Cari di Blog Ini

Jumat, 04 April 2014

Myanmar Luncurkan Kapal Frigate Siluman Produksi Lokal

UMS Kyansitthar (F12) dan UMS Sin Phyu Shin (F14) adalah kapal perang jenis frigate dengan teknologi stealth (siluman) yang dirancang dan diproduksi oleh negara Myanmar. Sejak tahun 2010, Angkatan Laut Myanmar telah merencanakan untuk mengoperasikan kapal perang frigate yang masuk dalam jajaran Aung Zeya-Class.

UMS Sin Phyu Shin (F14). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
UMS Sin Phyu Shin (F14).
Angkatan Laut Myanmar secara resmi telah mengoperasikan kapal frigate bersenjata rudal UMS (Union of Myanmar Ship) Kyansitthar (F12) pada 31 Maret 2014. Kapal ini merupakan kapal frigate dengan karakteristik stealth (siluman) pertama angkatan laut negara ini karena kemampuannya untuk meminimalisir deteksi radar. Dua hari sebelumnya yaitu pada tanggal 29 Maret 2013, Angkatan Laut Myanmar juga telah meluncurkan kapal perang sejenis yang diberi nama UMS Sin Phyu Shin (F14).

Pengoperasian kapal perang berteknologi siluman ini menjadi langkah yang penting bagi Angkatan Laut Myanmar dimana negara ini tengah berusaha mengembangkan kemampuannya secara mandiri untuk melindungi kawasan lautnya.

Kemampuan untuk membuat kapal jenis ini menjadi perkembangan yang sangat mengesankan dari Angkatan Laut Myanmar. UMS Kyansitthar (F12) dan UMS Sin Phyu Shin (F14) dibangun di Galangan Kapal Angkatan Laut Thilawa yang berlokasi di sebelah selatan ibu kota Myanmar, Yangon. Meskipun masih dalam kelas yang sama (Aung Zeya-Class) tapi dua kapal figate siluman tersebut mengusung teknologi yang agak berbeda. UMS Kyansitthar (F12) memadukan teknologi Rusia dan China, sedangkan UMS Sin Phyu Shin (F14) lebih mengutamakan teknologi dari China.

Secara keseluruhan, Angkatan Laut Myanmar merencakan untuk membangun 6 kapal frigate kelas Aung Zeya. Hingga kini telah selesai diproduksi 3 unit kapal dan baru 2 kapal yang resmi dioperasikan yaitu UMS Aung Zeya (F11) dan UMS Kyansitthar (F12). UMS Sin Phyu Shin (F14) yang baru saja diluncurkan sedang menjalani uji laut.

Spesifikasi Kapal Perang Frigate Kelas Aung Zeya :
  • Displacement : 2.500 ton
  • Panjang : 108 meter
  • Propulsi : 4 unit mesin diesel SEMT Pielstick 16 PA6 STC 5700 kW
  • Kecepatan Maksimum : 30 knot (56 km/jam)
  • Jarak Jelajah : 3.800 mil (6.100 km)
  • Sensor dan Sistem Proses : Radar RAWL-02 Mk III L-band 2D, radar kontrol senjata Type 347G 76 mm, 2 unit Radar Navigasi Racal RM-1290, I-band SNTI-240 SATCOM
  • Perangkat Perang Elektronik dan Decoy : Radar Peringatan Dini Type 922-1 dan Sistem HZ-100 ECM & ELINT
  • Persenjataan : 8 unit Rudal Anti Kapal Kh-35, 6 unit Rudal Anti Pesawat SA-N-5, 1 unit Meriam Reaksi Cepat Oto Melara 76 mm, 4 unit CIWS AK-630 6-barrel 30 mm, Triple torpedo 324 mm YU-7 ASW, dan Peluncur Roket
  • Hangar : 1 unit Helikopter
www.janes.com, en.wikipedia.org

Kamis, 03 April 2014

MBT Leopard Revolution, Tank Tempur Terbaru TNI AD

MBT Leopard Revolution adalah salah satu dari varian tank tempur utama Leopard buatan Jerman yang terkenal itu. Leopard Revolution termasuk varian terbaru dan merupakan pengembangan dari varian 2A4. Dan tank tempur ini siap untuk memperkuat kesatuan TNI AD. Dengan mengakuisisi tank ini maka Indonesia menjadi negara kedua di Asia yang mengoperasikan tank Leopard yang konon menjadi MBT terbaik di dunia dan kemampuannya melebihi tank M1A1 Abrams buatan AS dan Challenger buatan Inggris.

MBT Leopard Revolution. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
MBT Leopard Revolution.
Tank Leopard Revolution, Tank Kebanggaan Bangsa Indonesia.

Tank tempur utama (MBT: Main Battle Tank) Leopard Revolution adalah salah satu varian terbaru yang merupakan pengembangan dari Leopard 2A4. Tank tempur ini diproduksi oleh pabrik persenjataan berat Jerman, Rheinmetall. MBT Leopard Revolution pertama kali diperkenalkan pada tahun 2010, dan menurut analis militer tank ini juga sering disebut sebagai Leopard 2A4 Evolution. Leopard 2A4 sendiri adalah salah satu varian Leopard 2 yang paling banyak diproduksi dan dipakai di banyak negara dalam jumlah besar.

Kemampuan.

Dari segi tampilan, memang ada perbedaan di antara kedua tank yang memang "bersaudara" ini. Yang paling jelas terlihat perbedaannya adalah pada turret (kubah) meriamnya. Leopard Revolution memiliki turret meriam yang sisinya bersudut miring dan tajam, sementara 2A4 turretnya berbentuk kotak. "Visi dan misi" kedua varian ini pun berbeda. Sang pendahulu yaitu Leopard 2A4 yang dikembangkan di era 1980-an mengangkat konsep peperangan kala itu yaitu perang terbuka melawan Blok Timur Uni Soviet di medan terbuka.

Sementara Leopard Revolution sebagai generasi tahun 2000 dirancang untuk diterjunkan pada peperangan yang pada praktiknya justru paling banyak dijalani negara-negara Barat saat ini yaitu perang gerilya dan perang kota, seperti yang dihadapi pasukan NATO di Afghanistan dan belajar dari apa yang dialami pasukan AS dan Inggris di Irak. Pada perang Teluk I, Irak memenangi perang kota walaupun harus menghadapi musuh yang besar yaitu AS dan Inggris berikut koalisinya.

Pengembangan paling nyata dari Revolution adalah pada perangkat proteksinya, yang menggunakan lapisan komposit Advanced Modular Armor Protection (AMAP). Lapisan pelindung ini terdiri
atas materi nanokeramik serta titanium dan baja alloy, yang diklaim memberikan kemampuan perlindungan yang jauh lebih baik. Karena sifatnya yang modular atau bisa dibongkar pasang, pengguna bisa memilih variasi kemampuan proteksi sesuai kebutuhan, seperti untuk menangkal granat berpeluncur roket (RPG) atau untuk peledak improvisasi (IED).

Dengan sifat modularnya itu pula, seandainya lapisan proteksi itu rusak dihajar serangan musuh, perangkat itu bisa dibongkar untuk diganti baru. Dengan tambahan lapisan proteksi itu, ada
konsekuensinya yaitu bobot tank yang bertambah hingga menjadi lebih kurang 60 ton, dibandingkan varian 2A4 yang sekitar 57 ton.

Persenjataan.

Sebagai senjata utama, Revolution menggunakan meriam yang sama dengan 2A4 yaitu meriam L44 smoothbore kaliber 120 mm. Meriam ini bisa menggunakan semua varian peluru standar NATO, dan tank ini mampu membawa amunisi sebanyak 42 butir. 15 peluru sudah dalam kondisi siap tembak tersimpan di kubah meriam (otomatis reload), sementara sisanya tersimpan di
bagian dalam bodi.

Untuk tambahan daya gempur dan pertahanan diri ringan, tank yang diawaki 4 orang ini juga dilengkapi senapan mesin berat kaliber 12,7 mm yang dioperasikan dengan remot kontrol sehingga
awak tank tak perlu muncul keluar untuk mengoperasikannya. Sepucuk senapan mesin kaliber 7,62 juga terpasang sejajar dengan meriam.

Untuk menjawab keraguan bahwa meriam bermodel smoothbore alias bagian dalam larasnya licin itu akurasinya di bawah meriam rifled bore atau laras berulir, Rheinmetall memasang sistem kendali penembakan yang lebih modern, yang mampu menjamin ketepatan menembak pada kesempatan pertama.

Mesin.

Dari segi mesin, Revolution tetap menggunakan tipe mesin yang sama dengan 2A4 yaitu mesin diesel turbocharge MTU MB837 Ka501 yang berkekuatan 1.500 hp (tenaga kuda), yang membuatnya bisa mencapai kecepatan hingga 72 km per jam di medan yang rata.

Tank Leopard-2 buatan Jerman merupakan MBT yang paling banyak digunakan oleh negara-negara di dunia (18 negara). Hal lain yang menjadi dasar perhitungan disamping harganya
murah adalah adanya jaminan dan kemudahan-kemudahan yang tidak mengikat. Dengan demikian penggunaan untuk jangka panjang tidak menjadi hambatan seperti suku cadang, proses ToT (Transfer of Technology) dalam rangka membantu BUMNIP maupun BUMNIS serta pelatihan-pelatihan.

Dengan hadirnya tank Leopard dari Jerman dalam tubuh TNI AD, otomatis kekuatan tempur TNI AD makin berotot. Dengan pembelian ini, maka Indonesia menjadi negara Asia kedua yang mengoperasikan tank yang sekelas dengan M1A1 Abrams buatan AS dan Challenger dari Inggris ini. Negara Asia lain yang mengoperasikannya adalah Singapura.

Spesifikasi MBT Leopard Revolution :
  • Panjang + Kanon : 9,67 meter
  • Lebar : 3,7 meter
  • Tinggi : 3 meter
  • Berat Tempur : 62 ton
  • Tekanan Jejak : 0,98 Kg/Cm
  • Bebas Dasar : 540 mm
  • Meriam Utama : Rheinmetall 120 mm SBG L44
  • Jarak Tembak : 3.000 meter - 4.000 meter
  • Jarak Tembak : 3.000 meter - 4.000 meter
  • Senjata Tambahan : Senapan Mesin kaliber 12,7 mm MG dan Senapan Mesin kaliber 7,62 mm MG
  • Mesin : MTU MB837 Ka501 12 Diesel Turbo Intercooler
  • Tenaga : 1.500 hp
  • PWR : 24,2 hp/ton
  • Kapasitas BBM : 1.160 Liter
  • Kecepatan Maksimum : 70 Km/Jam
  • Rintangan Tegak : 1,1 meter
  • Rintangan Miring : 30%
  • Tanjakan : 60%
  • Lintas Parit : 3 meter
  • Mengarung : 0,8 meter
  • Daya Jelajah : 450 Km
Majalah Palagan

Rabu, 02 April 2014

Natuna Bakal Jadi Pangkalan Terdepan Jet Tempur Sukhoi TNI AU

TNI AU akan menempatkan armada jet tempur Sukhoi di Pangkalan Udara Ranai yang berlokasi di Natuna. Dengan demikian, Natuna akan menjadi pangkalan terdepan bagi pesawat jet tempur Sukhoi TNI AU yang bisa segera dioperasikan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Jet Tempur Sukhoi TNI AU. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Jet Tempur Sukhoi TNI AU.
Segera Dibangun Shelter Jet Tempur di Natuna.

Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Ranai, Letkol (Pnb) Andri Gandy, mengatakan Pangkalan Udara TNI AU Ranai akan segera diliengkapi dengan jet tempur cangih, Sukhoi. Untuk itu di pangkalan ini akan segera dibangun shelter Sukhoi di hanggar barat Lanud Ranai. "Pembangunan Shelter Sukhoi ini sebagai pangkalan pendukung operasi TNI AU di Natuna," sebut Andri Gandy di Ranai, Kamis (27/3/2014).

Shelter ini, kata Gandy, untuk memungkinkan pergelaran pesawat tempur dan dijadikan home base di Lanud Ranai. Sehingga pesawat Sukhoi tetap berada di Lanud Ranai, jika setiap saat diperlukan. Saat ini Lanud Ranai sendiri sudah dilengkapi beberapa fasilitas seperti lampu runway, lampu taxiway, emergency, radio TNI AU primary dan secondary hingga lampu tower. Jika sebelumnya bandara ini belum bisa beroperasi di malam hari, tetapi saat ini sudah bisa dioperasikan dan sudah dilengkapi radar yang terintegrasi. "Setidaknya dalam kurun waktu dekat, bandara Lanud Ranai bisa sekelas Batam. Walau panjang landasan saat ini masih 2,5 kilometer, sementara Batam sudah tiga kilometer," ujarnya.

Sebelumnya Asisten Deputi I Bidang Pertahanan Negera Kemenko Polhukam, Fajru Zaini, mengatakan pembangunan shelter pesawat tempur Sukhoi di Lanud Ranai sudah dianggap sebagai langkah memenuhi standar minimum pertahanan negara. Fajru mengakui, Shelter Sukhoi salah satu penunjang pengembangan kekuatan pokok minimum (minimum sssential force/MEF) pada rencana strategis (Renstra) ke depannya. Sehingga kelak pesawat yang melakukan operasi lebih mudah parkir di pangkalan terdepan, salah satunya seperti di Natuna. "Memang kita harus siapkan sarana untuk alat tempur seperti pesawat tempur Sukhoi. Pembangunan shelter itu dalam menunjang minimum essential force. Dimanapun pangkalan terdepan kita harus sediakan shelter," ungkapnya saat di Ranai, pekan lalu.

Menurutnya, kelengkapan fasilitas di pangkalan udara terdepan akan memungkinkan pesawat melakukan operasi dengan optimal. Namun pihaknya berupaya melengkapi standar di bandara Lanud Ranai untuk operasi pesawat-pesawat seperti Sukhoi. "Perlu persiapan dulu mulai dari suplai listrik, ground pendaratan yang standar sesuai lebar dan panjang landasannya," ujarnya.

batampos.co.id

Selasa, 01 April 2014

TNI AU Bakal Diperkuat Jet Tempur Generasi 4,5

4 produk pesawat jet tempur dari 4 negara yang berbeda kini sedang dipertimbangkan dan akan dipilih oleh TNI AU untuk menggantikan armada jet tempur F-5E/F Tiger II. Pihak TNI AU sendiri cenderung menginginkan jenis pesawat jet tempur generasi 4,5 untuk menggantikan peran F-5E/F Tiger II yang dianggap sudah usang itu. Beberapa produk jet tempur yang sedang dipertimbangkan untuk dipilih adalah Sukhoi Su-35 Flanker E (Rusia), JAS-39 Gripen (Swedia), Dassault F1 Rafale (Prancis), dan Boeing-McDonnel Douglas F/A-18E/F Super Hornet (Amerika Serikat).

Sukhoi Su-35 Flanker E. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Sukhoi Su-35 Flanker E.
TNI AU tunggu pesawat tempur generasi 4,5.

Peremajaan dan modernisasi arsenal perang TNI AU terus dilakukan, di antaranya pesawat tempur pengganti F-5E/F Tiger II yang sekarang tergabung di Skuadron Udara 14, yang berasal dari generasi 4,5 atau 4,5++. Di antara kontestan yang telah masuk ke dalam daftar pasti pengajuan adalah Sukhoi Su-35 Flanker E (Rusia), JAS-39 Gripen (Swedia), Dassault F1 Rafale (Prancis), dan Boeing-McDonnel Douglas F/A-18E/F Super Hornet (Amerika Serikat). Pengadaan arsenal baru TNI AU itu sesuai Perencanaan Strategis Pertahanan Indonesia Tahap III. "Kami masih menunggu evaluasi dari Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI. Jika ditanya, kami menginginkan generasi 4,5," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto, di Yogyakarta, Minggu (30/3/2014).

F-5E/F Tiger II didatangkan langsung dari pabriknya di Amerika Serikat pada awal dasawarsa '80-an, dengan skema pembelian foreign military sales. TNI AU saat itu adalah pengguna perdana Tiger II di ASEAN dengan kekuatan satu skuadron udara penuh (16 unit). Angkatan Udara Kerajaan Thailand menjadi negara kedua, yang malah membeli lebih banyak lagi Tiger II itu, dan mengembangkan kemampuan pesawat tempur kelas interseptor itu. TNI AU sebetulnya bukan tidak mengembangkan kemampuan dan usia pakai F-5EF Tiger II itu, karena sempat ada Program MACAN yang diluncurkan pada akhir dasawarsa '90-an. Selain Thailand, Angkatan Udara Iran secara sempurna bisa mengembangkan Tiger II mereka.

Dassault F1 Rafale merupakan pesawat terbang tempur bermesin ganda dengan rancangan unik di dunia, berkelas multi peran --Prancis menyebut ini sebagai omnirole capability-- termasuk reconnaissance dan surveillance hingga kemampuan meluncurkan bom nuklir. Dikembangkan dalam hanya tiga varian (B,C, dan M), komonalitas dan kompatibilitas serta kemudahan perawatan plus pengoperasian menjadi nilai tambah pesawat tempur bersayap delta dengan sayap kanard di depan bawah kokpit. Sistem avionika dan penginderaan serta persenjataannya memakai teknologi kelas paling canggih di kelasnya, di antaranya integrasi sistem dengan pusat pengendali dan sesama penempur di udara.

Adapun JAS-39 Gripen bersayap delta buatan SAAB Swedia, diketahui memiliki kemampuan tempur multiguna-interseptor berkecepatan di atas 2 Mach, dengan teknologi terkini dan menjadi salah satu arsenal andalan NATO. JAS-39 Gripen merupakan penyempurnaan JAS-35 Vigen dan JAS-37-Drakken, dan bisa menjadi pamungkas dalam superioritas udara dari Swedia yang dikenal dengan produk-produk berkualitas tinggi itu. Angkatan Udara Kerajaan Thailand menjadi pengguna perdana JAS-39 Gripen ini di ASEAN, sementara di dunia telah dipergunakan Angkatan Udara Kerajaan Swedia, Angkatan Udara Afrika Selatan, dan Angkatan Udara Hungaria.

Sementara Boeing F/A-18E/F Super Hornet adalah pesawat tempur bermesin ganda yang didedikasikan untuk bertempur secara multiperan. Dia juga dipergunakan di Angkatan Udara Singapura, yang diimbuhi teknologi lebih canggih ketimbang versi ekspor lain dari pabrikannya.

Sukhoi Su-35 Flanker E buatan Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association adalah pengembangan dari Su-27 Flanker yang ditingkatkan manuverabilitasnya dari kokpit berkursi tunggalnya dan bermesin jauh lebih kuat dari pendahulunya. Pertama kali mengudara pada 1988, Angkatan Udara Rusia memakai Su-35 Flanker E (semula dikenal sebagai Su-27M) tim aerobatik mereka, Vityyasii Ruskiyii (Ksatria Rusia), menggantikan MiG-29. TNI AU sudah sangat akrab dengan sistem Su-27 Flanker ini karena telah memiliki satu skuadron udara berisikan mereka, yaitu Skuadron Udara 11, yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama Hasanuddin, Makasssar.

www.antaranews.com

TNI AD Siapkan 5 Lokasi Untuk Kandang 103 MBT Leopard

103 unit MBT Leopard buatan Jerman yang merupakan pesanan pemerintah Indonesia telah disediakan beberapa lokasi untuk penempatannya oleh pihak TNI AD. 5 lokasi yang akan menjadi kandang bagi tank-tank kelas berat Leopard tersebut adalah Batalyon Kavaleri 1 Kostrad (Cijantung), Batalyon Kavaleri 8 Kostrad (Pasuruan), Pusat Pendidikan Kavaleri (Padalarang), Kompi Kavaleri CAMB (Sentul) dan Kompi Kavaleri Pusat Latihan Pertempuran (Baturaja).

MBT Leopard TNI AD. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
MBT Leopard TNI AD.
TNI AD Klaim MBT Aman.

Mabes TNI AD berupaya meyakinkan publik jika rencana mengimpor Main Battle Tank (MBT) Leopard sudah tepat dan sesuai dengan kebutuhan militer. Hal itu disampaikan pihak TNI AD menyusul kritikan dari mantan Presiden BJ Habibie atas rencana memasukkan puluhan MBT ke Indonesia.

Kadispenad Brigjen Andika Perkasa menjelaskan, pihaknya telah merencanakan penempatan 103 MBT Leopard di lima lokasi. Yakni:

1. Batalyon Kavaleri 1 Kostrad, Cijantung (total 41 unit)
  • 13 unit Leopard 2A4.
  • 28 unit Leopard 2 RI.
2. Batalyon Kavaleri 8 Kostrad, Pasuruan (total 41 unit)
  • 28 unit Leopard 2A4.
  • 13 unit Leopard 2 RI.
3. Pusat Pendidikan Kavaleri, Padalarang (total 4 unit)
  • 3 unit Leopard 2 RI.
  • 1 unit Leopard 2A4.
4. Kompi Kavaleri CAMB, Sentul (total 13 unit)
  • 13 unit Leopard 2 RI.
5. Kompi Kavaleri Pusat Latihan Pertempuran, Baturaja (total 4 unit)
  • 4 unit Leopard 2 RI.
Menurut Andika, kebijakan mendatangkan tank leopard sudah diperhitungkan betul dengan kondisi di Indonesia, termasuk jalannya. Meskipun berat tank Leopard mencapai 62 ton, namun tekanan pada tanah hanya berkisar 0,8 kg/cm2 atau 8,9 ton permeter persegi. Tekanannya relatif sama dengan tank AMX-13 (bobot 14,5 ton) dan Scorpion (bobot 8 ton). "Artinya, tank tersebut sangat memenuhi syarat untuk menggunakan jalan kelas 1 dan 2," ujarnya kemarin.

Sebab, jalan kelas 2 saja masih boleh dilewati kendaraan dengan tekanan maksimal 10 ton. Tekanan yang ditimbulkan tank leopard diperkirakan sama seperti truk kontainer pada umumnya. Untuk jembatan, Andika meyakinkan jika tank tersebut tidak akan membuat jembatan runtuh. Perhitungan TNI AD, beban tank leopard di jembatan mencapai 2,38 kN (kilonewton) permeter persegi atau 238 kilogram permeter persegi. Lebih kecil dari beban maksimal yang mampu ditahan jembatan kelas A, yakni 4,46 kN/m2.

Andika mengatakan, tank leopard tidak hanya digunakan oleh negara gurun. Dari 20 negara pengguna leopard di dunia, hanya tiga negara yang memiliki gurun. Yakni, Australia, Cile, dan Lebanon. "Tank leopard mampu bermanuver off road di permukaan berlumpur maupun sungai dengan kedalaman di bawah empat meter," tambahnya.

Sebelumnya, mantan Presiden BJ Habibie mengkritik rencana Menhan mengimpor leopard dalam jumlah besar. Habibie menilai Indonesia adalah negara maritime sehingga tidak memerlukan leopard. Habibie juga khawatir dengan dampak yang ditimbulkan jika tank tersebut melewati jalan dan jembatan.

www.jpnn.com, nasional.kompas.com

Minggu, 30 Maret 2014

Rusia Luncurkan Kapal Selam Siluman Keempat Pesanan Vietnam

Kapal selam jenis Varshavyanka Class (Proyek 636) yang merupakan pesanan Angkatan Laut Vietnam telah diluncurkan dari galangan kapal pembuatnya di kota St Petersburg, Rusia. Kapal selam yang juga dikenal dengan nama Improved Kilo dan berkemampuan siluman ini merupakan kapal keempat dari 6 kapal selam sejenis yang dipesan oleh pemerintah Vietnam.

Varshavyanka Class. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Kapal selam buatan Rusia dari Kelas Varshavyanka yang dipesan oleh Angkatan Laut Vietnam telah diluncurkan dari galangan kapal di kota St Petersburg pada Jumat (28/3/2014) lalu. Kapal selam yang terkenal dengan sebutan Black Hole karena kemampuan stealth-nya ini merupakan kapal selam keempat dari 6 kapal sejenis yang dipesan oleh pemerintah Vietnam.

Pada Desember 2009 lalu, Vietnam dan Rusia telah menandatangani kontrak senilai US$. 2 miliar untuk pengadaan 6 unit kapal selam dengan mesin diesel sebagai tenaga penggeraknya. Oleh pihak Angkatan Laut AS, kapal selam jenis ini mendapat julukan nama "Black Hole" karena dapat beroperasi secara senyap, hampir tanpa menimbulkan suara sehingga sulit dideteksi kehadirannya.

Para pengamat militer berpendapat bahwa pembelian kapal selam oleh Vietnam ini bertujuan untuk mengimbangi pengaruh kekuatan Angkatan Laut China di kawasan Laut China Selatan.

Dua unit kapal selam dari Kelas Varshavyanka telah selesai dibangun dan dikirim ke Vietnam, sementara kapal selam ketiga sedang menjalani uji laut. Keseluruhan dari 6 kapal selam pesanan Vietnam tersebut dibangun di galangan kapal di kota St Petersburg.

Varshavyanka Class (Proyek 636) merupakan peningkatan dari kapal selam Kilo Class dan dikenal juga dengan nama Improved Kilo. Kapal selam ini telah mengusung teknologi siluman, jelajah tempur yang ditingkatkan, memiliki kemampuan menggempur target di permukaan dan target bawah air.

Kapal selam ini dapat dipersenjatai torpedo, ranjau laut, dan rudal jelajah 3M-54 (SS-N-27). Kapal ini dirancang untuk beroperasi di kawasan perairan dangkal (zona litoral). Varshavyanka Class memiliki bobot benaman hingga 3.100 ton, kecepatan maksimum 20 knot, kedalaman selam hingga 300 meter dan diawaki oleh 52 personil.

en.ria.ru

Sabtu, 29 Maret 2014

2 Flight Jet Tempur Hawk 109/209 TNI AU Sukses Bombardir Basis Militer Musuh

2 flight jet tempur Hawk 109/209 yang diterbangkan oleh para penerbang tempur TNI AU berhasil memborbardir sasaran dengan sangat akurat pada puncak pelaksanaan latihan Jalak Sakti 2014 yang digelar di Air Weapons Range Pangkalan TNI AU Astra Ksetra Menggala, Tulangbawang, Lampung. Latihan Jalak Sakti 2014 dilaksanakan mulai 25 Maret 2014 dan mencapai puncaknya pada 27 Maret 2014.

Jet Tempur Hawk 209 TNI AU. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Menyaksikan Top Gun TNI AU beraksi di Jalak Sakti 2014.

Sebuah negara agresor berhasil merebut sebagian wilayah Indonesia, lalu menduduki dan menjadikan wilayah itu sebagai pangkalan tempat berpijak militer mereka untuk menguasai seluruh wilayah Indonesia. Tentu saja TNI tidak berpangku tangan, panglima TNI memerintahkan TNI AU bergerak. Berdasarkan data intelijen, diketahui posisi-posisi vital kedudukan musuh yang bernilai strategis. Inilah kemudian yang dikembangkan panglima Komando Operasi Udara I TNI AU untuk melaksanakan misi penghancuran sasaran di darat itu. Diterbangkanlah dua flight pesawat tempur Hawk 109/209 gabungan dari Skuadron Udara 1 dari Pangkalan Udara TNI AU Supadio, Pontianak, dan Skuadron Udara 12 dari Pangkalan Udara TNI AU Rusmin Nuryadin, Pekanbaru.

Flight berkode Elang Flight (Skuadron Udara 1) dan Panther Flight (Skuadron Udara 12) ini berhasil menghancurkan posisi strategis musuh itu, menjatuhkan bom-bom udara-darat multiguna Mk-82 berbobot 500 pound (250 kilogram) dalam empat kali pengeboman. Sasaran hancur total, pilot pengawak Hawk 109 dan 209 kembali ke pangkalan dalam keadaan selamat. Misi berhasil.

Demikianlah sebagian skenario awal Latihan Puncak Jalak Sakti 2014 kali ini yang berlokasi di tanah Pangkalan Udara TNI AU Astra Ksetra, Lampung. Latihan pengeboman sasaran darat memakai bom betulan pada Kamis (27/3/2014) tersebut menjadi tontonan penting tersendiri bagi masyarakat setempat, yang telah diberitahu sejak dua pekan sebelumnya. "Pilot-pilot tempur yang terlibat semuanya top gun kami di kelas pesawat terbang itu. Bayangkan, cara membidik dan menjatuhkan bom-bom itu masih manual, betul-betul berdasarkan perhitungan awak penerbangnya, mulai dari kecepatan, ketinggian, sudut serang, dan lain sebagainya," kata Komandan Pangkalan TNI AU Supadio, Kolonel Penerbang Samyoga Nofyan.

Dia juga pernah menjadi penerbang Hawk 209 dan menjadi komandan skuadron pesawat tempur buatan British Aerospace, Inggris itu. Ada empat sasaran buatan yang didirikan untuk dihancurkan, masing-masing berukuran 10 x 10 meter dengan warna menyolok. "Kelihatannya besar, tapi dari ketinggian 2.000 kaki terhadap sasaran sangat kecil. Semula ukurannya 15 x 15 meter. Ini menguji kemampuan pilot-pilot tempur kita," kata dia.

Dari Skuadron Udara 1, ada empat Hawk 109/209 yang diterbangkan, yaitu TT-0229 (Kapten Penerbang Amry Thresher Taufani), TL-0112 (Letnan Kolonel Penerbang Radar Skyfin Suharsono/komandan skuadron dan Letnan Satu Penerbang Higha Hydra Afrianda), TT-0226 (Letnan Satu Penerbang Ari Monster Widodo), dan TT-0221 (Mayor Penerbang I Gusti Greyhound Adibrata). Skuadron Udara 12 menerbangkan TL-0103 (Letnan Kolonel Penerbang Reka Icepack Budiarsa dan Kapten Penerbang Putut Rafale Hanggiro), dan TT-0211 (Letnan Satu Penerbang Arie Ninja Prasetyo). Satu Hawk 100/200 disiagakan di pangkalan aju sebagai cadangan.

Panglima Komando Operasi Udara I TNI AU, Marsekal Muda TNI Muhammad Wildgeese Syaugi, yang memimpin seluruh latihan puncak di lingkungannya, puas atas capaian anak buahnya itu. "Tapi jangan berpuas diri, harus semakin sempurna dari hari ke hari. Ini jadi tantangan tanpa akhir melalui latihan, latihan, dan latihan," kata dia, yang saat masih perwira pertama dan menengah adalah penerbang tempur rating F-5 E/F Tiger II dan F-16 Fighting Falcon.

Empat kali bom itu jatuh, semuanya tepat di sasaran. Bahkan satu titik dibombardir tiga kali pemboman, dengan selisih sekitar satu meter saja. "Untuk ukuran pengeboman udara, sudah sangat presisi. Efek mematikan dari ledakan itu saja sudah sangat mematikan musuh dan posisi yang dituju," kata Samyoga.

Dengan cara manual seperti itu saja sasaran-sasaran bisa dihancurkan; bagaimana lagi jika Indonesia dan TNI AU bisa memiliki dan mengoperasikan pesawat tempur generasi mendatang, semisal F-22 Raptor ?

www.antaranews.com

Jumat, 21 Maret 2014

Black Widow Spider 8x8, Panser Lapis Baja Angkut Personil Buatan Thailand

APC Black Widow Spider 8x8 adalah kendaraan militer lapis baja pengangkut personil yang sedang dikembangkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertahanan Thailand (DTI : Defence Technology Institute). Dalam proses pengambangan APC Black Widow Spider 8x8 selanjutnya, pemerintah Thailand bekerjasama dengan Ricardo, sebuah perusahaan konsultan bidang otomotif, transportasi dan energi yang berkedudukan di Inggris.

APC Black Widow Spider 8x8. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
APC Black Widow Spider 8x8.

Jika Indonesia bangga bisa merancang dan memproduksi Kendaraan Lapis Baja Angkut Personil (APC: Armored Personnel Carrier) Anoa, maka Kerajaan Thailand pun tak mau kalah, mereka punya Black Widow Spider 8x8. APC ini dikembangkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertahanan Thailand (DTI : Defence Technology Institute) dan ditampilkan pertama kali di depan publik pada pelaksanaan pameran Defense & Security 2013 di Bangkok. Untuk pengembangan APC Black Widow Spider ini lebih lanjut, DTI telah menyepakati kerjasama dengan sebuah perusahaan asal Inggris, Ricardo.

Proyek pengembangan APC Black Widow Spider 8x8 ini merupakan program kendaraan kendaraan militer besar pertama di Thailand dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Darat Kerajaan Thailand, tapi tidak menutup kemungkinan juga untuk diekspor.

Sekilas tampilan Black Widow Spider mirip dengan produk kendaraan militer roda 8x8 dari negara-negara yang sudah terlebih dahulu maju dengan industri pertahanannya. Hal ini kemungkinan besar berhubungan dengan akuisisi Thailand terhadap 250 unit APC BTR-3E1 8x8 lapis baja yang dipesan dari Ukraina selain tambahan beberapa jenis kendaraan militer lainnya. Boleh jadi pengalaman mengoperasikan kendaraan militer lapis baja buatan Ukraina ini lah yang mempengaruhi pengembangan Black Widow Spider 8x8.

APC Black Widow Spider 8x8 memiliki lapisan baja pada body untuk memberikan perlindungan bagi personil di dalamnya terhadap tembakan senjata ringan dan serpihan ledakan proyektil artileri. Lapisan pelindung tambahan juga bisa dipasangkan untuk memberikan tingkat perlindungan yang lebih tinggi. Bagian bawah lambung kendaraan berbentuk huruf "V" untuk meminimalisir dampak ledakan ranjau darat atau bahan peledak lain yang sejenis. Pihak DTI mengungkapkan bahwa Black Widow Spider mampu menahan ledakan yang setara dengan 10 Kg TNT.

APC Black Widow Spider 8x8 (Gambar 2). Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Kemungkinan versi awal dari Black Widow Spider 8x8 ini akan dipersenjatai senapan mesin kaliber 12,7 mm yang dikendalikan remote control. Sebuah prototipe APC Black Widow Spider 8x8 yang dipamerkan pada Defense & Security 2013 di Bangkok memperlihatkan bahwa kendaraan ini memiliki turet (kubah) dengan meriam kaliber 20 mm atau 25 mm dengan kendali remote control.

Versi prototipe APC Black Widow Spider 8x8 memiliki kapasitas angkut 12 personil militer bersenjata lengkap ditambah seorang pengemudi. Untuk versi operasional yang telah dilengkapi sistem persenjataan, APC ini kemungkinan akan memiliki awak 2 atau 3 orang dan bisa mengangkut 10 orang penumpang. Personil memasuki dan keluar dari kendaraan melalui pintu belakang. Selain itu tersedia juga akses pintu darurat yang terpasang di bagian atap kendaraan.

Mesin kendaraan terletak di bagian depan. Tampaknya pihak pengembang mencoba sebisa mungkin untuk menggunakan banyak komponen otomotif yang tersedia secara komersial di pasaran. Ini tentu saja untuk kemudahan perawatan dan menekan biaya operasional. Kendaraan militer ini dilengkapi dengan sistem inflasi ban sentral.

APC Black Widow Spider 8x8 memiliki kemampuan sebagai kendaraan amfibi. Untuk melaju diatas permukaan air, APC ini digerakkan oleh 2 unit mesin Waterjets, Untuk pengembangan selanjutnya, direncakan akan dibuat juga beberapa varian termasuk kendaraan komando, ambulan lapis baja, kendaraan pemulihan dan pembawa mortir kaliber 120 mm.

Spesifikasi Umum APC Black Widow Spider 8x8 :
  • Crew : 2 - 3 Orang
  • Personil : 10 Orang
  • Bobot : 24 ton
  • Panjang : 8 meter
  • Lebar : 2,7 meter
  • Tinggi : 2,2 meter
  • Persenjataan : (data belum tersedia)
  • Mesin : Diesel
  • Kecepatan Maksimum Di Daratan : 100 km/jam
  • Kecepatan Maksimum Di Permukaan Air (Amfibi) : 10 km/jam
  • Jarak Jelajah : 600 km
www.military-today.com

Rabu, 19 Maret 2014

Peringkat 5 Negara Eksportir Senjata Terbesar Dunia

Amerika Serikat dan Rusia tercatat sebagai dua negara yang paling banyak mengekspor senjata dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Peringkat pertama sebagai negara penyedia kebutuhan senjata dunia diduduki Amerika Serikat dengan angka 29 persen, peringkat kedua diduduki Rusia dengan angka 27 persen.

Rudal S-300 buatan Rusia. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
5 Negara Top Eksportir Senjata Dunia.

Amerika Serikat dan Rusia menjadi dua negara yang menyediakan lebih dari separuh total ekspor peralatan militer di seluruh dunia dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini. Informasi ini berdasarkan data industri pertahanan yang disusun oleh SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute) yang diterbitkan pada Senin (17/3/2014) lalu.

Amerika Serikat menduduki peringkat pertama sebagai negara pengekspor produk persenjataan dengan menyediakan 29 persen kebutuhan senjata dunia dalam periode lima tahun hingga 2013 lalu, sementara Rusia berada di peringkat kedua dengan angka 27 persen. Jerman berada di posisi ketiga dengan angka 7 persen, diikuti oleh China (6 persen) pada peringkat keempat yang mengalahkan Prancis (5 persen) yang duduk pada peringkat lima.

Laporan dari SIPRI tersebut mencatat bahwa volume perdagangan senjata Rusia cenderung meningkat meskipun negara ini dalam kesulitan ekonomi. Secara khusus, peningkatan angka tersebut banyak dipengaruhi oleh angka impor senjata India yang naik lebih dari dua kali lipat dalam dekade terakhir. Rusia memasok 75 persen dari semua kebutuhan militer India dalam lima tahun terakhir. "Rusia telah mempertahankan tingkat ekspor senjata meskipun mengalami krisis industri persenjataan setelah periode Perang Dingin," kata Siemon Wezeman, seorang peneliti SIPRI.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa pesawat terbang militer merupakan bagian terbesar dari penjualan produk persenjataan AS. Sementara Rusia berfokus pada produk kapal perang dengan pembeli utamanya adalag India, China dan Aljazair.

Data yang diterbitkan pada hari Senin (17/3/2014) tersebut merupakan bagian dari buku tahunan SIPRI 2014 dengan data yang disusun dari sumber-sumber informasi publik mengenai transfer senjata internasional.

SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute) didirikan pada tahun 1966 sebagai lembaga independen untuk penelitian tentang konflik, persenjataan, pengawasan dan perlucutan senjata.

en.ria.ru

Selasa, 18 Maret 2014

PT Dahana Kembangkan Bom Fuse Untuk Jet Tempur Sukhoi TNI AU

Kebutuhan 1.500 unit bom fuse untuk armada jet tempur Sukhoi TNI AU akan disediakan oleh PT Dahana. Selain bom fuse, BUMN yang bergerak dalam bidang produksi bahan peledak ini juga sedang mengembangkan jenis rudal penangkis serang udara yang rencananya akan digunakan oleh Sistem Pertahanan Udara Nasional. Unruk proyek tersebut, PT Dahana bekerjasama dengan pihak TNI dan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional).

Jet Tempur Sukhoi TNI AU. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
BUMN Ini jadi Penyuplai Amunisi Pesawat Tempur Sukhoi milik TNI.

BUMN pembuat amunisi, PT Dahana (Persero), sedang mengembangkan bahan peledak bagi pesawat sukhoi TNI AU. Perseroan menargetkan bisa memproduksi 1.500 bom fuse untuk pesawat Sukhoi milik TNI Angkatan Udara. "Iya kami sedang mengembangkan bom untuk Sukhoi. Jumlahnya sekitar 1500," ujar Juli Jajuli, Humas PT Dahana di Gedung BUMN Jakarta, (14/3/2014).

Menuru Juli, PT Dahana sudah mengisi bom-bom tersebut dengan bahan peledak, dan bisa menambah persenjataan Sukhoi. Setiap pesawat Sukhoi bisa membawa sampai 40 bom fuse. Selain bom untuk Sukhoi, PT Dahana juga mengembangkan Rudal Penangkis Serangan Udara (PSU) yang akan digunakan dalam Sistem Pertahanan Udara Nasional (Sishanudnas). Pengembangan tersebut bekerjasama dengan TNI dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Rencananya, PT dahana akan membuat 1.000 composite bahan peledak rudal. "Target kita 1.000 composite untuk PSU, jarak jangkaunnya mencapai 24 sampai 45 kilometer," katanya.

Namun hingga kini anggaran mengenai Bom Fuse Sukhoi belum ada. PT Dahana hanya mengikuti instruksi mengenai pengembangan bahan peledak bagi TNI.

PT Dahana merupakan perusahan BUMN yang bergerak dibidang industri bahan peledak. Sejak berdirinya tahun 1975, Dahana merupakan pemegang hak industri peledak. Perseroan sempat kolaps pada tahun 1997-1998 karena krisis ekonomi. Setelah reformasi, keran industri bahan peledak kembali dibuka. Dahana melakukan perbaikan sejak 2002 dan mulai memperlihatkan hasil sejak 2006.

Perkembangan Dahana terus berkembang, tahun 2008 dahana memulai ekspor hasil produksinya keberbagai negara yaitu Australia, Malaysia, Filipina, Myanmar dan negara-negara di Timur Tengah.

bisniskeuangan.kompas.com

Senin, 17 Maret 2014

TNI AL Percayakan Pembuatan Kapal Selam Baru Kepada Industri Pertahanan Dalam Negeri

Indonesia membatalkan pembelian 2 unit kapal selam Kilo Class yang ditawarkan oleh pemerintah Rusia. 2 unit kapal selam Kilo Class bekas pakai Angkatan Laut Rusia tersebut ternyata kondisinya sudah jauh dari memadai. Untuk pengadaan 12 unit kapal selam baru yang akan dioperasikan, pihak TNI AL lebih mempercayakannya kepada industri pertahanan di Indonesia.

Kapal Selam Kilo Class. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
TNI AL Tolak Beli Dua Kapal Selam Rusia.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut lebih mempercayakan pembuatan kapal selam kepada industri dalam negeri. "Jika dibandingkan memesan dari luar negeri, akan lebih cepat, efektif, dan efisien dari berbagai aspek apabila dibuat di dalam negeri," kata Kepala Staf AL Laksamana TNI Marsetio kepada wartawan di Komando Armada RI Kawasan Timur, Ujung, Surabaya, Rabu, 12 Maret 2014.

Hal itu diputuskan TNI AL setelah melakukan fact finding ke pangkalan angkatan laut di Rusia bagian utara. Dua kapal selam jenis Kilo Class yang ditawarkan Rusia ternyata dalam kondisi tidak berfungsi. "Ternyata kapal itu sudah tidak digunakan sejak dua tahun lalu. Dari luar bagus, tapi mesin di dalam tidak fungsi," kata Marsetio.

Apabila diperbaiki dipastikan akan memerlukan biaya yang sangat besar. Dengan demikian hal itu menjadi pertimbangan TNI AL untuk tidak membelinya. Kapal selam baru juga sempat ditawarkan, tapi ditolak TNI AL lantaran TNI AL mempertimbangkan rencana pemerintah yang ingin meningkatkan industri pertahanan dalam negeri.

Saat ini Indonesia membuat dua unit kapal selam di Korea Selatan dan satu unit kapal selam dibuat PT PAL. Marsetio mengatakan, apabila anggaran tersedia dan mencukupi, kebutuhan 12 kapal selam TNI AL akan diutamakan diproduksi di dalam negeri. Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang diketuai Presiden juga akan melihat mana dari 12 kapal selam itu yang dianggap lebih menguntungkan untuk dibuat.

Dalam master plan pembangunan industri pertahanan tahun 2010-2029, pemerintah Indonesia ingin mewujudkan kemandirian pertahanan. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan ada dua target utama, yaitu alat utama sistem persenjataan dan industri pertahanan. "Target alutsista yang akan dicapai adalah alutsista yang memiliki mobilitas tinggi dan daya pukul," kata Purnomo.

Sedangkan target industri pertahanan yang ingin dicapai adalah terwujudnya kemampuan memenuhi permintaan pasar dalam negeri, kemampuan bersaing di pasar internasional, serta kemampuan mendukung pertumbuhan ekonomi.

www.tempo.co

TNI AL Berencana Aktifkan Skuadron Helikopter Pemburu Kapal Selam

Skuadron helikopter anti kapal selam (AKS) sudah sejak era 1990an tidak lagi dimiliki oleh TNI AL. Keberadaan skuadron helikopter pemburu kapal selam selam ini sangat penting mengingat fungsi utamanya sebagai mata dan telinga sebuah kapal perang. Pihak TNI AL berhasrat bisa memiliki dan mengoperasikan armada heliikopter jenis ini mengingat tugas penjagaan dan pengamanan kawasan laut Indonesia yang memiliki luas 5.8 juta kilometer persegi bukanlah tugas yang mudah untuk dilaksanakan. Tugas pengamanan perairan negara ini sangat membutuhkan sarana yang memadai.

AW159 Wildcat. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Heli AKS, Alutsista Strategis yang Terganjal Anggaran.

Dalam gelaran dan demo alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL yang disaksikan Presiden SBY Rabu 12 Maret 2014, para personel TNI AL menggelar aksi peperangan anti kapal selam oleh Kapal Republik Indonesia (KRI), yang juga disebut-sebut menggunakan bantuan helikopter anti-kapal selam (AKS). Saat simulasi peperangan itu, Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) menggunakan Helikopter Panther buatan Eurocopter. TNI AL sendiri sudah tak memiliki Helikopter AKS sejak era 90-an hingga kini. "Kita sudah tidak punya (Helikopter AKS). Terakhir kita punya jenis Wasp, kalau nggak salah terakhir sekitar tahun 90-an," tulis PS KSBS Puspenerbal, Lettu Heri Wahyudi, Jakarta, Kamis (13/3/2014).

Pada era 60-an, TNI Angkatan Laut (AL) berjaya memiliki senjata pemburu kapal selam seperti MI-4 buatan Mil OKB, Uni Soviet (sekarang Russia) dan Westland Wasp HAS MK.1 buatan Inggris. Saat itu 2 helikopter ini ditempatkan di Skuadron 100 Anti-Kapal Selam.

Dihubungi secara terpisah, Kadispen TNI AL Laksmana Pertama Untung Suropati mengatakan, Helikopter AKS ini sangat penting karena fungsinya sebagai mata dan telinga kapal perang dalam menjaga maritim negara. TNI AL pun berencana mengaktifkan kembali Skuadron 100. "Karena apapun kita ini negara maritim yang begitu luas. Laut kita bayangin aja 5.8 juta kilometer, ini bukan pekerjaan mudah untuk angkatan laut, untuk mengawal sekaligus melindungi lautnya. Padahal filosofi kita khususnya pesawat udara dalam hal ini helikopter AKS sebagai kepanjangan mata dan telinga dari KRI. Dengan kehadiran Skuadron 100 sangat vital sekali bahkan mutlak," ungkap Untung.

Dalam rencana Pembangunan Minimum Essential Force (MEF), Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menargetkan 11 Helikopter AKS. Berbagai tipe helikopter telah dilirik Kemenhan ini seperti AW 159 buatan Lynx Wildcat Inggris dan AS-565 Panther Eurocopter. Kepala Staff Angkatan Laut, Laksamana Marsetio menargetkan Oktober 2014 sudah bisa dipamerkan. "Kami harapkan helikopter anti kapal selam tersebut sudah bisa menjadi kebanggan pada saat peringatan hari jadi TNI tahun 2014," kata Marsetio di Sidoarjo 22 Februari 2013.

Sayangnya, saat ini pengadaannya terkendala masalah anggaran. Mahalnya peralatan dan persenjataan helikopter AKS masih menjadi pembicaraan penting para pengambil keputusan. "Problemnya sekarang karena terbentur anggaran sehingga kita harus menganut pada skala prioritas. Kemarin pembahasan kontrak sudah cukup bulat, hanya untuk spesifikasi teknologi AKS ini kan sangat mahal dengan equipment dan persenjataannya. Itu konsekuensi costnya mungkin lebih dari 2 kali lipat. Kebutuhan end user agar misi ini bisa terlaksana dengan sempurna dengan anggaran yang tersedia atau kemampuan anggaran yang ada. Intiya kalau nanti tercapai atau sepakat maka kontrak pengadaan) itu saya kira tidak lama lagi," jelas Untung.

Di era modern, helikopter AKS sangat penting sebagai arsenal pendukung membantu kapal perang jika sewaktu-waktu terjadi perang. Kehadiran Helikopter AKS bisa membuat efek detterent bagi kapal-kapal selam asing yang ingin menerobos kedaulatan. Negara-negara tetangga Indonesia pun telah melengkapi helikopter AKS di kapal perangnya seperti Singapura menggunakan Sikorsky S-70B Seahawk, Australia Sikorsky MH-60R dan Malaysia dengan Super Lynx.

news.liputan6.com

Minggu, 16 Maret 2014

KRI Krait (827), Kapal Perang Patroli Kelas PC-40 TNI AL

KRI Krait (827) merupakan kapal perang baru jenis patroli yang memiliki panjang badan 40 meter milik TNI AL. KRI Krait (827) masuk dalam jenis kapal patroli cepat berukuran 40 meter sehingga dimasukkan juga dalam kapal perang patroli kelas PC-40. Kapal ini didedikasikan untuk menghadapi musuh di perairan dangkal. Pembuatan kapal ini berhasil diwujudkan berkat kerjasama Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan TNI AL di Mentigi dan kapal swasta nasional PT BES di Batam, Kepulauan Riau.

KRI Krait (827). PROKIMAL ONLINE Kotabumi Lampung Utara
KRI Krait (827).
KRI Krait (827) adalah jenis kapal perang patroli kelas PC-40 yang merupakan hasil desain dari Fasharkan TNI AL Mentigi dan dibangun bekerja sama dengan PT BES Batam. Kapal perang ini memiliki panjang badan 40 meter dan dirancang untuk sanggup melaju hingga kecepatan 20 knot didorong oleh 2 unit mesin diesel berkekuatan 1250 HP. Badan kapal terbuat dari aluminium alloy.

Desain Kapal / Prototype KRI Krait (827) mulai dibuat pada tahun 2006, Peletakan lunas dilakukan pada bulan Juni 2007 yang dilakukan secara simbolis oleh Wa Aslog Kasal dan Wa Asrena Kasal saat itu yaitu Laksamana Pertama Ateng Alibasyah, MM. dan Laksamana Pertama Marsetio, MM. dan Kepala Fasharkan TNI AL Mentigi saat itu, Kolonel Laut (T) Ir. Soegeng Poerwadi P.S. serta pejabat TNI AL terkait. Kapal diluncurkan pada pertengahan tahun 2008 dan diresmikan oleh Panglima TNI pada Desember 2008 di Dermaga Fasharkan TNI AL Mentigi.

Selama pembangunan kapal perang KRI Krait (827) ini diawasi dam disupervisi penuh oleh Satgas dari Fasharkan TNI AL Mentigi serta dibawah pengawasan biro klasifikasi kapal internasional yaitu BV (Bureau Veritas) Prancis, sehingga kualitas kapal bisa terjamin.

Disamping tugas patroli keamanan laut, KRI Krait (827) juga bisa digunakan sebagai kapal SAR dan kapal untuk bantuan bencana alam sehingga kapal ini dilengkapi dengan Hydraulic Crane yang dapat digunakan pada saat SAR maupun bongkar muat bahan bantuan untuk daerah bencana (dimana saat bencana, suatu pangkalan belum tentu ada fasilitas angkat yg memadai). Disamping itu, kapal ini didesain Auto pilot untuk memudahkan pengendalian selama kapal melintasi alur pelayaran yang sempit dan untuk jarak tempuh yang jauh sehingga moral pengawak tetap terjaga dengan kemudahan pengoperasian kapal.

Kapal perang kelas ini dijagokan menjadi basis pengembangan kapal-kapal perang buatan Indonesia yang lebih besar.

Spesifikasi Kapal Perang KRI Krait (827) :
  • Panjang : 40 m (131.23 kaki)
  • Lebar : 7,2 m (23.62 kaki)
  • Draught : 2 m (6.56 kaki)
  • Tenaga Penggerak : 2 x 1250 Hp
  • Kecepatan : 20 knot (maksimum), 16 knot (ekonomis)
  • Jarak Tempuh : 3.600 nm
  • Sonar & Radar : Radar ARPA 96Nm, Weather Fax, Inmarsat, radio UHF 2 x 500w + 2 x 150W, Telex, Auto pilot, etc Category GMDSS A3
  • Persenjataan Elektronik : Canalis Busbar Thrunking IP 54 (index protection 54), sistem kekedapan saluran arus listrik satu tingkat dibawah kekedapan saluran arus listrik kapal selam modern
  • Persenjataan : 2 x cal 12.7 mm, Cal 25 twin barrel dg sistem control, 2 x C802 (space dan sistem pengaman peluncuran sudah disiapkan), Self loading / unloading C802.
wikipedia.org

Sabtu, 15 Maret 2014

24 Unit Panser Anoa Buatan PT Pindad Ditugaskan Di Sudan

24 unit Panser Anoa 6x6 buatan PT Pindad dikirim Darfur-Sudan untuk dilibatkan dalam misi pasukan penjaga perdamaian di kawasan tersebut. 24 unit Panser Anoa 6x6 tersebut akan digunakan oleh Satuan Tugas (Satgas) Batalyon Komposit TNI Kontingen Garuda XXXV-/United Nations Mission In Darfur (UNAMID) yang bertugas menjaga perdamaian di Sudan atas permintaan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Panser Anoa UNAMID. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
TNI kirim 24 panser anoa ke Sudan.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengatakan sebanyak 24 unit Panser Anoa 6X6 yang baru diserahkan dari PT Pindad akan dikirim ke Darfur-Sudan untuk digunakan oleh Satuan Tugas (Satgas) Batalyon Komposit TNI Kontingen Garuda XXXV-/United Nations Mission In Darfur (UNAMID). "Mereka akan bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB selama setahun di wilayah Darfur-Sudan," kata Panglima TNI usai acara serah terima 24 panser dari Plt Direktur Utama PT Pindad (Persero), Tri Hardjono kepada Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko di markas Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (14/3/2014).

Partisipasi prajurit TNI yang tergabung dalam satgas Batalyon Komposit TNI TNI Kontingen Garuda XXXV-/UNAMID berkekuatann 800 personil TNI, selain dilengkapi 24 panser Anoa 6X6, juga 30 truk dan 34 jeep. Partisipasi TNI itu atas permintaan PBB dalam upaya pemeliharaan perdamaian di wilayah Darfur. Rencana penempatan satgas ini, yakni di El Geneina, dan Masteri yang berbatasan dengan negara Chad.

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengatakan, dengan perkembangan kawasan global dan regional saat ini mengharuskan TNI menambah alutsista yang ada dalam rangka menjaga pertahanan dan kedaulatan NKRI. "Dengan perkembangan kawasan saat ini, mau tak mau negara harus memberikan respon yang cepat, terlebih TNI harus membuat strategi pertahanan," kata Panglima TNI.

Moeldoko juga mengucapkan terima kasih kepada PT Pindad yang memelihara kepercayaan TNI hingga saat ini. "Kepercayaan TNI harus dijaga dan tak berpuas diri, sehingga menyebabkan standarisasinya menurun. Ke depan, PT Pindad harus meningkatkan standarisasinya karena saat ini TNI lebih mendukung untuk pengadaan alutsista dalam negeri," tuturnya.

Panglima TNI menambahkan, pengunaan panser Anoa dalam misi perdamaian PBB, selain aman dan nyaman juga memberikan rasa kebanggaan kepada prajurit TNI bahwa alutsista dalam negeri bisa digunakan dalam misi perdamaian PBB di Darfur-Sudan. "Ini akan memberikan kebanggaan bahwa alutsista dalam negeri digunakan dalam misi perdamaian PBB," kata Moeldoko.

TNI hingga kini telah membeli 226 unit Anoa dari PT Pindad, dengan rincian TNI memesan 154 unit (2008), pada 2011 sebanyak 11 unit, tahun 2012 61 unit, 2013 PT Pindad mendapat pesanan 82 unit. Panser yang diserahterimakan merupakan panser dengan berbagai varian, terutama varian Armoured Personnel Carrier (APC) dan ambulans. Plt Direktur Utama PT Pindad (Persero), Tri Hardjono, mengaku merasa bangga karena kedua kalinya setelah Unifil di Lebanon, panser Anoa 6X6 digunakan dalam misi perdamaian internasional. "Kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan TNI untuk gunakan produk PT Pindad, tidak hanya di Indonesia tetapi hingga ke kancah internasional," kata Tri.

PT Pindad terus menggembangkan kemampuan yang dimilikinya terutama untuk meningkatkan dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan TNI yang semakin besar. "Besar harapan kami, produk Pindad baik yang dihasilkan saat ini bisa digunakan terus oleh TNI dan menjadi kebanggaan Indonesia," kata Tri Hardjono.

Ia menambahkan, produk pertahanan PT Pindad saat ini, antara lain, kendaraan taktis dan kendaraan tempur roda ban 4X4 Komodo dan 6X6 Anoa, senjata gengam pistol, senapan serbu, senapan mesin, pesawat mortir, dan sniper serta peralatan senjata pendukung operasi, seperti Silencer.

www.antaranews.com

LAPAN Lakukan Uji Peluncuran Roket Pertahanan

Roket pertahanan yang merupakan hasil kontribusi berbagai lembaga dalam negeri dan pesawat Electric Ducted Fan (EDF) serta Turbo Jet telah diuji coba terbang oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) pada tanggal 5 dan 6 Maret 2014 lalu. Uji coba terbang dan peluncuran roket pertahanan, pesawat EDF dan Turbo Jet tersebut dilaksanakan di dua lokasi yang berbeda, yaitu Landasan Udara TNI AU, Cikelet, dan Landasan Pesawat Pameungpeuk yang keduanya berada di Garut.

Rhan 122. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
LAPAN uji roket Rhan dan pesawat EDF.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melaksanakan uji terbang roket hasil sinergitas Tim Konsorsium Roket Pertahanan dan pesawat Electric Ducted Fan (EDF) serta Turbo Jet di Garut, Jawa Barat. Kepala Bagian Hubungan Masyarakat LAPAN Jasyanto dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa uji terbang roket dilakukan pada Kamis (6/3/2014), di Landasan Udara TNI AU, Cikelet, Garut sedangkan uji terbang pesawat EDF dan Turbo Jet dilaksanakan di Landasan Pesawat Pameungpeuk, Garut, Rabu (5/3/2014).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa roket yang telah diuji coba tersebut merupakan kontribusi berbagai instansi mulai dari Lapan, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Pertahanan, Kementerian Perindustrian, Kepolisian Republik Indonesia, BPPT, LIPI, Batan, TNI AD, TNI AL, TNI AU, UI, UGM, ITB, ITS, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, PT Krakatau Steel, PT Dahana, dan PT PAL. Maksud pelaksanaan uji roket tersebut, Jasyanto mengatakan bertujuan untuk meningkatkan penelitian, pengembangan, dan perekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam uji terbang ini, diluncurkan tiga jenis roket yaitu tiga buah RX 2020, tiga buah Rhan 122b, dan dua buah Rhan 122.

Roket RX 2020 dan Rhan 122b yang membawa muatan radar dan GPS berhasil meluncur dengan jarak jangkau lebih dari 30 kilometer (km). Sementara itu, Rhan 122 diluncurkan untuk menguji launcher (alat peluncur). Sedangkan uji terbang pesawat Electric Ducted Fan (EDF) dan Turbo Jet yang dilakukan di Landasan Pesawat Pameungpeuk, menurut dia, merupakan bagian dari rangkaian pengujian LSU atau pesawat tanpa awak dan rangkaian pengembangan bidang peroketan. Electric Ducted Fan dapat menempuh kecepatan terbang minimal 200 km per jam.

Tidak hanya menerbangkan EDF, Jasyanto mengatakan LAPAN juga mengujiterbangkan RKX 200 TJ. Uji terbang tersebut merupakan bagian pengembangan lanjutan dari pesawat EDF. Lapan di 2014, lanjutnya, juga akan mengembangkan pesawat RKX 200 TJ yang merupakan pesawat EDF dengan mesin jenis turbo jet yang direncanakan dapat terbang dengan kecepatan 250 km per jam.

Selain mengujicobakan roket dan EDF, LAPAN juga telah meluncurkan Muatan Balon Atmosfer di Balai Produksi dan Pengujian Roket Lapan di Pameungpeuk. Peluncuran balon atmosfer tersebut, menurut Jasyanto, merupakan persiapan Kompetisi Muatan Balon Atmosfer (Kombat) yang akan berlangsung pada 14 hingga 16 Juni 2014 di Yogyakarta, yang bersamaan dengan agenda Kompetisi Muatan Roket Indonesia (Komurindo). Balon bervolume 2000 gram, bermuatan dua unit atmosfer, dan berisi gas hidrogen itu, diluncurkan dengan membawa sensor untuk mengirimkan data ke groundstation (komputer penerima). Sensor yang ditugaskan untuk mengukur variabel atmosfer, yaitu untuk melakukan observasi suhu, tekanan, dan kelembaban udara, dapat bekerja dengan baik.

Pada lokasi yang sama, PSTA juga melakukan pengamatan transportable radar untuk mengobservasi radar atmosfer di lingkungan setempat. Sinyal dari antena yang dipancarkan diharapkan dapat menangkap kondisi awan dalam jarak radius 100 km.

www.antaranews.com

Jumat, 14 Maret 2014

TNI AL Terima Pesawat Patroli CN-235-220 MPA Kedua Buatan PTDI

CN-235-220 MPA yang merupakan pesawat kedua dari 3 pesawat sejenis yang dipesan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah diserahkan oleh PT. Dirgantara Indonesia pada Rabu pagi, 12 Maret 2014 lalu. Penandatanganan naskah Berita Acara Serah Terima Pesawat CN-235-220 MPA tersebut dilakukan di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jawa Timur sebelum digelarnya acara Gelar Kekuatan Alutsista TNI AL.

CN-235-220 MPA. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Kemhan Serahkan Pesawat CN-235-220 MPA Kedua Produksi PT DI Untuk TNI AL.

Kementerian Pertahanan menerima satu unit Pesawat Udara CN-235-220 MPA (Maritime Patrol Aircraft) dari PT. Dirgantara Indonesia (Persero) yang selanjutnya akan digunakan oleh TNI AL khususnya di jajaran Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal). Penyerahan dilakukan sebelum acara Gelar Alutsista TNI AL, Rabu Pagi (12/3/2014) di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jawa Timur. Penyerahan ditandai dengan penandatanganan naskah Berita Acara Serah Terima Pesud CN-235-220 MPA oleh Dirut PT DI (Persero) Dr. Ir. Budi Santoso dan Kabaranahan Kemhan Laksda TNI Ir. Rachmad Lubis. Hadir menyaksikan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio dan Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq.

Selanjutnya, Kemhan menyerahkan kepada Mabes TNI melalui Aslog Panglima TNI Marsda TNI Karibiyama. Dari Mabes TNI diserahkan kepada Mabes TNI AL melalui Aslog Kasal yang selanjutnya diserahkan kepada Puspenerbal selaku pengguna melalui Danpuspenerbal Laksma TNI I Nyoman Nesa.

Serah terima satu unit Pesud CN-235-220 MPA dengan nomor lambung P-861 tersebut merupakan pesawat kedua dari tiga unit pesawat pesanan Kemhan kepada PT. DI (Persero) dalam kontrak pengadaan tanggal 11 Desember 2009 dengan total nilai kontrak sekitar kurang lebih 80 juta USD. Pesawat CN-235-220 MPA ini akan menjadi bagian dari Pusat Penerbangan TNI AL. Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI), Budi Santoso mengatakan, pesawat pertama telah diserahkan 2013, sedangkan pesawat ketiga dijadwalkan selesai Mei-Juni,.

Pesawat yang mengusung mesin multi engine dengan penggerak free turbine turbopropeler tipe GE CT 7-9C memiliki kekuatan jelajah 230 knot. Ketahanan terbang 9 jam dengan ketinggan hingga 25.000 kaki. Pesawat tersebut memiliki tinggi 8,18 meter, panjang 22,2 meter, dan rentang sayap 25,81 lebar. Pesawat yang mampu mengusung sembilan orang tersebut memiliki kemampuan mengidentifikasi objek dari ketinggian 18.000 kaki di atas permukaan laut menggunakan radar tactical mission system. Dengan sistem pemantau tersebut, pesawat bisa mengidentifikasi orang di geladak kapal dengan zooming dan mampu mengirimkan data real time.

dmc.kemhan.go.id

Gelar Kekuatan Alutsista TNI AL, Pameran Arsenal Perang Terbaru TNI AL

TNI AL memamerkan persenjataan terbarunya melalui acara Gelar Kekuatan Alutsista TNI AL. yang diadakan di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan Gelar Kekuatan Alutsista TNI AL tersebut dilaksanakan pada hari Rabu, 12 Maret 2014. Ajang ini ditinjau oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang didampingi oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Gelar Kekuatan Alutsista TNI AL. Prokimal Online Kotabumi Lampung Utara
Presiden Tinjau Gelar Alutsista TNI AL.

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meninjau Alutsista TNI Angkatan Laut. Peninjauan dilakukan pada acara Gelar Kekuatan Alutsista TNI AL yang dilaksanakan oleh TNI AL, Rabu (12/3/2014) di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jawa Timur. Alutsista yang digelar merupakan Alutsista baru hasil pengadaan pada program pembangunan kekuatan matra Laut periode Rencana Strategis (Renstra) 2005-2009 dan 2010-2014.

Sebelum peninjauan, Presiden RI menerima laporan Menhan terkait status pembangunan kekuatan matra Laut pada Renstra 2005-2009 dan 2010-2014 dalam rangka modernisasi alutsista TNI. Menhan menjelaskan, beberapa Alutsista yang telah datang sebagai berikut; 4 (empat) unit kapal perang korvet Kelas Sigma, 4 (empat) unit KRI Kelas LPD (Landing Platform Dock) dimana 2 (dua) unit LPD dibuat di PT PAL, 4 (empat) unit Kapal Cepat Rudal (KCR) type 40 M dan 2 (dua) unit Kapal Patroli Cepat (PC) type 43 M buatan industri pertahanan dalam negeri.

Untuk Korps Marinir TNI AL, telah datang 54 unit Tank Amphibi jenis BMP-3F dan 1 unit BREM-L (Tank Recovery) serta 15 unit Panser LVT 7 A1 (Landing Vehicle Tank). Juga telah datang 2 Unit CN 235-220 MPA (Maritime Patrol Aircraft) dibuat PT DI, 4 (empat) unit Pesawat Latih Bonanza G-36 dan 3 (tiga) unit Heli Bell-412 EP. Dalam waktu dekat ini, akan datang 3 (tiga) unit kapal perang fregat kelas MRLF (Multi Role Light Fregat), 3 (tiga) unit Kapal Cepat Rudal (KCR) type 60 M buatan PT PAL dan 2 (dua) unit Kapal Patroli Cepat (PC) type 43 M buatan industri pertahanan dalam negeri.

Pengadaan Alutsista matra laut membutuhkan waktu yang lebih lama, sehingga beberapa Alutsista melampaui masa bakti KIB-II pada tanggal 20 Oktober 2014. Alutsista tersebut akan disajikan dalam bentuk model (miniature) yaitu; 3 (tiga) unit Kapal Selam yang satu diantaranya akan dibuat di Indonesia sebagai bagian alih teknologi. Dua unit Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) jenis frigate yang sebagian modulnya dikerjakan di Indonesia. Kapal Layar Latih (Tall Ship) pengganti Kapal Layar Latih Dewa Ruci yang sudah berusia lanjut, 62 tahun. 3 (tiga) unit Kapal Angkut Tank yang salah satu diantaranya untuk mengangkut Tank Leopard, 2 (dua) unit Kapal Bantu Hidro Oseanografi (BHO) dan 2 (dua) unit Kapal Bantu Cair Minyak (BCM) dibuat industri pertahanan dalam negeri. TNI AL juga akan diperkuat lagi dengan 3 (tiga) unit Pesawat CN-235 MPA buatan PT DI, 11 (sebelas) unit Heli Anti Kapal Selam (AKS) yang dilengkapi dipping sonar dan torpedo, 5 (lima) unit Panser BTR-4 dan 1 (satu) Batere Multi Launcher Rocket System (MLRS).

Pada kesempatan tersebut, PT Dirgantara Indonesia telah menyerahkan 1 unit pesawat CN-235-220 MPA (Maritime Patrol Aircraft) kepada Kementerian Pertahanan Indonesia dan selanjutnya diserahkan kepada TNI AL melalui Mabes TNI untuk dioperasionalkan. Ini merupakan pelaksanaan kontrak yang ditandatangani pada tanggal 11 Desember 2009 dengan total nilai kontrak sekitar kurang lebih 80 juta USD. Pesawat CN-235-220 MPA ini akan menjadi bagian dari Pusat Penerbangan TNI AL.

Mengakhiri laporannya, Menhan menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden RI, DPR-RI khususnya Komisi I, industri pertahanan dalam negeri baik BUMN maupun BUMS, dan semua pihak yang telah memberikan perhatian dan dukungannya dalam proses pembangunan kekuatan pertahanan selama ini.

Selain Menhan, turut mendampingi Presiden RI saat peninjauan, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Budiman, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Dr. Marsetio dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI I.B. Putu Dunia. Hadir juga sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II dan Anggota Komisi I DPR RI.

dmc.kemhan.go.id