Cari di Blog Ini

Senin, 16 Juni 2014

Jelang RIMPAC 2014, Kopaska TNI AL Asah Kemampuan Tempur

Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut terus mengasah kemampuan tempur dengan melakukan berbagai latihan. Kali ini Kopaska TNI AL melaksanakan latihan simulasi pembebasan kapal atau Maritime Interdiction Operation (MIO) dengan menggunakan kapal perang KRI Banda Aceh-593 sebagai lokasi latihan. Latihan dimaksud juga untuk menyiapkan diri guna mengikuti Latihan Bersama Multilateral Rim Of Pacific (Latma Multilateral RIMPAC) 2014 di Kepulauan Hawaii yang merupakan latihan militer maritim terbesar di dunia.

Kopaska TNI AL. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Kopaska TNI AL.
Menuju Hawaii, Kopaska latihan lawan perompak di KRI Makassar.

Letusan suara dari kontak tembak menggema di lorong-lorong KRI Banda Aceh-593. Satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut tengah berlatih melumpuhkan perompak yang naik ke atas kapal. Kurang dari setengah jam, satuan elit milik TNI AL pimpinan Lettu Laut (P) Mugiyono dapat mengendalikan serta menguasai kapal kembali.

Operasi tempur laut tersebut, merupakan simulasi pembebasan kapal atau Maritime Interdiction Operation (MIO), yang diselenggarakan di atas kapal saat berlayar di Perairan Samudera Pasifik. Skenario tersebut dilakukan oleh Kopaska untuk terus mengasah kemampuan maupun skill Visit Boarding Search and Seizure (VBSS) dari tiap individu. Selain itu, hal tersebut dipersiapkan juga guna menyambut latihan Multilateral yang akan dilaksanakan oleh KRI BAC-593 di Hawai.

KRI Banda Aceh-593 dengan Komandan Letkol Laut (P) Arief Budiman, telah dilepas oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Marsetio dalam suatu upacara pelepasan di Dermaga Kolinlamil.

Rencananya kapal perang yang berada di jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) ini akan mengikuti latihan militer maritim terbesar di dunia yang bertajuk Latihan Bersama Multilateral Rim Of Pacific (Latma Multilateral RIMPAC) 2014 pada tanggal 26 Juni sampai dengan 1 Agustus 2014 di Pearl Harbour training area dan perairan Kepulauan Hawaii.

Dalam latihan RIMPAC tahun 2014 ini, TNI Angkatan Laut selain melibatkan KRI Banda Aceh-593 juga akan menurunkan 1 Kompi Marinir. Pada Latma ini ada beberapa latihan yang digelar yakni pertempuran amfibi, pendaratan helikopter di dek kapal, misi SAR, latihan emergensi dan sebagainya.

www.merdeka.com

Minggu, 15 Juni 2014

PAK TA, Proyek Pengembangan Pesawat Angkut Militer Terbaru Rusia

PAK TA (Perspektivniy Aviatsionniy Kompleks Transportnoy Aviatsii) adalah proyek Kementerian Pertahanan Rusia yang bertujuan untuk merancang dan mengembangkan pesawat angkut militer jenis baru. Proyek militer yang diharapkan bisa diselesaikan dalam waktu sepuluh tahun ini merupakan kelanjutan dari proyek PAK FA dan PAK DA.

PAK TA. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
PAK TA.
PAK TA, Rancangan Pesawat Angkut Militer Rusia Terbaru.

Saat ini pihak Kementerian Pertahanan Rusia sedang mengembangkan rancangan pesawat angkut militer baru. Proyek yang merupakan lanjutan proyek PAK FA dan PAK DA tersebut sementara ini diberi nama PAK TA (Perspektivniy Aviatsionniy Kompleks Transportnoy Aviatsii). Proyek PAK TA ini diharapkan dapat diselesaikan dalam waktu sepuluh tahun. Hal tersebut diumumkan oleh Direktur Utama Ilyushin Aviation Complex, Viktor Livanov. Livanov menerangkan proyek ini merupakan salah satu proyek yang dibuat menjelang 2030. Menurut Livanov, spesifikasi PAK TA akan disusun setelah mereka melakukan konsultasi dengan beberapa calon konsumen potensial.

Kolonel Igor Malikov, pahlawan Rusia yang kini menjabat sebagai Wakil Kepala Pusat Uji Coba Penerbangan Negara sekaligus pilot penguji utama, menyatakan pesawat Ilyushin Il-76 yang digunakan saat ini sudah ketinggalan zaman. "Walaupun Il-76 sudah diperbaharui, tetap saja pesawat ini telah kehilangan tempat di kelasnya. Il-76 terlalu berisik dan komponennya sudah kuno," kata Malikov.

Sementara armada pesawat Antonov An-12, menurut Malikov, sudah hampir habis. "Jumlah An-12 tinggal sedikit sekali. Kami hanya memperpanjang waktu penggunaan mereka saja," ujar Malikov. Maka, menurut Malikov kehadiran pesawat angkut baru seperti PAK TA memang sangat diperlukan.

Para ahli menilai teknologi simulasi komputer canggih yang digunakan dalam tahap pengembangan pesawat PAK TA cukup memuaskan, namun mereka harus lebih memperhatikan pengembangan perangkat elektronik pesawat tersebut. Menurut para ahli, pengembangan mesin penggerak pesawat yang baru membutuhkan waktu jauh lebih lama dibanding pengembangan pesawat itu sendiri.

Mengenai spesifikasi utama PAK TA, Malikov menonjolkan sisi ekonomis dan tidak bising. Pesawat dengan spesifikasi seperti itu dicari banyak kalangan, sehingga PAK TA tidak hanya bisa dipakai di dalam negeri, tetapi juga dapat dijual ke pasar internasional.

Menurut Livanov, ukuran pesawat dapat dibuat sesuai kebutuhan. "Tentu saja perlu penentuan kapasitas angkut barang dan perhitungan volume angkut barang sekali jalan yang optimum. Kami bisa saja membuat pesawat besar atau yang lebih kecil. Jika Kementerian Pertahanan Rusia membutuhkan pesawat untuk mengangkut tank, itu akan menjadi pertimbangan tersendiri” ujar Livanov. Ia menjelaskan, perlu tata ruang kabin tersendiri untuk mengangkut kendaraan darat. “Hal itu yang menentukan ukuran badan pesawat (fuselage) kelak," ujar Livanov, sambil menambahkan bahwa pesawat harus dapat melintasi setengah wilayah Rusia dengan bahan bakar penuh dalam sekali jalan.

Pilot uji coba, 'zasluzhenniy pilot' Rusia, Mikhail Markov, menilai bahwa lembaga-lembaga penelitian harus menentukan kriteria-kriteria untuk pesawat baru tersebut. Lembaga tersebut diperkirakan mampu menganalisa spesifikasi pesawat dalam waktu dua tahun. "Hasil yang bagus dan sempurna tentu tidak bisa didapat begitu saja. Pembaharuan pesawat ini dimulai dari hal-hal yang kecil," ujar Markov.

rbth.com

Jumat, 13 Juni 2014

Prajurit TNI Temukan Peralatan Mata-mata Di Perbatasan Lebanon-Israel

Dua kotak berisi peralatan mata-mata telah berhasil ditemukan oleh para prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Indobatt Kontingen Garuda XXIII-H/UNIFIL yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian di kawasan konflik di Lebanon. Penemuan peralatan mata-mata tersebut berlokasi di kawasan perbatasan Lebanon dan Israel.

Pasukan Garuda TNI menerima penghargaan. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Pasukan Garuda TNI menerima penghargaan.
Pasukan Garuda temukan alat mata-mata di batas Israel-Lebanon.

Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Indobatt Kontingen Garuda XXIII-H/UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) kembali menerima penghargaan. Kali ini, penghargaan diperoleh dari LAF (Lebanese Armed Forces) kepada 20 prajurit tim patroli Satgas Indobatt yang berasal dari Kompi Alpha.

Penghargaan diberikan pada Pasukan Garuda yang berhasil menemukan dua kotak misterius di perbatasan Israel dan Lebanon pada 18 Januari lalu. Kemudian diketahui bahwa kedua benda tersebut merupakan alat mata-mata. Mereka juga berhasil mencegah kontak senjata antara pasukan Israel dan Lebanon. "Penemuan dua kotak misterius tersebut merupakan salah satu bukti keseriusan, profesionalisme dan dedikasi para prajurit Indobatt dalam melaksanakan setiap tugasnya. Dan oleh sebab itu, mereka berhak mendapatkan penghargaan ini," tutur Kolonel Ahmad Assir dari The Lebanese Armed Forces, Selasa (11/6/2014).

Adapun para prajurit Satgas Indobatt dari Kompi Alpha yang mendapatkan penghargaan yaitu:

Tim Patroli-1: Lettu Inf M.A. Maulana, Sertu Ricardo, Serda Purwanto, Praka Adi Susanto, Kopda Kasim, Praka Tulus, Praka Aziz Yodi, Praka Jarmanto, Praka Andri Atmoko, Praka Mangara Panjaitan).
Tim Patroli-2: Lettu Asep Saroi, Sertu Aceng, Sertu M Ali, Serda Wawan, Pratu nurdin, Praka Fauzan, Praka Romadlon, Praka Sunggono, Kopda Adi Wibowo, Kopda Tarjani.

www.merdeka.com

TNI AU Siapkan Landasan Pesawat Tempur Di Perbatasan Malaysia Di Kalimantan Barat

Lapangan pesawat terbang yang berlokasi di Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, akan difungsikan kembali sebagai lokasi pendaratan dan tinggal landas pesawat tempur milik TNI-AU. Lapangan terbang peninggalan Belanda yang berada dekat dengan perbatasan Malaysia tersebut akan memiliki landasan pacu dengan panjang 2.500 meter yang bisa melayani berbagai jenis pesawat tempur milik TNI hingga jenis pesawat berbadan lebar.

Jet Tempur Sukhoi TNI-AU. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Jet Tempur Sukhoi TNI-AU.
TNI AU Bangun Landasan Pacu Pesawat Tempur di Perbatasan Malaysia.

Pasca pembangunan tiang pancang dan manuver helikopter Malaysia di perairan Tanjung Datok, Kalimantan Barat, TNI AU berencana memperkuat pertahanan udara. Landasan pacu eks peninggalan Belanda bakal difungsikan kembali untuk pendaratan pesawat tempur. "Ini instruksi Panglima TNI untuk memfungsikan kembali landasan pacu di Paloh, di perbatasan Malaysia menjadi landasan pangkalan AU," kata Asisten Operasi KASAU, Marsekal Muda Sudipo Handoyo, kepada wartawan saat berada di Lanud Supadio Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (9/6/2014).

Di Paloh, memang memiliki landasan pacu sepanjang 750 m dan telah dibersihkan dalam 5 hari terakhir ini. Landasan pacu itu sendiri dibangun sekitar 1978 silam dan berada dalam posisi strategis di perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia. Sudipo menerangkan, di Temajuk, Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, TNI AU juga akan menempatkan 500 personelnya sebagai penambahan kekuatan di pangkalan TNI AU. "Akan ada 500 personel di Temajuk setingkat batalion. Penguatan ini sebagai bentuk antisipasi provokasi dari Malaysia. Kita lakukan survei untuk analisis sejauh mana kekuatan yang dibutuhkan," ujar Sudipo.

Tidak hanya untuk TNI AU, lahan seluas 100 hektar juga tengah dipersiapkan untuk lahan markas TNI AL dan TNI AD. Dengan begitu, seluruh satuan akan ditempatkan di perbatasan utara Kalimantan Barat dengan Malaysia. "Landasan pacu Pangkalan AU yang kita benahi nanti akan memiliki panjang hingga 2.500 meter dan bisa didarati Boeing," tegasnya.

Pemerintah RI sempat memprotes pembangunan 3 tiang pancang suar oleh Malaysia di perairan Tanjung Datok, Sambas, Kalimantan Barat. Nelayan pun takut untuk melaut pasca pembangunan itu. Akhirnya melalui pertemuan dan pembicaraan kedua negara baru-baru ini, Malaysia menyepakati untuk menghentikan pembangunannya. Kedatangan Sudipo di Lanud Supadio, turut didampingi oleh Pangkoops AU 1 dan Dankorpaskhas serta Pangdam XII Tanjungpura Mayjend TNI Ibrahim Saleh. Selanjutnya dia bersama rombongan menuju ke Temajuk, Kabupaten Sambas, untuk mengecek lahan pembangunan pangkalan AU di wilayah itu

news.detik.com

Rabu, 11 Juni 2014

16 Jet Tempur F-16 Didatangkan Bertahap Ke Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru

16 unit pesawat jet tempur F-16 Fighting Falcon akan berpangkalan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Provinsi Riau. Skuadron jet tempur F-16 Fighting Falcon tersebut dijadwalkan akan didatangkan secara bertahap dari Pangkalan Udara TNI-AU Iswahyudi di Madiun, Jawa Timur.

F-16 Fighting Falcon - TNI-AU. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
F-16 Fighting Falcon - TNI-AU.
Danlanud: Skuadron F-16 datang bertahap ke Pekanbaru.

Komandan Lapangan Udara (Danlanud) Angkatan Udara Republik Indonesia Roesmin Nurjadin menyatakan, pesawat tempur Skuadron F-16 Fighting Falcon sebanyak 16 unit akan datang bertahap ke daerah tersebut. Hal itu karena Lanud di Madiun sedang dibangun beberapa fasilitas tambahan seperti hangar pesawat. "Juni atau Juli empat unit F-16 akan tiba di Madiun, setelah itu pada Oktober datang lagi empat unit dan diperkirakan November atau Desember, empat unit pertama akan berpangkalan di Pekanbaru," kata Danlanud Roesmin Nurjadin Kol Pnb Kahiril Lubis di Pekanbaru, seperti dilansir Antara, Selasa (10/6/2014).

Selanjutnya, kata Kahiril, empat unit kedua akan datang juga pada awal tahun depan yang kemudian sepanjang tahun 2015 diperkirakan sudah ada 16 unit akan berpangkalan di "Kota Bertuah", julukan Kota Pekanbaru. Kahiril mengatakan, pesawat yang didatangkan dari Amerika Serikat tersebut mangkalnya ke Kota Madiun, Jawa Timur karena di tempat tersebut ada Skuadron 3 F-16 Fighting Falcon yang memiliki tipe serupa dengan yang akan berpangkalan di Kota pekanbaru. "Karena di sana perlu standarisasi pesawat sesuai dengan fasilitasnya yang tipe A," kata Kahiril.

Saat ini, tambahnya, Roesmin Nurjadin sedang proses untuk menjadikan landasan dari tipe B ke tipe A dan perkembangannya saat ini tengah dibangun hanggar dan "shelter" pesawat. Lalu ketika empat pesawat pertama datang ke Pekanbaru tiba, akan ada proses penyambutan sekaligus peresmian pesawat. "Biasanya proses peresmian dilakukan dengan penyambutan," ungkap Kahiril.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI IB Putu Dunia pada saat peninjauannya ke Pekanbaru pada Februari lalu mengatakan, F-16 bertujuan untuk mengawasi ruang udara kawasan di Selat Malaka secara lebih efektif. "Kita memantau langsung pembangunan skuadron 16 dan sejauh ini sangat memuaskan. Semua peralatan lengkap dan ke depan kita berharap, Skuadron F-16 ini sebagai pilar terdepan kita untuk mengamankan kawasan kedaulatan NKRI," ujar Marsekal TNI IB Putu.

TNI AU mendatangkan F-16 Fighting Falcon blok 25 bekas Perang Irak, yang direncanakan akan ditingkatkan kapasitasnya (upgrade) ke blok 52+. Meskipun hibah dari Amerika Serikat, pemerintah tetap mengeluarkan biaya untuk "upgrade" dengan total sekitar 400 juta dolar AS memakai skema pembayaran "foreign military sales".

www.merdeka.com

Sabtu, 31 Mei 2014

Pembangunan Pangkalan Militer TNI Di Temajuk Akan Diperjuangkan Komisi I DPR-RI

Pembangunan Pangkalan Militer TNI di Temajuk, Kalimantan Barat, akan diusahakan untuk dapat direalisasikan pemerintah Indonesia. Komisi I DPR-RI beranggapan bahwa keberadaan pangkalan militer Indonesia di kawasan tersebut sangat dibutuhkan mengingat di kawasan tersebut masih minim penjagaan. Salah satu akibat yang ditimbulkan misalnya adanya tindakan dari pihak Malaysia yang membangun rambu suar di Tanjung Datuk.

Temajuk, Sambas, Kalimantan Barat. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Temajuk, Sambas, Kalimantan Barat.
Komisi I perjuangkan pembangunan pangkalan militer Temajuk.

Komisi I DPR-RI akan memperjuangkan pembangunan pangkalan militer di wilayah Temajuk, Kalimantan Barat, yang berbatasan dengan Sarawak, Malaysia, saat pembahasan rencana strategis bidang pertahanan keamanan di Jakarta, Senin (2/6/2014). "Senin depan kami akan membicarakan masalah ini dengan kementerian terkait," kata anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (Purn) Tri Tamtomo di Pontianak, Jumat.

Ia melanjutkan, Komisi I DPR telah meninjau wilayah perbatasan di Kalimantan Utara dan Kalbar. "Dan, ada yang perlu mendapat perhatian dari pusat karena terjadi ketidakimbangan kekurangan," kata dia.

Menurut dia, hasil temuan di lapangan itu segera diangkat ke tingkat pusat karena menjadi mandat rakyat. "Kalau tidak didukung pusat, wilayah kita bisa tergerus," ujar dia.

Ia sendiri menilai tindakan pihak Malaysia membangun rambu suar di Tanjung Datuk, Desa Temajuk, seperti "meledek" Indonesia. "Namun, tetap harus disikapi secara arif dan bijak," katanya.

Ia tidak memungkiri isu seputar perbatasan telah disampaikan beberapa waktu lalu namun tidak ada anggapan sehingga muncullah pembangunan rambu suar tersebut. "Untuk itu, pembangunan pangkalan militer dan pergeseran alutsista harus segera dilakukan," kata mantan Pangdam I Bukit Barisan yang kini bergabung dengan PDI Perjuangan itu.

Di Kalbar, ujar dia, ada sekitar 300 kilometer wilayah perbatasan yang tidak memiliki penjagaan sehingga banyak jalan-jalan tikus yang membuat ketahanan daerah berkurang. Munculnya kasus rambu suar di Tanjung Datuk juga membuat Komisi I mendorong Kementerian Luar Negeri untuk menuntaskan masalah batas wilayah dengan 10 negara tetangga.

www.antaranews.com

Dirikan Pabrik Propelan, PT Dahana Kerjasama Dengan 2 Perusahaan Prancis

PT Dahana tengah bersiap untuk membangun pabrik propelan di kawasan Subang, Jawa Barat. Untuk merealisasikan rencana pembangunan pabrik propelan tersebut, PT Dahana telah menyepakati kerjasama dengan 2 perusahaan asal Prancis, Eurenco dan Roxel. Propelan adalah bahan baku untuk pembuatan amunisi peluru, roket, dan peluru kendali.

Propelan. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Propelan.
Bangun Pabrik Propelan, PT Dahana Gandeng Perusahaan Prancis.

PT Dahana baru saja menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Eurenco dan Roxel, sebuah perusahaan asal Prancis untuk membangun pabrik propelan di Subang, Jawa Barat. Kerjasama ini dilakukan Direktur Utama PT Dahana (Persero) Harry Sampurno, Senior VP Bussines Development Jean Claude dan CEO Roxel France Jacques Desclaux.

Penandatanganan Nota Kerjasama ini juga disaksikan langsung oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan). "Kerjasama pembangunan pabrik propelan ini sebagai upaya membantu pemerintah Indonesia dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri," ujar Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga, Silmy Karim di Jakarta, Senin (26/5/2014).

Dikatakan Silmy, bahan baku dalam pembuatan amunisi roket dan peluru kendali sangat diperlukan. Karenanya pabrik propelan menjadi prioritas yang wajib dimiliki oleh Indonesia.

Nantinya, proyek pembangunan pabrik propelan ini akan dibangun di wilayah area PT Dahanan seluas 600 hektar, di mana khusus pembangunan pabrik tersebut akan dilakukan di area seluas 50 hektar. "Pabrik ini akan dibangun selama 40-50 bulan, atau kurang lebih empat tahun ke depan," terang Silmy.

Pembangunan pabrik ini akan dilakukan secara dua tahap, dengan menghasilkan tujuh produk. Tahap pertama pabrik tersebut hanya melakukan produksi tiga produk saja, yaitu spherichal powder sebanyak 400 ton per tahun, dan propelan double base roker sebanyak 80 ton per tahun. "Produk yang dihasilkan nantinya akan diserap oleh industri pertahanan yang ada, karena produk ini merupakan bahan baku untuk membuat peluru, roket, peluru kendali, propelan untuk munisi kaliber kecil, menengah dan besar," tukasnya.

www.jpnn.com

KRI Sampari (628), Kapal Cepat Rudal Pertama Buatan PT PAL Diterima TNI AL

KRI Sampari (628) yang merupakan kapal perang dari jenis Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR 60) buatan PT PAL telah diserahkan kepada pihak TNI AL. KRI Sampari (628) adalah Kapal Cepat Rudal 60 Meter pertama yang telah berhasil diselesaikan pembuatannya oleh PT PAL. Secara keseluruhan, TNI AL memesan 16 KCR 60 meter dan 16 KCR 40 meter kepada PT PAL.

KRI Sampari (628). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
KRI Sampari (628).
KRI Sampari (628) Diserahterimakan ke TNI AL.

Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 meter ke-1 diserah terimakan dari PT PAL kepada TNI AL. Kapal pertama itu merupakan satu dari tiga kapal KCR 60 meter yang dipesan TNI AL kepada PT PAL.

Serah terima KCR ke-1 yang diberi nama KRI Sampari (628) itu dilakukan bersamaan dengan peluncuran KCR ke-2. KCR ke-2 yang rencananya akan diserah terimakan pada Juni nanti akan diberi nama KRI Tombak. Sementara KCR ke-3 masih dalam tahap produksi akhir dan direncanakan diberi nama KRI Hayat. "Kapal yang diserahterimakan hari ini merupakan bagian dari upaya mengamankan wilayah laut kita," kata Purnomo Yusgiantoro dalam sambutannya, Rabu (28/5/2014).

Menteri Pertahanan itu mengatakan, Selain tiga KCR yang sudah diserahterimakan dan sedang digarap, Kementerian Pertahanan juga telah memesan 16 KCR 60 meter dan 16 KCR 40 meter. Seluruh pesanan KCR ini dijanjikan akan rampung pada 2024 mendatang. "Kalau pesanan semua KCR sudah jadi, maka keamanan laut kita bisa diandalkan," lanjut Purnomo.

Purnomo yakin dengan hal itu karena masing-masing KCR dilengkapi dengan peluncur rudal yang bisa membawa empat rudal seri C 705 dan 802 dengan daya jelajah hingga 140 km.

Spesifikasi KRI Sampari (628) / KCR 60 Meter :
  • Panjang 60 meter
  • panjang garis air 54,82 meter
  • lebar 8,10 meter
  • Tinggi pada tengah kapal 4,85 meter
  • Berat muatan penuh 460 ton
  • Kecepatan 15 knot, jelajah 20 knot dan max 28 knot
  • Didukung persenjataan canggih berupa meriam dan rudal
  • Jumlah penumpang 55 orang
  • Ketahanan berlayar 9 hari
  • Mesin pendorong 2 x 2.880 KW
news.detik.com

Kamis, 24 April 2014

Top 5 Negara Dengan Anggaran Militer Terbesar Di Dunia

Peringkat teratas 5 negara dengan anggaran militer terbesar di dunia diduduki oleh Amerika Serikat (USD 640 miliar), China (USD 188 miliar), Rusia (USD 87 miliar), Arab Saudi (USD 67 miliar), dan Prancis (USD 61,2 miliar). Peringkat lima negara dengan anggaran belanja militer terbesar di duni ini disusun oleh lembaga Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada sebuah laporan berjudul Military Expenditure Database.

US Army. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
US Army.
5 Negara dengan belanja militer terbesar di dunia.

Negara-negara besar dunia tentu mempunyai kekuatan militer yang kuat. Kekuatan militer itu juga tak lepas dari persenjataan yang dimiliki masing-masing negara. Seperti dilansir dari data terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) Military Expenditure Database, tren belanja di dunia militer meningkat sejak tahun 2013. Secara keseluruhan ada 15 negara yang masuk ke dalam data SIPRI yang dirilis pertengahan April 2014 tersebut. Data dari SIPRI ini merupakan pengeluaran belanja militer negara secara keseluruhan melalui penghitungan di produk domestik bruto (PDB) yang didapatkan dari data resmi milik Dana Moneter Internasional (IMF). Data ini telah dikumpulkan sejak Oktober 2013 silam.

Berikut lima negara dengan belanja militer terbesar di dunia:

1. Amerika Serikat
Amerika Serikat merupakan negara yang melenggang di urutan pertama dari lima belas negara dunia lainnya yang paling banyak melakukan belanja militer. Pada tahun 2013 lalu, Amerika menghabiskan dana sebanyak USD 640 miliar untuk berbelanja. Namun pengeluaran militer Amerika itu dinilai menurun sebanyak 7,8 persen secara riil pada tahun 2013 daripada data-data tahun sebelumnya. Menurunnya pengeluaran belanja itu disebut-sebut erat kaitannya dengan Operasi Militer Kontijensi Amerika beberapa waktu lalu di Afghanistan dan Irak. Tampaknya Amerika harus fokus melakukan operasi militer dan sedikit menghemat pengeluarannya. Amerika masih konsisten sejak tahun 2012, tetap berada di posisi teratas dari lima negara besar terkait besarnya pengeluaran untuk belanja militer.

2. China
China yang menempati urutan kedua setelah Amerika Serikat, justru dianggap meningkat sebesar 7,4 persen dalam pengeluaran militernya dibanding tahun 2004. Negara ini menghabiskan dana sebesar USD 188 miliar selama tahun 2013. Selain persoalan dana itu, China rupanya juga sudah dianggap lebih tegas dalam beberapa kurun waktu terakhir terkait perselisihan teritorial dengan Jepang di Laut China Timur dan dengan Filipina serta Vietnam di Laut China Selatan. Masalah perselisihan teritorial itu dianggap menambah ketegangan militer China dan meningkatkan pengeluaran belanja militernya. Sejak tahun 2012 silam, China juga tetap konsisten berada dalam nominasi negara dengan belanja militer terbesar setelah Amerika Serikat.

3. Rusia
Rusia yang berada di posisi ketiga ini belanja militernya meningkat sebesar 4,8 persen. Menurut SIPRI, beban militer Rusia sebenarnya sudah melebihi Amerika Serikat sejak 2003 silam. Pengeluaran Rusia terus meningkat karena terus menerapkan negaranya untuk menjadi negara yang mempunyai peralatan perang canggih sejak 2011 silam. Rusia berencana akan menghabiskan sebesar USD 87 miliar. Tujuan negara Rusia ini juga tak main-main. Mereka ingin mengganti 70 persen peralatan militernya dengan senjata modern sampai dengan tahun 2020 mendatang. Rusia juga masih setia di urutan ketiga di bawah Amerika Serikat dan China sejak 2012 silam.

4. Arab Saudi
Negara onta ini menjadi pusat perhatian dunia militer sejagad. Sebab Arab Saudi yang sebelumnya tak masuk lima besar kini tiba-tiba naik ke posisi empat setelah Rusia. Arab diketahui telah meningkatkan belanja militernya sebanyak 14 persen dibandingkan 2004. Belanja militernya telah menghabiskan dana sebanyak USD 67 miliar. Tahun 2012 silam, Arab masih menempati posisi ketujuh dari lima belas negara dunia dengan pengeluaran belanja militer terbesar.

5. Prancis
Prancis harus turun derajat belanja militernya dari Arab Saudi. Sebabnya pada data 2012 silam justru Prancis masih berada di posisi keempat seperti Arab Saudi saat ini. Penurunan belanja militer Prancis ini disebut sama seperti Inggris, Italia, Brazil, Australia dan Kanada. Tak ada keterangan resmi dari belanja militer milik Prancis, namun pada semenjak tahun 2013 negara ini telah menghabiskan dana sebesar USD 61,2 miliar saja.

www.merdeka.com

Rabu, 23 April 2014

Project Azorian, Aksi CIA Curi Kapal Selam Uni Soviet

Project Azorian adalah kode nama yang digunakan oleh CIA (Central Intelligence Agency) untuk misi pengambilan sebuah kapal selam milik Angkatan Laut Uni Sovyet yang tenggelam di Samudera Pasifik, 1.900 mil di sebelah barat laut Hawaii. Kapal selam bersenjata peluru kendali berhulu ledak nuklir milik Uni Sovyet tersebut dikenal dengan sebutan K-129 (pihak NATO menyebutnya dengan nama Golf II). Kapal selam K-129 tenggelam akibat ledakan yang terjadi di bagian dalam kapal.

Kapal Selam K-129 (Golf II). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Kapal Selam K-129 (Golf II).
Azorian, Proyek CIA untuk Mencuri Kapal Selam Soviet.

Dokumen yang baru dideklasifikasi (dinyatakan tak lagi bersifat rahasia) mengungkapkan rincian baru tentang Project Azorian, yaitu upaya diam-diam badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA), untuk mengambil sebuah kapal selam diesel milik Angkatan Laut Uni Soviet yang karam di Samudra Pasifik. Mark Strauss menulis cerita mengenai hal ini dalam io9.com 10 April 2014 dan Rhys Blakely menulis dalam The Australian edisi 18 April 2014.

Cerita ini dimulai pada Maret 1968, ketika sebuah kapal selam Soviet, K-129 (Golf II), rusak akibat ledakan di dalam saat misi patroli rutin dan tenggelam di Samudra Pasifik, 1.900 mil sebelah barat laut Hawaii. Kapal itu membawa rudal balistik nuklir, dengan hulu ledak 4 megaton, dan awak tujuh puluh orang. Soviet melakukan upaya pencarian besar-besaran selama dua bulan, tapi tak membuahkan hasil.

Aktivitas tak biasa Angkatan Laut Soviet di daerah itu mendorong AS untuk memulai pencarian kapal selam, yang akhirnya ditemukan pada Agustus 1968. Tapi, puingnya baru bisa diangkat beberapa tahun setelahnya. Kapal selam itu, jika bisa diambil, akan menjadi harta karun bagi komunitas intelijen. Itu tidak hanya membuat pejabat AS bisa melihat desain hulu ledak nuklir Soviet, tapi juga mendapatkan peralatan kriptografi yang memungkinkannya memecahkan kode sandi Angkatan Laut Uni Soviet. Lalu, dimulailah Project Azorian itu.

Komunitas intelijen AS menugaskan Howard Hughes untuk membangun sebuah kapal besar --dijuluki Hughes Glomar Explorer (HGE)--untuk mendapatkan kapal selam itu. Operasi penyelamatan, yang dimulai pada 1974, awalnya hanya sukses secara parsial. AS berencana untuk memulai usaha kedua, pada 1975, namun akhirnya dibatalkan ketika cerita soal ini bocor ke pers.

Dalam tahun-tahun berikutnya, sangat sulit untuk mendapatkan informasi tentang Proyek Azorian di luar yang telah beredar di surat kabar. Menanggapi permintaan melalui Freedom of Information Act (FOA), CIA menolak melepaskan dokumen soal proyek itu dan mengatakan "tidak mengkonfirmasi atau menyangkal" hubungannya dengan Hughes Glomar Explorer. (Akibatnya, kalimat "tidak mengkonfirmasi atau menyangkal" dikenal sebagai "respons glomar" atau "glomarization.")

Pada 2010, CIA diizinkan mempublikasikannya dengan suntingan yang sangat banyak, 50 halaman artikel yang menjelaskan Proyek Azorian dalam edisi musim gugur 1978 di jurnal internal CIA, Studies in Intelligence. Kini, soal proyek itu ini tersedia lebih detail berkat publikasi volume terbaru dari Foreign Relations of the United States (FRUS). Disusun oleh sejarawan Departemen Luar Negeri, seri FRUS adalah sumber tak ternilai, yang berisi dokumen yang dideklasifikasi, yang mencakup kabel diplomatik, memo internal, dan risalah rapat antara presiden dan penasihat terdekatnya. Dalam FRUS terbaru, National Security Policy: 1973-1976, terdapat sekitar 200 halaman soal Project Azorian.

Menurut dokumen itu, pada 1969, CIA mengumpulkan gugus tugas kecil insinyur dan teknisi untuk menyusun konsep bagaimana mendapatkan kapal selam itu. Hambatan teknologi dan logistik menjadi pertimbangan utama. Bagaimana mungkin AS menyelamatkan kapal selam 2.500 ton, yang berbaring di dasar laut pada kedalaman 16.500 kaki? Dan bagaimana AS melakukan operasi besar-besaran tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan atau terdeteksi oleh pengintaian Soviet?

Pada akhirnya, para insinyur memilih rencana yang terdengar seperti plot film James Bond. Rencana ini melibatkan tiga kapal. Kapal pertama adalah untuk pengambilan, dengan ruang di dalamnya dan dilengkapi dengan dasar yang bisa membuka dan menutup. Kapal kedua, untuk penangkap, dilengkapi mekanisme pengambilan yang akan dirancang untuk menyelaraskan dengan lambung kapal selam. Kapal yang berhasil diangkat akan diam-diam dirakit pada kapal tongkang besar dengan atap yang bisa dibuka. Kapal tongkang tersebut akan terendam sehingga bisa menyelinap di bawah laut, di bawah kapal pengambilan, membuka atap dan memberikan kapal yang sudah didapatnya.

CIA mengontrak Summa Corporation untuk pembuatan kapal ini. Summa adalah anak perusahaan Hughes Tool Company yang dimiliki oleh miliarder Howard Hughes. Kapal penemuan itu akan dibuat sepanjang 618 kaki, 36.000 ton, dan dijuluki Hughes Glomar Explorer (HGE). Tentu saja, melihat ada raksasa mengambang berlama-lama di Samudra Pasifik pasti akan memicu kecurigaan. Jadi, Project Azorian mengarang cerita penyamaran bahwa HGE dibangun sebagai usaha komersial swasta Hughes untuk penambangan mangan di dasar laut.

Saat Project Azorian mengalami kemajuan, namun pejabat pemerintah mulai mengungkapkan keraguan apakah biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang didapatkan sebanding. Apakah kapal selam nuklir itu masih bisa disebut aset intelijen atau justru sudah menjadi artefak? Sebuah komite ad hoc sekali lagi diminta untuk mengkaji masalah ini dan akhirnya memutuskan bahwa masih ada banyak yang bisa diperoleh dari operasi ini. Meskipun rentang rudal SS-N-5 yang ada di kapal selam itu pendek dan tidak lagi dianggap sebagai ancaman utama, itu masih bisa "menyediakan teknologi potensial penting", sesuai dengan yang baru-baru ini dikerahkan Uni Soviet, rudal jarak jauh SS-N-8. Dan peralatan kriptografinya di kapal itu "akan bernilai sangat tinggi terhadap upaya intelijen AS melawan pasukan angkatan laut Soviet."

Akhirnya, pada 3 Juni 1974, sebuah memorandum dari Dewan Keamanan Nasional kepada Kissinger mengatakan: "Puncak dari usaha enam tahun, Proyek Azorian, siap untuk mencoba untuk mendapatkan rudal balistik kapal selam Soviet dari kedalaman 16.500 kaki di Samudera Pasifik."

Kapal akan berangkat dari pantai barat 15 Juni dan tiba di situs target pada 29 Juni. Operasi pengambilan akan memakan waktu 21-42 hari (30 Juni-20 Juli-10 Agustus). Manajer proyek memperkirakan peluang keberhasilannya lebih dari 40 persen. Dua hari kemudian, operasi itu disetujui. Misi pengambilan kapal selam, yang berlangsung dari Juni sampai Agustus 1974, hanya berhasil sebagian. Meskipun sebagian dari kapal selam itu diambil, sisa kapal terjatuh dari kapal penangkap lantaran kegagalan fungsi mekanis.

Wakil Menteri Pertahanan memberi penjelasan kepada Kissinger: "Analisis ekstensif dari kegagalan penangkap telah menghasilkan kesimpulan bahwa tangan-tangan baru harus dibuat, yang menggabungkan bahan kurang rapuh dan meningkatkan teknik desain. Semua tindakan yang diperlukan sekarang sedang diambil untuk mengkonfigurasi ulang kendaraan penangkap dan memperbarui kapal penemuan untuk misi kedua selama periode cuaca optimum berikutnya, yaitu Juli dan Agustus 1975."

Haruskah AS mencoba melakukan misi kedua? Saat itu, banyak hal berubah di Washington sejak Hughes Glomar Explorer berangkat ke laut. Presiden Richard Nixon mengundurkan diri pada 9 Agustus. Ada keraguan, mengingat suasana saat ini di Washington, apakah CIA bisa mempertahankan operasi selama satu tahun lagi tanpa cerita itu bocor ke pers.

Namun, konsensusnya cenderung untuk melanjutkan inisiatif tersebut. Namun, bahkan Henry Kissinger, yang berada di antara pendukung terkuat operasi, mulai memiliki keraguan pribadi. Setelah mengadakan satu pertemuan dengan para pejabat intelijen dan pertahanan pada Januari 1975, Kissinger berbicara kepada Presiden Gerald Ford soal kekhawatirannya bahwa operasi rahasia ini bisa bocor. Kissinger punya alasan untuk khawatir. Sejak awal Januari 1974, wartawan New York Times Seymour Hersh telah menyelidiki cerita soal Project Azorian ini. William Colby, Direktur Central Intelligence Agency (CIA), sudah dua kali bertemu dengan Hersh--pada 1 Februari 1974 dan 10 Februari 1975--dan mendesaknya untuk menunda publikasi soal itu. Tapi, berapa lama lagi cerita soal itu tak dibuka media?

Kurang dari seminggu kemudian, berita itu bocor dan bukan oleh Seymour Hersh. Proyek ini menjadi rahasia umum karena perampokan yang terjadi pada 5 Juni 1974. Markas perusahaan Summa Corporation milik Hughes di Los Angeles kecurian. Para pencuri membawa kabur uang tunai dan empat kotak dokumen. Berdasarkan pendataan setelah kasus perampokan, diketahui bahwa dokumen yang hilang termasuk memo yang menjelaskan proyek rahasia CIA itu.

Beberapa bulan kemudian, polisi Los Angeles melaporkan bahwa mereka telah dihubungi oleh seorang perantara yang mengaku memiliki dokumen yang dicuri. Sang perantara tidak secara khusus menyebutkan memo tentang CIA dan Proyek Azorian. Sang perantara meminta tebusan US$ 500.000. Apa yang terjadi selanjutnya dapat digambarkan sebagai komedi kesalahan. Sebab, CIA memberi tahu FBI bahwa dokumen yang ditawarkan sang perantara mungkin termasuk memo sensitif mengenai Project Azorian. FBI kemudian mengatakan kepada polisi Los Angeles tentang adanya memo tersebut, dan polisi Los Angeles memberi tahu sang perantara.

Pada 7 Februari 1975, Los Angeles Times menerbitkan sebuah artikel singkat berjudul "U.S. Reported After Russ Sub" yang mengatakan bahwa menurut "kabar yang beredar di kalangan aparat penegak hukum setempat, Howard Hughes telah dikontrak CIA untuk mengangkat kapal selam nuklir Rusia dari bawah samudra...operasi, menurut teori seorang penyidik, dilakukan oleh awak kapal pertambangan kelautan yang dimiliki oleh Hughes Summa Corp."

Itu adalah artikel dari sumber yang samar, mengandung sejumlah kesalahan, tapi cerita soal Project Azorian itu menyebar. Pada 18 Maret 1975, kolumnis Jack Anderson menyebut soal Hughes Glomar Explorer dalam acara radio nasional dan menyatakan niatnya untuk mengungkapkan rincian lebih lanjut tentang operasi itu. Hasil dari pengumuman itu, wartawan lainnya, termasuk Seymour Hersh, tidak lagi merasa wajib menunda untuk menurunkan beritanya. Keesokan harinya, beberapa surat kabar besar--termasuk Los Angeles Times, Washington Post, dan The New York Times--menerbitkan cerita di halaman depan yang mengungkapkan bahwa Hughes Glomar Explorer, dalam sebuah operasi yang dipimpin oleh CIA, telah mengambil sebagian dari kapal selam Soviet dari Samudra Pasifik selama musim panas 1974.

Yang mengejutkan bagi Gedung Putih, Soviet hanya diam. Ada dugaan bahwa kemarahannya mirip dengan insiden U-2 pada 1960, ketika sebuah pesawat mata-mata Amerika Serikat ditembak jatuh di wilayah udara Uni Soviet.

Sebuah laporan yang dipersiapkan oleh CIA pada April 1975 percaya bahwa keputusan Soviet untuk menahan diri dari respons publik adalah karena beberapa faktor. Hal ini, antara lain, ditujukan untuk menghindari rasa malu di dalam negeri dan di luar negeri karena harus mengakui untuk pertama kalinya soal hilangnya kapal selam pada 1968. Ini juga untuk menghindari adanya pengakuan publik atas ketidakmampuan Soviet untuk menemukan kapal selam yang hilang kalah oleh AS, yang tidak hanya menemukan, tapi juga mengambil kapal selam mereka.

CIA menyimpulkan bahwa Uni Soviet memiliki kepentingan untuk tidak mempublikasikan peristiwa itu lebih jauh. Namun CIA juga memperingatkan, "Tampaknya tak diragukan lagi bahwa Soviet akan berusaha keras untuk menggagalkan atau mengganggu misi kedua." Berarti tinggal satu pertanyaan yang tersisa: bagaimana Uni Soviet akan menanggapi misi pengambilan kedua? Gedung Putih belum mengakui hubungan resminya dengan Hughes Glomar Explorer. Apakah mungkin Angkatan Laut Soviet menembaki kapal sipil AS itu?

Pada 16 Juni 1975, Kissinger mengirim memorandum kepada Presiden Ford. Isinya, Kissinger menjelaskan bahwa Soviet sepertinya tidak akan membiarkan AS melakukan misi kedua. Sebuah kapal Soviet dikabarkan sudah di dekat lokasi itu sejak 28 Maret dan ada indikasi bahwa kapal itu akan tetap di sana. Karena itu, kapal AS itu dalam keadaan rentan. Ancaman dari reaksi yang lebih agresif dan bermusuhan juga bisa terjadi, termasuk konfrontasi langsung dengan kapal angkatan laut Soviet.

Melihat perkembangan itu, Project Azorian dihentikan. Biaya total operasinya sekitar US$ 800 juta, yang kalau dinilai dengan mata uang saat ini lebih dari US$ 3 miliar. Hughes Glomar Explorer akhirnya disesuaikan dengan cerita penyamarannya semula, yaitu untuk pengeboran laut dalam. Kapal itu lantas dijual kepada sebuah perusahaan swasta pada 2010 seharga US$ 15 juta.

www.tempo.co

Minggu, 20 April 2014

Mengenal Lebih Dekat R-Han 122, Roket Pertahanan Buatan Indonesia

R-Han 122 adalah produk roket untuk keperluan pertahanan atau militer yang dikembangkan oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Proyek pengembangan roket pertahanan R-Han 122 ini melibatkan Balitbang Kementerian Pertahanan RI dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenriset), PT Pindad, LAPAN, Perguruan Tinggi dan pihak terkait lainnya.

Desain Roket R-Han 122. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Desain Roket R-Han 122.
Berdasarkan penelusuran di Kementerian Pertahanan, ide produksi roket dalam negeri mulai tercetus tahun 2007. Saat itu Kemenristek membentuk Tim D-230 untuk mengembangkan penelitian roket hulu ledak berdiameter 122 milimeter dengan jarak jangkau 20 kilometer. Prototipe roket D-230 itu dibeli Kementerian Pertahanan yang menggandeng PT Pindad Indonesia, untuk memperkuat program 1.000 roket. Roket R-Han 122 merupakan pengembangan dari roket sebelumnya, yaitu D-230 tipe RX 1210 yang dikembangkan oleh Kemenristek dengan kecepatan maksimum 1,8 mach yang uji coba peluncurannya berlangsung mulus.

Roket R-Han 122 ini merupakan hasil kerjasama yang sinergi antara Balitbang Kementerian Pertahanan RI dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenriset), PT Pindad, LAPAN, Perguruan Tinggi dan pihak terkait lainnya. Selanjutnya melakukan integrasi roket dengan penambahan warhead (hulu ledak) sehingga roket berfungsi sebagai senjata yang memiliki daya ledak yang optimal dengan sasaran darat ke darat dengan jarak tembak antara 11-14 km. Dengan adanya integrasi prototipe roket warhead ini, diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai Alutsista TNI yang selama ini masih tergantung dari luar negeri.

Proses Pembuatan Roket R-Han 122

Saat memasuki bisnis massal, pemerintah membentuk Konsorsium Roket Nasional dengan ketuanya adalah Bapak Sonny Ibrahim sebagai Ketua Program Roket Nasional PT DI yang menjelaskan bahwa rencana pembuatan roket secara massal sebenarnya sudah ada sejak 2005. Namun, baru dikembangkan roket D-230 pada 2007 hingga terbentuk konsorsium tersebut. Konsorsium itu beranggotakan sejumlah industri strategis yang mengerjakan bermacam komponen roket. Selain digunakan sebagai sistem pertahanan juga akan digunakan sebagai penelitian satelit.

Dalam konsorsium tersebut terdapat PT Pindad yang mengembangkan launcher dan firing system dengan laras 16/ warhead dan mobil launcher (hulu ledak). Kemudian PT Dahana menyediakan propellant. PT Krakatau Steel untuk mengembangkan material tabung dan struktur roket. PT DI membuat desain dan menguji jarak terbang. Pendukung lainnya seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika turut mendukung dengan menyediakan alat penentu posisi jatuhnya roket. ITB turut menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar saat roket tiba di sasaran. Demikian halnya dengan UGM Yogya, ITS Surabaya, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Suryadharma, Universitas Negeri 11 Maret dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya yang terlibat dalam proses pembuatannya.

Roket R-Han 122, Uji Coba Penembakan. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Roket R-Han 122, Uji Coba Penembakan.
Proses Riset Roket R-Han 122

Pembuatan roket militer ini cukup menarik, karena para periset beberapa kali melakukan uji coba hingga menemukan kesempurnaan pada roket R-Han 122. Pada awalnya, tahun 2003 silam periset menggunakan ketebalan baja 1,2 mm, tetapi kemudian produk tersebut justru cepat jebol. Maka dari itu, mulai diperbaiki sistem isolasi termal. Saat roket meluncur sempurna dibutuhkan suhu 3000 derajat celcius. Pembakaran itu bisa berakibat fatal, apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Oleh karena itu, di ruang isolasi termal diberi karet atau polimer yang bisa menghambat panas. Untuk materialnya, dipilih bahan ringan, yakni aluminium, agar bisa menghambat panas. Sehingga termalnya dapat bekerja dengan cukup baik, dan roket itu pun akhirnya dapat terbang tepat sasaran serta tidak pernah rusak selama uji coba.

Serangkaian uji coba roket itu, untuk melihat kemampuan strategis yang dimiliki oleh industri pertahanan dalam negeri kita dalam menguasai ilmu peroketan. Banyak negara maju yang sudah menguasai ilmu tersebut, namun enggan membagi karena dinilai sangat strategis. Maka dari itu, Pemerintah berusaha mengadakan penelitian dan mengembangkan kemampuan yang ada guna menguasai teknologi tersebut untuk kepentingan nasional kedepannya. Uji coba ini adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan teknologi dibidang roket. Pemerintah bersama dengan industri strategi bersinergi dalam hal ini untuk mengembangkan roket.

Pengembangan Roket R-Han 122

Dalam pengembangannya, Indonesia harus mandiri dalam penelitian dan rekayasa teknologi di bidang pertahanan negara sebagai pemacu para peneliti Indonesia. Oleh karena itu, Roket berkaliber 122 mm ini terwujud yang rencananya akan ditempatkan sebagian besar di KRI (kapal-kapal perang RI). Tak ketinggalan juga, Armed yang menjadi bagian dari institusi TNI Angkatan Darat dilibatkan dalam penggunaan senjata ini karena fokus sasarannya adalah sasaran darat. Roket R-Han 122 ini juga dikembangkan dalam rangka mengurangi ketergantungan pengadaan dari luar negeri dengan memberdayakan potensi dan kemampuan industri pertahanan dalam negeri.

Selama ini menurut Menhan, Indonesia masih membeli roket dari Amerika Serikat. Tapi kemudian, "Dengan harga satu roket R-Han 122 membutuhkan dana Rp 75 juta yang artinya untuk 500 roket dibutuhkan Rp 37,5 miliar akan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli dari luar negeri yang harganya mencapai 110 juta rupiah per roket," jelas Menhan seraya menambahkan bahwa 500 roket tahap awal ini merupakan bagian dari 1.000 roket yang ditargetkan. Idealnya kebutuhan roket untuk peralatan pertahanan RI lebih dari 500 unit.

Sebanyak 750 roket diselesaikan pembuatannya pada tahun 2013 dan jika tidak ada halangan program ini akan selesai pada 2014 mendatang dalam program produksi 1000 roket pertahanan untuk TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut.

Menyinggung apakah roket R-Han 122 hasil karya anak bangsa ini akan dijual ke luar negeri, Menhan mengatakan, suatu produk bila sudah teruji baru dipasarkan. "Untuk saat ini R-Han 122 dipakai sendiri," katanya seraya menggarisbawahi, Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas membutuhkan sistem pertahanan yang lebih baik untuk mempertahankan wilayahnya terutama wilayah perbatasan.

Dengan produksi mandiri ini, maka negara-negara lain tidak akan mudah meremehkan produksi hasil karya putera bangsa Indonesia sehingga meningkatkan detterence / efek gentar yang dimiliki oleh TNI. Pada akhirnya kerjasama ini diharapkan mampu memperkuat kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Spesifikasi Prototipe R-Han-122 :
  • Diameter : 122 mm (R-Han-122)
  • Speed : 1.8 mach
  • Range : 14 km (R-Han-122 Single-Stage), 19 km (R-Han-122 Double-Stage)
Majalah Palagan

Sabtu, 19 April 2014

US.$ 1,8 Miliar Untuk Jet Tempur Baru Pengganti Armada MiG-29N Fulcrum TUDM

Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) dikabarkan tengah memilih 5 produk jet tempur multi-peran dari 5 pabrikan berbeda untuk menggantikan 18 unit pesawat jet tempur MiG-29N Fulcrum yang selama ini menjadi tulang punggung kekuatan tempur TUDM. Untuk keperluan tersebut, pemerintah Malaysia diperkirakan harus menyediakan dana sebesar US.$ 1,8 miliar yang setara dengan RM 6 miliar.

MiG-29N Fulcrum Tentera Udara Diraja Malaysia. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
MiG-29N Fulcrum Tentera Udara Diraja Malaysia.
Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) saat ini sedang memilih kandidat jet tempur baru sebagai pengganti armada 18 jet tempur Mikoyan MiG-29N Fulcrum buatan Rusia. Berkaitan dengan hal ini, negeri jiran tersebut dikabarkan segera membuka tender untuk pengadaan pesawat tempur multi-peran bagi beberapa perusahaan dirgantara pertahanan.

Sumber dari sebuah perusahaan pertahanan mengatakan bahwa Malaysia akan segera menerima proposal dari mereka meskipun Menteri Pertahanan Hishammuddin Hussein telah menyatakan bahwa Malaysia belum membuat keputusan tentang apakah akan melakukan penggantian pada armada jet tempur MiG-29N yang kini menjadi tumpuan kekuatan tempur TUDM itu

Dengan biaya rata-rata sekitar US.$ 100 juta (RM 322 juta) per pesawat lengkap dengan peralatan pendukung, pemeliharaan, dan pelatihan, maka biaya untuk 18 unit jet tempur baru kemungkinan akan mencapai sekitar RM 6 miliar, kata sumber tersebut.

Pada Maret tahun lalu, Malaysia telah mempertimbangkan lima produk jet tempur sebagai pengganti potensial untuk armada MiG-29N, yaitu Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, Boeing F/A-18E/F Super Hornet, Sukhoi Su-30 Flanker C, dan Saab JAS-39 Gripen.

www.malaysiakini.com

Kapal Perang PKR-105 Mulai Dibangun PT PAL Untuk TNI AL

Kapal Perusak Kawal Rudal 105 (PKR-105)/Frigate adalah produk dari program nasional yang diprakarsai Kementerian Pertahanan untuk menghasilkan kapal perang produksi Indonesia. Awalnya program ini bertujuan untuk mendapatkan model dasar untuk pengembangan kapal perang jenis korvet. Namun setelah melalui proses yang berliku dan berkepanjangan, arah program ini justru melompat untuk menghasilkan kapal perang jenis Frigate yang dikenal dengan sebutan PKR-105 atau sebutan lainnya adalah Perusak Kawal Rudal 105 (PKR-105)/Frigate. Kapal ini mengambil desain dasar dari kapal perang korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach).

PKR SIGMA 10514. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
PKR SIGMA 10514.
PT PAL Garap 3 Kapal Perusak Rudal Pesanan TNI AL.

Proses pembangunan kapal Perusak Kawal Rudal 105 (PKR-105)/Frigate nomor 1 di PT PAL dimulai, Rabu (16/4/2014). Kapal PKR-105 ini merupakan kapal pertama dari 3 unit yang dipesan Kementerian Pertahanan untuk melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL. Pembangunan PKR-105 ini ditandai dengan peletakan lunas (keel laying) sebagai dasar kapal di divisi kapal perang PT PAL.

Peletakan lunas dilakukan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Marsetio, Direktur Utama PT PAL, Firmansyah Arifin, Kepala Badan Sarana Pertahanan (Baharahan) Kementerian Pertahanan Laksamana Muda TNI Rachmad Lubis, Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd F de Zwaan, dan Managing Director Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Hein Van Ameijden.

Kehadiran pihak Belanda ini karena proyek pembuatan kapal yang per unitnya ditaksir 220 juta dolar AS tersebut, karena Kementerian Pertahanan memesannya ke perusahaan DSNS. Tapi oleh perusahaan galangan kapal Belanda itu, pihaknya menggandeng PT PAL untuk mendukung pembangunan kapal-kapal ini. Dengan sistem Transfer of Technologi. "Pembangunan kapal ini dibagi menjadi enam modul atau bagian. Dikerjakan bersama DSNS dengan rincian, empat modul dikerjakan di Surabaya dan dua modul dikerjakan di Vlisingen, Belanda," jelas Marsetio.

Ditargetkan dua modul yang dirakit di Belanda, pada Maret 2015 sudah datang ke PT PAL untuk dirakit menjadi satu dengan empat modul yang lain, dan selesai dibangun. Dirut PT PAL Firmansyah Arifin menambahkan dengan kegiatan Transfer of Technologi ini, pihaknya sudah mengirim 75 teknisi ke Belanda. "Dengan langkah ini memperkuat kami sebagai lead integrator matra laut. Dan kami siap menyelesaikannya secara tuntas sebagai kapal buatan Indonesia," ungkap Firmansyah.

Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd F de Zwaan, mengatakan pihaknya mendukung enuh kerjasama alih teknologi dengan PT PAL ini. Menurutnya Indonesia perlu melakukan revitalisasi industri strategis, salah satunya kapal perang ini.

Kapal PKR-105 ini memiliki panjang 105 meter dengan dilengkapi peluncur rudal antikapal permukaan, antiserangan udara, torpedo, dan perangkat perang elektronik. Kapal ini akan dilengkapi helikopter yang membawa torpedo.

www.tribunnews.com

Selasa, 15 April 2014

4 Unit Helikopter AH-64 Apache Pesanan Indonesia Bakal Tampil Pada HUT TNI 2014

4 unit helikopter tempur AH-64 Apache buatan Boeing Integrated Defense Systems dikabarkan siap untuk ditampilkan pada HUT TNI tanggal 5 Oktober 2014 mendatang. 4 helikopter tempur AH-64 Apache tersebut merupakan sebagian dari total 8 unit helikopter sejenis yang sudah dipesan pemerintah Indonesia sejak tahun 2013 lalu.

Helikopter Tempur AH-64 Apache. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Helikopter Tempur AH-64 Apache.
4 AH-64 Apache Pesanan dari AS Siap Beraksi di HUT TNI 5 Oktober Mendatang.

Indonesia sudah memesan 8 helikopter tempur AH-64 Apache dari perusahaan AS, Boeing. Rencananya, HUT TNI 5 Oktober 2014 mendatang 4 AH-64 Apache di antaranya sudah bisa beraksi. "Mereka akan mempersiapkan 4 Apache untuk dihadirkan pada HUT TNI," jelas Wamenhan Sjafrie Sjamsuddin di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (14/4/2014).

Menurut Sjafrie, nantinya heli AH-64 Apache itu juga sudah bisa digunakan untuk latihan perang operasi Garuda TNI AD. "2 Heli utama dan 2 heli pendukung," tambahnya.

Kepastian soal kedatangan heli ini didapatkan saat Sjafrie bertemu pihak Boeing di Defence Services Asia 2014 yang digelar 14-17 April di Malaysia.

AH-64 Apache ini dipesan pada 2013 lalu. Dan akan diserahkan secara bertahap ke Indonesia. Tahap awal 4 AH-64 Apache lebih dahulu.

news.detik.com

TNI AD Gunakan Alutsista Pengintai Untuk Hindari Baku Tembak Di Papua

Untuk menghindari kemungkinan baku tembak dengan kelompok sipil bersenjata di Papua, Kodam XVII/Cenderawasih meminta disediakan beberapa peralatan pengintai kepada Mabes TNI AD di Jakarta. Beberapa peralatan pengintai yang diminta oleh pihak TNI AD Kodam XVII/Cenderawasih di Papua diantaranya adalah Flapping Bird dan Unmanned Aerial Vehicles Autopilot, Selain itu mereka juga minta dikirimkan perangkat VHF dan Open Base Transceiver Station (BTS).

Pesawat UAV Rancangan Universitas Surya. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Pesawat UAV Rancangan Universitas Surya.
Hindari Baku Tembak, TNI AD Gunakan Alutsista Pengintai.

Kepala Staf TNI AD Jenderal Budiman mengatakan, sudah ada permintaan alutsista hasil pengembangan bersama Universitas Surya itu, dari Panglima Kodam XVII/Cenderawasih (Pangdam) Mayjen TNI Christian Zebua. "Kodam XVII sudah meminta alat-alat baru ini beberapa buah, Kodam perbatasan minta VHF dan Open Base Transceiver Station (BTS)," terang Budiman, di Mabes AD, Jakarta, Senin (7/4/2014).

Tak hanya 2 alat itu, Budiman juga mengatakan ada permintaan alat lain seperti flapping bird (alat berbentuk burung yang berfungsi mengintai dan memantau situasi daerah) dan Unmanned Aerial Vehicles Autopilot atau pesawat tanpa awak. "Alat yang digunakan topografi itu untuk survailance (pengawasan) di daerah tertentu dengan teknologi, maka akan lebih tahu pergerakan musuh," jelas Budiman.

Rektor Universitas Surya Profesor Yohanes Surya juga menjamin kualitas alutsista yang dikembangkannya bersama TNI AD. Menurutnya, alat ini tak kalah dengan kualitas alutsista militer asing. "Ambil contoh pembuatan nano satelit. Hanya ada beberapa negara yang mampu membuat. (Alutsista kita) pasti bisa bersaing," ujar Yohanes.

Sempat terjadi baku tembak antara aparat keamanan dengan sekitar 40 anggota kelompok sipil bersenjata di Papua. Korban dilaporkan berjumlah 3 orang yang diduga sebagai anggota kelompok sipil bersenjata. Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua mengatakan, 1 korban di antaranya tewas dan 2 lainnya belum diketahui kondisinya.

Anggota Intelijen Kodim 1701/Jayapura Serma Tugino menjadi korban baku tembak ini. Kini ia masih dirawat di Rumah Sakit TNI Marthen Indey, Aryoko, Kota Jayapura, Papua. Kapolresta Jayapura AKBP Alfred Papare juga menjadi korban, namun tidak mengalami luka serius.

news.liputan6.com

Senin, 14 April 2014

Anggota DPR Dan Analis Militer Berharap TNI Lengkapi Alutsista Sebelum Bentuk Kogabwilhan

TNI sebaiknya terlebih dulu melengkapi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sesuai kekuatan pokok minimal (minimum essential forces/MEF) sebelum membentuk Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan). Hal tersebut menjadi himbauan Anggota Komisi I DPR Susaningtyas Kertopati dan analis militer dari Universitas Indonesia Andi Widjajanto kepada pihak Markas Besar Tentara Nasional Indonesia.

Helikopter Tempur AH-64 Apache. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Helikopter Tempur AH-64 Apache.
Persiapkan Alutsista Sebelum Bentuk Kogabwilhan.

Markas Besar Tentara Nasional Indonesia diminta mempersiapkan alat utama sistem persenjataan dan prajurit yang handal, sebelum membentuk Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan). Menurut Anggota Komisi I DPR Susaningtyas Kertopati, TNI harus terlebih dulu mempersiapkan alutsista sesuai dengan kekuatan pokok minimal (minimum essential forces/MEF). "Selain itu, sumber daya manusianya serta pola kerja dalam sistem pertahanan harus benar-benar siap," kata Susaningtya, Selasa (8/4/2014).

Ia mengingatkan, TNI juga harus secara integral menyiapkan teknis pembentukan Kogabwilhan. Baik dalam konteks kewilayahan maupun politik anggarannya. "Jangan sampai anggarannya tak cukup," kata politisi Partai Hanura ini.

Susaningtyas berharap pembentukan Kogabwilhan akan meningkatkan soliditas tiga matra TNI. "Karena jujur saja selama ini, hasil latihan gabungan yang sering dilakukan TNI, tak memperlihatkan adanya koordinasi yang baik di tataran implementasi," ujarnya.

Pemerhati pertahanan dari Universitas Indonesia Andi Widjajanto menilai butuh suatu penyiapan organisasi, personel, maupun alutsista yang memadai. "Organisasi yang harus disiapkan semestinya bersifat gabungan dan senantiasa memperhatikan kondisi geografis," katanya.

Dia berharap persoalan alutsista harus segera diselesaikan dulu sebelum Kogabwilhan dibentuk. "Jangan sampai organisasi baru itu dibentuk hanya demi merespon masalah banyaknya perwira tanpa jabatan yang dewasa ini melanda organisasi militer Indonesia," bebernya.

Menurutnya, kalau pembentukan Kogabwilhan hanya mengandalkan pada kuantitas dan kualitas alutsista yang tersedia saat ini, diprediksi tidak akan banyak menambah dampak penangkalan sebagaimana yang diharapkan. Namun terlepas dari itu, Andi berharap pembentukan Kogabwilhan penting untuk menjamin adanya integrasi operasional antara tiga angkatan. Intergasi itu diukur dari kemampuan integratif sistem pertahanan, satuan-satuan tempur, fungsi dukungan tempur, dan intelijen tiga angkatan untuk menggelar operasi militer bersama secara efektif. "Integrasi operasional ini akan sangat ditentukan oleh suatu komando tugas gabungan yang akan mengembangkan kemampuan taktikal gabungan yang akan digelar dalam suatu kampanye militer," jelasnya.

www.jpnn.com