. Begitu keluar dari perairan dangkal keampuhan dari kapal kelas Parchim ini menurun drastis.

Di Soviet korvet kelas Parchim dikembangkan lagi menjadi Korvet kelas Parchim II. Setelah Penyatuan kembali Jerman, bekas negara Jerman timur menjual kapal-kapal Parchimnya ke TNI AL Indonesia pada tahun 1993. Oleh TNI AL kapal ini dimodifikasi dengan menambahkan kapasitas BBM untuk patroli lebih lama dilaut.

Spesifikasi Kapal Perang KRI Silas Papare (386) :

Pelabuhan utama : Armada Barat TNI-AL
Berat benaman : 793 ton standar, 854 ton beban penuh
Panjang : 75,2 m (246,7 ft)
Lebar : 9,78 m (32,1 ft)
Draft : 2,65 m (8,7 ft)
Tenaga penggerak : 3 shaft M504 Diesel, 14.250 hp
Kecepatan : 24,7 knot
Jarak tempuh : 2.100 nm pada 14 knot
Awak kapal : 62 orang
Sonar & Radar : Radar MR-302/Strut Curve, Radar kontrol tembakan MR-123 Vympel/Muff Cob
Persenjataan elektronik : Sonar MG-322T, Decoy PK-16 decol RL
Persenjataan : 2 x SA-N-5 SAM, 2 x 57 mm gun (1x2), 2x30mm gun (1x2) atau 1 x AK-630, 2 x RBU-6000-peluncur roket anti kapal selam, 4 x 400 mm tabung torpedo, 60 x ranjau

wikipedia.org

Tiga Taruna Akademi TNI mendapat beasiswa National Defense Academy (NDA) ke Jepang

Tiga Taruna Akademi TNI mendapat beasiswa National Defense Academy (NDA) ke Jepang.
Tiga kopral taruna akademi TNI dapat beasiswa ke Jepang

Tiga kopral taruna Akademi TNI mendapat beasiswa dari Kementerian Pertahanan untuk belajar di National Defense Academy (NDA) Jepang. Kopral taruna adalah pangkat bagi taruna tingkat pertama di lembaga pendidikan Akademi TNI. Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Hartind Asrin, di Magelang, Rabu, mengatakan, mereka adalah Kopral Taruna Singgih Aryoseno (Akademi Militer/TNI-AD), Kopral Kadet Aris Prasetya Utomo (Akademi Angkatan Laut/TNI-AL), dan Kopral Karbol Sirilus Danar Agmar (Akademi Angkatan Udara/TNI-AU).

Asrin mengatakan, beasiswa itu hasil kerja sama dan kelonggaran hubungan pertahanan Jepang dengan berbagai negara di dunia. Hubungan dengan Indonesia telah terjalin sejak 1998. "Sebelumnya memang belum beasiswa penuh, namun sejak 2011 lalu telah beasiswa penuh dari Kemenhan," katanya.

Menurut dia, dari kerja sama tersebut telah meluluskan 19 orang untuk jenjang S1 dan S2. Sebanyak 13 orang taruna dan perwira TNI saat ini sedang menempuh pendidikan di Jepang. Ia mengatakan, kesempatan mengenyam pendidikan bagi warga Indonesia di NDA yang bermarkas di kawasan Yokosuka, Provinsi Kanagawa, ini juga diberikan kepada lulusan SMA Taruna Nusantara yang mengambil S1 selama lima tahun, sedangkan untuk taruna TNI gelar S2 selama tiga tahun. "Masing-masing satu tahun digunakan untuk mempelajari bahasa Jepang dan selebihnya digunakan untuk mempelajari tentang strategi pertahanan dan lainnya," katanya.

Ia menuturkan, pengiriman calon perwira dan perwira militer Indonesia ke Jepang diharapkan memberikan kontribusi lebih baik, terutama dalam mengatasi tantangan keamanan global. Selain itu, katanya, untuk mempelajari tren dan perkembangan keamanan regional dan internasional.

Menyinggung jenjang pendidikan, dia mengatakan, penerima beasiswa mendapatkan keuntungan lebih. Ketika teman satu angkatan sedang diwisuda di Indonesia, mereka akan kembali ke Indonesia untuk ikut wisuda dan mendapatkan pangkat letnan. "Setelah mengikuti wisuda, mereka akan kembali lagi ke Jepang untuk melanjutkan pendidikannya sampai selesai dengan gelar S1 atau S2 Pertahanan Jepang," katanya.

Ia mengatakan, beasiswa sebelumnya untuk SMA Taruna Nusantara, kemudian mulai 2011 untuk Akademi TNI.

www.antaranews.com

Penerimaan Calon Perwira TNI-AU Tahun 2012

TNI-AU
TNI-AU
| PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. TNI-AU.
TNI-AU. Penerimaan Calon Perwira TNI-AU Tahun 2012.
Kesempatan Jadi Calon Perwira TNI AU Hingga 30 April 2012

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara membuka kesempatan kepada pemuda Indonesia untuk menjadi Perwira melalui Akademi Angkatan Udara (AAU). Pendaftaran dimulai sejak 1 Maret hingga 30 April 2012.

"Kami membuka kesempatan bagi yang hendak mendaftar menjadi perwira melalui AAU. Dan, selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pemeriksaan atau pengujian terhadap calon perwira TNI Angkatan Udara tidak dipungut biaya apapun," ujar Kepala Penerangan dan Perpustakaan Pangkalan Udara Husein Sastranegara Mayor Sus Asniwaty, Jumat (2/3/12).

Dikatakan Asni, untuk keterangan dapat langsung menghubungi atau datang ke Kantor Dinas Personel Lanud Husein Sastranegara, Jalan Abdurahman Saleh, Kota Bandung, atau menghubungi nomor telefon (022) 6036610, 6037630 ext. 278, juga situs http://rekrutmen-tni.ilmci.com.

www.pikiran-rakyat.com

AS akan operasikan 30 pangkalan untuk jet tempur F-35 Lightning II

Jet tempur F-35 Lightning II
Jet tempur F-35 Lightning II. AS akan operasikan 30 pangkalan untuk jet F-35 Lightning II.
AS Kurangi Jumlah Pangkalan F-35

Khawatir dengan perkiraan biaya operasional dan perawatan yang bisa mencapai 1 triliun dollar AS (Rp 9,07 kuadriliun), Angkatan Bersenjata Amerika Serikat memutuskan mengurangi jumlah pangkalan yang akan menjadi basis operasi pesawat tempur masa depan F-35 Lightning II. Majalah penerbangan Aviation Week, Jumat (2/3/2012), menyebutkan, dua calon operator utama F-35 di AS, yakni Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS, mulai meninjau kembali rencana pengoperasian jet tempur generasi kelima tersebut untuk memangkas biaya operasi dan perawatan (O&S cost).

Kepala Staf AU AS Jenderal Norton Schwartz mengatakan, pihaknya semula berencana menempatkan F-35 di lebih dari 40 pangkalan. "Dengan perkembangan terbaru ini, kami mengurangi jumlah pangkalan menjadi sekitar 30 pangkalan saja," ujar Scwartz.

Pengurangan basis operasi F-35 ini sejalan dengan rencana AU menutup beberapa pangkalan dalam rangka pengurangan kelebihan infrastruktur yang mereka operasikan hingga 20 persen. AU AS berencana mengoperasikan varian F-35A untuk menggantikan armada pesawat F-16 Fighting Falcon. Ini adalah perkembangan terbaru dari program Joint Strike Fighter (JSF), yang sebelumnya sudah diwarnai sederet kabar tak mengenakkan, mulai dari pembengkakan biaya pengembangan program, berbagai masalah teknis yang ditemukan saat uji terbang, dan kemungkinan penundaan produksi, pengurangan jumlah pesanan, sampai pembatalan pesanan.

Departemen Pertahanan AS telah memutuskan menangguhkan pemesanan 179 unit F-35 dalam lima tahun ke depan sebagai bagian dari langkah penghematan anggaran pertahanan AS. AS sedianya akan membeli sekitar 2.400 unit F-35 untuk menggantikan seluruh armada F-16, F/A-18, dan AV-8B Harrier II, yang selama ini menjadi andalan AU, AL, dan Korps Marinir AS. Kabar tersebut memicu kekhawatiran negara-negara calon pembeli F-35 bahwa harga satuan pesawat itu akan naik lagi. Jepang sudah menyatakan akan membatalkan rencana pembeliannya apabila harga dinaikkan dan jadwal pengiriman tertunda.

Sementara Italia, salah satu dari delapan negara di luar AS yang menjadi mitra utama program JSF, sudah memutuskan memotong rencana pembelian 131 unit F-35 sebesar 30 persen. Negara-negara lain dikhawatirkan akan mengikuti langkah Italia. Meski demikian, dalam pertemuan yang difasilitasi Menteri Muda Pertahanan Nasional Kanada Julian Fantino di Kedutaan Besar Kanada di Washington DC, AS, Kamis hingga Jumat (2/3/2012), perwakilan sembilan negara mitra JSF, yakni AS, Kanada, Inggris, Australia, Turki, Denmark, Norwegia, Italia, dan Belanda, menyatakan tetap mendukung penuh program F-35 tersebut.

internasional.kompas.com

Sabtu, 03 Maret 2012

KRI Teuku Umar (385)

KRI Teuku Umar (385) adalah kapal perang jenis korvet kelas Parchim yang dimiliki dan dioperasikan oleh TNI Angkatan Laut. Kapal perang KRI Teuku Umar (385) ini sebelumnya adalah milik Jerman Timur yang awalnya dibuat untuk dioperasikan oleh Angkatan Laut Uni Soviet. Namun setelah terbentuknya negara Jerman Bersatu, pada tahun 1993 belasan unit kapal korvet kelas Parchim ini dibeli oleh Indonesia, termasuk yang kemudian menjadi KRI Teuku Umar (385) dan kemudian memperkuat armada kapal perang TNI-AL.
KRI Teuku Umar (385). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Teuku Umar (385)
KRI Teuku Umar (385) sejak Kamis (28/2) sore lalu singgah di Pelabuhan Indah Kiat (IK) Merak. KRI anti kapal selam ini sebelumnya berangkat dari Pangkalan TNI AL di Tanjung Priuk Jakarta, Senin (25/2). Komandan KRI Teuku Umar Mayor Laut (P) Agam Hendrasmoro mengatakan, persinggahan ini dilakukan dalam rangka mengisi bahan bakar dan perbekalan. Sebelumnya, kapal buatan eks Jerman Timur ini melakukan operasi Rakata Jaya atau patroli pengamanan di sekitar wilayah Perairan Barat Jawa, mulai dari Jakarta hingga Selat Sunda. “Patroli ini dilakukan guna mengamankan tindak kejahatan di laut, seperti illegal logging, perompakan, bahkan pencurian hasil laut,” kata Agam. Menurutnya, singgahnya kapal yang memiliki kecepatan 18 knot ini diharapkan juga dapat dimanfatkan warga guna mengenal lebih dekat tentang kapal perang. ”Umumnya pelajar, agar mereka mengerti dan bertambah wawasan tentang bahari,” ungkapnya. Berdasarkan pantauan Radar Banten, puluhan pelajar dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, kemarin, melakukan kunjungan ke kapal perang KRI Teuku Umar (385) milik TNI AL ini. Salah satunya para siswa dari SD IV YPWKS. “Selama ini para siswa hanya mengetahui dari tv dan majalah saja, namun setelah melihat langsung diharapkan mereka lebih cinta bahari, mengingat nenek moyang kita dulunya kan seorang pelaut,” kata Kepala Sekolah SD IV YPWKS Cilegon Sudaryanti. Wilayah perairan samudra hindia rawan pencurian ikan atau illegal fishing. Kondisi ini pun mendapat perhatian Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Badri Suhendi. Ia pun mendesak agar TNI Angkatan Laut (AL) turut menjaga perairan samudra hindia itu. Begitu penegasan Badri Suhendi saat menerima tamu awak KRI Teuku Umar (385), Kepala Staf Gugus Tempur Armada Barat (Guspulabar) Kolonel Laut P Ing Ariawan, Komandan KRI Teuku Umar 385 Armada Barat (Armabar), Mayor Laut P Agus Prabowo di Dramaga Palabuhanratu, kemarin. Menurut Badri, wilayah zona ekonomi ekslusif (ZEE) masih banyak kapal luar berusaha mencuri ikan di perairan Samudra Hindia. Makanya ia pun mengusulkan Pos Angkatan laut (Posal) Wilayah Palabuhanratu masuk dalam APBD 2012. “Ada dua usulan kami yakni peningkatan Posal menjadi Lanal dan meminta lahan 400 meter di Cisolok untuk markasnya. Kedua, Posal meminta satu unit kapal operasional yang harganya Rp 300 juta,” kata Badri dihadapan Angkatan Laut KRI Teuku Umar (385). Sedangkan Mayor Laut P Agus Prabowo menjelaskan KRI Teuku Umar ini dibuat pada 1977 memiliki panjang 70 meter dan lebar 9 meter. Kapal dari Jerman itu dibeli Indonesia pada 1980. Kapal itu juga memiliki persenjataan, mulai meriam kaliber 57 dengan jangkauan 6 mil sampai bom laut dan torpedo. “Kapal ini juga terdapat radar dengan jangkauan 40 mill,” jelasnya. Lebih jauh Agus Prabowo menjelaskan kunjungannya ke perairan Palabuhanratu ini merupakan patroli ke wilayah barat. “Kita berkeliling. Hanya saja kami menyandar dulu kapal untuk berkunjung ke Pemkab dan DPRD Kabupaten Sukabumi, ” tegasnya. Apalagi Sukabumi merupakan tempat sekolah pimpinan kapal tersebut semasa di SMAN 1 Kota Sukabumi pada 1981 lalu. Ya, Komandan Gusus Tempur Armada Barat (Gusupurmabar), Laksamana Pertama Akhmad Taufiqurahman merupakan teman sekelas Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora), Thendy Hendrayana, Kadishutbun, Dana Budiman, Anggota Polsek Palabuhanratu, Ipda Koswara dan Kabag Perlengkapan Setda Kabupaten Sukabumi, Endin Sudirman.
KRI Teuku Umar (385) merupakan kapal perang Indonesia dari jenis korvet. Kapal ini termasuk kapal korvet kelas Parchim dengan kode Pakta warsawa Type 133.1. Kapal ini didesain untuk perang anti kapal selam diperairan dangkal / pantai. Enambelas kapal dibuat untuk Volksmarine (1997-1981) dan 12 kapal yang dimodifikasi dibuat untuk AL Soviet pada 1985-1990 oleh Peenewerft, Wolgast. Setelah Penyatuan kembali Jerman , Bekas negara Jerman Timur menjual kapal-kapal ini ke TNI AL Indonesia pada 1993. Kapal korvet ini pernah digunakan sebelumnya oleh tentara Angkatan Laut Jerman Barat. Kapasitas kapal ini bisa menampung sebesar 20 hingga 59 orang anak buah kapal.

Dimensi kapal perang KRI Teuku Umar (385) berukuran 75.2meter x 9.78meter x 2.65 meter/ (246.7 x 32.1 x 8.7 kaki). Berat muatan penuh sekitar 900 ton.

Persenjataan :
  • Torpedo
    KRI Teuku Umar (385) dilengkapi dengan empat tabung peluncur torpedo 15.7 inci.
  • Peluru kendali
    Sistem pertahanan udaranya adalah dua peluncur rudal SA-N-5, rudal darat ke udara untuk pertahanan udara jarak-dekat terhadap pesawat sayap tetap , pesawat sayap putar dan terhadap rudal anti-kapal yang datang.
  • Anti kapal selam
    Selain itu ia juga dilengkapi dengan 2 RBU-6000 untuk peranan anti-kapal selam (ASW RL) dan juga mempunyai 2 para (Deep Charge).
  • Meriam
    Meriam utama kapal perang KRI Teuku Umar (385) yang dipasang pada dek depan, adalah meriam kembar 57mm/70 caliber DP. Kapal ini juga dilengkapi dengan satu senapan 30 mm kembar serbaguna.
  • Decoy
    PK-16 decol RL yang bisa diluncurkan dalam mode ganggu (distraction) atau menarik (seduction) untuk mengelabui rudal musuh. Selain itu ia juga mempunyai sistem pemantau Watch Dog intercept.
Radar dan Sonar :
Radar kapal ini adalah MR-302/Strut Curve bisa digunakan untuk pencarian sasaran di permukaan dan di udara yang dipadukan dengan sistem kontrol tembakan MR-123 Vympel/Muff Cob. Kedua alat itu bekerja secara bersamaan dalam men-scan area diudara maupun dipermukaan. Kapal anti-kapal selam (ASW) ini juga dilengkapi dengan sonar aktif berfrekuensi sederhana di badan kapal dari jenis MG-322T.

Tenaga penggerak :
Kapal perang KRI Teuku Umar (385) mempunyai tiga mesin disel yang dihubungkan dengan tiga gandar bagi menghasilkan tenaga sebesar 14,250 bhp, dengan kecepatan beroperasi 24 nm.

wikipedia.org

Pesawat angkut militer strategis Ilyushin Il-476 akan lakukan penerbangan perdana tahun ini

Pesawat Ilyushin Il-476
Pesawat Ilyushin Il-476. Pesawat angkut militer strategis Ilyushin Il-476 akan lakukan penerbangan perdana tahun ini.
Akhir Juni, Ilyushin Il-476 Terbang Perdana

Pesawat angkut strategis Ilyushin Il-476, yang merupakan versi modernisasi dari pesawat legendaris Il-76, dijadwalkan melakukan penerbangan perdana pada akhir Juni tahun ini. Selanjutnya, pesawat tersebut akan menjadi tulang punggung transportasi strategis Angkatan Bersenjata dan Kementerian Keadaan Darurat Rusia. Demikian dinyatakan produsen pesawat Aviastar yang bermarkas di Ulyanovsk, Rusia Selatan, Jumat (2/3/2012). "Proyek 476 adalah masa depan kita," ujar Direktur Jenderal Aviastar Sergei Dementyev.

Aviastar, yang juga memproduksi pesawat angkut raksasa Antonov An-124, berharap bisa memproduksi hingga 10 unit Il-476 per tahun dan sedang menjajaki kemungkinan ekspor ke China dan India serta beberapa operator komersial sipil.

Pesawat Il-476 (atau disebut juga dengan Il-76MD-90A) dikembangkan dari desain lama Il-76 dengan berbagai modifikasi tingkat lanjut, meliputi mesin baru, struktur sayap yang diperkuat, kokpit modern, dan kapasitas angkut yang lebih besar.

Produksi Il-76 dan pengembangan proyek Il-476 sempat tertunda saat pabrikan TAPO dari Uzbekistan, yang bertanggung jawab memproduksi struktur rangka utama pesawat dengan ukuran panjang 46,59 meter itu tak sanggup lagi melanjutkan produksi karena kelambatan pesanan pesawat tersebut. Akibat ketidakmampuan TAPO tersebut, Rusia kehilangan kontrak pembelian 38 unit Il-76 dari China. Pemerintah Rusia pun kemudian memindahkan produksi pesawat itu ke Aviastar untuk merampungkan program modifikasi Il-476 bagi AU Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia berencana membeli hingga 100 pesawat baru ini dalam 10 tahun ke depan untuk menggantikan armada Il-76 lama.

internasional.kompas.com

TNI-AL dan TNI-AD terima helikopter Bell 412 EP baru buatan PT DI

Helikopter Bell 412 EP TNI
Helikopter Bell 412 EP TNI. TNI-AL dan TNI-AD terima helikopter Bell 412 EP baru buatan PT DI.
Kemhan Serahkan 3 Helikopter Serbu ke TNI

Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyerahkan tiga unit Helikopter Bell 412 EP jenis serbu, yang dialokasikan untuk TNI Angkatan Darat (AD) dua unit dan satu unit untuk TNI Angkatan Laut (AL). Penandatanganan naskah serah terima dilakukan di PT Dirgantara Indonesia (DI), Bandung, Jumat (2/3), oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan (KaBaranahan) Mayjen TNI Ediwan Prabowo dan Direktur Utama PT DI Budi Santoso, Wakil Asisten Logistis Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Waaslog KSAD) Brigjen TNI Nengah Widana dan Asisten Logistik Kepala Staf TNI Angkatan Laut ((Aslog KSAL) Laksamana Muda TNI Sru Handayanto.

Serah terima helikopter disaksikan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, KSAL Laksamana TNI Soeparno, Wakil KSAD Letjen TNI Budiman, Aslog Panglima TNI Mayjen TNI Hari Krisnomo dan Kepala Pusat Komunikasi dan Publik (Kapuskomblik) Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin. Sementara dari legislatif hadir, diantaranya Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasunuddin dan anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar Fayakhun Andriadi.

Purnomo menyatakan komitmen pemerintah untuk meningkatkan dan memperkuat alat utama sistem senjata (alutsista). Pengadaan alutsista TNI itu dimaksimalkan melalui produksi dalam negeri. "Seiring dengan komitmen pemerintah terhadap penggunaan produksi dalam negeri, maka kita (pemerintah) akan konsisten meningkatkan dan memperkuat alutsista TNI," ujar Menhan.

Khusus pengadaan Helikopter Bell 412 EP, jelas Menhan, sesuai rencana strategis TNI AD dan TNI AL tahun 2009 - 2014 sebagai upaya pemenuhan kebutuhan alutsista TNI. Helikopter jenis serbu yang juga bisa dioperasionalkan sebagai helikopter angkut ini akan memperkuat operasi Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Puspenerbad) dan Puspenerbal.

Sekarang ini, lanjut Purnomo, kekuatan alutsista helikopter yang dimiliki TNI dari tigaa matra udara, darat dan laut, berjumlah 76 unit. Rincian, 23 unit berada di jajaran Puspenerbad dan 10 unit di operasikan TNI AL serta 43 unit dimiliki TNI AU. Sedangkan dalam skala waktu lima tahun ini, Purnomo mengungkapkan rencana pemerintah kembali mengadakan 29 unit helikopter Bell 412. Alokasinya, 20 unit jenis Bell 412 EP untuk TNI AD, tiga unit Bell 412 EP TNI AL dan enam unit untuk TNI AU jenis EC 7255 full combat SAR. "Tiga diantaranya, telah kita saksikan bersama diserahkan hari ini," jelas Menhan.

Budiman menyatakan, idealnya TNI AD membutuhkan sekitar 200 unit helikopter berbagai jenis untuk menunjang kegiatan militer yang ditargetkan bisa dicapai pada 2024. Jenis helikopter yang dibutuhkan yakni helikopter serbu, angkut, dan komando. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, TNI AD seoptimal mungkin menggunakan produksi PT Dirgantara Indonesia (DI). Karena itu, lanjut Wakil KSAD, serah terima helikopter ini merupakan awal penyerahan sebagai bagian rencana peningkatan kemampuan Skuadron 12 Serbu Pusat Penerbangan AD (Puspenerbad) dengan kekuatan 32 unit helikopter, terdiri 24 unit helikopter serbu dan delapan unit helikopter serang.

Generasi Terbaru

Sementara, Budi Santoso menjelaskan, helikopter angkut atau serbu Bell 412 EP adalah jenis medium dengan kapasitas 15 personel, yang sudah dioperasikan Skuadron 11/Serbu dan Skuadron 21/Sena Puspenerbad. Adapun TNI AL, paparnya, sudah mengoperasikan Bell 412 SP dan Bell 412 HP yang masuk armada helikopter Skuadron 400 Pusat Penerbangan AL (Puspenerbal).

www.suarakarya-online.com

Pembelian 92 jet tempur Sukhoi Su-34 Fullback oleh militer Rusia untuk gantikan Su-24 Fencer

Sukhoi Su-34 Fullback
Sukhoi Su-34 Fullback. Pembelian 92 jet tempur Sukhoi Su-34 Fullback oleh militer Rusia untuk gantikan Su-24 Fencer.
Rusia Membeli 92 Sukhoi Su-34

Setelah tertunda sekitar satu dasawarsa, Rusia akhirnya benar-benar bertekad mengganti seluruh armada pesawat tempur-pengebom Su-24 Fencer yang sudah tua dan sering jatuh. Hari Kamis (1/3/2012), Kementerian Pertahanan Rusia menandatangani kontrak pembelian 92 unit pesawat penerus Fencer, yakni Sukhoi Su-34 Fullback. Penandatanganan salah satu kontrak pembelian pesawat terbesar oleh angkatan bersenjata Rusia ini dilakukan langsung oleh Menteri Pertahanan Anatoly Serdyukov dan Direktur Jenderal Sukhoi Igor Ozar. Sebelumnya, Angkatan Udara (AU) Rusia baru memesan 32 unit Su-34, sehingga dengan kontrak baru ini, Rusia akan mengoperasikan sedikitnya 124 unit pesawat tempur-pengebom "generasi 4+" tersebut.

Sebanyak 10 unit Su-34 pertama dalam kontrak terbaru ini akan mulai dikirim tahun ini, dan semua pesawat diharapkan rampung pada 2020. Saat ini AU Rusia sudah mengoperasikan 12 unit Su-34. Pembelian pesawat baru ini menjadi bagian dari program pembelian 1.500 pesawat baru bagi Angkatan Udara Rusia sampai 2020.

Douglas Barrie, pengamat penerbangan militer dari International Institute for Strategic Studies (ISIS) di London, mengatakan, keputusan Rusia mengoperasikan Su-34 ini mundur lebih dari 10 tahun dari rencana sebelumnya. Program pengembangan Su-34 sudah dimulai sejak era 1980-an, tetapi tertunda-tunda karena masalah pembiayaan.

Pengumuman pembelian besar-besaran Su-34 ini dilakukan sekitar sepekan setelah AU Rusia mengoperasikan kembali sebagian armada Su-24 Fencer. Sebelumnya, seluruh armada pesawat tersebut dilarang terbang setelah terjadi tiga kecelakaan dalam waktu empat bulan terakhir.

Su-34 adalah pesawat tempur dua tempat duduk yang dirancang untuk melakukan serangan presisi terhadap berbagai sasaran dengan pertahanan kuat dalam segala kondisi cuaca, baik siang maupun malam. Berbagai persenjataan yang diusung pesawat ini, antara lain, kanon 30mm GSh-301, dan 12 rudal udara-ke-udara AA-10 Alamo atau AA-11 Archer, beberapa rudal udara-ke-darat dan bom. Rusia memulai produksi massal Su-34 di pabrik Sukhoi di Novosibirsk sejak 2008. Pesawat bermesin turbojet ganda dengan kemampuan afterburner AL-31MF itu dijual dengan harga 36 juta dollar AS (Rp 328,05 miliar) per unit.

internasional.kompas.com

Sukhoi Su-34 Fullback, Jet Tempur Multi Peran Buatan Rusia

Sukhoi Su-34 Fullback atau biasa juga disebut Su-32MF adalah pesawat jet tempur multi-peran yang dikembangkan oleh Biro Desain Sukhoi, Rusia. Pesawat tempur Sukhoi Su-34 Fullback ini akan digunakan untuk mengganti Su-24 Fencer yang dianggap sudah uzur.
Sukhoi Su-34 Fullback (Foto 1). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
Jet tempur Sukhoi Su-34 Fullback, widescreen, wallpaper, Jet, pesawat tempur, pembom, Rusia, Angkatan Udara, serbu, pertahanan udara. Foto, gambar, spesifikasi pesawat terbang. Konfigurasi dasar dari pesawat Su-32MF/Su-34 produksi dimaksudkan adalah pesawat tempur serang multiperan dalam, dimaksudkan untuk melakukan interdiksi medan, dukungan udara dekat dan peran dalam serangan sekarang dilakukan oleh Su-24 di Rusia, F-15E di AS dan F-111 di Australia. Selain itu membayangkan Rusia daya tahan / udara jarak peran tempur panjang untuk pesawat, dengan maksud untuk menggunakannya untuk menyerang platform ISR dengan berdiri off rudal, dalam hal ini tasking yang mencerminkan awal US Air Force on berpikir seri-111 F. Pabrikan situs web menyatakan bahwa Sukhoi Su-34 Fullback dirancang untuk mengalahkan F-15, F/A-18 dan Eurofighter Typhoon di Pertunangan tempur udara. Laporan Uni Eropa mengklaim bahwa produksi Su-32MF/34 akan dilengkapi dengan AL-41f mesin yang lebih baru, dinilai pada 35 KLB basah / SL / dorong statis, bukan AL-35f digunakan dalam demonstran. Namun, Tingkat Awal Produksi Rendah (LRIP) pesawat yang disampaikan dengan model akhir dari mesin Al-31F, Al-21MF. Pesawat ini memiliki probe pengisian bahan bakar udara, pipa untuk tiga tangki drop, dan dapat membawa Sakhalin UPAZ-1A pod pengisian bahan bakar udara melakukan sebagai tanker buddy. Sensor pesawat utama adalah Leninets besar B-004 multimode bertahap array radar, yang menggunakan seperti semua desain Rusia saat ini teknologi penggeser fasa pasif dengan Tube Gelombang Perjalanan (TWT) pemancar. Radar ini diklaim sangat modular dengan komponen berlebihan, mencerminkan model APQ-164 untuk mencapai keandalan misi yang sangat tinggi pada sorties daya tahan yang lama. Desain X-band ini diklaim mencapai 15 kW Peringkat puncak kekuasaan, meskipun radar produksi bisa melihat penggunaan pemancar Peringkat yang lebih tinggi TWT sejak dikembangkan untuk seri BAR NIIP. Radar ini diklaim menyediakan berbagai 200 sampai 250 km (108-135 NMI) terhadap sasaran permukaan yang besar, tanah kemampuan pemetaan untuk 150 km (81 NMI), Doppler balok diasah pemetaan tanah untuk 75 km (40 NMI) dan target GMTI pelacakan untuk 30 km (16 NMI), yang kedua mirip dengan kontemporer radar serangan Barat seperti APG-76. Deteksi kinerja terhadap target berukuran fighter udara ini diklaim 90 km (48,6 NMI), sebanding dengan seri N-001. Sebuah Synthetic Aperture Radar resolusi tinggi modus groundmapping direncanakan, dan mengingat keberadaannya dalam seri N-001/N-011M berevolusi, tidak kesulitan hadir. Radar menyediakan medan ketinggian modus penghindaran rendah, dan kemampuan daerah berikut otomatis. Sebuah sistem navigasi inersia dilengkapi dengan penerima GNSS (Glonass dan kemungkinan GPS A / C) yang digunakan. Internal yang direncanakan elektro-optik suite yang tampaknya telah lenyap dalam laporan yang lebih baru, dengan klaim bahwa pencitraan Sapsan-E termal dan polong laser yang menargetkan akan dilakukan secara eksternal, mungkin di stasiun Nomor 9 inlet ventral. Pengembangan Su-32/34 dilengkapi dengan panel dielektrik besar melingkar di atas pesawat, yang hanya bisa menjadi komunikasi satelit antena karena ukuran dan penempatan. Tidak ada jenis peralatan belum diungkapkan. Sebuah datalink didgital dipasang namun tidak ada pengungkapan telah dilakukan pada jenis yang belum - untuk kesadaran situasional dan udara-udara tempur standar TKS-2 terbaru pada Su-30/35 adalah jenis yang paling mungkin dipasang. Kokpit menggunakan Kepala Combiner tunggal dual Up Display, dan menampilkan AMLCD. Para cockpits prototipe banyak difoto tidak mungkin untuk mewakili konfigurasi produksi, mengingat tata letak cockpits lebih baru kaca Su-30MK dan Su-27SKM/SKU. Para kru duduk di kursi ejeksi K36DM. Sistem pertahanan termasuk Penerima Radar Peringatan, kemungkinan besar varian terbaru dari penerima Pastel SPO-32 / L150 digital yang dibawa oleh Su-27/30. Para ujung sayap berbentuk polong dipasang KNIRTI SPS-171 / L005S Sorbtsiya-S H / I Band defensif jammer telah dilaporkan, sistem ini menjadi evolusi jammer dikembangkan untuk Backfire C. Sukhoi Su-34 Fullback. Sorbtsiya-S, tidak seperti kebanyakan polong jamming Barat, dirancang untuk beroperasi di pasang dan penggunaan ke depan dan belakang mencari array bertahap steerable pita lebar untuk memaksimalkan efek kemacetan. Perlu mengamati bahwa Sorbtsiya jelas dibangun untuk menyediakan mode jamming lintas mata terhadap ancaman monopulse, dan kemampuan kemudi mainlobe wideband disediakan oleh array bertahap memungkinkan penggunaan terbaik dari daya jamming yang tersedia. Sebuah lensa dielektrik dinilai digunakan (lihat gambar di bawah).

Sukhoi Su-34 Fullback (Foto 2). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

Sukhoi Su-34 Fullback (Foto 3). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

Sukhoi Su-34 Fullback (Foto 4). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

Sukhoi Su-34 Fullback (Foto 5). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara

Koleksi Wallpaper Foto Jet Tempur Sukhoi Su-34 Fullback :
Konfigurasi dasar pesawat Sukhoi Su-34 Fullback dirancang sebagai pesawat tempur serang multiperan yang mampu melakukan misi interdiksi medan, dukungan udara jarak dekat dan berbagai serangan udara yang biasanya dilakukan oleh jet tempur Su-24 Fencer.

Pada situs resminya, perusahaan Sukhoi menuliskan bahwa Sukhoi Su-34 Fullback dirancang untuk mengalahkan F-15 Eagle, F/A-18 E/F Super Hornet, dan Eurofighter Typhoon dalam pertempuran udara.

Sukhoi Su-34 Fullback

Produsen : Sukhoi (Rusia)
Type : Pesawat Tempur Serbu dan Pembom
Penerbangan Perdana : 13 April 1990
Publikasi Perdana : 21 Desember 2009

Spesifikasi Sukhoi Su-34 Fullback :

Karakteristik Umum :
  • Crew: 2
  • Panjang: 23,34 m (72 ft 2 in)
  • Bentang Sayap: 14,7 m (48 ft 3 in)
  • Tinggi: 6.09 m (19 ft 5 in)
  • Berat Isi: 39.000 kg (85.980 lb)
  • Kapasitas Angkut: 8.000 kg (17.600 lb)
  • Maksimum Berat Lepas Landas: 45.100 kg (99.425 lb)
  • Mesin Pendorong: 2 Unit Lyulka AL-31FM1turbofans, 13.500 kgf (132 kN, 29,762 lbf)
Kinerja :
  • Kecepatan Maksimum:
    Pada Ketinggian Optimal: Mach 1.8 (1.900 km/jam, 1,180 mph),
    Pada Ketinggian Rendah: Mach 1.2 (1.400 km/jam, 870 mph)
  • Radius Tempur: 1.100 km
  • Jangkauan Terjauh: 4.000 km
  • Layanan Langit-Langit: 15.000 m
  • Daya Angkat Sayap: 629 kg/m²
  • Thrust/weight: 0.68
Persenjataan :
  • Cannon : 1 unit GSh-30-1 (9A-4071K) kaliber 30 mm 180 putaran.
  • Cantelan Senjata : 12 unit dan berada dibawah sayap dengan total kapasitas 8,000 kg.
  • Misil : R-27, R-73, R-77, Kh-29L/T (AS-14), Kh-25MT/ML/MP (AS-10), Kh-59 (AS-18), Kh-58 (AS-11), Kh-31P (AS-17), Kh-35 Ural (AS-20), Kh-65S OR Kh-SD, P-800
  • Bom : KAB-500L atau KAB-500KR, KAB-1500L/KR, FAB-250, FAB-500, FAB-1500
  • Roket : S-8, S-13, S-25
Avionik :
Leninetz V004 PESA, Ramenskoye RPKB K-102, KNIRTI Khibiny, Yekaterinburg UOMZ Platan.

Data : wikipedia.org

Video Jet Tempur Sukhoi Su-34 Fullback :
Video manuver terbang pesawat jet tempur Sukhoi Su-34 Fullback.

Jumat, 02 Maret 2012

KRI Nala (363)

Sebagai kapal perang, KRI Nala (363) milik TNI-AL ini termasuk dalam jenis fregat. Oleh TNI-AL, KRI Nala (363) difungsikan dalam jajaran kapal perang jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali dan termasuk dalam kelas Fatahillah. TNI-AL memesan kapal perang KRI Nala (363) ini kepada Belanda dan pembuatannya dilakukan di galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980.
KRI Nala (363). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Nala (363)
Diusianya yang ke-33, KRI Nala (363) “Tetap Semangat”, hal tersebut ditujukkan dalam acara apel khusus di geladak KRI Nala-363 dalam rangka memperingati Peluncuran KRI Nala-363 yang ke-33 (Peluncuran Kapal pada tanggal 11 Januari 1979 di galangan kapal Wilton Feyenoord Belanda). Peringatan ini dilaksanakan dalam rangka mengingat kembali hakekat dari pemberian nama KRI “NALA”, nama tersebut merupakan nama sosok pahlawan laut nusantara yaitu Laksamana Nala yang merupakan Jalasena kerajaan Majapahit yang memiliki jiwa dan semangat patriotisme yang tinggi serta sikap pantang menyerah dalam mewujudkan kekuasaan wilayah Kerajaan Majapahit pada masa itu. Tentunya peringatan ini, juga dimaksudkan agar seluruh prajurit KRI Nala (363) dapat mewarisi nilai-nilai semangat juang dan sikap pantang menyerah dari Laksamana Nala yang dapat diimplementasikan dalam kedinasan sehari-hari. Dengan kemampuan mobilitas tinggi, pendadakan, daya pemusnah dan kemampuan sistem kodal dengan unsur – unsur KAA, KS dan udara maka KRI Nala (363) dapat digunakan untuk tugas – tugas operasi laut berupa pendeteksian, pengendalian dan penghancuran. Keunggulan teknologi pada kapal jenis ini antara lain kecepatan dan ketepatan sistem kerja, kecepatan dan ketepatan sistem akuisisi, daya pemusnah yang besar, kecepatan yang tinggi serta kemandirian logistik. Pada hakekatnya, kapal ini memiliki falsafah penggunaan tempur sebagai berikut : “BEROPERASI DI MANA SAJA DAN KAPAN SAJA” “MENYERANG DENGAN TIBA – TIBA” “SENDIRI MAUPUN BERKELOMPOK” “MENANGGULANGI SEGALA JENIS ANCAMAN YANG BERIMBANG” KRI Nala-363 memiliki fungsi azasi melaksanakan peperangan anti permukaan, peperangan anti kapal selam, peperangan anti udara serta bantuan tembakan kapal. Dengan fungsi tambahan adalah sebagai bantuan pengamanan tempur dan patroli keamanan laut. Dalam riwayatnya sejak masuk di jajaran TNI AL yang tergabung dalam Satuan Kapal Eskorta Koarmatim, KRI Nala (363) telah banyak berkiprah melaksanakan tugas-tugas operasi dan latihan yang cukup berkesan diantaranya operasi pemulihan keamanan di Aceh, operasi penyekatan laut saat terjadi konflik di Ambon, operasi dan latihan pengendalian laut, penembakan peluru kendali Exocet serta latihan bersama dengan negara lain dengan sandi “KAKADU” dimana latihan ini merupakan latihan multilateral yang pertamakalinya diikuti oleh TNI AL, dan masih banyak lagi operasi yang telah dilaksanakan dengan baik oleh KRI Nala-363.
KRI Nala (363) merupakan kapal ketiga dari kapal perang jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali kelas Fatahillah milik TNI AL. KRI Nala merupakan sebuah fregat yang dibuat oleh galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980 khusus untuk TNI-AL. Bertugas sebagai armada pemukul dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara. Termasuk dalam kelas Fatahillah bersama KRI Nala antara lain KRI Fatahillah (361), dan KRI Malahayati (362).

Data teknis
KRI Nala (363) memiliki berat 1.450 ton. Dengan dimensi 83.85 meter x 11.1 meter x 3.3 meter. Ditenagai oleh 2 mesin diesel jelajah bertenaga 8.000 bhp dengan kecepatan jelajah 21 knot dan 1 booest gas turbine dengan22.360 shp yang sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 30 knot. Diawaki oleh maksimal 82 pelaut.di buritan ada helly deck.

Persenjataan
KRI Nala (363) dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk di antaranya adalah :
  • 4 peluru kendali permukaan-ke-permukaan Aerospatiale MM-38 Exocet dengan jangkauan maksimum 42 km, berkecepatan 0,9 mach, berpemandu active radar homing dengan hulu ledak seberat 165 kg.
  • 1 meriam Bofors 120/62 berkaliber 120 mm (4.7 inci) dengan kecepatan tembakan 80 rpm, jangkauan 18.5 km dengan sistem pemandu tembakan Signaal WM28.
  • 2 kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20 mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 km untuk target udara.
  • Mortir anti kapal selam Bofors 375 mm laras ganda.
Sensor dan elektronis
KRI Nala (363) diperlengkapi radar Racal Decca AC 1229 untuk surface search dan Signaal DA 05 untuk air and surface search. Serta pemandu tembakan Signaal WM 28. Sistem sonarnya menngunakan Signaal PHS 32 (Hull Mounted). Sistem pengecoh menggunakan 2 Knebworth Corvus 8-tubed launchers dan 1 T-Mk 6 torpedo decoy.

Penerbangan
Memiliki dek untuk 1 helikopter yang sebelumnya adalah Westland Wasp HAS 1 (kini pensiun) dengan fungsi sebagai heli anti kapal selam. Mungkin kini diganti dengan NBO-105.

wikipedia.org

BPPT kembangkan pesawat UAV untuk keperluan aparat keamanan dan militer

BPPT kembangkan pesawat UAV untuk keperluan aparat keamanan dan militer.
Indonesia Kembangkan Pesawat Tanpa Awak

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak di Indonesia. Pesawat itu diharapkan dapat membantu aparat keamanan dan militer Indonesia mengawasi praktek liar penebangan hutan, perikanan, dan perdagangan manusia.

Pesawat itu mulai berkembang sejak tahun 2004. Pesawat bisa terbang dengan hanya mengendalikan penentuan titik koordinat. Tak perlu ada pilot dalam pesawat itu. Sistem terbang dan pendaratannya masih manual. Tapi pesawat tak akan kehilangan arah. Meski kehilangan sinyal, pesawat dapat kembali secara otomatis ke ground base atau markas utamanya.

Pesawat dikendalikan dengan micro controller di atas burung besi tersebut dan menara pengontrol. Pesawat dapat dipantau hingga jarak lebih dari 140 kilometer.

www.metrotvnews.com

William Burns: Super Tucano sebuah pesawat yang sangat baik

Pesawat tempur A-29 Super Tucano
Pesawat tempur A-29 Super Tucano. William Burns: Super Tucano sebuah pesawat yang sangat baik.
AS Masih Tertarik Beli Pesawat Brasil

Amerika Serikat tetap tertarik pada kemungkinan pembelian pesawat serang ringan buatan Embraer, Brasil, meskipun telah membatalkan kontrak minggu ini, kata Wakil Menteri Luar Negeri AS, William Burns, Kamis (1/3/2012). Burns, dalam kunjungan ke Rio de Janeiro, mengatakan, pembatalan kontrak itu bukan sebuah refleksi penolakan terhadap pesawat EMB 314 / A-29 Super Tucano—untuk digunakan di Afganistan. Ia menggambarkan pesawat itu sebagai "sebuah pesawat yang sangat baik".

Kementerian Luar Negeri Brasil telah mengeluarkan pernyataan keras yang menyuarakan "keterkejutan" terkait pembatalan itu, khususnya cara dan waktu pembatalan. "Perkembangan ini dianggap tidak kondusif untuk memperkuat hubungan antara kedua negara dalam urusan pertahanan," kata pernyataan kementerian Brasil itu. Pentagon, Selasa, membatalkan kontrak senilai 355 juta dollar AS dengan perusahaan AS, Sierra Nevada Corp, dan perusahaan kedirgantaraan Brasil, Embraer. Pentagon juga mengumumkan akan melakukan investigasi setelah ada gugatan hukum dari perusahaan kedirgantaraan AS yang menjadi saingan, yaitu Hawker Beechcraft Corp. "Embraer sebuah perusahaan besar dan Super Tucano merupakan pesawat yang sangat bagus," kata Burns kepada wartawan di Rio. "AS kini berada di tengah-tengah proses internal, tetapi kami tetap tertarik."

Burns mengatakan, tidak ada kaitan antara kontrak itu dan perang penawaran sengit di Brasil untuk 36 unit jet tempur angkatan udara. Boeing yang berbasis di AS bersama Dassault dari Perancis dan Saab dari Swedia berjuang untuk mendapatkan kontrak senilai antara 4-7 juta dollar dari Brasil. "Itu dua soal yang berbeda," kata Burns. Kami yakin bahwa F18 (buatan Boeing) adalah pesawat terbaik yang tersedia. Satu hal yang mencerminkan itu adalah bahwa pesawat itulah yang AS gunakan selama 20 atau 30 tahun mendatang. Kami yakin bahwa paket transfer teknologi yang kami tawarkan bersama pesawat itu belum pernah terjadi dalam hubungan kami, juga yang terbaik dari paket yang tersedia.," katanya.

Tentang kontrak Embraer, Jenderal AS, Norton Schwartz, Rabu, mengatakan, Angkatan Udara akan bergerak "cepat" untuk meluncurkan kontes bagi 20 pesawat serang ringan untuk membantu militer Afganistan karena dana untuk program tersebut akan hangus pada akhir tahun fiskal 2013. Kontrak bagi 20 pesawat Embraer jenis AT-29 Super Tucano itu dimenangkan pada Desember sebagai bagian dari rencana untuk mempersenjatai militer Afganistan di tengah penarikan pasukan NATO. Namun, Angkatan Udara AS mengatakan tidak "puas" dengan dokumen-dokumen kontrak itu dan mengumumkan akan meninjau kembali kemenangan Embraer.

Militer AS ingin memberikan pesawat ringan bagi armada udara Afganistan guna melakukan pelatihan penerbangan, pengintaian udara, dan operasi tempur dukungan bagi pasukan darat. Namun, Hawker Beechcraft Corp, yang berbasis di Wichita, Kansas, memprotes kemenangan Embraer, dengan alasan bahwa pesawat AT-6 buatan perusahaan itu diblokir secara tidak adil dalam kompetisi untuk mendapat kontrak tersebut. Para pejabat Embraer telah membantah tuduhan itu.

internasional.kompas.com

KRI Malahayati (362)

KRI Malahayati (362) adalah kapal perang dari jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali kelas Fatahillah yang dimiliki dan dioperasikan TNI-AL. Secara umum, KRI Malahayati (362) merupakan kapal perang jenis fregat yang dipesan oleh TNI-AL dan dibangun di galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980.
KRI Malahayati (362). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Malahayati (362)
KRI Malahayati (362) di bawah jajaran Guskamlatim (Gugus Keamanan Laut Wilayah Timur) mengamankan sebuah kapal ikan berbendera Indonesia berbobot 170 gross ton di perairan laut Arafuru pada posisi 06 21 00 S – 136 58 30 T. Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Malahayati -362 yang sedang melaksanakan tugas dibawah Kendali Operasi Gugus Tempur Laut Wilayah Timur (Guspurlatim ) melaksanakan evakuasi 25 Anak Buah Kapal (ABK) KM. Jimmy Wijaya-09 yang mengalami musibah kecelakaan laut, belum lama ini, Kamis (7/7) pukul 20.00 wib. KRI Malahayati (362) yang baru beberapa jam saja bersandar di dermaga Benoa Bali,Sabtu (9/7) menerima perintah untuk melaksanakan rendevous atau bertemu dengan kapal perang Amerika serikat USS Cowpens CG 63 pada posisi 120 Noutical mile sebelah barat daya pulau Bali dalam rangka melaksanakan evakuasi 25 ABK KM. Jimmy Wijaya-09 yang telah ditolong oleh kapal perang Amerika tersebut. Sabtu (9/7) pukul 09.00 wib. KRI Malahayati-362 yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Rudhi Aviantara sedang melaksanakan tugas Operasi Alur Hiu – 11 di wilayah Perairan Indonesia Bagian Timur, merapat di Pelabuhan Benoa Bali Kemarin Senin (20/06) dalam rangka pembekalan ulang bahan bakar dan air tawar serta logistik lainnya. Dalam melaksanakan tugas operasi , KRI Malahayati (362) dibawah kendali Gugus Keamanan Laut Armada Timur (Guskamlatim). Dalam menjalankan tugas operasi tersebut melibatkan beberapa pejabat Guskamlatim yang On Board di KRI Malahayati-362 antara lain Asintel Guskamlatim Kolonel Laut (E) Gatot Suprapto , Pabanren Ops Guskamlatim Letkol Laut (P) Anggoro Wicaksono serta Pabandya Navpit Guskamlatim Mayor Laut (P) Suhartaya.
KRI Malahayati (362) merupakan kapal kedua dari kapal perang jenis Perusak Kawal Berpeluru Kendali kelas Fatahillah milik TNI AL. Dinamai menurut Malahayati, salah seorang Laksamana wanita. KRI Malahayati merupakan sebuah fregat yang dibuat oleh galangan kapal Wilton-Fijenoord, Schiedam, Belanda pada tahun 1980 khusus untuk TNI-AL. Bertugas sebagai armada pemukul dengan kemampuan antikapal permukaan, antikapal selam dan antipesawat udara. Termasuk dalam kelas Fatahillah bersama KRI Malahayati antara lain KRI Fatahillah (361) dan KRI Nala (363).

Data teknis
KRI Malahayati (362) memiliki berat 1.450 ton. Dengan dimensi 83.85 meter x 11.1 meter x 3.3 meter. Ditenagai oleh 2 mesin diesel jelajah bertenaga 8.000 bhp dengan kecepatan jelajah 21 knot dan 1 boost gas turbine dengan22.360 shp yang sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 30 knot. Diawaki oleh maksimal 82 pelaut.

Persenjataan
KRI Malahayati (362) dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :
  • 4 peluru kendali permukaan-ke-permukaan [Aerospatiale] MM-38 Exocet dengan jangkauan maksimum 42 Km, berkecepatan 0,9 mach, berpemandu active radar homing dengan hulu ledak seberat 165 Kg.
  • 1 meriam Bofors 120/62 berkaliber 120mm (4.7 inchi) dengan kecepatan tembakan 80 rpm, jangkauan 18.5 Km dengan sistem pemandu tembakan Signaal WM28.
  • 2 kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 KM untuk target udara.
  • 12 torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.
  • Mortir anti kapal selam Bofors 375mm laras ganda.
Sensor dan elektronis
KRI Malahayati (362) dilengkapi radar Racal Decca ARPA BridgeMaster250 untuk surface search dan Signaal DA 05 untuk air and surface search. Radar pemandu tembakan Signaal WM 28. Sistem sonarnya menggunakan Signaal PHS 32 (Hull Mounted). Sistem pengecoh menggunakan 2 Knebworth Corvus 8-tubed launchers dan 1 T-Mk 6 torpedo decoy. Electronic Support Measures (ESM) dari tipe DR-3000 (Dalam proses pemasangan) menggantikan Susie yang telah uzur. Pemandu tembakan optronik dari jenis Liod Mk1.

wikipedia.org

Sejarah berdirinya Pangkalan Udara TNI-AU Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat

Pangkalan Udara TNI-AU Supadio
Pangkalan Udara TNI-AU Supadio
| PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara. Pangkalan Udara TNI-AU Supadio.
Pangkalan Udara TNI AU Supadio. Sejarah berdirinya Pangkalan Udara TNI-AU Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Lanud Supadio tempat markas pangkalan Skuadron Udara 1 dan Skuadron Udara 12 TNI-AU.
Selintas Sejarah Pangkalan Udara TNI AU Supadio

Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio dalam perjalanan sejarahnya dimulai dari suatu daerah yang ditutupi oleh hutan belantara. Dengan adanya perkembangan tingkat perekonomian masyarakat di sekitar daerah Kampung Sei./Sungai Durian, terutama di daerah Pelabuhan Motor Sei./Sungai Durian, sehingga menyebabkan perkembangan arus lalu lintas angkutan Sungai Kapuas menjadi meningkat pesat. Kepadatan arus lalulintaspun semakin meningkat padat, apalagi setelah dibukanya jalan raya dari simpang tiga ke Pontianak sehingga semakin padatnya arus lalulintas di Sungai Kapuas maupun di arus lalulintas darat.

Melihat dan mempertimbangkan kondisi arus lalulintas angkutan di sekitar daerah Sei./Sungai Durian yang semakin padat , maka Pemerintah Belanda mulai memikirkan untuk mencari alternatif lain sarana angkutan lalulintas guna mengurangi kepadatan arus lalulintas Sungai Kapuas dengan dasar pertimbangan itu, pihak Pemerintah Belanda berencana untuk membuka lapangan terbang di daerah Sei./Sungai Durian. Pihak Pemerintah Belanda melakukan kesepakatan dengan pihak Kerajaan Pontianak untuk melaksanakan rencana membangun lapangan terbang di daerah Sei./Sungai Durian.

Setelah mendapat kesepakatan dengan pihak Kerajaan Pontianak maka Pihak Kerajaan Pontianak menyerahkan sebagian lahan untuk dipergunakan Pemerintah Belanda didalam membangun lapangan terbang tersebut. Pemerintah Belanda mulai melaksanakan penelitian-penelitian di daerah Sei. Durian, terutama penelitian mengenai struktur tanah dan faktor-faktor kondisi alam di daerah tersebut. Langkah awal yang dilaksanakan oleh Pemerintah Belanda dalam kegiatan penelitian itu, Pemerintah Belanda mendatangkan tenaga-tenaga insinyur dari Belanda.

Pertimbangan lain dari Pemerintah Belanda dalam rencana untuk membangun lapangan terbang di daerah Sei. Durian, apabila dilihat dari pertimbangan faktor strategis pertahanan adalah untuk mempertahankan kekuasaan Pemerintah Belanda di daerah Kalimantan Barat dari pihak Jepang dan para pejuang Republik Indonesia. Pada saat itu pihak Pemerintah Belanda sedang terlibat Perang Dunia II dengan salah satu musuhnya adalah Pemerintah Jepang.

Namun sangat disayangkan rencana Pemerintah Belanda tersebut tidak dapat terlaksanan karena dalam Perang Dunia Ke II Belanda dikalahkan oleh Jepang. Pada masa pendudukan Jepang rencana pembangunan Lapangan Terbang Sungai Durian dilanjutkan sampai dengan selesai. Maksud dari Pemerintah Jepang dalam melanjutkan rencana pembangunan Lapangan tersebut adalah untuk membangun kekuatan udara Jepang di Kalimantan Barat dengan cara penyimpanan pesawat-pesawat tempurnya untuk menunjang berbagai kegiatan penerbangan pesawat-pesawat tempurnya guna melawan kekuatan Sekutu/NICA di daerah Kalimantan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pemerintah Jepang didalam menyimpan semua pesawat-pesawat tempurnya bukan hanya di landasan saja tetapi sampai disekitar landasan yang masih ditumbuhi semak-semak belukar dengan cara penyamaran.

Pada saat lapangan terbang baru selesai dikerjakan maka Pemerintah Jepang mulai melaksanakan uji coba landasan dengan menggunakan pesawat tempurnya. Sewaktu pesawat tempur Jepang itu melaksanakan Take Off, maka pesawat tempur Jepang itu menyenggol Troli pasir yang berada di pingir landasan sehingga pesawat itu mengalami kecelakaan dan mengakibatkan penerbang Jepang meninggal seketika. Untuk menghormati penerbang yang meninggal itu, maka Pemerintah Jepang membangun Tugu/Monumen Jepang dan setiap orang yang akan melewati Tugu/Monumen Jepang itu harus sudah tahu sebelumnya, pada jarak berapa dari Tugu/Monumen Jepang memberi hormat, apabila melakukan kesalahan akan mendapat sangsi tegas dari tentara Jepang yang menjaga Tugu/Monumen Jepang itu.

Apabila ditinjau dari sejarah nama Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian, dari informasi para sesepuh dan data-data yang didapat dari lapangan bahwa pemberian nama itu disesuaikan dengan letak daerah Lapangan Terbang itu berada di daerah Sei./Sungai Durian. Sejarah nama Lapangan terbang Sei./Sungai Durian dimulai kira-kira tahun 1908 Kampung Sungai Durian masih merupakan hutan lebat belantara dan merupakan daerah tertutup yang dahulu dikenal sebagai daerah yang angker, tidak berpenghuni apalagi jalan tikus, yang ada hanya jalan Sungai Kapuas dari Pontianak.

Menurut cerita beberapa orang kampung yang gagah berani yang mencoba hendak menebang hutan di daerah ini, namun tidak berhasil karena hantu kuntilanak sangat ganas dan menakut-nakuti manusia yang berlabuh dipinggir Sei./Sungai Kapuas. Mereka hanya berhasil membabat pinggiran Sei./Sungai Kapuas sampai Muara Sungai Kecil dan mereka menanami pinggiran yang telah dibabat itu dengan menanami pohon-pohon Durian. Setelah pohon-pohon Durian itu kian hari kian bertambah besar maka sejak itu kampung ini dinamakan Kampung Sei./Sungai Durian sampai sekarang. Dengan adanya proses waktu, terutama pada jaman pendudukan Pemerintah Jepang, pohon-pohon Durian itu mulai bertumbangan karena pengaruh erosi Sungai Kapuas.

Setelah Pemerintah Jepang mengalami kekalahan perang dengan pihak Sekutu/NICA pada tahun 1942, maka Indonesia kembali dijajah oleh pihak Sekutu/NICA. Pada waktu Pemerintah Belanda kembali menjajah Indonesia tidak ada usaha untuk membangun kembali Pangkalan Udara Sungai Durian yang sudah dalam kondisi rusak parah akibat dibom oleh pihak Sekutu membonceng Belanda. Mulai tahun 1951 oleh Bangsa Indonesia mulai adanya usaha untuk membangun kembali Lapangan Terbang Sungai Durian dengan memperbaiki kondisi yang telah rusak parah karena sebagian telah berubah menjadi hutan dan sebagian lagi sudah menjadi areal pertanian/ladang.

Adapun pembangunan kembali Pangkalan Udara Sungai Durian dimulai dari pembentukan Perwakilan Singkawang I sampai menjadi Pos Penghubung. Peningkatan pembangunan Lapangan Terbang Sei/Sungai Durian, dimulai pada saat hubungan antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah terjadi konfrontasi. Pemerintah Indonesia melaksanakan persiapan operasi Dwikora dan mulai dilaksanakan gelar kekuatan pesawat terbang dan pasukan, untuk dapat menampung semua kekuatan maka diadakan peningkatan pembangunan lapangan Terbang Sei/sungai Durian dalam waktu cukup singkat.

Dengan adanya pelaksanaan kegiatan persiapan operasi Dwikora dan pembangunan kemampuan Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian maka Lapangan Terbang Sei/Sungai Durian menjadi sibuk, ditambah lagi adanya gelar pasukan. Rencana dari Pemerintah Indonesia bahwa Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian akan dijadikan Pangkalan Aju/Operasi karena letak Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian yang berhadapan langsung dengan negara Malaysia. Dalam perkembangan selanjutnya, sejarah Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian mengalami banyak rangkaian proses perubahan, mulai dari perubahan peningkatan status atau tipe, perubahan perggantian nama, bahkan sampai dengan perubahan status.

Adapun perubahan status/peningkatan tipe dari Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian sampai saat ini adalah menjadi tipe B dan mulai tahun 1969 nama Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian
berubah nama menjadi Pangkalan TNI-AU Supadio. Dengan berubahnya statusnya menjadi tipe Bmaka Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio memiliki 1 (satu) Skadron pesawat tempur, itu Skadron Udara 1 yang memiliki kekuatan 18 pesawat Hawk Mk 109/209 dan akhirnya Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio memiliki kemampuan menjadi pangkalan operasi.

Skadron Udara 1 memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang, dari awal sampai akhirnya dipindahkan ke Pangkalan TNI-AU Supadio. Proses didalam menyiapkan sarana dan prasarana yang berhubungan dengan pemindahan Skadron Udara 1 dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdurachman Saleh ke Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio mengalami proses perjalanan sejarah yang cukup lama. Proses pemindahan Skadron Udara 1 ini. Diawali pada tanggal 29 April 1999 dalam tahap pertama kedatangan 2 (dua) buah pesawat Hawk MK 209 menempati pos baru di Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio dan bulan Nopember 1999 seluruh armada yang memperkuat Skadron Udara 1 telah datang.

Bersamaan dengan penempatan Skadron Udara 1 di Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio maka Pangkalan TNI Angkatan Udara Pekanbaru memiliki Skadron Udara 12 dengan mengawaki pesawat yang sama. Pimpinan mengharapkan antara Skadron Udara 1 dengan Skadron Udara 12 dapat menjalin kerjasama dengan baik dalam pelaksanaan tugas pokoknya. Dengan adanya kerjasama yang baik, maka untuk memperkuat pengamanan diwilayah Indonesia bagian Barat dapat dilaksanakan secara maksimal sehingga perkiraan ancaman yang datangnya dari Corong Barat dan Corong Utara dapat ditangkal dan secara umum dapat menjaga kedaulatan negara Republik Indonesia di wilayah udara nasional.

www.tni-au.mil.id

Industri militer besar dunia yang bakal mengalami guncangan

Lockheed Martin Prokimal Online
Lockheed Martin Prokimal Online. Industri militer besar dunia yang bakal mengalami guncangan. Pengurangan anggaran pertahanan Amerika Serikat pada tahun ini kemungkinan besar bakal mempengaruhi perusahaan-perusahaan besar penghasil produk militer di Amerika yang selama ini pengasilan terbesarnya berasal dari kontrak dengan Pemerintah Amerika Serikat. Perusahaan industri militer besar yang diprediksi bakal mengalami guncangan tersebut adalah Lockheed Martin, Boeing, Northrop Grumman, General Dymanics, Raytheon, United Technologies, L-3 Communications, Oshkosh Corp, SAIC, dan BAE.
10 Perusahaan Pertahanan AS Kini Was-was

Pemangkasan anggaran, terutama di sektor pertahanan, kembali menggema di Washington. Beberapa perusahaan besar yang tergantung dana ini pun terancam kolaps. Kementerian Pertahanan AS menghabiskan US$ 367,1 miliar untuk kontraktor di tahun fiskal 2010, 14 kali lipat lebih banyak ketimbang Kementerian Energi, lembaga kedua tertinggi untuk pendanaan dengan nilai sebesar US$ 25,7 miliar. Jika pemerintah memutuskan memotong anggaran secara signifikan untuk kontrak federal, maka perusahaan yang mengandalkan sejumlah besar uang pemerintah pun akan mengalami guncangan.

Berikut 10 kontraktor pemerintah federal terbesar, berdasarkan kewajiban dolar dari semua kementerian pertahanan pemerintah AS pada tahun fiskal 2010, yang diambil dari Federal Procurement Data System.

1. Lockheed Martin
Nilai kontrak dengan pemerintah AS (2010): US$ 35,8 miliar
Total Pendapatan (2010): US$ 45,8 miliar
Industri: Aerospace & Pertahanan
Lockheed Martin adalah kontraktor pemimpin bagi pemerintah AS dan bekerja dengan puluhan Kementerian dan badan-badan, walaupun sebagian besar kontrak besar dengan Kementerian Pertahanan. Antara empat unit usahanya, Penerbangan, Sistem Elektronik, Sistem Informasi, dan Sistems Ruang Angkasa, perusahaan melahap 6,8% dari total dolar yang dibelanjakan kontraktor oleh pemerintah AS pada 2010.

2. Boeing
Nilai kontrak dengan pemerintah AS (2010): US$ 19,5 miliar
Total Pendapatan (2010): US$ 63,3 miliar
Industri: Aerospace & Pertahanan
Sebagai salah satu raksasa manufaktur dirgantara, pesawat dan satelit Boeing dapat ditemukan di seluruh militer AS. Boeing juga terikat dalam pekerjaan NASA, membantu mengoperasikan kedua kendaraan luar angkasa (Space Shuttle) dan stasiun luar angkasa internasionl (International Space Station). Boeing menang besar pada Februari ketika mereka mendapat kontrak US$ 35 miliar untuk membuat 179 kapal tanker pengisian bahan bakar udara untuk US Air Force.

3. Northrop Grumman
Nilai kontrak dengan pemerintah AS (2010): US$ 16,8 miliar
Total Pendapatan (2010): US$ 34,8 miliar
Industri: Aerospace & Pertahanan
Northrop Grumman adalah pembangun kapal induk terbesar dunia, hingga mengalihkan bisnis pembuatan kapal pada Maret. Sebelumnya, Northrop memproduksi semua kapal AS, termasuk kelas supercarriers Nimitz dan Gerald R. kelas Ford terbarunya. Sekarang perusahaan fokus pada proyek kedirgantaraan dan sistem elektronik. Northrop memproduksi pembom siluman B-2 Spirit legendaris dengan Boeing, dan armada 20 masih beroperasi hingga kini.

4. General Dymanics
Nilai kontrak dengan pemerintah AS (2010): US$ 15,2 miliar
Total Pendapatan (2010): US$ 32,5 miliar
Industri: Pertahanan
General Dynamics memproduksi semua jenis unit dan sistem tempur militer, termasuk tank, kapal, artileri, dan berbagai jenis amunisi. Salah satu produk yang paling terkenal adalah M1A2 Abrams Main Battle Tank dan pendahulunya M1 dan M1A1, yang melihat layanan yang luas untuk Angkatan Darat AS selama Perang Teluk dan Perang Irak.

5. Raytheon
Nilai kontrak dengan pemerintah AS (2010): US$ 15,2 miliar
Total Pendapatan (2010): US$ 25,2 miliar
Industri: Aerospace & Pertahanan
Raytheon adalah produsen terbesar dunia untuk peluru kendali. Selain merancang dan membuat sistem pertahanan udara dan rudal. Raytheon juga bersaing dengan Lockheed Martin untuk kontrak US$ 5 miliar dari US Army Aviation and Missile Command untuk membangun lebih dari 33 ribu rudal bagi militer.

6. United Technologies
Nilai kontrak dengan pemerintah AS (2010): US$ 7,7 miliar
Total Pendapatan (2010): US$ 54,3 miliar
Industri: Gedung & Aerospace
UTC adalah konglomerat besar dengan kepemilikan terkenal, seperti produsen helikopter Sikorsky, pembuat mesin pesawat Pratt & Whitney, dan perusahaan kedirgantaraan Hamilton Sundstrand. Selain memiliki Carrier, pemanas terbesar dunia, ventilasi, dan perusahaan AC, dan lift Otis. Sikorsky terutama terlibat dalam kontrak pemerintah, membuat helikopter untuk negara-negara seluruh dunia termasuk Kanada, Turki, Arab Saudi, Thailand, dan India. Karya yang paling dikenal adalah helikopter UH-60 Black Hawk.

7. L-3 Communications
Nilai kontrak dengan pemerintah AS (2010): US$ 7,4 miliar
Total Pendapatan (2010): US$ 15,7 miliar
Industri: Komunikasi
Terutama kontraktor pertahanan, L-3 mengkhususkan diri dalam sistem komunikasi yang aman, intelijen, pengawasan, pengintaian, dan pelatihan dan simulasi. L-3 memenangkan kontrak pemerintah lain yang cukup besar pada November lalu, senilai maksimum US$ 976 juta. Perusahaan akan mengawasi aircrew dan sistem pemeliharaan pelatihan bagi Angkatan Udara C-17, pesawat angkut militer raksasa.

8. Oshkosh Corp
Nilai kontrak dengan pemerintah AS (2010): US$ 7,2 miliar
Total Pendapatan (2010): US$ 9,8 miliar
Industri: Otomotif
Oshkosh mendesain dan memproduksi truk khusus, dan menjualnya di 130 negara seluruh dunia. Ini adalah pemasok terbesar truk angkutan muatan berat tentara AS dan Inggris. Selain membuat sejumlah besar kendaraan militer berbeda, seperti truk taktis, kendaraan perintah, dan peralatan transporter besar.

9. SAIC
Nilai kontrak dengan pemerintah AS (2010): US$ 6,8 miliar
Total Pendapatan (2010): US$ 11,1 miliar
Industri: Rekayasa & Teknologi
SAIC aktif dalam keamanan nasional AS, menyediakan jasa rekayasa untuk Kementerian Pertahanan dan Keamanan Dalam Negeri. Selain berkecimpung di industri energi, kesehatan, dan infrastruktur. NASA memilih perusahaan ini pada Mei untuk mendukung komunikasi misi untuk agen. Nilai potensi maksimum kontrak adalah US$ 1,3 miliar.

10. BAE
Nilai kontrak dengan pemerintah AS (2010): US$ 6,6 miliar
Total Pendapatan (2010): US$ 36,1 miliar
Industri: Aerospace & Pertahanan
BAE adalah kontraktor militer raksasa berbasis di Inggris yang mengembangkan pesawat elektronik dan pertahanan. Mereka kebanyakan melakukan bisnis dengan AS, Inggris, Australia, India, dan Arab Saudi. Perusahaan ini mengalami kesulitan dalam kasus penyuapan 2010, mengaku bersalah untuk konspirasi karena menipu pemerintah AS, sehingga harus membayar Kementerian Kehakiman AS dan KPK Inggris senilai US$ 400 juta denda pidana.

web.inilah.com

Chengdu J-20 Black Eagle, Jet Tempur Siluman Buatan China

Chengdu J-20 Black Eagle adalah pesawat jet tempur siluman pertama yang berhasil dibuat dan diterbangkan oleh militer China. Karena telah mengaplikasikan kemampuan menghindari radar dan penginderaan lainnya (stealth / siluman) serta penggunaan sistem avionik dan radar yang canggih, jet tempur Chengdu J-20 Black Eagle digolongkan sebagai pesawat tempur generasi kelima.




Pesawat tempur siluman pertama buatan China, Chengdu J-20 Black Eagle, telah menjalani uji kecepatan terbang di Chengdu Aircraft Design Institute Airport, China. Situs www.globalsecurity.org menyebutkan bahwa uji coba tersebut dilakukan pada 29 Desember 2010. Pesawat tempur dengan teknologi stealth ini memiliki ukuran yang lebih besar dari pada yang diperkirakan sebelumnya oleh para pengamat militer dari luar negeri.

Uji coba yang dilakukan oleh J-20 sekaligus mematahkan anggapan Menteri Pertahanan AS, Robert Gate, bahwa China tidak akan mampu membuat pesawat tempur siluman setidaknya hingga tahun 2020. Keyakinan ini juga yang membuat Gate mengusulkan untuk menghentikan produksi F-22 Raptor.

Mengenai Chengdu J-20 ini sudah dipublikasikan oleh pihak militer China pada sebuah wawancara TV di bulan November 2009. Dalam wawancara tersebut Jenderal He Weirong, pejabat Angkatan Udara China, mengatakan bahwa mereka akan melakukan uji coba terbang pesawat siluman tersebut antara tahun 2010 dan 2011. Dan diharapkan Chengdu J-20 sudah bisa dioperasikan paling lambat pada tahun 2019. Ukuran J-20 lebih besar dan lebih berat jika dibandingkan dengan pesawat siluman Sukhoi T-50 PAK FA milik Rusia dan F-22 Raptor milik AS.

Awal pengembangan proyek jet tempur siluman China dikabarkan telah dimulai pada dasawarsa 1990-an. Kantor US Office of Naval Intelligence (ONI) melaporkan bahwa sebuah jet tempur canggih dengan mesin ganda sedang dibangun di Shenyang Aircraft Corporation (SAC) pada tahun 1998. Sebuah pesawat yang dikenal dengan nama J-12. Dan pada tahun 2002, Shenyang Aircraft Corporation (SAC) telah dipilih untuk penelitian dan pengembangan pesawat-pesawat tempur yang dibutuhkan China pada abad 21. Salah satunya adalah pesawat yang dikenal dengan nama XXJ dan di kemudian hari dunia mengetahui bahwa namanya adalah Chengdu J-20. Pesawat tempur yang diproyeksikan untuk dua orang awak serta memiliki kelas dan kemampuan yang sama dengan F-22 Raptor milik AS.

Laporan dari China pada tahun 2002 mengatakan bahwa mereka secara rahasia sedang mengembangkan beberapa desain pesawat tempur yang akan menjadi tandingan bagi jet tempur siluman F-22 Raptor dan F-35 Lightning II (JSF). Pesawat ini masuk dalam kategori pesawat tempur Generasi Kelima yang bercirikan pada penggunaan teknologi stealth (siluman), satu ungkapan untuk menyebutkan teknologi anti penginderaan, baik visual maupun elektronik. Chengdu J-20 secara resmi melakukan uji penerbangan pertamanya pada 11 Januari 2011. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa sebelumnya pesawat ini telah melakukan runway-test pada 22 dan 29 Desember 2010, namun test tersebut tidak dikonfirmasi sebagai uji penerbangan.

Chengdu J-20 merupakan pesawat dengan kursi tunggal serta memiliki mesin ganda. Dari beberapa foto dapat dilihat bahwa pesawat ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan pesawat tempur siluman lainnya. Selain J-20, pesawat tempur atau fighter siluman yang secara resmi dikenal oleh publik adalah F-22 Raptor, F-35 Lightning II (JSF), dan Sukhoi T-50. Perbandingan ukuran panjang pada keempat stealth-fighter tersebut adalah sebagai berikut:
  • Chengdu J-20 : 21,26 meter (69 kaki)
  • Sukhoi T-50 : 19,8 meter (65,9 kaki)
  • F-22 Raptor : 18,9 meter (62 kaki)
  • F-35 Lightning II (JSF) : 15,67 meter (51,4 kaki)
Dapat dilihat bahwa ukuran Chengdu J-20 jauh lebih besar dibandingkan dengan ketiga rivalnya. Dari ukurannya yang besar, para pengamat beranggapan bahwa pesawat ini dirancang untuk dapat melakukan penerbangan jarak jauh yang maksimal, melebihi kemampuan jelajah pesawat siluman buatan negara-negara barat.

Pada awal kemunculan foto-foto J-20, analis penerbangan Bill Sweetman memperkirakan bahwa Chengdu J-20 memiliki panjang 75 kaki (23 meter) dengan lebar rentang sayap 45 kaki (14 meter). Ukuran dimensi perkiraan Sweetman ini terbukti tidak terlalu salah, lihat pada spesifikasi J-20 dibawah. Jika hanya membawa persenjataan atau kargo internal, jet tempur siluman ini dapat lepas landas dengan beban 34.000 kg hingga 36.000 kg. Prototip J-20 bisa menggunakan mesin kembar Saturnus 117 buatan Rusia yang masing-masing berdaya dorong 14.000 kg. David Lapan dari Pentagon mengatakan bahwa China masih memerlukan mesin buatan Rusia untuk pesawat silumannya ini. Namun laporan dari pihak China mengatakan bahwa J-20 akan didukung oleh dua mesin turbofan 13.200 kg/WS-10 yang dilengkapi Thrust Vector Controlled (TVC ) nozel buatan dalam negeri.

Para pengamat dari barat menilai bahwa kemungkinan kemampuan supercruise dan kelincahan manuver J-20 masih dibawah F-22 Raptor. Tapi dengan badan yang lebih besar, pesawat siluman buatan China itu bisa membawa persenjataan dan bahan bakar internal yang lebih banyak. Bagian depan prototip J-20 memiliki kemiripan dengan F-22, sedangkan bagian belakangnya lebih mirip dengan T-50. Dari ukuran dimensinya, diperkirakan J-20 lebih ditujukan untuk misi penyerangan dengan kapasitas besar dan jarak jauh, mirip spesifikasi tempur yang dimiliki F-111 Aardvak.

Namun, secara umum para pengamat memiliki penilaian yang seragam bahwa J-20 lebih unggul dibandingkan F-35 dan T-50. Kemampuan tempurnya hanya bisa ditandingi oleh F-22 Raptor. Hal ini juga dipertegas oleh penilaian Dr. Carlo Cop dan Peter Goon yang menulis analisanya tentang J-20 ini pada situs www.ausairpower.net. Pada analisanya, kedua pengamat itu mengatakan bahwa desain J-20 dbuat untuk misi penyusupan jarak jauh.

Spesifikasi Jet Tempur Chengdu J-20 Black Eagle :
  • Jumlah Awak : 1 (pilot)
  • Panjang : 21,26 m
  • Lebar Sayap : 12,88 m
  • Tinggi : 4,45 m
  • Luas Sayap : 59 m2
  • Berat Kosong : 17.000 kg
  • Berat Maksimum Lepas Landas ; 36.287 kg
  • Mesin Pendorong : 2 unit WS-10G (prototype); WS-15
  • Kecepatan Maksimal : Mach 2,5
  • Jarak Jangkau : 5.500 km
  • Radius tempur : 2.000 km
  • Service ceiling: 20.000 m
Persenjataan :
Pada prototip pesawat belum dilengkapi dengan persenjataan. Diperkirakan J-20 akan dipersenjatai dengan PL-21 LRAAM, PL-12D MRAAM, PL-10 SRAAM, LS-6 Precision Glide Bomb, cannon kaliber 30mm, 4 peluncur roket, 2 peluncur IR decoy, rudal udara-ke-udara dan bom pintar.

aviationweek.com, globalsecurity.org, wikipedia.org